Articles
239 Documents
Salam Redaksi Vol. 2
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (73.036 KB)
Salam Redaksi memberikan penjelasan singkat terhadap artikel-artikel yang terbit pada Jurnal Dekonstruksi volume 2, yang banyak membahas perihal agama.
Filsafat Agama
Zainul Maarif
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (427.655 KB)
This is an effort to discuss religion philosophically. It tries to ask the very essence of religion, and then criticizes it. It says that the essence of religion is sacred, belief, teaching and promise, which is hold by human being, personally or socially. It criticizes the content of religion. It signifies religion’s sacred as a cultural product and religion’s teaching as ethics. It recommends religion’s belief begins from thinking, and anticipates religion’s promises become an absolute truth claim.
Intuisi Religius dalam Kehidupan Bernegara: Melihat kembali pemikiran tentang Pancasila menurut N. Driyarkara
Hizkia Fredo Valerian
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (262.944 KB)
Tulisan ini hendak membahas tentang intuisi religius sebagai bagian penting dari hidup bernegara. Hal itu didasarkan pada pemikiran Nicolaus Driyarkara dalam mengelaborasikan hubungan antara Pancasila dan Religi. Bagi Driyarkara, Pancasila sebagai sebuah ideologi memiliki kekhasan dalam mencakup intuisi religius sebagai ciri eksistensial yang mendasar dari kehidupan manusia. Dengan itu, dalam pemahaman Driyarkara, Pancasila tidak mereduksi inti ketuhanan hanya pada rumusan konseptual agama. Melainkan secara lebih luas inti ketuhanan dipahami sebagai intuisi primordial dari kodrat manusia. Maka, sebagai sebuah dasar negara, Pancasila tidak hanya mewadahi keragaman, melainkan menjadi raut dari keluasan dan kedalaman penghayatan eksistensi manusia yang mewujudkan cinta kasih dan solidaritas.
Menatap Langit Dengan Tubuh
Yohanes V. Akoit
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (257.036 KB)
Sejak kemunculan agama dipentas kehidupan manusia. Karya dan ajaran kebenarannya dibatinkan hingga mendarah-daging pada kepribadian subjek. Memasuki abad plural, pembatinan yang menumpuk dan menahun itu perlahan membusuk. Sebab aroma langit yang ditaburkan untuk dihirup itu hanya diperuntukan bagi jiwa dan bukan tubuh. Berhadapan dengan kesadaran akan pembusukan itu subjek dengan raganya yang membumi terbelenggu pada tubuhnya. Ia kini merindukan agar bukan hanya jiwanya tetapi tubuhnya pun diikutsertakan menatap langit. Dengan kerinduan itu, Nietzsche menawarkan cara menatap langit dengan tubuh lewat konsep free spirit.
Agama Menjadi Media Manusia Bereksistensi
Wahyu Raharjo
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.308 KB)
Banyak sudut pandang yang dapat dipakai saat membicarakan agama. Agama dapat dilihat sebagai institusi tempat individu di dalamnya terarah kepada Tuhan. Oleh karenanya agama memiliki setidaknya dua dimensi yaitu sosial dan personal. Hal menarik yang dapat didiskusikan selanjutnya adalah pertanyaan bagaimana posisi individu yang ada di dalamnya. Pada dua dimensi tersebut sebetulnya indivdu berada dalam situasi eksistensial yang menentukan. Individu dapat bereksistensi di dalam agama, tetapi juga dapat kehilangan eksistensinya. Refleksi subyektif dapat membantu individu untuk tetap menjadi autentik. Hal ini dapat dilakukan dengan menilik kembali relasi individu dengan elemen-elemen yang ada di dalam agama.
Tuhan dan Hal yang Belum Selesai
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (245.735 KB)
Dengan bersemangat Dawkins menggunakan argumen Sains untuk memperlihatkan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kaum Atheis Baru sebenarnya sedang membantu teologi dalam menyingkirkan Tuhan sebagai hipotesis. Karena, dengan berfikir Tuhan sebagai hipotesis, adalah suatu langkah mereduksi misteri Ilahi yang tak terhingga, pada perihal ilmiah yang terbatas. Namun mengapa sekarang ini penganut agama justru malah semakin banyak?
Dekonstruksi dan Pembicaraan tentang Tuhan
Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.455 KB)
Artikel ini berisikan sebuah topografi perihal pembahasan filosofis dewasa ini berkaitan dengan keberagamaan (religiosity). Secara khusus artikel ini akan memberikan uraian tentang bagaimana Dekonstruksi yang diusung oleh Derrida memandang keberagamaan dan memandang Tuhan di dalam keberagamaan itu sendiri. Topik ini menarik dan cukup penting untuk dijadikan sebuah refleksi kritis terhadap kehidupan keberagamaan kita secara pribadi maupun secara komunal. Selain itu topik bahasan ini juga dapat memberikan cara pandang yang sama sekali baru terhadap ateisme. Karena pada topik ini istilah “ateis” atau “ateisme” tidak dibicarakan sebagai sebuah penolakan absolut terhadap keberadaan Tuhan, melainkan sebagai sebuah penolakan terhadap “Tuhan” dalam keberagamaan atau “Tuhan” yang dibicarakan oleh agama-agama. Tentu saja artikel ini tidak memiliki maksud dan tujuan untuk menyelamatkan istilah “ateis” dan “ateisme” atau bahkan mendukungnya. Tepatnya artikel ini hendak membuka sebuah wacana baru dalam membicarakan tentang Tuhan pada dirinya sendiri di dalam perbedaannya dengan Tuhan yang dibicarakan dalam keberagamaan. Sehingga “penolakan terhadap Tuhan” (ateis) tidak begitu saja dipandang sebagai penolakan terhadap keberadaanNya secara absolut, tapi juga dapat berarti “penolakan terhadap Tuhan dalam keberagamaan.
“Yang Sakral” dalam Pemikiran Mircea Eliade
Bondika Widyaputra
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.637 KB)
Mircea Eliade bergulat dalam kajian perbandingan agama-agama sebagai seorang sarjana multikultural. Dia mengembangkan gagasannya dengan sebuah pendekatan yang “humanistik”. Eliade melakukan suatu kajian yang berbeda dari pandangan para pemikiran reduksionalisme fungsionalis. Di saat yang sama, Eliade mengangkat perspektif intelektual para antropologis dari sekolah Victoria. Eliade mempertahankan ketertarikannya dalam perbandingan agama di skala global. Di sisi lain, dia setia untuk menjelaskan agama dalam istilahnya yang khas. “Yang Sakral” dalam pemikiran Eliade dapat ditemukan dalam simbol dan mitos, dilihat dari sudut pandang masyarakat yang memilikinya.
Camus, Tubuh dan Sejarah
Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1052.515 KB)
Sejak umur 17 tahun, Camus makin menyadari dua hal penting dalam hidupnya: kemiskinan dan kematian. Kemiskinan tak pernah merupakan nasib malang baginya, justru memberinya pelajaran berharga. Kesengsaraan mencegahnya untuk percaya bahwa keadaan baik-baik saja di dunia dan dalam sejarah. Hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan gairah dan rasa sakit, bukan dengan ide-ide. Ia tidak butuh janji masyarakat sempurna kelak kemudian hari, ia tidak perlu janji surga. Camus memperhitungkan kenyataan bahwa kita tidak bisa serba tahu tentang hidup dan dunia.
Fenomena Melimpah Menurut Jean-Luc Marion
Paulus Eko Kristianto
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (320.54 KB)
Artikel ini mencoba memaparkan pemikiran baru Jean-Luc Marion dalam fenomenologi. Pemikiran tersebut menunjuk pada fenomena melimpah (saturated phenomenon atau le phénomène saturé) sebagai fenomena dengan derajat fenomenalitas yang melimpahi intuisi. Dalam perkembangan analisisnya, Marion memperlihatkan bahwa fenomen melimpah justru membuka ruang diskusi antara filsafat, teologi, dan ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Diskusi tersebut terjadi karena fenomena melimpah tetap mempertahankan keunikan rasional tiap kajian, tetapi sekaligus memperluas titik temu di antaranya. Melalui pertimbangan ini, penulis merasa kajian fenomena melimpah dapat diperhitungkan.