cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6285729637030
Journal Mail Official
dewidanendra3@gmail.com
Editorial Address
STHD Klaten Jawa Tengah Morangan, Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah Tlpn (085729637370)
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Jawa Dwipa
ISSN : -     EISSN : 27233731     DOI : https://doi.org/10.54714/jd.v2i2
Core Subject : Education, Social,
Jawa Dwipa : Jurnal Penelitian dan Penjaminan Mutu merupakan Jurnal Online Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah terbit setiap bulan Juni dan Desember yang menerbitkan artikel hasil penelitian mahasiswa, tenaga kependidikan maupun dosen dan artikel yang berkaitan dengan penjaminan mutu
Articles 83 Documents
PENGUATAN KARAKTER MODERASI BERAGAMA MELALUI PENDIDIKAN SENI BUDAYA DI SMP NEGERI 3 GANTIWARNO KABUPATEN KLATEN Winarsih; I Kadek Dwi Santika; Agung Tri Nugroho
Jawa Dwipa Vol. 7 No. 1 (2026): Jawa Dwipa
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v7i1.139

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan karakter moderasi beragama melalui pendidikan seni budaya di SMP Negeri 3 Gantiwarno Kabupaten Klaten. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya tantangan intoleransi, radikalisme, dan degradasikarakter di kalangan generasi muda sehingga diperlukan strategi pendidikan yang mampu menanamkan nilai toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman. Pendidikan seni budaya dipandang sebagai media yang efektif dalam membangun karakter moderasi karena mampu mengintegrasikan nilai estetika, empati, kreativitas, dan kebersamaan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru seni budaya, dan peserta didik SMP Negeri 3 Gantiwarno. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seni budaya memiliki peran penting dalam memperkuat karakter moderasi beragama melalui kegiatan seni tari, musik, dan seni rupa yang menumbuhkan sikap toleransi, kerja sama, disiplin, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan budaya maupun agama. Faktor pendukung penelitian ini meliputi lingkungan sekolah yang pluralis, dukungan guru, program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dan budaya sekolah yang harmonis. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan sarana, perbedaan latar belakang siswa, dan minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya moderasi beragama. Strategi sekolah dilakukan melalui integrasi nilai moderasi dalam pembelajaran seni budaya, pembiasaan sikap toleransi, kegiatan kolaboratif, dan penguatan karakter melalui keteladanan guru. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan seni budaya mampu menjadi media efektif dalam membangun karakter moderasi beragama pada peserta didik di jenjang sekolah menengah pertama.
NILAI TAT TWAM ASI SEBAGAI FONDASI MEMPERKUAT TOLERANSI Titin Sutarti
Jawa Dwipa Vol. 7 No. 1 (2026): Jawa Dwipa
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v7i1.146

Abstract

Pendidikan karakter merupakan salah satu fondasi utama dalam pembentukan kepribadian peserta didik, dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dan multikultural. Tantangan sosial berupa menurunnya sensitivitas sosial di kalangan generasi muda menunjukkan pentingnya penguatan pendidikan karakter yang tidak hanya berorientasi pada aspek moral normatif, tetapi juga berakar pada nilai-nilai spiritual keagamaan. Dalam ajaran Hindu, salah satu nilai luhur yang memiliki relevansi kuat terhadap pembentukan karakter toleran adalah Tat Twam Asi, yang secara filosofis dimaknai sebagai kesadaran bahwa diri sendiri dan orang lain memiliki hakikat yang sama. Nilai ini menekankan pentingnya empati, kasih sayang, penghormatan terhadap martabat sesama, serta kesadaran akan persaudaraan sebagai landasan kehidupan bersama. Toleransi merupakan sikap menghormati, menerima, dan menghargai keberagaman yang ada dalam masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama, suku, budaya, bahasa, maupun perbedaan pandangan, serta diwujudkan dalam kemampuan hidup berdampingan secara damai tanpa diskriminasi dan prasangka. Internalisasi nilai Tat Twam Asi dalam pendidikan karakter sebagai upaya untuk memperkuat sikap toleransi peserta didik menunjukkan bahwa nilai Tat Twam Asi memiliki kontribusi dalam membentuk karakter toleran melalui penguatan empati, kepedulian sosial, penghormatan terhadap keberagaman, dan kemampuan hidup berdampingan secara harmonis. Internalisasi nilai ini dapat dilakukan secara sistematis melalui integrasi dalam pembelajaran, keteladanan, pembiasaan dalam interaksi sosial, penciptaan budaya sekolah yang inklusif, serta kegiatan reflektif yang mendorong peserta didik memahami kesatuan hakikat kemanusiaan. Proses internalisasi yang berkelanjutan memungkinkan nilai Tat Twam Asi tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati secara afektif dan diwujudkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Nilai Tat Twam Asi memiliki relevansi strategis sebagai landasan pendidikan karakter berbasis nilai Hindu dalam membangun generasi yang toleran, humanis, dan berkepribadian luhur.
PROSESI UPACARA WALAGARA MASYARAKAT TENGGER DESA NGADIWONO KECAMATAN TOSARI KABUPATEN PASURUAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU Sulastri; Sri Wahyuningsih; Sita Ayu Pangesti
Jawa Dwipa Vol. 7 No. 1 (2026): Jawa Dwipa
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v7i1.150

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari kuatnya komitmen masyarakat Tengger Desa Ngadiwono dalam mempertahankan adat, tradisi, dan budaya leluhur yang masih dilaksanakan secara berkelanjutan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang masih dijunjung tinggi adalah upacara Walagara sebagai bagian penting dalam siklus kehidupan sosial-keagamaan masyarakat setempat. Upacara Walagara merupakan bagian dari tradisi wiwaha Samskara masyarakat Tengger yang memiliki fungsi religius, social, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam prosesi, tujuan dan makna, serta nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial, budaya, dan keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Tengger, khususnya berkaitan dengan prosesi Upacara Walagara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi upacara Walagara Putihan terdiri atas beberapa tahapan, yaitu: (a) suguhan kepada para leluhur yang dilaksanakan pada sore hari pertama, (b) rakatawang sebagai pembuka hubungan antara alam leluhur dan alam manusia, (c) nurunen, (d) temu manten, (e) walagara, (f) dedulit, (g) antrem-antrem, (h) kayopan agung, (i) gelang lawe, (j) nampeng, (k) mangsu, (l) bati/bakti, (m) persaitan, dan (n) mangsu sebagai tahap penutup upacara. Upacara Walagara memiliki tujuan sebagai sarana pembersihan secara sekala dan niskala, pengesahan ikatan perkawinan, serta pemberitahuan kepada Dhyang Banyu, leluhur, dan Rojo Kabuyutan bahwa pasangan pengantin telah resmi menjadi suami istri. Selain itu, upacara ini juga dimaknai sebagai upaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Tengger. Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara meliputi nilai kebersamaan dan gotong royong, kesusilaan, harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia, dan alam (Tri Hita Karana), nilai yadnya (pengorbanan suci), serta nilai tanggung jawab sosial dan spiritual. Dengan demikian, upacara Walagara tidak hanya memiliki makna ritual, tetapi juga mengandung nilai edukatif yang relevan dalam pembentukan karakter masyarakat.