cover
Contact Name
I Gede Yoga Permana
Contact Email
jurnalprabavidya@gmail.com
Phone
+6287762000182
Journal Mail Official
jurnalprabavidya@gmail.com
Editorial Address
Jalan Pulau Timor Nomor 24 Banyuning, Buleleng, Bali.
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Prabha Vidya
ISSN : -     EISSN : 28291964     DOI : https://doi.org/10.36663
Fokus dan ruang lingkup Praba Vidya adalah Ilmu Komunikasi, meliputi kajian media dan jurnalistik, kajian audio broadcasting serta audiovisual, kajian kehumasan, dan kajian periklanan yang beraitan dengan Agama Hindu. Namun tidak menutup untuk kajian-kajian yang berkaitan dengan ilmu komunikasi lainnya seperti desain komunikasi visual, komunikasi pemasaran, komunikasi kesehatan, psikologi komunikasi, dan sosiologi komunikasi.
Articles 36 Documents
Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Pembakaran Jenasah Melalui Krematorium/ Petunon Pada Masyarakat Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng Made Cunsan Swandana
Prabha Vidya Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.563 KB)

Abstract

Upacara pembakaran jenasah di Bali sangat fenomenal dan sering menjadi polemik bagi masyarakat Hindu. Terutama yang memiliki kemampuan terbatas dibidang biaya, tempat, dan waktu. Ketika manusia dihadapkan dengan kematian, maka keluarganya yang hidup bertanggung jawab menyelenggarakan upacara jenasahnya. Salah satu komponen penyelenggaraan upacara jenasah adalah krematorium. Tujuan penelitian ini di antaranya adalah untuk mengetahui latar belakang didirikannya Krematorium atau Petunon di Setra Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, prosesi upacara pembakaran jenasah melalui krematorium/ petunon di Setra Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, serta mengkaji sikap masyarakat terhadap upacara pembakaran jenasah melalui Krematorium atau Petunon di Setra Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng.Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method), yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode kualitatif dalam studi tunggal. Penggunaan dua metode penelitian ini dipandang lebih dapat memberikan suatu pemahaman yang lebih lengkap mengenai isu atau masalah penelitian. Dalam penelitian ini analisis statistik (kuantitatif) digunakan untuk memetakan porsi data kuantitatif tentang sikap masyarakat Desa adat Buleleng terkait dengan upacara pembakaran jenasah melalui krematorium. Sedangkan analisis kualitatif untuk member klarifikasi dari data kuantitatif (data utama) yang diperoleh melalui kuesioner. Kombinasi analisis ini menghasilkan data bahwa ide mendirikan krematorium sebagai usaha memberikan jalan keluar yang lebih praktis, ekonomis, dan efisien dalam hal upacara pembakaran jenasah bagi mereka yang tidak memiliki cukup biaya, tempat, dan waktu. Adapun solusi yang ditawarkan dapat dilihat dari beberapa paket yang ada pada krematorium/ petunon di Setra Desa Adat Buleleng, seperti prosesi Ngaben Swasta Geni. Mengenai sikap masyarakat Desa Adat Buleleng secara klasikal didapatkan nilai skor rata-rata sebesar 76.4%. Ini berarti masyarakat Desa Adat Buleleng menyatakan setuju menerima pelaksanaan pembakaran jenasah melalui krematorium/ petunon yang ada di Setra Desa Adat Buleleng, tanpa menghilangkan ensensi nilai dan tujuan upacara. Tetap mempertahankan budaya kerja sama/ gotong royong, walau mengedepankan sifat ekonomis dan efisiensi.
Upacara Nuur Tirtha Desa Adat Dharmajati Tukadmungga, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Pada Pujawali di Pura Puseh Gede Mangku Suryawan
Prabha Vidya Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.339 KB)

Abstract

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui sarana Upacara yang digunakan dalam prosesi Upacara Nuur Tirtha Desa Adat Dharmajati Tukadmungga ke Desa Selat Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Pujawali di Pura Puseh. 2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan Upacara Nuur Tirtha Desa Adat Dharmajati Tukadmungga ke Desa Selat Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Pujawali di Pura Puseh. 3) Untuk mengetahui nilai-nilai Hindu yang terkandung dalam melaksanakan Upacara Nuur Tirtha Desa Adat Dharmajati Tukadmungga ke Desa Selat Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Pujawali di Pura Puseh. Berkenaan dengan permasalahan yang diangkat, maka alat yang digunakan untuk membedahnya menggunakan tiga teori sesuai dengan perrnasalahan yang ada. Adapun teori yang dimaksud, yaitu: 1) Teori Interaksionalisme Simbolik digunakan untuk mengkaji sarana upakara yang digunakan dalam upacara nuur tirtha 2) Teori struktural Fungsional digunakan untuk mengkaji tentang bagaimana tata cara pelaksanaan upacara nuur tirtha . 3) Teori Nilai untuk mengkaji nilai-nilai apa saja Yang terkandung dalam upacara nuur tirtha. Jenis penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan expost facto. Dalam mengumpulkan data menggunakan metode observasi. metode wawancara, dan metode pencatatan dokumen. Data yang telah terkumpul kcmudian dianalisis secara deskriftif kualitatif, dan selanjutnya dicek untuk mengctahui tingkat kesahihan data dengan teknik triangulasi data. Berdasarkan hasil analisis data, adapun temuan-temuan yang didapat yaitu: l) Dalam prosesi upacara Nuur Tirtha di Desa Dharmajati Tukadmungga menggunakan beberapa sarana upakara atau banten. yaitu: a. Banten Pejati yang merupakan simbol keseriusan dan keikhlasan dalam melaksanakan upacara yadnya. b.Banten Suci yang melambangkan keheningan dan kesucian hati. c. Banten Ajuman yang digunakan untuk mcnyampaikan rasa hormat dan syukur umat kehadapan Ida Bhatara di Pura Panegohe. d.Banten Caru yang melambangkan keinginan umat untuk peduli menjaga keharmonisan alam semesta. 2) Prosesi upacara Nuur Tirtha yang dilakukan oleh Desa Adat Dharmajati diawali dengan upacara mecaru di areal Pura Puseh, selanjutnya dilanjutkan dengan upacara maktiang caru oleh pemedek. Kernudian dilanjutkan dengan ngaturang Banten Pejati pada masing-masing palinggih di Pura Puseh dan melakukan persernbahyangan. Sehabis itu baru melakukan perjalanan Nuur Tirtha ke Desa Selat sampai di tempat suci Palinggih Panegohe dilanjutkan ngaturang Banten Suci dan melakukan persembahnyangan. Tirtha panugrahan dari hasil Nuur selanjutnya ditutun sampai ke Pura Puseh Desa Adat Dharmajati dan dilinggihkan pada meru. Tirtha ini selanjutnya dipakai selama melakukan upacara pujawali. 3) Pelaksanaan upacara Nuur Tirtha bila dipandang dari sudut ajaran Agama Hindu sesungguhnya kaya akan nilai keagamaan. Nilai tersebut terangkum dalam kerangka dasar Agama Hindu yang terdiri dari tattwa, etika dan upakara.
Tradisi Pementasan Tari Dewa Ayu Di Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Jati Artawan
Prabha Vidya Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.086 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan pementasan Tari Dewa ayu dalam upacara Dewa Yadnya dan Manusa Yadnya di Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng. Untuk menjawab berbagai metode tersebut, antara lain: dalam menentukan informasi yang digunakan metode purposive sampling dan snowball sampling, metode pengumpulan data, observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, dan metode analisis data kualitatif. Berdasarkan hal tersebut hasil yang diperoleh sebagai berikut: 1). Asal-usul tradisi tari dewa ayu adalah tradisi yang berasal dari daerah Seraya Karangasem, Diiawali dengan kedatangan masyarakat Seraya untuk membersihkan desa Sanggalangit yang nantinya akan dijadikan tempat tinggal. Sebagai penduduk pendatang, masyarakat Seraya membawakan sebuah tradisi yaitu tradisi tari Dewa Ayu. Seiring berjalannya waktu tari Dewa Ayu ini selalu dipentaskan pada saat Upacara Dewa Yadnya maupun Manusa Yadnya. 2). Pementasan tari dewa ayu dilakukan dengan berbagai prosesi. Yakni, persembahyanga bersama, nyari/makan bersama, penusdusan/pengasapan, mesapa, menari, kerauhan/ngurek, nunas tirta. 3). Bentuk tari Dewa Ayu ini ditarik oleh banyak orang, tidak ada batasan usia maupun jenis kelamin, dibangun dengan ragam gerak dan menggunakan tata rias dan kostum yang sederhana, tarian ini diiringi gending deg-deg, sesaji kusus yang digunakkan berupa banten peneman, properti yang digunakan adalah keris yang disebut kadutan, dan tempat pelaksanaan tradisi dewa ayu ini adalah di sekitaran halaman pura keluarga. 4). Fungsi Tari Dewa Ayu ini memiliki dua fungsi, dalam upacara Dewa Yadnya sebagai ucapan puji syukur, sedangkan Manusa Yadnya biasanya tari dipentaskan atas permintaan sang numadi pada upacara 3 bulanan.
Keberadaan Pura Air Tabar Di Desa Adat Tunjung Kubutambahan Buleleng I Made Sadia
Prabha Vidya Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.459 KB)

Abstract

Berdirinya Pura Air Tabar dilatarbelakangi oleh adanya kejadian-kejadian gaib serta adanya tirtha yang telah banyak memberikan manfaat bagi umat yang datang. Pura Air Tabar terdiri dari dua halaman yaitu Jaba Mandala dan Utama Mandala. Adapun struktur bagunan pelinggih yang ada di pura tersebut adalah Padmasana, Gedong Sari Linggih Ratu Ayu Mas Manik Kencana, Gedong Pasimpangan Ida Bhatara Ring Pucak Sinunggal, Pelinggih Taksu, Bale Piasan, Bale Pesandekan, Bale Kulkul, Bale Penyimpenan, Dan Apit Lawan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan pencatatan dokumen. Observasi dilaksanakan dengan terlibat langsung didalam Upacara Melasti tersebut. Wawancara dilakukan secara mendalam terhadap informan yang paling mengetahui data yang dibutuhkan dalam hal ini PHDI, Pemangku, serta tokoh masyarakat yang dianggap mengetahui tentang masalah yang dikaji. Hasil penelitian ini adalah: Fungsi Pura Air Tabar adalah: (1) Sebagai tempat untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya untuk mendapatkan warunugraha-Nya, (2) Sebagai tempat untuk memohon kesembuhan, (3) Sebagai tempat untuk memohon kesuksesan dan kesejahtraan, baik itu di bidang pendidikan, karir, usaha dagang, dan sebagainya, (4) Sebagai tempat panglukatan (pembersiha diri) bagi umat yang mengalami gangguan yang bersifat niskala, (5) Yang paling penting bagi krama penyungsung-Nya adalah bahwa di Pura Air Tabar secara turun temurun merupakan tempat memohon tirtha pembersihan mala setelah melayat orang meninggal. Makna yang terdapat dalam Pura Air Tabar sebagai pura Kahyangan Jagat yaitu (1) Makna Religius, yaitu yang diwujudkan dari keberadaan Pura Air Tabar mengaci pada konsep keberagaman dari Stark dan Glock yang menyatakan bahw ada lima (5) aspek keberagaman. (2) Makna Sosial, yaitu makna kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan keberagaman di Pura Air Tabar. Sebagai lembaga social yang dapat mengembangkan dan membina makna-makna solidaritas dan makna kebersamaan,(3) Makna Budaya, yaitu menyangkut bentuk dan arsitektur pura sebagai wujud bhakti umat menggambarkan Tuhan, dan (4) Makna Pembersihan, yaitu adanya tirtha Air Tabar yang dapat dipergunakan sebagai sarana melukat atau pembersihan diri dari kekotoran (mala).
Upacara Nyumun Sari Dalam Piodalan Di Pura Puseh Desa Adat Depeha Kubutambahan Buleleng I Made Budi Yuda Peranata
Prabha Vidya Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.068 KB)

Abstract

Upacara Nyumun Sari dalam Piodalan di Pura Puseh, Desa Adat Depeha dapat kita lihat pada saat prosesi nedunang pralingga/pretima Ida Bhatara Ratu Ayu Manik Galih yaitu sebuah patung perwujudan wanita cantik untuk dilakukan prosesi penyucian dan memohon anugrah, diyakini oleh masyarakat Desa Adat Depeha wujud tersebut memiliki kekuatan untuk memberikan kesejahteraan, keselamatan, dan keharmonisan secara lahir bhatin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan Upacara Nyumun Sari di Desa Depeha tentang langkah – langkah, fungsi, dan makna yang terkandung didalamnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pencatatan dokumen. Wawancara dilakukan secara mendalam terhadap informan yang paling mengetahui data yang dibutuhkan dalam hal ini Pemangku, serta tokoh masyarakat di Desa Depeha yang dianggap mengetahui tentang masalah yang dikaji. Hasil penelitian ini adalah: Langkah – langkah pelaksanaan Upacara Nyumun Sari dalam piodalan di Pura Puseh, Desa Adat Depeha adalah berupa banten- banten sesuai dengang peruntukannya yang porosesinya dimulai dari tahap perencanaan, tahap persiapan, serta tahap pelaksanaan dimana pada tahap perencanaan diawali dengan melaksanakan rapat atau rembung (sangkep ) intern prajuru, Desa Adat Depeha bersama para tempekan. Fungsi Upacara Nyumun Sari dalam piodalan di Pura Puseh, Desa Adat Depeha yaitu : (Fungsi religius yaitu pelaksanaan suatu Upacara merupakan kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai umat Hindu dan merupakan salah satu bentuk pelayanan terhadap Tuhan sebagai wujud bhakti atau sevanam. Fungsi penyucian yaitu penyucian alam berserta isinya yang merupakan ciptaan Tuhan dalam upaya mewujudkan keseimbangan. Fungsi Sosial yaitu interaksi antara seluruh masyarakat yang melibatakan diri dalam upacara dimaksud. Makna Upacara Nyumun Sari dalam piodalan di Pura Puseh, Desa Adat Depeha adalah: Makna Simbolik, Makna Solidaritas, Makna Pendidikan, dan Makna Etika.
Eksistensi Pura Taman Sari di Tengah Perkembangan Lingkungan Sosial Masyarakat di Kelurahan Kampung Baru Singaraja I Gede Harja Subrata
Prabha Vidya Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura merupakan tempat suci agama Hindu yang berfungsi untuk memuja Ida Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai aspeknya. Masyarakat di Bali dalam menata lingkunggannya menerapkan ideologi Tri Hita Karana, yang terdiri dari Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejarah Pura Taman Sari, mengkaji pengaruh Sosial lingkungan masyarakat; dan mengkaji fungsi makna yang terkandung dalam Pura Taman Sari terhadap perkembangan lingkungan Sosial Masyarakat di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Metode dalam penelitian ini dengan metode kualitatif dan penentuan informan melalaui snowball serta pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan pengamatan atau observasi. Hasil penelitian menunjukkan pura Taman Sari sebelumnya bernama Pura Gerojogan dengan bangunan gedong yang berbentuk Stufa diyakini dibangun oleh para pedagang Tiongkok yang beragama Budha selanjutnya menjadi cikal bakal stana Ratu Dewa Ayu Sarining Amerta. Tahun 1960 pura ini mengalami perombakan dan setelah dipugar itulah, nama Pura Gerojogan berganti nama menjadi Pura Taman Sari, dan terus mengalami perubahan seperti sekarang, dengan total palinggih ada 33 buah. Pengaruh sosial terhadap lingkungan masyarakat di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, dilihat dari, struktur palemahan dimana Pura Taman Sari kewenangannya berada dalam pengelolaan pura berada di aspek adat yang dipimpin secara langsung oleh Prajuru atau klian Pura yang diempon atau bertanggungjawab oleh enam masyarakat desa adat, diantaranya: Kaliuntu, Kayubuntil, Kampung Anyar, Kebon, Widia Sari dan Tambak Sari. Di lihat dari struktur pelingih terkait penataan layout Pura Taman Sari dengan struktur denah bahwa secara khusus Pura Taman Sari terbagi menjadi ri atau tiga (3) mandala yaitu Nista mandala pura Taman Sari yang langsung sebagai tempat parkir; Madia mandala dan Utama mandala. Fungsi Pura Taman Sri terhadap lingkungan Sosial Masyarakat di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, dimana fungsi Pura Taman Sari terhadap lingkungan sosial masyarakat Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, diantaranya: fungsi religi dan fungsi ekonomi dan sosial Lingkungan Masyarakat Pura Taman Sari. Sedangkan makna Pura Taman Sari, adalah: makna teologis, makna estetika, dan makna kesejahteraan.
Tradisi Upacara Magebyog di Desa Adat Ularan Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng Ni Nyoman Mastiningsih
Prabha Vidya Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi 1). Apa yang dimaksud dengan Tradisi Upacara Magebyok?, 2). Apa Fungsi Magebyok?, dan 3). Bagaimana Pelaksanaan Tradisi Upacara Megebyog di Desa Adat Ularan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng? Penulisan skripsi ini digunakan metode observasi partisipan, metode kepustakaan, metode wawancara, dan medode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Dalam hal ini wawancara dilakukan dengan informan serta penulis meneliti secara langsung pelaksanaan Tradisi Upacara Megebyog ini, selain itu penggunaan buku-buku serta literature lainnya juga dipakai dalam penulisan skripsi ini. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriftif kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Teori Religi, Teori Fungsional Struktural, Teori Nilai. Adapun fungsi secara umum dari pelaksanaan Tradisi Upacara Megebyog pada Tilem Sasih Keenem di Desa Adat Ularan, adalah sebagai berikut :1)Fungsi Keharmonisan, 2) Fungsi Kesucian, 3) Fungsi Sosial, 4) Fungsi Religius, 5) Fungsi Budaya. Tradisi Upacara Megebyog di Desa Adat Ularan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng terdapat beberapa nilai-nilai pendidikan, seperti : 1) Nilai Sradha, 2) Nilai Tattwa, 3) Nilai Etika, 4) Nilai Estetika, 5) Nilai kedamaian (shanti), 6) Nilai Sosial Masyarakat.
Kepemimpinan Tradisional Desa Adat Tigawasa Dewa Nyoman Sucita
Prabha Vidya Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui sistem kepemimpinan tradisional/kepemimpinan adat desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng, yang masih dipertahankan sampai saat ini. Dalam merampungkan penelitian ini digunakan beberapa metode. Dalam menentukan informan digunakan teknik snowball sampling; untuk mendapatkan data digunakan metode wawancara dan pencatatan dokumen.dan untuk mengnalisis data digunakan metode deskritif kualitatif. Berdasarkan analisis data, maka hasil penelitian yang didapat sebagai berikut: 1). Tatacara pemilihan prajuru adat desa Tigawasa menggunakan sistem Maulu Apad atau sistem ririgan; 2). Struktur pengurus Prajuru adat Tigawasa, terdiri dari 5 jenjang, yaitu Kebahan (Kebahan Duuran dan Kebahan Tebenan), Pasek (Pasekan Duuran dan Pasek Tebenan), Takin (Takin Duuran dan Takin Tebenan), Pemurakan (Pemurakan Duuran dan Pemurakan Tebenan dan yang terakhir Kelihan Adat; 3), Hak dan kewajiban prajuru adat antara lain: menjalankan hasil keputusan rapat desa, mengatur warga desa agar berperilaku sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, mengkoordinir setiap pelaksanaan upacara di tingkat desa, menjadi saksi dalam upacara perkawinan, menjadi juru bicara bagi warga yang memerlukan informasi tentang desa Tigawasa, mengambil keputusan dalam setiap paruman desa, mengelola hak milik desa Adat Tigawasa dan membersihkan sekaligus menghias bangunan-bangunan Kahyangan desa dalam setiap diadakan upacara/pujawali.
Pura Yeh Lesung di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng I Wayan Gara
Prabha Vidya Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal usul Pura Yeh Lesung, bentuk Pura Yeh Lesung, fungsi Pura Yeh Lesung, dan nilai Pura Yeh Lesung. Untuk mencapai tujuan itu digunakan beberapa metode kualitatif dan beberapa teori yang terdiri dari: 1) Metode wawancara (interview), 2) Metode Observasi dan metode pelengkapnya menggunakan 3) metode pencatatan dokumen. Teori yang digunakan diantaranya: 1) Teori Religi, 2) Teori Fungsional Sruktural, 3) Teori Interaksi Simbolik, 4) Teori Komunikasi Kontekstual, dan 5) Teori Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Keberadaan Pura Yeh Lesung sangat erat kaitannya dengan sejarah Desa Bulian. Berawal dari seorang putri, cucu Ugrasena yang kemudian diangkat menjadi ratu bernama Sri Subhadrika Darmadewi. Beliau menikah dengan seorang panglima perang, putra dari Sri Kesari bernama Tabanendra Warmadewa. Pangkal asal-usul dibangunnya PuraYeh Lesung untuk menghormati para raja yang pernah tinggal di Banyubuah. Pura Yeh Lesung yang pernah dijadikan tempat kerajaan sebagai perbentengan dan pertahanan. Pura Yeh Lesung terdiri atas dua halaman (Dwi Mandala) yang terdiri atas: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) yang melambangkan alam atas (urdhah) dan alam bawah (adhah) yaitu akasa dan pertiwi. Pura Yeh Lesung berfungsi sebagai tempat melukat. Tirta yang ada pada Bulakan/lesung tersebut diyakini oleh masyarakat setempat mampu memberikan pengobatan. Pura Yeh Lesung mengandung nilai religiis, nilai sosial budaya, nilai pendidikan karakter, dan nilai kesenian.
Kombinasi Metode Diskusi Kelompok Dengan Cara Belajar Efektif Dan Efisien Pada Siswa SMK TI Global Singaraja Ni Wayan Seriasih
Prabha Vidya Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Prabha Vidya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar pendidikan agama Hindu bagi siswa kelas X Multimedia SMK TI Bali Global Singaraja melalui penerapan metode diskusi kelompok yang dikombinasikan dengan bimbingan belajar yang efektif dan efesien. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi, analisis dan refleksi yang dilakukan di setiap siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X multimedia SMK TI Bali Global Singaraja pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 14 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan aktifitas belajar siswa dalam dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu pada siklus I sebesar 57% dan siklus II sebesar 83%, ini sudah melebihi target yang ditentukan yaitu sebesar 80%. Meningkatnya aktifitas belajar siswa tersebut berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari perbandingan hasil evaluasi pada siklus I dan II. Pada siklus I rata-rata kelas (Mean) sebesar 73,92,daya serap (DS) sebesar 73,92 dan ketuntasan belajar (KB) sebesar 50% peningkatan pada siklus II menjadi rata-rata kelas (Mean) 83,92, daya serap (DS) 83,92% dan ketuntasan belajarnya (KB) 100% dari target 80%. Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian berhasil dan dapat dihentikan pada siklus II. Dengan demikian penerapan metode diskusi kelompok yang dikombinasikan dengan bimbingan cara belajar yang efektif dan efesien untuk meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar pendidikan agama Hindu terhadap prestasi belajar pendidikan agama Hindu ternyata dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar pada siswa kelas X Multimedia SMK TI Bali Global Singaraja tahun pelajaran 2020/2021.

Page 2 of 4 | Total Record : 36