cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2022)" : 8 Documents clear
Penatalaksanaan Hipertensi Perioperatif dan Anestesia pada Kraniotomi Evakuasi Perdarahan Intraserebral Spontan Suarjaya, I Putu Pramana; Mulyadi, Win; Sutawan, IB Krisna Jaya
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.499

Abstract

Pendarahan intraserebral spontan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi dengan case fatality rate satu bulan mencapai 40%. Pendarahan intraserebral adalah kasus gawat darurat. Evakuasi perdarahan intraserebral menjadi pilihan bila terjadi ekspansi volume bekuan darah yang bermakna disertai perburukan klinis. Penatalaksanaan perioperatif pendarahan intraserebral spontan yang baik akan menurunkan kejadian morbiditas dan mortalitas paska bedah. Pasien laki-laki 46 tahun datang dengan penurunan kesadaran, Glasgow Coma Scale (GCS) E3V5M6 dan lemas separuh badan sebelah kiri. Pada computerized tomography (CT) scan didapatkan pendarahan intraserebral pada lobus parieto-oksipital kanan dengan volume 22 ml disertai edema perifokal. Awalnya dilakukan penatalaksanaan konservatif, karena terjadi penurunan kesadaran dan perburukan klinis yang berlangsung dalam waktu singkat, dilakukan kraniotomi evakuasi bekuan darah intraserebral pada hari ketiga perawatan. Pasien dirawat di ruang rawat intensif pascabedah selama dua hari dan pindah ke ruang rawat biasa dengan GCS E4V5M6. Penatalaksanaan perioperatif untuk pasien stroke perdarahan intraserebral dengan riwayat hipertensi tak terkendali yang menjalani pembedahan evakuasi perdarahan segera karena terjadinya perburukan neurologis bertujuan untuk menjamin perfusi otak yang adekuat dan menyediakan kondisi lapangan pembedahan yang optimal. Tekanan darah yang stabil dan perfusi otak yang adekuat selama periode perioperatif, memungkinkan pasien pulih dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah.
Peran Platelet-Selectin sebagai Marker Agregasi Trombosit pada Trombosis Sinus Venosus Serebral Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.407

Abstract

Trombosis sinus venosus serebral (TSVS) merupakan penyakit akibat oklusi struktur vena intrakranial, termasuk sinus serebral, vena korteks, dan bagian proksimal vena jugularis. Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi seperti infark berdarah bahkan kematian. Trombosis yang menyebabkan TSVS adalah proses pembentukan bekuan darah dalam pembuluh darah. Trombosis terjadi jika keseimbangan antara faktor trombogenik dan mekanisme protektif trombogenesis terganggu. Kelainan fungsi trombosit pada kasus TSVS dapat berupa gangguan fungsi adhesi, gangguan reaksi pelepasan atau sekresi, dan gangguan fungsi agregasi. Disfungsi dan gangguan struktur endotel akibat inflamasi menyebabkan adhesi trombosit sehingga trombosit saling melekat dengan kolagen pada sel endotel. Proses adhesi dan sekresi granul trombosit dapat diprediksi dengan pemeriksaan Platelet-selectin (P-selectin) merupakan protein transmembran tipe 1 pada granul trombosit dan granul megakariosit serta berperan dalam memediasi interaksi antara leukosit dengan ligan yang membantu proses adhesi leukosit dan trombosit sehingga dapat dijadikan prediktor trombosis pada pasien dengan TSVS.
Manajemen Anestesi pada Kraniotomi Pengangkatan Tumor High Grade Astrocytoma pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis J. Sutawan, IB Krisna; Suarjaya, I Putu Pramana; Katipana, Madyline Victorya
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.500

Abstract

Tumor supratentorial merupakan tumor otak yang paling sering dijumpai baik itu berasal dari sel otak primer maupun metastasis dari keganasan yang lain. Selain status neurologis, riwayat penyakit penyerta juga penting untuk menjadi pertimbangan tersendiri dalam tatalaksana anestesi. Pasien laki-laki usia 60 tahun, datang dengan keluhan utama telapak tangan kanan yang gemetar disetai dengan rasa kesemutan dan berbicara pelo sejak kurang lebih satu minggu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan pasien dengan gangguan ginjal yang ditegakkan sebagai penyakit ginjal kronis yang disebabkan oleh sumbatan akibat infeksi pada ginjal. Selain itu, dari pemeriksaan fisik didapatkan pemeriksaan neurologis dalam batas normal, refleks fisiologis dalam batas normal, refleks patologis tidak ada, pada pemeriksaan nervus kranialis didapatkan nervus VII dekstra supranuklear dan XII dekstra supranuklear. Dari hasil magnetic resonance imaging (MRI) didapatkan gambaran Primary Malignant Brain Tumor suspek. High grade astrocytoma. Pasien lalu dilakukan operasi pengangkatan tumor dengan anestesi umum menggunakan kombinasi propofol dan dexmedetomidine sebagai agen anestesinya, sedangkan agen diuresis yang digunakan adalah larutan NaCl 3% untuk retraktor otak. Operasi berjalan selama 3 jam, dan paska operasi dilakukan ekstubasi dan pasien dirawat di ruang perawatan intensif. Prinsip tatalaksana neuroanestesi diterapkan dan pertimbangan agen anestesi yang disesuaikan dengan kondisi pasien dengan penyakit ginjal kronis harus diperhatikan pada pasien ini. Evaluasi preoperasi yang baik, komunikasi dan koordinasi yang baik antara tim bedah dan anestesi sangat diperlukan untuk kelancaran pembedahan kraniotomi.
Faktor-faktor yang Berperan pada Status Epileptikus Non-konvulsivus di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Trislawati, Cristina; Gunadharma, Suryani; Gamayani, Uni; Wibisono, Yusuf; Sobaryati, Sobaryati; Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.423

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Status epileptikus merupakan kasus emergensi neurologis dengan mortalitas 57%, 63% merupakan status epileptikus non-konvulsivus (SENK). Diagnosis SENK tidak mudah karena pasien tidak menunjukkan bangkitan yang jelas sehingga diperlukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG). Penyakit serebrovaskular, infeksi susunan saraf pusat (SSP), tumor otak, penyakit autoimmun, dan gangguan metabolik dapat mengakibatkan SENK selain itu dapat memiliki gambaran klinis menyerupai SENK. Tujuan penelitian untuk melihat faktor-faktor yang berperan pada diagnosis SENK.Subjek dan Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang retrospektif pada 132 pasien dengan diagnosis klinis SENK di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode Juli 2017 Juni 2020. Hasil: Dari 132 subjek dengan diagnosis klinis SENK, hanya 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan EEG dilakukan pada semua pasien, sebagian besar dalam waktu 24 jam (82,4 87,9%), hanya 34 pasien yang terkonfirmasi sebagai SENK. Gangguan metabolik secara signifikan berperan pada SENK sebesar 29,4% (p=0,049). Pada pasien yang tidak terkonfirmasi SENK, penurunan kesadaran diakibatkan gangguan metabolik.Smpulan: Gangguan metabolik berperan pada kejadian SENK. Pasien dengan diagnosis klinis SENK memerlukan pemeriksaan EEG segera untuk menghindari diagnosis berlebihan
Sindrom Hiperperfusi Serebral Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.514

Abstract

Sindrom hiperperfusi serebral (cerebral hyperperfusion syndrome/CHS) adalah kondisi yang relatif jarang terjadi setelah endarterektomi karotis (carotidenarterectomy/CEA) atau stenting arteri karotis (carotid artery stenting/CAS) tetapi berpotensi dapat dicegah. Empat kriteria berikut untuk mendefinisikan CHS pasca-CEA: (1) Kejadian dalam waktu 30 hari pasca-CEA; (2) Fitur klinik seperti onset baru sakit kepala, kejang, hemiparesis, dan skala koma glasgow (GCS) 15 atau fitur radiologis termasuk edema serebral atau perdarahan intraserebral (ICH); (3) Bukti hiperperfusi (didefinisikan sebagai aliran darah serebral [CBF] 100% dari nilai perioperatif) pada studi pencitraan atau tekanan darah sistolik 180 mmHg; dan (4) Tidak ada bukti iskemia serebral baru, oklusi karotis pasca operasi dan penyebab metabolik atau farmakologis. Faktor kunci pada patofisiologi CHS adalah gangguan autoregulasi dan disfungsi baroreseptor, hipertensi kronis, mikroangiopati dan sawar darah otak, pembentukan radikal bebas, derajat beratnya carotid stenosis kronis dan sirkulasi kolateral. Faktor kunci dalam pencegahan dan pengobatan CHS adalah pengendalian tekanan darah, waktu dilakukan operasi karotid, obat-obat anestesi yang digunakan. Penggunaan profilaksis obat anti-epilepsi tidak dianjurkan. Bukti tentang penggunaan salin hipertonik dan manitol tidak kuat tetapi dapat diberikan jika pasien mengalami edema serebral, kortikosteroid dan barbiturat tidak diindikasikan. Hiperventilasi dan sedasi dapat diberikan jika pasien mengalami edema serebral
Tatalaksana Anestesi pada Pasien dengan Perdarahan Epidural dan Infeksi COVID-19 Widiastuti, Monika; Halimi, Radian Ahmad; Prihatno, M. Mukhlis Rudi; Hamzah, Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.450

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) masih menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Meskipun terjadi penurunan angka kejadian COT saat pandemi COVID-19 karena mobilisasi yang dibatasi, namun karena keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, penanganan COT menjadi terlambat. Penanganan pasien COT dengan infeksi COVID-19 berbeda karena adanya protokol dan pertimbangan yang harus dilakukan untuk keselamatan tenaga medis dan kelancaran penanganan pasien. Laporan kasus ini mengenai laki-laki berusia 41 tahun datang dengan penurunan kesadaran pasca kecelakaan kendaraan bermotor 24 jam sebelum masuk rumah sakit (RS). Pasien merupakan rujukan dari RS lain dengan cedera kepala berat. Dari hasil Computed Tomography (CT) scan kepala didapatkan epidural hematoma (EDH) akut frontal kiri frontal kanan parasagital yang menekan lobus frontal kiri lobus frontal kanan parasagital dengan midline shift sejauh 1.35 cm. Hasil pemeriksaan screening menunjukan hasil swab PCR positif. Pasien awalnya akan dirujuk ke RS rujukan COVID-19 namun tidak berhasil mendapatkan rujukan. Perdarahan epidural merupakan kondisi yang mengancam nyawa sehingga tindakan harus segera dilakukan. Pasien menjalani operasi emergensi kraniotomi evakuasi EDH dalam anestesi umum dengan protokol COVID-19. Penanganan anestesi dengan memperhatikan COVID-19 dan implikasinya pada pasien, neuroanestesi, dengan tetap menerapkan protokol COVID-19
Manajemen Anestesi untuk Evakuasi Perdarahan Subdural Pasien Cedera Otak Traumatik dengan Gagal Ginjal Kronis Maharani, Nurmala Dewi; Prihatno, MM Rudi; Fuadi, Iwan; Hamzah, Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.507

Abstract

Pengelolaan anestesi pada kasus subdural hematom disertai penyakit ginjal kronis dengan riwayat hemodialisis memberikan permasalahan bagi ahli anestesi Perubahan hemodinamik perioperatif serta perubahan farmakodinamik dan farmakokinetik obat membuat manajemen perioperatif dan pemilihan regimen anestesi serta cairan harus dipertimbangkan intraoperatif terhadap efek penurunan fungsi ekskresi ginjal pada pasien penyakit gagal ginjal kronik dengan riwayat hemodialisa. Pasien laki-laki, 56 tahun dibawa ke instalasi gawat darurat mengalami penurunan kesadaran setelah kecelakaan lalu lintas sejak 1 hari yang lalu. Pasien dengan riwayat penyakit gagal ginjal kronis serta rutin hemodialisis tiap seminggu sekali. Pada pemeriksaan CT Scan kepala didapatkan hematom subdural di regio temporoparietal sinistra. Pasien preoperatif dilakukan hemodialisa tanpa menggunakan heparin. Diputuskan untuk dilakukan kraniotomi evakuasi dengan induksi anestesi dengan propofol 1 mg/kgbb, fentanyl 2 gr /kgbb, lidokain 1 mg/kgbb dan rocuronium 0.5 mg/kgbb. Pasien diintubasi dengan ETT 7,5 dilanjutkan rumatan anestesi dengan propofol 50 gr /kgbb/menit, fentanyl 2 gr/kg/jam dan rocuronium 5 gr/kg/menit. Monitoring standar elektrokardiografi, SpO2, dan arteri line. Setelah operasi pasien dirawat diruang intensif selama 3 hari. Pasien post operatif diberikan sedasi analgetik dengan dexmedetomidine 0,2- 0,7 gr /kg/jam
Efek Penggunaan Propofol terhadap Kejadian Disfungsi Kognitif Pasca Operasi pada Pasien Lanjut Usia: Sebuah Telaah Sistematik Firdaus, Riyadh; Tantri, Aida Rosita; Wicaksana, Daffa Abhista; Theresia, Sandy; Anakotta, Vircha
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.481

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Disfungsi kognitif pascaoperasi/Postoperative Cognitive Dysfunction (POCD) umum terjadi pada pasien usia lanjut setelah operasi. Propofol merupakan salah satu agen anestesi yang sering digunakan, namun keterkaitannya dengan kejadian POCD. Telaah sistematik ini bertujuan mengetahui efek anestesi propofol terhadap POCD pada pasien lanjut usia.Subjek dan Metode: Penelusuran literatur melalui database PubMed, Cochrane, dan ScienceDirect untuk mengidentifikasi semua uji acak yang membandingkan tingkat kejadian POCD pada pasien lanjut usia ? 55 tahun yang menerima agen anestesi propofol dengan agen anestesi lainnya dan dipublikasikan dalam Bahasa Inggris. Artikel sekunder yang bukan merupakan jurnal dan artikel penelitian akan dieksklusi. Cochrane Risk of Bias digunakan untuk menilai potensi bias. Hasil: Kami mengidentifikasi 3 uji acak dengan total 478 pasien yang menjalani pembedahan. 478 pasien yang menjalani operasi non-kardiak. 212 subjek mendapatkan intervensi propofol, 266 mendapat intervensi agen anestesi lain seperti dexmedetomidine, midazolam, atau sevoflurane. Mayoritas membahas perbandingan propofol dan agen anestesi lain terhadap kejadian POCD pada bedah non-kardiak Simpulan: Propofol dan agen anestesi lain seperti dexmedetomidine, midazolam, dan sevoflurane tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap insidensi POCD pada pasien lanjut usia. Namun, propofol terbukti memiliki insidensi POCD jangka pendek yang lebih rendah dibandingkan dengan agen anestesi lain..

Page 1 of 1 | Total Record : 8