cover
Contact Name
Rahmiyati
Contact Email
hutantropisunlam@gmail.com
Phone
+6281348623216
Journal Mail Official
hutantropisunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL HUTAN TROPIS
ISSN : 23377771     EISSN : 23377992     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jht.v10i2
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah blind peer-reviewed yang mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan mencakup kajian manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan.
Articles 589 Documents
PEMANFAATAN LIMBAH PELEPAH DAN DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) SEBAGAI PUPUK KOMPOS Utilization Of Waste District And Palm Oil Leaves (Elaeis guineensis jacq) As Composted Fertilizers Daryono Daryono; Taufiq Rinda Alkas
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.793 KB) | DOI: 10.20527/jht.v5i3.4785

Abstract

Pelepah daun kelapa sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat dan lebih bersifat limbah biasanya pelepah ini hanya ditumpuk disekitar pohon saja. Pelepah daun sawit ini berpotensi untuk digunakan sebagai bahan kompos.Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan yaitu: P1 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit + 6 kg kotoran ayam + 1 kg dedak + 200 ml EM-4 + 20 l air + gula merah 2 kg, P2 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit +  8 kg kotoran ayam + 2 kg dedak  + 300 ml EM-4 + 30 l air + gula merah 3 kg, P3 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit + 10 kg kotoran ayam + 3 kg dedak + 400 ml Em-4 + 40 l air + gula merah 4 kg. Dari hasil pengamatan fisik pada penelitian ini untuk suhu,warna, bau, tekstur ,pH dan waktu lama pengomposan terbaik pada Perlakuan P2, P3 dan P1. Untuk perlakuan P2 44 hari, perlakuan P3 49 hari dan perlakuan P1 52 hari dilihat dari stabilnya suhu dan pH. Untuk warna, bau dan tekstur pada perlakuan P2 35 hari, perlakuan P3 40 hari dan perlakuan P1 43 hari.Sedangkan kimia kompos yang memenuhi Standar Mutu Pupuk Organik berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 70 /Permentan / SR.140 / 10 / 2011 yaitu Kadar air koreksi pada P2 sebesar 23.82 dan C-Organik Pada P1=29.96, P2=31.30,P3=30.03,mikro Fe pada P1=0.154,P2=0.106,P3=0.187dan C/N Rasio pada P1=9.46,P2=9.54,P3 =8.56.Kata Kunci: Pelepah dan daun kelapa sawit; Kotoran ayam; dedak; EM-4; gula merah dan airThe leaves of palm leaf that has been underused by the community and more waste is usually stacked only around the tree.This leaves of palm leaf has the potential to be used as compost material.This study consisted of 3 treatments: P1: 25 kg midrib and palm leaf + 6 kg chicken dung + 1 kg bran + 200 ml EM-4 + 20 l water + brown sugar 2 kg, P2: 25 kg midrib and coconut leaf sawit + 8 kg chicken manure + 2 kg bran + 300 ml EM-4 + 30 l water + brown sugar 3 kg, P3: 25 kg midrib and palm leaf + 10 kg chicken manure + 3 kg bran + 400 ml Em-4 + 40 l water + brown sugar 4 kg.From the physical observation in this research to temperature, color, odor, texture, pH and long time of best composting on Treatment P2, P3 and P1.For treatment of P2 44 days, treatment P3 49 days and treatment P1 52 days seen from stable temperature and pH. For the color, odor and texture of the P2 35 days, P3 40 days and P1 43 days.While compost chemistry that meets the Organic Fertilizer Quality Standard based on Regulation of Minister of Agriculture no. 70 / Permentan / SR.140 / 10/2011 Water content correction at P2 of 23.82 and C-Organic At P1 = 29.96, P2 = 31.30, P3 = 30.03, Fe micro at P1 = 0.154, P2 = 0.106, P3 = 0.187 and C / N Ratio at P1 = 9.46, P2 = 9.54, P3 = 8.56.
ANALISIS STAKEHOLDER DALAM PEMBANGUNAN KPH DI KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT Gusti Hardiansyah
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.608 KB) | DOI: 10.20527/jht.v13i1.1496

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) mengkaji permasalahan dalam menyongsong pembangunan KPH Kabupaten Ketapang, (2) mengetahui peran antara pengelola KPH dengan stakeholder lain dalam pembangunan KPH. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara mendalam dan studi literatur. Data dianalisis secara deskriptif dan SWOT.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembangunan KPH terhambat disebabkan antara lain karena keterbatasan SDM, keterbatasan anggaran, belum adanya dukungan PERDA, dan adanya klaim lahan oleh masyarakat. Adapun stakeholder yang terlibat dalam pembangunan KPH Kab. Ketapang antara lain adalah Dishut propinsi dan kabupaten, BPDAS, LSM, universitas, masyarakat, Bappeda, calon KPH sendiri dan dunia usaha yang akan mendukung pembangunan KPH dalam aspek ekonomi. Berdasarkan permasalahan tersebut, strategi yang diperlukan dalam pembangunan KPH Kab.Ketapang  adalah (1) Pemanfaatan kekuatan masyarakat dan pemanfaatan lahan dalam upaya memenuhi permintaan kayu, misal HTR dan HD di kawasan HP, (2) Akademisi dan LSM membantu menyusun draft rancangan rencana pengelolaan KPH dan Draft rancang bangun diselaraskan dengan pemanfaatan kawasan hutan untuk pengembangan kayu pertukangan. Ekowisata, one village one product dan carbon market.Kata kunci:  Pemangku kepentingan/Stakeholder, implementasi, masalah dan pembangunan KPH
EFEKTIVITAS PERTUMBUHAN DYSOXYLUM MOLLISSIMUM BLUME PADA TINGKAT PANCANG DI LAHAN KONDISI TERBUKA DAN TERNAUNGI Efratenta Katherina Depari; P.B.A. Nugroho; Saprinurdin -
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.528 KB) | DOI: 10.20527/jht.v9i1.10484

Abstract

Kayu Bawang (Dysoxylum mollissimum Blume) has long been used for carpentry and furniture. However, the cultivation of this plant has not been done well. The purpose of this research was to determine the effectiveness of Kayu bawang growth to sapling stage in open and shaded conditions. Planting Kayu bawang as object of the research has been executed since March 24, 2016 on open and shaded condition. The observed variables included diameter, height and leaf chlorophyll of the plant. The measurements were made up to 2-year-old plants.  The effectiveness of Kayu bawang growth in open and shaded conditions was tested using the t-test. The results showed that the diameter of Kayu bawang in open condition was 8.91±1.87 cm and in shaded conditions was 5.42±1.67 cm. The height of Kayu bawang in open conditions was 433±70 cm and in shaded condition was 283±100 cm. The chlorophyll of Kayu bawang in open condition was 57.6±5.3 and in shaded condition was 53.8±4.0. Statistical analysis for the three variables showed that the growth of Kayu bawang at the sapling stage in open conditions was more effective than in shaded conditions.
KAJIAN KELAYAKAN MODEL PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN RAKYAT POLA MANDIRI BERBASIS AGROFORESTRI Djohar Efendi
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.287 KB) | DOI: 10.20527/jht.v4i2.3598

Abstract

The analysis about the financial advisability of agroforestry-based, autonomous HTR development was done using the concept of “present worth” or “present value” by using investment index or criteria: Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (ORR), and Gross Benefit Cost Ratio (Gross BCR). The values of NPV, BCR dan IRR calculated using interest rate of 15% for 30 consecutive years of cultivation starting from the largest were as follows: 1) Jabon & corn:    NPV = Rp. 103.564.000~-, BCR = 2,11 dan IRR= 50,57 %, 2) Rubber, jabon  & corn:    NPV = Rp. 73.669.000,-,  BCR =1,63   dan IRR = 47,16 %, 3) Rubber & corn: NPV = Rp. 43.773.000,-,   BCR  = 1,31 dan IRR = 34,75 %, 4) Rubber, mahogany & corn: NPV = Rp.26.348.000,-, BCR  = 1,23 dan  IRR = 31,25%, and 5) Mahogany & corn:    NPV = Rp. 8.924.000,-,  BCR  = 1,11 dan IRR = 17,45%. Financially, using interest rate of 15% and within 30 years of cultivation, the implementation of agroforestry-based, autonomous HTR development with the plants combinations of rubber & corn; mahogany & corn; rubber, jabon & corn; and rubber, mahogany & corn, is advisable to improve the income of the farmers. Kajian mengenai kelayakan finansial pembangunan HTR pola mandiri berbasis agroforestri,  dianalisis   dengan  menggunakan   konsep  "present   worth"  atau  "present value"  dengan  menggunakan indeks  atau  kriteria  investasi: Net  Present   Value (NPV),   Internal  Rate  of Return  ORR),  dan   Gross Benefit  Cost Ratio  (Gross BCR). Besamya  nilai  NPV,  BCR  dan  IRR  dengan  menggunakan   suku  bunga  15 % selama jangka   pengusahaan    30  tahun   berturut-turut    mulai  dari   yang   lebih  besar  adalah: 1) Jabon &jagung:    NPV = Rp. 103.564.000~-, BCR = 2,11 dan IRR= 50,57 %, 2) Karet.jabon   &jagung:    NPV = Rp. 73.669.000,-,  BCR =1,63   dan IRR = 47,16 %, 3) Karet &jagung   : NPV = Rp. 43.773.000,-,   BCR  = 1,31 dan IRR = 34,75 % , 4) Karel, rnahoni & jagung  : NPV = Rp.26.348.000,-, BCR  = 1,23 dan  IRR = 31,25%, 5) Mahoni &jagung:    NPV = Rp. 8.924.000,-,  BCR  = 1,11 dan IRR = 17,45%.  Secara finansial dengan menggunakan  suku bunga 15% selama jangka pengusahaan 30   tahun, pelaksanaan pembangunan HTR Poia Mandiri berbasis agroforestri dengan  kombinasi jenis  tanaman  karet & jagung;  jabon  & jagung;  mahoni & jagung;  karet, jabon & jagung; dan karet, mahoni dan jagung, menguntungkan/layak untuk diusahakan. Penerapan agroforestri dalam  pembangunan HTR poia  mandiri dapat meningkatkan  pendapatan  petani pengelola.
ANALISIS KOMODITAS HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNGGULAN DI KAWASAN HUTAN KEMASYARAKATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Aria Dirawan; Suranto Suranto; Sunarto Sunarto
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.483 KB) | DOI: 10.20527/jht.v6i3.6008

Abstract

Non-Timber Forest Products (NTFPs) have an economic and ecological values for the communities around the forest area. The quality and quantity of NTFPs have decreased, so that it hasn’t made a significant contributions to improve economic and social welfare. This study aims to identify the superior NTFPs. Data research by questionnaires methods collected from farmers and community forest management organizations. Data analysis done by non-parametric statistical method (Description Scooring). The results is the Jackfruit commodity was classified as superior I with a total superior value of 86,222. The Commodity category II consists of Bamboo commodities with superior value 73,940 and Durian commodities with superior value of 63,610. Four other types of commodities was classified as superior III namely Kakau with a total superior value of 46,778, Taro is 42,773, Cassava is 40,890 and Ginger is 45,555.Hasil hutan bukan kayu (HHBK) memiliki peranan nilai ekonomi dan ekologi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. HHBK mengalami penurunan kualitas dan kuantitas sehingga belum memberikan kontribusi yang siginifikan untuk meningkatkan perekokonomian dan kesejahteraan masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi HHBK unggulan. Data penelitian diperoleh menggunakan metode kuisioner (angket) yang dikumpulkan dari petani dan organisasi pengelola hutan kemasyarakatan. Analisis data dilakukan dengan metode statistik non parametric (Description Scooring). Hasil penelitian menunjukkan komoditas nangka tergolong dalam unggulan I dengan total nilai unggulan 86,222.Komoditas kategori unggulan II terdiri dari komoditas bambu nilai unggulan 73,940 dan komoditas durian dengan total nilai unggulan 63,610. Empat jenis komoditas lainnya tergolong komoditas unggulan III yaitu kakau dengan total nilai unggulan 46,778 komoditas talas total nilai unggulan 42,773 komoditaubi kayu dengan total nilai unggulan 40,890 dan komoditas jahe dengan total nilai unggulan 45,555.
PERFORMAN TEGAKAN HTI AKASIA DAUN LEBAR PADA BERBAGAI ROTASI TANAM Ervayenri Ervayenri; Sri Rahayu Prastyaningsih
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.794 KB) | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1543

Abstract

Tujuan penelitian tentang performan tegakan HTI Acacia mangium pada berbagai rotasi tanam adalah mengkaji performan tegakan Acacia mangium yang ditunjukkan dengan potensi tegakan, kondisi tajuk dan tumbuhan bawah pada rotasi tanam I, rotasi tanam II, rotasi tanam III, rotasi tanam IV dan rotasi tanam V. Penelitian dilakukan di PT Arara Abadi pada bulan Juli 2013 Sebanyak 10 pohon Acacia mangium pada rotasi tanam I, rotasi tanam II, rotasi tanam III, rotasi tanam IV dan rotasi tanam V ditentukan secara acak, kemudian diobservasi potensi tegakan dan kriteria silvikulturnya meliputi tinggi pohon total, tinggi pohon bebas cabang, diameter, lebar tajuk, kerusakan pohon dan tumbuhan bawah. Pertumbuhan diameter terbesar pada rotasi tanam V (0,24 meter), pertumbuhan tinggi pada rotasi tanam III adalah 19,62 m (tinggi total) dan 10,99 (tinggi bebas cabang).Lbds tertinggi pada rotasi tanam V (046 m2)  potensi volume tertinggi pada rotasi tanam III yaitu 0,579 m3 (volume tinggi total) dan 0,316 m3 (volume tinggi bebas cabang). Lebar tajuk ideal pada rotasi tanam III (3,9 m) sedangkan nilai kerusakan terbesar pada rotasi tanam ke II (10%). Tumbuhan bawah yang dijumpai yaitu paku-pakuan sebanyak 6 jenis dan golongan rumput-rumputan sebanyak 2 jenis.Kata Kunci: Performan tegakan, Akasia, rotasi tanam
KELAYAKAN DAN KONTRIBUSI USAHA LEBAH MADU KELULUT DI DESA TELAGA LANGSAT KABUPATEN TANAH LAUT Irga Hutama Ramadhan; Z. Abidin; Z. Abidin; H. Fauzi; T. Satriadi; D. Itta
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.76 KB) | DOI: 10.20527/jht.v9i2.11291

Abstract

Tanah Laut District has been designated by the Ministry of Forestry as an area for developing Leading Non-Timber Forest Products (HHBK) in the form of honey bee cultivation. This is in line with the local government policy of Tanah Laut Regency through the Decree of the Regent of Tanah Laut Number: 188.45 / 463-KUM / 2013 which stipulates honey as the leading NTFP in Tanah Laut. The types of honey that are cultivated are bees Apis cerena, Apis mellifera and Kelulut (Trigona itama).  Dusun Trans Kopi Telaga Langsat, Tanah Laut district is one of the areas where there are farmers who practice kelulut honey bee cultivation. However, so far there has been no information or study results that show how feasible the honey cultivation business is carried out by kelulut honey bee farmers in this area. This research aims were analyzed the feasibility of honey bee cultivation and its contribution to farmer household income. The data collected  in this research were done by interviewing and observing. The analyzed of data had been obtained by BCR formula (Benefit Cost Ratio) to determine the feasibility of the business. The contribution of business was conducted to determine how much contribution of kelulut honey bee cultivation for  farmers' household income. The results showed that the business carried out by Yamani's kelulut honey bee business had a BCR value of 5.72 with a contribution to household income of 16.77%. Meanwhile, Rudi's kelulut honey bee business has a BCR of 8.73 with a contribution to household income of 8.99%. Kelulut honey bee cultivation which is carried out by the two farmers is a type of business that is worthy of investment because the value of each BCR is more than 1 (BCR> 1).
POLA AGROFORESTRI DAN POTENSI KARBON KEBUN CAMPURAN DI DESA TELAGA LANGSAT KECAMATAN TAKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT Eva Prihatiningtyas; Khairunnisa Khairunnisa; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2033.793 KB) | DOI: 10.20527/jht.v5i1.4058

Abstract

Agroforestry classification will help to analyze agroforest implementation in order to optimize benefits and function for society. Carbon sequestration potential in certain area can be predicted by measuring biomass in it. In this research, we measure the carbon stock in trees. This research aimed to evaluate supporting components in mixed garden Telaga Langsat Village; observe complexity of agroforestry; and estimate the carbon stock in tree stand. Methods applied by using plot samples represent agroforest types; record the species, benefits, stand age of all components in plot; measuring Tree base area and tree crown width in plot; then describe them horizontally and vertically. Carbon stock measurement approached by using non-destructive method, applying allometric equation. Agroforestry System evaluation and the planting pattern occupied by observing the entities of afforded commodity. The Result shows that supporting components in mixed garden Telaga Langsat Village are: woody components such as rubber and mahogany; annual crops such as eggplant, corn, string bean, chili, kangkung and chives; and the pastoral components are cows and goats. Agroforestri pattern that applied in Telaga Langsat Village are agrisilviculture and silvopastoral, and included in particular agroforestry practise. Total carbon stock estimation per unit land management is 0,511 kg/m2.Pengklasifikasian agroforestri dapat membantu analisis bentuk implementasi agroforestri untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Potensi serapan karbon suatu kawasan dapat diprediksi dengan mengukur besarnya biomassa yang terdapat di dalamnya. Potensi yang dihitung dalam penelitian ini adalah potensi tegakan berkayu saja. Tujuan penelitian adalah melakukan evaluasi komponen penyusun dalam kebun campuran di Desa Telaga Langsat; mengetahui kompleksitas bentuk agroforestri yang dilaksanakan, dan mengetahui cadangan karbon dari tegakan yang ada di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah  dengan membuat beberapa plot pengamatan yang mewakili jenis agroforestri; mencatat nama jenis, fungsi, umur semua komponen dalam plot; mengukur Luas Bidang Dasar dan Lebar tajuk pohon dalam plot; kemudian memproyeksikannya secara horizontal dan vertikal. Penghitungan potensi karbon menggunakan metode non-destruktif, dengan persamaan alometrik. Evaluasi sistem agroforestri dan pola tanamnya dilakukan dengan mencatat banyaknya komoditas yang diusahakan. Hasil menunjukkan komponen penyusun dalam kebun campuran di Desa Telaga Langsat antara lain: komponen berkayu berupa karet dan mahoni; komponen pertanian berupa terong, jagung, kacang panjang, cabai, kangkung dan bawang prei; dan komponen satwa berupa sapi dan kambing. Pola agroforestri yang diterapkan adalah agrisilvikultur dan silvopastoral, termasuk dalam agroforestri sederhana. Estimasi cadangan karbon total pada lokasi penelitian per luasan lahan adalah sebesar 0,511 kg/m2.
POLA DISTRIBUSI POPULASI POHON Rhizophora stylosa Griff. DI PANTAI BILIK TAMAN NASIONAL BALURAN Sara Fati Indra; Sudarmadji Sudarmadji; Rendy Setiawan
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.142 KB) | DOI: 10.20527/jht.v7i3.7512

Abstract

Pantai Bilik adalah salah satu pantai yang terletak di wilayah Taman Nasional Baluran yang terdapat hutan mangrove. Salah satu jenis mangrove yang ada di Pantai Bilik yaitu Rhizophora stylosa Griff.Rhizophora stylosa Griff.merupakan salah satu jenis mangrove sejati yang memiliki fungsi ekologis sebagai penahan gelombang. Berdasarkan fungsinya tersebut, distribusi R. stylosaGriff. terletak di bagian depan dibandingkan dengan jenis magrove lainnya. Pola distribusi suatu tumbuhan dapat digunakan untuk memberi informasi tentang karakteristik lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pola distribusi populasi pohon Rhizophora stylosa Griff. di Pantai Bilik Taman Nasional Baluran. Metode transek ploting digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggunakan plot ukuran 10x10 m2dan dilakukan digitasi titik-titik koordinatmenggunakan GPS (Global Positioning System). Digitasi hanya dilakukan pada jenis R. stylosaGriff. dengan diameter pohon >10 cm yang ada di dalam plot. Jumlah plot yang digunakan yaitu 106 plot, sehingga luas lokasi pengambilan data adalah 10600 m2. Selanjutnya data dianalisis menggunakan ArcGIS dan indeks Morisita terstandar. Berdasarkan hasil peta pola distribusi menggunakan ArcGIS dan indeks Morisita terstandar, pola distribusi R. stylosaGriff. di Pantai Bilik Taman Nasional Baluran adalah mengelompok
BUDIDAYA TABAT BARITO (Ficus deltoidea JACK) SECARA STUMP DENGAN VARIASI PERLAKUAN MEDIA TANAM DAN PUPUK ORGANIK NASA Yudi Firmanul Arifin; Eny Dwi Pujawati; Muhammad Aqla
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.124 KB) | DOI: 10.20527/jht.v12i32.1581

Abstract

ABSTRACT.  Indonesia is rich of medicinal plants for some ecosystem types of forest, one of which is tabat barito (Ficus deltoidea Jack). The utilization of tabat barito mainly used for women's health and other using. Until present day its use continues to increase, especially for traditional medicines, but efforts for cultivation have not been much done. To overcome the sustainability of raw material, the research of cultivation systems have to be done. The vegetative methods which are using stump is an alternative for reproduction.  The treatments of media and liquid fertilizer NASA were given of every treatment for improving survival rate and the increment of height and diameter.  Result of research showed the treatment for media of top soil was better than sand for height and number of leaf parameter.  The treatment of organic fertilizer was only improving number of leaves.  Keywords: vegetative,  stump,  organic fertilizer, growthABSTRAK.  Indonesia sangat kaya akan tumbuhan berkhasiat obat yang tumbuh pada berbagai tipe ekosistem hutan.  Tabat barito (Ficus deltoidea Jack) adalah salah satu tumbuhan yang sudah dikenal oleh masyarakat berkhasiat obat untuk berbagai penyakit, khususnya untuk kesehatan wanita setelah melahirkan dan penggunanya pun untuk bahan baku industri obat tradisional sudah dilakukan hingga kini.  Untuk mengatasi kekhawatiran akan keberlanjutan bahan baku tersebut, maka penelitian budidaya tumbuhan ini dilakukan.  Metode yang digunakan adalah secara vegetatif dengan cabutan anakan alam (stump).  Perlakuan terhadap media tanam dan pemberian pupuk cair NASA diberikan pada setiap metode untuk meningkatkan daya hidup dan mempercepat pertumbuhan anakan.  Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Perlakuan media top soil lebih baik dibandingkan dengan media pasir pada parameter tinggi dan jumlah daun.  Perlakuan pemberian pupuk organik cair NASA hanya dapat meningkatkan pertambahan jumlah daun.Kata kunci: vegetatif, stump, pupuk organik, pertumbuhan

Page 5 of 59 | Total Record : 589


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 4 Edisi Desember 2025 Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 4 Edisi Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 2 Edisi Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023 Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022 Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022 Vol 10, No 1 (2022): JURNAL HUTAN TROPIS VOL 10 NO 1 EDISI MARET 2022 Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021 Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021 Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021 Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020 Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020 Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020 Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019 Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019 Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018 Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018 Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018 Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017 Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 2 Edisi Juli 2017 Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017 Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016 Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016 Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016 Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015 Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015 Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015 Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014 Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014 Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 2 Edisi Juli 2013 Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 1 Edisi Maret 2013 Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012 Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012 Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011 Vol 12, No 31 (2011): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 12 Nomer 31 Tahun 2011 More Issue