cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 232 Documents
UJI EFEKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK KAYU SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR TRICHOPHYTON RUBRUM Rosadatul Hikmah Ramadhani; Retno Sasongkowati; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14386

Abstract

Dermatophyte infection is one of the most common skin health problems in tropical countries such as Indonesia, with Trichophyton rubrum being the primary causative agent of dermatophytosis affecting skin tissues. Continuous use of synthetic antifungal drugs may cause adverse effects and increase the risk of antifungal resistance, highlighting the need for natural antifungal alternatives. Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) contains bioactive compounds, including flavonoids, brazilin, alkaloids, tannins, and terpenoids, which have potential antifungal properties. This study aimed to determine the effectiveness of sappan wood extract in inhibiting the growth of Trichophyton rubrum. This in vitro experimental study employed the disk diffusion method on Sabouraud Dextrose Agar (SDA), which was selected because it is a simple and widely used preliminary screening method for evaluating antifungal activity based on the formation of inhibition zones around the test disks. The study was conducted at the Parasitology Laboratory, Department of Medical Laboratory Technology, Health Polytechnic of the Ministry of Health Surabaya, in February 2026. Ethanolic extract of sappan wood was obtained through maceration using 96% ethanol and tested at concentrations of 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%, with 2% ketoconazole as the positive control and sterile distilled water as the negative control, each performed in four replicates. The results showed that all concentrations of sappan wood extract failed to produce inhibition zones against Trichophyton rubrum, whereas the positive control produced a mean inhibition zone diameter of 20 mm and the negative control showed no inhibition zone. It can be concluded that sappan wood extract at concentrations of 20%–100% was not effective in inhibiting the growth of Trichophyton rubrum using the disk diffusion method. ABSTRAK Infeksi jamur dermatofita merupakan salah satu masalah kesehatan kulit yang banyak dijumpai di negara beriklim tropis seperti Indonesia, dengan Trichophyton rubrum sebagai penyebab dermatofitosis yang paling sering menyerang jaringan kulit. Penggunaan obat antijamur sintetik secara terus-menerus berisiko menimbulkan efek samping dan resistensi, sehingga diperlukan alternatif antijamur berbahan alami. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, brazilin, alkaloid, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak kayu secang dalam menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Penelitian bersifat eksperimental in vitro menggunakan metode difusi cakram pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA), yang dipilih karena merupakan metode sederhana dan umum digunakan sebagai uji awal (screening) untuk mengevaluasi aktivitas antijamur berdasarkan pembentukan zona hambat di sekitar cakram uji. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya pada Februari 2026. Ekstrak etanol kayu secang diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan diuji pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%, dengan ketokonazol 2% sebagai kontrol positif dan akuades steril sebagai kontrol negatif, masing-masing diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak kayu secang tidak menghasilkan zona hambat terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum, sedangkan kontrol positif menghasilkan zona hambat dengan diameter rata-rata 20 mm dan kontrol negatif tidak menunjukkan zona hambat. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa ekstrak kayu secang pada konsentrasi 20%–100% tidak efektif menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi cakram.
PENGGUNAAN PROYEKSI LPO PADA PEMERIKSAAN BNO IVP DENGAN KLINIS HIDRONEFROSIS DI INSTALASI RADIOLOGI RS PKU MUHAMMADIYAH WONOSOBO Alya Ardini; Sofie Nornalita Dewi; Anshor Nugroho
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14419

Abstract

ABSTRACT BNO-Intravenous Pyelography (BNO-IVP) in hydronephrosis requires appropriate projection and examination timing to obtain optimal diagnostic information. Procedural modifications may be necessary based on radiographic findings and anatomical conditions. This study aimed to describe the BNO-IVP procedure in hydronephrosis cases and analyze the considerations for using the Left Posterior Oblique (LPO) projection and extending examination time. This descriptive qualitative study used an observational case study approach at the Radiology Department of RS PKU Muhammadiyah Wonosobo. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving two patients with hydronephrosis and four informants consisting of three radiographers and one radiologist. Data were analyzed descriptively by comparing observations, interviews, documentation, and relevant theory. The BNO-IVP procedure included plain abdominal radiography, contrast administration, sequential radiographs, and post-micturition imaging. In one patient, LPO projection was performed at 15 minutes due to suspected double collecting system. The projection helped reduce ureteral superimposition and improve visualization of the urinary tract anatomy. In the other patient, examination was extended to 120 minutes due to delayed contrast excretion. These findings indicate that projection and examination-time modifications were adjusted based on radiographic findings and patient conditions to obtain more optimal diagnostic information. LPO may be used as an additional projection in suspected double collecting system or specific anatomical abnormalities, while extending the examination time may be performed in cases of delayed contrast excretion. ABSTRAK Pemeriksaan BNO-Intravenous Pyelography (BNO-IVP) pada kasus hidronefrosis memerlukan pemilihan proyeksi dan waktu pemeriksaan yang tepat untuk memperoleh informasi diagnostik yang optimal. Modifikasi prosedur dapat diperlukan berdasarkan temuan radiograf dan kondisi anatomi pasien. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pemeriksaan BNO-IVP pada kasus hidronefrosis serta menganalisis pertimbangan penggunaan proyeksi Left Posterior Oblique (LPO) dan penambahan waktu pemeriksaan. Penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus observasional dilakukan di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Wonosobo. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi terhadap dua pasien hidronefrosis dengan empat informan yang terdiri atas tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi. Data dianalisis secara deskriptif melalui perbandingan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan prosedur BNO-IVP meliputi foto polos abdomen, pemberian media kontras, pengambilan radiograf secara bertahap, dan pemeriksaan post-miksi. Pada satu pasien, proyeksi LPO dilakukan pada menit ke-15 karena dugaan double collecting system. Proyeksi tersebut mengurangi superposisi ureter dan memperjelas anatomi sistem urinaria. Pada pasien lainnya, pemeriksaan diperpanjang hingga menit ke-120 karena keterlambatan ekskresi media kontras. Modifikasi proyeksi dan waktu pemeriksaan dapat disesuaikan dengan temuan radiograf dan kebutuhan diagnostik pasien. Proyeksi LPO dapat dipertimbangkan sebagai proyeksi tambahan pada dugaan double collecting system atau kelainan anatomi tertentu untuk meningkatkan informasi diagnostik.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN OESOPHAGUS MAAG DUODENUM (OMD) PADA PASIEN PEDIATRIK DENGAN KLINIS HYPERTROFI PYLORIC STENOSIS (HPS) DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KOTA SALATIGA Eka Putri Sukma Ayu; Fisnandya Meita Astari; Widya Mufida
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14420

Abstract

ABSTRACT Oesophagus Maag Duodenum (OMD) examination in pediatric patients with Hypertrophic Pyloric Stenosis (HPS) requires adjustment because infants have limitations in swallowing contrast media and maintaining position. This study aimed to determine the OMD examination procedure, use of water-soluble iodine contrast mixed with milk, and reasons for focusing examination on the stomach and duodenum. This study used a case study. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving four informants: three radiographers and one radiologist at Salatiga City Regional Hospital from October 2025 to April 2026. Data were analyzed through reduction, presentation, and conclusion drawing by comparing findings with theory. The study identified OMD procedure modifications adapted to the infant’s condition and clinical HPS considerations. The examination used conventional radiography without fluoroscopy, iodine contrast mixed with milk at a 1:1 ratio and administered using a baby bottle, with plain AP, post-contrast AP, right lateral, and LPO projections. Examination focused on the stomach and duodenum to evaluate the pylorus. These modifications produced adequate visualization and information. Modified OMD procedures can be an alternative for patients with HPS while considering condition, contrast media safety, and diagnostic needs. ABSTRAK Pemeriksaan Oesophagus Maag Duodenum (OMD) pada pasien pediatrik dengan klinis Hypertrophic Pyloric Stenosis (HPS) memerlukan penyesuaian karena keterbatasan bayi dalam menelan media kontras dan mempertahankan posisi. Penelitian bertujuan mengetahui prosedur pemeriksaan OMD, penggunaan media kontras iodium larut air dicampur susu, serta alasan pemeriksaan difokuskan pada lambung dan duodenum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap empat informan, terdiri atas tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi di RSUD Kota Salatiga pada Oktober 2025–April 2026. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan membandingkan temuan dengan teori. Penelitian menemukan modifikasi prosedur OMD yang disesuaikan dengan kondisi bayi dan pertimbangan klinis HPS. Pemeriksaan menggunakan radiografi konvensional tanpa fluoroskopi, media kontras iodium larut air dicampur susu dengan perbandingan 1:1 dan diberikan melalui botol susu bayi, serta proyeksi AP polos, AP post kontras, Right Lateral, dan LPO. Pemeriksaan difokuskan pada lambung dan duodenum untuk mengevaluasi pylorus. Modifikasi tersebut menghasilkan visualisasi anatomi dan informasi diagnostik memadai pada kasus ini. Modifikasi prosedur OMD dapat menjadi alternatif pemeriksaan pada pasien HPS dengan mempertimbangkan kondisi pasien, keamanan media kontras, dan kebutuhan diagnostik klinis.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA POSTO SAUDE GOULOLO, TIMOR-LESTE TAHUN 2025 Domingos Camilo; Frida Lina Tarigan; Rinawati Sembiring
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14421

Abstract

ABSTRACT Pulmonary tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Timor-Leste, particularly in areas with low socioeconomic conditions and limited access to healthcare services. This study aimed to analyze the relationship between socioeconomic factors, healthcare access, nutritional status, and environmental conditions with the incidence of pulmonary TB in the working area of Posto Saude Goulolo, Kailaku District, Bobonaro Regency. This study used a cross-sectional design involving 68 respondents. Data were collected through interviews and observations, then analyzed using the chi-square test for bivariate analysis and multiple logistic regression for multivariate analysis. The results showed that the prevalence of pulmonary TB was 54.4%. Bivariate analysis revealed significant relationships between occupation (p=0.019), knowledge level (p=0.008), attitude (p=0.038), and environmental conditions (p=0.035) with pulmonary TB incidence, while family income, distance to healthcare facilities, and nutritional status showed no significant association. Multivariate analysis indicated that knowledge level was the most dominant factor associated with pulmonary TB incidence and acted as a protective factor (p=0.017; OR=0.214), with the model explaining 22.1% of the variation in pulmonary TB incidence. This study concludes that improving community knowledge and health literacy regarding TB prevention should be prioritized as an intervention strategy to reduce pulmonary TB incidence in the working area of Posto Saude Goulolo. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Timor-Leste, khususnya pada wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rendah dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor sosial ekonomi, akses pelayanan kesehatan, status gizi, dan kondisi lingkungan dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Posto Saude Goulolo, Kecamatan Kailaku, Kabupaten Bobonaro. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 68 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square pada analisis bivariat dan regresi logistik berganda pada analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian TB paru sebesar 54,4%. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan (p=0,019), tingkat pengetahuan (p=0,008), sikap (p=0,038), dan kondisi lingkungan (p=0,035) dengan kejadian TB paru, sedangkan pendapatan keluarga, jarak ke fasilitas kesehatan, dan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian TB paru dan berperan sebagai faktor protektif (p=0,017; OR=0,214), dengan kemampuan model menjelaskan 22,1% variasi kejadian TB paru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan dan literasi kesehatan masyarakat mengenai pencegahan TB perlu menjadi prioritas intervensi untuk menurunkan kejadian TB paru di wilayah kerja Posto Saude Goulolo.
ANALISIS TARIKAN PERJALANAN KE RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) PROF. DR. ALOEI SABOE GORONTALO Sultan Ma’ruf Syah; Yuliyanti Kadir; Frice L. Desei
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14474

Abstract

This study aims to identify the characteristics of respondents and trips, analyze the factors that influence the pull of travel, and develop a mathematical model of the pull of travel to Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional General Hospital, Gorontalo City. This descriptive quantitative study was conducted from May to July 2026 using an accidental sampling technique on 102 respondents consisting of patients, escorts, visitors, and medical personnel. Data analysis used multiple linear regression with SPSS 21 software. The results showed that the characteristics of visitors were dominated by the productive age group (36–45 years) at 45.10%, with the majority status as visitors (47.06%). The partial test (t-test) proved that the urgency scale variable had a significant partial effect (p = 0.012 < 0.05), while the time and purpose of the visit did not have a significant effect. The resulting trip attraction mathematical model is Y = 1.136 + 0.301X₄ + 0.259X₈ + 0.256X₁₀ with a coefficient of determination (R²) of 0.642 (64.2%). The practical implications of this study provide strategic recommendations for hospital management and the Department of Transportation in mitigating congestion generation and optimizing parking capacity management during peak hours. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden dan perjalanan, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tarikan perjalanan, serta menyusun model matematis tarikan perjalanan menuju RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian kuantitatif deskriptif ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2026 dengan menggunakan teknik accidental sampling terhadap 102 responden yang terdiri dari pasien, pengantar, pembesuk, dan tenaga medis. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan perangkat lunak SPSS 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung didominasi oleh kelompok usia produktif (36–45 tahun) sebesar 45,10%, dengan status mayoritas sebagai pembesuk (47,06%). Uji parsial (uji t) membuktikan variabel skala urgensi berpengaruh signifikan secara parsial (p = 0,012 < 0,05), sedangkan waktu dan tujuan kunjungan tidak berpengaruh signifikan. Model matematis tarikan perjalanan yang dihasilkan adalah Y = 1,136 + 0,301X₄ + 0,259X₈ + 0,256X₁₀ dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,642 (64,2%). Implikasi praktis penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi pihak manajemen rumah sakit dan Dinas Perhubungan dalam memitigasi bangkitan kemacetan serta mengoptimalkan manajemen kapasitas parkir pada jam puncak.    
AKURASI KADAR LDL METODE INDIRECT TERHADAP METODE DIRECT Marina Putri Rahajeng; Anik Handayati; Musholli Himmatun Nabilah; Edy Haryanto
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14483

Abstract

Lipid profile examination is used to help assess the risk of cardiovascular disease. LDL level examination can be performed using the indirect method (Friedewald Formula) and the direct method (homogeneous test). The indirect method is more economical and is still frequently used in laboratories, but its accuracy is starting to be questioned at high triglyceride levels. This study aims to determine the accuracy of LDL levels using the indirect method (Friedewald Formula) compared to the direct method (homogeneous test) at triglyceride levels of 200-300 mg/dL. This study used a comparative analytical quantitative design with a paired cross-sectional approach. The study sample used primary data, namely the serum of patients with triglyceride levels of 200-300 mg/dL examined using the indirect and direct methods on the same sample. Data analysis was performed using the Wilcoxon test, mean %Bias, Bland-Altman, and linear regression. The results showed that there was no significant difference between the indirect and direct methods with a significance value (p > 0.05). The average %Bias value of -0.3962% still meets the acceptance limits of the National Cholesterol Education Program (NCEP). Bland-Altman analysis showed that most of the data were within the limits of agreement. Based on the results of the study, the indirect method (Friedewald Formula) has good accuracy and relatively comparable results with the direct method (homogeneous testing) at triglyceride levels of 200-300 mg/dL. ABSTRAK Pemeriksaan profil lipid digunakan untuk membantu menilai risiko penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan kadar LDL dapat dilakukan menggunakan metode indirect (Friedewald Formula) dan metode direct (homogeneous assay). Metode indirect lebih ekonomis dan masih sering digunakan di laboratorium, tetapi akurasinya mulai diragukan pada kadar trigliserida tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akurasi kadar LDL metode indirect (Friedewald Formula) terhadap metode direct (homogeneous assay) pada kadar trigliserida 200–300 mg/dL. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional berpasangan. Sampel penelitian menggunakan data primer, yaitu serum pasien dengan kadar trigliserida 200–300 mg/dL yang diperiksa menggunakan metode indirect dan metode direct pada sampel yang sama. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon, mean %Bias, dan Bland-Altman. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara metode indirect dan metode direct dengan nilai signifikansi (p > 0,05). Nilai mean %Bias sebesar -0,3962% masih memenuhi batas keberterimaan National Cholesterol Education Program (NCEP). Analisis Bland-Altman menunjukkan sebagian besar data berada dalam batas kesepakatan. Berdasarkan hasil penelitian, metode indirect (Friedewald Formula) memiliki akurasi yang baik dan hasil yang relatif sebanding dengan metode direct (homogeneous assay) pada kadar trigliserida 200-300 mg/dL.
KARAKTERISTIK PASIEN GANGGUAN GINJAL AKUT DI RSUD Dr. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE Wa Ode Asriyani; Muhamad Taha Albaar; Liasari Armaijn
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14599

Abstract

Acute Kidney Injury (AKI) is a condition characterized by a sudden decline in kidney function in previously healthy kidneys, typically occurring over a period ranging from a few hours to several weeks. This results in the retention of metabolic waste products and imbalances in the body's fluid, electrolyte, and acid-base status. Southeast Asia records the highest prevalence of AKI cases, at 31.0%. If not promptly managed, AKI can lead to significant morbidity and mortality. This study aimed to identify the characteristics of AKI patients at Dr. H. Chasan Boesoirie Regional General Hospital (RSUD) in Ternate. A descriptive, cross-sectional study design was employed, involving 46 AKI patients selected via total sampling of medical records. The results showed that the majority of patients were elderly (52.2%), male (60.9%), had a high school education (56.5%), and worked as farmers (26.1%); notably, all patients (100.0%) had at least one comorbid condition. Furthermore, all patients exhibited elevated creatinine levels (100.0%), while the majority showed increased urea levels (87.0%) and decreased hemoglobin levels (56.5%). Conversely, electrolyte levels specifically sodium (41.3%), potassium (65.2%), and chloride (50.0%) predominantly fell within the normal range. In conclusion, the most common characteristics among AKI patients were being elderly, male, having a high school education, working as a farmer, and having comorbidities (with the largest subgroup having a single comorbidity), alongside decreased hemoglobin, elevated creatinine and urea, and normal sodium, potassium, and chloride levels. These findings demonstrate that the assessment of laboratory parameters particularly creatinine, urea, hemoglobin, and electrolytes plays a crucial role in characterizing the clinical status of AKI patients and supporting the ongoing evaluation of their management. ABSTRAK Gangguan Ginjal Akut (GGA) merupakan kondisi di mana fungsi ginjal menurun secara tiba-tiba pada ginjal yang sebelumnya sehat, umumnya terjadi dalam rentang waktu beberapa jam hingga beberapa minggu. Akibatnya, terjadi retensi sisa metabolisme dan gangguan keseimbangan pada cairan, elektrolit, dan asam-basa tubuh. Prevalensi kasus tertinggi di Asia Tenggara sebesar 31,0%. Jika tidak segera ditangani, GGA dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien GGA di RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 46 sampel pasien GGA yang diambil menggunakan data rekam medis dengan teknik total sampling. Hasil penelitian terhadap 46 pasien menunjukkan mayoritas pasien berusia lansia (52,2%), laki-laki (60,9%), berpendidikan SMA (56,5%), bekerja sebagai petani (26,1%), serta seluruh pasien memiliki penyakit penyerta (100,0%). Selain itu, seluruh pasien mengalami peningkatan kadar kreatinin (100,0%), sebagian besar mengalami peningkatan kadar ureum (87,0%) dan penurunan kadar hemoglobin (56,5%), sedangkan kadar elektrolit terbanyak berada pada kategori normal, yaitu natrium (41,3%), kalium (65,2%), dan klorida (50,0%). Kesimpulan karakteristik kasus GGA tertinggi yakni lansia, laki-laki, SMA, petani, memiliki penyakit penyerta, dengan kelompok terbanyak adalah pasien yang memiliki 1 penyakit penyerta, hemoglobin menurun, kreatinin meningkat, ureum meningkat, natrium normal, kalium normal, dan klorida normal. Temuan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan parameter laboratorium, terutama kreatinin, ureum, hemoglobin, dan elektrolit, memiliki peran penting dalam menggambarkan kondisi klinis pasien GGA serta mendukung evaluasi penatalaksanaan secara berkelanjutan.
PERBEDAAN KADAR ELEKTROLIT MENGGUNAKAN BAHAN UJI SERUM DENGAN BAHAN UJI PLASMA HEPARIN Linatur Rosyidah; Edy Haryanto; Anik Handayati; Gesang Jukadiarko
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14622

Abstract

Electrolyte examination is performed to assess the levels of the major electrolytes in the blood. This examination is used to help establish the diagnosis of fluid balance disorders and acid-base imbalances in the body. The test materials commonly used for electrolyte examination are serum and heparinized plasma. Differences in the type of test material may affect the results of electrolyte examinations. This study aimed to determine the differences in electrolyte levels, including sodium, potassium, chloride, and ionized calcium, between serum and heparinized plasma test materials. This study employed a quantitative approach with an analytical observational design and a cross-sectional design. A total of 15 samples were obtained from patients undergoing electrolyte examinations at Muhammadiyah Babat General Hospital in February 2026. Electrolyte examinations were performed using the Erba Electrolyte Analyzer with the direct Ion-Selective Electrode (ISE) method. The results showed that the mean sodium levels were 139.29 mmol/L in serum and 136.49 mmol/L in heparinized plasma, the mean potassium levels were 3.79 mmol/L in serum and 3.58 mmol/L in heparinized plasma, the mean chloride levels were 106.77 mmol/L in serum and 105.63 mmol/L in heparinized plasma, and the mean ionized calcium levels were 1.00 mmol/L in serum and 0.89 mmol/L in heparinized plasma. The examination results were analyzed using the paired t-test and the Wilcoxon signed-rank test according to the data distribution. The results showed significant differences in sodium, potassium, and ionized calcium levels between serum and heparinized plasma test materials, with significance values of p < 0.05. Meanwhile, chloride levels showed no significant difference between serum and heparinized plasma test materials, with a significance value of p > 0.05. Based on the data analysis that had been conducted, significant differences were found in sodium, potassium, and ionized calcium levels between serum and heparinized plasma test materials, whereas chloride levels showed no significant difference. ABSTRAK Pemeriksaan elektrolit merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar elektrolit utama di dalam darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adanya gangguan keseimbangan cairan maupun ketidakseimbangan asam-basa dalam tubuh. Bahan uji yang umum digunakan pada pemeriksaan elektrolit adalah serum dan plasma heparin. Perbedaan jenis bahan uji dapat memengaruhi hasil pemeriksaan elektrolit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar elektrrolit, meliputi kadar natrium, kalium, klorida, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan bahan uji plasma heparin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 15 sampel dari pasien yang menjalani pemeriksaan elektrolit di RSU Muhammadiyah Babat pada bulan Februari 2026. Pemeriksaan elektrolit dilakukan menggunakan alat Erba Electrolyte Analyzer dengan metode Ion Selective Electrode (ISE) secara langsung. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rerata kadar natrium pada serum sebesar 139,29 mmol/L dan plasma heparin sebesar 136,49 mmol/L, kadar kalium pada serum sebesar 3,79 mmol/L dan plasma heparin sebesar 3,58 mmol/L, kadar klorida pada serum sebesar 106,77 mmol/L dan plasma heparin sebesar 105,63 mmol/L, serta kadar kalsium terionisasi pada serum sebesar 1,00 mmol/L dan plasma heparin sebesar 0,89 mmol/L. Data hasil dari pemeriksaan elektrolit akan dianalisa menggunakan uji T-dependen dan uji Wilcoxon sesuai dengan distribusi data. Hasil uji pada kadar natrium, kalium, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan bahan uji plasma heparin menunjukkan adanya perbedaan bermakna, dengan nilai signifikansi (p < 0,05). Sedangkan, pada kadar klorida tidak terdapat perbedaan bermakna antara bahan uji serum dan bahan uji plasma heparin dengan nilai signifikansi (p > 0,05). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, ditemukan perbedaan yang bermakna pada kadar natrium, kalium, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan plasma heparin, sedangkan kadar klorida tidak menunjukkan perbedaan bermakna.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE PADA SISWA SMA DAN MAN DI KECAMATAN KAJUARA KABUPATEN BONE Andi Ishmah Karimah Amal; Rahadi Arie Hartoko; Andi Sitti Rahma; Halimah Sa’diyah; Abd. Rahim Yunus
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14635

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a condition in which stomach acid frequently refluxes into the esophagus, causing symptoms such as heartburn and nausea. GERD is common among adolescents and may impair concentration, learning performance, and memory. Stress levels and dietary habits are considered important factors associated with GERD. This study aimed to determine the relationship between stress levels and dietary habits and the occurrence of Gastroesophageal Reflux Disease among senior high school students in Kajuara District, Bone Regency. This quantitative study employed a cross-sectional design with a purposive sampling technique involving 273 respondents. Data were collected using the Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), a dietary habits questionnaire, and the GERD-Q questionnaire. The results showed a significant association between moderate stress levels and GERD (34.9%; p=0.002). Significant associations were also found between meal frequency (p<0.001), types of food consumed (p<0.001), and GERD. Multiple logistic regression analysis indicated that consumption of irritating foods was the most dominant factor associated with GERD (OR=4.041; 95% CI: 2.294–7.120). In conclusion, stress levels and dietary habits, including meal frequency and food types, were significantly associated with the occurrence of Gastroesophageal Reflux Disease among senior high school students in Kajuara District, Bone Regency. ABSTRAK Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung sering naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan gejala yang mengganggu, seperti sensasi terbakar di dada (heartburn) dan mual. Kondisi ini banyak terjadi pada remaja serta dapat menurunkan konsentrasi belajar dan memengaruhi daya ingat. Tingkat stres dan pola makan merupakan faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian GERD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dan pola makan dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease pada siswa SMA dan MAN di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan teknik purposive sampling pada 273 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), kuesioner pola makan, dan GERD-Q. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami kemungkinan GERD dengan tingkat stres sedang (34,9%) (p=0,002). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi makan (p<0,001) dan jenis makanan (p<0,001) dengan kejadian GERD. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa jenis makanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian GERD (OR=4,041; IK95%: 2,294–7,120). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres serta pola makan, yang meliputi frekuensi makan dan jenis makanan, dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease pada siswa SMA dan MAN di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone.
PENGGUNAAN METHYLENE BLUE SEBAGAI PENGGANTI HEMATOKSILIN PADA SEDIAAN HISTOLOGI Naysilla Wardaniya; Juliana Christyaningsih; Lully Hanni Endarini; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14653

Abstract

Histological staining plays an essential role in enhancing the visualization of cellular and tissue structures. Hematoxylin, the nuclear stain used in the Hematoxylin–Eosin (HE) method, has several limitations, including relatively high cost and limited storage stability, necessitating the development of more economical alternatives such as methylene blue. This laboratory experimental study aimed to evaluate the use of methylene blue as a substitute for hematoxylin in mouse liver histological sections. The control group was stained using the Hematoxylin–Eosin method, while the treatment groups received methylene blue at concentrations of 10%, 11%, and 13%. Slide quality was evaluated microscopically using a scoring method based on nuclear clarity, cytoplasmic appearance, and color uniformity, followed by Kruskal–Wallis and Mann–Whitney analyses. The control group produced 100% good-quality slides. The 10% methylene blue group yielded 16.7% good and 83.3% fairly good slides. The 11% concentration produced 83.3% fairly good and 16.7% poor slides, whereas the 13% concentration resulted in 66.6% fairly good and 33.3% poor slides. The Kruskal–Wallis test revealed a significant difference among the groups (p=0.000; p<0.05). These findings indicate that methylene blue, particularly at a concentration of 10%, has potential as an alternative nuclear stain to hematoxylin because it produced the best staining quality among the treatment groups. ABSTRAK Pewarnaan sediaan histologi berperan penting dalam memperjelas struktur sel dan jaringan. Hematoksilin sebagai pewarna inti pada metode Hematoksilin-Eosin (HE) memiliki keterbatasan, antara lain harga yang relatif mahal dan stabilitas penyimpanan yang kurang baik, sehingga diperlukan alternatif pewarna yang lebih ekonomis, seperti methylene blue. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan methylene blue sebagai pengganti hematoksilin pada sediaan histologi jaringan hati mencit. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan kelompok kontrol pewarnaan Hematoksilin-Eosin dan kelompok perlakuan methylene blue konsentrasi 10%, 11%, dan 13%. Kualitas preparat dinilai secara mikroskopis menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan kelompok kontrol menghasilkan 100% preparat berkategori baik. Pada methylene blue 10% diperoleh 16,7% preparat berkategori baik dan 83,3% cukup baik, konsentrasi 11% menghasilkan 83,3% cukup baik dan 16,7% tidak baik, sedangkan konsentrasi 13% menghasilkan 66,6% cukup baik dan 33,3% tidak baik. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p=0,000; p<0,05). Dengan demikian, methylene blue berpotensi digunakan sebagai pewarna alternatif pengganti hematoksilin, terutama pada konsentrasi 10% yang menghasilkan kualitas preparat terbaik di antara kelompok perlakuan.