cover
Contact Name
Muhammad Patri Arifin
Contact Email
rausyan.fikr2017@gmail.com
Phone
+6285255306531
Journal Mail Official
rausyan.fikr2017@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia Jalan Diponegoro No. 23 Kota Palu, 94221
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat
ISSN : 19787812     EISSN : 25807773     DOI : 10.24239/rsy
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat is an academic peer-reviewed journal that publishes the current articles and result of research of the scholars and student who are deeply concerned with theology and philosophy issues. Rausyan Fikr is regularly published twice a year (June and December period). The focus of the study is the latest discourse in the field of study of Islamic Theology, Sufism, Islamic Thought and Philosophy as well as the study of the Koran and Hadith (Islamic Studies).
Articles 156 Documents
PRINSIP MORAL TERTINGGI: Konstruksi Nalar Maslahat Al-Buti dalam Wacana Ijtihad Kontemporer M. Ilham Ilham
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.329 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i1.550

Abstract

This article aims to construct al-Buti> maslahat in contemporary ijtihad discourse as a grand narrative and the highest moral principle. The Methodology of this article is a library research which adopts descriptive analytical reading from various literatures with historical approaches include socio-cultural religious and philosophical approaches which include Islamic legal theories and Islamic legal philosophy. The dialectic of the text and benefit is a continuation of the classic debate between reason and revelation. The debate around the pattern of relations between the two colors the Muslim thought has passed to this day and has never been linear. Indeed form the highest moral principles of Islamic teachings, maslahah occupies an important position in the processes of ijtihad, especially in the latest development of socio-religious issues. Benefit considerations are impossible to deny because their existence as the ultimate goal of the Sabbath has a strong theological justification. Maslahah is the ultimate meaning of Islamic teachings that should be considered in understanding religious texts. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi nalar maslahat al-But}i> dalam wacana ijtihad kontemporer sebagai narasi agung dan prinsip moral tertinggi. Secara metodologis, artikel ini merupakan riset kepustakaan (library research) yang mengadopsi metode deskriptif analatis melalui pembacaan terhadap berbagai literatur dengan pendekatan pendekatan historis yang mencakup socio-cultural religious dan pendekatan filosofis yang meliputi teori hukum Islam (Islamic legal theories) dan filsafat hukum Islam (Islamic legal philosophy). Dialektika teks dan kemaslahatan merupakan kelanjutan perdebatan klasik antara nalar dan wahyu. Perdebatan seputar pola relasi antara keduanya mewarnai perjalanan pemikiran umat Islam sampai hari ini dan tidak pernah berjalan linier. Sejatinya, sebagai prinsip moral tertinggi ajaran Islam, kemaslahatan menempati posisi penting dalam proses-proses ijtihad, terlebih dalam perkembangan mutakhir isu sosial keagamaan. Pertimbangan kemaslahatan tidak mungkin dinafikan karena eksistensinya sebagai sebagai tujuan puncak pensyariatan memiliki justifikasi teologis yang kuat. Kemaslahatan merupakan makna puncak ajaran Islam yang semestinya dipertimbangkan dalam memahami teks-teks agama.
TELAAH HERMENEUTIKA HADIS YUSUF AL-QARDHAWI Ahmad Syahid
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.1 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i1.551

Abstract

Al-Qardhawi menawarkan konsep dan metodologi yang sangat cerdas dan solutif dalam memahami sunah Nabi. Tidak hanya itu, ia juga menunjukkan bagaimana umat Islam harus melakukan interaksi yang ideal dengan sunah. Tulisan ini adalah studi literatur, yaitu meneliti data yang berkaitan dengan tema dengan memeriksa referensi yang berkaitan dengan studi utama, khususnya pemikiran Yusuf al-Qardhawi tentang hadis. Selain itu, kitab atau buku lain digunakan juga sebagai pelengkap penelitian ini. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif analisis. Dilihat dari jenisnya tulisan ini termasuk riset kepustakaan (library research). Hasil dari tulisan ini menjelaskan bahwa cara al-Qardhawi dalam memahami hadis adalah dengan menerapkan beberapa prinsip yang sesuai dengan maqāṣid al-syarī’ah, yaitu: (1) memahami sunah sesuai petunjuk al-Qur’an, (2) menghimpun hadis-hadis yang terjalin dalam tema yang sama, (3) penggabungan atau pentarjihan antar hadis-hadis yang tampak bertentangan, (4) memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakang serta tujuannya, (5) membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan sasaran yang tetap, (6) membedakan yang hakiki dan majazi, (7) membedakan yang gaib dan yang nyata, (8) memastikan makna kata-kata dalam hadis.
KONSEP CINTA ILAHI (MAHABBAH) RABI’AH ADAWIYAH Mudaimin Mudaimin
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.02 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i1.552

Abstract

We ​​need a handle on life, that is religion or belief that recognizes the existence of an all-powerful substance, whereas in daily life a person is required to maintain, improve, and improve the quality of faith and piety in the creator, to achieve that there are all several ways one of which is through the world of Sufism or commonly known as the mystical world. For attainment in the mystical world it can be done by way of meditation or spiritual practice. The pinnacle of the mystical world is mahaabah or divine love where these are the highest levels of attainment towards God. In this paper the author examine the theory of divine love (mahabbah) from the Sufi women who first expressed her love to God, namely Rabi'ah Adawiyah. This paper uses the type of library research, while the approach used is historical, philosophical. Data collection is done by the documentation method and analyzed by descriptive analysis method. According to Rabi'ah love is love that has no strings attached to it and does not expect a reward in the form of either reward or liberation of the law, but what is sought is only doing God's will and perfecting it. Dalam kehidupan ini kita membutuhkan pegangan hidup yaitu agama atau keyakinan yang mengakui adanya Zat yang maha kuasa, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari seseorang dituntut menjaga, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas iman dan takwa pada sang pencipta, untuk mencapai itu semua ada beberapa jalan salah satunya adalah melalui dunia tasawuf atau biasa dikenal dengan dunia mistik. Untuk pencapaian dalam dunia mistik itu dapat dilakukan dengan cara meditasi atau latihan spiritual. Puncak dari dunia mistik adalah mahaabah atau cinta Ilahi dimana ini semua merupakan tingkat tertinggi dalam pencapaian menuju Allah. Dalam tulisan ini penulis akan mencoba untuk menelaah teori cinta ilahi (mahabbah) dari toko sufi perempuan yang pertama kali mengemukakan kecintaanya pada sangkhalik yakni Rabi’ah Adawiyah. Penelitian dengan judul “Konsep Cinta Ilahi (Mahabbah) Rabi’ah Adawiyah” menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), adapun pendekatan yang digunakan adalah historis, folosofis. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan dianalisis dengan metode analisis deskritif. Menurut Rabi’ah cinta adalah cinta yang tidak ada pamrih di dalamnya dan tidak mengharapkan balasan baik yang berupa ganjaran maupun pembebasan hukum, tetapi yang dicari hanyalah melakukan keinginan Allah dan menyempurnakannya.
ISLAM WASTHIYYAH DALAM KACA MATA TAFSIR AL-QUR’AN: (Kajian Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi Penafsiran Dalam Q.S. Al-Baqarah: 143) Arif Sugitanata
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.863 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i1.573

Abstract

This paper tries to discuss the concept of Wasthiyyah Islam in the perspective of the Qur'an through various interpretations. Specifically, there are several aspects that became the focal point of this study, First, looking back at the concept of Islamic Wasthiyyah in the Qur'an. Second, revealing the context and nature of Islam Wasthiyyah in a variety of interpretations. Third, to actualize the characteristics of Wasthiyyah Islam in the current context. The research approach used is the study literature approach which is based on several references that support related Books, Journals, Articles and so on. The results of this study indicate that the concept of Islamic Wasthiyyah in terms of several interpretive perspectives can be said as a sociological concept of Islam that emphasizes aspects universally related to the context of harmonious religious life, tolerance, and forming a moderate Islam in order to eliminate the extreme attitudes that have been many addressed to Islam.
Peradaban Infrastruktur Ibnu Khaldun: (Perspektif Perpindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia) Syamsuri Syamsuri
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.047 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.598

Abstract

Prophet Muhammad p.b.u.h., moved (hijrah) from Mecca al-Mukarramah to Medina al-Munawwarah, then founded the state of Medina by gathering the national strength of the Muslim, Christian and Jewish population with the identity of the Quraish, Auz, and Khazraj tribes. Caliph Ali bin Abi Talib moved the capital of the Rashidah Caliphate from Medina to Kufa, form Arab to the Persian region. Muawiyah bin Abu Sufyan chose Damascus as the capital of the Umayyah dynasty. Abu Abbas al-Safah placed the seat of the Abbasid dynasty in Baghdad. Furthermore, the Ottoman Empire had its capital in Istanbul. After turning into the Republic of Turkey, it occupies Ankara as the capital. Planning of moving the capital city of the Republic of Indonesia is from the Province of the Special Capital Region (DKI) Jakarta to the Province of East Kalimantan intended as an effort to equalize development that strengthen togetherness in a sense. The ideological, political, social, cultural and legal foundations serve as the basis of legitimacy in the historical footsteps of the Paser Kingdom and the Kutai Kartanegara Kingdom, as the center of government of the Republic of Indonesia. The theory of development ('umran), urban theory ('urban), and the theory of nationality ('asabiyah) put forward by Ibn Khaldun in the Muqaddimah have become methodological conceptions in studying maritime-based archipelago construction. This research shows the point of the new State Capital (IKN), in the archipelago network from Sabang to Merauke. A blueprint for the nation's journey that covers the dynamics of human resource potential in the natural resource management system of the republic of Indonesia.
Syair Sufistik Kyai Djamal dalam Perspektif Strukturalisme Levi-Strauss: Bahasa Indonesia Siswoyo Aris Munandar; Elia Malikhaturrahmah
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.499 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.600

Abstract

The fact is that many young Javanese today do not know wayang characters, wayang stories, folk songs, and children's games. This proves the lack of appreciation of the younger generation for studying literature and culture in their region. They consider that regional literature is ancient and out of date. This causes regional literature and culture to gradually become extinct. Syi'ir Jawi Budi Utami is oral literature written by Kiai Djamal. This research was conducted as an effort to understand syi'ir Kiai Djamal by using the Levi-Strauss structuralism analysis which examines literary works not only from the literary field but also from the field of anthropology. The author focuses this research on two problem formulations, namely, why did Kiai Djamal write syi'ir Jawi Budi Utami and what is the structure of syir Jawi Budi Utami. The method used for data collection is documentation and is processed by descriptive-analytical methods. The purpose of this research is to enrich the discourse and insight into the study of the concept of Levi-Strauss structuralism as well as as a reference or preliminary review for the development of studies on the Sufistic syi'ir of Kiai Djamal in Levi-Strauss structuralism, on the one hand, the application of Levi-Strauss structuralism analysis to other objects. This research found that the principles of writing syi'ir Kiai Djamal consist of five episodes, namely: first Kiai Djamal introduces the phases of a Muslim, namely syari'ah, thoriqoh, and haqiqoh. The second episode of Kiai Djamal introduces one of the tarekat, namely the Syadziliyyah Tarekat, followed by the following chapters regarding the explanation of the Syadziliyyah Tarekat. The third episode is the Qodiriyah Order. The fourth episode is the Tarekat An-Naqsabandiyah in brief. The fifth episode is a continuous explanation of the previous chapter. This shows the structure of writing Syi'ir Kiai Djamal. Also, the researcher sees that the context in syi'ir Kiai Djamal is an unconscious reflection of Kiai Djamal with the discovery of signifier and signified, langue and parole, form and content and phonemes in syi'ir Kiai Sufistik Djamal. Faktanya anak-anak muda Jawa saat ini banyak yang tidak mengenal tokoh-tokoh wayang, cerita wayang, lagu daerah, dan dolanan anak. Hal ini membuktikan kurangnya apresiasi generasi muda untuk mempelajari sastra dan budaya daerahnya sendiri. Mereka menganggap bahwa sastra daerah bersifat kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini menyebabkan sastra dan budaya daerah lambat laun akan mengalami kepunahan. Syi’ir Jawi Budi Utami merupakan salah satu sastra lisan yang ditulis oleh Kiai Djamal. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk memahami syi’ir Kiai Djamal dengan menggunakan analisis strukturalisme Levi-Strauss yang mengkaji karya sastra tidak hanya dari bidang sastra saja tetapi juga dari bidang antropologi. Penulis memfokuskan penelitian ini pada dua rumusan masalah yaitu, mengapa Kiai Djamal menulis syi’ir Jawi Budi Utami dan bagaimana struktur dalam syir Jawi Budi Utami. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dokumentasi, dan diolah dengan metode deskriptif analitis. Tujuan penelitian ini adalah memperkaya wacana dan wawasan tentang kajian konsep strukturalisme Levi-Strauss serta sebagai referensi atau tinjauan awal untuk pengembangan kajian atas syi’ir sufistik Kiai Djamal dalam strukturalisme Levi-Strauss di satu sisi, aplikasi analisis strukturalisme Levi-Strauss terhadap objek lain. Penelitian ini menemukan bahwa prinsip penulisan syi’ir Kiai Djamal terdapat lima episode, yaitu: pertama Kiai Djamal memperkenalkan fase-fase seorang muslim yaitu syari’ah, thoriqoh dan haqiqoh. Episode kedua Kiai Djamal memperkenalkan salah satu tarekat yaitu Tarekat Syadziliyyah disusul bab-bab setelahnya mengenai penjelasan Tarekat Syadziliyyah. Episode ketiga adalah Tarekat Qodiriyah. Episode keempat adalah Tarekat An-Naqsabandiyah secara singkat. Episode kelima adalah penjelasan bab sebelumnya secara sambung menyambung. Hal ini menunjukkan struktur dari penulisan Syi’ir Kiai Djamal. Selain itu peneliti melihat bahwa konteks yang ada dalam syi’ir Kiai Djamal merupakan cerminan nirsadar dari Kiai Djamal dengan ditemukannya signifier dan signified, langue dan parole, form dan content serta fonem dalam syi’ir Kiai Sufistik Djamal.
Pengobatan Tradisional Baca-Baca pada Masyarakat Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep (Perspektif Hukum Islam) Nawir HK; Rahmatiah HL
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.633 KB)

Abstract

The results of the research showed that the traditional healing practice of baca-baca in Balang Caddi Island community can be divided into two parts, namely baca-baca treatment, which is treated by ritual and treatment without using rituals. The ritual treatment of baca-baca is carried out to treat diseases caused by spirits and jinn. Meanwhile, the treatment for baca-baca without ritual is treating minor ailments. The reason why the people of Balang Caddi Island still practice traditional Baca-baca for medicine because there are no adequate medical facilities, doctors are only in the city, and the distance from Balang Caddi Island to Pangkep Regency, makes people accustomed to do traditional medicine by baca-baca. Traditional medicine baca-baca in Islamic law as long as it does not contain polytheism. The essence of traditional medicine, such as baca-baca, it’s not different from praying or asking Allah for something. for healing, goodness, or benefit for every Muslim who needs treatment. Pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengobatan tradisional baca-baca pada masyarakat Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep perspektif hukum Islam? Pokok masalah tersebut selanjutnya diklasifikasikan dalam beberapa sub masalah atau pertanyaan penelitian, yaitu: 1) Bagaimana praktik pengobatan tradisional baca-baca di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep?, 2) Mengapa pengobatan tradisional baca-baca masih digunakan di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep? dan 3) Bagaimana perspektif hukum Islam tentang pengobatan tradisional baca-baca di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep? Penelitian ini adalah field research deskriptif kualitatif dengan tiga pendekatan, yakni; pendekatan teologis normatif (syar’i), sosiologis dan Antropologis. Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh dari wawancara terhadap informan di Pulau Balang Caddi, data sekunder yang diperoleh dari al-Qur’an, hadis, kaidah fikih, jurnal dan karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan pengobatan tradisional baca-baca serta data tersier diperoleh dari buku-buku yang relevan. Selanjutnya pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan studi dokumen. Sedangkan teknik pengelolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui tiga kriteria yaitu keabsahan konstruk, keabsahan internal dan keabsahan eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik pengobatan tradisional baca-baca pada masyarakat Pulau Balang Caddi, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengobatan baca-baca yang proses pengobatannya dengan cara ritual dan pengobatan dengan tidak menggunakan ritual. Pengobatan baca-baca dengan cara ritual dilakukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh mahluk halus dan jin. Sedangkan pengobatan baca-baca tanpa ritual yaitu mengobati penyakit-penyakit ringan. Alasan masyarakat Pulau Balang Caddi masih melakukan praktik pengobatan tradisional baca-baca disebabkan belum adanya fasilitas medis yang memadai, tenaga dokter hanya ada di kota, dan jaraknya pun jauh dari Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep membuat masyarakat sudah terbiasa untuk melakukan pengobatan tradisional dengan cara baca-baca. Pengobatan tradisional baca-baca dalam hukum Islam boleh sepanjang dalam melakukan pengobatan tersebut tidak mengandung kemusyrikan. Hakikat pengobatan tradisional seperti baca-baca, tidaklah berbeda dengan mendoakan atau memohonkan sesuatu kepada Allah swt. untuk kesembuhan, kebaikan, atau kemashlahatan bagi setiap kaum muslimin yang membutuhkan pengobatan.
Makna Syifa' dalam Alquran dan Relevansinya dengan Sains Modern Muhammad Patri Arifin
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.466 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.605

Abstract

This article is a library research which aims to reveal the meaning of syifa' in the Qur’an and its relevance to modern science. Syifa' theme is an important theme that deserves elaborated to reveal the purpose of its mention which is then linked to the development of science. Its use in the form of nakirah (general) is considered by many as the universality of its content, which then triggers various opinions among commentators regarding the scope of its meaning, characteristics, goals and functions, whether in the form of the Qur’an, verses or something that is considered to be healing. By using thematic methods and a historical-sociological approach to the term of syifa' in the Qur'an, this article comes to the finding that syifa' has relevance to modern science which includes aspects of spiritual therapy, aspects of medical therapy and psychotherapy, as well as aspects of holistic therapy.
Konflik Rumah Tangga dalam Alquran Abdul Ghany Mursalin
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.721 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.611

Abstract

This article aims to describe the conflict in the household according to the Qur'an. Then trace the interpretations of the ulama about the verses of the Qur'an which discuss conflicts in the household. Furthermore, things that can cause conflict in the household, include: Lawlessness, lawlessness is an act that is not in accordance with what has been set (breaking the rules or orders). The act will become a problem that will lead to conflict, including in the household. Domestic violence sometimes triggers conflicts between husband and wife. Domestic violence itself can be in the form of words that hurt a partner, demands for perfection and harsh treatment. like unkind words as an insult to someone else. Conflict in the household is sometimes triggered by bad words uttered by one married couple. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tentang konflik dalam rumah tangga menurut al-Qur’an. Kemudian menelusuri penafsiran para ulama tentang ayat al-Qur’an yang membahas tentang konflik dalam rumah tangga. Selanjutnya hal-hal yang dapat menyebabkan konflik dalam rumah tangga ada banyak hal. Diantaranya: Kedurhakaan, kedurhakaan adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan (melanggar aturan atau perintah). Ketika perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, maka perbuatan itu akan menjadi permasalahan yang berujung konflik, termasuk dalam rana rumah tangga. Kekerasan dalam rumah terkadang menjadi pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Kekerasan dalam rumah tangga sendiri dapat berupa ucapan yang menyakiti pasangan, tuntutan kesempurnaan padanya dan berlaku kasar padanya. sebagai perkataan tidak baik yang diucapkan sebagai penghinaan kepada orang lain. Konflik dalam rumah terkadang pula dipicu dengan adanya perkataan-perkataan buruk yang diucapkan oleh salah satu pasangan suami istri
Wawasan Alquran tentang Ukhuwwah Mursalin Ilyas pa'ba
Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.726 KB) | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.612

Abstract

Ukhuwwah in Islam has the aim of eliminating competition between individuals, tribes, excessive self-love, ego traits and animating the spirit of mutual help, working together and loving each other on the basis of love because of Allah Swt. and His Messenger. Besides that, ukhuwwah can also eliminate fanaticism (asabiyyah). In Islam, humans are considered special because of their devotion. The Prophet made ukhuwwah a strong bond, not just an expression. Actions that are tied to the relationship of blood and possessions and recognition will be created by mutual love, high sacrifice that is engraved on a good role model, namely Rasulullah Saw. Ukhuwwah dalam Islam memiliki tujuan yaitu menghilangkan persaingan antar individu, suku, cinta diri yang berlebihan, sifat ego dan menghidupkan spirit saling membantu, bekerja sama dan saling mencintai dengan dasar cinta karena Allah Swt dan Rasul-Nya. Selain itu ukhuwwah juga dapat menghilangkan fanatisme (as}abiyyah). Dalam Islam, orang tidak akan memiliki keistimewaan di hadapan Allah swt. serta tidak dipandang terdepan maupun terbelakang kecuali dengan kadar ketaqwaannya. Nabi juga telah menjadikan ukhuwwah ini sebagai ikatan kuat dan bukan sekedar ungkapan yang tidak bermakna. Perbuatan yang diikat dengan hubungan darah dan harta serta pengakuan akan tercipta jika didasari rasa saling mencintai, pengorbanan yang tinggi yang terpatri pada suri teladan yang baik yaitu Rasu>lulla>h Saw.

Page 8 of 16 | Total Record : 156