cover
Contact Name
Agustinus Konda Malik
Contact Email
aguskondamalik@staf.undana.ac.id
Phone
+6281237987345
Journal Mail Official
jurnalpeternakan@undana.ac.id
Editorial Address
Jl. Adisucipto Penfui, Kupang Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Peternakan Lahan Kering
ISSN : -     EISSN : 27147878     DOI : -
Jurnal Peternakan Lahan Kering (JPLK) menerbitkan artikel hasil penelitian yang meliputi Produksi ternak, Pakan dan nutrisi ternak, Reproduksi dan pemuliaan ternak, Teknologi hasil ternak, Sosial ekonomi peternakan, dan Kesehatan ternak
Articles 201 Documents
Pengaruh Penggunaan Daun Mayana (Solenostemon scutellarioides L) dalam Perebusan Daging Sapi terhadap Kualitas Kimianya: The Effect of Using Mayana Leaves (Solesnostemon scutellarioides L) in Boiling Proces on the Chemical Quality of Beef Yuniati Lia Pote; Bastari Sabtu; Agustinus Ridolf Riwu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan daun mayana (Solenostemon scutellarioides L) dalam perebusan daging sapi terhadap kualitas kimia. Materi yang digunakan adalah daging sapi dan daun mayana. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari P0 = Daging Sapi tanpa Daun Mayana,  P1 = Daging Sapi 1 kg + Daun Mayana 100 g, P2 = Daging Sapi 1 kg + Daun Mayana 200g, P3 = 1 kg Daging Sapi + Daun Mayana 300 g. Variabel yang diukur meliputi kadar protein, kadar lemak, kolesterol dan nilai Thiobarbituric-Acid (TBA). Hasil penelitian penambahan daun mayana dalam perebusan daging sapi berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap kadar protein, kadar lemak, kolesterol dan nilai Thiobarbituric-Acid (TBA). Disimpulkan bahwa penambahan daun mayana sebanyak 300g dalam perebusan daging sapi dapat meningkatkan kadar protein sebesar 38.04%, kadar lemak 2.79%, kolesterol 42.07% dan nilai Thiobarbituric-Acid (TBA) 2.71%.   This research aims to determine the effect of added mayana leaves (Solenostemon scutellarioides L) in boiling proces on chemical quality of beef. The materials used were beef and mayana leaves. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. The treatments consistedof P0 = Beef without Mayana Leaves, P1 = 1 kg Beef + 100 g Mayana Leaves, P2 = 1 kg Beef + 200 g Mayana Leaves, P3 = 1 kg Beef + 300 g Mayana Leaves. Variables measured included protein content, fat content, cholesterol and Thiobarbituric-Acid (TBA) value. The results of the study shows that the addition of mayana leaves in boiling beef had a significant effect (P<0.05) on protein content, fat content, cholesterol and the value of Thiobarbituric-Acid (TBA). Concluded that additional leaves mayana about 300 g in boiling beef can increase levels of a protein of 38.04%, the fat 2.79%, cholesterol 42.07% and the value of Thiobarbituric-Acid (TBA) 2.71%.  
Kandungan Serat Kasar serta Kecernaan in vitro Ransum Komplit Akibat Penggunaan Daun Bafkenu (Kleinhoviahospita) sebagai Pengganti Rumput Alam: Crude Fiber Content and in vitro Digestibility Complete Rations Due to the Use of Bafkenu Leaves (Kleinhovia hospita) As a Substitute for Natural Grass Ayu Kor Ana; Twenfosel. O Dami Dato; Daud Amalo; Markus M. Kleden
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1137

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bafkenu (Kleinhovia hospita) dalam ransum komplit sebagai penganti rumput alam terhadap kandungan serat kasar serta kecernaan in vitro  bahan kering  dan  bahan organik.  Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap  ) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu R0= Ransum komplit terdiri dari 70% hijauan rumput alam + 30% konsentrat; R1= Ransum komplit terdiri dari 70%hijauan (85% rumput alam + 15% daun bafkenu) + 30% konsentrat; R2= Ransum komplit yang terdiri dari 70%hijauan (70% rumput alam +30% daun bafkenu) + 30% konsentrat; dan R3= Ransum komplit yang terdiri dari 70%hijauan (55% rumput alam + 45% daun bafkenu) + 30% konsentrat.  Analisis data menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan  uji BNT.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap kandungan serat kasar , tetapi tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan in vitro  bahan kering serta  bahan organik.  Pada tingkat substitusi rumput alam dengan daun bafkenu 45% dari proporsi hijauan 70% dalam ransum komplit adalah paling baik dilihat dari bahan kandungan serat kasar meskipun memberikan nilai kecernaan bahan organik   dan  kecernaan bahan kering yang relatif sama dengan perlakuan lainnya   The purpose of this study was to determine the effect of using bafkenu (Kleinhoviahospita) leaves in complete rations as a substitute for natural grass on crude fiber content and in vitro digestibility of dry matter and organic matter. The design used was a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications, namely R0 = complete ration consisting of 70% natural grass forage + 30% concentrate; R1 = Complete ration consisting of 70% forage (85% natural grass + 15% bafkenu leaves) + 30% concentrate; R2 = Complete ration consisting of 70% forage (70% natural grass + 30% bafkenu leaves) + 30% concentrate; and R3 = complete ration consisting of 70% forage (55% natural grass + 45% bafkenu leaves) + 30% concentrate.. The data were analyzed using analysis of variance  and if it had a significant effect, it was continued with the BNT test. The results of statistical analysis showed that the treatment had a significant effect (P<0.05) on crude fiber content, was not significant (P>0.05) while the in vitro digestibility of dry matter and organic matter At the level of substitution of natural grass by bafkenu leaves, 45% of the proportion of 70% forage in complete rations was the best in terms of crude fiber content even though it provide the same digestibility of organic matter and dry matter digestibility as other  
Kombinasi Tepung Ubi Ungu (Ipomoea Batatas L.) Daun Kelor (Moringa Oleifera) dan Minyak Kelapa sebagai Pengganti Jagung dalam Ransum terhadap Performa dan Mortalitas Puyuh Jantan: Combination purple sweet potato flour (Ipomoea batatas L. ), Moringa leaves(Moringa oleifera) and Coconut oil as a Substitute for Corn in the Quail Diet on Performance and Mortality of Quail Males Nofembrianto Erdy Dapawisi; N. G. A. Mulyantini; Victor J. Ballo
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1167

Abstract

Tujuan  penelitian ini untuk mengetahui kombinasi ubi ungu daun kelor dan minyak kelapa sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan mortalitas puyuh jantan. Metode yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok terdiri atas 5 kelompok dan 4 ransum perlakuan yaitu R0: jagung 35,42%, konsentrat 56,43% , dedak 8,15%; R1: 25% kombinasi tepung ubi ungu, daun kelor dan minyak kelapa menggantikan jagung; R2: 50% kombinasi tepung ubi ungu, daun kelor dan minyak kelapa menggantikan jagung; R3: 75% kombinasi tepung ubi ungu, daun kelor dan minyak kelapa menggantikan jagung. Analisis varian membuktikan penggunaan tepung ubi ungu, daun kelor dan minyak kelapa sebagai pengganti jagung tidak berpengaruh  nyata (P>0,05) pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan mortalitas puyuh jantan. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ransum perlakuan tidak memberikan pengaruh terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan mortalitas puyuh jantan.   The purpose of this study was to determine the combination of purple sweet potato leaves and coconut oil as a substitute for corn in the ration on ration consumption, body weight gain, feed conversion and mortality of male quail. The method used was a randomized block design consisting of 5 groups and 4 treatment rations, namely R0: corn 35.42%, concentrate 56.43%, bran 8.15%; R1: 25% combination of purple sweet potato flour, Moringa leaves and coconut oil replaces corn; R2: 50% combination of purple sweet potato flour, Moringa leaves and coconut oil replaces corn; R3: 75% combination of purple sweet potato flour, Moringa leaves and coconut oil replaces corn. Analysis of variance proved that the use of purple sweet potato flour, moringa leaves and coconut oil as a substitute for corn had no significant effect (P>0.05) on ration consumption, body weight gain, ration conversion and male quail mortality. From the results of the study, it was concluded that the treatment ration had no effect on ration consumption, body weight gain, ration conversion and mortality of male quail.   
Pengaruh Penambahan Ekstrak Angkak dan Lama simpan Terhadap Nilai Rasa, Kualitas Bakteri Coliform dan Salmonella Se’i Daging Sapi: Effect of Addition of Angkak Extract and Storage Time on Taste Value, Quality of Coliform Bacteria and Salmonella Se'i Beef Bastari Sabtu; Ni Putu Febri Suryatni; Agustinus Konda Malik
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1194

Abstract

Angkak dimanfaatkan sebagai pewarna pangan, antibakteri dan menurunkan kolesterol, diharapkan juga mampu mempengaruhi kualitas mikroba dan dan rasa se’i daging sapi (daging asap). Tujuan penelitian untuk mengkaji rasa dan kualitas mikroba Coliform dan Salmonella sei sapi yang ditambahkan beberapa level angkak (pengganti saltpeter) dengan lama penyimpanan berbeda dan kombinasi terbaik. Materi yaitu daging sapi Bali dari otot paha (Biceps femoris), angkak, saltpeter, garam dan ketumbar. Peralatan drum pengasapan (modifikasi) dan peralatan dapur. Eksperimen dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola factorial 5 x 4 dan 3 kali ulangan. Perlakuan angkak terdiri dari 0%, 1%, 1,5%, 2% dan 2,5% dan lama simpan 3, 5,7 dan 9 hari. Hasil penelitian, nilai rasa se’i dipengaruhi kombinasi penambahan angkak dan lama simpan. Rasa se’i meningkat pada penambahan angkak pada level 1,5 – 2% angkak dan lama simpan 3 dan 5 hari penilaian panelis dari suka ke sangat suka dan cenderung menurun pada lama simpan 7 dan 9 hari meskipun penilaian panelis masih suka ke agak suka. Bakteri Coliform dan Salmonella tidak terdeteksi pada se’i. Disimpulkan, kombinasi ekstrak angkak dengan lama simpan mempengaruhi nilai rasa se’i (sangat suka) dan tidak mempengaruhi bakteri Coliform dan Salmonella yang terdeteksi negatif. Terbaik pada ekstrak angkak 2%, lama penyimpanan 5 hari. Angkak is used as food coloring, antibacterial and lowering cholesterol, it is also expected to be able to affect the microbial quality and taste of beef se'i (smoked meat). The purpose of the study was to examine the taste and quality of Coliform and Salmonella se’i microbes in beef which were added with several levels of Angkak (saltpeter substitute) with different storage times and the best combination. The material is Balinese beef from thigh muscles (Biceps femoris), Angkak, saltpeter, salt and coriander. Smoke drum equipment (modification) and kitchen utensils. The experiment was designed using a completely randomized design with a factorial pattern of 5 x 4 and 3 replications. The treatment of Angkak consisted of 0%, 1%, 1.5%, 2% and 2.5% and the shelf life of 3, 5.7 and 9 days. The results of the study, the taste value of se'i was influenced by the combination of the addition of Angkak and the length of storage. The taste of se'i increased with the addition of Angkak at the level of 1.5 – 2% of Angkak and the shelf life of 3 and 5 days, the panelist's assessment was from like to like very much and tended to decrease in the shelf life of 7 and 9 days, although the panelist's assessment still liked to somewhat like. Coliform bacteria and Salmonella were not detected in se'i. It was concluded, the combination of Angkak extract with storage time affected the taste value of se'i (very liked) and did not affect Coliform and Salmonella bacteria which were detected negatively. Best at 2% Angkak extract, 5 days of storage. Keywords: Angkak, Beef se’i, Microbiological quality, Shelf life, Taste
Substitusi Tapioka dengan Tepung Bonggol Pisang Kepok terhadap Kualitas Kimia dan Organoleptik Sosis Ayam Kampung : Tapioca Substitution with Kepok Banana Hump Flour to the Chemical and Organoleptic Quality of Native Chicken Sausage Marni Bansele; Bastari Sabtu; Agustinus R. Riwu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung bonggol pisang kepok  memiliki kandungan  pati yang sama dengan tapioka, amilosa dan amilopektin yang tinggi sehingga dapat dijadikan alternatif sebagai bahan pengisi, pengental dan bahan pengikat di dalam pembuatan sosis. Tujuan penelitian untuk mengukur pengaruh substitusi tepung bonggol pisang kepok terhadap kualitas kimia dan organoleptik.  Materi yang digunakan adalah daging ayam kampung, tepung bonggol pisang, tepung tapioka dan bumbu-bumbu lain. Metode yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan yaitu substitusi tepung bonggol pisang: 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Variabel yang diteliti adalah kandungan kadar protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, serat kasar dan organoleptik. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dengan substitusi tepung bonggol pisang dalam pengolahan sosis ayam kampung dapat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, serat kasar, rasa, aroma, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada warna sosis daging ayam kampung. Simpulan,  penggunaan tepung bonggol pisang kepok mampu mensubstitusi tapioka dan memberikan nilai yang berbeda terhadap kualitas kimia yaitu kadar protein, lemak, air abu dan serat kasar dan sifat organoleptik yaitu, rasa dan aroma serta warna yang sama terhadap sosis daging ayam kampung. Secara kualitas kimia substitusi 15%  tepung bonggol pisang kepok mampu menghasilkan sosis yang lebih baik sedangkan secara organoleptik substitusi tepung bonggol 5% mampu menghasilkan sosis yang lebih baik. Kepok Banana hump flour has the same starch content as tapioca, amylose and amylopectin which is high so that it can be used as an alternative as a filler, thickener and binder in making sausages. The purpose of the study was to measure the effect of substitution of kapok banana hump flour on chemical and organoleptic  The materials used are free-range chicken, kapok banana hump flour, tapioca flour and other spices. The method used is the Complete Randomized Design (RAL) method of 5 treatments, namely the substitution of kepok banana hump flour: 0%, 5%, 10%, 15%, 20% and each treatment consists of 3 tests. The variables studied were protein content, fat content, water content, ash content, crude fiber and organoleptics. The results showed that, the substitution of kapok banana hump flour in making native chicken sausage had a significant effect (P<0,05) on protein content, fat content, ash content, crude fiber, taste, scent, but had no significant effect (P>0,05) on the color of native chicken sausage. In conclusion, the use of kapok banana hump flour is able to substitute tapioca and provide different values to chemical qualities, namely protein, fat, ash water and crude fiber levels and organoleptic properties, namely, taste and aroma and the same color to native chicken meat sausages. In terms of chemical quality, 15% of kepok banana hump flour substitution is able to produce better sausages while organoleptically the substitution of 5% kepok banana hump flour is able to produce better sausages  
Keuntungan Usaha Ternak Babi Peternakan Rakyat di Kabupaten Alor: Profits of Smallholders Pig Farming in Alor District Yuliana Panina Lay; Maria Krova1; Johanes G. Sogen; Arnoldus Keban
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu penelitian telah dilaksanakan di Kabupaten Alor selama 1 bulan untuk pengumpulan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan usaha ternak babi di Kabupaten Alor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Data tersebut diperoleh melalui wawancara langsung berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, observasi serta teknik dokumentasi pada dokumen laporan-laporan instansi terkait atau lembaga dan hasil-hasil penelitian maupun referensi lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Pengambilan contoh dilakukan melalui tiga tahap yakni tahap pertama penentuan dua kecamatan contoh secara purposive, tahap kedua penentuan empat desa contoh dari tiap kecamatan terpilih secara purposive dan tahap ketiga penentuan peternak contoh sebanyak 80 responden secara acak non proporsional. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh tiap peternak babi di Kabupaten Alor adalah Rp10.289.675/tahun dimana 52% merupakan pendapatan tunai sedangkan 48% lainnya adalah pendapatan non tunai. A study was conducted in Alor Regency data collection. The study aims to determine the income of pig farming in Alor Regency. The research method used is a survey method to obtain primary data and secondary data. The data was obtained through direct interviews based on questionnaire prepared, observations and documentation techniques on the reports of relevant agencies or institutions, research results and other references related to the study. Sampling was carried out in three stages. The first, determining two sample of sub-districts purposively; the second, determining four selected villages from each selected sub-district purposively and the third, determining the sample of breeders as many as 80 respondents by applying non-proportional random sampling. Data were then analyzed applying income analysis. The results show that the average income earned by each pig farmer in Alor Regency is Rp10,289,675/year where 52% is cash income and 48% is non cash income    
Pengaruh Ketebalan Mulsa Organik Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) terhadap Produksi Bahan Kering dan Bahan Organik Brachiria Hybrid cv. Mulato Panen Ketiga: Effect of Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) Organic Mulch Thickness on Dry Matter and Organic Matter Production Brachiria Hybrid cv. Third Harvest Mulato Maria Mersiana Jelima; Herayanti Panca Nastiti; Dominggus Benyamin Osa
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i3.1225

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering Kepulauan, Universitas Nusa Cendana. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui pangaruh ketebalan mulsa organik Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) terhadap produksi bahan segar, bahan kering dan bahan organik rumput Brachiaria Hybrid cv. Mulato panen ketiga. Penelitian mengguanakan metode eksprimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dibagi menjadi 4 jenis perlakuan dan  4 kali ulangan  sehingga terdapat  16 unit sampel. Perlakuan M0 = tanpa mulsa, M1 = ketebalan 1 cm atau berat 60 gram/polybag,  M2 = ketebalan 3 cm atau berat 180 gram/polybag, M3 = ketebalan 5 cm atau berat 300 gram/polybag. Variabel yang diteliti yaitu produksi bahan segar dan bahan kering serta bahan organik. Hasil sidik ragam menampilkan jika perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) pada produksi bahan segar dan  bahan kering namun memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) pada produksi bahan organik. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ketebalan mulsa organik Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) mampu meningkatkan produksi bahan segar, bahan kering, dan bahan organik rumput Brachiaria Hybrid cv. Mulato pada panen ke-tiga, serta pada perlakuan M3 dengan ketebalan 5 cm menghasilkan produksi bahan segar (0,69±0,1), bahan kering (92,16±0,37) dan bahan organik (80,76±0,67%) tertinggi pada setiap variabel yang diteliti.   A study has been conducted at the Archipelago Dry Land Integrated Field Laboratory, Nusa Cendana University. The purpose of this study was to determine the effect of Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) organic mulch thickness on the production of fresh matter, dry matter and organic matter of Brachiaria Hybrid cv. Mulato the third harvest. The study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) which was divided into 4 types of treatment and 4 replications so that there were 16 sample units. Treatment M0 = without mulch, M1 = thickness of 1 cm or weight of 60 grams/polybag, M2 = thickness of 3 cm or weight of 180 grams/polybag, M3 = thickness of 5 cm or weight of 300 grams/polybag. The variables studied were the production of fresh and dry matter and organic matter. The results of the variance showed that the treatment had a very significant effect (P<0.01) on the production of fresh and dry matter but had an insignificant effect (P>0.05) on the production of organic matter. From the results of this study, it was concluded that the thickness of Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) organic mulch was able to increase the production of fresh matter, dry matter, and organic matter of Brachiaria Hybrid cv. Mulato on the third harvest, as well as the M3 treatment with a thickness of 5 cm resulted in the production of fresh material (0.69±0.1), dry matter (92.16±0.37) and organic matter (80.76±0.67 %) was highest in each of the variables studied.  
Pengaruh Pemanfaatan Tepung Daun Kelor terhadap Kualitas Interior dan Kandungan Protein Telur Ayam Kampung Unggul Balitbangtan : The Effect of Moringa Leaf Flour Utilization on Interior Quality and Protein Content of Balitbangtan Superior Native Chicken Eggs Aurelia Putri Domingga; Agustinus Konda Malik; N.G.A Mulyantini, S.S.
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1230

Abstract

The study was conducted to evaluate the usage of moringa (Moringa oleifera) leaf flour in the ration against the interior quality and protein content of eggs in superior native chickens aged 32 weeks. Experimental design used is Complete Randomized Design with four treatments and six replications. Each experimental unit has four superior native chicken Eggs. Treatment feeds were distinguished by the percentage of use of moringa oleifera leaf flour: R0=0%, R1=5%, R2=10% and R3=15%. The results showed that the use of moringa leaf flour up to 15% in the ration can have an influence on increasing egg yolk color 63.86% and protein content 54.35%, but does not affect egg yolk index, egg white index, and haugh egg unit. Based on the results of the study, It can be concluded that increaseing in the level of moringa leaf flour from 0% to 15% in the ration can increase egg yolk color. The usage moringa leaf flour 5% to 10% in the ration can increase the protein content of eggs. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam ransum terhadap kualitas interior dan kandungan protein telur pada ayam ayam kampung unggul Balitbangtan umur 32 minggu. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan empat jenis perlakuan dan enam ulangan. Setiap unit percobaan terdapat empat ekor ayam. Pakan perlakuan dibedakan berdasarkan persentase penggunaan tepung daun kelor: R0=0%, R1=5%, R2=10% dan R3=15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor sampai dengan 15% dalam ransum dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatkan nilai warna kuning telur 63,86% dan kandungan protein sebesar 54,35%, tetapi tidak mempengaruhi nilai indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan level tepung daun kelor dari 0% sampai 15% dalam ransum dapat meningkatkan intensitas warna kuning telur. Pemanfaatan 5% sampai 10% tepung daun kelor dalam ransum dapat meningkatkan kandungan protein telur.
Pengaruh Level Pupuk Cair Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Kandungan Nutrisi Rumput Gajah Mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada Tanah Bekas Tambang Mangan: The Effect of Level Moringa’s (Moringa oleifera) Liquid Organic Fertilizer on the Nutrition Content ofMini Elephant Grass (Pennisetum purpureum cv.Mott) in Ex-Manganese Mining Soil Haardiningsih Muhiddin; Edi Djoko Sulistijo; Herayanti Panca Nastiti
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i3.1270

Abstract

Suatu penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kandungan nutrisi rumput gajah mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada tanah bekas tambang mangan. Penelitian berlangsung selama 4 bulan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu K0: kontrol, K1: 100 ml pupuk cair, K2: 200 ml pupuk, K3: 300 ml pupuk cair. Variabel yang diukur adalah kandungan protein kasar, serat kasar, lemak kasar serta mineral kalsium. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan protein kasar, kandungan lemak kasar, dan mineral kalsium tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap serat kasar. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa antar perlakuan K0: K3, K1: K2, dan K1:K3 berbeda sangat nyata (P<0,01) pada parameter protein kasar dan mineral kalsium (Ca). Selanjutnya K0:K1, K2; K1: K2, K3; K2:K3; K0;K1, K2, K3 berbeda nyata (P<0,05) pada protein kasar, lemak kasar dan mineral kalsium (Ca). Sedangkan K1: K2: K3 berbeda tidak nyata (P>0,05) pada kandungan lemak kasar. Disimpulkan bahwa semakin tinggi level pupuk cair daun kelor (Moringa oleifera) maka kandungan nutrisi rumput gajah mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) semakin tinggi. Kandungan nutrisi rumput gajah mini tertinggi dicapai pada level 300 ml dengan rataan kandungan protein kasar (10,15%), serat kasar. (42,93%), lemak kasar (1,15%) dan mineral kalsium (0,61%).   A study aims to determine the effect of applying Moringa oleifera (Moringa oleifera) liquid fertilizer on the nutritional content of mini elephant grass (Pennisetum purpureum cv. Mott) on ex-manganese mining soil. The study lasted for 4 months. The research design used was a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications, namely K0: no treatment (control), K1: 100 ml of liquid fertilizer, K2: 200 ml of fertilizer, K3: 300 ml of liquid fertilizer. The variables measured is crude protein, crude fiber, crude fat and calcium minerals. The data obtained were analyzed using analysis of variance. The results of the study showed that the treatment had a significant effect (P<0.05) on the nutritional content of crude protein, crude fat and calcium minerals but had no significant effect (P>0.05) on crude fiber content. Duncan's Multiple Range Test showed that there is a significant difference (P<0.01) between the treatments of K0:K3 and K1: K2; K1:K3 on crude protein content and calcium (Ca) content. Furthermore, between K0:K1, K2; K1: K2, K3; K2;K3; K0;K1, K2, K3 were significantly different (P<0.05) in crude protein, crude fat and calcium (Ca) content. While K1: K2: K3 was not significantly different (P>0.05) on crude fat content. It was concluded that the higher the level of liquid fertilizer of Moringa leaves (Moringa oleifera), the higher the nutrient content of mini elephant grass (Pennisetum purpureum cv. Mott). The highest nutritional content of mini elephant grass was achieved at the level of 300 ml with an average crude protein content (10.15%), crude fiber. (42.93%), crude fat (1.15%) and calcium minerals (0.61%).  
Pengaruh Suplementasi Jenis Dedaunan Terfermentasi terhadap Kecernaan Serat Kasar dan Lemak Kasar terhadap Babi Fase Starter-Grower: The Effect of Suplementation of Fermented Foliar Types on The Digestibility of Crude Fiber and Crude Fat on Starter-Grower Phase Gerson Andrimus Naimasus; Wilmientje Marlene Nalley; I Made Suaba Aryanta
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i3.1277

Abstract

Tujuan dilaksanakan penelitian ini untuk mengetahui konsumsi dan kecernaan serat kasar dan lemak kasar dari ternak babi yang diberikann suplmentasi ransum dedaunan terfermentasi. Materi yang digunakan 12 ekor babi berumur antara 1-3 bulan dan dengan berat badan awal berkisar antara 5,35 sampai 14,55 kg (KV = 31,67%) dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan meliputi R0: diet basal R1: diet basal ditambah 5% tepung daun singkong fermentasi, R2: diet basal ditambah 5% tepung daun ubi jalar fermentasi, dan R3: diet basal ditambah 5% tepung daun kelor fermentasi. Hasil penelitian ini menunjukan perlakuan berpengaruh tidak nyata (P<0,05) terhadap variabel yang diteliti. Disimpulkan bahwa pemberian ransum suplementasi jenis dedaunan terfermentasi pada ternak babi mampu meningkatkan kecernaan serat kasar dan lemak kasar, akan tetapi belum mampu meningkatkan konsumsi serat kasar dan lemak kasar. The purpose of this study was to determine the intake and digestibility of crude fiber,and  crude fat,  of pigs fed fermented leafa ration supplementation. Material used were12 pigs aged between 1-3 months and with initial body weight ranging from 5.35 to 14.55 kg (KV = 31.67%) and Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments and 3 replications. The treatments included R0: basal diet, R1: basal diet plus 5% fermented cassava leaf flour, R2: basal diet plus 5% fermented sweet potato leaf flour, and R3: basal diet plus 5% fermented moringa leaf flour. The results of this study showed no significant effect (P<0.05) on the variables studied. It was concluded that the supplementation of fermented foliage rations in pigs was able to increase the digestibility of crude fiber and crude fat, but had not been able to increase the intake of crude fiber and crude fat.  

Page 11 of 21 | Total Record : 201