cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 363 Documents
Penanganan Trigeminocardiac Reflex (TCR) selama Anestesi untuk Bedah Saraf Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.226 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i3.413

Abstract

Trigeminocardiac reflex (TCR) adalah suatu reflex batang otak unik yang manifest sebagai pertubasi cardio-respiratori negatif. Trigeminocardiac reflex didefinisikan sebagai kejadian tiba-tiba dari disritmia parasimpatetik, hipotensi simpatetik, apnea, atau hipermotilitas gastrik selama stimulasi cabang sensoris dari saraf trigeminal. Secara klinis, TCR telah dilaporkan terjadi pada semua prosedur bedah yang dipersarafi oleh saraf trigeminal. Refleks ini telah dilaporkan terjadi pada operasi skull base (dasar tengkorak), akan tetapi, baru-baru ini, juga berhubungan dengan banyak operasi bedah saraf yang lain, prosedur neurointervensional, juga pada operasi bukan bedah saraf dan pada keadaan tidak dioperasi. Refleks ini menunjukkan perubahan kardiovaskular yang menimbulkan komplikasi katastropik, memperburuk outcome, juga merupakan dilema dalam menegakkan diagnosis. Walaupun terdapat banyak literatur dengan laporan insidensi dan faktor risiko dari TCR, signifikansi fisiologis an fungsi belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Sebagai tambahan, ada hal yang kompleks dalam TCR yang memerlukan pengkajian dan klarifikasi. Bila terjadi TCR dapat dilakukan terapi dengan identifikasi dan modifikasi faktor risiko, penilaian kedalaman anestesi, pengobatan profilaksis dengan agen vagolitik atau blok saraf perifer jika terjadi manipulasi saraf perifer, pemantauan kardiovaskular yang cermat selama anestesi, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko TCR, penghentian manipulasi, dan pemberian agen vagolitik dan adrenalin. Karena itu, pada tulisan ini akan disampaikan tentang mekanisme, definisi, patofisiologi, manifestasi, diagnosis dan tatalaksananya.Trigeminocardiac Reflex (TCR) Management during Anesthesia for NeurosurgeryAbstractTrigeminocardiac reflex (TCR) is a unique brain stem reflex that manifests as negative cardio-respiratory perturbations. The trigeminocardiac reflex (TCR) is defined as the sudden onset of parasympathetic dysrhythmia, sympathetic hypotension, apnea, or gastric hypermotility during stimulation of any of the sensory branches of the trigeminal nerve. Clinically, the TCR has been reported in all the surgical procedures in which a structure innervated by the trigeminal nerve is involved. This reflex is largely reported in skull base surgeries/interventions; however, in recent times, it has been also linked with many neurosurgical, neurointerventional procedures, non-neurosurgical and non-surgical conditions. This reflex presents with many cardiovascular changes that can create catastrophic complications, worse outcome as well as diagnostic dilemmas. Although, there is an abundant literature with reports of incidences and risk factors of the TCR; the physiological significance and function of this brainstem reflex has not yet been fully elucidated. In addition, there are complexities within the TCR that requires examination and clarification. If a CTR occurs, it can risk factor identification and modification, depth of anesthesia assessment, prophylactic treatment with either vagolytic agents or peripheral nerve block in case of peripheral manipulations of the nerve, careful cardiovascular monitoring during anesthesia, especially in those with a risk factor for TCR, treatment of the condition when it occurs: cessation of the manipulation, and administration of vagolytic agents and adrenaline. Therefore, this narrative review intends to elaborate on its mechanisms, definition, pathophysiology, manifestations, diagnosis and management.
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien Spondilitis Tuberkulosis Torakalis dan Tumor Esktramedular (Meningioma Torakalis) T711 Adriman, Silmi; Bisri, Dewi Yulianti; Rahardjo, Sri; Wargahadibrata, A Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2662.638 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i2.111

Abstract

Spondilitis tuberkulosis dan tumor spinal merupakan dua dari banyak penyakit yang dapat menyebabkan kompresi dan lesi pada medula spinalis. Gejala klinis muncul sesuai dengan lokasi kompresi atau lesi, seperti kelemahan anggota gerak bawah, gangguan miksi dan gangguan neurologis lainnya. Pada hampir semua kasus, gejala-gejala yang muncul ini menjadi dasar dilakukannya tindakan pembedahan. Pada kasus seperti ini, pemilihan pengaturan posisi pasien saat dilakukan pembedahan, selain untuk mendapatkan akses yang optimal untuk ahli bedah, juga dapat mempengaruhi waktu pulih, morbiditas dan mortalitas. Pada kasus ini dilaporkan laki-laki, 16 tahun, dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) 15, berat badan 50 kg dan hemodinamik stabil, datang dengan keluhan kelemahan pada kedua kaki. Hasil magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan adanya abses pada vertebra torakal 78 dan tumor ekstramedular pada vertebra torakal 7-11. Pada pasien dilakukan tindakan laminektomi, pengangkatan tumor, drainase abses dan pemasangan stabilisasi posterior dengan anestesi umum. Tindakan pembedahan dilakukan pada posisi prone.Anesthetic Management of Tuberculous Spondylitis and Extramedullary Tumor (Thoracalis Meningioma) T711Tuberculous spondylitis and tumors of the spine are two of many commonly cause of multiple lesions and spinal cord compression. The location of the lesion often determines the clinical manifestation. Mild to severe limb weakness, urinary disturbance and other abnormality due to posterior column compression are the common clinical manifestations. In most cases, these symptoms were used as guidance for surgical treatment. In a case like this, patients position during surgery, in addition to gain optimal access for the surgeon, could affect recovery time, morbidity and mortality. This case reported a 16 years old male, with Glasgow Coma Scale (GCS) score 15, bodyweight 50 kgs with stable haemodynamic, admitted to hospital due to paresthesian both legs. Magnetic Resonance Imaging (MRI) revealed paravertebral abscess at vertebral body T7T8 and coincidencewith extramedullary tumor of the vertebrae T7T11. Laminectomy, tumor removal, abscess drainage and posterior fixation were performed under general anesthesia. Surgical intervention was done in prone position.
Perdarahan Gastrointestinal pada Stroke Iskemik Akut: Sebuah Tinjauan Pustaka Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2519.978 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i3.263

Abstract

Perdarahan gastrointestinal pada stroke iskemik akut disebabkan oleh proses neuroinflamasi pada sel otak yang mengalami iskemik. Edema otak yang terjadi pada pasien stroke iskemik akut mempengaruhi hipotalamus dan batang otak. Keterlibatan nukleus vagal pada batang otak menyebabkan peningkatan stimulasi dari vagus serta berkurangnya inhibisi vagus. Proses neuroinflamasi tersebut mempengaruhi sistem saraf parasimpatis menyebabkan hiperaktivitas vagal sehingga terjadi peningkatan pelepasan gastrin yang meningkatkan produksi asam lambung. Perdarahan gastrointestinal pada pasien stroke iskemik akut mengakibatkan penghentian atau penundaan terapi antiplatelet atau antikoagulan sehingga terjadi keadaan prokoagulasi, menyebabkan lebih mudah terjadi trombosis sehingga meningkatkan risiko stroke ulang dan luaran klinis yang buruk. Beberapa penelitian perdarahan gastrointestinal pada pasien stroke iskemik akut mempunyai prognosis yang kurang baik terhadap luaran. Luaran tersebut antara lain perburukan defisit neurologis, kematian di rumah sakit, dan memperpanjang lama perawatan.Gastrointestinal Bleeding in Acute Ischemic Stroke: A Literature ReviewAbstractGastrointestinal bleeding in acute ischemic stroke is caused by the process of neuroinflamation in ischemic brain cells. Brain edema that occurs in acute ischemic stroke patients affects the hypothalamus and brainstem. Involvement of the vagal nucleus in the brainstem results in increased stimulation of the vagus and reduced inhibition of the vagus. The neuroinflamation process affects the parasympathetic nervous system causing vagal hyperactivity resulting in an increase in gastrin release which increases gastric acid production. Gastrointestinal bleeding in patients with acute ischemic stroke results in the cessation or delay of antiplatelet or anticoagulant therapy, resulting in a procoagulatory state, making thrombosis easier, thereby increasing the risk of repeated strokes and poor clinical outcomes. Several studies of gastrointestinal bleeding in patients with acute ischemic stroke have a poor prognosis for outcomes. These outcomes include worsening neurological deficits, hospital deaths, and prolonged treatment.
Ambang Hemoglobin pada Cedera Otak Traumatik Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2059.871 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i3.73

Abstract

WHO mendefinisikan anemia bila konsentrasi Hb12g/dL pada wanita dan 13 g/dL pada laki-laki. Anemia merupakan salah satu komplikasi medikal yang paling sering pada pasien sakit kritis, termasuk pasien dengan kelainan neurologik. Kira-kira 2/3 pasien mempunyai kadar Hb12 g/dL pada saat masuk ke ICU, dan kemudian terjadi penurunan 0,5 g/dl/hari. Transfusi PRC memelihara hematokrit dan kapasitas pembawa oksigen, tapi dihubungkan dengan peningkatan resiko infeksi, gagal multiorgan termasuk gagal nafas, kejadian tromboembolik, dan kematian. Penelitian telah menunjukkan bahwa untuk kebanyakan pasien sakit kritis, tidak ada keuntungan untuk mempertahankan konsentrasi hemogloblin yang lebih tinggi.Disamping penemuan pada pasien sakit kritis, diketahui bahwa konsentrasi Hb serendah 7 g/dL tidak dapat ditolerir pada pasien dengan cedera otak traumatik berat maka indikasi transfusi bila Hb7g/dL. Penelitian telah menunjukkan tidak ada perbedaan dalam mortalitas atau mendukung suatu hubungan antara transfusi dengan lebih buruknya outcome. Mempertahankan konsentrasi Hb sekitar 9-10g/dL adalah suatu strategi terapi yang telah lama dilakukan untuk memperbaiki oksigenasi otak pada pasien dengan cedera otak traumatik. Kemungkinan efek menguntungkan lain dari mempertahankan konsentrasi Hb yang lebih tinggi adalah untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial yang dipicu oleh anemia dan untuk memberikan tekanan darah yang lebih tinggi serta tekanan perfusi otak yang lebih baik. Simpulan adalah anemia berat dan transfusi RBC bisa mempunyai pengaruh pada outcome klinis, transfusi restriksif aman dan sering dianjurkan, indikasi transfusi bukan dari kadar Hb tapi dari sinyal otak misalnya brain tissue oxygen tension dan regional cerebral oxygen saturation.Hemogloblin Treshold in Traumatic Brain InjuryWHO defined anemia as a Hb concentration 12 gr/dL in women and 13 g/dL in men. Anemia is one of the most common medical complication in critically ill patient, including patient with neurologic disorder. About 2/3 patient have Hb concentration 12 g/dL at the time of ICU admission with subsequent decrement of about 0.5 g/dL per day. PRC transfusion improve hematocrit and oxygen carrying capacity, but have correlation with increase infection risk, multiorgan failure including respiratory failure, thromboembolic event and death. The study show that for common critically ill patient, no benefit to keep Hb concentration in higher level. Beside in critically ill patient, Hb concentratrion as low as 7 g/dL can be tolerir in severe traumatic brain injury and indication for transfusion if Hb7g/dL. Study show that no different in mortality or support a relation between transfusion and worst outcome. Keeping Hb concentration arround 910g/dL is a strategy therapy to improve brain oxygenation in traumatic brain injury patient. The possibility othe advantageus in higher Hb concentration is to avoid increase ICP cause by anemia and to increase blood pressure and better cerebral perfusion pressure.The conclusion is severe anemia and RBC transfusion have some effect in clinical outcome, restrictive transfusion safe and advisable, transfusion indication not only from Hb level but from brain signaling ec brain tissue oxygen tension and regional cerebral oxygen saturation.
Defisit Neurologis Iskemik Tertunda pada Perdarahan Subaraknoid akibat Rupture Aneurisma yang dilakukan Tindakan Coiling Rahmatisa, Dimas; Prihatno, MM Rudi
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2747.478 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i2.220

Abstract

Stroke dapat terjadi akibat terhentinya aliran darah ke otak, yang terjadi secara mendadak. Penyebab terbanyak stroke adalah berkurangnya pasokan darah ke otak (stroke iskemik). Penyebab stroke lainnya adalah perdarahan (stroke hemoragik). Perdarahan subaraknoid (SAH) biasanya dapat terjadi baik karena ruptur aneurisma, atau karena trauma. Perempuan, 46 tahun dengan GCS 14 (E4M6V4) dengan hipertensi tidak terkontrol mengalami nyeri kepala hebat. Dari pemeriksaan CT scan memperlihatkan adanya perdarahan subaraknoid dan edema sereberi. Pasien ini dilakukan tindakan coiling aneurisma cito dengan anestesia umum. Pasca coiling pasien dirawat di ruang intensive care unit (ICU). Pasca perawatan 1 hari di ICU, pasien dipindahkan ke ruang high care unit (HCU), dengan kondisi stabil. Penurunan kesadaran mulai terjadi saat perawatan hari kedua, sempat dilakukan pemasangan lumbar drain pada hari ketiga, untuk membantu mengurangi hidrosefalus dan juga menurunkan tekanan intra kranial. Pada perawatan hari ketigabelas kesadaran menurun drastis menjadi E1M1V1, pasien dipindahkan ke ruang ICU, dan meninggal esok harinya. Penurunan kesadaran pasca coiling diakibatkan oleh peningkatan tekanan intra kranial, yang pada kasus ini disebabkan oleh edema sereberi luas. Early Brain Injury ditambah dengan adanya vasopasme menyebabkan terjadinya delayed ischemic neurological deficit. Terapi yang sudah dikerjakan baik farmakologis maupun non farmakologis, tetap tidak bisa memperbaiki keadaan pasien.Delayed Ischemic Neurological Defisit (DIND) Pasca Coiling Subarachnoid Hemorrhage (SAH) e.c Ruptur AneurismaAbstractStroke can occur due to the cessation of blood flow to the brain, which occurs suddenly. The most common cause of stroke is reduced blood supply to the brain (ischemic stroke). Another cause of stroke is bleeding in the brain (hemorrhagic stroke). Subarachnoid hemorrhage (SAH) usually results from ruptured aneurysms or because of trauma. Women, 46 years old with GCS 14 (E4M6V4) with uncontrolled hypertension experienced severe headache since 2 days before admitted to the hospital. The CT scan examination showed subarachnoid hemorrhage and edema of the brain. This patient then performed emergency coiling of aneurysm with general anesthesia. During the procedure the patient is in stable condition. Post coiling the patient was sent to the ICU room. After 1 day in ICU, the patient was transferred to high care unit (HCU) room, with stable condition. Decreased of consciousness began to occur during the second day of treatment, had done lumbar drain installation on the third day, to help reduce the hydrocephalus and also improve intra-cranial pressure. On the thirteenth day care GCS was decrease suddenly to E1M1V1, the patient was transferred to the ICU room, the next day the patient was declared dead. The decrease of consciousness post coiling results from an increase in intra-cranial pressure, which in this case is due to severe brain edema. Earlu brain injury along with the occurence of vasospasm lead to delayed ischemic neurological deficit. Pharmacological and non-pharmacological therapy had been given to the patient still couldnt improve the patient condition
Penatalaksanaan Anestesi pada Reseksi Tumor Batang Otak Krisna J. Sutawan, Ida Bagus; Bisri, Dewi Yulianti; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.765 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i2.44

Abstract

Batang otak adalah komponen dari fossa posterior, oleh karena itu penatalaksanaan anestesi pada reseksi tumor di batang otak tentunya mengikuti prinsip-prinsip umum penatalaksanaan anestesi pada fossa posterior ditambah dengan perhatian khusus terhadap komplikasi yang mungkin terjadi pada saat melakukan manipulasi pada batang otak. Seorang laki-laki 41 tahun dengan tumor batang otak mengeluh adanya pengelihatan ganda, rasa tebal dan nyeri pada wajah serta gangguan menelan, pada MRI ditemukan lesi difus batas tidak tegas di daerah pons sampai mid brain, curiga tumor otak primer (low grade tumor), nervus optikus dan kiasma optikum kanan kiri tampak normal. Pasien berhasil dianestesi dengan baik digunakan TCI- propofol monitoring standar ditambah monitoring invasif artery line dan pemasangan kateter vena sentral, intraoperatif pasien mengalami episode hipotensi tekanan darah (70/40 mmHg) dan bradikardia, (laju nadi 35 x/menit), oksigen 50%, fentanyl sevofluran dan rekuronium, digunakan akibat manipulasi pada batang otak. Postoperatif pasien dirawat di ICU dan diextubasi 12 jam kemudian.Anesthesia Management in Brain Steam Tumor ResectionBrain steam is a component of fossa posterior, ther fore anesthesia management for brain steam tumor resection should follow the general rule for anesthesia management of fossa posterior and a special concern for complication that could happen when brain steam is manipulated. Forty one year old male with a brain steam tumor complain a double vision, numbness and pain on the face, and swallowing problem, MRI show diffuse lesion on the pons to mid brain, suspect primary brain tumor (low grade tumor), nervus opticus and chiasma opticum are normal. Patient has been anesthesied well using TCI propofol, oxygen 50%, fentanyl, sevoflurane and rocuronium using invasive monitoring artery line and central venous catheter (CVC) in addition to standart monitoring. Intraoperatifly patient going through a hypotensive episode (blood pressure 70/40 mmHg) and bradycardia (heart rate 35x/minute that caused by manipulation on the brain steam. Postoperatifly patient is in the ICU and extubated on next 12 hours.
Penatalaksanaan Anestesi pada Perdarahan Intracerebral yang Disebabkan Stroke Hipertensi AR, Muhammad; Umar, Nazaruddin; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.749 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i3.176

Abstract

Perdarahan intracerebral (ICH) secara primer pada banyak kasus disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah akibat hipertensi kronis yang disebut hipertensif vaskulopati. Akibat perdarahan terjadi hematoma intracerebral yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dan penekanan pada jaringan otak sekitar yang menyebabkan terjadinya defisit neurologis yang bila tidak diatasi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan, maka perlu penanganan yang cepat dan tepat. Seorang laki-laki 56 tahun berat badan 70 Kg, datang ke rumah sakit dengan penurunan kesadaran yang terjadi tiba-tiba, sebelumnya paien mengeluh sakit kepala mempunyai riwayat penyakit darah tinggi, sejak lama dan tidak terkontrol. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan tambahan serta CT Scan didiagnosa dengan Stroke Hemorrhage dengan ICH luas di hemisfer kiri + hemiplegi kanan + hipertensi. Dilakukan operasi kraniotomi dekompresi externa, dengan bantuan anestesi umum, post operasi pasien di rawat ICU kesadaran penderita menjadi membaik, keadaan umum membaik, tekanan darah terkontrol, namun defisit neurologis masih tetap, pasien pulang / pindah ke rumah sakit terdekat untuk perawatan lanjutan berupa fisioterapi dan kontrol hipertensi pada hari ke-22. ICH karena stroke hemorrhage mempunyai angka kematian dan kecacatan yang tinggi, defisit neurologis yang sukar dihilangkan. Tindakan operasi bertujuan untuk menurunkan tekanan intrakranial dan mencegah kematian dan kecacatan tersebut. Maka tindakan yang cepat dan tepat harus segera dilakukan.Anaesthesia Management in Intracerebral Bleeding Caused by Hypertension StrokeIntracerebral hemorrhage (ICH) is primary in many cases are caused by the rupture of blood vessels due to chronic hypertension called vasculopathy hypertensive hematoma due to intracerebral haemorrhage occurred which resulted in an increase in intracranial pressure and pressure on surrounding brain tissue causing neurological deficits. which if not treated quickly can result in death or disability, it is necessary fast and precise handling. A 56 year male 70 kg weight gain admission with a chief complaint of decreased consciousness occur suddenly, before os os complain of headaches and a history of high blood pressure and uncontrolled for a long time. After a physical examination and CT scan and an additional diagnosed with ICH with extensive Hemorrhage Stroke at left hemisfer + right hemiplegi hypertension. Craniotomy surgical decompression externa, with the help of general anesthesia, postoperative care of patients in ICU patients with a better awareness, improved general condition, blood pressure under control, but the neurological deficit persists, the patient returned/moved to a near by hospital for further treatment in the form of physiotherapy and hypertensive on day-to-22. ICH due to hemorrhagic stroke have a high mortality and high disability, neurological devisit difficult removed. Surgery aims to reduce intracranial pressure and prevent death and disability is. So rapid and appropriate action must be done immediately.
Penatalaksanaan Hipertensi Perioperatif dan Anestesia pada Kraniotomi Evakuasi Perdarahan Intraserebral Spontan Suarjaya, I Putu Pramana; Mulyadi, Win; Sutawan, IB Krisna Jaya
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.499

Abstract

Pendarahan intraserebral spontan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi dengan case fatality rate satu bulan mencapai 40%. Pendarahan intraserebral adalah kasus gawat darurat. Evakuasi perdarahan intraserebral menjadi pilihan bila terjadi ekspansi volume bekuan darah yang bermakna disertai perburukan klinis. Penatalaksanaan perioperatif pendarahan intraserebral spontan yang baik akan menurunkan kejadian morbiditas dan mortalitas paska bedah. Pasien laki-laki 46 tahun datang dengan penurunan kesadaran, Glasgow Coma Scale (GCS) E3V5M6 dan lemas separuh badan sebelah kiri. Pada computerized tomography (CT) scan didapatkan pendarahan intraserebral pada lobus parieto-oksipital kanan dengan volume 22 ml disertai edema perifokal. Awalnya dilakukan penatalaksanaan konservatif, karena terjadi penurunan kesadaran dan perburukan klinis yang berlangsung dalam waktu singkat, dilakukan kraniotomi evakuasi bekuan darah intraserebral pada hari ketiga perawatan. Pasien dirawat di ruang rawat intensif pascabedah selama dua hari dan pindah ke ruang rawat biasa dengan GCS E4V5M6. Penatalaksanaan perioperatif untuk pasien stroke perdarahan intraserebral dengan riwayat hipertensi tak terkendali yang menjalani pembedahan evakuasi perdarahan segera karena terjadinya perburukan neurologis bertujuan untuk menjamin perfusi otak yang adekuat dan menyediakan kondisi lapangan pembedahan yang optimal. Tekanan darah yang stabil dan perfusi otak yang adekuat selama periode perioperatif, memungkinkan pasien pulih dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah.
Peran Platelet-Selectin sebagai Marker Agregasi Trombosit pada Trombosis Sinus Venosus Serebral Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.407

Abstract

Trombosis sinus venosus serebral (TSVS) merupakan penyakit akibat oklusi struktur vena intrakranial, termasuk sinus serebral, vena korteks, dan bagian proksimal vena jugularis. Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi seperti infark berdarah bahkan kematian. Trombosis yang menyebabkan TSVS adalah proses pembentukan bekuan darah dalam pembuluh darah. Trombosis terjadi jika keseimbangan antara faktor trombogenik dan mekanisme protektif trombogenesis terganggu. Kelainan fungsi trombosit pada kasus TSVS dapat berupa gangguan fungsi adhesi, gangguan reaksi pelepasan atau sekresi, dan gangguan fungsi agregasi. Disfungsi dan gangguan struktur endotel akibat inflamasi menyebabkan adhesi trombosit sehingga trombosit saling melekat dengan kolagen pada sel endotel. Proses adhesi dan sekresi granul trombosit dapat diprediksi dengan pemeriksaan Platelet-selectin (P-selectin) merupakan protein transmembran tipe 1 pada granul trombosit dan granul megakariosit serta berperan dalam memediasi interaksi antara leukosit dengan ligan yang membantu proses adhesi leukosit dan trombosit sehingga dapat dijadikan prediktor trombosis pada pasien dengan TSVS.
Manajemen Anestesi pada Kraniotomi Pengangkatan Tumor High Grade Astrocytoma pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis J. Sutawan, IB Krisna; Suarjaya, I Putu Pramana; Katipana, Madyline Victorya
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.500

Abstract

Tumor supratentorial merupakan tumor otak yang paling sering dijumpai baik itu berasal dari sel otak primer maupun metastasis dari keganasan yang lain. Selain status neurologis, riwayat penyakit penyerta juga penting untuk menjadi pertimbangan tersendiri dalam tatalaksana anestesi. Pasien laki-laki usia 60 tahun, datang dengan keluhan utama telapak tangan kanan yang gemetar disetai dengan rasa kesemutan dan berbicara pelo sejak kurang lebih satu minggu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan pasien dengan gangguan ginjal yang ditegakkan sebagai penyakit ginjal kronis yang disebabkan oleh sumbatan akibat infeksi pada ginjal. Selain itu, dari pemeriksaan fisik didapatkan pemeriksaan neurologis dalam batas normal, refleks fisiologis dalam batas normal, refleks patologis tidak ada, pada pemeriksaan nervus kranialis didapatkan nervus VII dekstra supranuklear dan XII dekstra supranuklear. Dari hasil magnetic resonance imaging (MRI) didapatkan gambaran Primary Malignant Brain Tumor suspek. High grade astrocytoma. Pasien lalu dilakukan operasi pengangkatan tumor dengan anestesi umum menggunakan kombinasi propofol dan dexmedetomidine sebagai agen anestesinya, sedangkan agen diuresis yang digunakan adalah larutan NaCl 3% untuk retraktor otak. Operasi berjalan selama 3 jam, dan paska operasi dilakukan ekstubasi dan pasien dirawat di ruang perawatan intensif. Prinsip tatalaksana neuroanestesi diterapkan dan pertimbangan agen anestesi yang disesuaikan dengan kondisi pasien dengan penyakit ginjal kronis harus diperhatikan pada pasien ini. Evaluasi preoperasi yang baik, komunikasi dan koordinasi yang baik antara tim bedah dan anestesi sangat diperlukan untuk kelancaran pembedahan kraniotomi.