cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 415 Documents
Persepsi Pemustaka Terhadap E-Resources Perpustakaan Nasional Leonardo Lodewyck Keyveent; Rosini Rosini
Media Pustakawan Vol 23, No 2 (2016): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v23i2.848

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi pemustaka terhadap e-resources Perpustakaan Nasional RI. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik sampling insidental. Instrumen pengumpulan datanya adalah kuesioner yang sebelumnya telah melalui uji reliabilitas dan validitas variabel dengan alpha Cronbach. Dari hasil penelitian dapat terungkap bahwa pemustaka yang menggunakan e-resources Perpustakaan Nasional RI mempunyai persepsi bahwa e-resources Perpustakaan Nasional RI sudah “Ideal” dalam segi fasilitas, tampilan, serta dari segi jenis, jumlah, subyek, dan kelengkapan data base. Hal ini terlihat dari jawaban responden dengan 7 variabel terbanyak berada pada kategori ideal. Namun demikian dalam hal jumlah dan subyek bidang ilmu tertentu dari hasil penelitian menyarankan untuk ditingkatkan dengan melanggan Wiley, Elsevier, Science Direct, Spinger, dan Enkripsi Data.
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Nasional Indonesia: Peran-serta Pustakawan Dalam Mencerdaskan Bangsa Widharto Widharto
Media Pustakawan Vol 14, No 3&4 (2007): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v14i3&4.978

Abstract

Pembangunan berkelanjutan yang ditempuh bangsa Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang nyata, meskipun masih ada beberapa kekurangan dan ketimpangan. Untuk mengatasi kesenjangan pembangunan tersebut, serta untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, skenario-skenario telah dirancang, terutama untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Dunia pendidikan sebagai sumber penyedia Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, perlu mengadakan perubahan-perubahan, agar SDM Indonesia lebih handal dan mampu berkompetisi dengan SDM dari negara lain. Perubahan tersebut menuntut perpustakaan dan pustakawan Indonesia untuk berbenah diri dengan merubah visi dan misi mereka, karena di Era Globalisasi dan Informasi tersebut penuh dengan tantangan dan kompetisi. Perubahan-perubahan dan strategi apa saja yang harus diambil pustakawan untuk menunjang kemajuan IPTEK disajikan di dalam artikel ini.
Media Sosial Alat Promosi Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Hariyah Hariyah; Agus Triyanto
Media Pustakawan Vol 25, No 2 (2018): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v25i2.275

Abstract

Abstrak Perpustakaan Khusus dapat didefinisikan sebagai perpustakaan yang memiliki kekhususan tertentu, misalnya dilihat dari tugas dan fungsinya, koleksi serta pemakainya. Saat ini, fungsi dari perpustakaan khusus semakin meluas tidak hanya memenuhi kebutuhan informasi bagi lembaga induknya, namun menjangkau hingga masyarakat umum. Dengan demikian, penting bagi Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI untuk melakukan promosi terhadap koleksi yang dimiliki atau kegiatan yang dilaksanakan seperti misalnya pameran. Metode yang dipakai adalah observasi partisipan dimana penulis bertindak sebagai pengelola akun @PerpusKemenagRI pada media sosial yang dimiliki oleh perpustakaan, untuk mendukung data observasi, penulis melakukan tanya jawab secara informal kepada pustakawan di perpustakaan tersebut. Penggunaan media sosial oleh Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dimulai pada tahun 2011 dengan menggunakan Twitter dan Facebook, kemudian pada tahun 2017 perpustakaan memiliki akun Instagram. Media sosial digunakan oleh perpustakaan sebagai media promosi kegiatan dan layanan, seperti promosi koleksi, pameran yang diikuti, serta informasi penting lainnya mengenai perpustakaan. Penggunaan media sosial, khususnya untuk mendukung pelaksanaan 2 (dua) pameran terbukti meningkatkan jumlah kunjungan ke stand perpustakaan dibandingkan pelaksanaan pameran sebelumnya. Karena itu, penggunaan media sosial sebagai media promosi perpustakaan diharapkan dapat dilaksanakan secara konsisten untuk meningkatkan pemanfaatan layanan dan koleksi perpustakaan oleh masyarakat luas.
Pemanfaatan Media Viral untuk Memasarkan Produk dan Layanan Perpustakaan Universitas Gadjah Mada Menghadapi Era Industri 4.0 Aprilia Mardiastuti; Uminurida Suciati; Wiyarsih Wiyarsih
Media Pustakawan Vol 26, No 3 (2019): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v26i3.546

Abstract

Menghadapi era industri 4.0, Perpustakaan UGM memanfaatkan media viral untuk memasarkan produk dan layanannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pemanfaatan media viral untuk memasarkan produk dan layanan Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, serta memberikan usulan pengembangannya di masa depan. Penelitian yang dilakukan berjenis deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara kepada 8 orang informan dan diskusi kelompok. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dengan menggunakan analisis SWOT. Media viral yang dimanfaatkan Perpustakaan UGM untuk memasarkan produk dan layanannya berupa media sosial dan website. Produk dan layanan perpustakaan yang dipasarkan meliputi koleksi, unit pelayanan, dan kegiatan. Perpustakaan UGM telah memanfaatkan media yang bersifat viral untuk untuk memasarkan produk dan layanan yang ada. Ke depan, Perpustakaan UGM perlu menambah media viral Youtube dan Line.  AbstractTo prepare the industrial era 4.0, the UGM Library uses viral media to market its products and services. The research objective is to determine the viral media usage to market Gadjah Mada University Library products and services, as well as to propose future developments. Qualitative descriptive research with data collection methods in the form of interviews with 8 informants and focus group discussions. Data analysis included data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification using a SWOT analysis. Viral media used by UGM Library to market its products and services in the form of social media and websites. Library products and services that are marketed include collections, service units, and activities. UGM Library has utilized viral media to market existing products and services. In the future, the UGM Library needs to add youtube and line viral media. 
Bimbingan Literasi Informasi Di Perpustakaan Anak Sebagai Fondasi Awal Masyarakat Informasi Indah Eka Putri
Media Pustakawan Vol 24, No 2 (2017): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v24i2.12

Abstract

Pada abad teknologi seperti sekarang ini, informasi telah menjadi komoditi dan merupakan hal penting bagi setiap orang. Informasi tersebut tersedia untuk digunakan oleh siapapun termasuk di dalamnya anak-anak. Akan tetapi, untuk mencari dan menggunakan informasi yang dibutuhkan anak-anak harus terlebih dahulu dibekali dengan kemampuan literasi informasi atau “Information Literacy”. Bimbingan literasi ini dapat di berikan di perpustakaan, baik di perpustakaan sekolah ataupun perpustakaan umum. Perpustakaan harus dapat mengembangkan model yang tepat agar anak-anak dapat mengaplikasikan kemampuan tersebut dengan mudah. Bimbingan literasi informasi ini diharapkan akan menjadi fondasi bagi anak-anak dalam menghadapi era masyarakat informasi.
Menguak Tabir Informasi Koleksi Langka dan Antik (Rare and Atiquarian Collections) Perpustakaan Nasional RI Indah Purwani; Mariana Ginting
Media Pustakawan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v22i1.800

Abstract

Abstrak Tabir yang menyelimuti koleksi langka dan antik Perpustakaan Nasional RI  dirasa masih kurang dipahami oleh sebagian besar masyarakat, karena kekurangan informasi apa dan bagaimana sebenarnya koleksi langka itu. Buku langka dan antik merupakan sebagian besar dari koleksi yang ada di Perpustakaan Nasional RI sekarang ini sebenarnya dihimpun dan dikumpulkan sejak jaman penjajahan Belanda. Dari sebagian besar koleksi tersebut berisi berbagai disiplin ilmu yang bisa dijadikan sebagai bahan acuan penelitian bagi generasi yang akan datang. Dengan jumlah koleksi yang cukup fantastik lebih kurang satu setengah juta judul, generasi muda diharapkan mampu menguak tabir  informasi yang terkandung didalamnya karena, sejuta informasi yang sangat berharga ada didalam koleksi tersebut dan  berbagai tantangan dalam penelusurannya  juga merupakan satu kendala karena bahasa yang notabene bahasa Belanda, Jepang, Inggris, Arab, Kamboja. Semua koleksi langka dan antik ditampung dan dikelola oleh perpustakaan Nasional RI dengan sistem penyimpanan tersendiri dan mempunyai ciri khas dalam penelusurannya. Kendala dalam mengelola koleksi langka dan antik masih ditemui dilapangan karena masih banyak orang yang belum paham akan arti koleksi langka dan antik serta bagaimana cara merawatnya terutama pada koleksi pribadi, tetapi disisi lain belum mau menyerahkan kepada Perpustakaan Nasional RI  karena ada nilai  informasi atau sejarah dan nilai nominal yang tak ternilai di dalamnya. Perpustakaan Nasional RI sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam mengelola dan menangani koleksi langka tersebut harus tetap eksis dalam penanganannya agar prospek kedepan tetap lestari dan tabir yang selama ini melingkupi koleksi langka dan antik segera terkuak  dan bisa didayagunakan  lebih optimal  oleh pemustaka, masyarakat dan generasi penerus sebagai bahan penelitian.
Kompetensi Informasi Dan Kompetensi Pustakawan Putu Laxman Pendit
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.931

Abstract

Kompetensi pustakawan Indonesia sebaiknya ditempatkan di dalam sistem profesionalisme yang lebih luas, bukan hanya sebagai standar atau alat ukur untuk menilai kinerja individual. Sebelum menerapkan pendekatan berbasis kompetensi, seluruh jajaran Kepustakawanan Indonesia harus terlebih dahulu memastikan ketersediaan sumberdaya profesional bagi para pustakawan Indonesia. Peran organisasi-organisasi profesi pustakawan menjadi sangat penting, terutama sebagai katalisator bagi penetapan kompetensi inti (core competency) yang memungkinkan para anggotanya memiliki posisi seimbang dalam penentuan kompetensi di tempat kerja. Tulisan ini merupakan tinjuan kontekstual terhadap penerapan pendekatan berbasis kompetensi. Ulasan akan dimulai dari pengertian kompetensi secara umum di dalam masyarakat informasi, sebagai sebuah masyarakat berciri khusus yang mengandalkan kegiatan penyimpanan, pencarian, dan penggunaan informasi di berbagai aspek kehidupannya. Kompetensi Pustakawan Indonesia memiliki 3 hal penting yaitu perkembangan masyarakat dan teknologi informasi yang secara langsung memengaruhi kebutuhan akan masyarakat yang kompeten di bidang informasi; posisi pustakawan dalam sistem kerja yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan menentukan bagaimana kompetensi ditetapkan dan dijadikan alat ukur; ketersediaan sarana pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi merupakan “harga mati” jika kompetensi ingin dikaitkan dengan kinerja keseluruhan sebuah organisasi. Dalam konteks Kepustakawanan Indonesia, maka penerapan pendekatan berbasis kompetensi juga harus segera dikaitkan dengan otonomi profesi pustakawan. Otonomi ini berkaitan dengan kemampuan sebuah profesi menetapkan sendiri batas kinerjanya.
Studi Kemutakhiran Sumber Rujukan Dua Jurnal Perpustakaan dari Institusi yang Berbeda Sri Ismi Maulidyah; Sutardji Sutardji
Media Pustakawan Vol 25, No 1 (2018): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v25i1.190

Abstract

Abstrak Kemutakhiran sumber rujukan dalam karya tulis ilmiah (KTI) merupakan hal penting yang dipersyaratkan dalam penilaian angka kredit jabatan fungsional. Oleh karena itu, agar KTI mendapat nilai baik, maka sumber rujukan harus mutakhir. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui kemutakhiran sumber rujukan antara jurnal perpustakaan terbitan Kementerian Pertanian dengan jurnal perpustakaan terbitan Perpustakaan Nasional RI. Parameter yang dikaji adalah (1) proporsi sumber rujukan (majalah/jurnal, buku/monograf, sumber on-line, peraturan/surat keputusan, undang-undang, makalah, laporan, skripsi/tesis/disertasi, koran), (2) peringkat majalah/jurnal yang dirujuk, (3) kemutakhiran usia rujukan dan (4) paruh hidup (half-life) literatur. Analisis bibliometrik digunakan untuk memperoleh dan menganalisa data. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa proporsi sumber rujukan yang paling banyak disitir oleh kedua jurnal perpustakaan tersebut adalah buku (rata-rata 34,8%), disusul oleh majalah/jurnal (rata-rata 28,2%). Tidak semua artikel merujuk pada artikel yang bersumber dari majalah/jurnal. Proporsi artikel yang merujuk pada majalah/jurnal: menunjukkan bahwa jurnal perpustakaan Kementerian Pertanian (96%) lebih besar dibanding jurnal Perpustakaan Nasional (53%). Tingkat keterpakaian publikasi jurnal perpustakaan Kementerian Pertanian cukup tinggi sebagai bahan rujukan dalam penulisan artikel baik di publikasi internal (13,9%) maupun di eksternal, seperti jurnal Perpustakaan Nasional (2,4%) dari total rujukan. Kebaruan literatur yang dirujuk berusia 0-5 tahun pada pada jurnal Perpustakaan Nasional lebih tinggi (37,5%.) dibanding jurnal perpustatakaan Kementerian Pertanian (36,2%). Paruh hidup literatur (half-life literatur) relatif hampir sama, antara jurnal perpustakaan Kementerian Pertanian (7,26 tahun) dengan jurnal Perpustakaan Nasional (7,33 tahun)
Layanan Referensi Digital Perpustakaan Lembaga Penelitian: Strategi yang dibangun Pustakawan Hariyah Hariyah
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.839

Abstract

Tulisan ini memaparkan bagaimana layanan referensi pada sebuah perpustakaan lembaga penelitian. Pengguna dengan beragam karakter dari unsur peneliti memiliki cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Apakah kebutuhan informasi mereka terpenuhi oleh perpustakaan atau tidak? Perpustakaan perlu melakukan suatu strategi layanan referensi dalam mengenalkan jasa-jasa yang diberikan dan hal ini wajib digali lagi oleh pustakawan. Layanan referensi diharapkan mampu menghadirkan jasa-jasa yang menunjang keberhasilan penelitian-penelitan yang dilakukan penggunanya. Tulisan ini adalah sebuah studi kepustakaan mengenai bagaimana pustakawan layanan referensi digital bersinergi dengan perkembangan teknologi yang ada untuk menghasilkan layanan yang terbaik bagi penggunanya, bahkan mampu menjangkau populasi penggunanya secara global. Pustakawan layanan referensi pada akhirnya menjadi ujung tombak keberhasilan layanan ini.
Peningkatan Kualitas Layanan Perpustakaan yang Berorientasi Pada Kepuasan Pemakai Hari Santoso
Media Pustakawan Vol 14, No 1 (2007): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v14i1.969

Abstract

Perpustakaan dituntut untuk dapat menerapkan strategi layanan yang berorientasi kepada pemakai dalam upaya memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasa kepada pemakai. Kepuasaan pemakai perlu diperhatikan lebih karena adanya keluhan berkaitan dengan kinerja perpustakaan. Ketidakmampuan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pemakai akan berakibat tidak tercapainya kepuasan, menurunnya minat serta hilangnya kepercayaan pemakai terhadap kinerja perpustakaan dan pada akhirnya dapat merusak citra perpustakaan sebagai pusat informasi.Tingkat kepuasan dapat dijabarkan sebagai suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan yang dilayani melalui layanan yang diberikan. Menggunakan perhitungan rasio persamaan dengan rumus Z=X/Y. Selain itu terdapat lima unsur untuk mengukur kualitas layanan yaitu keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik.Untuk bisa memberikan kepuasan kepada pemakai, idealnya perpustakaan secara konsisten mengadakan evaluasi dan riset terus menerus agar bisa mengukur kualitas layanan yang diberikan. Salah satu tolak ukur keberhasilan sebuah perpustakaan dapat dilihat dari aspek komunikasi. Perpustakaan dikategorikan berhasil dalam memberikan layanan bila kontak dengan pemakai tetap terjaga, sebaliknya dianggap gagal bila komunikasi dengan pemakai tidak jalan. Karena itu perpustakaan dituntut aktif dalam membina hubungan dengan pemakai. Keluhan pemakai sekecil apapun harus segera ditanggapi secara serius oleh manajemen perpustakaan untuk segera bisa dilakukan perbaikan.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue