cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 232 Documents
PERBANDINGAN KADAR HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN (hs-CRP) METODE Fluoroescence Immunoassay (FIA) ANTARA SAMPEL SERUM DAN PLASMA EDTA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Kanayu Aulia Masardi; Suhariyadi Suhariyadi; Wisnu Istanto; Evy Diah Woelansari
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.13729

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder associated with increased inflammatory activity and contributes to the development of cardiovascular complications. High-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) serves as an inflammatory marker to evaluate low-grade systemic inflammation. Accurate specimen selection is crucial for analytical validity. This study aims to compare hs-CRP levels measured by Fluorescence Immunoassay (FIA) between serum and EDTA plasma specimens in patients with diabetes mellitus. An observational comparative study with a cross-sectional design was conducted using 20 paired serum and EDTA plasma samples from diabetes mellitus patients at Haji General Hospital, East Java Province, in March 2026. hs-CRP levels were measured using the FIA method. The mean hs-CRP concentration in serum was  ( ) and in EDTA plasma was  ( ). The Wilcoxon Signed Rank Test yielded a  of 0.463 ( ), indicating no statistically significant difference between serum and EDTA plasma hs-CRP levels. In conclusion, serum and EDTA plasma demonstrate analytical equivalence for hs-CRP measurement using the FIA method, allowing EDTA plasma to serve as a valid alternative specimen in routine laboratory practice. ABSTRAK Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme kronis yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas inflamasi dan berkontribusi terhadap perkembangan komplikasi kardiovaskular. High-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) digunakan sebagai penanda inflamasi untuk menganalisis proses peradangan kronis tingkat rendah (low-grade inflammation). Ketepatan pemilihan spesimen laboratorium sangat memengaruhi validitas analitik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar hs-CRP metode Fluorescence Immunoassay (FIA) antara spesimen serum dan plasma EDTA pada penderita diabetes melitus. Penelitian observasional komparatif dengan desain cross-sectional ini dilakukan terhadap 20 pasang spesimen serum dan plasma EDTA dari pasien diabetes melitus di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur pada Maret 2026. Kadar hs-CRP diukur menggunakan metode FIA. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar hs-CRP serum sebesar  ( ) dan plasma EDTA sebesar  ( ). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan nilai  ( ), yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara kadar hs-CRP pada spesimen serum dan plasma EDTA. Kesimpulannya, serum dan plasma EDTA memiliki kesepadanan analitik dalam pemeriksaan hs-CRP metode FIA, sehingga plasma EDTA dapat digunakan sebagai spesimen alternatif yang valid dalam kondisi darurat laboratorium.  
POLA MAKAN DAN KENAIKAN BERAT BADAN GESTASIONAL BERLEBIH PADA KEHAMILAN ATERM DI PONOROGO Ardina Awalun Nikma; Hayun Manudyaning; Nur Hidayati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14741

Abstract

Gestational weight gain exceeding recommended clinical ranges can occur in pregnant women with normal prepregnancy body mass index. This descriptive case report evaluates dietary patterns, excessive gestational weight gain, comprehensive midwifery care, and perinatal outcomes in a term pregnancy in Ponorogo. Clinical data were collected from a 29-year-old multigravida receiving Continuity of Care services at Berkah Prima Medika Clinic. Maternal meal frequency increased from three to five times daily accompanied by routine milk consumption, while portion sizes and energy intake were not measured. Total weight increased from 50 kg to 72 kg at 39 weeks of gestation, showing a 22 kg gain that exceeded the 11.5–16 kg guideline. Midwifery interventions focused on balanced nutritional education, portion regulation, restriction of energy-dense foods, and monitored light physical activity. Spontaneous term delivery occurred at 40 weeks, resulting in a male infant weighing 3,900 g with Apgar scores of 9/10. Early nutritional assessment and serial maternal weight tracking are critical, although direct causality cannot be confirmed from a single clinical report. ABSTRAK Pertambahan berat badan gestasional (gestational weight gain) yang melebihi rentang klinis yang direkomendasikan dapat terjadi pada wanita hamil dengan indeks massa tubuh pranikah/prakehamilan (prepregnancy body mass index) normal. Laporan kasus deskriptif (descriptive case report) ini mengevaluasi pola makan, pertambahan berat badan gestasional berlebih, asuhan kebidanan komprehensif, dan luaran perinatal (perinatal outcomes) pada kehamilan aterm di Ponorogo. Data klinis dikumpulkan dari seorang multigravida berusia 29 tahun yang menerima layanan Continuity of Care di Klinik Berkah Prima Medika. Frekuensi makan ibu meningkat dari tiga menjadi lima kali sehari disertai konsumsi susu secara rutin, sementara ukuran porsi dan asupan energi tidak diukur. Berat badan total meningkat dari 50 kg menjadi 72 kg pada usia kehamilan 39 minggu, menunjukkan kenaikan sebesar 22 kg yang melebihi pedoman 11,5–16 kg. Intervensi kebidanan berfokus pada edukasi nutrisi seimbang, pengaturan porsi, pembatasan makanan padat energi (energy-dense foods), dan pemantauan aktivitas fisik ringan. Persalinan aterm spontan terjadi pada usia 40 minggu, melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3.900 g dan skor Apgar (Apgar scores) 9/10. Penilaian nutrisi dini dan pelacakan berat badan ibu secara serial sangat penting dilakukan, meskipun kausalitas langsung tidak dapat dikonfirmasi dari laporan klinis tunggal.