cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
DISKURSUS TENTANG HAK ASASI MINORITAS DZIMMI DI TENGAH MAYORITAS MUSLIM Tohir, Umar Faruq
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era perkembangan Islam di masa lalu, negara persemakmuran Islam dipandang layak untuk dipertahankan. Keadaan tersebut menyebabkan terbaginya Negara persemakmuran Islam ke dalam dua kategori yaitu dar al-Islan dan dar a;-Harb.Pembagian ini telah melahirkan sebuah konsep sekolah Islam yang eksklusif yang mengangap orang kafir yang hidup di wilayah non-Islam dapat diperangi. Mereka mengira bahwa setiap orang kafir berniat untuk merendahkan dan memerangi mereka, meskipun anggapan tersebut tidak selalu benar. Sekolah Islam yang eksklusif ini juga menganggap bahwa tampuk pemerintahan harus dipegang oleh Muslim dan tidak ada kesempatan bagi orang kafir untuk menjadi pemimpin di segala aspek pemerintahan Islam.Para orang kafir masih dan akan selalu menjadi masyarakat kelas dua.Bagaimanapun, pemikiran tradisional semacam ini masih hidup dan menjadi paradigma berpikir para sarjana fiqih dewasa ini.Jika kita menilik pada Piagam Madinah, kita dapat mengetahui bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merendahkan orang kafir.Beliau membuat unadang- undang yang harus dipatuhi setiap masyarakat Madinah, Muslim ataupun orang kafir.Di era kontemporer ini, dimana sebuah Negara bersifat teritorial, subordinasi golongan kafir harus dihapuskan.Negara teritorial pada masa ini dibagi tanpa membedakan antara Muslim dan golongan kafir karena mereka memiliki posisi dan hak yang sama untuk mengembangkan daerahnya dan hidup berdampingan satu sama lain.Kata Kunci: Dar al-Islam dan dar al-Harb, Negara berbangsa tunggal, pemikiran kontemporer, sama. The territorial of Islamic dominion was become worth to be struggled in the past era of Islamic development. This circumstance divided the territorial of Islamic dominion in to dâr al-Islâm and dâr al- Harb. This divide has conceptualized a new Islamic exclusive school who has assumed that the infidels who have been in the non Islamic territorial could be battled. They think that every infidels look Moslems away and wish to battle them, even contrary, in the actually. This Islamic exclusive school also think that the governance must be lead by Moslem and there is no chance for infidel to be a leader in all aspects of Islamic territorial government. The infidels always and still in the second class. Whatever, this classical thinking still alive in the mind (paradigm) of the present fiqh's scholars. If we remind to the Charter of Madinah, we can find that our prophet Muhammad never sub-ordinated the infidel. He made a charter where every Madinah's society had to obey the rules, there is no different between Moslem or infidel. In this contemporary time, where the system of territorial become a state, the sub-ordination to the infidel should be pushed away. The territorial today is stated by escaping the difference status between Moslem and infidel, because they have the same position and right to develop the state and live besides each other.
KONSTRUKSI PEMIKIRAN FEMINISME DALAM ISLAM: Menggali Makna Kesetaraan Gender dan Gerakan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Abidin, Zainal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergerakan gender menjadi isu global di era modern.Pergerakan gender banyak mempengaruhi para pemikir Muslim yang aktif di dunia.Faktanya konstruk philosophy yang dikembangkan dari wacana barat, menjadi salah satu pembebasan untuk akhir hidup mereka. Tidak ada batasan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.Dalam pandangan ini banyak pergerakan emansipasi wanita dimasukan dalam kebebasan yang kuat pada kekuasaan wanita dan mereka menjadi anti-kekerasan dalam status kedudukan dan keluarga, akan tetapi sekarang ini konstruk dari program emansipasi barat menjadi suatu pembebasan dan anti-dogma agama.Maka hal tersebut harus dipikirkan kembali mengenai semangat feminisme yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam, terutama untuk aktivis gender Muslim.Hal ini sangatlah penting untuk membangun kembali dan memikirkan kembali mengenai dasar pandangan Islam, karena Islam adalah pandangan yang bersifat universal dan merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim, dan gender pastinya dipengaruhi oleh spiritual Islam. The gender movement is a global isues in the modern era, its influenced for many thinker of Muslim activies on the world. In the fact the construct of the philosophy was developed from West discourse, that everyone have the liberation to derminate them for live , No bondaires of rule between man and women. For this perspectives many women emancipation movement was introduced the liberation all out of woman rules and they were become the anti violence of the marital or family, but in now days the construct of that program of emancipation in the West is becaming the liberation and anti dogma of religion. So that it must be rethingking about the spirit of feminism was be influenced by Islamic values, especially for the moslem activities of genders. It is very important to reconstruction and rethinking about the fundamental of Islamic perspectives, because Islam is the universal view and the way of life for every Muslim, and the gender must be influenced by Islamic spiritual.
DERADIKALISASI AJARAN AGAMA: URGENSI, PROBLEM DAN SOLUSINYA Mustofa, Imam
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya aksi teror yang mengatasnamakan Islam membawa dampak yang buruk terhadap umat Islam. Islam dituduh sebagai agama yang haus darah, agama anti HAM, anti toleransi dan agama yang mengajarkan dan menganjurkan kekerasan terhadap umatnya. Pada dasarnya kekerasan atau teror yang mengatasnamakan agama tersebut muncul bukan karena kesalahan ajaran agama Islam, akan tetapi lebih pada kesalahan memahami dan menafsirkan teks- teks agama. Kesalahan tersebut berimpilkasi pada kesalahan mengkonteks-kan dan mengamalkan ajaran tersebut, sehingga yang terjadi adalah melegitimasi aksi teror dengan legitimasi teks agama. Berdasarkan hal ini maka perlu dilakukan deradikalisasi ajaran agama. Deradikalisasi sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi dan tujuan teks agama secara proporsional dan kontekstual untuk membumikan visi misi agama untuk menciptakan tatanan kehidupan manusia dalam bingkai kasih sayang. Tulisan ini memaparkan urgensi deradikalisasi ajaran agama Islam serta problem-problem yang akan muncul dalam deradikalisasi tersebut. Tulisan ini bersifat deskruptif. Analisis yang dugunakan adalah konten analisis dari sumber data tertulis. Dari penelusuran dan analisis data disimpulkan bahwa deradikalisasi sangat mendesak untuk dilakukan demi untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan mengedepankan aspek kemanusiaan dalam beragama. Adapun permasalahan yang muncum dalam deradikalisasi tidak begitu berarti yang dapat diselesaikan dengan memberdayakan lembaga pendidikan dan Ormas. A lot of terrorism in the name of Islam bring the bad impact to Muslim. Islam is thought as the blood thirsty religion, anti-human right religion, anti-tolerance, and religion which teaches and recommends the violence to Muslim. Basically, the violence or terrorism in the name of Islam, it is not because of the wrongness of Islam rather than misunderstanding and misinterpreted Islamic texts. The defect implicates in contextualizing and practicing the precept that legitimates terrorism by legitimation of religion text. In line with this, it needs to conduct de-radicalization of Islam teaching. De-radicalization is an effort to carry back the function and purpose of religion text proportionally and contextually for earthen religion mission vision creating order of human life in affection context. This paper describes the urgency of e-radicalization ofreligion teaching and problems that will emerge in the de-radicalization. This paper is destructive. The analysis used is the content analysis of written data. From data investigation and data analysis assumed that de-radicalization very insists to be carry out for showing Islam face that is polite and setting out of the human aspects in religion. Concerning with the problems that merge in de-radicalization is such useless which could be finished by conducting institute and society organization.
PENDEKATAN HUMANISTIK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN FIQIH Afifah, Nurul
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan pembelajaran fiqih MTs., yang dalam implementasinya lebih menekankan aspek kemampuan kognitif, kurang mengakomodasikan aspek psikomotorik dan afektif. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan yang lebih humanistik menurut penulis kiranya dapat menjadi tawaran solusi terhadap permasalahan tersebut di atas. Obyek penelitian ini, lebih difokuskan kepada materi kurikulum fiqih berupa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berdasarkan Permenag RI Nomor 2 Tahun 2008. Sehingga rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah pendekatan humanistik dalam kurikulum (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) mata pelajaran fiqih MTs. Dan menawarkan bagaimanakah impelementasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah. Penelitian ini adalah studi pustaka, karena sumber data yang digunakan seutuhnya berasal dari perpustakaan atau dokumentatif. Sementara pendekatan penelitian yang penulis pakai adalah dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Proses analisis data dalam penelitian ini dengan hermeneutika. Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa materi kurikulum fiqih MTs. yang ada agar lebih mencerminkan kebutuhan siswa, perlu dimasukkan keseimbangan materi yang mencerminkan prinsip-prinsip pendidikan yang humanistik. Dalam penelitian ini juga penulis menawarkan konsep pembelajaran fiqih dengan menggunakan pendekatan humanistik. This study discusses the issue of learning fiqh MTs which it is implementation emphasizes the aspects of cognitive abilities, less accommodating the psychomotor and affective aspects. This indicates that a more humanistic approach according to the author would be able to offer a solution to the problems mentioned above. The object of this study, more focused more on fiqh curriculum in the form of Competence Standard and Basic Competence based Permenag No. 2 of 2008. So the formulation of the problem of this research is how humanistic approach in the curriculum (Standards of Competence and Basic Competence) of fiqh subjects MTs. And offer how the impelementation of humanistic approach in learning fiqh at MTs. This study is library research, because the data sources are used entirely derived from the library or dokumentatif. While the research approach uses analytical descriptive approach. The process of analysis data with hermeneutics. whatever available the needs of students requirement, need to be incorporated material balance that reflects the principles of humanistic education. In this study the authors also offer the concept of learning fiqh using humanistic approach.
KESETARAAN GENDER DALAM MASYARAKAT MADANI: STUDI ATAS TAFSIR AL-KASSYÂF KARYA SYAIKH ZAMAKHSYARI Widayat, Prabowo Adi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SKesetaraan gender dalam masyarakat madani merupakan isu krusial untuk dikembangkan melalui mekanisme bermasyarakat yang didasarkan pada pelaksanaan hak asasi manusia, mewujudkan nilai-nilai sosial, budaya, dan agama yang terbentuk melalui masyarakat tersebut. Gender dalam status sosial seringkali dipahami secara diskriminatif dengan mengacu pada jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) sehingga konsep keberadaanya seringkali menjadi hal yang kontradiktif terlebih bagi mereka yang tidak berpendidikan, hal ini diindikasikan bahwa pemahaman terhadap gender terjadi pada level karakter jenis kelamin, dan perbedaan fisik. Dalam al-Quran konsep gender dimaknai secara beragam menurut orientasi ayat dan pemaknaan sesudahnya oleh para mufassir sehingga terjadi variasi pemaknaan dan kekhasan tersendiri dari ayat-ayat al-Quran yang berafiliasi dengan konsep gender, khusus dalam tafsir al-Kassyâf konsep gender dijelaskan sesuai dengan konteks makna realita sekarang sehingga makna yang terjadi lebih mengedepankan aspek objektifitas, keseimbangan, dan keterpaduan intra teks. Gender equality in the civil society is a crucial issue for developed through social mechanisms that are based on the implementation of human rights, embodies the social values, culture, and religion formed through the community. Gender in social status is often understood to be discriminatory by reference to gender (men and women) so that, the concept of his presence often becomes "contradictory things, especially for those who are uneducated, it is indicated that an understanding of gender occurs at the level of the character's gender, and physical differences. In the Quran the concept of gender is meant for orientation varies by verse and purport afterward by the exegetes such variations and thus distinct from the verses of the Koran which is affiliated with the concept of gender, especially in tafseer al-Kassyâf interpretation of the concept of gender is described according to the context the meaning of reality right now so that, the meaning is going to put forward more aspects of objectiveness, balance, alignment and intra-text
SKETSA PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA Mustofa, Imam
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran Islam di Indonesia selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan sosial masyarakat. Indonesia sebagai negara plural, baik dari sisi suku, ras, budaya, agama dan keyakinan ternyata memunculkan berbagai produk pemikiran yang plural pula. Bahkan pemikian keislaman di kalangan intelektual dan ulama pun cukup beragam. Salah satu corak pemikiran yang ikut mewarnai pemikiran Islam di Indonesia adalah Pemikiran Islam Liberal. Artikel ini bermaksud mengeksplorasi seketsa perkembangan pemikiran Islam Liberal di Indonesia. Tulisan ini berasal dari penelitian yang berasal dari data kepustakaan (library research) yang dianalisa dan dipaparkan secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan sejarah. Dari hasil analisa data disimpulkan bahwa munculnya Islam liberal di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemikiran liberal intelektua-intelektual Barat. Intelektual indonesia yang sempat belajar ke universitas-universitas ternyata membawa pengaruh pemikiran liberal Barat ke kancah pemikiran Islam di Indonesia. Pemikiran Islam Liberal di Indonesia sampai saat ini masih hidup, terutama setelah munculnya Jaringan Islam Liberal. In line with period and social society development are Islam thought in Indonesia.Indonesia as a plural nation, tribal, race, culture, religion, and believe a matter of fact emergence thought products which plural too. Moreover, Islamic thought is variety in intelectual circle and Muslim Scholar.The liberal of Islamic thought is one of the thought pattern which follow apply a color to Islam in Indonesia. This article aims to explore the liberal Islamic thought in developing vignette in Indonesia.This paper comes from research which comes from library research analized and explained as descriptive by using historical approach.From the result of data analysis concluded that emerging Liberal Islamic in Indonesia is very influence by Liberal intelectuals Western.Indonesia Intelectual have sufficient time to study in the universities be in fact brought the influence Western Liberal thought to hung by a thread Islamic thought in Indonesia.Liberal Islamic thought in Indonesia until this now still live, especially after coming Islamic Liberal network.
REAKTUALISASI HUKUM ISLAM: PEMIKIRAN MUNAWIR SJADZALI Fitria, Vita
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangan pemikiran Islam kontemporer saat ini, mulai berkembang suatu pemikiran sumber hukum yang dianggap mandiri yakni maslahah atau maqashid asy-syariyyah. Belakangan konsep tersebut makin berkembang bahkan menjadi disiplin ilmu yang seolah terlepas dari ilmu ushul fikh. Konsep pemikiran tersebut meski mulai berkembang belakangan, namun secara implisit sudah dijadikan sebagai landasan berpikir oleh para intelektual Muslim tak terkecuali di Indonesia. Munawir Sjadzali, seorang intelektual Muslim Indonesia, memunculkan ide tentang “Reaktualisasi Ajaran Islam“ dengan mengedepankan aspek maslahah. Dalam hal ini Munawir lebih mengkonkritkan lagi pada tiga kerangka metodologi yakni adat, nasakh dan maslahah. Lebih lanjut tulisan ini akan mengupas tentang garis besar pemikiran Munawir terutama pada masalah waris dan bunga bank, beserta argumen-argumen yang melatari konsep pemikirannya. Melalui pendekatan fikh dan ushul fikh, penulis akan menggali aspek pembaruan serta sedikit mengurai tentang pemikiran tokoh Indonesia yang lain sebagai pembanding, juga mengulas tentang beberapa polemik seputar konsep ijtihad yang ditawarkan oleh Munawir tersebut. In the development of contemporary study of Islam, there grows an autunomous idea of source of law, that is maslahah or maqashid asy-syariyyah. Lately, this concept has been growing to be a discipline that autonomously apart from ushul fiqh. Relatively new, this discipline has implisitely become a basic of thought for many Moslem intellectualists, including in Indonesia. Munawir Sadjali, one of those, proposed an idea of “Reactualize of Islam” by advancing aspect of maslahah. In this standpoint, Munawir concretize on three methodological frames, namely adat (tradition), nasakh, and maslahah. Further, this writing will analyse the outline of Munawair‟s reasoning, particullary on issues of inheritance and bank interest, along with arguments of his background concept. Through fiqh and ushul fiqh approachment , the writer will dig up some aspects of renewal and a little of some other thoughts of Indonesian figures as comparators; and will also provide a review around polemic of Munawir‟s idea on concept of ijtihad.
DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM INDONESIA: SEBUAH DESKRIPSI WACANA INTELEKTUALISME ISLAM DI INDONESIA Abidin, Zainal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia mengindikasikan beberapa ide-ide rekonstruksi pemikiran Islam yang memiliki beberapa implikasi. Pembentukan kesadaran Islam yang luar biasa pada diri para cendekiawan muslim, mereka membuat kategorisasi ide untuk membangun perspektif Islam dan untuk mendapatkan beberapa alternatif pemecahan masalah berdasarkan pengalaman. Untuk waktu yang lama beberapa intelektual Islam lebih independen untuk mengekspresikan pikiran mereka seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dll. Mereka memperkenalkan filsafat pada paradigma dan membuat grand metodologi studi Islam di Indonesia. Tulisan ini menunjukkan bahwa perspektif yang digunakan sangat berbeda antara para cendekiawan muslim. Jenis pemikiran dapat dibagi dalam ke empat jenis yaitu ideologi Islam sebagai paradigma fundemental, neo-modernisme yang memiliki konsep terbuka terhadap studi Islam, rasionalism dalam Islam dan percabangannya, dan Islam Liberal yang disutradarai oleh para pemikir muslim muda, lahir setelah reformasi dalam transformasi politik Indonesia. Era ini disebut sebagai era reformasi dimana beberapa aktivis muslim muda pada kesempatan ini dapat mengekspresikan pemikiran dengan semangat pembebasan, dan dalam waktu yang sama konstruksi mereka dalam berpikir harus siap mendapat tanggapan dari kctivis fundamentalisme Islam radikal atau Islam di Indonesia. The development of Islamic thought in Indonesia indicated that some ideas as the reconstruction of Islamic thinking its have several implications. The establishment of Islamic consciousness remarkable in the muslim scholars, they make categories of their ideas to build in the Islamic perspectives its available to get some alternatives of the people problems like their experiences. For a long time some intelectual moslem have been more independent to expression their thinking like Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid etc. They introduced the philosophy on the paradigm and make the grand metodology of Islamic study in Indonesia. The kind of character in several times, indicated that perspective used is very different between muslim scholars. The type of thinking may be divided in to four kinds, there Islamic Ideologi as the fundemental paradigm in their concept, neo-modernism to have the opened concept of Islamic study, rationalism in Islam and its ramification, and the last time the Islamic liberlism directed by the young muslim thinkers, was born after reformation in Indonesian politic transformation. This era called by reformation era, some young muslim activists on this occasion can be experession with liberation spirit of opened era, and in the same time their construction in thinking must be respons by the Islamic radical or Islamic fundamentalism activis in Indonesia.
KEPATUHAN SYARIAH (SHARIAH COMPLIANCE) DAN INOVASI PRODUK BANK SYARIAH DI INDONESIA Sukardi, Budi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak globalisasi keuangan (financial global) dan pasar bebas (laissez-faire) berdampak pada kehati-hatian pelaku industri dan bisnis keuangan Islam untuk menjaga aspek kepatuhan syariah (shariah compliance) sebagai alat pencegahan kemungkinan resiko dan fraud di sektor riil. Begitu juga tantangan terhadap inovasi produk keuangan harus dilakukan dengan melakukan penyesuaian antara manfaat, dinamika masyarakat serta kondisi perekonomian global. Ini diterapkan untuk membuktikan bahwa nilai-nilai Islam mampu dan eksis dalam persaingan bisnis, perdagangan di era globalisasi modern serta menjaga keberlangsungan usaha (sustainability) perbankan Islam di Indonesia. Fungsi kepatuhan sebagai tindakan dan langkah yang bersifat ex-ante (preventif), untuk memastikan kebijakan, ketentuan, sistem dan prosedur, serta kegiatan usaha yang dilakukan oleh Bank Islam. Untuk itu, Bank Islam wajib memahami seluruh ketentuan perundangan yang berlaku, sehingga menjadi tanggung jawab setiap individu dari jajaran tertinggi yaitu Direksi sampai pegawai terendah jajaran Bank. Begitu juga inovasi produk perbankan Islam mengacu pada standar syariah (shariah standards) dan shariah governance, berpedoman pada standar internasional, pemenuhan integritas dan kualitas sumber daya manusia perbankan Islam, kesesuaian akad, dan tidak mendzalimi masyarakat sebagai konsumen. Hal ini menjadi penting, bahwasannya jika bank Islam tidak bisa menjaga nilai-nilai Islam dalam bisnis dan persaingan keuangan global, maka berarti nilai-nilai Islam tidak sesuai dan tidak relevan dengan zaman. The impact of financial globalization and the laissez-faire impact on prudential industry and Islamic finance businesses to maintain shariah compliance aspects as a means of fraud prevention and possible risks in the real sector. The challenge innovation of financial products has to do with adjusting the benefits, as well as the dynamics of the global economy. It’s applied to prove that Islamic values can exist in the business competition, trade in the modern era of globalization and to maintain sustainability business of Islamic banking in Indonesia. Compliance functions as actions and measures, both are preventive to ensure the policies, rules, systems and procedures, the business activities carried out by the Islamic Bank. That end, the Islamic Bank shall understand all the provisions of laws and regulations, so the responsibility of each individual from the board of directors to the lowest employee ranks of bank. Likewise, the Islamic banking product innovation refers to the sharia standards and sharia governance, based on the international standards, compliance the integrity and quality of human resources Islamic banking, contract compliance and not hurt people as consumers. This is important, if Islamic banks can not maintain Islamic values in the global business and financial competition, it means that Islamic values are not appropriate and irrelevant the times.
URGENSI BERFIKIR STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Rifa'i, Andi Arif
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lagi dipungkiri telah mengalami stagnansi yang cukup lama. Persoalan-persoalan manajerial yang tidak sistematis dan strategis dalam membawa lembaga Pendidikan Islam merupakan persoalan utama. Upaya menjawab persoalan tersebut tidak serta merta dapat dilakukan dengan seketika, butuh perencanaan yang terukur dan strategis. Kunci utama keberhasilan pengembangan lembaga pendidikan Islam tidak dapat lepas dari pemimpin atau otak pelaku kebijakan yang ada di lembaga tersebut. Seorang pemimpin perlu dan wajib berfikir strategis dalam melakukan pengembangan kelembagaan pendidikan Islam. strategis merupakan gambaran dari upaya menciptakan capaian-capaian masa depan yang lebih baik. Dengan melakukan analisis mendalam terkait kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan, maka setrategi untuk melangkah dalam kurun waktu tiga-sepuluh tahun kedepan menjadi lebih pasti. Formulasi strategi dibangun dari analisis yang mendalam, logis, sistematis, dan ilmiah. Sehingga, Konsep berfikir strategis dengan wujud perencanaan strategis dalam pengembangan kelembagaan Islam menjadi solusi terbaik mengahadapi problematika pengembangan lembaga pendidikan Islam saat ini. It cannot be denied that some problems exist within the Islamic educational institutions in Indonesia and it has undergone quite a long stagnation. One of the major problem is the managerial issues which are not systematic and strategic in bringing Islamic institution. An attempt to answer these questions may not necessarily be done immediately, it takes a measurable and strategic planning. A major key to success the development of Islamic education institutions cannot be separated from the brain's of the leader or policy ruling the institution. A leader needs to be strategic in terms of thinking to develop the Islamic education. It is an overview of the strategic efforts of creating episodic sections for a better future. By doing a thorough analysis of related to the strengths, weaknesses, opportunities and challenges, then the strategy to step within three-ten years in the future become more certain. Strategy formulation is built from a deep analysis, logical, systematic, and scientific. So, the concept of strategic thinking and strategic planning in the form of institutional development of Islam becomes the best solution to achieve the development of Islamic education institutions today.