cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 363 Documents
Penatalaksanaan Anestesi pada Operasi Epilepsi Rebecca Sidhapramudita Mangastuti; Sri Rahardjo; A Himendra Wrgahadibrata
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2184.418 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i2.64

Abstract

Kejang adalah perubahan fungsi otak secara mendadak dan sementara akibat aktifitas nueron yang abnormal sehingga terjadi pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini dapat bersifat parsial atau general, berasal dari daerah spesifik korteks serebri atau melibatkan kedua hemisfer otak. Kejang disebabkan oleh banyak faktor, yaitu penyakit serebrovaskuler (stroke iskemik, stroke hemoragik), gangguan neurodegeneratif, tumor, trauma kepala, gangguan metabolik, infeksi susunan saraf pusat (SSP) seperti ensefalitis, meningitis. Penyebab lain adalah gangguan tidur, stimulasi sensori atau emosi, perubahan hormon, kehamilan, penggunaan obat-obatan yang menginduksi kejang (teofilin dosis tinggi, fenotiazin dosis tinggi), antidepresan (maprotilin atau bupropion), kebiasaan minum alkohol. Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy (IBE) pada tahun 1981, epilepsi adalah suatu kelainan otak yang ditandai adanya faktor predisposisi yang dapat mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurologis, kognitif, psikologis dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya. Diagnosa epilepsi ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan electroencephalography (EEG). Umumnya, epilepsi diterapi dengan obat antiepilepsi atau anti konvulsan. Apabila kejang tidak teratasi dengan obat oral, dapat dilakukan terapi invasif atau pembedahan, berupa non brain epilepsy surgery atau brain epilepsy surgery. Di Inggris, diperkirakan 0,5–2% total penduduk, menderita epilepsi, dimana 13% memerlukan terapi invasif atau pembedahan. Studi retrospektif, membuktikan, pengobatan invasif atau pembedahan pada epilepsi yang tidak respons terhadap obat oral, telah berhasil mengurangi serangan kejang. Penatalaksanaan anestesi pada epilepsi merupakan tantangan tersendiri bagi dokter anestesi. Diperlukan pemilihan gas, anestetika intravena dan teknik anestesi yang tidak memicu serangan kejang selama operasi. Interaksi dan efek samping obat anti epilepsi harus diperhitungkan saat anestesi.Anesthesia Management on Epilepsy SurgeySeizures are sudden changes in brain function and activity of abnormal neuron activity causing cerebral excessive electrical discharges. May be partial or general, comes from a spesific region of the cerebral cortex or both hemispheres. Caused by cerebrovascular disease (ischemic stroke, hemorrhagic stroke), neurodegenerative disorders, tumors, head trauma, metabolic disorder, central nervous system infection (encephalitis, meningitis). Another factor are sleep disorder, sensory of emotional stimulation, hormonal changes, pregnancy, use of drugs induce seizures (theophyline high-dose, phenothiazine high-dose), antidepresants (maprotilin or bupropion), drinking alkohol.International League Against Epilepsy (ILAE) and the International Bureau for Epilepsy (IBE) in 1981, epilepsy is a brain disorder that can trigger epileptic seizures, neurological changes, cognitive, psychological and social consequences resulting. Diagnose is anamnesa, physical examnination and electroencephalography. Treated with antiepileptic drugs or anticonvulsant. If the seizures are not resolved, can be invasive or surgical therapy (non brain epilepsy surgery or brain surgery). In UK, 0,5 - 2% suffer from epilesy, 13% require surgical therapy. A retrospective study, prove that invasive treatment has succeeded. Management of anesthesia is a challenge for anesthesiology. Election necessary gas, intravenous and anesthesia techniques that do not trigger a seizure. Interaction and side effects of anti epileptic drugs should be calculated. 
Manajemen Anestesi untuk Tindakan Vp-Shunt pada Bayi Sindrom Crouzon dengan Hidrosefalus Bangun, Chrismas Gideon; Mafiana, Rose; Gaus, Syafruddin
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.983 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol8i1.211

Abstract

Sindrom Crouzon adalah sindrom dominan autosom yang ditandai dengan trias yaitu deformitas tengkorak, anomali wajah, dan eksoftalmus. Sindrom Crouzon memiliki prevalensi 1: 60.000 kelahiran. Sindrom ini disebabkan sinostosis dini sutura koronal dan sagital yang mengakibatkan dismorfisme wajah. Pada anestesi pasien dengan sindrom Crouzon, harus dilakukan langkah-langkah untuk antisipasi dan persiapan penanganan jalan napas yang sulit. Pada kasus ini, seorang bayi 5 bulan dengan sindrom Crouzon datang dengan keluhan kepala membesar sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Dari CT-scan didapatkan hidrosefalus, dan dilakukan tindakan VP-shunt. Telah diantisipasi adanya kesulitan intubasi, maka dilakukan persiapan alat-alat termasuk bougie anak. Bougie tersebut kemudian ternyata sangat berguna saat dilakukan intubasi ulang karena ketidaksesuaian ukuran tube endotrakeal. Operasi VP-shunt berjalan dengan baik, pasca operasi dan anestesi pasien sadar baik, respirasi dan hemodinamik stabil dan kemudian pindah ke ruang rawat biasa. Dalam penanganan pasien ini, antisipasi, peralatan difficult airway yang lengkap, rencana alternatif, serta pendekatan multidisiplin sangat diperlukan.Anaesthetic Management for VP-Shunt in Baby Crouzon syndrome with HydrocephalusCrouzon syndrome is an autosomal dominant syndrome characterized by triad of skull deformity, facial anomalies, and exophthalmos. Crouzon syndrome has a prevalence of 1: 60,000 births. This syndrome is characterized by early synostosis of coronal and sagittal sutures which leads to facial dysmorphism. In Crouzon syndrome, steps must be taken to anticipate and prepare for difficult airway handling.In this case, a 5-month-old baby with Crouzon syndrome presents with an enlarged head complaint 2 months before being hospitalized. CT scan showed hydrocephalus was, and VP-shunt action was planned. It is anticipated that there will be difficulty in intubation, so preparations for tools including child bougie were made. Bougie then turned out to be very useful because it had to be re-intubated because of the incompatibility of the size of the endotracheal tube. VP-shunt surgery works well, surgery and anesthesia were uneventful, then patient moved to the ward. Anticipation, complete difficult airway equipment and alternative plans, as well as a multidisciplinary approach are needed in handling these patients.
Penanganan Anestesi pada Pasien Pediatri dengan Cedera Otak Traumatik Sedang, Fraktur Impresi dan Edem Serebri Dhania A Santosa; Prihatma Kriswidyantomo; Pesta Parulian Maurid Edwar; Hamzah Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2454.631 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.33

Abstract

Cedera otak traumatik merupakan penyebab terbanyak kecacatan dan kematian pada anak dan orang dewasa. Di Amerika Serikat, terjadi lebih dari 510.000 kasus cedera otak traumatik per tahun pada anak-anak usia 0-14 tahun;1 dengan 2.000–3.000 di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuan dari penanganan cedera otak traumatik selain menangani cedera primernya, juga untuk mencegah terjadinya cedera sekunder. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan didiagnosis dengan cedera otak traumatik sedang, fraktur impresi regio temporo parietal kanan dan edema serebri dengan komorbiditas anemia, rencana akan dilakukan pembedahan darurat untuk debridement, eksplorasi duramater dan rekonstruksi tulang. Pembedahan dilakukan dengan anestesi umum intubasi endotrakeal dan berjalan selama tujuh jam. Kondisi pasien selama pembedahan relatif stabil dan setelahnya dirawat di Ruang Observasi Intensif dengan bantuan ventilator. Setelah memastikan kondisi ekstrakranial normal, pasien kemudian disapih dari ventilator dan diekstubasi keesokan harinya. Pasien dipulangkan pada hari kedelapan setelah kejadian.Anesthesia Management in Pediatric Patient with Moderate Traumatic Brain Injury, Impression Fracture and Cerebral OedemaTraumatic brain injury is the leading cause of morbidity and mortality in pediatric and adult patients. In United States, 510,000 cases of traumatic brain injury occur each year in children aged 0-14 years;1 with 2.000-3.000 pass away each year. Cure the primary insult and prevent secondary injury are the important thing in traumatic brain injury. A 12-year-old boy had a motor vehicle accident and was diagnosed with moderate traumatic brain injury, impression fracture at the right temporo parietal region and cerebral edema, with anemia, planned for emergency surgery of debridement, duramater exploration and bone reconstruction. Surgery was done under general anesthesia using endotracheal intubation and lasted for seven hours. Patient’s condition remained relatively stable during surgery and was observed with ventilator supported in Intensive Observation Ward afterward. Once extracranial factors considered normal, patient was weaned and extubated the next day. Patient was sent home on the eight day after incident. Cedera otak traumatik merupakan penyebab terbanyak kecacatan dan kematian pada anak dan orang dewasa. Di Amerika Serikat, terjadi lebih dari 510.000 kasus cedera otak traumatik per tahun pada anak-anak usia 0-14 tahun;1 dengan 2.000–3.000 di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuan dari penanganan cedera otak traumatik selain menangani cedera primernya, juga untuk mencegah terjadinya cedera sekunder. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan didiagnosis dengan cedera otak traumatik sedang, fraktur impresi regio temporo parietal kanan dan edema serebri dengan komorbiditas anemia, rencana akan dilakukan pembedahan darurat untuk debridement, eksplorasi duramater dan rekonstruksi tulang. Pembedahan dilakukan dengan anestesi umum intubasi endotrakeal dan berjalan selama tujuh jam. Kondisi pasien selama pembedahan relatif stabil dan setelahnya dirawat di Ruang Observasi Intensif dengan bantuan ventilator. Setelah memastikan kondisi ekstrakranial normal, pasien kemudian disapih dari ventilator dan diekstubasi keesokan harinya. Pasien dipulangkan pada hari kedelapan setelah kejadian.
Peran Protease Calpains pada Neurotrauma MM Rudi Prihatno; Sudadi Sudadi
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.12 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i2.165

Abstract

Cedera otak traumatik merupakan kejadian yang dapat berakibat fatal bila tidak mendapatkan penatalaksanaan yang adekuat. Penatalaksanaan tersebut dapat berupa terapi medikamentosa ataupun intervensional non-farmakologik seperti pemberian oksigen dengan ventilasi mekanik, tindakan pembedahan, dan lain sebagainya. Hal terpenting yang paling baik dilakukan adalah penatalaksanaan awal pasca kejadian, dimana proses-proses metabolik di otak sangat mempengaruhi hasil akhir dari kondisi seluler otak. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah penatalaksanaan pencegahan pemburukan dampak cedera otak traumatik dengan intervensi yang memanfaatkan jalur-jalur iskemik yang sudah diketahui, salah satunya adalah protease calpain The Role of Calpains Protease in Neurotrauma Traumatic brain injury is an event that can be fatal if not get an adequate management. Treatment may be either medical therapy or interventional non-pharmacological, such as providing oxygen with mechanical ventilation, surgery, and so forth. The most important thing is best done early post-incident management, in which metabolic processes in the brain greatly affect the outcome of the condition of the brain cell. One of the consideration is the impact of deterioration prevention treatment of traumatic brain injury with interventions that harness ischemic pathways already known, one of which is the protease calpain. 
Luaran Pasien Cedera Kepala Berat yang Dilakukan Operasi Kraniotomi Evakuasi Hematoma atau Kraniektomi Dekompresi di RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Zafrullah Kany Jasa; Fachrul Jamal; Imam Hidayat
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2229.909 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i1.128

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Kraniotomi evakuasi hematoma dan kraniektomi dekompresi merupakan suatu tindakan definitif terhadap pasien cedera kepala berat. Perlu dilakukan suatu evaluasi untuk mengetahui luaran tindakan pembedahan sebagai informasi dalam memperbaiki dan mengurangi morbiditas dan mortalitas baik di bidang anestesi maupun bedah saraf.Subjek dan Metode: Penelitian deskriptif ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin terhadap 83 pasien pasien cedera kepala berat yang dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi hematoma atau kraniektomi dekompresi yang kemudian di rawat di ICU selama tahun 2012. Pasien dilakukan operasi dalam 24 jam setelah masuk rumah sakit dan kemudian dirawat di ICU. Dilakukan pencatatan umur, jenis kelamin dan luaran setelah operasi yaitu perbaikan fungsi motorik dan angka kematian selama rawatan 5 hari di ICU. Hasil: Pasien yang masuk dalam penelitian dengan jumlah 56 (67%) laki-laki dan 27 (33%) perempuan dengan usia sebagian besar 15-20 tahun 27% usia lebih dari 40 tahun 35%. Terdapat perbaikan fungsi motorik dalam skala penilaian GCS pada pasien setelah operasi terutama pada skala motorik 1 sampai 3 menjadi skala 2 sampai 5 setelah operasi. Angka kematian dalam 5 hari rawatan mencapai 57% (48 pasien) dan pasien yang hidup setelah 5 hari pasca operasi 43% (35 pasien). Sebagian besar kematian terjadi pada perawatan hari ke 2 (25%) dan hari ke 3 (35%).Simpulan: Tindakan operasi kraniotomi untuk evakuasi hematoma atau kraniektomi dekompresi pada pasien cedera kepala berat dapat memperbaiki fungsi motorik dan angka kematian 57% setelah 5 hari rawatan awal di ICU. Postoperative Outcome of Patients with Severe Traumatic Brain Injury Undergoing Craniotomy to Evacuate Hematoma or Decompressive Craniectomy at Dr. Zainoel Abidin Hospital Banda AcehBackgroud and Objective: Craniotomy to evacuate hematoma and decompressive craniectomy is definitive treatment for severe head injury patients. We need to evaluate the outcome after surgery as the basis information for improve management and to reduce mortality and morbidity rate in neuroanesthesia or neurosurgery as well.Subject and Method: This descriptive research was conducted in Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh on 83 severe head injury patients undergoing craniotomy to evacuate hematoma or decompressive craniectomy continued with postoperative care in the intensive care unit in 2012. Age, sex, and outcome motoric function on GCS scale and morbidity were recorded during 5 day care in the ICU. Results: Eighty three severe head injury patients at Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh underwent craniotomy to evacuate hematoma or decompressive craniectomy continued with postoperative care in the ICU in 2012 were included with 56 (67%) male and 27(33%) female, aged 15‒20 y.o (27%) and 40 y.o (35%). Motoric function was improved from 1‒3 to 2‒5 according to GCS scale after the surgery. There were 48 (57%) patients died and 35 (43%) patients survived after undergoing surgery and 5 day tratment in the ICU. Most of death happened on day 2 (25%) and day 3 (35%). Conclusion: Craniotomy to evacute hematoma or decompressive craniectomy may improve the motoric function with mortality rate 57% during initial 5 day in ICU.
Hubungan antara Skor GCS dengan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pasien Cedera Otak Traumatik di IGD RSUD Ulin Banjarmasin Suharto, Gusti Muhammad Fuad; Sikumbang, Kenanga M; Pratiwi, Dewi I N
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2670.771 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i3.208

Abstract

AbstrakLatar Belakang dan Tujuan: Pada cedera otak traumatik (COT) terjadi perubahan tingkat kesadaran dan neurologis pasien, sehingga perlu dilakukan penilaian skor GCS untuk mengkategorikan tingkat keparahan COT. Saat terjadinya COT, akibat dari pengeluaran mediator inflamasi, hati akan mengeluarkan suatu penanda pertama inflamasi, yaitu c-reactive protein (CRP). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor GCS dengan kadar CRP pasien COT di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.Subjek dan Metode:Penelitian ini menggunakan studi desain observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Data diambil secara prospektif dengan metode consecutive sampling pada pasien COT yang masuk ke IGD RSUD Ulin Banjarmasin periode Juli-September 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusiHasil:Didapatkan 53 subjek terdiri dari 42 pasien laki-laki dan 11 pasien perempuan dengan distribusi 22 (41,5%) pasien COT ringan, 20 (37,7%) pasien COT sedang, dan 11 (20,8%) pasien COT berat. Pengukuran kadar CRP didapatkan rata-rata 4,64 mg/l pada COT ringan, 18,00 mg/l pada COT sedang, dan 26,73 mg/dl pada COT berat. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukan peningkatan kadar CRP seiring dengan semakin beratnya COT (p=0,034), analisis Post Hoc menggunakan Mann-Whitney Test didapatkan perbedaan bermakna peningkatan kadar CRP antara pasien COT sedang berat dibandingkan COT ringan.Simpulan: Terdapat hubungan antara skor GCS dengan kadar CRP pada pasien cedera otak traumatik.Correlations between GCS Score and C-Reactive Protein (CRP) in Patients with Traumatic Brain Injury at Emergency Departement of Ulin General Hospital BanjarmasinAbstractBackgound and Objective: In traumatic brain injury (TBI), the level of severity could be assessed by GCS, so it is necessary to measure the GCS score to categorize the severity of TBI. TBI may followed by inflammatory mediators cell and one of inflammation marker released by liver, namely c-reactive protein (CRP).The purpose of this study is to analyze correlation between GCS scores and CRP levels in patients with traumatic brain injury at the emergency departement of Ulin General Hospital Banjarmasin. Subject and Method: This study is a analytic observational study with cross sectional design. Data acquired prospectively with consecutive sampling method in TBI patients who entered the emergency department of Ulin General Hospital in the period from July-September 2018 that fulfilled inclusion criteria and exclusion criteria.Result: We obtained 53 subjects consisted of 42 males and 11 females with a distribution of 22 (41.5%) mild TBI patients, 20 (37.7%) modarate TBI patients, and 11 (20,8%) severe TBI patients. Measurements of CRP levels were obtained at an averange of 4.64 mg/l in mild TBI, 18.00 mg/l in moderate TBI, and 26.73 mg/l in severe TBI. There was correlation between the increasing of CRP levels with severity of TBI using Kruskal-Wallis test with a confidence level of 95% (p=0.034), in Post Hoc analysis using Mann-Whitney test, there was significant differences in elevated CRP levels between moderate-severe TBI patients compared to mild TBI patients. Conclusion: It was concluded that there was a corellation between GCS scores and CRP levels in TBI patients.
Penatalaksanaan Anestesi pada Tindakan Bedah Tumor Fossa Posterior: Serial Kasus Iwan Abdul Rachman; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3346.039 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.57

Abstract

Fossa posterior atau fossa infratentorial merupakan kompartemen yang padat serta kaku dan tidak dapat melakukan penyesuaian terhadap penambahan volume isinya. Sedikit penambahan volume isi misalnya akibat tumor atau hematoma, dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang signifikan di dalam kompartemen tersebut sehingga terjadi penekanan pada batang otak yang mengancam kehidupan. Tindakan operasi pada fossa posterior memberikan tantangan bagi ahli anestesiologi dikarenakan risiko tinggi terjadinya disfungsi batang otak, posisi pasien, pengawasan neurofisiologis intraoperatif, dan risiko potensial terjadinya emboli udara vena (venous air embolism/VAE). Berikut ini serial kasus mengenai pasien yang dilakukan tindakan kraniotomi pengangkatan tumor atas indikasi tumor infratentorial pada cerebellopontine angle (CPA) dan serebellar astrositoma. Data telah menunjukkan risiko terjadinya VAE pada posisi duduk yaitu antara 40%–45%, sedangkan pada posisi lateral, telungkup, park bench lebih rendah yaitu antara 10%–15%. Pada serial kasus ini posisi ketiga pasien diposisikan dengan posisi park bench dan tidak terjadi adanyaVAE. Kasus ini dapat memperkuat data dalam penurunan resiko terjadinya VAE adalah dengan posisi park bench. Oleh karena itu, pencegahan dari terjadinya VAE sangatlah penting diketahui oleh ahli anestesiologi untuk mengurangi mortalitas pada pasien dengan tindakan bedah fossa posterior.Anesthesia in Surgical Management Measures Posterior Fossa Tumors: Serial CaseThe posterior fossa or infratentorial fossa is a compact and rigid compartment with poor compliance. Small additional volumes (e.g. tumour, haematoma) within the space can result in significant elevation of the compartmental pressure resulting in life-threatening brainstem compression. Surgery in the posterior fossa presents the significant challenges in addition to special problems related to brain stem dysfunction, patient positioning, intraoperative neurophysiologic monitoring, and the potential for venous air embolism (VAE). This serial case present anaesthetic management in tumor removal surgeries (infratentorial in cerebello pontine angle/CPA and cerebellar astrocytoma). Data have shown the risk of VAE in the sitting position 40% - 45%, lateral and park bench position 10% – 15%. In these three cases all the patient with park bench position. This case can strenghthen data in a decrease in the risk of VAE is the park bench position. Therefore, prevention of the occurrence of VAE is very important to be known by the anesthesiologist to reduce mortality in patients with posterior fossa surgery.
Proteksi Otak pada Operasi Jantung Prieta Adriane; Cindy E. Boom
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16365.027 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i1.189

Abstract

Penelitian tentang mneuroproteksi telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan selam lebih dari 30 tahun, namun deficit neurologi pascaoperasi jantung tetap merupakan penyebab morbiditas pasca operasi. Hasil akhir neurologis merupakan akibat dari bermacam-macam factor etiologi, banyak klinisi di seluruh dunia telah menyadari pentingnya masalah ini dan usaha yang lebih lanjut telah dilakukan untuk meminimalkan insidensi disfungsi neurologis dan neurokognitif. Strategi untuk proteksi otak pada operasi jantung dilakuakn dalam dua tahap. Yaitu pencegahan dan pengobatan, masing-masing menggunakan intervnsi farmakologis dan non farmakologis. Strategis yang tepat dalam mencegah, mengurangi, atau mengobati baik stroke dan cedera neurologis, penyaringan preoperatiuf dan optimalisasi tatalkasana proteksi otak monitoring intraoperative, diagnosis serta terapi pascaoperasi yang dilakukan lebih awal terbukti lebih efektif. Brain Protection for Cardiac SugeryDespite more than 30 years of aggressive neuroprotective research by many investigators, neuropsychological deficit after cardiac surgery remains an important cause of postoperative morbidity. Neurological outcome is a result of a multifactorial etiology, many physicians world-wide have recognize the importance of this problem, and extensive efforts have been made in attempting to m inimize the incidence of neurological and neurocognitive dysfunction. Strategis for brain protection in cardiac surgery can be considered in two stages, prevention and therapy, each utilizing pharmacological and nonpharmacological interventions. Still to be defined are the strategies that could be effectively either prevent, reduce or ameliorate both stroke and neurological injury could encompass preoperative screening and optimization, intraoperative monitoring and management strategies, and early postoperative diagnosis and therapy.
Gambaran Faktor Risiko Kejadian Stroke di RSHS Bandung Periode Januari 2015 Desember 2016 ; Amalia, Lisda; Suwarman, S
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.553 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol7i3.18

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Stroke merupakan masalah kesehatan di dunia yang menjadi penyebab kematian kedua tertinggi. Epidemiologi pasien stroke berdasarkan faktor risikonya masih sangat bervariasi dan belum ada data yang melaporkan di Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian stroke. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan studi desain deskriptif dengan rancangan potong lintang. Data diambil secara retrospektif dengan metode total sampling dari rekam medis pasien stroke di bangsal neurologi RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Januari 2015Desember 2016 yang memenuhi kriteri inklusi dan eksklusi.Hasil: Didapatkan 1044 subjek terdiri dari 486 laki-laki dan 558 perempuan. Kelompok usia 55-64 tahun (33,3%), pendidikan tamat SD (45,3%), dan tidak bekerja (56,4%) merupakan prevalensi tertinggi dari subjek yang diteliti. Stroke iskemik memiliki prevalensi lebih tinggi dibandingkan stroke perdarahan dengan lokasi sistem karotis lebih tinggi (89,6%) dibandingkan sistem vertebrobasilar (10,4%). Faktor risiko tertinggi yaitu hipertensi. Simpulan: Insidensi pasien stroke lebih tinggi terjadi pada wanita, kelompok usia tua, pendidikan rendah, dan tidak bekerja. Kasus pasien stroke iskemik lebih sering terjadi dibandingkan dengan stroke perdarahan dengan lokasi sistem karotis lebih banyak dibandingkan sistem vertebrobasilar. Hipertensi merupakan faktor risiko paling sering mengakibatkan stroke.Profile of Stroke Risk Factors in Hasan Sadikin General Hospital Bandung During January 2015December 2016Background and Objective: Stroke is an important health issue causing the second most death worldwide. Epidemiology of stroke patients based on risk factors is highly variable without data to report regarding risk factors of stroke in West Java. Aim of this study is to find out profile of stroke risk factor.Subject and Method: This study is a descriptive study with cross section design. Data acquired retrospectively with total sampling method from medical records of stroke patients in Hasan Sadikin General Hospital from January 2015December 2016 that fulfills inclusion criteria and exclusion criteria.Result: Obtained 1044 subjects consisted of 486 males and 558 females. Subjects with age 5564 years old (33.3%), elementary school graduate (45.3%), and no occupation (56.4%) were the highest prevalence of studied subject. Ischaemic stroke had higher prevalence than haemorrhagic stroke with carotid system (89.6%) higher than vertebrobasilar (10.4%). Highest risk factor were hypertension. Conclusion: Incidence of stroke patients are higher in women, older age group, low education, and no occupation. Ischaemic stroke case patients were found more often than haemorrhagic stroke with carotid system more than vertebrobasilar system. Hypertension is the most common risk factor causing stroke.
Anestesi untuk Pengangkatan Meningioma Suprasella dengan Pendekatan Supraorbita Hadinata, Yudi; Isngadi, M.; Laksono, Buyung Hartiyo
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.681 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i3.158

Abstract

Anestesi pada kasus meningioma memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan. Otak merupakan jaringan yang tertutup oleh tulang kranium dan memiliki jaringan pembuluh darah yang banyak sehingga beresiko untuk terjadinya pendarahan dan edema. Kondisi jaringan otak yang rileks dibutuhkan ketika akan dilakukan operasi otak melalui insisi kecil supraorbita. Tanpa penanganan anestesi yang baik maka ahli bedah saraf akan kesulitan untuk melakukan pendekatan pada tumor dan meningkatkan resiko edema otak karena manipulasi operasi. Pada kasus ini dilaporkan pasien wanita usia 44 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala hebat dan pusing dirasakan sejak 8 bulan sebelum masuk rumahsakit, mengalami periode kejang selama 12 menit, terjadi kurang lebih 1x/bulan, penglihatan pada mata kanan buram. Pasien didiagnosa dengan meningioma suprasellar, dan direncanakan dilakukan pembedahan dengan pendekatan subfrontal. Status fisik ASA 3 dengan riwayat asma, riwayat sepsis karena pneumonia dan infeksi saluran kemih, riwayat Steven Johnson karena phenytoin, leukositosis 10.570, defisit neurologis. Pasien dilakukan tindakan anestesi umum dengan intubasi. Induksi dengan midazolam, fentanyl, lidokain, propofol, dan vecuronium. Operasi dengan pendekatan supraorbita berlangsung selama 10 jam. Pascabedah, pasien dirawat di Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit/ICU) selama 2 hari sebelum pindah ruangan. Kontrol faktor fisiologi dan perlakuan anestesi yang dilakukan selama operasi memiliki pengaruh kepada jaringan otak. Lebih lanjut lagi, seorang dokter anestesi harus memiliki pengetahuan tentang berbagai macam efek obat untuk mencapai hal tersebut dan mengetahui kondisi premorbid pasien yang dapat mempengaruhinya.Anesthesia Management for Suprasella Meningioma Removal with Supraorbital Approach Anesthesia for meningioma presents special considerations. The brain is enclosed in a rigid skull and the brain is a highly vascular organ presenting potential for massive perioperative hemorrhage and edema. A slack brain is necessary when treating neoplastic lesions through the small supraorbital approach. Without optimal anesthesia care, the neurosurgeon can not reach the operative site and the risk of brain edema due to extensive brain manipulation is increased. This case reports a 44 years old woman with severe headache and dizziness for 8 months prior to admission she suffers from 12 minutes periods of seizure once a month, and experienced a blured vision on her right eye. She was diagnosed with suprasellar meningioma, which will be removed with supraorbital surgical approach. ASA 3rd was confirmed with history of status asthmaticus, septic condition due to pneumonia and urinary tract infection, history of Steven-Johnson syndrome due to phenytoin, leucocytosis of a count of 10.570, and neurological deficits general anesthesia was performed. Induction of anesthesia was done using midazolam, fentanyl, lidocaine, propofol and vecuronium. The surgery for meningioma was conducted within 10 hours. Patient was managed in the Intensive Care Unit post operatively for 2 days prior to ward transfer. Physiologic and anesthetics factors controlled by the anesthesiologist have profound effects on the brain. Furthermore, anesthesiologists are required knowledge of the effects of various drugs on the issues mentioned above and patient conditions.