cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
AEVI-19 Investigasi Outbreak Koliseptisemia Pedet Pada Peternakan” X” di Kota Metro, Lampung Tahun 2018 Joko Susilo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.323 KB)

Abstract

Kolibasillosis merupakan infeksi oleh Escherichia coli penyebab utama kematian pada pedet (Sharma et. al., 2006). Escherichia coli strain patogen merupakan penyebab diare parah, dehidrasi, demam, lemah, nyeri dan depresi yang menyebabkan kerugian ekonomi pada pedet sapi perah dan sapi potong (Quinn et. al., 2011). Kasus  kematian pedet sering diikuti bakterimia atau koliseptikemia, Escherichia coli masuk ke peredaran darah menuju ke seluruh organ tubuh (Hirsh et. al., 2004).Tujuan dari investigasi outbreak ini adalah mengidentifikasi agen infeksius penyebab, faktor faktor yang memicu outbreak kejadian diare pada pedet di peternakan tersebut serta penanganan outbreak.
AEVI-20 Investigasi Outbreak Jembrana Disease pada Sapi Bali di Jorong Loban Bungkuk Nagari Tanjung Bonai Aur Kec. Sumpur Kudus Kab. Sijunjung Provinsi Sumatera Barat Tahun 2016 . Katamtama; Yani Sugiarti; Dwi Inarsih; Rina Hartini
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.227 KB)

Abstract

Penyakit jembrana (JD) adalah penyakit menular akut pada sapi Bali yang disebabkan oleh Retrovirus, keluarga lentivirinae yang termasuk dalam famili retroviridae. Sejauh ini penyakit Jembrana (JD) hanya terkenal di Indonesia dan hanya menyerang sapi bali. Wabah pertama terjadi tahun 1964 – 1967 dikabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng adalah wabah terbesar. Daerah yang pernah melaporkan adanya wabah akan menjadi daerah enzootic yang mengalami kasus sporadik sepanjang tahun. Sapi yang terserang berumur lebih dari 1 tahun dan yang terbanyak 4 – 6 tahun dan jenis kelamin tidak memengaruhi kejadian penyakit ini. (Direktorat kesehatan Hewan, 2015)Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti sumber infeksi dari penyakit jembrana ini. Peranan vector : lewat penyakit insect born, Ex : Culicoides sp dan nyamuk.Tujuan penyidikan adalah untuk meneguhkan diagnosa kasus dengan mengumpulkan data dan informasi, pemeriksaan ternak, melakukan pengambilan dan pengujian sampel. Kemudian mengidentifikasi kemungkinan sumber rute infeksi, faktor resiko, serta pemberian saran tindakan pengendalian.
AEVI-21 Investigasi Outbreak Anthrax di Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo pada Tahun 2017 Purbadi Drajat; . Yuriati; I Sudarsono
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.554 KB)

Abstract

Anthrax merupakan penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis. Penyakit anthrax merupakan peyakit Zoonosis. Kuman Anthrax yang jatuh di tanah, pada kondisi lingkungan yang kurang baik akan membentuk spora. Spora anthrax ini tahan hidup 15 sampai 20 tahun bahkan di laboratorium bisa tahan hidup 50 tahun (Akoso, 2009), sehingga menjadi sumber penularan bagi manusia atau hewan.Penyakit anthrax secara geografis telah menyebar di seluruh dunia dari benua Afrika, Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Kejadian penyakit anthrax di Indonesia sudah sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung Lampung. Penyakit ini kemudian menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, sampai bulan Oktober 2016 kejadian anthrax di Indonesia telah terjadi pada 22 provinsi sedangkan provinsi yang bebas anthrax sejumlah 7 provinsi (Kementerian Pertanian, 2016).
AEVI-22 Investigasi Outbreak Penyakit Jembrana di Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017 Sangkot Sayitu Nasution; Nensy Maruana Hutagaol; Jonny Rismaeli Purba
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.482 KB)

Abstract

Penyakit Jembrana (Jembrana Disease/JD) merupakan salah satu penyakit akut dan fatal pada sapi Bali. Sejauh ini Penyakit Jembrana (JD) hanya terkenal di Indonesia dan hanya menyerang sapi Bali. Informasi terakhir dilaporkan adanya kasus penyakit Jembrana di Provinsi yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara yaitu di Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Situasi ini meningkatkan risiko penularan penyakit Jembrana Ke Sumatera Utara terutama pada Kabupaten yang memiliki populasi sapi Bali dan berbatasan langsung dengan kedua provinsi tersebut.                 Kasus dugaan penyakit Jembrana Tahun 2017 pertama kali dilaporkan dari Kabupaten Padang Lawas pada tanggal 12 Januari 2017. Dalam laporan tersebut disampaikan meluasnya kasus penyakit pada sapi Bali dan telah menyebabkan kematian pada 18 ekor sapi Bali khususnya di kecamatan Huta Raja Tinggi.  Kasus tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pelaksanan investigasi lapangan dan pengujian laboratorium oleh Balai Veteriner Medan. Investigasi yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui sejarah kejadian penyakit, mengetahui penyebab dan atau faktor risiko kasus penyakit tersebut, sehingga dapat diberikan rekomendasi yang sesuai.
AEVI-23 Investigasi Outbreak Csf Di Desa Sidomulyo Godean Sleman Tahun 2018 Sugih Winarsih; . Hariyah; N Anggreni; D Susanto
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.179 KB)

Abstract

Investigasi Outbreak Csf Di Desa Sidomulyo Godean Sleman Tahun 2018 Winarsih S1*, Hariyah2, Anggreni N1, Susanto D3 1 Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman2Dinas Pertanian DIY3Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta*Corresponding author’s email: Kata kunci: babi, CSF, sidomulyo.   PENDAHULUANTernak babi merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat efisien dan mempunyai arti ekonomi sebagai ternak potong karena persentase karkas babi cukup tinggi, dapat mencapai 65-80%, sedangkan karkas sapi hanya 50–60 % (Berata et al., 2009). Meskipun demikian, konsumen daging babi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hanya terbatas pada kelompok tertentu sehingga banyak ternak babi yang dikirim ke luar DIY dalam kondisi hidup.  Peternakan babi di wilayah DIY sebagian besar sebagian besar masih dikelola secara tradisional.  Salah satu penyakit yang menyerang babi adalah Classical Swine Fever atau Hog Chollera, disebabkan oleh virus, sangat menular serta mempunyai arti ekonomi yang penting karena angka kesakitan maupun angka kematian berkisar 95-100% (Kementan, 2012).Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyelidiki kasus kematian babi yang terjadi di Desa Sidomulyo Godean Sleman Yogyakarta, dengan melakukan pengumpulan data epidemiologis, untuk mengetahui penyebab kematian babi yang terjadi di Desa Sidomulyo Godean Sleman.
AEVI-24 Investigasi Outbreak Penyakit Jembrana di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2016 Eka Oktarianti; Betty Indah Purnama
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.358 KB)

Abstract

Penyakit Jembrana merupakan penyakit yang sering menyerang sapi Bali dengan tingkat morbiditas mencapai 60% dengan mortalitas 10%. Sejak pertama kali outbreak di Sumatera Barat tahun 1992 Balai Veteriner Bukittinggi telah melakukan monitoring penyakit Jembrana dan belum pernah ditemukan kasus di Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada bulan Oktober tahun 2016, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Lima Puluh Kota bersama Balai Veteriner Bukittinggi melakukan penyidikan terhadap kasus kematian mendadak pada sapi bali di Jorong Panang Nagari Tanjuang Balik Kecamatan Pangkalan Kab. Lima Puluh Kota dengan gejala diduga terinfeksi Jembrana.Tujuan penyidikan adalah untuk menyelidikasi kasus kematian sapi bali yang terjadi di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Lima Puluh Kota, mengidentifikasi faktor risiko, sumber penularan dan merumuskan rekomendasi langkah-langkah pengendalian.
AEVI-25 Investigasi Penyakit Jembrana Di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tri Guntoro; . Sulinawati; . Ferro
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.318 KB)

Abstract

Penyakit Jembrana pada sapi Bali disebabkan oleh virus penyakit Jembrana yang termasuk dalam kelompok retrovirus berdasarkan pada aktivitas reverse transcriptase. Virus Jembrana merupakan virus RNA dengan utas tunggal, berbentuk icosahe-dral dengan panjang basa 7732 pasang basa (pb) dan bersifat patogen hanya pada sapi Bali. Gejala umum ternak yang terserang penyakit Jembrana adalah demam tinggi, lymphadenopathy, lymphopenia, keringat darah dan mucus yang berlebihan pada mulut dan hidung. Kematian ternak akibat JDV terjadi pada 1 atau 2 minggu setelah infeksi (Indriawati dan Ridwan, 2013). Telah dilaporkan dari petugas dinas pada tanggal 10 April 2017 adanya kematian sapi di kabupaten Bengkulu Selatan.Tujuan kegiatan ini melakukan penelusuran kasus kematian, mengetahui faktor penyebab, upaya komunikasi resiko dan rekomendasi langkah pengendalian
AEVI-26 Investigasi Outbreak Suspek Bovine Tuberculosis (bTB) pada Sapi Perah di Peternakan X Di Kabupaten Bogor Tahun 2018 Tri Juwianto; Eka Mahpudin; Aprizal Panus; Ali Rahmawan; . Sodirun
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.196 KB)

Abstract

Bovine Tubercullosis (bTB) adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis yang ditandai dengan terlihatnya lesi granulomatous (tuberkel) pada paru-paru dan limponodus (Berg et al, 2009). Penyakit ini menyebabkan penurunan produksi dan kerugian ekonomi secara signifikan. Selain itu infeksi penyakit ini juga dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui konsumsi susu atau daging yang terkontaminasi bakteri M. Bovis. Berdasarkan hasil penelitian Halderman (2001) menunjukkan kasus infeksi Tuberculosis (TB) pada manusia di Afrika sebesar 10% disebabkan oleh M. Bovis. Sedangkan di Amerika Latin sebesar 2,5% (Ameni et al, 2007).  Bogor adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat. Kabupaten ini memiliki tipe morofologi wilayah yang bervariasi, dari dataran yang relatif rendah di bagian utara hingga dataran tinggi di bagian selatan. Suhu udara di Kabupaten Bogor rata-rata berkisar antara 22,7O-31,6O C dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi geografis dengan suhu yang dingin (agroklimat) sangat sesuai untuk habitat sapi perah. Kabupaten Bogor berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan susu nasional melalui pengembangan usaha peternakan sapi perah, diantaranya adalah Kecamatan Cisarua dan Megamendung yang memiliki suhu berkisar 17,85O-23,91OC (rata-rata 20O C). Usaha peternakan sapi perah di daerah tersebut memliki peluang pasar yang cukup besar dan pada saat ini populasi sapi perah di Kabupaten Bogor diperkirakan mencapai kurang lebih 7.000 ekor .                Selama ini prevalensi kasus  bTB pada sapi perah di Kabupaten Bogor belum pernah diketahui dan juga belum pernah dideteksi, sedangkan  laporan kematian sapi perah dengan pemeriksaan menunjukkan perubahan anatomi yang mengarah ke bTB sudah beberapa kali ditemukan. Dikhawatirkan penyakit akan menular dan menyebar ke sapi lain dan juga ke manusia (Radostitset all, 2002). Tuberkulosis zoonotik dapat menjadi ancaman utama bagi kesehatan masyarakat, tetapi belum ada informasi mengenai kejadian penyakit TB zoonotik dan faktor risikonya pada hewan di Indonesia (Daulay, 2015).Investigasi ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui dan mendeteksi kasus suspek bTB pada sapi perah disuatu peternakan di Kabupaten Bogor. Sebanyak 7 kali investigasi dilakukan pada kasus kematian 10 ekor sapi perah dari peternakan X dengan populasi 200 ekor dalam waktu yang berbeda selama periode Pebruari-Agustus 2018.
AEVI-27 Investigasi Outbreak Rabies di Kecamatan Pinggir Tahun 2018 Puja Cikal Bangsa; Raynold Rahman; Elida Tamba; Syafrison Idris
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.778 KB)

Abstract

Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit zoonotik  bersifat akut dan menyerang sistim syaraf pusat yang disebabkan oleh virus kelompok negatif sense single-stranded RNA, golongan Mononegavirales, Family Rhabdoviridae, genus Lyssavirus (Priangle,1991). Penyakit rabies menyebabkan kematian pada manusia dengan Case Fatality Rate 100%. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terifeksi dan disebarkan melalui luka gigitan atau jilatan (Ludra I N, 2010).Tingginya tingkat kasus gigitan dan lalu lintas hewan terutama HPR Anjing di kelurahan Titian Antui menjadi suatu hal yang akan terus jadi perhatian utama petugas kesehatan hewan di Kabupaten Bengkalis. Petugas kesehatan hewan dari dinas pertanian juga sudah bekerjasama dengan Petugas Keshatan Masyarakat melalui sinergi One Health. Setiap tahun Petugas Kesehatan Hewan Rutin melakukan vaksin dan sosialisasi tentang rabies kepada masyarakat, mulai dari penyuluhan ke warga sekitar hingga ke sekolah-sekolah.Masa Inkubasi rabies pada anjing adalah 10 – 15 hari, dan pada hewan lain 3 – 6 minggu kadang-kadang berlangsung sangat panjang 1 – 2 tahun. Masa inkubasi pada manusia yang khas adalah 1 – 2 bulan tetapi  bisa 1 minggu atau selama beberapa tahun (6 tahun atau lebih). Masa inkubasi bisa tergantung pada umur pasien, latar belakang genetik, status imun, strain virus yang terlibat, dan jarak yang harus ditempuh virus dari titik pintu masuknya kesusunan syaraf pusat. Masa inkubasi tergantung dari lamanya pergerakan virus dari luka sampai ke otak pada gigitan dikaki masa inkubasi kira-kira 60 hari, pada gigitan di tangan masa inkubasi 40 hari, pada gigitan dikepala asa inkubasi kira-kira 30 hari (Gallaran, L.A. 2015).Tujuan kegiatan adalah (1) untuk Melakukan konfirmasi dan verifikasi diagnosa penyakit, (2) mengidentifikasi sumber penularan outbreak dan populasi beresiko, (3) menggambarkan karakteristik epidemiologi, (4)  mengidentifikasikan faktor-faktor resiko yang berasosiasi dengan penyakit, (5) merekomendasikan langkah langkah pengendalian penyakit.
AEVI-28 Investigasi Outbreak Keguguran di Desa Lamtamot Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2018 . Sahidi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.066 KB)

Abstract

Keguguran atau Abortus adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup. Sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri diluar tubuh induk (Toelihere,1985).Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormone estrogen, oksitosin dan prostaglandin F2α pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (hardjopranjoto, 1995)Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk untuk menentukan penyakit. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih bisa bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990) terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan.Tujuan dari investigasi ini adalah untuk mengetahui kejadian keguguran pada ternak sapi, mengumpulkan data epidemiologis. melakukan analisis data, mengetahui sumber penularan penyakit dan melakukan tindakan pengendalian penyakit.