cover
Contact Name
Agustinus Konda Malik
Contact Email
aguskondamalik@staf.undana.ac.id
Phone
+6281237987345
Journal Mail Official
jurnalpeternakan@undana.ac.id
Editorial Address
Jl. Adisucipto Penfui, Kupang Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Peternakan Lahan Kering
ISSN : -     EISSN : 27147878     DOI : -
Jurnal Peternakan Lahan Kering (JPLK) menerbitkan artikel hasil penelitian yang meliputi Produksi ternak, Pakan dan nutrisi ternak, Reproduksi dan pemuliaan ternak, Teknologi hasil ternak, Sosial ekonomi peternakan, dan Kesehatan ternak
Articles 201 Documents
Pengaruh Penggunaan Berbagai Jenis Konsentrat dalam Pakan Berbasis Pollard Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Ternak Babi Fase Grower Marianus Knaofmone; Sabarta Sembiring; I Made S. Aryanta
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 4 (2019): Desember
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.615 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Usaha Bersama (KUB) Moria Manutapen-Kecamatan Alak–Kota Kupang pada tanggal 26 Agustus sampai dengan 28 Oktober 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pakan berbasis pollard terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi fase grower. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi jantan kastrasi peranakan landrace berumur 3,5 bulan dengan berat badan awal 34,00-46,00 kg (rata-rata 41,08 kg; KV= 11,63%). Metode yang digunakan adalah metode percobaan dengan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan yakni P1 = (55% pollard + 35% jagung + 10% KGP709); P2 = (55% pollard + 35% jagung + 10% HG152); P3 = (55% pollard + 35% jagung + 10% KGB) dan P4 = (55% pollard + 35% jagung + 10% campuran ketiga konsentrat).Variabel yang diteliti adalah: konsumsi bahan kering (BK) dan bahan organik (BO)- dan kecernaan BK dan BO. Hasil analisis ragam menunjukkan penggunaan ketiga jenis konsentrat dan campuran ketiganya berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi BK dan kecernaan BK, namun berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi BO dan kecernaan BO ternak babi fase grower. Disimpulkan bahwa penggunaan ketiga jenis konsentrat dan campuran ketiganya dalam pakan berbasis pollard memberikan hasil yang relatif sama terhadap konsumsi dan kecernaan BK, namun memberikan hasil yang berbeda terhadap konsumsi BO dan kecernaan BO. Penggunaan konsentrat 10% KGP709, HG152 dan campuran ketiganya memberikan hasil yang relatif sama dan lebih tinggi dari KGB, sehingga dapat disarankan untuk peternak agar memilih dan menggunakan salah satu konsentrat ataupun campuran 3 konsentrat dengan taraf 10% dalam campuran pakan untuk ternak babi. Kata kunci: ternak babi, konsentrat, konsumsi, kecernaan, BK, BO. The study was carried out in Moria Bussiness unit in Manutapen-Kecamatan Alak–Kota Kupang. The study aimed at evaluating the effect of including different concentrates int pollard-based feed on dry matter and organic matter intake and digestibility in grower pig. There were 12 landrace crossbred barrows 1.5-2 months old with 13.00 – 19.00 kg (CV = 11.09%) initial body weight used in the study. Trial method using complete block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment feeds were formulated as: P1: pollard (55%) + corn meal (35%) + 10% concentrate KGP 709; P2: 55% pollard + 35% corn meal + 10% concentrate HG 152; P3: 55% pollard + 35% corn meal + 10% concentrate KGB; and P4: 55% pollard + 35% corn meal + 10% concentrate mixture (3.3% KGP 709 + 3.3% consentrat HG152 + 3.3% concentrate KGB 8.3%. Variable evaluated were: intake and digestibility of dry matter and organic matter. Statistical analysis shows that effect of including different concentrates into pollard-based feed is highly significant (P<0.01) on both either intake and digestibility of organic matter in grower pig. The conclusion is that including different concentrates into pollard-based feed performs the similar results in both intake and digestibility of dry matter but different in both intake and digestibility of organic matter. Using 10% KGP709, HG152 and their mixture are similar and higher than using KGB, and therfore, farmer can used on of the concentrate upto 10% in pig feed. Key words: pig, consentrate, intake, digestibility, DM, OM.
Pengaruh penambahan tepung biji asam terfermentasi terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar serta konsumsi dan kecernaan energi ayam broiler Febriyanto Do Carmo Seran; Ni Putu Febri Suryatni; Sutan Y.F.G. Dillak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji asam terfermentasi (TBAT) terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar serta konsumsi dan kecernaan energi ayam broiler. Materi yang digunakan adalah 16 ekor ayam broiler berumur 3 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu : Ransum basal tanpa Tepung Biji Asam Terfermentasi (R0), Ransum basal yang menggunakan 8% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R1), Ransum basal yang menggunakan 10% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R2) dan Ransum basal yang menggunakan 12% Tepung Biji Asam Terfermentasi (R3). Kesimpulan dari penelitian ini adalah; Penggunaan Tepung Biji Asam Terfermentasi (TBAF) dalam ransum ayam broiler sampai level 10% dalam ransum memberikan pengaruh yang sama dengan ransum kontrol pada konsumsi energi, kecernaan protein dan energi namun terjadi penurunan kecernaan protein pada tingkat 12% dalam ransum, penggunaan tepung biji asam terfermentasi dapat digunakan sampai 10% dalam ransum ayam. Kata Kunci : Biji Asam, fermentasi, Konsumsi, Kecernaan, broiler ABSTRACT This study aimed at evaluating the effect of fermented tamarind seed on intake and digestibility of crude protein and energy of broiler chickens. The material used were 16 broiler chicken 3 weeks of age. The feeding trial was arranged in completely randomized design (CRD) 4 treatments with 4 replicates procedure. The treatments were: basal diet without fermented tamarind seed meal (R0); basal diet containing 8% fermented tamarind seed meal (R1); basal diet containing 10% fermented tamarind seeds meal (R2); and basal diet containing 12% fermented tamarind seeds meal (R3). The conclusion is that including fermented tamarind seed meal up to 10% perform the similar results with basal diet, but at 12% level decreased either intake or digestibility of either protein or energy of broiler chicken. Keyword : Tamarind Seed, fermentation, intake, digestion broiler
Pengaruh Pemberian Konsentrat Mengandung Tepung Ubi Kayu dan Bonggol Pisang Sebagai Sumber Energi Alternatif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Serat Kasar serta Lemak Kasar Sapi Bali Penggemukan Pola Peternak: The Effect Giving of Concentrate Containing Casava Flour and BananaWeevil As an Alternative Energy Source on the Consumption and Digestibility of Crude Fiber and Crude Fat of Bali Cattle Fattening Farmers Pattern Santi Diana Karuhgair; Edi Djoko Sulistijo; Marthen Yunus
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.936

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk mempelajari efek pemberian konsentrat mengandung tepung ubi kayu dan bonggol pisang terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar serta lemak  kasar pada sapi bali penggemukan pola peternak. Penelitian ini menggunakan sapi jantan umur 1-1,5 tahun sejumlah 4 ekor, dan berat badan awal 133-155kg dengan rata-rata 144kg ± 10,231. Metode yang digunakan yaitu eksperimen menggunakan rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 periode sebagai ulangan. Perlakuan tersebut adalah P0: pakan pola peternak + konsentrat mengandung bonggol pisang 40% dan ubi kayu 60%, P1: pakan pola peternak + konsentrat mengandung bonggol pisang 50% dan ubi kayu 50%, P2: pakan pola peternak + konsentrat mengandung bonggol pisang 60% dan ubi kayu 40%, P3: pakan pola peternak + konsentrat mengandung bonggol pisang 70% dan ubi kayu 30%. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi serat kasar (g/e/h) P0=557,86±42,47;  P1=567,38±13,53; P2=578,83±39,70;  P3=580,96±24,82, konsumsi lemak kasar (g/e/h)  P0=104,83±7,56; P1=109,06±2,41; P2= 106,00±7,06; P3=104,98±4,14, kecernaan serat kasar (%) P0=47,87±4,67; P1=47,10±7,56; P2=43,32±1,78; P3=42,75±1,93, kecernan lemak kasar (%) P0=59,28±7,52; P1=54,75±5,68; P2=54,38±3,67; P3=54,91±3,78. Analisis statistik menunjukan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi serat kasar, konsumsi lemak kasar, kecernaan serat kasar dan kecernaan lemak kasar. Disimpulkan bahwa pakan konsentrat mengandung tepung ubi kayu dan bonggol pisang memiliki efek yang sama terhadap konsumsi serat kasar, konsumsi lemak kasar, kecernaan serat kasar dan kecernaan lemak kasar sapi Bali penggemukan pola peternak. Kata kunci : Bonggol Pisang , Konsentrat, Konsumsi dan Kecernaan, Pola Peternak, Sapi Bali Penggemukan, Ubi Kayu. ABSTRACT  The purpose of this study was to study the effect of giving  concentrate containing cassava flour and banana weevil on the consumption and digestibility of crude fiber and crude fat of bali cattle fattening farmers pattern. This research used four bulls1-1.5 years old was used with an initial  body weight of 138-155kg with an average of 144kg±10,231.The method was used the Latin Square design (LSD) which consists of 4 treatments and 4 periods as replications. The treatments are P0 : farmer pattern feed + concentrate contain 40% banana weevil and 60% cassava, P1 : farmer pattern feed + concentrate contain 50% banana weevil and 50% cassava, P2: farmer pattenfeed + concentrate contain 60% banana weevil and 40% cassava, P3: farmer pattern feed + concentrate contain 70% banana weevil and 30% cassava. The result showed that consumption of crude fiber (g/h/d) P0 = 557.86 ± 42.47; P1 = 567.38 ± 13.53; P2 = 578.83 ± 39.70; P3 = 580.96 ± 24.82, crude fat consumption (g/h/d); P0= 104.83 ± 7.56; P1= 109.06 ± 2.41; P2= 106.00 ± 7.06; P3= 104.98 ± 4.14, crude fiber digestibility (%) P0= 47.87 ± 4.67; P1= 47.10 ± 7.56; P2= 43.32 ± 1.78; P3= 42.75 ± 1.93, crude fat digestibility (%); P0= 59.28 ± 7.52; P1= 54.75 ± 5.68; P2= 54.38 ± 3.67; P3= 54.91 ± 3.78. Statistical analysis showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude fiber consumption, crude fat consumption, crude fiber digestibility and crude fat digestibility. It was concluded  that giving containing cassava flour and banana weevil gave the same effect  between treatment on crude fiber consumption, crude fat consumption, crude fiber digestibility and crude fat digestibility of Bali cattle fattening farmers pattern.  
Korelasi Fenotip Sifat Bobot Badan Ayam KUB yang Diberi Pakan Tepung Feses Sapi Terfermentasi: Phenotype Corelationof Body Weight of KUB Chicken Fed Fermented Cow Feces Flour Feed Melkiades Sando Mau; Franky M.S. Telupere; Jonas F. Theedens
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.968

Abstract

Tujuan dari penelitian untuk mengetahui korelasi bobot badan ayam KUB dari umur 4 minggu sampai 10 minggu yang diberi pakan tepung feses sapi terfermentasi. Penelitian ini menggunakan DOC Ayam KUB. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Pakan perlakuan terdiri dari R0=kontrol, R1=10% tepung feses sapi terfermentasi, R2=20% tepung feses sapi terfermentasi, R3=30% tepung feses sapi terfermentasi. Variabel yang diukur yaitu bobot badan ayam KUB umur 4, 6, 8 dan 10 minggu. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan data korelasi bobot badan menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung feses sapi terfermentasi dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap sifat pertumbuhan bobot badan dari umur 4 minggu sampai10 minggu, rataan bobot badan tertinggi pada R1 dengan level tepung feses sapi terfermentasi 10%. Korelasi bobot badan yang tinggi diperoleh antara bobot badan 8 minggu dengan bobot badan 10 minggu. Tepung feses sapi terfermentasi dapat mensubstitusi ransum basal sampai level 30%, dengan level terbaik 10%. Adanya hubungan yang sangat erat (Positif tinggi) antar kelompok umur  dari semua perlakuan dan seleksi terhadap bobot badan dapat dilakukan umur 4 minggu. Kata kunci: ayam kub, bobot badan, feses sapi terfermentasi, korelasi. ABSTRACT The purpose of research is to find out the correlation body weights of KUB chickens from 4 weeks to 10 weeks of age fed fermented cow feces flour (FCFF). This study used DOC KUB chicken. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replicates. The treatment feed consisted of R0= control, R1 = control + 10% FCFF, R2= control + 20% FCFF, R3= control + 30% FCFF. The variables measured were the body weight of KUB chickens aged 4, 6, 8and 10 weeks. Data were analyzed using ANOVA (SPSS) and subsequently, body weight correlation data using correlation analysis. The results showed that the use of FCFF has a real effect (P<0,05) on growth characteristics from the age of 4 weeks to 10 weeks, a high body weight correlation was obtained between body weight at 8 weeks of age and 10 weeks old body weight. The FCFF can replace the basal ration up to level 30%, with the best level of 10%. There is a close relationship (high positive) in all treatments and age group every week. Selection of body weight can be done at the age of 4 weeks.  
Pola Pertumbuhan dan Perkembangan Morfologi Rumput Kume ( Sorghum plumosum var. Timorense ) dan Bothriochloa Pertusa yang Ditanam secara Monokultur maupun Campuran : Growth Pattern and Morphological Development of Kume Grass (Sorghum plumosum Var. Timorense ) and Bothriochloa pertusa Planted in Monoculture or Mixed Marciana Anggani Buba; Daud Amalo; L. Sri Enawati
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1017

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan perkembangan morfologi Rumput Kume (Sorghum plumosum var. Timorense) dan Bothriochloa pertusa yang ditanam secara monokultur maupun campuran. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Keempat perlakuan tersebut SPM =  Sorghum plumosum monokultur, SPC= Sorghum plumosum campuran, BPM= Bothriochloa pertusa monokultur, BPC=Bothriochloa pertusa campuran. Parameter yang diukur terdiri dari jumlah rumpun, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan morfologi rumput Kume (Sorghum plumosum var. Timorense) dan Bothriochloa Pertusa yang ditanam secara monokultur maupun campuran menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah rumpun, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Disimpulkan bahwa introduksi rumput S. plumosum menunjukkan pengaruh kearah yang tidak baik pada pertumbuhan dan perkembangan morfologi dari rumput B. pertusa. Hal ini dapat dibuktikan tidak terjadi perubahan pada pertumbuhan rumput B. pertusa ketika ditanam campur dengan rumput S. plumosum jika dibandingkan rumput B. pertusa ditanam secara monokultur pada beberapa tingkatan umur. This study aims to determine the growth pattern and morphological development of kume grass (Sorghum plumosum var. Timorense) and Bothriochloa pertusa grown in monoculture or mixed. The experiment used a Complete RandomIzed Design (RAL) with four treatments and three repeats. The four treatments were SPM = Sorghum plumosum monoculture, SPC = Sorghum plumosum mixed, BPM = Bothriochloa pertusa monoculture, BPC = Bothriochloa pertusa mixed. The parameters measured are number of clumps, height, the number of leaves, the length and the width of the leaves. The result of statistical analysis showed that the growth and morphological development of Kume grass (Sorghum plumosum var. Timorense) and Bothriochloa Pertusa grown monoculturally or mixed show very significant differences (P<0.01) to the number of clumps, plant height, number of leaves, leaf length and leaf width. It was concluded that the introduction of S. plumosum grass showed an adverse influence on the growth and morphological development of the B. pertusa. It can be proven that there is no change in the growth of B. pertusa grass when it is mixed with S. plumosum grass when compared to B. pertusa grass grown in monoculture at several age levels. Keywords: Sorghum plumosum, Bothriochloa pertusa, morphology.
Substitusi Tepung Tapioka dengan Tepung Sorgum Putih (Sorgum bicolor L.Moech) erhadap Sifat Fisiko Kimia Sosis Itik Manila (Cairina Moschata): Substitution Tapioka Flour With White Sorgum Flour (Sorghum Bicolor L.Moench) on Physical Chemical Properties of Manila Duck Sausage (Cairina Moschata) Yani Yeni Yunita Klau; Gemini Ermiani Mercurina Malelak; Heri Armadianto
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kegunaan tepung sorgum putih (Shorgum bicolor.L. moench) sebagai pengganti tepung tapioka terhadap kadar amilosa, kadar amilopektin, kadar air, kadar protein kekenyalan sosis itik manila. Penelitian ini menggunakan  Rancangan  acak lengkap (RAL) dengan  4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah, P0: Tepung tapioka 15%, P1: Tepung tapioka 10%+Tepung sorgum putih 5%, P2: Tepung tapioka 5%+Tepung sorgum putih 10%, P3: Tepung sorgum putih 15%. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan  yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa  tepung sorgum putih dan tepung tapioka tidak berpengaruh nyata terhadap variabel yang diteliti yaitu kadar amilosa, kadar amilopektin, kadar air, kadar protein dan Kekenyalan (P>0.05) pada sosis itik manila. Disimpulkan bahwa   tepung sorgum putih dapat menggantikan tepung tapioka dalam pembuatan sosis itik manila, yang ditandai oleh kadar amilosa, kadar amilopektin, kadar air, kadar protein dan kekenyalan yang sama This research was conducted in order to find out the  use of white sorghum flour (Sorghum bicolor L.Moench)  as well as a substitute for tapioca flour regarding  amylose content, Amylopectin content, water content, protein content duck sausage elasticity. In This study also used a completely randomized design (CRD) in which there were  4  treatmens and 3 replications. There were several parts of the  treatment,namely P0:Tapioka  flour 15%, P1:Tapioka flour 10%+White Sorhgum 5%, P2:Tapioka flour 5%+10% White Sorghum, P3:15% White Sorghum Flour. From the results of the research that has been done,it can be concluded that  white  sorghum  flour and   tapioca  flour had no significan  effect on the variables studied, namely  amylose content, amylopectin content, water content, protein content elastiscity (P>0.05) in manila duck sausage.
Pengaruh Penambahan Ramuan Herbal dalam Air Minum terhadap Bobot Akhir , Bobot Sekum dan Jumlah Salmonella dalam Sekum Ayam Broiler: Effect of Addition of Herbal Ingredients in Drinking Water on Final Weight, Cecum Weight and Total Sallmonella in Broiler Cecum Frederikus Ulu; Ni Putu Febri Suryatni; Sutan Y.F.G Dillak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ramuan herbal dalam air minum terhadap bobot badan akhir, bobot sekum dan jumlah Salmonella  dalam sekum  ayam broiler. Materi yang digunakan  adalah 96 ekor ayam broiler strain CP 707 Charoen Pokphand dengan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah: P0=air minum  (kontrol), P1=l5 ml jamu herbal / liter air minum, P2=10 ml jamu herbal / liter air minum P3=15 ml jamu herbal / liter air minum. Parameter yang diteliti adalah bobot badan akhir, bobot sekum dan jumlah Salmonella dalam sekum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap bobot akhir, bobot sekum, dan jumlah Salmonella dalam sekum. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa  penambahan ramuan herbal dalam air minum memberikan pengaruh yang positif terhadap  bobot badan akhir dan bobot sekum  dan tidak ditemukan adanya Salmonella pada sekum ayam broiler. Kata kunci : ramuan herbal, broiler, bobot badan akhir, bobot sekum, microba, , salmonella  ABSTRACT This study aimed to determine the effect of adding herbal ingredients in drinking water to final body weight, cecum weight and the amount of salmonella in the caecum of broiler chickens. The material used was 96 broiler chickens strain CP 707 Charoen Pokphand with a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 6 replications. The treatments tested were: P0=drinking water (control), P1=15 ml of herbal medicine/liter of drinking water, P2=10 ml of herbal medicine/liter of drinking water P3=15 ml of herbal medicine/liter of drinking water. The parameters studied were final body weight, cecum weight and the number of salmonella in the cecum. The results showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on the final weight, cecum weight, and the number of Salmonella in the cecum. Based on the results of this study, it can be concluded that the addition of herbal ingredients in drinking water had a positive effect on final body weight and cecum weight and no Salmonella was found in the caecum of broiler chickens.  
Pengaruh Penambahan Ramuan Herbal dalam Air Minum terhadap Produksi Karkas Ayam Broiler: Effect of Herbal Ingredients Addition in Drinking Water on Broiler Carcass Production Frederikus Fernandus Bili; Victor J. Ballo; Sutan Y.F.G Dillak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1042

Abstract

Tujuan  dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penembahan ramuan herbal dalam air minum terhadap persentase karkas, non karkas, lemak abdomen, dan bobot giblet ayam broiler. Materi yang digunakan adalah ayam broiler DOC CP 707 sebanyak 96serta menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan  yang dicoba adalah: R0: Pakan + tanpa ramuan heral (kontrol), R1: Pakan + pemberian ramuan herbal 5 ml/L air minum, R2: Pakan + pemberian ramuan herbal 10 ml/liter air minum, R3 : Pakan + pemberian ramuan herbal 15 ml/liter air minum. Parameter  yang diukur adalah persentase karkas, persen non karkas,lemak abdomen , berat giblet ayam, dan konsumsi air minum. Hasil statistik menunjukkanbahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh  nyata (P>0,05) terhadap variabel yang diukur.Disimpulkan bahwapenambahan ramuan herbal ke dalam air minum dengan dosis yang berbeda tidak memberikan efeknegatif terhadap nilai persentase karkas, non -karkas, lemak abdomen, bobot giblet serta konsumsi air ayam broiler.   The purpose of this study was to determine the effect of adding herbal ingredients in drinking water on the percentage of carcass, non-carcass, abdominal fat, and giblet weight of broiler chickens. The material used was 96 DOC CP 707 broiler chickens and used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 6 replications. The treatments were: R0: Feed + no herbs (control), R1: Feed + 5 mlherbsjuice/L drinking water, R2: Feed + 10 mherbs juicel/liter drinking water, R3: Feed +  15 mlherbs juice / liter of drinking water. Parameters measured were percentage of carcass, percent of non carcass, abdominal fat, weight of chicken giblet, and drinking water consumption. Statistical analysisresults showed that the treatment given had no significant effect (P>0.05) on the variables measured. It was concluded that the addition of herbal ingredients to drinking water with different doses did not have a negative effect on the percentage values ​​of carcass, non-carcass, abdominal fat, giblet weight and water consumption of broiler chickens.  
Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penggemukan Ternak Sapi di Dataran Tinggi dan Dataran Rendah Kabupaten Timor Tengah Selatan: Financial Feasibility Analysis of Cattle Fattening Business in the Highlands and Lowlands of South Central Timor Regency Jumitci Anita Naklui; Ulrikus Romsen Lole; Maria Rosdiana Deno Ratu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan ketinggian berpengaruh terhadap ketersediaan hijauan pakan, tampilan tubuh ternak sapi, pendapatan peternak, dan kelayakan usaha tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan finansial usaha ternak sapi yang dipelihara di dataran tinggi dan dataran rendah di Kabupaten TTS. Penelitian ini menggunakan metode survei. Metode pengambilan contoh dilaksanakan melalui tiga tahap, yakni tahap penentuan kecamatan contoh secara purposif dimana terpilih dua kecamatan contoh; tahap penentuan desa contoh secara purposif dimana terpilih empat desa contoh; dan tahap penentuan petani peternak contoh secara acak non proporsional dimana terpilih sebanyak 80 petani peternak contoh. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis finansial dengan menggunakan kriteria investasi R/C, B/C, PP, dan BEP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) di dataran tinggi, nilai R/C Ratio = 2,50; B/C Ratio = 1,50; PP = 0,65 tahun (8 bulan 5 hari); BEP produksi = 2 ST; dan BEP harga = Rp15.974.729; 2) di dataran rendah, nilai R/C Ratio = 2,74; B/C Ratio = 1,74; PP = 0,54 tahun (8 bulan 25 hari); dan BEP produksi = 2 ST, dan BEP harga = Rp15.105.212. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa usaha ternak sapi di dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten TTS sudah menghasilkan pendapatan bagi peternak dan  layak secara finansial..   Difference of altitude influences towards availability of feed and forages, cattle performance, farmer’s income, and farm’s feasibility. Research objectives were to analyze the financial feasibility of the cattle farm at the highland and lowland areas in Timor Tengah Selatan Regency. The research method used were survey. Method of selection sample comprises three steps. Fisrt, selection of three sub-districts, purposively; second, selection of six villages sample, purposively; and third, selection of 80 cattle farmers as respondents, randomly. Method of data analyze applied was financial analysis based on investment criterias namely R/C, BCR, PP, dan BEP. The result showed that: 1) at highland area, the value of R/C Ratio was 2,50 ; B/C Ratio was 1,50; PP reached 0,65 year (8 months and 5 days); BEP of production was  2 cattle heads, and BEP price was IDR15,974.729; and 2) at lowland area the value of  R/C Ratio ratio was  2.74; B/C Ratio was 1.74; PP = 0.54 year (8 months and 25 days); BEP production was 2 heads; and BEP price was IDR15,105.212. In conclusion, the cattle farm at the highland and lowland areas in the Regency of Timor Tengah Selatan have been producing the farmers’ income and the farm was finacially feasible  
Pengaruh Fermentasi Tepung Tongkol Jagung Menggunakan EM-4 terhadap Perubahan Komponen Serat: Effect of Corn Cob Flour Fermentation Using EM-4 on change of Fiber Components Melvianus Katanga Lala; Marthen Yunus; Grace Maranatha
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis EM-4 yang berpengaruh tehadap perubahan kandungan NDF, ADF, Selulosa dan Lignin pada tepung tongkol jagung yang difermentasi. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu: P0 = 1kg tepung tongkol jagung tanpa EM-4 (sebagai kontrol); P1 = 1kg tepung tongkol jagung + 5 ml EM-4; P2 = 1kg tepung tongkol jagung + 10 ml EM-4 dan P3 = 1kg tepung tongkol jagung + 15 ml EM-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan NDF(%)  P0 = 88,65±3,33; P1 = 87,23±2,24; P2 = 84,52±0,65; P3 = 87,63±1,89, rataan konsentrasi ADF (%) tiap perlakuan adalah: (P0) 57,33±0,48; (P1) 43,03±2,27; (P2) 56,19±5,7 dan (P3) 46,18±7,05 sedangkan konsentrasi  Selulosa (%) adalah  (P0) 43,29±0,92; (P1) 29,38±4,56; (P2) 40,27±3,46 dan (P3) 29,53±3,80. konsentrasi Lignin (%) adalah  (P0) 15,88±0,14; (P1) 13,06±0,28; (P2) 14,72±1,71 dan (P3) 16,08±0,81. Hasil penelitian am menunjukkan bahwa penambahan dosis EM-4 yang berbeda terhadap perubahan NDF, ADF, Selulosa dan Lignin tepung tongkol jagung yang difermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0,05). Kesimpulan yang dapat diambil yaitu tepung tongkol jagung yang difermentasi menggunakan EM-4 sampai pada dosis 15 ml belum mampu merubah kadar NDF, ADF dan Selulosa serta belum mampu menurunkan kandungan Lignin.   This study aims to determine the dose of EM-4 which affects changes in the content of NDF, ADF, Cellulose and Lignin in fermented corn cobs flour. The data collection method used in this study was an experiment using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. The treatment in question is: P0 = 1kg corncob meal without EM-4 (as control); P1 = 1kg corncob meal + 5 ml EM-4; P2 = 1kg corncobs meal + 10 ml EM-4 and P3 = 1kg corncobs meal + 15 ml EM-4. The results of the treatment from the research that has been done obtained the average NDF P0 = 88.65 ± 3.33, P1 = 87.23 ± 2.24, P2 = 84.52 ± 0.65, P3 = 87.63 ± 1.89, the average ADF concentration (%) for each treatment was: (P0) 57.33 ± 0.48; (P1) 43.03 ± 2.27; (P2) 56.19 ± 5.7 and (P3) 46.18 ± 7.05 while the concentration of Cellulose (%) was (P0) 43.29 ± 0.92; (P1) 29.38 ± 4.56; (P2) 40.27 ± 3.46 and (P3). 29.53 ± 3.80. the Lignin concentration (%) was (P0) 15.88 ± 0.14; (P1) 13.06 ± 0.28; (P2) 14.72 ± 1.71 and (P3) 16.08 ± 0.81. Based on the research data, the results of the analysis of variance showed that the addition of different doses of EM-4 to changes in NDF, ADF, Cellulose and Lignin of fermented corncob flour had no significant effect (P>0.05). The conclusion that can be drawn is that the use of fermented corncob flour using EM-4 up to a dose of 15 ml could not increase the levels of NDF, ADF and Cellulose and could not reduce the Lignin content at a dose of 15 ml.

Page 9 of 21 | Total Record : 201