cover
Contact Name
Sepli Yandri
Contact Email
sepli.yandri.09@gmail.com
Phone
+6285715913589
Journal Mail Official
rustic.ars.itb.ad@gmail.com
Editorial Address
Lt. 4 Gedung ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Kampus Ciputat Jl. Ir. H. Juanda No. 77 Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
ISSN : -     EISSN : 27757528     DOI : https://doi.org/10.32546/rustic.v5i2.2971
Core Subject : Social, Engineering,
RUSTIC: Jurnal Arsitektur publishes scientific research and reviews in the fields of architecture,Urban areas and reviewing environmental and community problems. This journal is published twice a year, namely in December and June.
Articles 44 Documents
EVALUASI SISTEM DRAINASE POLDER KOTA SEMARANG DILIHAT DARI SUDUT PANDANG KOTA RAWAN BENCANA BANJIR Marselly Dwiputri; Sarah Aisha; Rafi Mentari
RUSTIC Vol 1 No 2 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.755 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i2.714

Abstract

One of the flood disasters that often hit Semarang City is caused by the lack of management of the drainage system which ultimately has great potential for the emergence of very adverse flood disasters. The condition of the drainage channel capacity that continues to decrease due to sedimentation, garbage, and poor maintenance also aggravates the flood problem in Semarang City. Flood management in Semarang City has been carried out with the development of polder system drainage in the Old City and Banger River areas of Semarang City. Based on these conditions, an analysis was carried out that aims to evaluate the concept of polder system drainage in Semarang City in solving flood problems. The method carried out in this study is to use a qualitative descriptive analysis of the flood resolution program through the polder system in Semarang City. The results of the analysis explained that the polder system had been built in accordance with existing principles and regulations but the lack of maintenance of the Polder Banger resulted in the polder function not being optimal. The concept of developing Banger polders in East Semarang was well developed based on considerations of safety, sustainability, and flexibility aspects.
PENGEMBANGAN MODEL SHOPPING CENTER STRATA DI INDONESIA Raden Ahmad Nur Ali
RUSTIC Vol 1 No 1 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.531 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i1.884

Abstract

Fokus penelitian ini adalah mencari sebuah model shopping center strata yang tepat. Kekosongan kios pada shopping center strata dirasakan terus meluas sehingga merugikan pemilik kios dan shopping center itu sendiri. Setelah melakukan pengamatan terhadap dua bentuk desain shopping center strata, diketahui bahwa kekosongan kios disebabkan karena dua faktor yaitu status kepemilikan strata pada shopping center yang menyebabkan terbatasnya pengelolaan terhadap kios yang kosong dan penerapan desain yang menciptakan posisi kios menjadi tidak strategis, suasana berbelanja yang tidak nyaman dan mempengaruhi harga sewa atau jual yang tidak sesuai dengan kondisi yang sedang berkembang. Pencarian solusi terhadap permasalahan tersebut digambarkan ke dalam bentuk skenario pengembangan situasi yang menggambarkan tindakan terhadap kemungkinan yang terjadi. Dari analisis tersebut didapatkan bahwa pengelolaan sebagian jumlah kios pada shopping center masih lebih baik daripada tidak sama sekali, dan untuk mengatasi terbatasnya pengelolaan akibat status kepemilikan strata, maka diperlukan perjanjian serah kelola pemilik kios dengan pihak pengelola, dan fleksibilitas pada design shopping center, sehingga pengelolaan dapat dilakukan secara menyeluruh.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA KAWASAN HOTEL ALAM ASRI RESORT Risnan Nazarudin; Anisa Anisa
RUSTIC Vol 1 No 1 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.706 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i1.885

Abstract

Kawasan Resort merupakan tempat rekreasi yang dituju oleh masyarakat kota. Pesatnya perkembangan kota mempunyai dampak yang besar pada daerah di sekitar kota. Daerah sekitar kota menjadi arah pembangunan yang kadangkala tidak terkontrol sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang ditandai dengan penurunan kualitas udara, air, tanah, punahnya flora dan fauna liar dan rusaknya ekosistem. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu penerapan arsitektur ekologi pada pembangunan fasilitas pendukung kota, antara lain resort. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penerapanprinsip prinsip arsitektur ekologi pada kawasan resort dan mengidentifikasi material apa saja yang mendukung arsitektur ekologi pada kawasan resort. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif, yang menganalisis menggunakan prinsip arsitektur ekologi. Diharapkan dengan adanya penerapan arsitektur ekologi pada kawasan resort ini bisa membuat lingkungan terjaga ekosistemnya dan meminimalisirkan pengaruh buruk pada lingkungan yang di timbulkan karena desain arsitektur yang tidak tepat. Hasil dari penelitian ini adalah, prinsip ekologi bisa diterapkan dalam kawasan resort antara lain mengatur massa bangunan untuk menciptakan ruang terbuka hijau aktif, memanfaatkan kontur dan keistimewaan fisik alamiah, mendesain bangunan supaya hemat energy dengan bukaan yang cukup dan arah hadap yang tepat, dan menggunakan material lokal. Kawasan Resort merupakan tempat rekreasi yang dituju oleh masyarakat kota. Pesatnya perkembangan kota mempunyai dampak yang besar pada daerah di sekitar kota. Daerah sekitar kota menjadi arah pembangunan yang kadangkala tidak terkontrol sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang ditandai dengan penurunan kualitas udara, air, tanah, punahnya flora dan fauna liar dan rusaknya ekosistem. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu penerapan arsitektur ekologi pada pembangunan fasilitas pendukung kota, antara lain resort. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penerapanprinsip prinsip arsitektur ekologi pada kawasan resort dan mengidentifikasi material apa saja yang mendukung arsitektur ekologi pada kawasan resort. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif, yang menganalisis menggunakan prinsip arsitektur ekologi. Diharapkan dengan adanya penerapan arsitektur ekologi pada kawasan resort ini bisa membuat lingkungan terjaga ekosistemnya dan meminimalisirkan pengaruh buruk pada lingkungan yang di timbulkan karena desain arsitektur yang tidak tepat. Hasil dari penelitian ini adalah, prinsip ekologi bisa diterapkan dalam kawasan resort antara lain mengatur massa bangunan untuk menciptakan ruang terbuka hijau aktif, memanfaatkan kontur dan keistimewaan fisik alamiah, mendesain bangunan supaya hemat energy dengan bukaan yang cukup dan arah hadap yang tepat, dan menggunakan material lokal.
KAJIAN KOMPATIBILITY GREEN TRANSPORTATION UNTUK KOTA BOGOR Marselly Dwiputri; Isro Saputra; Iklima Alimah; Nurjannah Hamdani
RUSTIC Vol 1 No 1 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.886 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i1.886

Abstract

Transportasi merupakan infrastruktur utama yang menjadi bagian penting dalam pemenuhan aktivitas manusia. Kota Bogor merupakan salah satu kota dengan jumlah kendaraan tinggi. Berdasarkan data dari dari badan pusat statistik, diketahui bahwa jumlah kendaraan bermotor di Kota Bogor pada tahun 2019 adalah berjumlah 480.100 kendaraan dan pertumbuhan kendaraan bermotor meningkat rata – rata sebesar 15%. Semakin berkembangnya pertumbuhan kendaraan di Kota Bogor akan semakin meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak serta memberikan kontribusi terhadap pencemaran udara. Dalam mengantisipasi dampak buruk yang ditimbulkan, diperlukan suatu konsep pengembangan transportasi yaitu green transportation yang merupakan suatu konsep untuk mewujudkan transportasi ramah lingkungan dalam upaya memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan konsep pengembangan green transportation yang sesuai dalam pengembangan transportasi berkelanjutan di Kota Bogor. Dalam penulisan ini metode yang dilakukan adalah metode kualitatif, sedangkan untuk cara analisis yang akan dilakukan peneliti menggunakan suatu metode deskriptif komparatif, dimana dilakukan suatu kajian perbandingan literatur yang akan digunakan untuk melihat pengembangan konsep green transportation.Hasil yang didapatkan menunjukkanbahwa penerapan green transportation Kota Bogor masih belum dapat diterapkan dengan baik, karena kondisi transportasi di Kota Bogor belum memenuhi seluruh indikator dari green transportation.
KAJIAN PENDATAAN KAWASAN PERMUKIMAN BERBASIS SIG DI KOTA TANGERANG Wakyudi Wakyudi; Pudji Widjanarko; Hanifa Fijriah
RUSTIC Vol 1 No 1 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.819 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i1.887

Abstract

Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan permukiman di suatu wilayah semakin tinggi. Ketersedian lahan yang terbatas sehingga mengakibatkan pembangunan bergerak ke pinggiran kota untuk memenuhi kebutuhan permukiman. Permukiman merupakan salah satu sarana yang penting bagi manusia untuk tempat tinggal. meningkatnya kebutuhan perumahan dan permukiman yang jika tidak dikelola dengan manajemen pemanfaatan ruang akan menimbulkan suatu wilayah perumahan dan permukiman yang tida teratur. Kota Tangerang Selatan salah satu wilayah urban yang berbatasan langsung dengan wilayah Ibukota DKI Jakarta yang keberadaanya sangat strategis untuk wilayah permukiman sehingga terus mengalami pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2020 sebesar 1.279.052 jiwa sehingga kebutuhan akan lahan permukiman akan semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi perkembangan permukiman berdasarkan hasil pemetaan berbasisSIG di Kota Tangerang Selatan dan (2) mengetahui tingkat perubahan lahan permukiman di Kota Tangerang Selatan berdasarkan Peta Tataguna Lahan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis Tumpang susun (superimpose overlay) peta Tata guna lahanKota Tangerang Selatan dengan peta Kawasan Permukiman berdasarkan RTRW Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan sofhwere ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas penggunaan lahan permukiman Kota Tangerang Selatan sebesar 9211,91 Ha. Sedangkan berdasarkan hasil overlay peta permukiman eksisiting dan peta rencana permukiman berdasarkan RTRW Kota Tangerang Selatan terjadi penyimpangan sebesar 2675,30 Ha.
RENCANA PENGEMBANGAN LANSKAP EKOWISATA KAWASAN PENYANGGA TAMAN NASIONAL UJUNG KULON (TNUK) PROVINSI BANTEN Wakyudi Wakyudi; Ardiansyah Ardiansyah; Annisa Marwati
RUSTIC Vol 1 No 1 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.455 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i1.888

Abstract

Ekowisata diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya alam. Pengembangan ekowisata di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) harus terintegrasi dengan kawasan penyangga yang menghubungkan antara aktivitas masyarakat dan konservasi, untuk itu, dilakukan penelitian agar diketahui karakteristik dan potensi obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA) di dalamnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif terhadap potensi obyek dan daya tarik wisata guna menghasilkan rencana lanskap ekowisata. Hasil analisis bahwa kawasan penyangga TNUK memiliki potensi obyek dan daya tarik wisata alam yang layak untuk dikembangkan. Potensi objek dan atraksi wisata tersebar di 10 desa penyangga yang memiliki kategori sangat potensial dan potensial dari 15 desa yang menjadi fokus penelitian dengan berbagai jenis keragaman objek dan atraksi wisata. Daya dukung efektif (ECC) Daerah Penyangga TNUK untuk ekowisata adalah sebesar 31.090 orang/hari, dengan faktor koreksi kelerengan, kepekaan erosi tanah, potensi lanskap, dan iklim. Berdasarkan analisis kawasan menghasilkan konsep rencana pengembangan ekowisata wisata, ruang, aktifitas dan fasilitasnya. Zona pengembangan meliputi zona intensif, semi intensif dan ektensif. Sedangkan ruang wisata yang dihasilkan adalah ruang utama meliputi ruang wisata akuatik dan ruang wisata terestrial dan ruang penunjang meliputi ruang penerimaan, ruang transisi dan ruang pendukung.
KORELASI BENTUK CANDI TERHADAP BENTUK MASJID TUA DI PALEMBANG Ardiansyah Ardiansyah
RUSTIC Vol 1 No 2 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.062 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i2.930

Abstract

Palembang city is one of the oldest cities in Indonesia. Based on the Kedukan Bukit inscription, it was founded around the 7th century and also shows the existence of the Srivijaya Kingdom in Palembang. Palembang also had the influence of the Majapahit Kingdom and had experienced a government vacuum until the establishment of the Islamic Kingdom of the Palembang Darussalam Sultanate around the 15th century. At this time gave birth to several relics of old mosque buildings such as the Great Mosque, Suro Mosque, Lawang Kidul Mosque and Ki Merogan Mosque. The remains of an old mosque in Palembang show that there is a correlation of shape with temple buildings, especially temples in Sumatra. A study related to the correlation of the shape of the temple with the old mosque in Palembang is important because the existence of the temple in Palembang has not been found in its entirety. brick structure in Palembang which is thought to be the remnant of a temple building. The method used in this research is qualitative and field research. The method of analysis uses morphological analysis and analogy. The results of this study indicate that the architecture of the old mosque in Palembang as a form of temple evolution that has developed to date, of course, is not in terms of function but architectural form.
EFISIENSI LUASAN KUBAH PANEL GALVALUM UNTUK MASJID DI PEDESAAN Kapindro Hari Sasmita; Wakyudi Wakyudi
RUSTIC Vol 1 No 2 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1272.108 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i2.1077

Abstract

The application of dome on mosque buildings is rationally based on the need for recognizable identity (Fithri, Athaillah, and Karsono, 2016). In modern time, mosques in Indonesia look to emphasize the character of domes by variation of curves, details, motives and colors. One of the most popular technologies now to allow the variations is Galvalum Panel, the dome arranged by modular panels made of metal containing zinc and aluminum. It is also stainless and light weight. The modular panels arranged on pipes hollow structures. The challenge for applying the technology is its unaffordable price, especially for mosque developers in villages. This research is aimed to formulate efficiency for applying the technology related to its dimension and budget, especially for people in village. The research method is started from interviewing some suppliers about dimension and unit price standards; then analyzing efficiency of main room area as basis structure for the dome; then calculating surface area of domes in many variations of diameter and height; and the last is multiplying each number of areas by unit price. The result is the most efficient diameter of dome applied in village areas is not more than 5 meters based on analyzed minimum capacity in the main room to accommodate minimum Friday worshipers. Meanwhile the efficient surface area is ranging from 9.48m2 to 57.84m2.
JEJAK BETON DAN MODERNISASI ARSITEKTUR DALAM PEMBANGUNAN PERIODE PASCAKOLONIAL DI INDONESIA Nia Namirah Hanum; Hanifa Fijriah Wasnadi
RUSTIC Vol 1 No 2 (2021): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.531 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v1i2.1743

Abstract

1959 was a turning point for Indonesia to become a country with a new 'identity', where it was the first year of the revival of the 1945 Constitution, including the actions, decisions, and powers of the President to initiate large-scale development. For President Soekarno, concrete was able to become a tool to symbolize modernity and equality for the Indonesian people who experienced long imperialism from the Europeans (colonies). Indonesia's long history triggered Soekarno to make Indonesia an equal country with other countries, so through the Nation and Character Building mission, megaprojects were carried out. While the next era is in the hands of President Soeharto, national stability which refers to the development of basic needs and infrastructure is one of the important plans in the PELITA program series. How was the modernization process in Indonesia in the post-colonial period presented through concrete materials and what factors or events were related to it; become the focus of the problem in this research. The purpose of exploring these problems is to get a new perspective to explore and assess the role of concrete in the Indonesian modernization process in physical development which was influenced by important factors and events in the two postcolonial regimes. The data on domestic cement production and consumption activities in Indonesia serve as glasses to see how the traces of the modernization of the Indonesian nation are in the context of physical development. The results show that there are two peaks of the highest domestic consumption of cement which proves that concrete is an important part of the development process in the post-colonial period: (1) In 1961 it was 788,000 tons in the era of the construction of the Istiqlal Mosque, an increase of 73.6% from the previous year; (2) In 1970, it reached 1,214,603 tons in the PELITA I era, with an increase of 27% from the previous year.
TINJAUAN PENGARUH LETAK BUKAAN TERHADAP PERSEPSI PENGHUNI PADA GEREJA-GEREJA DI INDONESIA Cornelia Hildegardis
RUSTIC Vol 2 No 1 (2022): RUSTIC
Publisher : ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.873 KB) | DOI: 10.32546/rustic.v2i1.1747

Abstract

The research was conducted to examine the location of the openings in several churches in Indonesia against the views of the residents who were in them. The location is determined based on the koppen climate classification for tropical regions in Indonesia which is divided into tropical rain forests, tropical monsoons, and savanna. The study was conducted by comparing previous studies on churches in Indonesia. The results from the three tropical regions concluded that occupant distance, dimensions, and conditions of openings (open/closed) were able to influence the perception of comfort felt in the building.