cover
Contact Name
Hariyanto
Contact Email
hariyantogracia@gmail.com
Phone
+628121024884
Journal Mail Official
davarjurnalteologi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Ratu Menten, Komplek Grogol Permai Blok C 41, Jakarta Barat, DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Davar: Jurnal Teologi
ISSN : 27229041     EISSN : 2722905X     DOI : https://doi.org/10.55807/davar
Davar: Jurnal Teologi adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun. Menerima naskah dari Dosen, Peneliti, Mahasiswa, dan Praktisi yang sesuai dengan lingkup jurnal ini. Focus dan Scope Davar: Jurnal Teologi adalah Teologi Biblikal Teologi Sistematika Studi Pastoral dan Konseling Kristen Filsafat Kristen Apologetika Pendidikan Kristen (Gereja, Keluarga, dan Sekolah) Manajemen Gereja Kepemimpinan Kristen Sosiologi Agama Misiologi dan Penginjilan
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2023): Desember" : 6 Documents clear
Eksistensi bahasa lidah dalam perspektif Pentakosta pada gereja masa kini Suparyadi, Zakharia; Pakpahan, Gernaida; Tumbelaka-Wieland, Josephine Mariana
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.109

Abstract

ABSTRACTTongue language (glossolalia) is a spiritual gift that has become a phenomenon in Christian spiritual life. This phenomenon has been associated with almost all revival movements within the Christian church, including the charismatic renewal movement. The use of tongues in worship, not a few frictions lead to divisions; some see it as a sign, while others see it as a mere gift. The focus and objective of this article is to explore the implementation of glossolalia in the contemporary church from the perspective of Pentecostal philosophy. The method used in this study is an analysis of the history of tongues in the early Church era with a qualitative approach. An approach method in philosophy that focuses on proof (verification) where in order for a statement to have meaning it must really be defined (analytical) or provable (synthetic). Pentecost was the beginning of God pouring out the Holy Spirit on the church and 120 of them started speaking in other languages/tongues and continued in the early church in the Acts of the Apostles (ontology). Tongues is a gift of the Holy Spirit which is given according to His will to believers to carry out their functions in the body of Christ according to His call. When someone speaks in tongues, he is not actually speaking himself, but it is the Spirit within him who is speaking (epistemology). The benefits of speaking in tongues are as follows: the language of prayer, as a means of self-development, and building emotional intelligence and to communicate with God (axiology).Keywords: existence, tongues, pentecost, church.ABSTRAKBahasa lidah (glossolalia) merupakan salah satu karunia rohani yang telah menjadi fenomena di dalam kehidupan spiritual kristen. Fenomena ini telah dihubungkan dengan hampir semua gerakan kebangkitan dalam gereja Kristen, termasuk di dalamnya gerakan pembaharuan kharismatik. Penggunaan bahasa lidah dalam ibadah, tidak sedikit friksi berujung pada perpecahan; ada yang menganggapnya sebagi tanda, dan sebaliknya melihatnya sekadar karunia semata. Fokus dan Tujuan artikel ini adalah mengeksplorasi implementasi glosolalia pada gereja masa kini dari sudut pandang Filsafat Pentakosta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis terhadap sejarah bahasa lidah era Gereja mula mula dengan pendekatan metode Kualitatif. Suatu metode pendekatan dalam filsafat yang memusatkan perhatian pada pembuktian (verifikasi) dimana supaya pernyataan mempunyai arti ia harus benar-benar dapat didefinisikan (analitis) atau dapat dibuktikan (sintetis). Pentakosta merupakan awal Tuhan mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja dan 120 dari mereka mulai berbicara dalam bahasa lain /lidah dan terus berlanjut pada gereja mula-mula di Kisah Para Rasul (ontologi). Bahasa lidah merupakan karunia Roh Kudus yang diberikan seturut kehendak-Nya kepada orang percaya untuk menjalankan fungsinya di dalam tubuh Kristus sesuai dengan panggilan-Nya. Seseorang ketika mengucapkan bahasa lidah, sebenarnya ia tidak sedang berbicara sendiri, melainkan Roh yang ada di dalam dirinya itulah yang berbicara (epistemologi). Manfaat bahasa lidah sebagai berikut: sebagai bahasa doa, sebagai sarana membangun diri sendiri, dan membangun kecerdasan emosional dan untuk berkomunikasi dengan Allah (aksiologi).Kata kunci: eksistensi, bahasa lidah, pentakosta, gereja.
Peranan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa Ibrahim, Ibrahim; Randabunga, Berta; Gultom, Rismawaty
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.115

Abstract

ABSTRACTThis research was conducted with the aim of analyzing and testing how much influence students' emotional intelligence has on the learning achievement of students in grades 5 and 6. This research uses quantitative methods. Quantitative research methods are methods for testing certain theories by testing validity, reliability and simple regression. This research was carried out at YHS Makassar Christian Elementary School. All 54 students in grades 5 and 6 in the 2021/2022 academic year were included as the sample. Based on the results of the data management carried out, it was found that there was an influence of students' emotional intelligence on student learning achievement at YHS Makassar Christian Elementary School which was supported by the table above regarding variable relationships, which was included in the sufficient category with a value of 0.469. There is an influence of students' Emotional Intelligence on student learning achievement at YHS Makassar Christian Elementary School. In accordance with research results which show that students' emotional intelligence on student learning achievement has an influence of 22%, the remaining 78% is influenced by other factors or variables. Keywords: Emotional Intelligence, Learning achievement, Student ABSTRAKPenelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisa dan menguji berapa besar pengaruh kecerdasan emosional siswa, terhadap prestasi belajar siswa kelas 5 dan 6. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode penelitian kuantitiaf merupakan metode-metode untuk menguji teori tertentu dengan cara uji validitas, reliabilitas dan regresi sederhana. Penelitian ini dilaksanakan di SD Kristen YHS Makassar. Seluruh siswa kelas 5 dan 6  di Tahun pelajaran 2021/2022 sejumlah 54 siswa dimasukkan sebagai sampel. berdasarkan hasil pengelolaan data yang dilakukan, didapat bahwa adanya pengaruh kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi belajar siswa di SD Kristen YHS Makassar yang didukung oleh tabel di atas tentang hubungan variabel termasuk dalam kategori cukup dengan nilai 0,469. Terdapat pengaruh kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi belajar siswa di SD Kristen YHS Makassar. Sesuai dengan hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi belajar siswa memiliki pengaruh sebesar 22%, sisanya sebesar 78% dipengaruhi oleh faktor atau variable lainnya.Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Prestasi Belajar, Siswa.
Konsep diri remaja Kristen dalam menghadapi identitiy crisis sosial media Abraham, Victor; Paulus, Yanto
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.85

Abstract

ABSTRACTAs children of God, youth are endowed with the seeds of Christ's character within. Therefore, in order to grow and maintain the character of Christ in him, he must understand his identity as a follower of Christ. Therefore, Christian youth must provide a real foundation where they will not be influenced by the surrounding influences, especially the influence that is on social media. So that when they enter a period of identity crisis, Christian youth are ready to take their journey to find their identity. The existence of this journal aims to reduce Christian teenagers who experience "identity crisis" due to their environment, especially in social media. Also so that people who want to help their friends or teenagers to be able to go through the ups and downs of youth with a self-concept and self-identity in accordance with the Christian Faith. The benefits obtained from the journal are a guidebook that can help them through their teenage years so that Christian Teens or children who are heading to Teenagers and parents who have Teenagers for them can understand and anticipate things that will happen to them and build certainly a strong foundation of the Christian Faith in order to be able to go through that period without experiencing an "identity crisis". Key words: Identity, Social media, Identity crisis, Christian youth, Self concept. ABSTRAKSebagai anak Tuhan, pemuda diberkahi dengan benih karakter Kristus dalam diri. Oleh karena itu, untuk mendapatkan tumbuh dan pertahankan karakter Kristus di dalam dirinya, maka dia harus memahami identitasnya sebagai pengikut Kristus. Maka dari itu para remaja Kristen harus dibekali betul-betul fondasi dimana mereka tidak akan terkecohkan oleh pengaruh sekitar terutama pengaruh yang ada pada sosial media. Sehingga pada saat mereka memasuki periode krisis identitas, para remaja Kristen sudah siap untuk menempuh perjalanan mereka untuk mencari identitas sejati dirinya. Adanya jurnal ini bertujuan agar mengurangi Remaja Kristen yang mengalami identity crisis” akibat lingkungan mereka terutama dalam sosial media. Juga agar para orang yang ingin membantu teman atau anak remaja mereka untuk dapat melewati masa-masa naik turunnya keremajaan dengan konsep diri dan identitas diri yang sesuai dengan Iman Kristen. Manfaat yang didapat dari jurnal yaitu sebuah buku panduan yang dapat membantu mereka melalui masa remaja mereke agar para Remaja Kristen atau anak yang sedang menuju ke Remaja serta orang tua yang memiliki anak Remaja untuk mereka dapat memahami dan mengantisipasi terhadap hal-hal yang akan menimpa mereka dan tentunya membangun sebuah fondasi Iman Kristen yang kuat agar bisa melalui masa itu tanpa mengalami “identity crisis”. Kata kunci: Identitas, Sosial media, Krisis identitas, Remaja Kristen, Konsep diri.
Theologia dan pekerjaan: Bekerja dalam perspektif Alkitab dan relevansinya terhadap pelayanan Simanjuntak, Erwin Sudarmono; Paat, Vicky B.G.D; Sugianto, Paulus
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.149

Abstract

ABSTRACTPeople spend most of their lives at work. Whether it's working as a profession or in spiritual service. However, many people think that work as a profession is very different or has a very large gap before God from work in the ministry. There are those who interpret working as a profession as a matter outside of God and worldly in nature. There are also those who interpret work as a profession as completely worldly affairs and not God's calling. Through research into the Bible, it is hoped that the right attitude for humans to view their work will be found, so that humans can interpret their work positively and productively. The results of Bible studies show that work is an activity that is intrinsic to humans as a creation in which God, the creator is also depicted as a figure who works. The purpose of this research is to find out the relevance of work to service, so that everyone realizes the attitude of a calling to work in the midst of the world of work towards mission and service. The research method used was collecting literature to solve problems so that the results were found that working as a profession is a calling from God and has strong relevance to service. Keywords: Work, Relevance, Service           ABSTRAKKehidupan orang sebagian besar hidupnya menghabiskan waktu dalam pekerjaan. Baik itu bekerja sebagai profesi maupun dalam pelayanan kerohanian. Namun banyak orang menganggap bahwa pekerjaan sebagai profesi itu sangat berbeda jauh atau punya kesenjangan yang sangat jauh dihadapan Tuhan dengan pekerjaan dalam pelayanan. Ada yang memaknai bahwa bekerja sebagai profesi sebagai urusan diluar Tuhan dan bersifat duniawi. Ada juga yang memaknai bekerja sebagai profesi itu seutuhnya adlah urusan-urusan dunia dan bukan panggilan Tuhan. Melalui penelitian terhadap Alkitab, diharapkan ditemukan sikap yang  tepat bagi manusia untuk melihat pekerjaannya, sehingga manusia bisa  memaknai pekerjannya secara positif dan produktif. Hasil kajian Alkitab menunjukkan bahwa bekerja adalah aktivitas yang melekat kepada manusia  secara hakiki sebagai suatu ciptaan di mana Allah, sang pencipta juga digambarkan sebagai sosok yang bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan apa relevansi pekerjaan terhadap pelayanan, sehingga setiap orang mewujudkan sikap panggilan bekerja ditengah-tengah dunia pekerjaan terhadap pelayanan misi maupun pelayanan. Metode penelitian yang dipakai dengan mengumpulkan literatur untuk memecahkan masalah sehingga menemukan hasil bahwa bekerja sebagai profesi merupakan panggilan dari Tuhan dan memiliki relevansi yang kuat terhadap pelayanan. Kata kunci: Pekerjaan, Relevansi, Pelayanan
Mission in the age of digitization Sidianto, Daniel; Simanjuntak, Ferry; Prihanto, Joko
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.46

Abstract

ABSTRACT            At this time humans are entering a new phase, where the digital world, namely virtual technology can connect humans without being hindered by location, conditions and time. There is an essential difference between the Church's three tasks running analogously compared to the digital version of worship. The digital world is not the real world, but evangelism must still be carried out according to the Great Commission of Jesus (Matthew 28:19-20). The methodology begins with the elaboration of the meaning of the three tasks of the Church, namely: koinonia, diakonia and marturia. Then make a comparison between the three tasks of the Church and the mission that occurs in the digital world and the metaverse. the conclusion is: the target of evangelism is discipleship and all services in the digital world must end by bringing it into the real world so that the essence of the Church's task, namely koinonia, diakonia and marturia, is in accordance with the biblical concept. This research is different from previous studies. The emphasis is on the spread of evangelistic missions in the digital world seen and reviewed and a comparison of the three tasks of the Church of koinonia, diakonia and marturia is a new research. Keywords: Digital world, Metaverse, Evangelism, Mission. ABSTRAK           Pada masa sekarang ini manusia memasuki babak baru, dimana dunia digital, yaitu teknologi virtual dapat menghubungkan manusia tanpa terhalang dengan lokasi, kondisi dan waktu. Ada perbedaan esensial antara tiga tugas Gereja yang berjalan secara analog dibanding dengan ibadah versi digital. Dunia digital memang bukanlah dunia sesungguhnya, namun penginjilan tetap harus dilakukan sesuai Amanat Agung Yesus (Matius 28:19-20). Metodologi dimulai dengan penjabaran makna tiga tugas Gereja yaitu: koinonia, diakonia dan marturia. Kemudian membuat komparasi antara tiga tugas Gereja dengan misi yang terjadi di dunia digital dan metaverse. Kesimpulan yang dihasilkan adalah: target penginjilan adalah pemuridan dan semua pelayanan di dunia digital harus berujung dengan membawanya ke dunia nyata sehingga esensi tugas Gereja yaitu koinonia, diakonia dan marturia sesuai dengan konsep Alkitabiah. Penelitian ini berbeda dibanding dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penekanannya adalah penyebaran misi penginjilan di dunia digital dipandang dan ditinjau serta dikomparasi dari tiga tugas Gereja koinonia, diakonia dan marturia merupakan penelitian baru. Kata kunci: Dunia digital, Metaverse, Penginjilan, Misi.
Pendidikan Agama Kristen terhadap konsep diri anak usia 8-12 tahun Yutersi, Noni; Mbo'oh, Ruth; Wagiyo, Wagiyo
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.148

Abstract

ABSTRACTPositive self-concept has an important role in the formation of quality individuals, because self-concept plays a role in determining a person's behavior, according to the way he views himself. If he views himself as someone who does not have enough ability to carry out a task, then all his behavior will show his inability. Implementing Christian Religious Education for children who have a negative self-concept is not enough to provide learning materials for the Word to children. The material of God's word is of course very important, because the Bible characters that are given are usually figures who have a high positive self-concept. But the teacher factor is a very determining factor in instilling a positive self-attitude in children. Studying with friends who already have a positive self-concept is certainly very helpful in forming a child's self-concept. This research uses a quantitative approach with correlational methods. The population in this study were Sunday School children aged 8-12 years at Bethel Indonesia Church Karang Anyat, Central Jakarta. From the results of this research it can be concluded that there is a positive and significant influence between the large role of Christian religious education. And the influence is 71.3%. So the role of Christian religious education must be maintained so that children's positive self-concept becomes even better at Bethel Indonesia Karang Anyar Church, Sawah Besar, Central Jakarta. Keywords: Christian religious education, self-concept, children. ABSTRAKKonsep diri positif mempunyai peranan penting dalam pembentukan individu yang berkualitas, sebab konsep diri berperan dalam menentukan perilaku seseorang, sesuai dengan caranya memandang dirinya sendiri. Bila ia memandang dirinya sebagai orang yang tidak memiliki cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas, maka seluruh perilakunya akan menunjukkan ketidakmampuannya tersebut. Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen kepada anak yang memiliki konsep diri negatif tidak cukup memberikan materi pembelajaran firman kepada anak-anak. Materi firman Tuhan tentu saja sangat penting, karena tokoh-tokoh Alkitab sebagai yang diberikan biasanya adalah tokoh-tokoh yang memiliki konsep diri positif yang tinggi. Tetapi faktor guru adalah faktor yang sangat menentukan dalam menanamkan sikap diri positif kepada anak. Belajar bersama teman-temannya yang sudah memiliki konsep diri positif tentu sangat membantu pembentukan konsep diri anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak Sekolah Minggu usia 8-12 tahun di Gereja Bethel Indonesia Karang Anyat, Jakarta Pusat. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Peranan Pendidikan Agama Kristen yang bersifat besar. Dan pengaruhnya sebesar 71,3%. Jadi Peranan Pendidikan Agama Kristen harus dipertahankan agar Konsep Diri Positif anak semakin baik lagi di Gereja Bethel Indonesia Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat.Kata kunci: Pendidikan Agama Kristen, Konsep Diri, Anak.

Page 1 of 1 | Total Record : 6