cover
Contact Name
Muhamad Ulul Albab Musaffa
Contact Email
muhamad.musaffa@uin-suka.ac.id
Phone
+6282220623338
Journal Mail Official
azzarqa@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Rumah Jurnal Fakultas Syari'ah dan Hukum (Ruang 205 - Lantai 2), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga; Jln. Marsda Adisucipto 1 Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Az Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam
ISSN : 20878117     EISSN : 28093569     DOI : https://doi.org/10.14421/azzarqa
Jurnal Az zarqa merupakan jurnal unggulan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dibentuk pada tanggal 1 Desember 2010. Jurnal Az zarqa menyediakan artikel ilmiah hasil penelitian empiris dan analisis-reflektif bagi para praktisi dan akademisi, yang diharapkan berkontribusi dalam mengembangkan teori dan mengenalkan konsep-konsep baru di bidang hukum islam khususnya hukum bisnis islam dalam perspektif yang luas. Jurnal Az zarqa terbit secara berkala dalam kurun 6 bulan sekali, Juni dan Desember.
Articles 237 Documents
Against Unchecked Price Intervention: Maslahah ‘Ammah and Ta’sir in Islamic Economic Law Sofi Faiqotul Hikmah
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4705

Abstract

Market distortion in the form of hoarding, monopoly, fraud, cartel behavior, and manipulation of supply shows that price formation does not always reflect fairness. In Islamic economic law, state intervention in market prices, known as tasʿīr, remains a debated issue because the Prophet refused to impose prices in a market that operated naturally. However, contemporary market conditions often require public authority to prevent exploitation and protect access to essential goods. This article analyzes maṣlaḥah ‘āmmah as a legal-ethical criterion for assessing the legitimacy of tasʿīr for consumers, producers, and the state. Normative-conceptual legal research is employed through library research on Qurʾānic verses, Hadith reports, tafsīr works, uṣūl al-fiqh literature, maqāṣid al-sharīʿah, and public policy studies. The analysis uses thematic tafsīr, maqāṣid reasoning, and public policy analysis. The findings show that tasʿīr is legitimate when market prices are distorted by harmful practices and when intervention protects public welfare without creating new injustice. Mashlaḥah ‘āmmah in tasʿīr must therefore be understood as proportional protection of consumers, producers, and the state through a policy framework grounded in naṣṣ, maqāṣid al-sharīʿah, evidence, and accountability.  Penetapan harga oleh negara dalam konsep tasʿīr tidak dapat dilepaskan dari persoalan keadilan pasar. Harga yang terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran dapat diterima selama pasar berjalan wajar. Persoalan muncul ketika harga dipengaruhi oleh penimbunan, monopoli, kartel, kecurangan, manipulasi pasokan, atau penguasaan distribusi oleh aktor tertentu. Artikel ini menganalisis maṣlaḥah ‘āmmah sebagai ukuran legal-etis dalam menilai legitimasi tasʿīr bagi konsumen, produsen, dan negara. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-konseptual melalui studi kepustakaan terhadap ayat-ayat al-Qurʾān, Hadis, tafsir, literatur uṣūl al-fiqh, maqāṣid al-sharīʿah, dan kajian kebijakan publik. Analisis dilakukan dengan pendekatan tafsir tematik, penalaran maqāṣid, dan analisis kebijakan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasʿīr dapat dibenarkan apabila harga pasar tidak lagi mencerminkan kewajaran, tetapi terbentuk melalui praktik yang menimbulkan mafsadah. Legitimasi tasʿīr tidak cukup didasarkan pada klaim kepentingan publik, tetapi harus diuji melalui perlindungan yang proporsional terhadap konsumen, produsen, dan negara. Mashlaḥah ‘āmmah dalam tasʿīr menuntut kebijakan harga yang berbasis naṣṣ, maqāṣid al-sharīʿah, bukti kerusakan pasar, proporsionalitas, transparansi, dan akuntabilitas.
Short Selling and Its Regulation in Indonesia: Debating Ownership through Fiqh Muamalah Kukuh Prasetyo Idzharul Haq; Ahmad Solahuddin
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4862

Abstract

Short selling has gained formal regulatory recognition in Indonesia through POJK No. 6 of 2024, yet its position remains contested in the Islamic capital market. The central problem lies in whether securities may be sold before they enter the seller’s lawful ownership and possession. Using a normative juridical approach, this paper examines DSN-MUI Fatwa No. 40/2003, Fatwa No. 80/2011, Fatwa No. 135/2020, POJK No. 6 of 2024, and relevant fiqh muʿāmalah literature on mulk, qabḍ, bayʿ al-maʿdūm, gharar, maysir, and ribā. The analysis shows that POJK No. 6 of 2024 regulates short selling through authorization, securities lending, collateral, reporting duties, order marking, and market supervision. These mechanisms may reduce operational risk and support market governance, but they do not remove the Sharia ownership problem. DSN-MUI Fatwa No. 80/2011 prohibits short selling because the seller sells securities not yet owned at the time of transaction. Fatwa No. 135/2020 strengthens this reasoning by defining shares as ownership participation. Regulatory recognition, therefore, does not automatically create Sharia legitimacy. Short selling remains difficult to justify in Indonesia’s Islamic capital market unless ownership, possession, fair risk bearing, and lawful entitlement are preserved. Short selling memperoleh pengakuan regulatif di Indonesia melalui POJK No. 6 Tahun 2024, tetapi praktik tersebut tetap menimbulkan persoalan dalam perspektif pasar modal syariah. Permasalahan utamanya berkaitan dengan keabsahan penjualan efek sebelum berada dalam kepemilikan dan penguasaan sah pihak penjual menurut prinsip syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah Fatwa DSN-MUI No. 40/2003, Fatwa DSN-MUI No. 80/2011, Fatwa DSN-MUI No. 135/2020, POJK No. 6 Tahun 2024, serta berbagai literatur fiqh muʿāmalah mengenai konsep mulk, qabḍ, bayʿ al-maʿdūm, gharar, maysir, dan ribā. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POJK No. 6 Tahun 2024 mengatur short selling melalui mekanisme perizinan, securities lending, penyediaan agunan, pelaporan transaksi, penandaan order, serta pengawasan pasar untuk menjaga stabilitas dan transparansi perdagangan efek. Meskipun mekanisme tersebut mampu mengurangi risiko operasional dan memperkuat tata kelola pasar modal, pengaturan tersebut belum menyelesaikan persoalan mendasar mengenai kepemilikan dalam hukum syariah. Fatwa DSN-MUI No. 80/2011 secara tegas melarang short selling karena penjual menjual efek yang belum dimiliki saat akad berlangsung. Larangan tersebut diperkuat oleh Fatwa DSN-MUI No. 135/2020 yang menempatkan saham sebagai bukti partisipasi kepemilikan. Dengan demikian, pengakuan regulatif tidak otomatis melahirkan legitimasi syariah terhadap praktik short selling
Legality of TikTok Shop Live Shopping Contracts: Building Three Pillars in Customer Protection Muhammad Miqdam Makfi; Fajrul Mumtaz Kurniawan
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4902

Abstract

TikTok Shop live shopping has become a significant form of social commerce in Indonesia’s digital economy, yet its real-time, verbal, and platform-mediated transactions raise unresolved questions about contract validity and consumer protection. This article examines whether live shopping contracts satisfy the requirements of fiqh muamalah and whether Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection adequately protects consumers in livestreaming transactions. Using normative legal research with statutory, conceptual, and comparative approaches, the article analyses Islamic legal texts, DSN-MUI fatwas, Indonesian legislation, and recent scholarship through a deductive-interpretive method. The findings show that live shopping contracts are valid in principle when ijāb-qabūl is clearly represented through the digital system, the contractual object is sufficiently identified, and gharar or tadlīs is absent. However, the Consumer Protection Act remains limited because it lacks livestreaming-compatible documentation, clear accountability for affiliates and influencers, and effective digital dispute resolution. The article proposes a three-pillar harmonization model: digital bayān standards, reconstructed accountability among platform actors, and ṣulḥ-based digital mediation. This model operationalizes ḥifẓ al-māl within Indonesia’s consumer protection framework. Live shopping TikTok Shop telah menjadi bentuk penting social commerce dalam ekonomi digital Indonesia. Karakter transaksinya yang berlangsung real-time, verbal, dan dimediasi platform menimbulkan persoalan tentang keabsahan akad serta perlindungan konsumen. Artikel ini menganalisis apakah akad live shopping memenuhi prinsip fikih muamalah dan apakah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memadai untuk melindungi konsumen dalam transaksi siaran langsung. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Bahan hukum berupa nash hukum Islam, fatwa DSN-MUI, peraturan perundang-undangan, dan literatur mutakhir dianalisis secara deduktif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akad live shopping pada prinsipnya sah apabila ijāb-qabūl terwakili secara jelas dalam sistem digital, objek akad dapat diidentifikasi, serta tidak mengandung gharar atau tadlīs. Namun, UU Perlindungan Konsumen masih memiliki keterbatasan karena belum menyediakan mekanisme dokumentasi siaran langsung, akuntabilitas yang jelas bagi afiliasi dan influencer, serta penyelesaian sengketa digital yang efektif. Artikel ini menawarkan model harmonisasi tiga pilar, yaitu standar bayān digital, rekonstruksi rantai akuntabilitas pelaku usaha, dan mediasi digital berbasis ṣulḥ untuk mengoperasionalkan prinsip ḥifẓ al-māl.
Ali Jum‘ah’s Legal Meaning Construction for Reading Gharar-Based Labeling in Hidden Fees Moh Tamtowi; Muhamad Ulul Albab Musaffa
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4916

Abstract

Contemporary Islamic business law (muāmalāt) discourse often faces digital transactions by applying familiar legal categories such as gharar, tadlīs, bāṭil, or tarāḍī. Such categories remain important, but they require a careful bridge between legal qur’anic wording, classical interpretive traditions, and modern transaction structures. Using a normative doctrinal method and a legal-semantic juridical approach, this article reconstructs the meaning of akl al-amwāl bi al-bāṭil through four analytical layers: lexical meaning, social usage, legal meaning in Qur’anic usage, and legal operational terminological indicators. These four layers of meaning is synthetized from Sheikh ‘Ali Jum’ah’s legal-meaning thought. The analysis relies on direct readings of the Qur’an, Sunan Ibn Mājah, Lisān al-‘Arab, Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, al-Sarakhsī, al-Kāsānī, al-Nawawī, and Ibn Qudāmah. Digital hidden fee practices are used as a contextual test case because they reveal how information, consent, compensation, and interface design shape the legitimacy of wealth transfer. The findings show that “consuming wealth” refers not merely to taking property, but to absorbing another party’s economic value through defective legitimacy. The article contributes operational indicators for reading digital transactions without reducing Qur’anic language to rapid legal labelling. Kajian Hukum Bisnis Islam kontemporer sering menghadapi transaksi digital dengan membawa kategori fikih yang sudah dikenal, seperti gharar, tadlīs, bāṭil, atau tarāḍī. Kategori tersebut tetap penting, tetapi perlu dijembatani melalui pembacaan yang hati-hati antara redaksi Al-Qur’an, tradisi tafsir-fikih, dan struktur transaksi modern. Melalui metode normatif doktrinal dan pendekatan semantik yuridis, tulisan ini merekonstruksi makna akl al-amwāl bi al-bāṭil melalui empat lapis analisis: makna leksikal, tradisi sosial, makna syar‘i dalam redaksi Al-Qur’an, dan indikator terminologis-operasional.  Analisis Empat lapis makna ini disintesiskan dari pemikiran Syaikh Ali Jum’ah yang bertumpu pada pembacaan langsung terhadap Al-Qur’an, Sunan Ibn Mājah, Lisān al-‘Arab, Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, al-Sarakhsī, al-Kāsānī, al-Nawawī, dan Ibn Qudāmah. Praktik hidden fee digital dipakai sebagai medan uji karena memperlihatkan bagaimana informasi, kerelaan, kompensasi, dan desain antarmuka membentuk legitimasi perpindahan harta. Temuan menunjukkan bahwa “memakan harta” tidak hanya berarti mengambil harta, tetapi menyerap nilai ekonomi pihak lain melalui legitimasi yang cacat. Sumbangan tulisan ini terletak pada penyusunan indikator operasional untuk membaca transaksi digital tanpa mereduksi bahasa Al-Qur’an menjadi label hukum yang tergesa.
A Legal Semantic Anthropological Reading of Kataba: Constructing the Qur’anic Evidentiary Order of Debt Mohammad Luthfil Anshori
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4919

Abstract

Qur’an 2:282 is often read as a legal instruction to record deferred debt, leaving the social and evidentiary significance of kataba underexplored. This article examines how kataba moves beyond graphic writing to shape an evidentiary order for debt transactions. The study uses qualitative library research based on mawḍūʿī-nuzūlī theory, supported by lexical-semantic analysis, comparative exegesis, and legal anthropology as a limited conceptual lens. Its primary sources include classical Arabic lexicons and the commentaries of al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, al-Rāzī, and Ibn ʿĀshūr. The findings show that the semantic associations of k-t-b with gathering, binding, prescribing, and obligating become relevant only through the structure of the verse. Although exegetes disagree over whether fa-uktubūhu indicates obligation or strong recommendation, they share a concern with protecting rights, strengthening proof, and preventing disputes. The verse establishes an evidentiary order through the debtor’s dictation, the impartial work of the kātib bi al-ʿadl, testimony, and protection for scribes and witnesses. This structure articulates documentary consciousness as the normative expectation that financial rights and obligations should acquire a readable and verifiable form capable of establishing responsibility.  QS. al-Baqarah 282 sering dipahami sebagai dasar hukum pencatatan utang bertempo, tetapi makna sosial dan pembuktian dari kataba belum banyak dikaji secara mendalam. Artikel ini menelaah bagaimana kataba tidak hanya menunjuk tindakan menulis, melainkan membentuk tata bukti dalam transaksi utang. Dengan menggunakan teori mawḍūʿī-nuzūlī sebagai kerangka utama, analisis dilakukan melalui penelitian kepustakaan kualitatif yang memadukan kajian leksikal-semantik, perbandingan tafsir, dan antropologi hukum sebagai lensa konseptual terbatas. Sumber utama yang digunakan meliputi leksikon Arab klasik serta tafsir al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, al-Rāzī, dan Ibn ʿĀshūr. Temuan artikel menunjukkan bahwa makna akar k-t-b yang berkaitan dengan menghimpun, mengikat, menetapkan, dan mewajibkan memperoleh relevansinya melalui struktur ayat. Meskipun para mufasir berbeda pendapat mengenai status hukum fa-uktubūhu, mereka sama-sama menempatkan penulisan sebagai sarana menjaga hak, menguatkan bukti, dan mencegah sengketa. Ayat ini membangun tata bukti melalui pendiktean debitur, kātib bi al-ʿadl, persaksian, dan perlindungan terhadap penulis serta saksi. Struktur tersebut membentuk kesadaran dokumentatif bahwa hak dan kewajiban finansial perlu memiliki bentuk yang dapat dibaca, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan.
Syariah Card Mechanism in The Capitalism Infrastructure Ulinnuha Saifullah; Khairul Imam; Setiyawan Gunardi
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4922

Abstract

Normative reconstruction of credit card mechanisms under sharia principles raises a central question about whether contractual compliance also changes economic substance. Focusing on Syariah Card (a sharia-based credit card arrangement), this article examines Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (National Sharia Board legal opinion) No. 54/DSN-MUI/X/2006, Bank Indonesia payment-system regulations, fee structures, and relevant Islamic finance literature through normative-comparative legal analysis. The analysis shows that Syariah Card differs normatively from conventional credit cards through kafālah, qarḍ, ijārah, ujrah, taʿwīḍ, taʿzīr, the prohibition of ribā, restrictions on non-Islamic transactions, and the prevention of isrāf. These differences are legally significant and should not be reduced to mere terminology. However, Syariah Card remains embedded in modern payment capitalist infrastructure involving issuers, merchants, acquirers, billing cycles, settlement, merchant fee, and transaction-based income. Merchant fee or MDR becomes the critical point because it links issuer income to transaction volume without being identical to interest. Therefore, maqāṣid al-sharīʿah must evaluate not only contractual validity, but also fee transparency, consumer protection, prevention of excessive consumption, and ḥifẓ al-māl.   Rekonstruksi syariah atas mekanisme kartu kredit menimbulkan pertanyaan penting mengenai apakah kepatuhan akad juga mengubah substansi ekonominya. Artikel ini mengkaji Syariah Card melalui Fatwa DSN-MUI No. 54/DSN-MUI/X/2006, regulasi sistem pembayaran Bank Indonesia, struktur biaya, dan literatur keuangan syariah dengan pendekatan hukum normatif-komparatif antara Syariah Card dengan kartu kredit konvensional. Hasil kajian menunjukkan bahwa Syariah Card memiliki perbedaan normatif dari kartu kredit konvensional melalui akad kafālah, qarḍ, ijārah, ujrah, taʿwīḍ, taʿzīr, larangan ribā, larangan transaksi non-syariah, serta pencegahan isrāf. Perbedaan ini memiliki arti hukum yang nyata dan tidak dapat direduksi sebagai penggantian istilah semata. Namun, Syariah Card tetap bekerja dalam infrastruktur kapitalisme dengan mekanisme pembayaran modern yang melibatkan penerbit, pedagang, acquirer, siklus tagihan, settlement, merchant fee, dan pendapatan berbasis transaksi. Merchant fee atau MDR menjadi titik kritis karena menghubungkan pendapatan penerbit dengan volume transaksi, meskipun tidak identik dengan bunga. Karena itu, maqāṣid asy-syarīʿah perlu digunakan untuk menilai transparansi biaya, perlindungan konsumen, pencegahan konsumsi berlebihan, dan ḥifẓ al-māl (penjagaan terhadap harta).
Maqasid-Based Regulatory for Good Zakat Governance in Indonesia Ahmad Hujaj Nurrohim; Sultan Uy Ubpon
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 18 No. 1 (2026): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v18.i1.4926

Abstract

  Indonesia’s national zakat governance continues to face institutional challenges that cannot be explained only by the gap between zakat potential and actual collection. The more fundamental issue lies in the legal design of Law No. 23 of 2011, which concentrates several functions within BAZNAS, places LAZ in a potentially subordinative position, leaves the accountability of UPZ insufficiently clear, and weakens public oversight. This article examines these institutional problems after Constitutional Court Decision No. 54/PUU-XXIII/2025 and formulates a more accountable model of zakat governance. It employs normative legal research with statutory, conceptual, and legal-policy approaches. The analysis combines regulatory governance, siyāsah māliyah, good zakat governance, and maqāṣid al-sharī‘ah. The article argues that zakat reform should not stop at administrative adjustment, but must redesign institutional functions, ensure equal accountability among operators, strengthen public reporting, integrate fiscal incentives, and develop digital accountability. It proposes a Maqāṣid-Based Regulatory Governance Model that positions the state as regulator and supervisor, while BAZNAS, LAZ, UPZ, and community-based zakat managers operate within an accountable ecosystem oriented toward mustaḥiqq welfare. Pengelolaan zakat nasional di Indonesia masih menghadapi persoalan kelembagaan berupa pemusatan fungsi, relasi BAZNAS-LAZ yang belum setara, posisi UPZ yang belum jelas, dan lemahnya akuntabilitas publik. Putusan MK No. 54/PUU-XXIII/2025 memberi momentum penting untuk membaca ulang desain UU No. 23 Tahun 2011, terutama karena pertimbangan hukumnya menegaskan perlunya pemisahan fungsi regulator, pembina, pengawas, dan operator. Artikel ini menganalisis kelemahan konstruksi hukum pengelolaan zakat nasional dan menawarkan model reformulasi tata kelola zakat yang lebih proporsional. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan politik hukum. Kerangka analisisnya memadukan regulatory governance, siyāsah māliyah, good zakat governance, dan maqāṣid al-syarī‘ah. Temuan artikel menunjukkan bahwa reformasi zakat tidak cukup dilakukan melalui perubahan administratif, tetapi harus menyentuh pembagian fungsi kelembagaan, kesetaraan operator, akuntabilitas publik, insentif fiskal, akuntabilitas digital, dan pengukuran dampak berbasis maqāṣid. Artikel ini menawarkan Maqāṣid-Based Regulatory Governance Model sebagai model tata kelola zakat nasional yang menempatkan negara sebagai regulator dan pengawas, sementara BAZNAS, LAZ, UPZ, dan pengelola masyarakat bekerja dalam ekosistem akuntabilitas yang setara dan berorientasi pada kemaslahatan mustaḥiqq.