cover
Contact Name
Margiyanti
Contact Email
lpkdgeneration2022@gmail.com
Phone
+6285640236283
Journal Mail Official
Margiyanti@stikeskesdam4dip.ac.id
Editorial Address
Jl. Hos Cokroaminoto No. 4 , Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50245
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES)
ISSN : 2828240X     EISSN : 28282469     DOI : https://doi.org/10.55606/jufdikes.v4i1
Core Subject : Health,
Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) menyambut Jurnal dengan akses terbuka dengan ruang lingkup berbagai bidang Ilmu Kesehatan termasuk penelitian dasar dalam Fisioterapi, Analis Medis, Fisiologi (Keolahragaan), Reproduksi (Biologi dan Kesehatan), Akupunktur, Rehabilitasi Medik, Ilmu kesehatan umum, ilmu psikologi, ilmu farmasi. Artikel dalam jurnal ini disajikan dalam bentuk Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Jurnal ini diterbitkan oleh Oleh P3M Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia dan 2 kali dalam setahun, yakni bulan Januari dan Juli
Articles 110 Documents
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN TERAPI LATIHAN PADA POST ORIF FRAKTUR FEMUR 1/3 DISTAL DEXTRA Bagas Ardian Syahputra; Didik Purnomo
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2024

Abstract

Latar Belakang: Fraktur merupakan kondisi hilangnya kontinuitas jaringan tulang, baik secara total maupun parsial, yang umumnya disebabkan oleh trauma. Salah satu jenis fraktur yang cukup serius adalah fraktur femur , yaitu patah tulang pada batang paha yang sering kali terjadi akibat benturan langsung. Tanda dan gejala klinis umum yang ditemukan pada fraktur meliputi edema , deformitas , serta nyeri lokal di area yang terdampak. Nyeri yang timbul menyebabkan pasien cenderung menghindari gerakan pada bagian tubuh yang mengalami fraktur, sehingga dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, serta penurunan kemampuan aktivitas fungsional. Salah satu modalitas yang digunakan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah terapi Inframerah (IR), yaitu metode yang memanfaatkan sinar merah untuk memberikan efek pemanasan pada jaringan superfisial tubuh. Pemanasan ini berfungsi untuk meningkatkan vasodilatasi , memperlancar sirkulasi darah, serta memberikan efek relaksasi otot, yang pada akhirnya membantu dalam mengurangi nyeri. Kombinasi antara terapi inframerah dan terapi latihan menjadi pendekatan yang efektif dalam rehabilitasi, karena mampu memberikan manfaat sinergis berupa penurunan nyeri dan edema , serta peningkatan cakupan gerak sendi, kekuatan otot, dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan reduksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF) akibat fraktur femur . Pendekatan ini berperan penting dalam mempercepat proses pemulihan dan rehabilitasi pasca fraktur . Metode: Penelitian ini merupakan sebuah studi kasus yang membahas penatalaksanaan fisioterapi pada pasien dengan fraktur femur 1/3 distal pasca tindakan ORIF. Data dikumpulkan selama proses fisioterapi berlangsung. Modalitas yang digunakan dalam penatalaksanaan meliputi terapi inframerah dan terapi latihan aktif dan pasif, yang diberikan sesuai dengan standar prosedur operasional (SPO) fisioterapi. Hasil: Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak beberapa kali dengan kombinasi terapi inframerah dan terapi latihan, diperoleh hasil berupa penurunan nyeri, penurunan edema , peningkatan cakupan gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, serta peningkatan kemampuan aktivitas fungsional ekstremitas bawah. Kesimpulan: Pemberian terapi inframerah dan terapi latihan secara terpadu terbukti dapat membantu mempercepat pemulihan pasien pasca-ORIF fraktur femur. Intervensi ini memberikan dampak positif berupa penurunan nyeri dan edema , serta peningkatan kekuatan otot, perlindungan gerak sendi, dan fungsi aktivitas sehari-hari pasien
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN TRIAGE DI RUANG IGD RS DI KABUPATEN INDRAMAYU Wiwin Nur Aeni; Bestina Nindy Virgiani; Vergian Josiasharry Bee
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2031

Abstract

Pasien kegawatdaruratan yang datang ke IGD perlu mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Pelaksanaan triage yang benar akan membantu untuk keberhasilan dalam pertolongan pasien. Pengetahuan perawat sangat penting dalam menangani pasien gawat darurat, karena dari tindakan yang cepat dan akurat tergantung dari ilmu yang dikuasai oleh petugas kesehatan di IGD dalam melaksanakan tindakan triage. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage di ruang IGD RS yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah perawat IGD di 2 (dua) Rumah sakit yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan besar sampel sebanyak 43 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan uji Pearson Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebanyak 21 (48,8%) responden memiliki pengetahuan baik, dan sebanyak 33 (76,7%) responden melaksanakan triage dengan tepat. Hasil analisis menunjukan ada hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage, (P-value =0,031 (a=0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage. Saran ditujukan kepada pihak rumah sakit untuk memberikan in house training kepada perawat untuk meningkatkan pengetahuan mengenai triage.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN e.c ISCHIALGIA SINISTRA DENGAN MODALITAS MICROWAVE DIATHERMY (MWD), TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS), DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE Siti Nur Asiah; Didik Purnomo
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2034

Abstract

Ischialgia merupakan masalah nyeri punggung bawah menjalar yang timbul akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang berasal dari radiks posterior lumbal 4 sampai sakral 3 dan ini dapat terjadi pada setiap bagian nerfosis isodikus (L4-S3) sebelum sampai pada permukaan belakang tungkai yang mengandung reseptor nosiseptif (nyeri), yang terangsang oleh berbagai stimulus lokal seperti mekanis thermal dan kimiawi stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Peran fisioterapi pada kasus ini antara lain untuk mengurangi adanya nyeri punggung, meningkatan keterbatasan lingkup gerak sendi trunk, meningkatan kekuatan otot dan mengurangi spasme pada otot yang bersangkutan. Terapi yang diberikan untuk menyelasaikan masalah tersebut yaitu dengan dengan menggunakan Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan William Flexion Exercise. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Modalitas yang diberikan adalah Microwave Diathemy (MWD), Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan William Flexion Exercise. Hasil penelitian ini menunjukkan penatalaksanaan fisioterapi menggunakan Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneus Nerve Stimulation (TENS) dan William Flexion Exercise pada gerakan trunk ini, telah dilakukan sesuai dengan SOP yang didapatkan hasil berupa penurunan derajat nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, penurunan spasme otot, serta peningkatan aktivitas fungsional. Kesimpulan penelitian ini adalah Microwave Diathermy, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation dan William Flexion Exercise dapat menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan spasme, meningkatkan kekuatan otot,dan meningkatkan aktivitas fungsional pasien. Keberhasilan terapi juga membutuhkan kerja sama antara pasien dan fisioterapis.
FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS INKOMPLIT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEJIRAN SETASON KOTA MUNTOK KABUPATEN BANGKA BARAT TAHUN 2025 Yessi; Hendra Kusumajaya; Marleni
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2038

Abstract

Abortus inkomplit merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan keluarnya sebagian hasil konsepsi dan sisanya masih tertinggal dalam uterus, yang dapat menimbulkan perdarahan hebat serta risiko kematian ibu jika tidak ditangani segera. Kejadian abortus inkomplit dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil di RSUD Sejiran Setason Kota Muntok Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit di RSUD Sejiran Setason. Jumlah sampel sebanyak 84 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi usia, paritas, riwayat abortus, pendidikan, pekerjaan, dan jarak kehamilan. Analisis data menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p=0,026), paritas (p=0,030), riwayat abortus (p=0,013), pendidikan (p=0,009), pekerjaan (p=0,035), dan jarak kehamilan (p=0,016) dengan kejadian abortus inkomplit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor usia, paritas, riwayat abortus, pendidikan, pekerjaan, dan jarak kehamilan berhubungan secara signifikan dengan kejadian abortus inkomplit. Diharapkan pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan dapat meningkatkan skrining risiko serta edukasi kepada ibu hamil dalam upaya pencegahan abortus inkomplit.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CARPAL TUNNEL SYNDROME BILATERAL DENGAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION, ULTRASOUND DAN TERAPI LATIHAN Riwu Rau, Beatrix Celvinsintia; Wibisono, Irawan
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2041

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah gejala nyeri, kesemutan, dan nyeri pada pergelangan tangan yang disebabkan oleh kompresi nervus medianus. Di Amerika, 3,8% populasi umum menderita CTS, dengan perempuan lebih sering terkena dibandingkan pria. Di Indonesia, kejadian CTS belum banyak diketahui karena sedikitnya laporan. Fisioterapi berperan dalam pemulihan CTS melalui modalitas seperti TENS dan Ultrasound , serta terapi latihan Upper Limb Tension Test 1 (ULTT 1). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, Setelah dilakukan fisioterapi sebanyak 4 kali pertemuan diperoleh hasil adanya penurunan dan penurunan spasme otot pada pergelangan tangan , penurunan nyeri pada pergelangan tangan dextra dan sinistra , penurunan kesemutan pada pergelangan tangan dextra dan sinistra , adanya peningkatan pergelangan tangan LGS palmar fleksi tangan dextra dan sinistra , peningkatan kekuatan otot palmar flexor persahabatan tangan dextra dan sinistra dan adanya peningkatan kemampuan fungsional aktivitas pasien pada pergelangan tangan dextra dan sinistra .
PENGARUH SUCTION ENDOTRACHEAL TUBE TERHADAP KEPATENAN JALAN NAPAS PADA PASIEN GENERAL ANESTESI DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUD KOTA YOGYAKARTA Kusuma Dewi, Ratih; Astika Nur Rohmah; Fauzan Adhima Febianto
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2053

Abstract

General anestesi merupakan keadaan hilangnya nyeri yang disertai penurunan kesadaran melalui pemberian obat amnesia, sedasi, analgesia, dan pelumpuh otot yang bersifat reversibel. Salah satu teknik yang digunakan adalah anestesi inhalasi dengan intubasi endotrakeal, yaitu pemasangan pipa endotrakeal ke dalam trakea untuk menjaga jalan napas. Setelah prosedur pembedahan selesai, dilakukan ekstubasi. Namun, pasca ekstubasi dapat terjadi komplikasi berupa gagal napas akibat obstruksi jalan napas oleh peningkatan sekret, yang dapat ditangani melalui tindakan penghisapan lendir (suction). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suction endotracheal tube terhadap kepatenan jalan napas pada pasien general anestesi di instalasi bedah sentral RSUD Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan observasi one group pretest posttest design. Teknik sampling yang digunakan Accidental Sampling dengan jumlah 25 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon pada alva <5%. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat pengaruh suction endotracheal tube terhadap kepatenan jalan napas pada pasien general anestesi di instalasi bedah sentral RSUD Kota Yogyakarta dengan p value 0,000. Pada penelitian ini pemberian suction endotracheal tube mampu meningkatkan kepatenan jalan napas pada pasien general anestesi dengan endotracheal tube
EFEKTIVITAS EDUKASI VIDEO PEMBERIANASI EKSKLUSIF TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENYUSUI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GERUNGGANG KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2025 Puja Karisna; Shandy Kusumawardhani; Dyah Retroningrum
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2067

Abstract

            Pemberian ASI eksklusif merupakan upaya penting dalam mendukung tumbuh kembang optimal bayi, namun cakupannya masih belum mencapai target nasional, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Gerunggang. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pengetahuan dan sikap ibu menyusui terhadap pentingnya ASI eksklusif. Edukasi kesehatan dengan media video merupakan metode yang inovatif dan menarik untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas edukasi video pemberian ASI eksklusif terhadap pengetahuan dan sikap ibu menyusui di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest control group. Sampel terdiri dari 34 ibu menyusui yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan edukasi video pada kelompok intervensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Hasil uji Mann-Whitney juga menunjukkan perbedaan skor pengetahuan dan sikap antara kelompok intervensi dan kontrol dengan nilai p = 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi video efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu menyusui mengenai ASI eksklusif. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan metode edukasi yang lebih interaktif, serta menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam menyampaikan informasi terkait ASI eksklusif.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN MODALITAS INFRA RED, ELECTRICAL STIMULASI, MASSAGE DAN MIRROR EXCERCISSE PADA BELL’S PALSY SINISTRA Hafizah Andari Nastiti; Didik Purnomo
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2075

Abstract

Bell’s Palsy merupakan kelemahan otot ekspresi wajah yang bersifat akut yang disebabkan oleh kelumpuhan saraf fasialis dengan penyebab yang belum diketahui. Bell’s Palsy umumnya mengenai setengah wajah, walaupun pada kasus yang jarang dapat melibatkan kedua belahan wajah. Penyebab berupa paparan angin dingin di salah satu sisi wajah secara terus menerus, ada juga yang menyatakan hal itu disebabkan oleh virus herpes yang menetap di tubuh dan teraktivasi kembali karena trauma, faktor lingkungan, stress dan lainnya. Modalitas berupa Infra Red, Electrical Stimulasi, Massage dan Mirror Exercise dapat meningkatkan kemampuan fungsional wajah seperti mengerutkan dahi, menutup mata, dan tersenyum, dan adanya peningkatan kekuatan otot wajah Hasil : Setelah pemberian intervensi sebanyak empat kali dengan Infra Red, Electrical Stimulasi, Massage, dan Mirror Excercisse pada Bells Palsy Sinistra ini. Di dapatkan hasil berupa penurunan spasme, peningkatan kekuatan otot, serta peningkatan kemampuan fungsional pada wajah sisi dextra.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST FRACTURE PATELLA DEXTRA DENGAN MODALITAS CRYOTHERAPY DAN TERAPI LATIHAN Priyadi, Nugie Ramadhani; Maya Trianita; Didik Purnomo
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2089

Abstract

Latar Belakang: Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang yang paling sering disebabkan oleh kecelakaan, namun juga dapat terjadi akibat faktor degeneratif atau patologis. Data WHO tahun 2020 menunjukkan bahwa kecelakaan merupakan penyebab utama fraktur, dengan mayoritas cedera terjadi di rumah. Fraktur patella, yang mencakup sekitar 1% dari seluruh cedera tulang, umumnya dialami oleh usia 20–50 tahun dan lebih sering terjadi pada pria. Cedera ini dapat menyebabkan gangguan mekanisme ekstensor lutut dan biasanya disebabkan oleh trauma langsung. Sekitar 7% kasus berupa fraktur terbuka, yang sering kali disertai kerusakan jaringan lunak dan cedera lain. Penanganan fraktur mencakup metode konservatif dan pembedahan, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan keluhan nyeri pasien. Metode: Karya Tulis Ilmiah ini bersifat studi kasus, mengangkat dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Modalitas yang diberikan Cryotherapy dan Terapi Latihan. Hasil Penelitian: Pasien Tn. D, 37 tahun, menjalani fisioterapi dengan keluhan nyeri, penurunan kekuatan otot, lingkup gerak sendi, dan aktivitas fungsional. Setelah terapi sebanyak 4 kali, terjadi penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, serta kemampuan aktivitas fungsional. Kesimpulan: Setelah empat kali sesi fisioterapi, pasien Tn. D menunjukkan penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, peningkatan lingkup gerak sendi, dan perbaikan aktivitas fungsional secara menyeluruh.
ANALISIS KONSEP RESILIENSI PERAWAT DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN: PENDEKATAN WLAKER DAN AVAN sukani; Retno Rahmawati; Marcos De Oliveira Soares; Ns. Aric Vranda., M.Kep.,Ph.D
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v8i1.2144

Abstract

Resiliensi perawat merupakan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan memulihkan diri dari tekanan kerja tinggi, serta mempertahankan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Namun, definisi resiliensi dalam literatur keperawatan masih bervariasi dan belum sepenuhnya konsisten. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep resiliensi perawat menggunakan metode analisis konsep Walker nurse dan Avant. Analisis dilakukan melalui identifikasi atribut, antecedent, serta penyusunan model case, borderline case, related case, dan contrary case. Hasil analisis menunjukkan bahwa atribut utama resiliensi perawat mencakup fleksibilitas adaptif, regulasi emosi, strategi koping efektif, efikasi diri, dan komitmen profesional. Antecedent meliputi paparan stresor klinis, dukungan sosial dan organisasi, karakteristik personal, serta pengalaman profesional. Konsekuensi resiliensi mencakup peningkatan kualitas pelayanan, penurunan burnout, peningkatan kesejahteraan psikologis, dan penguatan hubungan terapeutik dengan pasien. Temuan ini memberikan landasan teoretis bagi pengembangan intervensi resiliensi, penyusunan instrumen pengukuran, serta kebijakan peningkatan kapasitas perawat di lingkungan pelayanan kesehatan.

Page 11 of 11 | Total Record : 110