cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 363 Documents
Faktor-faktor yang Berperan pada Status Epileptikus Non-konvulsivus di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Trislawati, Cristina; Gunadharma, Suryani; Gamayani, Uni; Wibisono, Yusuf; Sobaryati, Sobaryati; Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.423

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Status epileptikus merupakan kasus emergensi neurologis dengan mortalitas 57%, 63% merupakan status epileptikus non-konvulsivus (SENK). Diagnosis SENK tidak mudah karena pasien tidak menunjukkan bangkitan yang jelas sehingga diperlukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG). Penyakit serebrovaskular, infeksi susunan saraf pusat (SSP), tumor otak, penyakit autoimmun, dan gangguan metabolik dapat mengakibatkan SENK selain itu dapat memiliki gambaran klinis menyerupai SENK. Tujuan penelitian untuk melihat faktor-faktor yang berperan pada diagnosis SENK.Subjek dan Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang retrospektif pada 132 pasien dengan diagnosis klinis SENK di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode Juli 2017 Juni 2020. Hasil: Dari 132 subjek dengan diagnosis klinis SENK, hanya 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan EEG dilakukan pada semua pasien, sebagian besar dalam waktu 24 jam (82,4 87,9%), hanya 34 pasien yang terkonfirmasi sebagai SENK. Gangguan metabolik secara signifikan berperan pada SENK sebesar 29,4% (p=0,049). Pada pasien yang tidak terkonfirmasi SENK, penurunan kesadaran diakibatkan gangguan metabolik.Smpulan: Gangguan metabolik berperan pada kejadian SENK. Pasien dengan diagnosis klinis SENK memerlukan pemeriksaan EEG segera untuk menghindari diagnosis berlebihan
Sindrom Hiperperfusi Serebral Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.514

Abstract

Sindrom hiperperfusi serebral (cerebral hyperperfusion syndrome/CHS) adalah kondisi yang relatif jarang terjadi setelah endarterektomi karotis (carotidenarterectomy/CEA) atau stenting arteri karotis (carotid artery stenting/CAS) tetapi berpotensi dapat dicegah. Empat kriteria berikut untuk mendefinisikan CHS pasca-CEA: (1) Kejadian dalam waktu 30 hari pasca-CEA; (2) Fitur klinik seperti onset baru sakit kepala, kejang, hemiparesis, dan skala koma glasgow (GCS) 15 atau fitur radiologis termasuk edema serebral atau perdarahan intraserebral (ICH); (3) Bukti hiperperfusi (didefinisikan sebagai aliran darah serebral [CBF] 100% dari nilai perioperatif) pada studi pencitraan atau tekanan darah sistolik 180 mmHg; dan (4) Tidak ada bukti iskemia serebral baru, oklusi karotis pasca operasi dan penyebab metabolik atau farmakologis. Faktor kunci pada patofisiologi CHS adalah gangguan autoregulasi dan disfungsi baroreseptor, hipertensi kronis, mikroangiopati dan sawar darah otak, pembentukan radikal bebas, derajat beratnya carotid stenosis kronis dan sirkulasi kolateral. Faktor kunci dalam pencegahan dan pengobatan CHS adalah pengendalian tekanan darah, waktu dilakukan operasi karotid, obat-obat anestesi yang digunakan. Penggunaan profilaksis obat anti-epilepsi tidak dianjurkan. Bukti tentang penggunaan salin hipertonik dan manitol tidak kuat tetapi dapat diberikan jika pasien mengalami edema serebral, kortikosteroid dan barbiturat tidak diindikasikan. Hiperventilasi dan sedasi dapat diberikan jika pasien mengalami edema serebral
Tatalaksana Anestesi pada Pasien dengan Perdarahan Epidural dan Infeksi COVID-19 Widiastuti, Monika; Halimi, Radian Ahmad; Prihatno, M. Mukhlis Rudi; Hamzah, Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.450

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) masih menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Meskipun terjadi penurunan angka kejadian COT saat pandemi COVID-19 karena mobilisasi yang dibatasi, namun karena keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, penanganan COT menjadi terlambat. Penanganan pasien COT dengan infeksi COVID-19 berbeda karena adanya protokol dan pertimbangan yang harus dilakukan untuk keselamatan tenaga medis dan kelancaran penanganan pasien. Laporan kasus ini mengenai laki-laki berusia 41 tahun datang dengan penurunan kesadaran pasca kecelakaan kendaraan bermotor 24 jam sebelum masuk rumah sakit (RS). Pasien merupakan rujukan dari RS lain dengan cedera kepala berat. Dari hasil Computed Tomography (CT) scan kepala didapatkan epidural hematoma (EDH) akut frontal kiri frontal kanan parasagital yang menekan lobus frontal kiri lobus frontal kanan parasagital dengan midline shift sejauh 1.35 cm. Hasil pemeriksaan screening menunjukan hasil swab PCR positif. Pasien awalnya akan dirujuk ke RS rujukan COVID-19 namun tidak berhasil mendapatkan rujukan. Perdarahan epidural merupakan kondisi yang mengancam nyawa sehingga tindakan harus segera dilakukan. Pasien menjalani operasi emergensi kraniotomi evakuasi EDH dalam anestesi umum dengan protokol COVID-19. Penanganan anestesi dengan memperhatikan COVID-19 dan implikasinya pada pasien, neuroanestesi, dengan tetap menerapkan protokol COVID-19
Manajemen Anestesi untuk Evakuasi Perdarahan Subdural Pasien Cedera Otak Traumatik dengan Gagal Ginjal Kronis Maharani, Nurmala Dewi; Prihatno, MM Rudi; Fuadi, Iwan; Hamzah, Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.507

Abstract

Pengelolaan anestesi pada kasus subdural hematom disertai penyakit ginjal kronis dengan riwayat hemodialisis memberikan permasalahan bagi ahli anestesi Perubahan hemodinamik perioperatif serta perubahan farmakodinamik dan farmakokinetik obat membuat manajemen perioperatif dan pemilihan regimen anestesi serta cairan harus dipertimbangkan intraoperatif terhadap efek penurunan fungsi ekskresi ginjal pada pasien penyakit gagal ginjal kronik dengan riwayat hemodialisa. Pasien laki-laki, 56 tahun dibawa ke instalasi gawat darurat mengalami penurunan kesadaran setelah kecelakaan lalu lintas sejak 1 hari yang lalu. Pasien dengan riwayat penyakit gagal ginjal kronis serta rutin hemodialisis tiap seminggu sekali. Pada pemeriksaan CT Scan kepala didapatkan hematom subdural di regio temporoparietal sinistra. Pasien preoperatif dilakukan hemodialisa tanpa menggunakan heparin. Diputuskan untuk dilakukan kraniotomi evakuasi dengan induksi anestesi dengan propofol 1 mg/kgbb, fentanyl 2 gr /kgbb, lidokain 1 mg/kgbb dan rocuronium 0.5 mg/kgbb. Pasien diintubasi dengan ETT 7,5 dilanjutkan rumatan anestesi dengan propofol 50 gr /kgbb/menit, fentanyl 2 gr/kg/jam dan rocuronium 5 gr/kg/menit. Monitoring standar elektrokardiografi, SpO2, dan arteri line. Setelah operasi pasien dirawat diruang intensif selama 3 hari. Pasien post operatif diberikan sedasi analgetik dengan dexmedetomidine 0,2- 0,7 gr /kg/jam
Efek Penggunaan Propofol terhadap Kejadian Disfungsi Kognitif Pasca Operasi pada Pasien Lanjut Usia: Sebuah Telaah Sistematik Firdaus, Riyadh; Tantri, Aida Rosita; Wicaksana, Daffa Abhista; Theresia, Sandy; Anakotta, Vircha
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i3.481

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Disfungsi kognitif pascaoperasi/Postoperative Cognitive Dysfunction (POCD) umum terjadi pada pasien usia lanjut setelah operasi. Propofol merupakan salah satu agen anestesi yang sering digunakan, namun keterkaitannya dengan kejadian POCD. Telaah sistematik ini bertujuan mengetahui efek anestesi propofol terhadap POCD pada pasien lanjut usia.Subjek dan Metode: Penelusuran literatur melalui database PubMed, Cochrane, dan ScienceDirect untuk mengidentifikasi semua uji acak yang membandingkan tingkat kejadian POCD pada pasien lanjut usia ? 55 tahun yang menerima agen anestesi propofol dengan agen anestesi lainnya dan dipublikasikan dalam Bahasa Inggris. Artikel sekunder yang bukan merupakan jurnal dan artikel penelitian akan dieksklusi. Cochrane Risk of Bias digunakan untuk menilai potensi bias. Hasil: Kami mengidentifikasi 3 uji acak dengan total 478 pasien yang menjalani pembedahan. 478 pasien yang menjalani operasi non-kardiak. 212 subjek mendapatkan intervensi propofol, 266 mendapat intervensi agen anestesi lain seperti dexmedetomidine, midazolam, atau sevoflurane. Mayoritas membahas perbandingan propofol dan agen anestesi lain terhadap kejadian POCD pada bedah non-kardiak Simpulan: Propofol dan agen anestesi lain seperti dexmedetomidine, midazolam, dan sevoflurane tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap insidensi POCD pada pasien lanjut usia. Namun, propofol terbukti memiliki insidensi POCD jangka pendek yang lebih rendah dibandingkan dengan agen anestesi lain..
Perbandingan Status Nutrisi Pasien Stroke Iskemik Pertama dan Ulang di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Khairunnisa, Shafa Ayu; Amalia, Lisda; Fatimah, Siti Nur
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v12i1.444

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Stroke memiliki manifestasi klinis yang dapat menyebabkan rendahnya asupan nutrisi. Pasien stroke juga dapat mengalami stroke ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan status nutrisi pasien stroke iskemik pertama dan ulang berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Penilaian Global Subjektif (PGS).Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan analitik komparatif dari data rekam medis pasien stroke iskemik pertama dan ulang di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2018?2019. Metode pemilihan sampel dengan sampling konsekutif, sampel sebanyak 118 pasien untuk masing-masing kelompok. Analisis data nominal dengan uji Fishers Exact, data ordinal dan numerik dengan uji Mann Whitney. Hasil: Total 236 subjek pada kedua kelompok yang terdiri dari 130 pria dan 106 wanita dengan rata-rata usia 56,614,6 dan 61,811,4 tahun, mayoritas memiliki faktor risiko hipertensi. Berdasarkan IMT, mayoritas pasien dalam kategori normal dan obesitas pada strok iskemik pertama (33,05%) dan obesitas pada strok iskemik ulang (37,39%, p0,05). Kategori PGS B 64,41% dan 66,95% pada strok iskemik pertama dan ulang (p0,05).Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistika pada status nutrisi pasien stroke iskemik pertama dan ulang berdasarkan PGS dan IMT, namun secara proporsi pasien stroke iskemik ulang memiliki status nutrisi yang lebih buruk. Mayoritas pasien stroke iskemik mengalami obesitas, berlawanan dengan PGS yang menunjukkan pasien mengalami malnutrisi ringan-sedangComparison of Nutritional Status between First and Recurrent Ischemic Stroke Patients in Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital BandungAbstractBackground and Objective: Stroke has various clinical manifestations that can cause low nutritional intake. Stroke patients can also experience recurrent stroke. This study aims to determine the comparison of nutritional status in patients with first and recurrent ischemic stroke based on Body Mass Index (BMI) and Subjective Global Assessment (SGA).Subject and Methods: This study is a comparative analysis of the medical records of patients with first and recurrent ischemic stroke at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung period 2018?2019. The sample selection method was carried out by consecutive sampling with 118 patients for each group. Data analysis for nominal data was tested by Fishers exact test, for ordinal and numerical data tested by Mann Whitney test. Result: A total of 236 subjects in both groups of first and recurrent ischemic stroke patients consisting of 130 men and 106 women with an average age of 56,6414,60 and 61,7511,36 years, and the majority had risk factors for hypertension. Based on BMI, the majority of ischemic stroke patients were categorized as normal and obese in the first (33,05%) and obese in recurrent ischemic stroke (37,39%), p0,05. SGA B rating (64,41% in the first and 66,95% in the recurrent ischemic stroke), p0,05.Conclusion: There was no statistically significant difference in the nutritional status of first and recurrent ischemic stroke patients based on SGA and BMI, but the proportion of recurrent ischemic stroke patients had worse nutritional status. The majority of ischemic stroke patients are obese, in contrast to the SGA which shows that patients are mildly-moderately malnourished
Penatalaksanaan Anestesi Neonatus yang Menjalani Pembedahan Koreksi Giant Unruptured Occipital Meningoencephalocele Suarjaya, I Putu Pramana; Kharisma, Chau Febriani; Sutawan, IB Krisna Krisna Jaya
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v12i1.527

Abstract

Meningoencephalocele adalah kelainan kongenital, duramater dan kranium tidak menutup sempurna sehingga sebagian jaringan intrakranial berada di luar kranium terbungkus kantong cele. Manajemen jalan nafas neonatus, memberikan tantangan karena anatomi jalan nafas yang khusus, fungsi organ pernafasan yang terbatas serta perbandingan ukuran kepala dan badan yang ekstrim. Meningoencephalocele oksipital akan menambah tingkat kesulitan tindakan intubasi serta kontrol jalan nafas saat tindakan anestesi dan pembedahan. Pasien lakilaki, usia sembilan hari, dengan benjolan di oksipital berukuran 17x12x8 cm menjalani reseksi meningoencephalocele. Induksi anestesi dilakukan dengan inhalasi sevofluran, rokuronium untuk fasilitas laringoskopi intubasi dengan videolaringoskop pada posisi terlentang dengan bantalan donat sesuai dengan bentuk dan ukuran cele. Videolaringoskop dipilih karena visualisasi lebih optimal tanpa memerlukan ekstensi dan manipulasi berlebih dibanding laringoskop konvensional sehingga intubasi bisa dilakukan dalam posisi terlentang. Tindakan anestesi dan pembedahan berlangsung selama 2 jam 15 menit. Pascaoperasi pasien dirawat di ruang rawat intensif neonatus, ekstubasi 24 jam pascaoperasi dan diperbolehkan pulang pada hari kesepuluh. Tantangan terbesar pada anestesi reseksi meningoencephalocele oksipital adalah mengamankan jalan nafas sambil memastikan keutuhan kantong cele saat dilakukan manipulasi jalan nafas dan perubahan posisi selama pembedahan.Airway Management for NeonatesUnderwent Giant Unruptured Occipital Meningoencephalocele ResectionAbstractMeningoencephalocele is a rare congenital abnormality where duramater and cranium failed to close completely, leaving part of intracranial tissues outside the cranium wrapped in a sac. Neonates airway management, pose many challenges due to immaturity of airway anatomy, limited respiratory organ reserve and extreme head-to-body ratios. Occipital meningoencephalocele will also complicate the intubation and airway control during anesthesia and surgery. A nine days old male patient with an occipital lump measuring 17x12x8 cm underwent meningoencephalocele resection. Induction of anesthesia was performed by sevoflurane inhalation, rocuronium to facilitate videolaryngoscopy and intubation in supine position, supported by doughnut-shape pads which fits the size of the cele. Videolaryngoscope was chosen because it provides optimal visualization without hyperextension and over manipulation than conventional laryngoscope, therefore intubation can be done in supine position. Anesthesia and surgery duration was 2 hours and 15 minutes. The patient was treated in the neonatal intensive care unit after surgery, extubated 24 hours later, and discharged home 10 days after surgery. The greatest challenge in anesthesia management for occipital meningoencephalocele resection is securing the airway while ensuring the sac is not ruptured during airway manipulation and positional changes during anesthesia and surgery.
Kelainan Neurologi akibat Kondisi Hiperkoagulasi pada Pasien Coronavirus Disease-19 Amalia, Lisda
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v12i1.452

Abstract

Koagulopati merupakan salah satu manifestasi klinis dari Coronavirus Disease of 2019 (Covid-19) berat, dan menyebabkan buruknya prognosis penyakit. Manifestasi klinis dari Covid-19 memiliki spektrum yang luas, yaitu asimtomatik, gejala ringan tidak spesifik (demam, batuk kering, diare), pneumonia ringan, pneumonia berat (dispnea, takipnea, dan pertukaran gas terganggu), sindrom gangguan pernapasan akut (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS), koagulasi intravaskular diseminata (Disseminated Intravascular Coagulation/DIC), sepsis, dan sindrom disfungsi multiorgan multipel. Pasien Covid-19 mengalami keadaan inflamasi berat yang menyebabkan peningkatan aktivasi kaskade koagulasi, peningkatan trombin, dan keadaan hiperkoagulasi sehingga meningkatkan risiko terjadi trombosis di pembuluh darah otak maupun medulla spinalis. Keadaan seperti usia tua, merokok, hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronik, dan keganasan dapat meningkatkan risiko pasien mengalami derajat Covid-19 yang lebih berat dan mortalitas yang lebih tinggi. Keberadaan komplikasi Covid-19 seperti trombosis dapat mempengaruhi prognosis dan angka mortalitas pasien.Neurological Disorder Related Hypercoagulable Condition after Coronavirus Disease-19AbstractCoagulopathy is one of the clinical manifestations of severe Coronavirus Disease of 2019 (Covid-19), and causes a poor prognosis of the disease. The clinical manifestations of Covid-19 have a broad spectrum, namely asymptomatic, non-specific mild symptoms (fever, dry cough, diarrhea), mild pneumonia, severe pneumonia (dyspnea, tachypnea, and impaired gas exchange), acute respiratory distress syndrome (Acute Respiratory Syndrome). Distress Syndrome/ARDS), Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), sepsis, and multiple multiorgan dysfunction syndrome. Covid-19 patients experience a severe inflammatory state that causes an increase in the activation of the coagulation cascade, an increase in thrombin, and a hypercoagulable state, thereby increasing the risk of thrombosis in the blood vessels of the brain and spinal cord. Conditions such as old age, smoking, hypertension, diabetes, cardiovascular disease, chronic obstructive pulmonary disease, and malignancy can increase a patient's risk of experiencing a more severe degree of COVID-19 and higher mortality. The presence of Covid-19 complications such as thrombosis can affect the patient's prognosis and mortality
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Tetraparese yang dilakukan Reseksi Tumor Cervikal Ekstradural (C1-3) Jasa, Zafrullah Khany; Utami, Niken Asri; Arief, Hafizh
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v11i1.462

Abstract

Tumor ekstradural servikal merupakan salah satu tumor yang jarang dijumpai dan dapat menimbulkan permasalahan neurologis yang progresif. Defisit neurologis pada pasien usia produktif sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Tatalaksana pembedahan dilakukan bertujuan mengurangi nyeri, perbaikan kondisi neurologis, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Perempuan 25 tahun mengalami tetraparese yang progresif sejak 2 bulan sebelum masuk ke rumah sakit, MRI menunjukkan massa ekstradural yang menekan medula spinalis setinggi level vertebra servikalis 13. Pasien dilakukan operasi dengan prinsip neuroanestesi. Pascaoperasi, fungsi kekuatan motorik mengalami perbaikan yang signifikan. Telah dilakukan operasi pengangkatan tumor ekstradural pada pasien wanita dewasa dengan perdarahan 850 cc dan terjadi peningkatan fungsi motorik pada kedua ekstrremitas superior dan inferior pascaoperasi. Diperlukan manajemen perioperatif yang baik pada pasien dengan tumor spinal terutama pada daerah servikal. Antisipasi perdarahan dan trauma medula spinalis iatrogenik yang dapat selama tindakan operatif berlangsung. Evaluasi neurologis dan rehabilitasi pada pasien dilakukan dengan melibatkan tim multidisiplin. Tumor ekstradural merupakan salah satu jenis tumor spinal dengan yang bila dilakukan tindakan bedah saraf pada waktu yang tepat dan perioperatif anestesi yang baik dapat memperbaiki fungsi neuorologis dan luaran pascaoperasi.Anesthesia Management of Patient with Tetraparese underwent Cervical Extradural Tumor (C1-3)AbstractCervical extradural tumor is one of the rare tumors and can cause progressive neurological problems. Neurological deficit in productive age greatly affects the patient's quality of life. Surgical management is carried out with the aim of reducing pain, improving neurological conditions, and improving the patient's quality of life. A 25-year-old woman had progressive tetraparesis since 2 months prior to admission, MRI showed an extradural mass compressing the spinal cord at the level of the C1-3. The surgery was performed under the principles of neuroanaesthesia. On postoperative assessment, motor strength function has improved significantly. A extradural tumor patient was excision by operation with 850 mm bleeds and good recovery with improvement motoric function in all extremities Good perioperative management is needed in patients with spinal tumors, especially patient with tumors on the cervical levels. The anticipation of iatrogenic spinal cord trauma and bleeding has to be maintained during the surgery. Neurological evaluation and rehabilitation of patients is carried out by involving a multidisciplinary team. Spinal cord tumour with excise in neurosurgery at the right time and good perioperative neuroanesthesia will good outcome and improve neurologicals deficit.
Tantangan dalam Menjaga Cerebral Perfusion Pressure (CPP) yang Aman pada Cedera Otak Traumatik Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v12i1.531

Abstract

Tekanan perfusi serebral (cerebral perfusion pressure/CPP) adalah gradien tekanan yang mendorong pengiriman oksigen ke jaringan serebral, perbedaan antara tekanan arteri rata-rata (MAP) dan tekanan intrakranial (ICP), CPP = MAP-CVP atau CPP = MAP ICP jika ICPCVP. Tekanan perfusi serebral harus dipertahankan dalam rentang yang sempit karena tekanan yang terlalu rendah dapat menyebabkan jaringan otak menjadi iskemik, dan bila terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Tekanan perfusi serebral yang aman adalah antara 60-80 mmHg, tetapi nilai-nilai ini dapat bergeser ke kiri atau kanan tergantung pada fisiologi individu pasien. Karena CPP adalah ukuran yang dihitung, MAP dan ICP harus diukur secara bersamaan, paling sering dengan cara invasif. Ketika terjadi cedera otak, kapiler serebral bisa menjadi "bocor" atau lebih permeabel terhadap air. Selain itu, pembuluh darah serebral dapat melebar dalam respon terhadap cedera jaringan otak, hipoksemia, hiperkarbia, asidosis, atau hipotensi. Jika tekanan darah meningkat, peningkatan CPP dapat menyebabkan peningkatan aliran darah serebral. Tujuan yang disarankan dari CPP berdasarkan pedoman dari Brain Trauma Foundation adalah 50-70 mmHg. Menargetkan CPP tinggi 70 mmHg belum terbukti bermanfaat pada pasien dengan cedera otak traumatik dan dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).Challenges in Maintaining Safe Cerebral Perfusion Pressure (CPP) in Traumatic Brain InjuryAbstractCerebral perfusion pressure (CPP) is the net pressure gradient that drives oxygen delivery to cerebral tissue. It is the difference between the mean arterial pressure (MAP) and the intracranial pressure (ICP), CPP = MAP-CVP or CPP =MAP ICP if ICPCVP. Cerebral perfusion pressure must be maintained within narrow limits because too litle pressure could cause brain tissue become ischemic, and too much could raise intracranial pressure. The normal range lies between 60 and 80 mmHg, but these values can shift to the left or right depending on individual patient physiology. As CPP is a calculated measure, MAP and ICP must be measured simultaneously, most commonly by invasive means. When brain injury occurs, cerebral capillaries can become leaky or more permeable to water. In addition, cerebral blood vessels may dilate in respons to brain tissue injury, hypoxemia, hypercarbia, acidosis, or hypotension. If blood pressure becomes elevated, the increased CPP can lead to increased cerebral blood flow. The recommended goal of CPP per the Brain Trauma Foundation (BTF) guideline is 50-70 mmHg. Targeting high CPP 70 mmHg has not been shown to be beneficial in patient with traumatic brain injury and is associated with an increased risk of acute respiratory distress syndrome (ARDS).