Articles
257 Documents
Salam Redaksi Vol. 4
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.988 KB)
Pengantar terhadap isi Jurnal Dekonstruksi volume 4.
Analisis Bornedal atas Pandangan Nietzsche tentang Pembentukan Nilai Baik dan Jahat
Y. Adi Wiyanto
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.678 KB)
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.57
Nietzsche berpandangan bahwa pembentukan nilai baik dan nilai jahat dapat ditelusuri dari perbedaan kelas sosial di peradaban kuno, khususnya Yunani, yaitu antara kelas atas (kaum tuan) dan kelas bawah bawah (kaum budak). Dari perbedaan kelas tersebut, Nietzsche mendefinisikan nilai baik sebagai semua ciri dan sifat dalam kaum tuan, sedangkan nilai buruk adalah semua ciri dan sifat dalam kaum budak. Adapun nilai jahat adalah hasil pembalikan nilai baik dalam kaum tuan yang dilakukan oleh kaum budak. Pembalikan nilai ini dapat terjadi karena ressentiment. Ressentiment ini juga menghasilkan nilai baik bagi kaum budak. Bornedal menganalisis bahwa proyek filsafat Nietzsche dalam pembentukan nilai baik dan nilai jahat tersebut terlalu menyederhanakan proses mental, dorongan, dan penilaian. Menurut Bornedal, oposisi antara baik dan jahat tidak pernah stabil, definisi baik dan jahat saling melengkapi, serta baik dan jahat merupakan oposisi relatif yang terkait dengan pembentukan makna baik dan jahat itu sendiri. Selain itu, baik dan jahat juga saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Dekonstruksi Derrida terhadap Humanisme Barat
Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (219.259 KB)
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.58
Tulisan ini menyajikan sebuah uraian tentang bagaimana Jacques Derrida (1930-2004) melakukan dekonstruksi terhadap proposisi filsafat Barat tentang hakikat manusia di bawah wacana humanisme. Melalui tulisan ini, kita juga dapat menemukan bahwa dekonstruksi tidak bermakna sebuah tindakan untuk merekonstruksi/memperbaiki struktur sebuah proposisi agar mendapatkan sebuah proposisi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, atau juga tidak bermakna sebuah tindakan untuk menghancurkan/merobohkan sebuah proposisi dengan tujuan untuk menggantikannya dengan sebuah proposisi yang baru. Faktanya, dekonstruksi sebenarnya hanya sebuah tindakan penyingkapan metafisika kehadiran di dalam sejarah filsafat Barat untuk menunjukkan bahwa filsafat Barat cenderung untuk menobatkan teks menjadi sebuah Kehadiran. Dengan demikian, dekonstruksi di dalam tulisan ini hanya akan menyingkapkan selubung metafisika kehadiran di dalam diskursus tentang manusia di bawah wacana humanisme tanpa bermaksud untuk memperbaiki atau menghancurkannya.
Berkunjung ke Dunia Khayal Goenawan Mohamad
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1329.651 KB)
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.62
Ketika menginjak usia 80 tahun, Goenawan Mohamad membuat 50 lukisan cat minyak dan 200 sketsa untuk dipamerkan secara besar-besaran. Melihat karya rupa Goenawan, kita diajak memasuki dunia fiksi yang mempunyai aturan-aturan dan logikanya sendiri, yang berbeda dengan realitas. Dengan itu kita menikmati suasana dan kombinasi warna yang khas, yang bersesuaian dengan kepribadian pelukisnya. Tidak semua subyek dalam karya-karya yang dipamerkan digambarkan seutuhnya, dan tidak harus dimengerti sepenuhnya. Semua yang menggoda dan mengundang pertanyaan dalam lukisan biarlah menjadi enigma. Dalam kebenaran kita tak dapat mendedahkan semua teka-teki. Sebuah lukisan membutuhkan sedikit misteri, beberapa ketidakjelasan, beberapa fantasi.
Mau Membuat Apa Seni Rupa Indonesia?
Yuswantoro Adi
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (229.886 KB)
Kesulitan yang terjadi dalam suatu era sesungguhnya menjadi bahan pemicu untuk menghasilkan karya-karya kreatif. Karya seni rupa hampir selalu menjadi ikon yang menandai sebuah perubahan besar. Namun para seniman Indonesia akhir-akhir ini terlalu sibuk di gelanggangnya sendiri, memperdebatkan terma-terma yang kurang penting. Padahal karya yang baik itu sudah ada ukuran-ukurannya yang mengacu secara akademik di lembaga pendidikan seni. Ketimbang menunggu pasar bergairah lagi atau berkhayal "booming" senirupa terulang, Yuswantoro Adi lebih memilih berbuat dan bergegas.
Seniman Dulu dan Kini
Ugo Untoro
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (182.201 KB)
Sebagai perupa seni kontemporer terkemuka, Ugo Untoro merasakan sejak tahun 2000 senirupa Indonesia sangat bergairah. Orang tua tidak lagi melarang anak-anaknya untuk masuk sekolah seni. Para perupa sekarang ini sangat menguasai teknologi yang serba digital. Seniman tidak lagi duduk bersila, merokok sepanjang hari untuk menunggu inspirasi, namun seniman sekarang adalah individu yang dinamis, tidak gagap untuk bicara di depan mikrofon, dan mampu menggaet pasar dengan sukses. Dalam renungannya, Ugo mempertanyakan masihkah seniman sekarang mempunyai empati yang tulus pada masyarakatnya seperti seniman zaman dahulu.
Estetika Mala: Sebuah Percobaan
Wahyudin
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1736.949 KB)
Sejak abad 16 para seniman dunia telah menjadikan bencana sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, seperti Pieter Bruegel, Edvard Munch dan Theodore Gericault. Hal yang sama terjadi dengan para seniman Indonesia, seperti Raden Saleh yang melukiskan bencana banjir di Jawa Tengah. Sampai para perupa kontemporer yang mengabadikan gempa di Yogyakarta, semburan lumpur Lapindo, dan tragedi 1965 dalam karya-karyanya. Demikian pula ketika bencana Covid terjadi, para seniman tetap berkarya dan berpameran. Sementara ikhtiar itu disambut baik oleh antusiasme para pengunjung pameran.
Surealisme Dalam Seni Lukis Indonesia
Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1745.329 KB)
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.66
Surealisme yang berkembang pada tahun 1920an di Eropa, mulai mendapatkan gemanya 40 tahun kemudian di Indonesia. Sejak tahun 1963 mulai didapatkan karya-karya surealistik yang terus muncul sampai sekarang. Studi ini didasarkan pada penelitian sebagian koleksi lukisan Galeri Nasional Indonesia yang ada dalam katalog Handbook of Collections Galeri Nasional Indonesia. Terlihat bahwa konten dari lukisan surealisme terpengaruh oleh situasi politik dari dekade ke dekade.
Futurisme Seni Rupa sebagai Wajah Estetika Humanis Masa Depan
Desy Nurcahyanti
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.26 KB)
Dialektika untuk membaca kecenderungan visualitas seni rupa masa depan sedang berlangsung. Namun, seni rupa menjadi minoritas di antara topik prediksi perubahan dunia pada abad 22 yang telah masuk ke tataran telekomunikasi 5G itu. Permintaan untuk tetap mempertahankan rupa secara hakiki sebagai wujud bendawi yang ada, yaitu yang fisik dan touchable, terus digaungkan. Jalan terbaik adalah mendudukkan seni rupa sesuai fungsi, sehingga semua perspektif tetap pada koridornya. Selanjutnya, aktivitas seni rupa tetap berjalan dengan memanfaatkan kemajuan zaman, yang tetap mengutamakan manusia sebagai kreator. Ada pihak yang bertugas mengawasi, memantau, menganalisis, dan memberi solusi ketika wujud rupa pada seni berubah dangkal, sehingga totalitas daya magis dan daya pikat seni rupa tetap terjaga.
Estetika Nusantara dalam Ragam Hias Ornamen Logam Perhiasan
Dhyani Widiyanti Hendranto
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (302.241 KB)
Penelitian ini merupakan kajian filosofis mengenai estetika Nusantara pada ragam ornamen logam perhiasan. Melalui motif-motif berupa ikan mas, bunga jeumpa, dan sedap malam, dapat diperoleh kesimpulan bahwa istilah “tradisi” tidak lagi identik dengan masa lalu, melainkan selalu direkonstruksi oleh penafsir. Citra yang ditimbulkan dari perhiasan logam tidak lebih dari konstruksi masyarakat. Untuk itu diciptakan karya perhiasan yang lebih egaliter dan terbuka aksesnya. Sehingga batas-batas antara Barat – Timur, Urban – Pinggiran, tradisi – modern, serta fungsional – non-fungsional, tidak lagi penting dalam kriya kontemporer. Ornamen logam kontemporer memiliki ekspresi estetik yang khas dan menunjukkan suatu simbol tertentu, sebagai sebuah medium yang mengekspresikan identitas ke-Nusantara-an.