cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 257 Documents
Surealisme (Pop) Yogya —dengan Ilustrasi Heri Dono, Roby Dwi Antono, dan Fandi Angga Saputra Wahyudin
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.132

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian Wahyudin mengenai tren surealisme yang melanda seni rupa Yogyakarta akhir-akhir ini. Dalam pendalamannya, Wahyudin membedakan surealisme pop saat ini tidak berkaitan dengan tren surealisme sebelumnya yang pernah terjadi pada tahun ‘80-an yang diwakili Ivan Sagita dan Heri Dono. Surealisme yang sekarang terjadi di Yogya bersandarkan pada gerakan seni Lowbrow atau fenomena seni surealisme pop di Barat, Amerika Serikat dan Eropa, dengan tokoh-tokoh panutan, antara lain Robert Williams, Kenny Scharf, Mark Ryden, Jason Freeny, dan Camilla d’Errico -dan mengombinasakannya dengan jurus-jurus estetika Yoshitomo Nara, Takashi Murakami, serta kartun-komik-animasi Negeri Samurai. Dalam memahami surealisme pop yang baru ini, Wahyudin meminjam kerangka Simon Morley seperti yang pernah ditulis dalam Seven Keys to Modern Art (2019).
Mengeja Erotika AS Kurnia
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.134

Abstract

Tema erotika dalam seni rupa Indonesia telah lama ditinggalkan, terutama pada periode setelah Reformasi 1998. Hal ini terjadi karena masyarakat semakin puritan dan desakan segelitir Ormas yang menginginkan seni itu tunduk pada kaidah agama tertentu. Di penghujung tahun 2022 diadakan pameran bertema erotika untuk menghidupkan kembali tradisi seni rupa yang telah hidup ratusan tahun lalu di Indonesia. Pameran diadakan di Bali karena alasan pandemi dan sikap masyarakat Bali yang lebih permisif pada kreatifitas seni. Namun banyak seniman masih terlihat malu-malu dalam memanifestasikan aspek erotis dalam karya-karyanya: ketubuhan terlihat disamarkan, demikian yang dirasakan AS Kurnia sebagai kurator pameran.
Erotika dari Pameran Bersama Delapan Perupa Asmudjo J. Irianto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.135

Abstract

Seni erotis atau erotika bukan genre yang cukup populer dalam seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Ada beberapa pelukis angkatan lama, seperti Basoeki Abdullah yang kerap melukis wanita telanjang, Affandi juga menghasilkan beberapa lukisan persetubuhan. Tahun 80-an Mochtar Apin cukup intens melukis wanita telanjang. Belakangan yang cukup sering melukis figur telanjang adalah Hendrik Lawrence dan Syakieb Sungkar. Namun secara keseluruhan Asmudjo J. Irianto melihat seni erotis memang tidak terlampau menonjol, dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Memang tidak mudah menetapkan pengertian seni erotis. Seni erotis membutuhkan justifikasi estetik dalam menggambarkan seksualitas. Seringkali justifikasi estetik ini yang dipakai untuk membedakan antara seni erotis dengan pornografi, yang sama-sama merepresentasikan seksualitas. Namun justifikasi estetik juga bukan hal yang mudah untuk ditetapkan.
Voldemort dan Monoteisme Franz Magnis-Suseno
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.138

Abstract

Menurut Jan Assmann monoteisme adalah biangkeladi eksklusivisme, intoleransi dan kekerasan antar agama-agama. Sebaliknya, dunia sihir J. K. Rowling dalam ceritera-ceritera tentang Harry Potter adalah dunia tanpa Allah. Dan karena itu dunia tanpa harapan. Para kurban Voldemort mati untuk selamanya. Sedangkan Allah menjanjikan bahwa segala-galanya akan menjadi baik. Yang tidak diperhatikan Assmann adalah unsur kunci: bahwa Allah Musa, Yesus dan Muhammad adalah Allah kasih.
Salam Redaksi Vol 9.2 Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salam Redaksi membahas mengenai garis besar isi Jurnal Dekonstruksi Vol 9.2
Bahasa sebagai Suplemen dalam Pandangan Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.140

Abstract

Artikel ini akan mengulas tentang “apa itu bahasa?” dari perspektif Dekonstruksi yang dituliskan oleh Derrida pada Of Grammatology (1967). Bahasa, terang Derrida, adalah suplemen dari realitas. Suplemen merupakan prinsip dasar untuk memahami tentang bahasa yang ditawarkan oleh Derrida untuk menggantikan prinsip representasional. Suplemen menunjukkan bahwa bahasa tidak merepresentasikan realitas, tapi menambahkan dan menggantikannya. Artinya, bahasa hanyalah sekadar produk-sambilan atau fatamorgana dari realitas. Itulah mengapa tidak dapat ditemukan kehadiran atau esensi realitas di dalam bahasa. Paling banter, bahasa hanya mampu untuk menunjukkan jejak dari realitas.
Pluralisme Quranik Perspektif Hamka Hisbulloh Huda
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.141

Abstract

Hamka memiliki pandangan pluralis empatik, ini tergambar dalam penafsiran-penafsirannya tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan makna pluralisme pada Tafsir al-Azhar. Dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut, Hamka memberikan pendekatan pemahaman pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahaman dalam Tafsir al-Azhar memberikan penekanan sikap empatik setiap individu kelompok masyarakat terhadap diri, lingkungan, maupun hubunganya dengan Tuhan. Tulisan ini sejalan dengan pendapat Nurcholis Madjid dan Ernst Troeltsch yang meyakini pentingnya pluralisme empatik dalam kehidupan bermasyarakat.
Tegangan antara Metafisika dan Teologi dalam Pemikiran Agustinus Agustinus Tetiro
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.142

Abstract

Tulisan ini mencoba melihat dan memperlihatkan bagaimana usaha Agustinus memperlakukan secara produktif filsafat Yunani untuk keperluan teologi Kristen yang lebih operasional, terutama dalam pembahasannya tentang Allah Tritunggal. Agustinus, sebagaimana para pemikir kristiani abad pertengahan lainnya, berada pada kondisi zaman yang memperlakukan filsafat sebagai hamba teologi (anchila theologiae) pada satu sisi. Sedangkan pada sisi yang lain, ada keyakinan tidak tertulis bahwa seorang teolog yang baik pastilah juga merupakan seorang filsuf yang baik. Pada abad pertengahan juga terkenal dua ungkapan yang sangat lazim dalam lintasan pemikiran kekristenan: “credo ut intelligam” (saya beriman supaya saya mengerti) dan “fides quarens intellectum” (iman yang berusaha memahami dirinya).
Digital Art Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.143

Abstract

Kunci sukses dalam berkesenian di era milenial adalah bagaimana kita dapat beradaptasi dalam teknologi digital yang berbasiskan komputer dan internet. Dengan bantuan teknologi, kita dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang melebihi kemampuan manual manusia. Tulisan ini memberikan gambaran tentang sejarah perkembangan karya-karya digital dan kiat sukses para senimannya dalam menancapkan tonggak pada milestone senirupa digital. Hal itu dapat menjadi bahan pelajaran bagi yang berkecimpung dalam senirupa di masa kini. Pada bagian akhir, penulis mencoba memberikan formula bagaimana sikap dalam mengantisipasi dunia digital yang sudah tiba di hadapan kita.
Penghargaan Sastra “Rasa” 2023 Ayu Utami
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.144

Abstract

Dalam Penghargaan Sastra ‘Rasa’ yang sudah kedua kalinya ini, Ayu Utami mengembangkan sebuah sistem yang bertanggung jawab dan praktis, di mana juri dapat sebisa mungkin menjadi pribadi sekaligus tanpa mengandalkan selera dan tidak dijebak borang kriteria penilaian. Sistem itu akan menganalisa kekuatan teks lepas dari selera itu. Ada tiga kriteria dasar dalam menganalisa, yaitu: #1) prinsip pemersatu, #2) mutu tegangan antara dorongan atau pilihan yang bekerja dalam teks, #3) prinsip pembebasan. Bagaimana kriteria tersebut dapat menilai karya-karya yang memenangkan hadiah sastra tahun ini?

Page 10 of 26 | Total Record : 257