cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 42 Documents
Search results for , issue "vol. 5 no. 4 (2026)" : 42 Documents clear
HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PUSKESMAS SUMBERJAMBE KABUPATEN JEMBER Vike Ayu Permata Putri; Lulut Sasmito
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.13138

Abstract

Anemia in pregnant women is a health issue that can increase the risk of complications for both the mother and the fetus. Data from the Jember Regency Health Office for 2024 show that of the 578 pregnant women who underwent checkups at the Sumberjambe Community Health Center, 246 (42.6%) were anemic. Parity is believed to be associated with the incidence of anemia because repeated pregnancies can deplete a mother’s iron stores. This study aims to analyze the relationship between parity and the incidence of anemia among third-trimester pregnant women at the Sumberjambe Community Health Center in Jember Regency in 2025. The study employed an analytical design with a cross-sectional approach and retrospective data collection via medical records. The study sample consisted of 160 third-trimester pregnant women selected using purposive sampling. Data analysis was performed using the Spearman rank test. The results showed that the majority of respondents were primiparous (40.0%) and did not have anemia (61.9%). The Spearman rank test yielded a p-value of 0.293 (p > 0.05) with a correlation coefficient of 0.084, indicating a very weak and nonsignificant association. It is concluded that there is no association between parity and the incidence of anemia among pregnant women in their third trimester at the Sumberjambe Community Health Center in Jember Regency in 2025. ABSTRAKAnemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu dan janin. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Jember tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 578 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Sumberjambe, sebanyak 246 ibu hamil mengalami anemia (42,6%). Paritas diduga berhubungan dengan kejadian anemia karena kehamilan berulang dapat menurunkan cadangan zat besi ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Sumberjambe Kabupaten Jember tahun 2025. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional dan pengumpulan data secara retrospektif melalui rekam medis. Sampel penelitian sebanyak 160 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan primipara (40,0%) dan tidak mengalami anemia (61,9%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value sebesar 0,293 (p > 0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,084 yang menunjukkan hubungan sangat lemah dan tidak signifikan. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Sumberjambe Kabupaten Jember tahun 2025.  
UJI KOMPARASI TEPUNG KACANG KEDELAI VARIETAS DEGA-1 DAN TEPUNG KACANG TANAH VARIETAS TALAM-1 SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans Chantya Zhafira Rafa; Retno Sasongkowati; Sri Sulami Endah Astuti; Pestariati Pestariati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.13290

Abstract

Candida albicans is an opportunistic fungus causing superficial mycoses commonly found in tropical regions with high humidity, traditionally cultured using Sabouraud Dextrose Agar (SDA) which is relatively expensive. This study aimed to evaluate and compare the growth effectiveness of Candida albicans on alternative media formulated from Dega-1 soybean flour and Talam-1 peanut flour. This experimental laboratory study utilized variations in soybean flour mass (0.4, 0.8, and 1.6 g) and peanut flour mass (0.3, 0.6, and 1.2 g), with fungal growth evaluated via the Total Plate Count (TPC) method and colony morphology observations. Statistical analysis revealed significant differences among mass variations in soybean flour media (p = 0.015) and peanut flour media (p = 0.000). Optimal growth was achieved at 0.8 g for soybean flour (mean 69 × 10¹⁰ CFU/mL) and 1.2 g for peanut flour (mean 52 × 10¹⁰ CFU/mL), with an independent t-test confirming no significant difference between these two optimal formulations (p = 0.056). Macroscopic and microscopic evaluations on both alternative media were fully consistent with the characteristic morphology of Candida albicans. In conclusion, 0.8 g of soybean flour and 1.2 g of peanut flour demonstrate high potential as effective, economical, and viable alternative media to substitute SDA in fungal cultivation. ABSTRAK Candida albicans merupakan jamur oportunistik penyebab infeksi mikosis superfisialis yang umum ditemukan di daerah tropis berkelembapan tinggi dan biasanya dikultur menggunakan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas serta perbedaan pertumbuhan Candida albicans pada media alternatif tepung kacang kedelai varietas Dega-1 dan tepung kacang tanah varietas Talam-1. Penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan variasi massa tepung kedelai (0,4; 0,8; 1,6 g) dan tepung kacang tanah (0,3; 0,6; 1,2 g) dengan pengamatan pertumbuhan melalui metode Total Plate Count (TPC) serta pemeriksaan morfologi koloni. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar variasi massa pada media tepung kedelai (p = 0,015) dan media tepung kacang tanah (p = 0,000). Pertumbuhan optimal diperoleh pada media tepung kedelai massa 0,8 g (rerata 69 × 10¹⁰ CFU/mL) dan media tepung kacang tanah massa 1,2 g (rerata 52 × 10¹⁰ CFU/mL), dengan uji independent t-test menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua formulasi terbaik tersebut (p = 0,056). Pengamatan morfologi makroskopis dan mikroskopis pada kedua media alternatif menunjukkan kesesuaian penuh dengan karakteristik khas Candida albicans. Disimpulkan bahwa tepung kedelai 0,8 g dan tepung kacang tanah 1,2 g berpotensi tinggi sebagai media alternatif yang efektif, ekonomis, dan efisien untuk menggantikan SDA dalam kultur jamur.    
PENGARUH TUNTUTAN PEKERJAAN TERHADAP STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN DI RSUD X Esmasari Rezky Syahdanti; Lita Ariani; Dicky Listin Quarta
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.13525

Abstract

ABSTRACT High job demands represent a major challenge in maintaining healthcare workers' psychological well-being while ensuring the quality of hospital services. Although the relationship between job demands and work-related stress has been widely documented, empirical evidence involving healthcare workers in regional public hospitals remains limited, highlighting the need for more context-specific investigations. This study examined the effect of job demands on work-related stress among healthcare workers at Regional Public Hospital X using a quantitative correlational design. A total of 149 healthcare workers participated in the study through a convenience sampling technique. Data were collected using the Questionnaire sur les Ressources et Contraintes Professionnelles (QRCP) and the Health and Safety Executive Work-Related Stress Scale (HSE-WRSS), and were analyzed using simple linear regression with JASP version 0.96. The findings revealed that job demands had a positive and statistically significant effect on work-related stress, accounting for 17.2% of the variance (R² = 0.172, p < 0.05). These results indicate that job demands explained 17.2% of the variation in work-related stress among healthcare workers, while the remaining 82.8% of the variance was likely attributable to other factors not included in the present research model. The findings suggest that higher job demands are associated with increased levels of work-related stress among healthcare workers and provide empirical evidence that effective management of job demands is a critical component of strategies aimed at enhancing healthcare workers' well-being and strengthening the quality of healthcare services in regional public hospitals. ABSTRAK Tingginya tuntutan pekerjaan menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kesejahteraan psikologis tenaga kesehatan sekaligus mempertahankan mutu pelayanan rumah sakit. Meskipun hubungan antara tuntutan pekerjaan dan stres kerja telah banyak dilaporkan, bukti empiris pada tenaga kesehatan di rumah sakit daerah masih relatif terbatas sehingga konteks tersebut memerlukan kajian yang lebih spesifik. Penelitian ini menganalisis pengaruh tuntutan pekerjaan terhadap stres kerja pada tenaga kesehatan di RSUD X menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 149 tenaga kesehatan dilibatkan sebagai responden melalui teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Questionnaire sur les Ressources et Contraintes Professionnelles (QRCP) dan Health and Safety Executive Work-Related Stress Scale (HSE-WRSS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak JASP versi 0.96. Analisis menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres kerja dengan kontribusi sebesar 17,2% (R² = 0,172; p < 0,05). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa tuntutan pekerjaan mampu menjelaskan 17,2% variasi stres kerja pada tenaga kesehatan, sedangkan 82,8% variasi lainnya diperkirakan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak tercakup dalam model penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan tuntutan pekerjaan diikuti oleh meningkatnya kecenderungan stres kerja pada tenaga kesehatan serta memberikan bukti empiris bahwa pengelolaan tuntutan pekerjaan merupakan komponen penting dalam strategi peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan dan penguatan mutu pelayanan di rumah sakit daerah.
PERAN CONSULTATION LIASON PSYCHIATRY SEBAGAI SUPPORT SYSTEM DALAM MEMBENTUK MEKANISME PERTAHANAN EGO (MPE) PADA PASIEN GIGANTOMACHIA SUSPEK TUMOR MAMMAE BILATERAL Hartono Kosim; I Made Darmayasa; Ida Aju Kusuma Wardani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.13913

Abstract

ABSTRACT Acceptance of a serious medical diagnosis is a complex psychological process that often triggers various emotional responses. Ego defense mechanisms play an important role in helping individuals cope with psychological distress, while family support and the Consultation-Liaison Psychiatry (CLP) approach contribute to strengthening patients' adaptive capacity. This case report aimed to explore the patient's ego defense mechanisms and to describe the role of Consultation-Liaison Psychiatry in facilitating psychological adjustment to a serious medical condition.This study employed a phenomenological case report approach. Data were collected through in-depth clinical interviews, clinical observation, mental status examination, medical record review, and psychological assessment using the Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) and Karnofsky Performance Status. Data were analyzed descriptively to identify ego defense mechanisms, emotional responses, psychological adjustment, and the contribution of family support throughout the treatment process.The findings demonstrated that the patient predominantly exhibited mature ego defense mechanisms, particularly anticipation, sublimation, and humor, which facilitated adaptive psychological adjustment despite diagnostic uncertainty. Family support as a support system, together with Consultation-Liaison Psychiatry interventions through therapeutic communication, psychoeducation, and supportive psychotherapy, contributed to maintaining psychological stability and preventing the development of maladaptive defense mechanisms.In conclusion, mature ego defense mechanisms, supported by family involvement and Consultation-Liaison Psychiatry interventions, play an important role in improving patients' acceptance of diagnosis and psychological adaptation to serious illness. These findings highlight the importance of integrating a biopsychosocial approach into the management of patients with severe medical conditions. ABSTRAK Penerimaan diagnosis penyakit berat merupakan proses psikologis yang kompleks dan sering kali memunculkan berbagai respons emosional. Mekanisme Pertahanan Ego (MPE) berperan dalam membantu individu menghadapi tekanan psikologis, sedangkan dukungan keluarga dan pendekatan Consultation-Liaison Psychiatry (CLP) berkontribusi dalam memperkuat kemampuan adaptasi pasien terhadap kondisi penyakit. Laporan kasus ini bertujuan mengeksplorasi mekanisme pertahanan ego pada pasien dengan kondisi medis berat serta mendeskripsikan peran Consultation-Liaison Psychiatry dalam mendukung proses penyesuaian psikologis pasien.Penelitian ini merupakan laporan kasus dengan pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui wawancara klinis mendalam, observasi klinis, pemeriksaan status mental, telaah rekam medis, serta penilaian menggunakan Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) dan Karnofsky Performance Status. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi mekanisme pertahanan ego, respons emosional, proses psychological adjustment, serta peran dukungan keluarga selama proses perawatan.Hasil menunjukkan bahwa pasien mampu mempertahankan mekanisme pertahanan ego yang matur, terutama antisipasi, sublimasi, dan humor, sehingga tetap mampu beradaptasi secara positif terhadap ketidakpastian diagnosis. Dukungan keluarga sebagai support system serta intervensi Consultation-Liaison Psychiatry melalui komunikasi terapeutik, psikoedukasi, dan psikoterapi suportif berkontribusi dalam mempertahankan stabilitas psikologis pasien serta mencegah berkembangnya mekanisme pertahanan yang maladaptif. Disimpulkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang matur, didukung oleh keluarga dan pendampingan Consultation-Liaison Psychiatry, berperan penting dalam meningkatkan penerimaan diagnosis dan kemampuan adaptasi pasien terhadap penyakit berat. Temuan ini menunjukkan pentingnya integrasi pendekatan biopsikososial dalam pelayanan pasien dengan penyakit serius.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK REMAJA PUTRI KELAS VII DENGAN KEJADIAN ANEMIA Fathiyati Fathiyati; Filda Fairuza; Dwinda Sari; Siti Firanti Putri Cahyani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14077

Abstract

ABSTRACT Anemia among adolescent female students is not solely associated with increased iron requirements during growth but also with nutritional status, dietary habits, and health-related knowledge that shape daily behaviors. This study focuses on the relationship between these three aspects and the occurrence of anemia among seventh-grade female students at MTsN 2 Serang City in 2026. A total of 63 students were included through total sampling in a quantitative study employing a cross-sectional design. Anemia status was determined through hemoglobin measurement using the Easy Touch GCHb, while nutritional status was assessed based on BMI-for-Age (BMI/A), and information on dietary patterns and anemia knowledge was collected using questionnaires that had undergone validity and reliability testing. The data were analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test. Among all respondents, 31 students (49.2%) were identified as anemic. All three characteristics examined were significantly associated with anemia, with dietary patterns (OR=50.27) and anemia knowledge (OR=449.50) demonstrating stronger associations than nutritional status (OR=5.32). These findings support an integrated prevention strategy combining improved nutritional status, healthier dietary habits, anemia education, optimization of Iron Supplementation Tablets, and strengthened school-based health programs through collaboration between schools and health services. ABSTRAK Anemia pada siswi remaja tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan zat besi yang meningkat selama pertumbuhan, tetapi juga dengan kondisi gizi, kebiasaan konsumsi, dan pemahaman kesehatan yang membentuk perilaku sehari-hari. Penelitian ini memusatkan perhatian pada keterkaitan ketiga aspek tersebut dengan kejadian anemia pada siswi kelas VII MTsN 2 Kota Serang Tahun 2026. Sebanyak 63 siswi dilibatkan melalui total sampling dalam penelitian kuantitatif berdesain cross-sectional. Kondisi anemia ditentukan melalui pemeriksaan hemoglobin menggunakan Easy Touch GCHb, sedangkan status gizi diperoleh dari IMT/U dan informasi pola makan serta pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah memenuhi pengujian validitas dan reliabilitas sebelum digunakan. Data kemudian dibaca melalui analisis univariat dan uji Chi-Square. Dari seluruh responden, 31 siswi (49,2%) teridentifikasi mengalami anemia. Ketiga karakteristik yang dikaji memiliki hubungan bermakna dengan kejadian tersebut, dengan pola makan (OR=50,27) dan pengetahuan anemia (OR=449,50) memperlihatkan asosiasi yang lebih kuat daripada status gizi (OR=5,32). Gambaran tersebut mengarahkan pencegahan pada strategi terpadu yang menggabungkan perbaikan status gizi, pembiasaan konsumsi pangan sehat, edukasi anemia, optimalisasi Tablet Tambah Darah, dan penguatan program kesehatan berbasis sekolah secara berkelanjutan, dengan melibatkan sekolah dan layanan kesehatan dalam pelaksanaannya.
PENGARUH WAKTU PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH MENGGUNAKAN TABUNG PLAIN DAN TABUNG SERUM SEPARATOR Qonita Ardiyanti Maysarah; Anik Handayati; Museyaroh Museyaroh; Evy Diah Woelansari
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14080

Abstract

Blood glucose testing is one of the most important laboratory examinations for the diagnosis, monitoring, and evaluation of diabetes mellitus management. The accuracy of test results is influenced by various factors, particularly those occurring during the pre-analytical phase, including the type of blood collection tube used and the delay between sample collection and analysis. Delayed examination may reduce blood glucose concentration due to ongoing glycolysis within blood cells, thereby affecting the validity of laboratory results. This study aimed to analyze the effect of delayed examination time on blood glucose levels using plain tubes and Serum Separator Tubes (SST). An experimental study with a Two-Way Repeated Measures design was conducted. Serum samples obtained from seven respondents were collected into plain tubes and SST tubes and analyzed at 0, 5, and 10 hours using a Biobase Automatic Chemistry Analyzer. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and Two-Way Repeated Measures ANOVA. The results showed that the mean blood glucose level in plain tubes decreased from 75.57 mg/dL at 0 hours to 64.29 mg/dL at 5 hours and 65.43 mg/dL at 10 hours. In contrast, blood glucose levels in SST tubes remained relatively stable at 75.71 mg/dL, 76.86 mg/dL, and 78.14 mg/dL at 0, 5, and 10 hours, respectively. The data were normally distributed (p > 0.05). Two-Way Repeated Measures ANOVA demonstrated that examination time, tube type, and their interaction had a statistically significant effect on blood glucose levels (p < 0.05). These findings indicate that delayed examination affects blood glucose levels in plain tubes, whereas SST tubes are able to maintain blood glucose stability for up to 10 hours after sample collection. ABSTRAK Pemeriksaan kadar glukosa darah merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang berperan penting dalam menegakkan diagnosis, memantau perkembangan penyakit, serta mengevaluasi keberhasilan terapi pada pasien diabetes mellitus. Keakuratan hasil pemeriksaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, khususnya pada tahap pra-analitik, seperti jenis tabung yang digunakan dan lamanya waktu antara pengambilan sampel dengan proses pemeriksaan. Penundaan pemeriksaan dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa akibat proses glikolisis yang masih berlangsung di dalam sel darah sehingga memengaruhi validitas hasil pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penundaan waktu pemeriksaan terhadap kadar glukosa darah menggunakan tabung plain dan Serum Separator Tube (SST). Penelitian menggunakan desain eksperimen dengan pendekatan Two Way Repeated Measure. Sampel berupa serum dari tujuh responden yang dimasukkan ke dalam tabung plain dan SST, kemudian dianalisis pada waktu 0 jam, 5 jam, dan 10 jam menggunakan Biobase Automatic Chemistry Analyzer. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Two Way Repeated Measure ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar glukosa pada tabung plain mengalami penurunan dari 75,57 mg/dL pada 0 jam menjadi 64,29 mg/dL pada 5 jam dan 65,43 mg/dL pada 10 jam. Sebaliknya, kadar glukosa pada tabung SST tetap relatif stabil, yaitu 75,71 mg/dL, 76,86 mg/dL, dan 78,14 mg/dL pada masing-masing waktu pengamatan. Data penelitian berdistribusi normal (p>0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu pemeriksaan, jenis tabung, serta interaksi keduanya memberikan pengaruh yang bermakna terhadap kadar glukosa darah (p<0,05). Dengan demikian, penundaan pemeriksaan menyebabkan perubahan kadar glukosa pada tabung plain, sedangkan penggunaan tabung SST mampu mempertahankan stabilitas kadar glukosa darah hingga 10 jam setelah pengambilan sampel.
EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) TERHADAP WAKTU KEMATIAN CACING Ascaris suum SECARA IN VITRO Firashinta Yudi Ardityasari; Retno Sasongkowati; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14111

Abstract

ABSTRACT Worm infections caused by ascariasis remain a public health problem in Indonesia due to their high prevalence and their impact on nutritional status and growth. The use of synthetic anthelmintics as the primary treatment has limitations in the form of side effects and the potential for resistance, making natural alternatives necessary. Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) is known to contain flavonoids, saponins and tannins that have potential as anthelmintics. This was an experimental study with six treatment groups: a negative control (distilled water), a positive control (0.25% pyrantel pamoate), and secang wood ethanol extracts at concentrations of 4%, 8%, 12%, and 15%. The study was conducted from October 2025 –May 2026 at the Parasitology Laboratory of the Department of Medical Laboratory Technology, Poltekkes Kemenkes Surabaya. The ethanol extract of secang wood was prepared at the Faculty of Veterinary Medicine, Airlangga University, whilst the Ascaris suum worms were obtained from the Surabaya Slaughterhouse. The results of the study showed that all concentrations of the ethanol extract of secang wood were capable of causing the death of all worms by the 10th hour. In the positive control, all worms died by the 2nd hour, whilst in the negative control, no worm mortality was observed. Based on the results of the study, it can be concluded that ethanol extract of secang wood exhibits anthelmintic activity against Ascaris suum at all test concentrations. The 12% concentration was the lowest effective concentration capable of causing the death of 50% of the worm population (LC50) with a time to 50% mortality (LT50) of 6 hours, although its efficacy was still lower than that of 0.25% pyrantel pamoate. ABSTRAK Infeksi kecacingan akibat askariasis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya tinggi serta berdampak pada status gizi dan pertumbuhan. Penggunaan antelmintik sintetik sebagai terapi utama memiliki keterbatasan berupa efek samping dan potensi resistensi sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) diketahui mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antelmintik. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan enam kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (pirantel pamoat 0,25%), serta ekstrak etanol kayu secang konsentrasi 4%, 8%, 12%, dan 15% yang dilaksanakan pada Oktober 2025–Mei 2026 di Laboratorium Parasitologi Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya. Ekstrak etanol kayu secang dibuat di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, sedangkan cacing Ascaris suum diperoleh dari Rumah Pemotongan Hewan Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak etanol kayu secang mampu menyebabkan kematian seluruh cacing pada jam ke-10. Pada kontrol positif, seluruh cacing mati sejak jam ke-2, sedangkan pada kontrol negatif tidak ditemukan kematian cacing. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kayu secang memiliki aktivitas antelmintik terhadap Ascaris suum pada seluruh konsentrasi uji. Konsentrasi 12% merupakan konsentrasi efektif terendah yang mampu menyebabkan kematian 50% populasi cacing (LC50) dengan waktu kematian 50% populasi (LT50) selama 6 jam, meskipun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan pirantel pamoat 0,25%.
DIAGNOSTIC ACCURACY OF NASAL CYTOLOGY IN DIFFERENTIATING ALLERGIC AND NON-ALLERGIC RHINITIS: A SYSTEMATIC REVIEW I Made Dwi Yoga Berata; Made Angga Priyana; Ni Wayan Ayu Maha Dewi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14112

Abstract

ABSTRACT Allergic Rhinitis and Non-Allergic Rhinitis have similar clinical symptoms but require different therapeutic approaches. Accurate diagnosis often relies on the Skin Prick Test or specific IgE, which are not always available. Nasal cytology is a simple, non-invasive method with potential as an alternative diagnostic tool. This review aimed to evaluate the diagnostic accuracy of nasal cytology in distinguishing these conditions and the potential relationship between nasal smear eosinophils and allergic rhinitis symptom severity. A systematic review was conducted according to PRISMA 2020. Literature searches were conducted in PubMed and Google Scholar for 2020–2025. Inclusion criteria based on PICOSTD included diagnostic and observational studies involving patients with rhinitis symptoms, using nasal cytology as the index test and standard methods as comparators. Study quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tools, and data were analyzed qualitatively. Four studies met the inclusion criteria. Nasal cytology showed sensitivity ranging from 76.66% to 100% and specificity from 49.6% to 87.77%. Eosinophilia was consistently associated with allergic rhinitis, whereas neutrophilic patterns were more dominant in non-allergic rhinitis. However, the strength of the relationship between nasal smear eosinophil levels and symptom severity could not be quantitatively determined because correlation coefficients and comparable severity measures were not consistently reported. Heterogeneity in examination methods, diagnostic standards, and confounding factors contributed to variations in diagnostic accuracy. Nasal cytology is a simple, cost-effective, and semi-invasive tool that is best used as an adjunctive or screening method rather than a standalone replacement for SPT. ABSTRAK Rinitis alergi dan rinitis non-alergi memiliki gejala klinis serupa, tetapi memerlukan pendekatan terapeutik yang berbeda. Diagnosis yang akurat sering bergantung pada Skin Prick Test atau IgE spesifik yang tidak selalu tersedia. Sitologi hidung merupakan metode sederhana dan non-invasif yang berpotensi menjadi alat diagnostik alternatif. Tinjauan ini bertujuan mengevaluasi akurasi diagnostik sitologi hidung dalam membedakan kedua kondisi tersebut serta potensi hubungan antara eosinofil nasal smear dan derajat keparahan gejala rinitis alergi. Tinjauan sistematis dilakukan sesuai PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan di PubMed dan Google Scholar untuk periode 2020–2025. Kriteria inklusi berdasarkan PICOSTD mencakup studi diagnostik dan observasional pada pasien dengan gejala rinitis, menggunakan sitologi hidung sebagai tes indeks dan metode standar sebagai pembanding. Kualitas studi dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Tools dan data dianalisis secara kualitatif. Sebanyak empat studi memenuhi kriteria inklusi. Sitologi hidung menunjukkan sensitivitas 76,66%–100% dan spesifisitas 49,6%–87,77%. Eosinofilia secara konsisten berkaitan dengan rinitis alergi, sedangkan pola neutrofilik lebih dominan pada rinitis non-alergi. Namun, kekuatan hubungan antara kadar eosinofil nasal smear dan derajat keparahan gejala belum dapat ditentukan secara kuantitatif karena koefisien korelasi dan ukuran keparahan yang sebanding tidak dilaporkan secara konsisten. Heterogenitas metode pemeriksaan, standar diagnostik, dan faktor pengganggu berkontribusi terhadap variasi akurasi diagnostik. Sitologi hidung merupakan metode sederhana, hemat biaya, dan semi-invasif yang lebih tepat digunakan sebagai pemeriksaan pendukung atau skrining, bukan sebagai pengganti tunggal SPT.
PENGARUH WAKTU PEMISAHAN PLASMA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENGGUNAKAN TABUNG NAF DAN TABUNG EDTA Hanun Zhalma; Anik Handayati; Sri Sulami Endah Astuti; Lully Hanni Endarini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14120

Abstract

The accuracy of blood glucose results is influenced by various factors, one of the most important of which is the pre-analytical stage. Blood glucose levels can decrease if plasma separation is delayed, because blood cells continue to carry out the glycolysis process. The method used in this study was an experiment with a posttest-only control group design, employing purposive sampling that involved 5 respondents and 4 treatment conditions for each type of tube based on Federer’s formula. The sample consisted of sixth-semester students in the D3 medical laboratory technology programme who met the inclusion and exclusion criteria. Blood glucose levels were measured using the GOD-PAP method with a BIOBASE chemistry analyser. The results of the analysis showed that blood glucose levels in both types of tubes decreased as the plasma separation delay time increased. For NaF plasma, the One-Way ANOVA test yielded a p-value > 0.05, indicating that variations in the plasma separation delay time had no significant effect. In contrast, the Kruskal-Wallis test for EDTA plasma yielded a p-value < 0.05, which indicated a significant difference in each delay time variation. Based on these results, NaF plasma was better able to maintain stable blood glucose levels during the plasma separation delay compared to EDTA plasma. This is caused by the sodium fluoride content in the NaF tube, which acts as an antiglycolytic agent, so it is able to inhibit the glycolysis process and maintain stable glucose levels in the blood. ABSTRAK Keakuratan hasil glukosa darah dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yang paling penting pada tahap pra-analitik. Kadar glukosa darah dapat mengalami penurunan apabila pemisahan plasma ditunda, karena sel-sel darah tetap melakukan proses glikolisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain Posttest Only Control Group Design menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan 5 responden dan 4 perlakuan setiap jenis tabung berdasarkan rumus Federer. Pemilihan sampel terhadap mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Laboratorium Medis semester 6 sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan menggunakan metode GOD-PAP dengan BIOBASE Chemistry Analyzer. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar glukosa darah pada kedua jenis tabung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penundaan pemisahan plasma. Pada plasma NaF hasil uji One Way ANOVA diperoleh nilai p>0.05, sehingga variasi waktu penundaan pemisahan plasma tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Sebaliknya, plasma EDTA uji statistik Kruskal Wallis menunjukkan nilai p<0.05, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan pada setiap variasi waktu penundaan. Berdasarkan hasil tersebut, plasma NaF lebih mampu mempertahankan stabilitas kadar glukosa darah selama penundaan pemisahan plasma dibandingkan plasma EDTA. Hal ini disebabkan oleh kandungan natrium fluorida pada tabung NaF yang berperan sebagai agen antiglikolitik, sehingga mampu menghambat proses glikolisis dan menjaga kestabilan kadar glukosa dalam darah.
KORELASI HASIL UJI WIDAL DENGAN RAPID TEST IgG DAN IgM PADA PASIEN SUSPEK DEMAM TIFOID Fazira Azmi Haq; Evy Diah Woelansari; Christ Kartika Rahayuningsih; Wisnu Istanto
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14121

Abstract

Typhoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella enterica serovar Typhi and requires laboratory examinations to support diagnosis. The Widal test and IgG/IgM rapid test are serological examinations that are still widely used in healthcare facilities, but they have different test characteristics. This study aimed to analyze the correlation between Widal test results and IgG and IgM rapid test results in patients with suspected typhoid fever at Dr. H. Moh. Anwar Regional General Hospital, Sumenep. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach and purposive sampling technique. The study was conducted from February 2 to 28, 2026, involving 35 patients with suspected typhoid fever. The examinations included the slide agglutination Widal test and immunochromatographic IgG/IgM rapid test. Data were analyzed using Spearman's correlation test with a significance level of p < 0.05. The results showed a significant correlation between the Widal test and the IgG rapid test, with a correlation coefficient of r = 0.667 and p < 0.001, indicating a strong positive correlation. A significant correlation was also found between the Widal test and the IgM rapid test, with r = 0.861 and p < 0.001, indicating a very strong positive correlation. In conclusion, there was a significant correlation between Widal test results and both IgG and IgM rapid test results in patients with suspected typhoid fever. These findings indicate an association between the results of the two serological examinations; however, their interpretation should consider the patient's clinical condition and the stage of disease progression. ABSTRAK Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Typhi dan memerlukan pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis. Uji Widal dan rapid test IgG/IgM merupakan pemeriksaan serologis yang masih digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi memiliki karakteristik pemeriksaan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi hasil uji Widal dengan rapid test IgG dan IgM pada pasien suspek demam tifoid di RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada 2–28 Februari 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 35 pasien suspek demam tifoid. Pemeriksaan dilakukan menggunakan uji Widal metode slide aglutinasi dan rapid test IgG/IgM metode imunokromatografi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi signifikan antara hasil uji Widal dengan rapid test IgG dengan koefisien korelasi r = 0,667 dan p < 0,001 yang menunjukkan hubungan kuat. Korelasi antara hasil uji Widal dengan rapid test IgM juga signifikan dengan r = 0,861 dan p < 0,001 yang menunjukkan hubungan sangat kuat. Dengan demikian, terdapat korelasi signifikan antara hasil uji Widal dengan rapid test IgG dan IgM pada pasien suspek demam tifoid. Hasil tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara hasil kedua pemeriksaan serologis, tetapi interpretasinya tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis dan fase perjalanan penyakit.