cover
Contact Name
Agustinus Konda Malik
Contact Email
aguskondamalik@staf.undana.ac.id
Phone
+6281237987345
Journal Mail Official
jurnalpeternakan@undana.ac.id
Editorial Address
Jl. Adisucipto Penfui, Kupang Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Peternakan Lahan Kering
ISSN : -     EISSN : 27147878     DOI : -
Jurnal Peternakan Lahan Kering (JPLK) menerbitkan artikel hasil penelitian yang meliputi Produksi ternak, Pakan dan nutrisi ternak, Reproduksi dan pemuliaan ternak, Teknologi hasil ternak, Sosial ekonomi peternakan, dan Kesehatan ternak
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2019): Juni" : 18 Documents clear
Studi pemasaran ternak sapi pada kawasan perbatasan Indonesia dan republik demokratik Timor Leste (RDTL) di Kabupaten Timor Tengah Utara Romandus Abi; Matheos F. Lalus; Johanes G. Sogen
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian secara survei tentang pemasaran ternak sapi telah dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Utara selama enam bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola saluran pemasaran ternak sapi, menganalisis margin pemasaran ternak sapi dan mengkaji saluran pemasaran manakah yang paling efisien di kawasan perbatasan Indonesia dan RDTL. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Pengambilan contoh dilakukan melalui beberapa bertahap (multi stages sampling) yaitu: tahap pertama adalah penentuan kecamatan dan desa contoh dilakukan secara purposif sebanyak tiga kecamatan contoh, selanjutnya dari ketiga kecamatan tersebut dipilih lima desa contoh. Tahap ke dua adalah penentuan responden yang terdiri dari responden peternak dan pedagang. Pemilihan responden peternak dilakukan secara acak non-proporsional, sedangkan penentuan responden pedagang menggunakan teknik Snowbal sampling. Analisis data yang digunakan analisis margin pemasaran dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pola saluran pemasaran yakni 1) peternak-konsumen, 2) peternak-pedagang pengumpul-pedagang besar-konsumen dan 3) peternak-pedagangantar pulau-konsumen. Pada saluran I biaya pemasaran sebesar Rp0 dan Farmer Share 100%. Pada saluran II biaya pemasaran blantik desa sebesar Rp105.000, pedagang besar sebesar Rp175.000/ST, keuntungan blantik desa sebesar Rp895.000, pedagang besar sebesar Rp1.825.000/ST dan Farmer Share 76%. Efisiensi Pemasaran saluran II dan III disebut efisien dengan nilai EP masing-masing sebesar = 2,24% dan 23,36%. Kata kunci: peternak, perantara, margin, efisiensi. ABSTRACT The aim of the survey to determine the pattern of marketing channels for cattle, to analyze the marketing margins of cattle and examin which marketingg channels are the most eficienct in the border regions of indonesia and rDTL. The research methods used is survey methods. Sampling has been done through several stages (multy stages sampling)namely the first stage is the determination of the sample sub-districts and villages is purposively as many as three sample sub-districts, then five sample villages are selected. The second stage is determination of respondents consisting of farmer respondents and trader respondents. The selection of farmer respondents was conducted in a non-proportional random manner, while the determination of trader repondents used the snobal sampling technique. Data analysis used is marketing margin and marketing efficiency. The result of the study indicate that there are three patterns of marketing channels, namely 1) breeder- consumer 2) breeder-collector-whole salers-consumer 3) breeder-inter-island traders-consumer. On the first channel the marketing cost is Rp.0 and farmer share is 100%. On the second channels the marketing costs for village leader is Rp. 895.000, whole salers is Rp175.000/AU, profit for village leader is Rp 895.000, whole salers is Rp1.825.000/AU and farmer share is 76%. The marketing efficiency of the second and third channels is called efficient with ME values of 2.24% and 23.36%. Keywords : breeder, intermediary, margin, efficiency
Hubungan antara karakteristik peternak dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan di kecamatan amarasi timur kabupaten kupang Hugo Irenius Nitti; Johanes G. Sogen; Solvi M. Makandolu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui bentuk hubungan antara karakteristik peternak dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan di Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang, telah dilaksanakan pada bulan Desember 2017 sampai Januari 2018. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi dan analisis regresi. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui erat tidaknya hubungan antara satu variabel dengan variabel lain sementara analisis regresi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain dengan model regresi yang digunakan adalah regresi linear berganda. Untuk pengambilan contoh dilakukan melalui dua tahap yaitu penentuan desa contoh dilakukan secara sensus. Penentuan peternak contoh yang dilakukan secara acak proporsional bagi peternak yang memelihara ternak kurang dari 5 ekor, dan secara sensus untuk peternak yang memelihara ternak sapi 5 ekor atau lebih. Jumlah peternak contoh yang dilibatkan sebanyak 60 orang. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 faktor yang mempunyai hubungan yang nyata dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan yaitu pendidikan (Di), tenaga kerja (X5), dan modal usaha (X6). Dari ketiga faktor tersebut yang berpengaruh nyata terhadap jumlah ternak yang digemukkan (P<0,05) adalah faktor pendidikan (Di) dan modal usaha (X6). Kata kunci: karakteristik peternak, penggemukan sapi, hubungan ABSTRACT A survey aimed at evaluating the correlation between farmers characteristic and the amount of beef fattening cattle in AmarasiTimur District Regency of Kupang was carrted out in December 2017 to Januari 2018. Sampling is done through two stages: the first determination of village sample was done by cencus, and the second the determination of farmers by applying proportional random sampling for breeders who keep beef cattle less than five heads, and cencus for breeeders who raise five heads or more. The amount of breeders involved aresixthy people. The analysis was performed by using correlation analysis and multiple linear regression analysis. The result showed that there are three factors that have a significant correlation with the number of beef cattle fattening ie; education (Di), labor (X5), and capital (X6). From the three factors stated the educational (Di) factor and capital (X6) had a significant effect on the number of beef cattle fattened (P<0.05). Keywords: Farmer characteristic, Fattening beef cattle, Correlation
Pengaruh konsentrasi dan lama perendaman dalam kapur pada proses pembuatan kerupuk kulit sapi bali Paulus Eibilius J. Eho; Bastari Sabtu; Heri Armadianto
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.132 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama perendaman dalam larutan kapur terhadap pada proses pembuatan kerupuk kulit sapi. Bagian kulit sapi segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari bagian punggung (croupon) yang akan dijadikan materi penelitian. Rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3. Faktor A konsentrasi kapur (A1 = 0,2 % A2 = 0,4% A3 = 0,6%) faktor B lama perendaman dalam kapur ( B1= 18 jam B2 = 24 jam B3 = 36 jam). Variabel yang diuji adalah volume pengembangan, kadar protein dan organoleptik yang terdiri dari kerenyahan, bentuk, warna, dan rasa. Data volume pengembangan kerupuk kadar protein di analisis mengunakan analisis variansi dan di lanjutkan uji Duncan, Sedangkan organoleptik dianalisis menggunakan analisis Kruskal wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menyatakan adanya interaksi (P<0,05) antara konsentrasi dan lama perendaman dalam kapur terhadap kerenyahan dan rasa kerupuk.. interaksi tidak berpengaruh ( P>0,05 ) terhadap volume pengembangan, kadar protein, warna dan untuk kerenyahan kulit sapi. Disimpulkan, interaksi antara 0,4% larutan kapur dengan lama perendaman 36 jam menghasilkan kerenyahan dan rasa terbaik. Volume pengembangan, kadar protein, warna dan bentuk kerupuk relatif sama untuk kombinasi perlakuan Kata kunci: konsentrasi kapur, lama perendaman, kerupuk kulit. ABSTRACT The study aims to evaluate the effect of concentration and soaking time in lime solution on the process of making cow hide crackers. The fresh part of the cow hide used in this study comes from the back (croupon), which is used as research material. Complete randomized design (RAL) 2x3 factorial pattern. Factor A Concentration of lime (A1 = 0.2% A2 = 0.4% A3 = 0.6%) Factor B soaking time in lime (B1 = 18 hours B2 = 24 hours B3 = 36 hours). The variables tested were volume development, protein and organoleptic levels consisting of crispness, shape, color and taste. Volume expand data from protein-containing crackers were analyzed using the analysis of variance and the continued Duncan test, while the organoleptics were analyzed using the Kruskal-Wallis analysis and followed by the Mann-Whitney test. The results of the study stated an interaction (P <0.05) between concentration and immersion of the lime in crispness and cracker flavor. The interaction had no effect (P> 0.05) on volume expand, protein content, color and crispness of the diet cowhide. It was concluded that the interaction between 0.4% lime solution and 36 hour expand time produced the best crispness and taste. The volume of development, the protein content, the color and the shape of the crackers are relatively similar for a combination of treatments Key words: lime, soaking, cowhide, crackers.
Pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basal terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada babi Kasmirus Asa; Ni Nengah Suryani; Tagu Dodu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basalterhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik babi peranakan landrace. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi betina peranakan landrace yang berumur 2 – 3 bulan dengan berat badan awal 8,5 – 15 kg (CV = 23,32%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dantiga ulangan.Perlakuan yang dicobakan adalah R0 (ransum basal tanpa tepung kunyit), R1 (ransum basal + tepung kunyit 0,25%), R2 (ransum basal + tepung kunyit 0,50 %), dan R3 (ransum basal + 0,75%). Variabel yang diteliti adalah konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organic, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahanorganik.Analisis statistikmenunjukkan bahwa perlakuaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik pada babi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan tepung kunyit 0,25 – 0,75% memberikan respon yang relatif sama. Oleh karena itu disarankan untuk melaksanakan penelitian lanjutan pada ternak babi peranakan landrace dengan meningkatkan persentase kunyit. Kata kunci : ternak babi, ransum basal, tepung kunyit ABSTRACT The study aimed at evaluating the effect of supplementing Curcuma meal in basal diet on intake and digestibility of dry and organic matter of pigs. There were 12 crossbred landrace gilts of 2-3 months of age with 8.5-15 kg (CV 23.3%) initial body weight used in the study. This study used a randomized block design 4 treatments with 3 replications. The Treatments offered were: R0(basal feed without Curcuma meal); R1 (basal feed with 0.25%Curcuma meal); R2 (basal feed with 0.50% Curcuma meal); and R3 (basal feed with0.75% Curcuma meal). Variable measured were: intake and digestibility dry matter and organic matter on pigs. Statistical analysis showed that effect of treatment is not significant (P>0.05) on either intake or digestibility of dry or organic matter. The conclusion is that supplementing 0.25 – 0.75% Curcuma meal into basal diet performs the similar results in intake and digestibility of dry and organic matter. Further study is needed by increasing the level of including Curcuma meal into basal diet. Key words: pigs, basal diet, curcuma meal
Pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot (Achatina fulica) dalam ransum terhadap kecernaan nutrisi babi lokal Marice Yosefa Wea; Winfrit A. Lay; Johanis Ly
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot dalam ransum sebagai sumber protein terhadap kecernaan nutrisi babi lokal telah dilaksanakan di Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTT selama 10 minggu, yang terdiri dari 2 minggu masa penyesuaian dan 8 minggu pengambilan data. Dalam penelitian ini menggunakan 12 ekor ternak babi lokal jantan fase pertumbuhan umur 5 bulan, dengan kisaran berat berat badan awal 5,00 - 6,60kg, dengan rata-rata 5,68 kg (KV = 5,23%). Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan mengikuti prosedur rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu: 0% tepung bekicot dalam ransum selaku control, 3%, 6%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot mampu meningkatkan (P<0,01) kecernaan serat kasar dan protein kasar. Sementara kecernaan bahan kering dan bahan organik realatif sama (P>0,05). Dengan demikian dapat diisimpulkan bahwa tepung bekicot dapat digunakan sebagai komponen penyusun ransum hingga level 9% dengan kecernaan serat kasar dan protein kasar tertinggi. Kata kunci: Babi lokal, tepung ikan, tepung bekicot, kecernaan nutrien ABSTRACT The study aimed at evaluating the effect of substituting fish meal with snail (Achatina fulica) meal on nutrient digestibility in local pig was carried out in Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTTfor 10 weeks consisting of 2 weeks adaptation and 8 weeks data collection periods. There were 12 local boars of 5 months of age with 5.0-6.6 kg (CV = 5,23%) initial body weight used in the study. Completely randomized design 4 treatment with 3 replicates procedures were applied in the study. The 4 treatments applied were formulated as: diet with 0% snail meal; diet with snail meal substituting 3% fish meal;diet with snail meal substituting 6% fish meal; anddiet with snail meal substituting 9% fish meal. The result showed that effect of treatment is highly significant (P<0.01) on crude fiber and crude protein digestibility, but not significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility. The conclusion is that snail meal can substitute fish meal up to 9% in pig diet and it performed the highest both crude fiber and crude protein digestibility. Penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot dalam ransum sebagai sumber protein terhadap kecernaan nutrisi babi lokal telah dilaksanakan di Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTT selama 10 minggu, yang terdiri dari 2 minggu masa penyesuaian dan 8 minggu pengambilan data. Dalam penelitian ini menggunakan 12 ekor ternak babi lokal jantan fase pertumbuhan umur 5 bulan, dengan kisaran berat berat badan awal 5,00 - 6,60kg, dengan rata-rata 5,68 kg (KV = 5,23%). Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan mengikuti prosedur rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu: 0% tepung bekicot dalam ransum selaku control, 3%, 6%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot mampu meningkatkan (P<0,01) kecernaan serat kasar dan protein kasar. Sementara kecernaan bahan kering dan bahan organik realatif sama (P>0,05). Dengan demikian dapat diisimpulkan bahwa tepung bekicot dapat digunakan sebagai komponen penyusun ransum hingga level 9% dengan kecernaan serat kasar dan protein kasar tertinggi. Kata kunci: Babi lokal, tepung ikan, tepung bekicot, kecernaan nutrien The study aimed at evaluating the effect of substituting fish meal with snail (Achatina fulica) meal on nutrient digestibility in local pig was carried out in Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTTfor 10 weeks consisting of 2 weeks adaptation and 8 weeks data collection periods. There were 12 local boars of 5 months of age with 5.0-6.6 kg (CV = 5,23%) initial body weight used in the study. Completely randomized design 4 treatment with 3 replicates procedures were applied in the study. The 4 treatments applied were formulated as: diet with 0% snail meal; diet with snail meal substituting 3% fish meal;diet with snail meal substituting 6% fish meal; anddiet with snail meal substituting 9% fish meal. The result showed that effect of treatment is highly significant (P<0.01) on crude fiber and crude protein digestibility, but not significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility. The conclusion is that snail meal can substitute fish meal up to 9% in pig diet and it performed the highest both crude fiber and crude protein digestibility. Key words: local pig, fish meal, snail meal, nutrient digestibility.
Pengaruh penggunaan berbagai konsentrat Dalam pakan berbasis pollard terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi fase starter Nino Janry Dalle; Johanis Ly; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pengaruh penggunaan 3 jenis konsentrat (KGP 709, Hi-Grow, Menara dan campuran ketiganya), terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi kastrasi peranakan landrace berumur 1,5-2 bulan dengan berat badan awal 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat perlakuan, R1: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (25%), R2: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (25%), R3: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Menara (25%), R4: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (8,3%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (8,3%) + Konsentrat Menara (8,3%). Variabel yang diteliti adalah: konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan 3 jenis konsentrat dan campuran ketiga konsntrat tersebut dalam pakan berbasis pollard menghasilkan kececernaan yang relatif sama dan penggunaan ketiganya secara bersama (R4) secara empiris memberikan hasil yang relatif lebih baik. Disarankan agar penggunaan pollard harus ditambahkan konsentrat sesuai standar pemberian dan umur babi yang tepat dan akan lebih baik dalam bentuk campuran beberapa jenis konsentrat. Kata kunci : Konsentrat, Konsumsi, Kecernaan, Bahan Kering, Bahan Organik, babi ABSTRACT The study was carried out for 8 weeks: June 17 to August 26, 2018. The study aimed at evaluating the effect of including 3 different concentrate feeds (KGP 709, Hi-Grow, Menara and their mixture) into pollard based-feeds on dry and organic matter intake and digestibility in pig. There were 12 landrace crossbred barrows 1.5-2 months old with 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%) initial body weight. Complete block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment feeds were formulated as: R1: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (25%); R2: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Hi-Grow 152 (25%); R3: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Menara (25%); and R4: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (8.3%) + consentrat Hi-Grow 152 (8.3%) + concentrate Menara (8.3%). The variable studied were: dry and organic matter intake and digestibility in pig. The results show that effect of treatment is not significant (P>0,05) on either intake or digestibility of either dry matter or organic matter in pig. The conclusion is that including the 3 different concentrates and their mixture perform the similar result in both intake and digestibility of both dry matter and organic matter in pig, which empiricaly the mixture (R4) relatively performs higher results. It is advisavle to include feed contrate in pollard-based feeds and would be better in the mixture of concentrates. Key words: concentrate, intake, digestibility, dry matter organic matter, pig Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pengaruh penggunaan 3 jenis konsentrat (KGP 709, Hi-Grow, Menara dan campuran ketiganya), terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi kastrasi peranakan landrace berumur 1,5-2 bulan dengan berat badan awal 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat perlakuan, R1: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (25%), R2: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (25%), R3: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Menara (25%), R4: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (8,3%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (8,3%) + Konsentrat Menara (8,3%). Variabel yang diteliti adalah: konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan 3 jenis konsentrat dan campuran ketiga konsntrat tersebut dalam pakan berbasis pollard menghasilkan kececernaan yang relatif sama dan penggunaan ketiganya secara bersama (R4) secara empiris memberikan hasil yang relatif lebih baik. Disarankan agar penggunaan pollard harus ditambahkan konsentrat sesuai standar pemberian dan umur babi yang tepat dan akan lebih baik dalam bentuk campuran beberapa jenis konsentrat. Kata kunci : Konsentrat, Konsumsi, Kecernaan, Bahan Kering, Bahan Organik, babi ABSTRACTThe study was carried out for 8 weeks: June 17 to August 26, 2018. The study aimed at evaluating the effect of including 3 different concentrate feeds (KGP 709, Hi-Grow, Menara and their mixture) into pollard based-feeds on dry and organic matter intake and digestibility in pig. There were 12 landrace crossbred barrows 1.5-2 months old with 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%) initial body weight. Complete block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment feeds were formulated as: R1: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (25%); R2: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Hi-Grow 152 (25%); R3: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Menara (25%); and R4: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (8.3%) + consentrat Hi-Grow 152 (8.3%) + concentrate Menara (8.3%). The variable studied were: dry and organic matter intake and digestibility in pig. The results show that effect of treatment is not significant (P>0,05) on either intake or digestibility of either dry matter or organic matter in pig. The conclusion is that including the 3 different concentrates and their mixture perform the similar result in both intake and digestibility of both dry matter and organic matter in pig, which empiricaly the mixture (R4) relatively performs higher results. It is advisavle to include feed contrate in pollard-based feeds and would be better in the mixture of concentrates. Key words: concentrate, intake, digestibility, dry matter organic matter, pig
Pengaruh penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda Terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi Gunawan Edison Goboy; I Made Suaba Aryanta; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi jantan dan betina peranakan landrace, berumur 4 – 5 bulan dengan bobot badan awal 31kg – 65kg dengan rataan 49,25kg (KV=24%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R1: ransum yang diberikan 3% dari bobot badan, R2: Ransum yang diberikan 4% dari bobot badan, R3: Ransum yang diberikan 5% dari bobot badan, R4: Ransum yang diberikan 6 % dari bobot badan. Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil analisis statistika m enunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan kering dan bahan organik dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda hingga 6% dari bobot badan memberikan pengaruh yang nyata dalam meningkatkan konsumsi bahan kering dan bahan organik dan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat disarankan agar petani peternak dalam pemberian pakan untuk ternak sebaiknya 4%-6% dari bobot badan. Kata kunci: Babi, Penjatahan, bahan kering, bahan organik. ABSTRACT The aimsof the study is to evaluate the effect of different feeding adminstrati levels on intake and digestibility of dry and organic matter in pigs. There were 12 landrace barrow 4 to 5 months old with initial 31kg - 65kg (avg. 49.25 kg; CV = 24%) initial body weight used in the study. Randomized Block Design (RBD) 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the trial. The 4 treatments offered were: R1: feed adminstrated 3% of body weight; R2 4% of body weight; R3: feed adminstrated 5% of body weight; and R4: feed adminstrated 6% of body weight. The variables studied were: dry matter and organic matter intake; and dry matter and organic matter digestibility values. Statistical analysis showed that the effect of treatment was highly significant (P<0.1) on both dry matter and organic matter itake, but no significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility value. The conclusio is that administrationg pig with different feeding levels up to 6% of body weight increase the significantly dry and organic matter intake, but similar in both dry jmatter and organic matter digetibility in pig. The rrecommendation is that farmer can adminstrate pigs with feed 4-6% of body weight. Key words : Pigs, allotment, dry matter, organic matte
Pengaruh penambahan tepung biji asam terfermentasi terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar serta konsumsi dan kecernaan energi ayam broiler Febriyanto Do Carmo Seran; Ni Putu Febri Suryatni; Sutan Y.F.G. Dillak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji asam terfermentasi (TBAT) terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar serta konsumsi dan kecernaan energi ayam broiler. Materi yang digunakan adalah 16 ekor ayam broiler berumur 3 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu : Ransum basal tanpa Tepung Biji Asam Terfermentasi (R0), Ransum basal yang menggunakan 8% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R1), Ransum basal yang menggunakan 10% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R2) dan Ransum basal yang menggunakan 12% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R3). Kesimpulan dari penelitian ini adalah; Penggunaan Tepung Biji Asam Terfermentasi (TBAF) dalam ransum ayam broiler sampai level 10% dalam ransum memberikan pengaruh yang sama dengan ransum kontrol pada konsumsi energi, kecernaan protein dan energi namun terjadi penurunan kecernaan protein pada tingkat 12% dalam ransum, penggunaan tepung biji asam terfermentasi dapat digunakan sampai 10% dalam ransum ayam. Kata Kunci : Biji Asam, fermentasi, Konsumsi, Kecernaan, broiler ABSTRACT This study aimed at evaluating the effect of fermented tamarind seed on intake and digestibility of crude protein and energy of broiler chickens. The material used were 16 broiler chicken 3 weeks of age. The feeding trial was arranged in completely randomized design (CRD) 4 treatments with 4 replicates procedure. The treatments were: basal diet without fermented tamarind seed meal (R0); basal diet containing 8% fermented tamarind seed meal (R1); basal diet containing 10% fermented tamarind seeds meal (R2); and basal diet containing 12% fermented tamarind seeds meal (R3). The conclusion is that including fermented tamarind seed meal up to 10% perform the similar results with basal diet, but at 12% level decreased either intake or digestibility of either protein or energy of broiler chicken. Keyword : Tamarind Seed, fermentation, intake, digestion broiler

Page 2 of 2 | Total Record : 18