Articles
257 Documents
Dilema Algoritma: Dramaturgi di Media Sosial
Nurlambang Alif Iman
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.145
Aktif di media sosial—seperti telah dipikirkan oleh banyak pengamat—mendatangkan mudarat, kendati artefak digital itu memberi pula sejumlah keasyikan. Selain candu bagi pengguna, media sosial mendatangkan pula dilema. Tulisan berikut merupakan respons sosiologis terhadap gejala dilema sosial, seusai menonton film The Social Dilemma. Pengguna media sosial mengalami manipulasi perubahan perilaku, menjadi agen pemasaran secara sukarela sekaligus konsumen, tetapi tidak kuasa memutus jerat dilema, persis seperti gambaran dilema sosial sebagaimana digambarkan dan dicontohkan oleh Sosiologi. Salah satu pandangan yang dipinjam untuk memahami situasi dilema dalam masyarakat digital adalah perspektif presentasi diri dramaturgi Irving Goffman, sekaligus kritik atasnya.
Moral Guard Police: Membaca Karya Seni dari Sudut Pandang Adorno
Agung Frigidanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.146
Artikel ini ingin membahas karya seni dari sudut pandang filsuf Adorno yang sering membahas masalah estetika dalam banyak bukunya, misalnya buku Aesthetic Theory yang diterbitkan pada tahun 1970. Prinsip-prinsip estetika Adorno akan dipergunakan untuk membaca karya lukis yang berjudul “Moral Guard Police”, sebuah lukisan triptych berukuran 100 X 240 cm2, karya Syakieb Sungkar yang dibuat di tahun 2022, dan pernah dipamerkan pada sebuah media pada 3 November 2022. Metode yang dipakai dalam penulisan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan cara mengumpulkan teks dan gambar untuk kemudian dianalisa dan ditafsirkan. Pertimbangan metode yang dipilih karena cocok untuk menggambarkan fenomena yang ada, baik fenomena natural maupun hasil rekayasa manusia. Temuan yang diharapkan dalam tulisan ini adalah, bahwa suatu karya seni dapat ditafsirkan secara memadai dengan menerapkan teori estetika Adorno. Adapun pembahasan teori Adorno dalam tulisan ini sebagian besar didasarkan pada buku “Seni Sebagai Pembebasan” yang ditulis oleh pelukisnya sendiri. [
Regulatory Capitalism
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.147
Krisis sub-prime tahun 2007 dapat dikatakan sebagai tumbangnya sistem kapitalisme neoliberal di mana negara tidak boleh campur tangan dalam ekonomi, menjadi Regulatory Capitalism yang meminta negara mengatur kembali tata kelola finansial. Hal itu disebabkan swasta tidak sanggup lagi menangani krisis. Di balik campur tangan negara, terdapat dampak buruk berupa korupsi dan kolusi. Namun masih terdapat sisi baik pada sistem ekonomi baru ini.
Fiksi Sejarah Iskandar Fauzy
Wahyudin
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.148
Sejarah adalah permainan susun gambar mahabesar dengan banyak bagiannya yang hilang. Namun masalah utamanya bukanlah berupa kekosongan bagian, gambar-gambar yang kita miliki dan telah ditentukan sebelumnya menjadi lebih sedikit, yang disebabkan oleh ketidaksengajaan. Di sisi lain, paper ini membahas lukisan akrilik hitam-putih karya Iskandar Fauzy yang pernah dipamerkan tahun lalu di Srisasanti Gallery, Yogyakarta. Dalam lukisannya, Iskandar telah “menemu-rupakan sejarah” atau membuat “sejarah yang ditemu-ciptakan”, sehingga kita menemukan peristiwa-peristiwa yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Drawing, Representasi Ruang Batin
Ika Ismurdyahwati
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.149
Kajian dari tulisan ini adalah mengetengahkan bahwa drawing merupakan media baca yang berhubungan dengan ruang batin. Artinya, gambar sebagai ruang batin juga bebas dalam membaca gambar yang berhubungan dengan interpretasi. Sehubungan dengan itu, interpertasi diperoleh dari cara baca dengan metode dan sekaligus alat analisis yang ilmunya analog dengan scene dalam film atau video. Tujuannya, untuk dapat membaca gambar relief, hingga drawing naturalis kerakyatan dan drawing abstrak surealis. Hasilnya adalah pada karya-karya tersebut ternyata merupakan gambar bercerita.
Nietzsche: “Subyek yang Terbelah” sebagai Basis Subyek Moral
Y. Adi Wiyanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.150
Moral tidak dimaknai secara sempit sebagai kewajiban moral seperti dalam pandangan Kant, tetapi sebagai “kewajiban subyek yang terbelah”. Sebagai contoh, kewajiban untuk membunuh, yang jelas-jelas bertentangan dengan moral Kantian, harus ditaati oleh prajurit di medan perang demi mempertahankan negaranya. Dalam kasus itu, si prajurit mengalami dirinya sebagai “subyek yang terbelah”. Dalam aforisme Nietzsche diperlihatkan bahwa yang dilakukan oleh prajurit sudah sesuai dengan kaidah moral. Namun, subyek diam-diam memiliki keinginan pribadi yang egoistis: prajurit ingin hidup. Subyek akhirnya terbelah. Dalam situasi terbelah inilah, subyek berada dalam tegangan: bersikap egois atau tidak.
An Aesthetic of Framing and Deframing: Notes on Takdir Alisyahbana and Latiff Mohidin
Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.151
Esei membahas karya dan pemikiran Sutan Takdir Alihsjahbana dan membandingkannya dengan Latiff Mohidin, seorang pujangga dan pelukis asal Malaysia. Menurutnya, di tahun-tahun awalnya, Takdir adalah pemberontak. Seperti banyak pendukung modernitas, Takdir melihat masa depan sebagai sesuatu yang tidak lagi diartikulasikan dengan masa lalu. Masa depan menjadi titik fokus dan prinsip pengorganisasian baru. Masalah dengan pandangan ini adalah bahwa ia menempatkan gerakan sejarah pada gambar linier - bahkan tertib. Perjalanan Takdir adalah narasi optimisme yang dapat diprediksi, adanya telos dan kepastian.
Hermeneutika Paul Ricoer
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.160
Rute utama untuk memahami dunia adalah dengan membaca seolah-olah dunia itu adalah teks, atau setidaknya, membaca teks adalah cara terbaik untuk memahami dunia. Ricoeur menawarkan konsep distanctiation, di mana ada jarak antara pencipta teks dengan kondisi kultural ketika ia menulis teks tersebut. Kemampuan teks bertahan menembus sejarah, membuat pembaca terpisah dari pengarangnya dalam ruang dan waktu. Pembaca mendapatkan dunia yang dibangun teks itu ternyata dapat menjelaskan situasi dirinya. Sehingga apa yang harus ditafsirkan dari teks adalah dunia yang ditawarkan (proposed world) yang dihuni para pembaca yang memproyeksikan dirinya sendiri.
Memutuskan: Bebas atau Niscaya? Fenomenologi Memutuskan Paul Ricoeur
Matias Filemon Hadiputro
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.161
Memutuskan adalah tindakan sehari-hari yang dilakukan oleh setiap manusia. Saat memutuskan manusia berada di dalam tegangan antara kebebasan dan keniscayaan. Di satu sisi, ia mendambakan kebebasan sebagai yang-dikehendakinya, tapi di sisi lain, kondisi alaminya berada dalam keterbatasan sebagai yang-tidak-dikehendakinya. Tegangan tersebut membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan dalam memutuskan. Namun kesalahan justru membuka dimensi baru bagi manusia untuk mempertanggungjawabkan keputusannya bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga di hadapan Allah.
Apresiasi Seni Rupa: Media Digital Akun Instagram @bukusenirupa dan Tiktoker Pameran Seni Yogyakarta
Luna Chantiaya Rushartono
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.162
Penelitian ini dilatari realitas bahwa kehadiran media digital memberikan dampak yang besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam lingkup seni rupa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk apresiasi yang dilakukan oleh akun Instagram @bukusenirupa dan tiktoker Jogja terhadap kegiatan dunia seni rupa. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan mengambil data dokumen dan wawancara bersama pendiri akun Instagram @bukusenirupa dan salah satu tiktoker Jogja yang terkenal dengan kontennya berupa pameran seni. Adapun hasil penelitian menyimpulkan bahwa apresiasi masyarakat saat ini sudah berkembang dengan mengikuti perkembangan teknologi, sehingga dapat disimpulkan bahwa kehadiran media digital memberikan ruang berekspresi masyarakat dalam mengapresiasi seni rupa masa kini.