cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 232 Documents
PROSEDUR PEMERIKSAAN LOPOGRAFI DENGAN KLINIS POST COLOSTOMY HIRSCHPRUNG PADA PASIEN PEDIATRIK DI RSD K.R.M.T WONGSONEGORO Fariz Kadri Amudaija; Amril Mukmin; Muhammad Za’im
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14654

Abstract

ABSTRACT Lopography examination in pediatric patients with clinical post-colostomy Hirschsprung is performed to obtain images of colonic anatomy and contrast-medium distribution as a basis for evaluating the patient’s condition before further management. This study aimed to describe the lopography examination procedure and the rationale for not performing post-evacuation imaging in pediatric patients with clinical post-colostomy Hirschsprung. A descriptive qualitative method with a case study approach was employed at the Radiology Installation of RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang from September 2025 to May 2026. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review involving three radiographers and one radiologist. The findings showed that patient preparation included data verification, cleaning of the stoma area, removal of the stoma bag, changing clothes, and completion of informed consent. The contrast medium consisted of iodine water-soluble contrast and NaCl at a ratio of 1:4, while imaging was performed using plain AP, AP post-contrast, and lateral projections. Post-evacuation imaging was not performed because the contrast medium was water-soluble and could be expelled from the body, while radiation exposure was also considered in view of the patient’s pediatric age. The examination provided visualization of contrast-medium distribution in the proximal and distal colon and information regarding the colonic condition in the observed case. ABSTRAK Pemeriksaan lopografi pada pasien pediatrik dengan klinis post-colostomy Hirschsprung dilakukan untuk memperoleh gambaran anatomi kolon dan distribusi media kontras sebagai dasar evaluasi kondisi pasien sebelum penatalaksanaan lanjutan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pemeriksaan lopografi serta alasan tidak dilakukannya foto post-evacuation pada pasien pediatrik dengan klinis post-colostomy Hirschsprung. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di Instalasi Radiologi RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang pada September 2025–Mei 2026. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan dengan melibatkan tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan pasien meliputi verifikasi data, pembersihan area stoma, pelepasan kantong stoma, penggantian pakaian, dan pengisian informed consent. Media kontras yang digunakan berupa iodin water-soluble dan NaCl dengan perbandingan 1:4, sedangkan teknik pencitraan meliputi proyeksi AP polos, AP post-contrast, dan lateral. Foto post-evacuation tidak dilakukan karena media kontras bersifat water-soluble, dapat keluar dari tubuh, serta mempertimbangkan pembatasan paparan radiasi pada pasien pediatrik. Pemeriksaan tersebut menghasilkan gambaran distribusi media kontras pada kolon proksimal dan distal serta informasi mengenai kondisi kolon pada kasus yang diteliti.
PERAWATAN HARIAN PESAWAT DIGITAL RADIOGRAPHY (DR) DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR. GUNAWAN MANGUNKUSUMO AMBARAWA Felinda Astuti Dama; Arnefia Mei Yusnida; Asih Puji Utami
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14658

Abstract

ABSTRACT Daily maintenance of Digital Radiography (DR) equipment is necessary to maintain equipment readiness, support the continuity of radiology services, and reduce the potential for disruptions during patient examinations. This study aimed to describe the implementation of daily maintenance of DR equipment, identify factors affecting maintenance effectiveness, and describe the evaluation and documentation system at the Radiology Installation of RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa. This study employed a descriptive qualitative approach conducted from September 2025 to April 2026. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving the head of the radiology unit, radiographers, medical physicists/Radiation Protection Officers (RPOs), and biomedical equipment technicians selected through purposive sampling. Data analysis consisted of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that daily maintenance was carried out through warming up, collimation checks, inspection of the physical condition of the equipment, equipment cleanliness, computer and detector checks, and monitoring of room conditions, supported by a daily checklist. The implementation of maintenance was influenced by the absence of a specific SOP for DR equipment, limited time due to service activities, interstaff coordination, budget limitations, and the absence of a permanent service contract with the vendor. Evaluation and documentation were conducted using checklists, logbooks, and work orders as part of maintenance records and follow-up of equipment problems. The study concludes that daily maintenance has been routinely implemented, but strengthening SOPs and documentation is necessary to establish a more structured and optimal DR maintenance management system. ABSTRAK Perawatan harian pesawat Digital Radiography (DR) diperlukan untuk mempertahankan kesiapan peralatan, mendukung kelancaran pelayanan radiologi, serta mengurangi potensi gangguan selama pemeriksaan pasien. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan perawatan harian pesawat DR, faktor yang memengaruhi efektivitas pemeliharaan, serta sistem evaluasi dan dokumentasi di Instalasi Radiologi RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan pada September 2025–April 2026. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kepala ruangan radiologi, radiografer, fisikawan medis/Petugas Proteksi Radiasi (PPR), dan teknisi elektromedik yang dipilih secara purposive. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan dilakukan melalui warming up, pemeriksaan kolimasi, kondisi fisik pesawat, kebersihan alat, komputer, detektor, serta kondisi lingkungan ruangan dengan dukungan checklist harian. Pelaksanaan perawatan dipengaruhi oleh belum tersedianya SOP khusus DR, keterbatasan waktu akibat aktivitas pelayanan, koordinasi antarpetugas, keterbatasan anggaran, dan belum adanya kontrak servis tetap dengan vendor. Evaluasi dan dokumentasi dilakukan melalui checklist, logbook, dan bon kerja sebagai bagian dari pencatatan pemeliharaan dan tindak lanjut gangguan. Penelitian menyimpulkan bahwa perawatan telah dilaksanakan secara rutin, tetapi diperlukan penguatan SOP dan dokumentasi agar pengelolaan pemeliharaan DR lebih terstruktur dan optimal.
TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI OS FEMUR PADA KASUS POST ORIF FRAKTUR FEMUR 1/3 PROKSIMAL DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KOTA SALATIGA Tansu Devi Aprilianti; Muhamad Fa’ik; Sofie Nornalita Dewi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14659

Abstract

ABSTRACT Proximal one-third femoral fractures are bone injuries that require operative management, one of which is Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Postoperative radiographic examination is necessary to evaluate implant position, bone alignment, and the healing process. Limited patient mobility after surgery requires adjustments to the examination technique to maintain diagnostic image quality. This study aimed to determine the examination procedure, rationale for the technique, and its advantages and disadvantages in radiographic examination of proximal one-third femur post ORIF at the Radiology Installation of Salatiga City Hospital. This qualitative study employed a case study approach and was conducted from November 2025 to April 2026. Data were obtained through observation, interviews, and documentation involving three radiographers, an orthopedic specialist, and a radiologist. Data analysis included data collection, processing, presentation, and conclusion drawing. Post-ORIF femur radiography was performed without special preparation using Anteroposterior (AP) and lateral projections with a modified horizontal central ray angled 30° caudad in the lateromedial direction according to the patient's condition. For the lateral projection, the patient's position was maintained as comfortably as possible to reduce pain and the risk of complications. The results showed that the 30° caudad horizontal central ray modification produced a sufficiently diagnostic lateral image in post-ORIF patients with limited mobility. This modification reduced anatomical superimposition and improved visualization of the fracture area and implant without truncation. Therefore, adjustments to patient positioning and exposure technique can produce optimal diagnostic images while improving patient comfort. This technique maintains image quality, allowing optimal evaluation of the femoral structure and implant. ABSTRAK Fraktur femur 1/3 proksimal merupakan cedera tulang yang memerlukan penanganan operatif, salah satunya Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Pemeriksaan radiografi pascaoperasi diperlukan untuk mengevaluasi posisi implant, keselarasan tulang, dan proses penyembuhan. Keterbatasan mobilitas pasien pascaoperasi memerlukan penyesuaian teknik pemeriksaan agar tetap menghasilkan gambaran diagnostik. Penelitian ini bertujuan mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan penggunaan teknik, serta kelebihan dan kekurangan pemeriksaan radiografi femur 1/3 proksimal post ORIF di Instalasi Radiologi RSUD Kota Salatiga. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada November 2025 sampai April 2026. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap 3 radiografer, dokter spesialis ortopedi, dan dokter spesialis radiologi. Analisis data meliputi pengumpulan, pengolahan, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemeriksaan os femur post ORIF dilakukan tanpa persiapan khusus menggunakan proyeksi Anteroposterior (AP) dan lateral dengan modifikasi central ray horizontal menyudut 30° caudad arah latero-medial sesuai kondisi pasien. Pada proyeksi lateral, posisi pasien dipertahankan senyaman mungkin untuk mengurangi nyeri dan risiko komplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi central ray horizontal 30° caudad mampu memberikan gambaran lateral yang cukup diagnostik pada pasien post ORIF dengan keterbatasan mobilitas. Modifikasi tersebut mengurangi superposisi struktur anatomi dan memperjelas area fraktur serta implant tanpa terpotong. Dengan demikian, penyesuaian posisi dan teknik penyinaran dapat menghasilkan gambaran diagnostik yang optimal sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien. Teknik ini mempertahankan kualitas citra sehingga evaluasi struktur femur dan implant dapat dilakukan secara optimal.
PERILAKU PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DENGAN JUMLAH KEHILANGAN GIGI LANSIA DI POSYANDU LANSIA SEKAR ARUM GUBENG SURABAYA TAHUN 2026 Yunita Kharismawati; I.G.A Kusuma Astuti N.P.; Dwi Septiarini; Ratih Larasati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14752

Abstract

The high percentage of elderly who do not have 20 functional teeth remains a problem in oral health for the elderly. This study aims to determine the relationship between dental health maintenance behavior and the number of missing teeth in elderly at Posyandu Lansia Sekar Arum Gubeng Surabaya. This study used quantitative analytic method with cross-sectional design. The sample consisted of 54 elderly respondents selected using simple random sampling technique. Data were collected using questionnaire and oral cavity examination. Data analysis was performed using chi-square test with a significance level of 0.05. The results showed that most elderly had poor dental health maintenance behavior (44 people/81.5%) and had less than 20 functional teeth (43 people/79.6%). The chi-square test results showed a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a significant relationship with a contingency coefficient of 0.686, which demonstrates a strong relationship between dental health maintenance behavior and the number of missing teeth in elderly. Elderly with poor dental health maintenance behavior tend to have fewer functional teeth compared to those with better behavior. This indicates that dental health maintenance behavior plays an important role in preserving the number of functional teeth in the elderly. ABSTRAK Tingginya persentase lansia yang tidak memiliki 20 gigi berfungsi masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dengan jumlah kehilangan gigi lansia di Posyandu Lansia Sekar Arum Gubeng Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 54 responden lansia yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan rongga mulut. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Sebagian besar responden memiliki perilaku pemeliharaan kesehatan gigi kategori buruk (81,5%) dan jumlah gigi berfungsi <20 (79,6%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dengan jumlah kehilangan gigi pada lansia (p<0,001). Kekuatan hubungan berdasarkan koefisien kontingensi sebesar 0,686, yang menunjukkan hubungan dalam kategori kuat. Lansia dengan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi yang kurang baik cenderung memiliki jumlah gigi berfungsi yang lebih sedikit dibandingkan lansia dengan perilaku yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku pemeliharaan kesehatan gigi memiliki peranan penting dalam mempertahankan jumlah gigi yang masih berfungsi pada lansia.
GAMBARAN MANAJEMEN KEBERSIHAN MENSTRUASI PADA SISWI SMPN 1 CISAAT SUKABUMI Putri Maharani; Kosim Kosim; Nenden Nur Asriyani Maryam
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14876

Abstract

Adolescence is a period when adolescent girls begin menstruating (menarche), making it necessary for them to be able to practice menstrual hygiene management (MHM) independently. Proper fulfillment of MHM needs plays a crucial role in maintaining health, comfort, and supporting learning activities at school. This study aims to describe the level of fulfillment of MHM needs among adolescent girls at SMPN 1 Cisaat, Sukabumi Regency, by examining the six domains of the Menstrual Practice Needs Scale-36 (MPNS-36). This study used a quantitative descriptive design involving 172 seventh- and eighth-grade female students selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected online using the Indonesian version of the MPNS-36 and analyzed descriptively. The results showed that the overall fulfillment of students' MHM needs remained in the "inadequate" category (mean 2.07). Specific analysis per domain revealed that the greatest barriers were in the Transport and School Environment Needs (mean 1.34), reflecting a lack of toilet privacy and inadequate disposal facilities, followed by Material Reliability Concerns (mean 1.72), which triggered concerns about leakage. Meanwhile, Material and Home Environment support was relatively better (mean 2.45), although privacy regarding the drying of reusable sanitary materials remains a challenge. This study concludes that the low level of MHM needs fulfillment is more influenced by the limitations of school sanitation facilities than by the students' personal habits. Therefore, improvements to sanitation facilities that are responsive to the needs of adolescent girls are required, as well as the strengthening of MHM education through the School Health Program. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode ketika remaja putri mulai mengalami menstruasi (menarche), sehingga perlu memiliki kemampuan dalam menerapkan manajemen kebersihan menstruasi (MKM) secara mandiri. Pemenuhan kebutuhan MKM yang baik berperan penting dalam menjaga kesehatan dan kenyamanan serta mendukung aktivitas belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pemenuhan kebutuhan manajemen kebersihan menstruasi pada remaja putri di SMPN 1 Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 172 siswi kelas VII dan VIII yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen Menstrual Practice Needs Scale-36 (MPNS-36) versi Bahasa Indonesia dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan praktik menstruasi siswi secara keseluruhan masih berada pada kategori kurang (mean 2,07). Analisis spesifik per domain mengungkapkan bahwa kendala terbesar terletak pada Transport and School Environment Needs (mean 1,34) yang mencerminkan kurangnya privasi toilet dan sarana pembuangan, diikuti oleh Material Reliability Concerns (mean 1,72) yang memicu kekhawatiran kebocoran. Sementara itu, dukungan Material and Home Environment relatif lebih baik (mean 2,45), namun aspek privasi saat penjemuran bagi pengguna pembalut kain/ulang masih menjadi tantangan. Rendahnya pemenuhan kebutuhan MKM lebih dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas sanitasi sekolah dibandingkan dengan kebiasaan personal siswi. Diperlukan perbaikan sarana sanitasi sekolah yang responsif terhadap kebutuhan remaja putri serta penguatan edukasi MKM melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
GAMBARAN DUKUNGAN SOSIAL YANG DIPERSEPSIKAN OLEH KELUARGA PASIEN KANKER DI RUMAH TEDUH SAHABAT IIN BANDUNG Rizky Maulana; Titin Sutini; Imas Rafiyah
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14891

Abstract

Cancer is a chronic disease that affects not only patients but also their families who serve as caregivers. During the treatment process, caregivers face various demands that require adequate social support. This study aimed to describe perceived social support among family caregivers of cancer patients at Rumah Teduh Sahabat Iin Bandung. This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. A total of 77 family caregivers of cancer patients were recruited using total sampling. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed that the majority of caregivers perceived social support as high (76.6%), while 22.1% reported moderate and 1.3% reported low levels. Among the sources of support, the highest proportion of high perceived social support was found for significant others (85.7%), followed by family (84.4%) and friends (70.1%). The main finding indicates that caregivers generally perceived high social support from various sources, with significant others being the most prominent source of support. In conclusion, family caregivers of cancer patients at Rumah Teduh Sahabat Iin Bandung generally perceived high levels of social support while carrying out their caregiving roles. ABSTRAK Kanker merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga keluarga yang berperan sebagai caregiver. Selama mendampingi pasien menjalani pengobatan, caregiver menghadapi berbagai tuntutan yang memerlukan dukungan sosial yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dukungan sosial yang dipersepsikan oleh keluarga pasien kanker di Rumah Teduh Sahabat Iin Bandung. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 77 keluarga pasien kanker yang berperan sebagai caregiver direkrut menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas caregiver memersepsikan dukungan sosial dalam kategori tinggi (76,6%), sedangkan 22,1% berada dalam kategori sedang dan 1,3% dalam kategori rendah. Berdasarkan sumber dukungan, kategori tinggi paling banyak ditemukan pada significant others (85,7%), diikuti keluarga (84,4%) dan teman (70,1%). Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa caregiver secara umum memperoleh dukungan sosial yang tinggi dari berbagai sumber, dengan significant others menjadi sumber dukungan yang paling dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keluarga pasien kanker di Rumah Teduh Sahabat Iin Bandung secara umum memiliki persepsi dukungan sosial yang tinggi selama menjalankan peran sebagai caregiver.
PENGARUH KONSELING KB MENGGUNAKAN MEDIA ABPK TERHADAP CALON AKSEPTOR KB Elliza Natania Nawangsari; Koekoeh Hardjito; Rahajeng Siti Nur Rahmawati; Ririn Indriani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15002

Abstract

Indonesia has one of the world's largest populations, making population growth control through the Family Planning (FP) Program a continuing national priority. According to data from the National Population and Family Planning Board (BKKBN), 57.4% of couples of reproductive age were active FP participants in 2021, while contraceptive use remained predominantly concentrated in non-long-acting methods. The effectiveness of FP services is closely related to the quality of counseling provided to prospective acceptors. Decision-Making Aids (ABPK) serve as a counseling medium that enables clients to understand, compare, and evaluate contraceptive options according to their individual needs and circumstances. This study aimed to examine the effect of ABPK-assisted FP counseling on the knowledge of prospective acceptors among primigravida women. A quantitative study employing a pre-experimental one-group pretest-posttest design was conducted involving 33 respondents. The Wilcoxon Signed Rank Test yielded p = 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference in knowledge before and after the intervention. The proportion of respondents with good knowledge increased from 3.0% before counseling to 90.9% after counseling, representing an improvement of 87.9 percentage points. These findings demonstrate that ABPK-assisted counseling effectively enhances the knowledge of prospective FP acceptors. Therefore, health professionals are encouraged to optimize the use of ABPK to facilitate informed contraceptive decision-making. ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar sehingga pengendalian laju pertumbuhan penduduk melalui Program Keluarga Berencana (KB) masih menjadi agenda penting pemerintah. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa pada tahun 2021 sebanyak 57,4% Pasangan Usia Subur tercatat sebagai peserta KB aktif, dengan penggunaan kontrasepsi yang masih didominasi metode non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (non-MKJP). Keberhasilan pelayanan KB tidak terlepas dari kualitas konseling yang diberikan kepada calon akseptor. Salah satu media yang dapat mendukung proses tersebut ialah Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK), yang membantu klien memahami serta membandingkan berbagai alternatif kontrasepsi sesuai kondisi dan kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konseling KB berbantuan ABPK terhadap tingkat pengetahuan calon akseptor pada ibu hamil primigravida. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-experimental one-group pretest-posttest yang melibatkan 33 responden. Hasil analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Proporsi responden dengan tingkat pengetahuan baik meningkat dari 3,0% sebelum konseling menjadi 90,9% setelah konseling, atau mengalami kenaikan sebesar 87,9 poin persentase. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan ABPK dalam konseling KB efektif meningkatkan pengetahuan calon akseptor. Oleh sebab itu, penggunaan ABPK perlu dioptimalkan dalam pelayanan KB agar pemilihan metode kontrasepsi dilakukan berdasarkan informasi yang lebih komprehensif.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PETUGAS REKAM MEDIS DALAM IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK DI RSD GUNUNG JATI CIREBON Ta’anni Choerunnisa; Bambang Wibisono; Nanang Ruhyana
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15101

Abstract

ABSTRACT Electronic Medical Record (EMR) implementation is mandatory for all healthcare facilities in Indonesia under Minister of Health Regulation No. 24 of 2022 to improve the quality of healthcare services, security, and the effectiveness of patient data management. The successful implementation of EMR is influenced by the knowledge level of medical record officers as the primary users of the system. This study aimed to describe the knowledge level of medical record officers regarding EMR implementation at Gunung Jati Regional Hospital, Cirebon. A descriptive study with a cross-sectional approach was conducted involving all 57 medical record officers selected using total sampling. Data were collected using a standardized questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using univariate analysis. The results showed that 75.4% of medical record officers had a good overall level of EMR knowledge. At the aspect level, 82.5% had good knowledge of the EMR definition, 80.7% had good knowledge of EMR content, and 61.4% had good knowledge of EMR implementation, while 35.1% remained in the moderate category for the implementation aspect. These findings indicate that although the overall knowledge level was good, practical and operational knowledge related to EMR implementation remained the main area requiring improvement. In conclusion, medical record officers at Gunung Jati Regional Hospital generally demonstrated good EMR knowledge; however, regular and application-oriented technical training is needed to strengthen their operational competencies and support the optimization of digital healthcare transformation. ABSTRAK Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) menjadi kewajiban seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia sesuai dengan Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 untuk meningkatkan mutu layanan, keamanan, dan efektivitas pengelolaan data pasien. Keberhasilan penerapan RME dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan petugas rekam medis sebagai salah satu pengguna utama sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan petugas rekam medis dalam implementasi RME di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian meliputi seluruh petugas rekam medis di RSD Gunung Jati Cirebon dengan teknik total sampling, yaitu sebanyak 57 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas memiliki tingkat pengetahuan RME dalam kategori baik (75,4%). Berdasarkan aspek pengetahuan, kategori baik pada aspek definisi RME mencapai 82,5%, aspek isi RME sebesar 80,7%, sedangkan aspek implementasi RME sebesar 61,4%; pada aspek implementasi, 35,1% responden masih berada dalam kategori cukup. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman konseptual mengenai RME dan pemahaman operasional dalam penerapannya. Tingkat pengetahuan petugas secara umum tergolong baik, namun penguatan kompetensi teknis dan pelatihan yang berorientasi pada praktik implementasi RME diperlukan untuk mengurangi kesenjangan tersebut dan mendukung optimalisasi pengelolaan rekam medis elektronik.
KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND WASTE-BIN AVAILABILITY ASSOCIATED WITH WASTE SORTING AMONG VENDORS AT X Sadya Bustomi; Puji Eka Mathofani; Annissa Annissa
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15448

Abstract

Waste sorting in temporary public spaces is an important component of environmental health management, yet waste-sorting practices among Car Free Day (CFD) vendors remain suboptimal. This study aimed to analyze the associations of knowledge, attitudes, and waste-bin availability with waste-sorting practices among vendors at X. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted from May to July 2026 at X. The accessible population consisted of 200 vendors listed in the 2026 CFD vendor roster. The minimum sample size was calculated using the Slovin formula with a 10% margin of error, resulting in 67 respondents. Sample quotas were determined through proportional allocation across vendor categories, followed by purposive selection of eligible respondents within each category. Data were collected using a structured questionnaire administered through face-to-face interviews and supported by field observations. Univariate and bivariate analyses were performed using Pearson’s chi-square test at a 5% significance level. The strength of associations was expressed as odds ratios (ORs) with 95% confidence intervals (CIs). Overall, 37 vendors (55.2%) had good waste-sorting practices. Poor knowledge was significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.001; OR = 10.333; 95% CI: 3.247–32.888). Unfavorable attitudes were also significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.001; OR = 8.369; 95% CI: 2.553–27.438). In addition, inadequate waste-bin availability was significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.028; OR = 3.086; 95% CI: 1.112–8.559). The findings indicate that knowledge, attitudes, and waste-bin availability are associated with waste-sorting practices among CFD vendors. These findings support the implementation of practical waste-sorting education and the provision of accessible, appropriate, and clearly labeled separated waste bins in CFD areas. Because of the cross-sectional design, the observed associations should not be interpreted as causal relationships. ABSTRAK Pemilahan sampah di ruang publik sementara merupakan bagian penting dalam pengelolaan kesehatan lingkungan, tetapi praktik pemilahan sampah pada pedagang Car Free Day (CFD) masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan ketersediaan tempat sampah dengan praktik pemilahan sampah pada pedagang di X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada Mei–Juli 2026 di X. Populasi terjangkau terdiri atas 200 pedagang yang tercatat dalam daftar pedagang CFD tahun 2026. Besar sampel minimum dihitung menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% dan diperoleh 67 responden. Kuota sampel ditentukan melalui proportional allocation berdasarkan kategori pedagang, kemudian responden dalam setiap kategori dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur melalui wawancara tatap muka dan didukung observasi lapangan. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Kekuatan hubungan disajikan dalam bentuk odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan (IK) 95%. Sebanyak 37 pedagang (55,2%) memiliki praktik pemilahan sampah yang baik. Pengetahuan yang kurang berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan sampah yang kurang baik (p = 0,001; OR = 10,333; IK 95%: 3,247–32,888). Sikap yang tidak mendukung juga berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan yang kurang baik (p = 0,001; OR = 8,369; IK 95%: 2,553–27,438). Selain itu, ketersediaan tempat sampah yang tidak memadai berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan yang kurang baik (p = 0,028; OR = 3,086; IK 95%: 1,112–8,559). Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dan ketersediaan tempat sampah berhubungan dengan praktik pemilahan sampah pada pedagang CFD. Temuan ini mendukung perlunya edukasi praktis mengenai pemilahan sampah serta penyediaan tempat sampah terpilah yang mudah diakses, sesuai, dan diberi label jelas di area kegiatan CFD. Karena menggunakan desain cross-sectional, hubungan yang ditemukan tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat.
EFFECTIVENESS OF HEALTH PROMOTION MEDIA IN IMPROVING PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS' KNOWLEDGE OF THE HOME ENVIRONMENT Sadya Bustomi; Fauziah Novriyani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15449

Abstract

Pulmonary tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia. Preventing household transmission requires not only treatment adherence but also patients' knowledge of physical home-environment conditions, including ventilation, natural lighting, and residential density. This study aimed to analyze changes in pulmonary TB patients' knowledge of the physical home environment following health education delivered through leaflets, flipcharts, and educational videos in the service area of UPTD Puskesmas Banjar Agung. A quantitative approach with a quasi-experimental pretest-posttest design was employed involving 54 pulmonary TB patients, with 18 participants assigned to each of the leaflet, flipchart, and educational video groups. The intervention was conducted from November 2025 to January 2026 using equivalent educational content across the three groups. Knowledge was measured using a questionnaire before and after the intervention and analyzed using paired-samples t-tests at α = 0.05. The results showed an increase in knowledge in all three groups. The increase in the educational video group was statistically significant (p < 0.001), whereas the leaflet group reached the significance threshold (p = 0.050), and the flipchart group did not show a statistically significant change (p = 0.160). Based on the within-group analyses, the educational video group showed the strongest statistical evidence of improvement. However, this finding does not establish that video was statistically more effective than leaflets or flipcharts because no direct between-group comparison of changes was performed. Educational videos may therefore be considered a health promotion medium to strengthen pulmonary TB patients' knowledge of the physical home environment. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pencegahan penularan di lingkungan rumah tangga tidak hanya memerlukan kepatuhan pengobatan, tetapi juga pengetahuan pasien mengenai kondisi lingkungan fisik rumah, seperti ventilasi, pencahayaan alami, dan kepadatan hunian. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan pengetahuan pasien TB paru mengenai lingkungan fisik rumah setelah diberikan edukasi menggunakan media leaflet, lembar balik, dan video edukasi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banjar Agung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental pretest-posttest yang melibatkan 54 pasien TB paru, masing-masing 18 peserta pada kelompok leaflet, lembar balik, dan video edukasi. Intervensi dilaksanakan pada November 2025–Januari 2026 dengan materi edukasi yang setara pada ketiga kelompok. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan paired-samples t-test pada α = 0,05. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada ketiga kelompok. Peningkatan pada kelompok video edukasi signifikan secara statistik (p < 0,001), sedangkan kelompok leaflet berada tepat pada batas signifikansi (p = 0,050) dan kelompok lembar balik tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p = 0,160). Berdasarkan analisis dalam masing-masing kelompok, video edukasi menunjukkan bukti statistik peningkatan pengetahuan yang paling kuat. Namun, hasil tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa video secara statistik lebih efektif dibandingkan leaflet atau lembar balik karena tidak dilakukan analisis perbandingan perubahan antarkelompok. Edukasi berbasis video berpotensi digunakan sebagai media promosi kesehatan untuk memperkuat pengetahuan pasien TB paru mengenai lingkungan fisik rumah.