Articles
257 Documents
Jepang
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.120
Ketika Rusia menyerang Ukraina, tanpa banyak diliput pers, ternyata Jepang pun sedang berkonflik dengan Rusia. Hal itu terjadi karena Jepang tiba-tiba berani mengutak-atik urusan Kepulauan Kuril, sebuah kepulauan yang direbut Rusia pada Perang Dunia II. Dari mana keberanian Jepang itu muncul? Apakah ada Amerika yang menyokong di belakangnya agar Jepang berkonflik dengan Rusia?
Filsafat Pasca Dekonstruksi
Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.121
Artikel ini hendak memberikan sebuah gambaran tentang masa depan filsafat pasca Dekonstruksi menurut pemikiran Derrida. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: “Bagaimana berfilsafat dalam pandangan Dekonstruksi?” dan, “Mengapa filsafat masih relevan pasca Dekonstruksi?”. Artikel ini akan memulai sketsanya dengan menunjukkan gambar dari wajah filsafat itu sendiri, sebelum menunjukkan sketsa wajah Dekonstruksi yang akan diakhiri dengan sebuah sintesis tentang filsafat di masa depan.
Bergerak Menuju Jalan Seni Jeprut
Rahmat Jabaril
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.122
Jeprut adalah suatu kesadaran seniman untuk mengambil jarak dan mencari hal yang baru terhadap tatanan nilai dan tatanan sosial yang sudah ada. Kaum jepruter adalah seniman yang resah dan menolak sikap-sikap yang menerima apa adanya. Karena kalau menerima saja keadaan ia adalah kaum lemah, kaum ambigu, yang akan menjadi objek bagi kaum antroposentrisme yang menginginkan keseragaman bentuk seni. Jepruter tidak mau terjebak pada realitas yang mengikat, ia akan mencari bentuk seni baru yang tidak seragam. Sementara kaum antroposentrisme seni akan menuntut otensitas dari bentuk-bentuk baru tersebut. Mereka mengacu pada tata nilai yang melembaga yang dikelola secara terpusat, agar pengawasannya lebih mudah untuk menstabilkan kekuatan dirinya. Kaum antroposentrisme akan menggunakan tangan negara yang juga sebagai perwakilan dari kekuatan kapitalisme. Kesadaran kreatif kaum jepruter selalu berhubungan dengan media baru yang akan memberikan warna lain pada bentuk-bentuk mainstream kesenian. Jepruter ingin meruntuhkan nilai-nilai seni yang sudah mapan, hal itu tercermin melalui aksi seni yang dilakukan Budi Raxsalam dan Tonny Brour pada tahun 1980an.
Salam Redaksi Vol. 9
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Jurnal membahas tentang Cybercultures, karakteristik lukisan Hendra Gunawan, Trend Urban, Kota, Mural, Derrida, Surealisme dan Erotika.
Cybercultures dan Perubahan Sosial: Sebuah Tinjauan Pragmatis Terhadap Fenomena Cybercultures
Moh. Rusnoto Susanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.126
Peran cybernetic dengan berbagai aspek yang muncul sebagai sebuah konsekuensi perubahan sistem sosiokultural ketika dunia virtual mendominasi dunia realitas sehingga dapat dikatakan menjadi semacam ‘dunia kedua’ masyarakat kontemporer. Visi baru masyarakat kontemporer terkesan melekat pada budaya urban sebagai bagian yang terintegrasi dengan perkembangan perilaku sosialnya. Dalam konteks fenomena cybercultures semua relasi sosial dipertemukan di medan sosial tanpa batas melalui fasilitas virtual reality yang memiliki aksesiblitas tinggi mempertemukan semua aktivitas masyarakat global dengan berbagai jejaring serba digitalized. Tujuan penyusunan artikel ini untuk memaparkan suatu kajian pragmatis dalam mencermati perubahan sosial dalam konteks menguatnya fenomena cybercultures. Jenis penelitian ini deskriptif kwalitatif melalui Base Practice Method dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini digunakan sebagai pisau analisis kajian pragmatism untuk mengurai hasil refleksi perubahan sosial yang ditinjau secara kritis terhadap fenomena cybercultures. Hasil analisis yang disampaikan diantaranya: (1) mengemukakan kajian pragmatism melalui refleksi kontekstual melalui studi poskolonial dan perubahan sosial, (2) Munculnya relasi perubahan sosial melalui kajian dalam bentuk refleksi paradigmatik teori simulacra Baudrillard dan pandangan hermeneutik Gadamer tentang perubahan sosial yang dipicu fenomena cybercutres.
Studi Karakteristik Lukisan Hendra Gunawan
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.127
Hendra Gunawan adalah salah seorang Maestro Lukis Indonesia yang mempunyai karakter unik dalam mendeformasi figur dari subjek yang dilukiskannya pada kanvas. Dengan semakin langkanya karya-karya Hendra di pasar seni rupa, telah menyebabkan nilai ekonominya meningkat sedemikian rupa, sehingga karya-karyanya banyak dipalsukan demi mendapat keuntungan komersial. Untuk itu dilakukan penerbitan buku Hendra Gunawan – Sang Maestro agar dapat memperlihatkan keberagaman karya-karyanya yang asli. Artikel ini bertujuan untuk membahas perjalanan kesenimanan Hendra dan pada bagian akhir akan mendeskripsikan secara detil karakteristik karya-karya Hendra yang sebagian diambil 139 karya dari buku tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis visual dengan perspektif mencari kesamaan dan tren dalam gaya lukisan Hendra pada kurun waktu 1950-an sampai dengan 1970-an. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karya-karya Hendra di tahun 1970-an berbeda dari periode sebelumnya karena adanya perbedaan suasana yang disebabkan oleh pertemuannya dengan Nuraeni di dalam penjara.
Kritik Jacques Derrida atas Michel Foucault dalam Cogito and the History of Madness
Roi-El Julmond Lumbantobing
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.128
Pada tahun 1961, Michel Foucault mempublikasikan tulisannya yang berjudul Folie et Déraison: Histoire de la folie à l’âge classique (History of Madness), yang menunjukkan pandangannya tentang sejarah kegilaan. Dalam buku ini Foucault hendak menulis sejarah kegilaan yang berbeda dengan sejarah psikiatri, yang dimulai dengan zaman Renaissance hingga abad ke-19. Metode ini disebut Foucault sebagai arkeologi keheningan. Salah satu penanggap awal dari tulisan tersebut adalah Jacques Derrida, yang mengkritik asumsi-asumsi metodologis dan filosofis Foucault. Fokus dari kritik Derrida adalah kemungkinan penulisan sejarah kegilaan dan interpretasi atas Descartes. Dari kritik ini, Derrida menunjukkan suatu pandangan tersendiri mengenai sejarah filsafat sebagai rangkaian krisis-krisis, dengan bertitik tolak pada definisi kegilaan dari Foucault sebagai absennya oeuvre.
Some Thoughts on Urban Living Trends 2022
Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.129
The pandemic has accelerated urban people to conduct transactions, commerce, business and online movement. However, before and outside the pandemic, there is a trend towards increasing religiosity, the hijab as a fashion trend, the coffee craze, the corporatization of warteg, the tendency to shop via smartphones, a fondness for antiques, and a sluggishness in contemporary art, which should be noted. There is the L-project, an art project that tries to break free from the frozen art commerce.
Mural dan Pangan
Kukuh Pamuji
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.130
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karya mural Komunitas Jakarta Art Movement dapat menjadi salah satu alternatif media dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah, salah satunya adalah penyampaian visi berbangsa dalam upaya penguatan kekuatan pangan nasional. Tujuan penelitian ini dilakukan, diantaranya; (1) Mendeskripsikan bahwa pada era teknologi informasi 4.0 sebagai spirit jiwa jaman dihasilkan mural estetik dengan menggunakan metode konvensional yang dilakukan secara manual. (2) Menjabarkan narasi persoalan keseharian dapat direfleksikan melalui seni mural karya-karya Komunitas Jakarta Art Movement melakukan kerja kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat (para aktivis, pengusaha, pekerja seni, anggota paskibra, dan anggota The Jack Mania). (3) Menjabarkan bahwa Komunitas Jakarta Art Movement dengan proses kerja kreatifnya ingin mengangkat isu tentang upaya dalam peningkatan ketahanan pangan nasional sebagai salah satu visi berbangsa menggunakan pendekatan visual. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Untuk memperoleh data, penulis melakukan kegiatan wawancara dengan informan, dokumentasi, pengamatan mendalam dan analisis konten. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa; (1) Pada era teknologi informasi 4.0 ini masih terdapat karya seni yang masih dihasilkan menggunakan metode konvensional melalui proses menggambar yang dilakukan secara manual. (2) Persoalan keseharian dapat direfleksikan melalui seni mural karya-karya Komunitas Jakarta Art Movement melakukan kerja kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat (para aktivis, pengusaha, pekerja seni, anggota paskibra, dan anggota The Jack Mania). (3) Melalui karya seni mural, Komunitas Jakarta Art Movement dengan proses kerja kreatifnya ingin mengangkat isu tentang upaya dalam peningkatan ketahanan pangan nasional sebagai salah satu visi berbangsa menggunakan pendekatan visual.
Kota, Waktu, Puisi
Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.131
Ketika individu berubah jadi himpunan, manusia jadi acuh tak acuh kepada kefanaannya sendiri yang sunyi. Waktu tak menimbulkan gentar. Kefanaan itu kini hampir sepenuhnya berada dengan sebuah jarak, di luar diri. Waktu yang menggerogoti usia datang seperti gigi yang gemertak. Orang-orang hanya pasif. Pada gilirannya, kepadatan dan mobilitas menyentuh tempat tinggal itu sendiri. Ketika sebuah ruang tinggal kian dialami sebagai komoditas – yang nilai gunanya telah diubah jadi nilai tukar -- maka keadaan transit jadi lengkap. Tapi justru di dalam keadaan itulah terjadi apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “fantasmagoria dari yang-interior”. Menurut Goenawan Mohamad, dalam tiap keadaan yang tak stabil dan mengalir lekas dari luar, ada dorongan hati manusia untuk menemukan yang tetap dan mengklaim kembali sifat permanen dalam tiap ruang privat.