cover
Contact Name
Rahmiyati
Contact Email
hutantropisunlam@gmail.com
Phone
+6281348623216
Journal Mail Official
hutantropisunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL HUTAN TROPIS
ISSN : 23377771     EISSN : 23377992     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jht.v10i2
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah blind peer-reviewed yang mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan mencakup kajian manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan.
Articles 589 Documents
PERTUMBUHAN SENGON (Paraseranthies falcataria) DI LEMBAH DAN DI BUKIT Natalino de Araújo; R., Alves
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19022

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan dimensi pertumbuhan pohon P. falcataria (diameter dan tinggi pohon) serta menghitung tingkat kelangsungan hidup pada dua wilayah berbeda (lembah dan perbukitan). Objek penelitian adalah pohon P. falcataria pada kelas umur yang sama (11 tahun), ditanam pada tahun 1995/1996. Kedua areal tersebut masing-masing memiliki luas 3 hektar, dan dari masing-masing areal tersebut diambil 330 pohon sebagai sampel dengan menggunakan metode purposive. Hasil penelitian dianalisis dalam bentuk tabel. Selain itu, uji t juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan nyata atau tidak nyata antara pohon-pohon di kedua daerah tersebut.Tinggi sengon yang paling banyak ditemukan di lembah adalah 20 - 21 m mencapai 32,72% dengan rata-rata tinggi per tiang 20,37 m dan rata-rata tinggi cabang bebas 9,98 m. Sedangkan ketinggian P. falcataria di atas bukit hanya 18 – 19 m; bisa mencapai 50,90%. Rata-rata tinggi cabang bebas 18,61 m dan rata-rata tinggi cabang bebas 7,83 m per batang. Hasil Uji t menunjukkan adanya perbedaan yang nyata, dimana nilai t-hitung terbesar terdapat pada dimensi tinggi cabang bebas yaitu sebesar 15,896 dan (standard error) Se 0,135, sedangkan nilai t-tabel sebesar 1,960 pada standar akuntabel sebesar 5% dan nilai derajat bebas (fd) sebesar 658. Standar error terbesar terdapat pada dimensi diameter sebesar 0,263 dan standar error terkecil terdapat pada dimensi tinggi total sebesar 0,092 dengan rata-rata terbesar selisih nilai hasil pengukuran terdapat pada dimensi diameter sebesar 6,82 cm. Selanjutnya tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan dimensi sengon sebenarnya dapat ditingkatkan hingga mencapai ukuran pertumbuhan maksimum namun hal tersebut tergantung pada pemilihan tempat tumbuh yang tepat, cara penyiapan lahan yang baik, pembangunan dan budidaya yang intensif.
DATA SPASIAL DEKOMPOSISI GAMBUT DAN PENYEBARANNYA DI HUTAN LINDUNG KECAMATAN LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU Suyanto Suyanto; Yusanto Nugroho; Singgih Susilo
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19028

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang Kota Banjarbaru seluas 960 ha. Fungsi hutan lindung adalah sebagai penyerap karbon, konservasi air, jasa lingkungan dan menambah estetika, tetapi sekarang kondisi penutupan lahannya sering mengalami kebakaran dan konversi hutan menjadi lahan pertanian. Kondisi seperti ini diduga dapat mepercepat proses dekomposisi gambutnya. Sejauh pengetahuan penulis belum ada penelitian dekomposisi gambut dalam bentuk data spasial yang sangat penting untuk menyusun rencana pengelolaan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun informasi dekomposisi gambut dan penyebarannya dalam bentuk data spasial.  Metode yang digunakan adalah pengamatan menggunakan bor tanah gambut sebanyak 39 titik, yang tersebar secara sistematik berjarak 500m x 500m. Data spasial dekomposisi gambut dianalisis menggunakan ArcGIS software, dimulai dengan plotting posisi, dilanjutkan membangun data atributnya. Batas tingkat dekomposisi tidak berubah secara tiba – tiba melainkan berubah secara gradual. Untuk mengkuantitatifkan data kualitatif, maka dekomposisi gambut fibrik, hemik dan saprik diberi angka ID berturut – turut 1, 2 dan 3, sehingga cocok interpolasinya menggunakan tools: Inverse Distance Weighted dengan interval 1cm, yaitu klas <1,5, 1,5 - 2,5 dan >2,5cm. Terakhir menghitung luasnya menggunakan tool geometry calculate. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 837,9 ha (85,9%) merupakan gambut saprik.
KARAKTERISTIK BRIKET ARANG DARI LIMBAH SERBUK MERANTI (Shorea Spp) Alpian Alpian; Joni Parnasip Sinaga; Herwin Joni; Yanciluk Yanciluk; Wahyu Supriyati; Nuwa Nuwa; Gimson Luhan; Ayub Wanasetya
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19003

Abstract

Limbah kayu yang berlimpah dapat mencemari lingkungan, perlu pengelolaan menjadi briket arang agar dapat dimanfaatkan dengan efisien dan sebagai alternatif energi terbarukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik briket arang dari limbah serbuk meranti (Shorea spp) kemudian hasil pengujian akan dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia SNI 01-6235-2000 tentang briket arang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari perlakuan dengan perbedaan ukuran serbuk yaitu 20 mesh, 40 mesh, 60 mesh dan 80 mesh dengan ulangan 5 kali, sehingga diperoleh jumlah sampel pengujian sebanyak 20 sampel pengujian. Analisis data menggunakan Analisis Sidik Ragam. Hasil penelitian menunjukkan briket arang dari limbah serbuk meranti masuk dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali pegujian kadar zat mudah menguap. Dilihat dari nilai rata-rata pengujian setiap sampel, yaitu nilai kerapatan 0,79 g/cm³, keteguhan tekan 3,07 kg/cm², kadar air 4,72%, kadar zat mudah menguap 27,85%, kadar abu 3,33%, kadar karbon terikat 63,90%, dan nilai kalor 7090,08 Cal/g.
POTENSI DAN KEARIFAN LOKAL PEMANFAATAN BAMBU DI DESA RUMPIN KECAMATAN RUMPIN KABUPATEN BOGOR Abdul Rahman Rusli; Dwi Agus Sasongko; Agus Prana Mulia
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19034

Abstract

Bambu memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Bambu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan, bahan makanan, dan digunakan dalam pembuatan obat-obatan. Bambu menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek cukup menjanjikan. Pemanfaatan bambu di daerah pedesaan sangat berkaitan dengan kearifan lokal. Desa Rumpin yang memiliki  luas  639 Ha adalah salah satu desa penghasil bambu  di Kabupaten Bogor. Namun demikian, selama ini belum ada ketersediaan data potensi bambu dan pemanfaatannya sehingga perlu didukung oleh penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kearifan lokal pemanfaatan bambu di Desa Rumpin, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Inventarisasi potensi bambu dihitung dengan intensitas sampling sebesar 5%. Pemanfaatan bambu di Desa Rumpin diidentifikasi menggunakan teknik wawancara mendalam dengan melibatkan beberapa informan kunci. Responden ditentukan dengan teknik snowball sampling. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa dugaan potensi bambu tali sebanyak 133 rumpun/Ha (5.564 batang/Ha), bambu andong sebanyak 19 rumpun/ha (464 batang/Ha), bambu mayan sebanyak 18 rumpun/ha (432 batang/Ha), bambu betung sebanyak 7 rumpun/Ha (186 batang/Ha), bambu hitam sebanyak 4 rumpun (154 batang/Ha), dan bambu atter sebanyak 3 rumpun/Ha (66 batang/Ha). Sedangkan kearifan lokal dalam pemanfaatan bambu yang masih diterapkan berupa (1) Budidaya dan pemanfaatan bambu secara turun temurun; (2) Menghindari pemanfaatan rebung; (3) Larangan menebang bambu berlebihan; (4) Penebangan bambu di atas jam 10.00.
ANALISIS KONJOIN PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP MADU WANA LESTARI KEMASAN SASET DI KABUPATEN TANAH LAUT Rudi Cahyo Purnomo; Trisnu Satriadi; Adi Rahmadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19023

Abstract

Madu merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu unggulan yang banyak diproduksidi Kabupaten Tanah Laut. UMKM Madu Wana Lestari menjadi salah satu UMKM penghasil madu murni yang berdiri sejak tahun 2009 yang berlokasi di Desa Telaga Langsat Kecamatan Takisung. Madu Wana Lestari mencoba menyajikan kepada konsumen penikmat madu dengan kemasan sasetyang lebih praktis. Atribut yang digunakan dalam menentukan preferensi konsumen ini adalah berdasarkan takaran, warna kemasan dan harga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi konsumen berdasarkan atribut dan level. Analisis data menggunakan analisis Konjoin Metode analisis Konjoin Kombinasi atribut yang digunakan adalah sebanyak 9 yang merupakan kombinasi 3 atribut dan 3 level. Kombinasi tersebut diolah dalam bentuk kemasan saset yang memuat atribut dan level atribut berturut-turut sebagai berikut yaitu harga, takaran penyajian dan warna kemasan dengan level harga Rp 2000, Rp 2500, Rp 3000, untuk level takaran penyajian terdiri dari 10 ml, 15 ml dan 30 ml serta untuk level warna kemasan terdiri dari warna merah, kuning dan hiijau. Dari nilai utilitas harga terlihat harga yang paling diminati adalah Rp 2000 dengan nilai utilitas (-0.996), nilai utilitas kemasan yang paling diminati adalah merah (-0.201) dan untuk takaran yang paling diminati berdasarkan nilai utilitas adalah 30 ml (-0.208) Dari ketiga atribut yaitu takaran, harga, dan warna kemasan, harga mempunyai tingkat kepentingan tertinggi dari responden (48.18%) kemudian kemasan (27.42%) dan takaran penyajian (24.39%) secara berrturut-turut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah preferensi konsumen utama yang akan mempengaruhi konsumen adalah madu yang takaran penyajiannya lebih banyak dengan harga yang lebih murah dengan kemasan saset.
ANALISIS KERUSAKAN POHON DI RESTORASI RAWA KIDANG TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Vio Deka Ananda; Rahmat Safe&#039;i; Gunardi Djoko Winarno; Rudi Hilmato
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19030

Abstract

Kualitas kesehatan hutan dapat mempengaruhi fungsi hutan. Kualitas kesehatan hutan dapat dianalisis melalui pendekatan penilaian indikator kerusakan pohon. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai kesehatan pohon berdasarkan indikator vitalitas, yaitu kerusakan pohon di Restorasi Rawa Kidang. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahapan yang dimulai dengan observasi lapangan, pembuatan klaster plot sesuai dengan desain metode Forest Health Monitoring, pengukuran Kesehatan pohon dan penilaian Kesehatan pohon. Identifikasi kerusakan ditentukan berdasarkan lokasi, tipe, dan tingkat keparahan kerusakan. Kerusakan pohon dianalisis berdasarkan indeks kerusakan tiap pohon (TLI), pengukuran kerusakan tingkat plot (PLI), dan kemudian mengukur kerusakan berdasarkan klaster plot. Hasil analisis kerusakan pohon didasarkan pada lokasi kerusakan, yaitu daun, cabang, pucuk, dan tunas. Tipe kerusakan pohon yaitu daun, pucuk atau tunas rusak (24), cabang patah atau mati (22), hilangnya pucuk dominan (21), dan luka terbuka (03). Nilai klaster plot 1 yaitu 3,17, klaster plot 2 dan 3 yaitu 2,64 dan 2,23, serta klaster plot 3 yaitu 1,41. Klaster plot 1 dan 2 mendapat kategori tinggi (2,60-3,18), klaster plot 3 kategori sedang (2,01-2,59), dan klaster plot 4 kategori rendah (1,42-2,00). Kategori kerusakan yang didapatkan cukup bervariatif yang berdampak pada terbentuknya dinamika kesehatan di Restorasi Rawa Kidang.
PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP FASILITAS WISATA ALAM PULAU MENGKUDU Putri Dwi Mei Kartini; Christine Wulandari; Hari Kaskoyo; Zainal Abidin; Sugeng P. Hariyanto; Ketut Muniarti
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19006

Abstract

Provinsi Lampung menawarkan objek wisata pantai yang berada di Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan yaitu Pulau Mengkudu yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wiata Ragom (POKDARWIS) Helau sebagai dasar pengembangan suatu lokasi wisata perlu dilakukan penelitian tentang persepsi wisatawan terhadap fasilitas yang ada. Pengelolaan akan dikatakan baik apabila tetap menjaga tata nilai asli tempat wisata ketika mengembangkan berbagai fasilitasnya seperti akomodasi, produk jasa yang diharapkan, berdampak positif bagi masyarakat sekitar kawasan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2022 dengan menggunakan metode uji validitas dan reabilitas kemudian diolah berdasarkan skala likert. Hasil penelitian didapatkan persepsi wisatawan dengan tertinggi kategori “Baik” yaitu pada kondisi air bersih dan toilet yaitu 3,75, kemudian wahana permainan yaitu 3,66 dan keindahan alam yaitu 3,55. Persepsi wisatawan tentang akses menuju Pulau Mengkudu mempunyai skor rendah yaitu 3,11, restaurant dengan skor 3,02 dan alat transportasi menuju Pulau Mengkudu dengan skor 3,07. Sehingga ketiganya perlu segera ada upaya renovasi.
KEBIJAKAN KELEMBAGAAN DALAM TINDAKAN MITIGASI DAN PENANGANAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA SELATAN Novitasari Novitasari; Hari Kaskoyo; Arief Darmawan; Teguh Endaryanto; Christine Wulandari; Samsul Bakri
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19025

Abstract

Kebakaran hutan merupakan salah satu bencana alam yang tidak dapat diprediksi dan menimbulkan kerugian terhadap mahluk hidup. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang paling rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Secara umum, aktivitas manusia dan faktor alam merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan. Upaya antisipasi pencegahan dan pengendalian bahaya kebakaran hutan dan lahan sudah dilakukan melalui peraturan perundang-undangan, namun kebijakan yang mumpuni tidak berjalan secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sifat dan luasnya masalah kebakaran, serta efektivitas kebijakan kelembagaan yang ada di Indonesia dalam menangani kebakaran hutan di Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan data sekunder berupa data titik api, data water bombing serta persepsi stakeholders dalam kebijakan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2022. Hasil analisis penelitian ini yaitu jumlah titik api/hotspot di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2022 masih mencapai 2.312 titik api yang menyebabkan kerugian pada sektor ekonomi sebesar Rp 42.729.165.000 dan sektor lingkungan seluas 116.663 Ha. Penanganan kebakaran sudah dilakukan oleh beberapa lembaga seperti KLHK, BNPB, BRGM, TNI/Polri, namun kebakaran hutan tetap terjadi. Lemahnya payung hukum, minimnya keterlibatan aparat penegak hukum, serta kurangnya sinkronisasi dalam upaya penanggulangan kebakaran, menyebabkan tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan penanggulangan karhutla tidak optimal. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan perubahan paradigma penanggulangan bencana kebakaran hutan di Provinsi Sumatera Selatan melalui pendekatan yang lebih preventif dan inovasi, penegakan hukum yang lebih tegas, serta melakukan koordinasi yang kuat antar lembaga agar mitigasi bencana kebakaran hutan dapat lebih efektif.
PERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR LAHAN GAMBUT TENTANG SIMPANAN KARBON DAN PERUBAHAN IKLIM Wahyu Edi Chandra Pratama; Christine Wulandari; Novriyanti Novriyanti; Dian Iswandaru; Hendra Prasetia
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19031

Abstract

Salah satu fungsi lahan gambut adalah penyimpan karbon. Dengan adanya kegiatan konversi lahan gambut menjadi jenis penggunaan lahan tertentu akan melepas karbon ke atmosfer. Gas Rumah Kaca (GRK) yang tertimbun di atmosfer dapat meningkatkan suhu bumi dan berakibat pada perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi ini menyebabkan kerugian terutama pada sektor pertanian. Adanya kerugian akibat perubahan iklim ini, petani perlu memiliki persepsi atau pemahaman. Persepsi yang positif akan memunculkan perilaku dan partisipasi yang positif dalam pemulihan ekosistem gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis korelasi antara karakteristik masyarakat dan persepsi masyarakat tentang pengetahuan lahan gambut, persepsi masyarakat tentang simpanan karbon dan persepsi masyarakat tentang perubahan iklim. Penelitian ini melibatkan 30 responden yang tinggal di Desa Jebus sebagai desa penyangga Tahura OKH. Data yang digunakan adalah persepsi masyarakat tentang manfaat lahan gambut, simpanan karbon dan perubahan iklim serta karakteristik responden. Data yang didapat kemudian dilakukan analisis. Hubungan antara persepsi masyarakat tentang lahan gambut, simpanan karbon, dan iklim terhadap karakteristik responden dianalisis menggunakan korelasi Rank Spearman. Masyarakat Desa Jebus memiliki persepsi yang tinggi tentang manfaat lahan gambut, simpanan karbon dan perubahan iklim. Selanjutnya melalui analisis rank spearman, didapatkan bahwa persepsi masyarakat tentang manfaat lahan gambut bernilai signifikan dengan karakteristik pekerjaan dan pendapatan serta persepsi masyarakat tentang perubahan iklim bernilai signifikan dengan karakteristik pekerjaan.
ANALISIS LIMPASAN AIR PERMUKAAN MENGGUNAKAN HEC-HMS AKIBAT PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI KECAMATAN JATI AGUNG Syarifuddin Azis; Endro Prasetyo Wahono; Teguh Endaryanto; Samsul Bakri; Zainal Abidin; Nurhasanah Nurhasanah
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19020

Abstract

Kabupaten Lampung Selatan berbatasan langsung dengan ibukota Provinsi Lampung yaitu kota Bandar Lampung, sehingga potensi terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian sangat besar. Keberadaan kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA), rumah sakit Airan Raya, gerbang Tol Trans Sumatra (gerbang ITERA-Kotabaru) dan calon kantor pusat Pemerintah Provinsi Lampung yang semuanya terletak di Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan yang akan mempengaruhi perubahan tutupan lahan pertanian. Penelitian ini dilakukan di sub DAS Way Kandis Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan, dengan luas lahan sebesar 164,47 km2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan tutupan lahan dan besaran limpasan air permukaan akibat alih fungsi lahan di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Alih fungsi lahan yang terjadi dari tahun 2016 sampai tahun 2020 didominasi oleh perubahan lahan perkebunan, pemukiman dan pertanian lahan kering campur. Dari hasil simulasi HEC-HMS diperoleh nilai debit puncak dan volume limpasan air tahun 2016 sebesar 215,80 m3/s dan 13.989.100 m3. Pada tahun 2020 terjadi peningkatan debit puncak dan volume limpasan air sebesar 246,40 m3/s dan 15.444.100 m3. Peningkatan debit puncak dan volume limpasan air terjadi pada setiap tahun. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan koefisien limpasan (CN).

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 4 Edisi Desember 2025 Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 4 Edisi Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 2 Edisi Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023 Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022 Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022 Vol 10, No 1 (2022): JURNAL HUTAN TROPIS VOL 10 NO 1 EDISI MARET 2022 Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021 Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021 Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021 Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020 Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020 Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020 Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019 Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019 Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018 Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018 Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018 Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017 Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 2 Edisi Juli 2017 Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017 Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016 Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016 Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016 Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015 Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015 Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015 Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014 Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014 Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 2 Edisi Juli 2013 Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 1 Edisi Maret 2013 Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012 Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012 Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011 Vol 12, No 31 (2011): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 12 Nomer 31 Tahun 2011 More Issue