cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 257 Documents
Menimbang Kebahagiaan Bersama Aristoteles: Sebuah Tinjauan Filosofis Antonius Kapitan
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.163

Abstract

Aristoteles, salah satu filsuf klasik Yunani merumuskan pemikirannya tentang kebahagiaan dalam maha karyanya, Ethica Nicomachea. Kebahagiaan yang diperjuangkan manusia sesungguhnya termaktub dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan dicari dan senantiasa diimpikan manusia karena ia merupakan kebaikan tertinggi (the ultimate good) yang selalu menjadi tujuan terakhir (teleion) setiap tindakan khas manusia. Tindakan khas manusia adalah tindakan berkeutamaan yang senantiasa dilakukan dalam terang pemikiran yang lurus (orthos logos; correct reason). Aktualisasi keutamaan moral dan keutamaan intelektual sebagai bagian utuh dari aktivitas jiwa manusia dalam bentuk tindakan moral dan aktivitas kontemplasi hal-hal luhur dan Ilahi memastikan manusia menggapai kebahagiaan. Dengan lain perkataan, manusia yang makin manusiawi dapat merasakan dan mengalami kebahagiaan.
(Inter-) Relasi Kekuasaan dan Kebenaran Menurut Michel Foucault Sunaryo
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.164

Abstract

Apakah ada hubungan antara kebenaran dan kekuasaan? Dalam pandangan Michel Foucault, filsuf Perancis (1926-1984): tentu saja ada! Kekuasaan di sini tidak hanya dimaknai dalam arti kekuasaan politik. Kekuasaan juga ada pada institusi-institusi pengetahuan yang kemudian disebut sebagai kekuasaan epistemik. Kekuasaan di sini lebih dimaknai sebagai kekuatan yang mengatur dan mendefinisikan kebenaran. Ia ada di mana-mana. Ia bisa datang dari luar (eksternal) dan juga bisa datang dari dalam (internal). Kehadiran kekuasaan yang ada di mana-mana ini, bagi Foucault, tidak perlu disangkal. Namun ia mengingatkan bahwa relasi kekuasaan dan kebenaran bukanlah relasi satu arah. Keduanya memiliki hubungan saling memengaruhi. Di sini, ia menekankan peran para intelektual dan kritikus dalam inter-relasi antara kekuasaan dan kebenaran. Menurutnya, kebenaran tidak boleh bersemayam hanya pada satu kekuasaan. Ragam kekuasaan perlu bertempur dalam mendefinisikan kebenaran (battle for truth). Pertempuran itu barangkali tidak akan pernah usai.
Persahabatan dalam pandangan Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.165

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang bagaimana dekonstruksi menyingkapkan ke-tidak-simetris-an pandangan Aristoteles tentang persahabatan. Ke-tidak-simetris-an itu dijelaskan oleh Derrida melalui frasa: “Wahai sahabat-sahabatku, tidak ada sahabat.” Derrida juga menunjukkannya melalui pandangan Heidegger, Schmitt, dan Kant yang terlebih dahulu telah mengkaji persahabatan Aristotelian. Pada akhirnya, sebagai sebuah kesimpulan, Derrida menyatakan ke-tidak-simetris-an ini menunjukkan bahwa persahabatan Aristotelian tidak lebih dari sekadar sebuah idea tentang hubungan manusia, dan tidak pernah muncul dalam realitas konkret.
Kosmopolitanisme dalam Teori Proses Pemberadaban (Civilizing Process) Norbert Elias Narwastuyati Mbeo
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.166

Abstract

Pada teknologi telekomunikasi dan informasi yang mampu menembus batas geografis negara, terdapat nilai bersama (shared values) yang menyebar dalam kesadaran masyarakat dunia, sehingga muncul kosmopolitanisme moral. Hal itu memunculkan konvensi tentang anti kekerasan yang diterima secara umum dan menjadi code of conduct tentang perilaku yang beradab. Teori Proses Pemberadaban dari Norbert Elias dapat menjelaskan bagaimana kosmopolitanisme moral muncul, menyebar dan diterima dalam masyarakat. Teori ini mengedepankan bagaimana keutamaan (virtue) dan nalar (reason) yang menjadi inti sikap anti-kekerasan itu menjadi norma yang diterima dan diterapkan di berbagai belahan dunia.
Memetik Pelajaran dari Kekerasan Berbasis Gender di Afrika Selatan dan Papua Nugini Pormadi Simbolon
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.167

Abstract

Kekerasan berbasis gender masih mewarnai kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di penjara pria Afrika Selatan dan dalam masyarakat Papua Nugini. Pembelajaran dari kekerasan yang terjadi di kedua tempat tersebut membawa kita pada kesadaran pentingnya kesadaran gender berbasis hak asasi manusia (humanisasi). Budaya dan lingkungan ikut berperan dalam konstruksi gender. Artikel ini bertujuan memaparkan dua fenomena kekerasan berbasis gender berdasarkan studi kepustakaan. Penyadaran kesetaraan gender tidak mudah tetapi bukan tidak mungkin dilakukan.
Hidup Bahagia? —Etika Epikuros Boston Gunawan
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.168

Abstract

Salah satu sistem filsafat kuno yang paling menarik dan relevan hingga zaman modern ini adalah Epikureanisme — sebuah gagasan yang berasal dari seorang filsuf abad ke-3 SM yang bernama Epikuros. Meski dunia telah jauh berubah sejak Epikuros tiada, persoalan hidup seperti kekhawatiran akan kematian, penderitaan, bagaimana sebaiknya manusia hidup, dan arti kebahagiaan tetap ada hingga saat ini dalam bentuk bervariasi. Perspektif Epikuros tetap relevan dan berharga. Epikureanisme adalah salah satu dari lima aliran besar filsafat Yunani kuno yang saling bersaing (dalam hal penganut) dengan Platonisme, Aristotelianisme, Stoikisme, dan Skeptisisme. Epikuros melihat dunia dan bagaimana terciptanya dunia dengan cara berbeda. Hal itu kemudian terkait dengan cara Epikurean memandang kehidupan, kematian dan bagaimana sebaiknya bersikap terhadap dewa-dewa. Epikureanisme selalu dianggap ajaran yang kontroversial, dan pandangan Epikuros tentu tidak dapat diterima begitu saja tanpa pengawasan kritis.
Kemolekan yang Ambivalen: Membaca Lukisan Mooi Indie dengan Perspektif Pascakolonialisme Yohanes De Britto Wirajati
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.169

Abstract

Periode merebaknya karya-karya lukis mooi indie di Hindia Belanda merupakan sebuah potongan sejarah seni rupa Indonesia yang bercerita mengenai pertemuan antara teknik dan estetika seni rupa barat dengan gagasan tentang moleknya panorama Hindia Belanda (Indonesia). Artikel ini kemudian menganalisis periode tertentu dengan menggunakan perspektif teoritis Pascakolonialisme untuk menjawab beberapa pertanyaan, yaitu: (1) Uraian macam apa yang dapat disusun tentang seni lukis mooi indie? (2) Gejala sosial-budaya apa yang dapat dijadikan landasan argumentasi? dan (3) Bagaimana seni lukis mooi indie tersebut menggerakan dialog seni rupa di Indonesia? Dengan menggunakan metode studi pustaka dan dan pendekatan dekonstruksi sebagai kerangka kerjanya, maka didapatkan kesimpulan bahwa seni lukis mooi indie adalah contoh yang baik untuk mengejawantahkan fenomena ambivalensi subjek terjajah akibat pola hubungan patron-klien pada relasi dalam medan seni rupa Hindia Belanda. Implikasinya, keindahan alam dan eksotisme penduduk Hindia Belanda yang termanifestasikan dalam objek-objek lukisan mooi indie semakin menegaskan Hindia Belanda sebagai “Timur” yang dikonstruksi melalui cara pandang Orientalisme ala orang-orang Eropa, khususnya Belanda, sebagai “Barat”.
Alien di Lokapasar Agama: Peninjauan pada Film PK Alif Iman Nurlambang
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.170

Abstract

Sebuah film India yang mulai tayang tahun 2014, PK, menggugat fanatisme beragama secara kocak, sekaligus getir. Film ini masih dapat ditonton melalui YouTube. Artikel ini merupakan peninjauan Sosiologi terhadap tema PK dengan argumentasi dasar bahwa hubungan manusia dengan Tuhan yang menempatkan fungsionaris agama dalam posisi sentral menimbulkan keadaan lokapasar di dalam dan antar-agama.
Dunia Christina R.E. Hartanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.171

Abstract

Dua kunci sukses perupa representasional, yaitu mempunyai bakat observasi sehingga mereka akan diam, mengamati, dan melukis obyek tersebut sampai ke setiap rincinya. Dan sebuah penghayatan tertentu, serupa dengan seorang aktor yang sedang membawakan peran. Penghayatan ini mensyaratkan sebuah penyatuan tertentu antara sang subyek dan obyeknya. Karena tidak suka menggunakan kursi roda, Christina biasa ngésot menggunakan kekuatan bahu, lengan, dan panggulnya. Respons empatik Andy Wyeth terhadap hidup Christina yang sulit sebagai penyandang disabilitas, begitu kuat sampai ia menciptakan lukisan “Dunia Christina” yang kemudian dikoleksi oleh MOMA dan membuatnya terkenal.
Tubuh Yoga: Refleksi Filsafat Tubuh Merleau-Ponty Yudhi Widdyantoro
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.172

Abstract

Tubuh, bagi praktisi yoga sangat esensial sebagaimana menurut fenomenologi Merleau-Ponty. Lewat tubuhlah praktisi yoga berlatih. Dalam yoga, keberadaan sisi batin (mind) diberi perhatian yang tidak kalah pentingnya, jika mengacu pada Yoga Sutra karya Patanjali.