cover
Contact Name
Indra Cahya Setia Widigda
Contact Email
indracahya933@gmail.com
Phone
+6281252438535
Journal Mail Official
kedokterankomunitas@unisma.ac.id
Editorial Address
Jl. M.T. Haryono No.193 Malang 65144, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)
ISSN : 23376988     EISSN : -     DOI : 10.33474
Jurnal Kedokteran Komunitas merupakan salah satu jenis jurnal akademik bidang kedokteran atau kesehatan di mana penulis mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian maupun kajian. Artikel ilmiah ini juga mencangkup hasil-hasil penelitian terbaru dan tulisan ilmiah lainnya di bidang biomedis, kedokteran klinis, kedokteran komunitas, dan kesehatan masyarakat. Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel yang diterbitkan, suatu artikel biasa diteliti oleh rekan-rekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis, hal ini dikenal sebagai peer review. Jurnal Kedokteran Komunitas nomor p-ISSN 2337-6988 e-ISSN dikelola Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang ini diharapkan dapat menjadi media berbagi pengalaman antara berbagai kalangan dan institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan, dengan terbit berkalah 2 kali dalam setahun yaitu bulan April dan Oktober.
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2021)" : 33 Documents clear
Studi In Silico: Potensi Antiadhesi Senyawa Flavonoid Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) dalam Berikatan dengan Protein Adhesin GbpA Vibrio cholerae Ariel Brilliant Islami; Arif Yahya; Reza Hakim
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.882 KB)

Abstract

Pendahuluan: Kelopak bunga Rosella memiliki berbagai senyawa aktif yang berperan sebagai antibakteri. Pada penelitian terbaru ditemukan bahwa kelopak bunga Rosella memiliki potensi antiadhesi sebagai terapi suportif antibakteri. Namun secara spesifik belum diketahui senyawa aktif mana yang dapat digunakan sebagai agen antiadhesi. Oleh sebab itu, perlu penelitian in silico mengenai senyawa aktif kelopak bunga Rosella sebagai agen antiadhesi.Metode: Penambatan senyawa aktif flavonoid kelopak bunga Rosella terhadap protein target GbpA Vibrio cholerae dievaluasi dari nilai energi ikatan bebas, konstanta inhibisi, interkasi permukaan, dan residu asam amino secara in silico menggunakan docking server dengan fluoroquinolone ciprofloxacine sebagai kontrol.Hasil: Senyawa aktif Quercetin-3-rutinoside memiliki nilai afinitas yang terbaik dibanding senyawa lainnya dalam berikatan dengan protein target GbpA. Quercetin-3-rutinoside memiliki nilai energi ikatan bebas dan konstanta inhibisi yang terkecil melebihi kontrol dan senyawa lain. Nilai interaksi permukaan terbesar juga dimiliki oleh senyawa aktif Quercetin-3-rutinoside. Jumlah residu asam amino terbanyak diketahui milik senyawa 5-Caffeoylquinic acid dengan jumlah 10 residu asam amino dan 6 diantaranya merupakan residu yang sama dengan kontrol.Kesimpulan: Senyawa aktif kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) diprediksi memiliki potensi antiadhesi lebih baik dari kontrol dengan cara berikatan pada protein target GbpA Vibrio cholerae .Kata Kunci : Antiadhesi, Hibiscus sabdariffa, In silico
PENGARUH KENDALI GLUKOSA TERHADAP SIKLUS TIDUR PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI MALANG Verry Setiawan Primadhiputra; Rahma Triliana; Shinta Kusumawati
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.996 KB)

Abstract

Pendahuluan : Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif kronik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Salah satu komplikasinya adalah gangguan siklus tidur. Gangguan ini dapat dinilai dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Insomnia Severity Index (ISI). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kendali glukosa darah pada siklus tidur pasien DM tipe 2Metode : Penelitian analytic cross sectional study dengan menggunakan desain control group post test only subjek penelitian adalah laki-laki dan perempuan yang menderita DM tipe 2 tanpa komplikasi dengan usia diatas 40 tahun. Penentuan gangguan siklus tidur menggunakan metode wawancara dengan kuesioner PSQI dan ISI. Variabel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Kelompok Terkendali (KT) dan Kelompok Tidak Terkendali (KTT). Masing-masing kelompok akan ditentukan gangguan siklus tidur dengan menggunakan kuesioner PSQI untuk menilai kualitas tidur dan ISI untuk menilai tingkat insomnia. Data masing-masing kelompok dianalisa menggunakan uji Chi-square dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p<0.05.Hasil : Dari total 40 sampel, hasil dari PSQI pada KT kualitas tidur baik (12,5%), gangguan kualitas tidur ringan (5%), dan sedang (20%) sedangkan KTT baik (7,5%), ringan (20,0%), dan sedang (35%). Pada hasil ISI didapatkan KT normal (17,5%), insomnia ringan (15%), sedang (2,5%), dan berat (2,5%) sedangkan KTT normal (27,5%), insomnia ringan (25%), dan sedang (10%). Hasil uji Chi Square PSQI 0.178 (P>0,05) dan ISI 0.506 (P>0,05) yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kendali glukosa dengan siklus tidur berdasarkan pengukuran PSQI dan ISI. Hasil uji korelasi Spearman PSQI 0,502 (P>0,05) dan ISI 0,881 (P>0,05). Tidak terdapat hubungan antara kendali glukosa dengan siklus tidur berdasarkan pengukuran PSQI dan ISI pada pasien DM tipe 2 di Malang.Kesimpulan : Kualitas tidur baik dan normal lebih banyak pada KT sedangkan gangguan kualitas tidur sedang dan insomnia sedang lebih banyak pada KTT. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kendali glukosa dengan siklus tidur pada pasien DM tipe 2 di Malang.Kata Kunci : Kendali glukosa, ISI, PSQI, Diabetes Mellitus Tipe 2
EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN GEDI MERAH (ABELMOSCHUS MANIHOT (L.) MEDIK) TERHADAP KADAR SEL T CD4+ DAN TUMOR NECROSIS FACTOR ALFA TIKUS MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2 Nanda Robby Setyawan; Helmin Elyani; Yudi Purnomo
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.441 KB)

Abstract

Pendahuluan: Inflamasi berperan dalam terjadinya resistensi insulin pada diabetes melitus (DM). Abelmoschus manihot (L.) Medik diketahui memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi yang diharapkan dapat menurunkan inflamasi pada patofisiologi DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak etanol Abelmoschus manihot (L.) Medik terhadap kadar sel T CD4+ dan TNF-α tikus model DM.Metode: Tikus sprague dawley jantan usia 4-6 minggu, dikelompokkan menjadi 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan (n=25 ekor). Tikus DM dibuat dengan diet tinggi lemak-fruktosa (DTLF) dan streptozotocin (STZ) 25 mg/kgBB i.p multiple dose. Ekstrak etanol daun gedi merah (EEDGM) diberikan per oral selama 4 minggu dengan dosis 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB dan 800 mg/kgBB. Pengukuran persentase sel T CD4+ dan TNF-α menggunakan flowcytometry. Analisa data menggunakan One Way Anova dilanjutkan dengan uji LSD (p<0,05).Hasil: Induksi DTLF dan STZ pada KDM meningkatkan kadar sel T CD4+ sekitar 15% dan meningkatkan TNF-α 2 kali lipat dibandingkan KN (p<0,05). Pemberian EEDGM dosis 200, 400, 800 mg/kgBB menurunkan kadar sel T CD4+ berturut-turut sekitar 20%, 30% dan 25% dibandingkan KDM (p<0,05). Pemberian EEDGM dosis 200 mg/kgBB menurunkan kadar TNF-α sekitar 50% dibandingkan KDM (p<0,05).Kesimpulan: Pemberian EEDGM menurunkan kadar sel T CD4+ dan kadar TNF-α pada tikus model diabetes mellitus.Kata Kunci : diabetes ,inflamasi,Diet tinggi lemak, diet tinggi fruktosa, streptozotocin
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW : PENGARUH DELIMA (Punica granatum L.) TERHADAP KADAR MATRIX METALLOPROTEINASE-9 PADA KONDISI INFLAMASI Fidurroty Baidho; Yoyon Arif Martino; Doti Wahyuningsih
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.468 KB)

Abstract

Pendahuluan: Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) merupakan suatu enzim yang dilaporkan meningkat pada keadaan radang akut maupun kronis. Beberapa penelitian melaporkan, peningkatan kadar MMP-9 dalam tubuh akan menyebabkan komplikasi pada organ vital. Delima (Punica granatum L.) dilaporkan memiliki sifat anti inflamasi sehingga mampu menurunkan kadar MMP-9. Zat aktif ellagitannin, punicalagin, punicalin, ellagic acid, punicid acid dan luteolin dilaporkan mampu menurunkan kadar MMP-9 pada kondisi inflamasi. Tinjauan ini melaporkan pengaruh delima terhadap kadar MMP-9 pada kondisi inflamasi akibat infeksi dan non infeksi dalam penelitian in vivo dan in vitro.Metode: Systematic literature review mengenai pengaruh delima terhadap kadar MMP-9 pada kondisi inflamasi dilakukan dengan melakukan pencarian data pada Google Scholar, PubMed Central, dan PubMed. Kata kunci yang digunakan adalah “punica granatum AND inflammation AND MMP-9”. Dari 953 jurnal, sebanyak 931 jurnal dikecualikan dan terpilih 22 jurnal sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan antara lain tahun terbit antara 2007-2020, original article, terindeks SCOPUS dan dapat diakses secara full text.Hasil: Zat aktif delima ellagitannins, punicalagin, punicalin, ellagic acid, punicid acid, dan luteolin dilaporkan mampu menurunkan kadar MMP-9 pada kondisi inflamasi. Mekanisme hambatannya yaitu hambatan pada jalur NF-kB, jalur TIMPs, jalur MAPK dan jalur PI3K, serta mampu menurunkan sekresi mediator inflamasi TNF-α dan memicu terjadinya autofagi dan apoptosis.Kata Kunci: Punica granatum, Inflammation, MMP-9
Pengaruh Tingkat Aktifitas Fisik Dengan Prevalensi Hipertensi Pada Masyarakat di Kabupaten Malang Dian Ilmaniar Istiqamah; Fitria Nugraha Aini; Erna Sulistyowati
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.62 KB)

Abstract

Pendahuluan: Aktifitas fisik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi yang dapat dikendalikan. Kurangnya aktifitas fisik dapat meningkatkan aktivasi sistem saraf simpatis yang kemudian menyebabkan aktivasi sistem renin angiotensin aldosteron (RAA) dan meningkatkan sekresi renin yang mengakibatkan peningkatan angiotensin II dan aldosteron sehingga terjadi vasokontriksi dan peningkatan volume intravaskuler yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Kabupaten Malang menduduki peringkat kedua tertinggi dengan kejadian hipertensi dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat aktifitas fisik dengan prevalensi hipertensi pada masyarakat Kabupaten Malang serta untuk mengetahui perbedaan tingkat aktifitas fisik pada kelompok normotensi dan hipertensi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden adalah masyarakat di Kabupaten Malang. Responden dibagi menjadi dua kelompok, kelompok normotensi dan hipertensi. Pengambilan data menggunakan instrumen kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk menilai perilaku aktifitas fisik dengan hipertensi. Analisa korelasi menggunakan spearmann rho dan uji komparasi menggunakan uji mann whitney u test. Hubungan signifikan bila p<0,05 dan terdapat perbedaan bila p<0,05.Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat aktifitas fisik dengan hipertensi (p 0,000) dengan korelasi yang sangat kuat (0,764) dan terdapat perbedaan tingkat aktifitas fisik kelompok normotensi dengan kelompok hipertensi (p 0,000).Kesimpulan: Aktifitas fisik yang rendah dapat meningkatkan prevalensi hipertensi dan kelompok normotensi memiliki aktifitas fisik yang berbeda dengan kelompok hipertensi.Kata kunci: Aktifitas fisik, hipertensi, masyarakat Kabupaten Malang.
EFEK DEKOKTA DAUN PULUTAN (Urena lobata) TERHADAP KADAR Superoxide Dismutase (SOD) dan Malondialdehyde (MDA) HEPAR IKAN ZEBRA (Danio rerio) FASE JUVENILE YANG DIPAPAR MALATHION KRONIK Devi Indri Cahyani; Yoyon Arif Martino; Yudi Purnomo
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.463 KB)

Abstract

Pendahuluan: Malathion merupakan pestisida yang memiliki efek asetilkolinesterase inhibitor dan dimetabolisme menjadi malaoxon yang bersifat radikal bebas. Dekokta daun U. lobata pada beberapa studi menunjukan efek sebagai antioksidan, tetapi penghambatan terhadap efek negatif malathion belum banyak di laporkan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh dekokta daun U. lobata terhadap kadar superoxide dismutase (SOD) dan malondialdehyde (MDA) hepar Danio rerio yang dipapar malathion kronik.Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan desain control group post tes only. Ikan zebra dibagi menjadi 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan pemberian dekokta daun U. lobata dosis 125 mg/L, 250 mg/L, 500 mg/L. kadar SOD dan MDA hepar diukur menggunakan instrumen spektofotometer dengan panjang gelombang berturut turut 450 nm dan 532 nm. Analisa data menggunakan One way ANOVA dilanjutkan dengan uji LSD dengan tingkat signifikan (p<0,05).Hasil: Dekokta daun U. lobata pada dosis 125 mg/L, 250 mg/L, 500 mg/L menghambat penurunan kadar superoxide dismutasae (SOD) hepar berturut-turut 30%, 90% dan 70% dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Sedangkan kadar malondialdehyde (MDA) hepar diturunkan berturut-turut 40%, 60% dan 55% dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Pemberian malathion 2,5 mg/L akan meningkatkan kadar malondialdehyde (MDA) hepar dan menurunkan kadar superoxide dismutasae (SOD) hepar dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05).Kesimpulan: Pemberian dekokta daun Urena lobata menghambat penurunan kadar superoxide dismutasae (SOD) hepar dan menghambat peningkatan kadar malondialdehyde (MDA) hepar pada Danio rerio yang dipapar malathion kronik.Kata kunci : Malathion, Urena lobata, SOD, MDA, Danio rerio
POTENSI SARI BIJI KEDELAI (Glycine max), SARI RIMPANG JAHE (Zingiber officinale) DAN KOMBINASINYA TERHADAP KADAR MALONDIALDEHIDA (MDA) DAN DIAMETER GLOMERULUS GINJAL PADA TIKUS MODEL DIABETES TIPE II Daksa Wiladipta; Amelia Pramono; Yudi Purnomo
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.96 KB)

Abstract

Pendahuluan: Nefropati diabetik adalah bentuk komplikasi mikrovaskuler yang ditandai kerusakan fungsi ginjal secara progresif akibat Diabetes Mellitus (DM). Rimpang jahe (Zingiber officinale) dan biji kedelai (Glycine max) adalah herbal yang digunakan sebagai alternatif antidiabetes dan komplikasinya, namun penelitian tentang kombinasi keduanya masih sedikit dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek biji kedelai, rimpang jahe, dan kombinasinya terhadap diabetik nefropati dengan mengamati kadar malondialdehida ginjal dan diameter ginjal pada tikus DM.Metode: Penelitian ini menggunakan tikus sprague dawley dibagi menjadi 2 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Hewan coba diinduksi dengan diet tinggi lemak fruktosa (DTLF) dan streptozotocine 25 mg/kgBB intraperitoneal (i.p) multiple dose. Sari biji kedelai 5000 mg/kgBB, sari rimpang jahe 500 mg/kg BB, kombinasi kedelai jahe 1 (delja 1) 2500 : 250 mg/kgBB dan kombinasi delja 2 5000 : 500 mg/kgBB diberikan per oral selama 30 hari. Kadar MDA Ginjal diukur dengan MDA microplate reader dan diameter glomerulus diukur mengunakan mikroskop trinokuler dengan panjang garis tengah glomerulus. Analisis data menggunakan one way ANOVA dan uji LSD dengan nilai signifikansi p<0,05.Hasil: Pemberian sari biji kedelai, rimpang jahe, kombinasi delja 1 dan 2 menurunkan kadar malondialdehida ginjal berturut-turut sekitar 60%, 20%, 10% dan 50% dibandingkan kelompok kontrol positif (p<0,05). Diameter glomerulus diturunkan sekitar 10-20% pada kelompok kedelai, jahe, delja 1 dan delja 2 dibandingkan kelompok kontrol positif (P<0,05). Sementara induksi DM pada kelompok kontrol positif meningkatkan kadar malondialdehida ginjal dan diameter glomerulus berturut-turut sekitar empat kali lipat dan 30% dibandingkan kelompok kontrol normal (p<0,05).Kesimpulan: Pemberian sari biji kedelai, rimpang jahe dan kombinasinya menurunkan kadar malondialdehida ginjal dan diameter glomerulus tikus model DM tipe II.Kata Kunci: Kedelai, jahe, kombinasi, MDA ginjal, diameter glomerulus, diabetes.
Pengaruh Metode Ekstraksi (Dekoktasi, Infudasi, dan Microwave) Terhadap Aktivitas Antioksidan Pada Rumput Laut Gracilaria verrucosa Fandaratsani Tsaqif Ibrahim; Zainul Fadli; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.988 KB)

Abstract

Latar Belakang: Gracilaria verruccosa yang berasal dari perairan laut Ngemboh Gersik diduga memiliki aktivitas antioksidan. Namun, kadar antioksidan akan berbeda bergantung dari metode ekstraksi. Ekstraksi G. verrucosa dilakukan dengan berbagai variasi metode. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui metode yang paling efektif dalam memperoleh antioksidan dari G verruccosa.Metode: Penelitian eksperimental di laboratorium menggunakan G. verrucosa yang dilakukan secara in vitro. Ekstraksi G. verrucosa dilakukan dengan metode dekoktasi, infudasi, dan microwave. Uji senyawa aktif menggunakan metode fitokimia. Uji aktivitas antioksidan ekstrak G. verrucosa dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidradrazil (DPPH) yang diukur dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 517 nm. Uji struktur senyawa aktif dilakukan dengan menggunakan gas chomatography mass (GC-MS). Data dianalisis menggunakan one way anova dengan least signifikan difference (LSD) hasil dinyatakan bermakna bila p<0.05.Hasil: Hasil ekstraksi dekoktasi memiliki nilai rendemen tertinggi 60%. Uji fitokimia didapatkan senyawa metabolit sekunder meliputi flavonoid, alkaloid dan terpenoid. Uji one way anova didapatkan (p<0.05) terdapat perbedaan yang signifikan. Uji aktivitas antioksidan didapatkan Nilai IC50 metode dekoktasi 8,29 ppm, infudasi 21,62 ppm, microwave 10,402 ppm. Uji GC-MS ekstrak G. verrucosa dengan pelarut air terdeteksi adanya senyawa bezenedyccarboxylic acid, Octadeceonic Acid, Hexadeceonic Acid.Kesimpulan: Metode Ekstraksi dekoktasi menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi dibanding dengan metode infudasi dan microwave. Ekstrak G. verrucosa memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH dan uji GC-MS ekstrak G. verrucosa dengan metode dekoktasi menunjukkan adanya senyawa aktif berupa asam bezenedyccarboxylic.Kata kunci: Gracilaria verrucosa, Fitokimia, DPPH, Antioksidan, GC-MS.
STUDI PUSTAKA SISTEMATIS: DELIMA MEMPERBAIKI KADAR NITRIC OXIDE PADA BERBAGAI KONDISI STRES OKSIDATIF Siti Norazizah; Nugroho Wibisono; Doti Wahyuningsih
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.966 KB)

Abstract

Abstrak : Nitric Oxide (NO) merupakan suatu radikal bebas. Peningkatan kadar NO didapatkan pada berbagai kondisi stres oksidatif. Pemberian ekstrak delima dilaporkan dapat memperbaiki kadar NO dalam kondisi stres oksidatif karena adanya kandungan antioksidan pada delima terutama senyawa polifenol. Penelitian menggunakan metode studi pustaka sistematis bertujuan mengetahui pengaruh delima (Punica granatum) terhadap kadar Nitric Oxide (NO) pada serum, plasma, jaringan hepar, otak, limfe, usus, ginjal dan endotel yang diperoleh dari penyakit yang patofisiologinya melibatkan stres oksidatif (injury, toksisitas, inflamasi dan infeksi). Bagian delima yang dipelajari pada penelitian ini adalah buah, kulit, biji dan bunga. Studi pustaka sistematis. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui sumber PubMed, dan Google Scholar dengan kata kunci Punica granatum, Antioxidant, dan Nitric Oxide. Melalui proses screening didapatkan data berupa 14 artikel memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah, kulit, bunga, dan biji delima terbukti mampu memperbaiki nilai NO dengan menurunkan kadar NO pada jaringan hepar, otak, usus, limfe, ginjal dan meningkatkan NO pada jaringan endotel pada kondisi stres oksidatif. Melalui 14 jurnal yang ditelaah, mekanisme antioksidan utama ekstrak delima dalam memperbaiki nilai NO adalah melalui peningkatan antioksidan dan pembersihan radikal bebas. Pemberian ekstrak buah, biji, kulit, dan bunga delima (Punica granatum) dapat memperbaiki kadar radikal NO pada kondisi stres oksidatif.Kata Kunci : Punica granatum, Antioxidant, Nitric Oxide
Systematic Literature Review: Pengaruh Penggunaan Proton Pump Inhibitor Jangka Panjang Terhadap Kadar Vitamin B12 Dicky Firmansyah; Hardadi Airlangga; Helmin Elyani
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.339 KB)

Abstract

Pendahuluan: Proton Pump Inhibitor (PPI) merupakan obat yang secara luas digunakan untuk penyakit yang berkaitan dengan lambung. Penggunaan PPI jangka panjang biasanya dilakukan pada penyakit-penyakit kronis seperti gastritis kronis. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa penggunaan PPI jangka panjang dapat menyebabkan gastritis atrofik dengan penurunan kadar vitamin B12 serum yang signifikan. Terdapat juga data yang bertentangan dimana tidak terjadi defisiensi vitamin B12. Tujuan dari review ini adalah mengetahui efek dari penggunaan obat PPI jangka panjang terhadap kadar vitamin B12.Metode: Penelitian ini merupakan Systematic Literature Reviews (SLR). Penelitian menggunakan pencarian data menggunakan 3 database yaitu PUBMED, GOOGLE SCHOOLAR, WEB OF SCIENCE dengan memasukan keyword: PPI use, longterm, vitamin B12, cobalamin.Hasil: Dari 11 artikel, terdapat 10 jurnal yang menyebutkan PPI dapat menurunkan kadar vitamin B12 dan 1 jurnal tidak terdapat pengaruh antara PPI dengan kadar vitamin B12. Sepuluh jurnal tersebut, 5 diantaranya tidak valid.Kesimpulan: Penggunaan Proton Pump Inhibitor (PPI) jangka panjang berpengaruh dalam menurunkan kadar Vitamin B12.Kata Kunci : Proton Pump Inhibitor (PPI), vitamin B12, jangka Panjang, kobalamin

Page 3 of 4 | Total Record : 33