cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
PEMBUMIAN MISI PROFETIK DI TENGAH ARUS GLOBALISASI PERSPEKTIF ISLAM HUMANIS Yusdani, Yusdani
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulis membahas globalisasi yang salah satu karakteristiknya adalah mempertemukan aspek-aspek social menjadi sebuah standar baru. Standar tersebut tidak lepas dari sisi negative yang berimbas pada perubahan social dan budaya. Tulisan ini berkaitan dengan isu humanitarian sebagai dampak negative globalisasi. Cendekiawan muslim perlu memberikan penerangan kepada sosial dengan mengerjakannya juga, hal ini membutuhkan kerangka skema perumusan dari Islam untuk mempertahankan nilai-nalai kemanusiaan. The author of article below tries to discuss that globalization has the characteristics of uniting the social aspects into a new standard for various parts of the world as well as the negative impact toward social and cultural change, dealing with humanitarian issues as the negative impact of globalization, Muslim intellectuals need to provide enlightenment to the society By doing so, it needs to be formulated paradigmatic framework of Islam to defend human values. In this sense, Humanist Islam discourse in the context of scientific development and to formulate strategic steps toward concrete and took a position as a science and a discourse based on prophetic values. Thus, developing and Islamic teaching in Indonesia today is Islamic as a science. So, it needs paradigm shift from the theocentric-eschatological- to anthropocentric transformative.
GLOBALISASI : LANGKAH MENUJU WESTERNISASI GLOBAL: Sebuah Kajian Politik Ekonomi Internasional Fathurrahman, Ayief
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep globalisasi dengan pendekatan ekonomi politik. Berdasarkan kajian ini, bahwa globalisasi sarat dengan muatan logika kepentingan political economy dalam rangka mengkokohkan jangkar kekuasaan the West Nation sebagai Negara adikuasa di muka bumi, tanpa memandang kepentingan Negara-negara kecil. Dengan pendekatan ekonomi politik, banyak para ahli mengemukan fakta bahwa globalisasi identik dengan westernisasi. Globalisasi saat ini diiringi dengan misi neokolonialisme, produk Amerika yang pada dasarnya ditujukan untuk promosi kepentingan imperialistik masyarakat Barat dan berubah menjadi kekuatan hegemonic, sebagai jangkar kekuatan blok barat (AS) sebagai satu-satunya negara adidaya dunia. Para pengamat juga menunjukkan bahwa ada empat aspek utama globalisasi: 1) ekonomi 2) sosial dan budaya 3) militer 4) lingkungan. karena sebagian besar, faktor-faktor tersebut terikat dan dikontrol bahkan dimanipulasi. This article aims to examine the concept of globalization with political economy approach. Based on this study, that the logic of globalization fully loaded with cargo of political economy interests which built to anchor the power of the West Nation as a State superpower on earth, and ignori the interests of small countries. Through a political economy approach, many experts promoted the fact that globalization is synonymous with Westernization. Globalization is accompanied with the mission of neocolonialism, American products are basically intended for the promotion of the imperialistic interests of Western society and turned into a hegemonic power, as the western anchor strength (AS), as the only world superpower. Analysts also pointed out that there are four main aspects of globalization: 1) the economy 2) social and cultural 3) military 4) environment. for the most part, these factors are bound and controlled and even manipulated.
PERAN BAHASA DALAM HEGEMONI POLITIK, SOSIAL, DAN BUDAYA Walfajri, Walfajri
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa adalah sebuah simbol universal yang digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan dan mengemukakan benda-benda, fenomena, fakta, pemikiran dan perasaannya.Meskipun demikian, bahasa bukanlah sistem sisbol yang bebas nilai dan tidak ada hubunganya dengan dunia di luar bahasa itu sendiri, sebagaimana anggapan kaum strukturalis. Sebaliknya, bahasa adalah dunia yang penuh makna. Makna itu sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep, pemikiran, atau ide yang diberikan oleh penulis, pembaca atau pembicara dalam bentuk linguistik seperti kata, kalimat, atau wacana yang diciptakan oleh pengguna bahasa tersebut.Sehingga, makna kata tersebut sangat subjektif. Di samping itu, bahasa merupakan produk budaya dan kejadian social yang kompleks yang berkaitan dengan sejarah dan proses sosial dimana bahasa itu dibuat.Oleh karena itu, bahasa selalu hadir dalam seluruh dimensi kehidupan manusia: politik, social, dan budaya yang penuh dengan berbabagai ketertarikan dalam perjuangan hegemoni diantara penguasa dan menguasai. Lebih lanjut, dengan dukungan media masa, bahasa memainkan peran yang sangat penting sebagai instrumen yang efektif untuk membangun dan meemelihara hegemoni politik, social, dan budaya. The language is a universal symbol used by a human to express and present objects, phenomena, facts, his thought and feeling. Nevertheless, the language is not just a free-value (objective) system of symbol which does not relate to another world out of the language itself, as the assumption of structuralists. On the contrary, the language is a meaningful world. The meaning itself can be defined as a concept, thought or idea given by a writer, a reader, or a speaker to the linguistic forms such as words, sentences, or discourses that are created according to the language user. So, the meaning of word is very subjective. Besides, the language is a product of culture and a complex social event that relates to the history and social process where the language is produced. So, the language always presents in all dimensions of human life: politic, social, and culture that are full of interests in a struggle of hegemony between the dominant and the dominated. Furthermore, with the support of mass media, the language plays a very vital role as an effective instrument to build and maintain the political, social, and cultural hegemony.
PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA KELESTARIAN HUTAN Prasetyo, Ahmad Baliyo Eko
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan lingkungan, terutama kerusakan hutan, yang telah berkembang pesat dan tidak terkontrol.Hilangnya ilmu kehutanan Indonesia disebabkan oleh beberapa masalah. Beberapa upaya telah dilakukan untuk menjaga hutan dari kerusakan yang terjadi sekarang ini karena hal itu dapat digunakan untuk kebutuhan sekarang dan sebagai warisan masa yang akan datang.Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan kearifan local yang telah dilakukan oleh beberapa kelompok tradisional di Indonesia dan menunjukan keberhasilan perlindungan dan pemeliharaan hutan.Kearifan local adalah ide-ide local yang berkarakteristik bijak, penuh dengan kearifan, dan nilai-nilai kebaikan, yang ditanamkan dan dianut oleh masyarakat. Kearifan local muncul dalam nilai, norma, keyakinan, adat, kepercayaan. The destruction of an environment, in particular forest destructiom, has now occured rapidly and uncontrollable. Indonesian forestry lost caused by various problems. Various efforts have been done to protect forest from current destruction for it can be used for the present needs and heritage for the future. One of the efforts is by implementing local wisdom which have been done by several traditional communities in Indonesia and shown effective to conserve and preserve the forest. Local wisdom is local ideas that is characterized as wise, full of wisdom, and good values, that planted and followed by society. Local wisdom emerges into value, norm, faith, custom, belief, ect.
KEPEMIMPINAN VISIONER MENURUT ISLAM DAN INTERNALISASINYA DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG Umam, Aguswan Khotibul
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak dapat dipisahkan antara kemakmuran suatu masyarakat dengan peran pemimpin yang ideal dan progresif.Lahirnya pemimpin Islam yang ideal dan progresif tidak jauh dari peran perkembangan pendidikan Islam yang maksimum dalam kehidupan masyarakat dan generasi Islam.Kepemimpinan yang progrsif merujuk pada nilai dasar organisasi yang dibuat dan di percaya oleh anggotanya.Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suatu atmosfer kepemimpinan dan pembaharuan yang efektif menuju ke arah yang lebih baik. Seorang Muslim yang menjadi pemimpin yang visioner seharusnya melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) menunjukkan peran kepemimpinan yang baik, (b) mengikuti nilai-nilai kepemimpian Nabi Muhammad SAW, (c) mengamalkan prinsip amar maa’ruf nahi mungkar, (d) mengamalkan kaidah hidup yang sebenarnya, ( e) menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, (f) menegakkan keadilan, (g) menunjukkan perilaku pemimpin yang ideal dan dapat menjadi teladan yang baik. Berdasarkan pada teori kepemimpinan tersebut, seorang pemimpin di Lampung semestinya ialah pemimpin yang visioner, transformatif, religious dan menjadi pelopor serta teladan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam berdasarkan kepemimpinan visioner dalam kehidupan kebudayaan masyarakat di Lampung. Seorang pemimpin Lampung yang visioner seharusnya mengimplementasikan tradisi dan nilai budaya Lampung seperti Piil Pesengiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek. Prosperity of a society and the role of ideal and progressive leader are inseparable. The born of ideal and progressive Islamic leaders be separated form the role of maximum Islamic education development within life of society and Islamic generation. Progressive leadership refers to value based organization that is created and believed by its members. It is aimed at creating an atmosphere of effective leadership and reform for the bettement. A moslem who becomes a visioner leader should do following: a) show a role of good leadership, b) follow the leadership values of prophet Muhammad SAW, c) enforce the principle of amar ma’ruf nahi mungkar, d) enforce the true rule of life, e) do his obligation as a leader, f) do justice, and g) show the behavior of ideal leader and become a good precedent. Based on the existence of the leader theory, a leader in Lampung sholud be a visionary leader, transformative, relegious and became a pionner and a model as a leader who integreates the values of Islam according to the visionary leadership in the cultural life of societeies in Lampung. A visioner leader in Lampung should implement of Lampung tradition and cultural value such as Piil Pesingiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek.
SPIRIT PENDIDIKAN DALAM AL-QURAN: Upaya Transformasinya dalam Kehidupan Umat di Era Global Sudin, Mokhtaridi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-qur’an adalah firman Allah SWT yang digunakan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an, aleh karenanya, bukanlah sebuah karya akademik maupun karya fiksi. Dari segi pandangan, Al-qur’an mengandung seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek sosial, politik, dan ekonomi. Fakta bahwa ada banyak ayat-ayat Al-qur’an berhubungan dengan isu-isu tersebut di atas, menunjukkan peran penting Al-qur’an dalam Islam. Karena Al-qur’an diyakini menjadi sebuah pedoman untuk manusia menuju jalan yang benar. Dengan adanya ayat-ayat tentang hukum, contohnya, manusia dipedomi untuk menjalankan dalil dan untuk menegakkan hokum dan keadilan untuk kepentingan mengembangkan peradaban berdasarkan norma-norma dan nilai Islam secara keseluruhan. Tulisan ini mencoba memamparkan dan menguji ayat-ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan mausia, khususnya dalam aspek- aspek pendidikan, di dalam konteks global. The Qur’an is God sayings which serve as guide for all humankind. It is therefore neither an academic work, nor fiction. The Qur’an contains all aspects of human life, for example, social, cultural, political, and economic points of view. The fact that there are many Qur’anic verses dealing with such issues shows its significance in Islam because the Quran is believed to be a guide for human to go on right path. With the existence of verses on law, for example, human are guided to enforce law and just for the sake of developing civilization based on universal Islamic values and norms. This article tries to describe and examine Qur’anic verses dealing with the aspects of human life, especially in educational aspects, in global context.
AGAMA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI: Sebuah Pendekatan Multikultural Hadi, Mukhtar
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ISecara metodologi tulisan ini berkaitan dengan penelitian kesusasteraan terutama yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial agama dan korelasinya terhadap globalisasi. Bagian penting dari penelitian ini merupakan fenomena dimana globalisasi telah merubah dunia dan bagaimana agama merespons pengaruh globalisasi. Secara konsekutif tulisan ini memaparkan bagaimana globalisasi berpengaruh dan mempengaruhi perubahan-perubahan sosial agama. Agama, kekerasan, dan terorisme merupakan hal yang saling berkaitan. Meskipun demikian, agama telah diketahui sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari berbagai kasus kekerasan dan terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Kekerasan dan terorisme atas nama agama tertentu merupakan sebuah respon yang disebabkan oleh globalisasi. Bagian terpenting dari penelitian ini menjelaskan aturan agama yang memberi makna terhadap kehidupan masyarakat modern sejalan dengan pengaruh globalisasi. Pencarian kerohanian dan kembali kepada hakikat agama yang mungkin menjadi salah satu solusi yang rasional untuk menyikapi globalisasi. Analisis multi-kultural yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan pembentukan pengalaman persepsi manusia pada umur, agama, sosial dan status ekonomi, identitas budaya, bahasa, ras, dengan kemampuan-kemampuan yang berbeda Methodologically, this writing deals with literary study particularly with socio-religion aspects and its correlation with globalization. The important part of this study is the phenomenon in which globalization has changed the world and how religion responds the impacts of globalization. This writing, consecutively, describes how globalization works and how it influences the socio-religion changes. Religion, violence, and terrorism are closely related one another. However, religion has been identified to be an inseparable part of the many violence and terrorism cases occurring recently. Violence and terror in the name of certain religion is a response brought by globalization. The last part of this writing depicts the role of religion in giving meaning to modern people lives in line with the impacts of globalization. Seeking the spirituality and coming back to the nature of the religion might be one plausible solution to cope with the globalization. The multicultural analysis is used in this writing to describe the experiences shaping human’s perception on age, gender, religion, social and economy status, cultural identity, language, race, and those with different abilities.
VISI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: DIALEKTIKA ISLAM DAN PERADABAN Zuhdi, Muhammad Harfin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misi utama ajaran Islam adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki dan ketidakadilan. Karena Allah Maha Adil, maka tidak mungkin di dalam kitab suci-Nya mengandung konsep-konsep yang tidak mencerminkan keadilan Jika ada nilai atau norma yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak-hak asasi secara universal, maka nilai dan norma tersebut perlu direaktualisasi penafsirannya. Dalam perspektif Islam, kemanusiaan hakiki adalah kembali kepada fitrah manusia itu sendiri; sebagai manusia yang cenderung kepada nilai-nilai keagamaan yang substansial, dan nilai-nilai moral- spiritual yang bersifat perennial. Manusia adalah theomorfic being yang bertugas sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk bercermin pada sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pengatur, dan Maha Adil untuk diaktualisasikan dalam realitas kehidupan nyata, sehingga wajah dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih sayang, keteraturan, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Al-Qur‘an menegaskan bahwa kedatangan nabi Muhammad dengan misi risalah Islam adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Rahmat berarti pembebasan manusia dari segala macam yang tidak sesuai dengan karakter dan tabiat manusia dan alam itu sendiri. Pada tataran nilai, Islam sejak awal mengajarkan kebaikan dan moralitas luhur, dan pada saat yang sama melarang segala perilaku jahat. Dalam Islam disebutkan, bahwa kehadirannya adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Cita-cita moral ideal Islam adalah membangun dunia, dimana orang Islam maupun non-Islam hidup bersama menikmati keadilan, kedamaian, kasih sayang dan keharmonisan. Inilah tantangan dan persoalan dalam kehidupan modern sekarang ini. Adalah tugas semua elemen masyarakat, terutama para pemimpin agama dan para intelektual untuk menangkap pesan-pean moral agama yang dapat membawa kepada kehidupan yang harmonis di tengah pluralitas. The primary mission of Islam is to free people from the various form of anarchy and injustice. Because God is just, it is not possible if His holy book contains concepts that do not reflect fairness if no value or norms necessary direaktualisasi interpretation. In the islamic perspective, is an essenstial humanity back to human nature it self; as humans tren to religious values subtantially, and the moral values that are perennial spiritual. Man in theomorfic being served as caliph inthe eart. Therfore, humans are requeired to reflect on the nature of God the Merciful, the Suprema Controller, and the Most Just to be actualized in real lief reality, so that the face of this world into a world of loe, order, justice, peace and prosperty. The qur‟an insist that the arrival of the Prohet Muhammad with the mission of the massage of Islam is a mercy to the worlds. Grace means of human liberationfrom all that is inconsistent with the character and nature of man and nature it self. At the level of values, early Islam teaches kindness and nable moratility, and at the same time prohibiting any malicious behaviour. In Islam is mentioned, that is presence is a mercy to the worlds. Moral ideals of the Islamic ideals is to build a word where Muslims and non-Muslims to live together to enjoe justice, peace, love and harmony. These challenges and issue exist in modern life today. It is the task of all elements of society, especially religious leaders and intellectuals to the massage-pean religious morals that can lead to a harmonious lief in the midst of plurality.
KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN GERAKAN KEAGAMAAN KAUM REVIVALISME ISLAM DI INDONESIA Zuhdi, M. Nurdin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan revivalisme Islam merupakan gerakan keagamaan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Gerakan revivalisme Islam ini mewakili berbagai corak gerakan yang ada selama ini, diantaranya adalah Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, gerakan Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Laskar Jihad dan Dakwah Salafi. Gagasan yang ditawarkan oleh gerakan revivalisme Islam ini adalah mengembalikan teks kepada karakter ideologis yang statis, ahistoris, sangat ekslusif, tekstualis dan bias patriarkis. Gerakan ini mendukung penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam sendi kehidupan masyarakat. Sehingga kelemahannya yang muncul adalah produk penafsiran teks eksegetik yang cenderung linier-otomistic dalam menafsirkan teks al-Qur’an dan mengabaikan kontektualisasi teks. Padahal teks (al-Qur’an) haruslah dipahami sesui dengan konteksnya agar teks dapat berbicara. Dengan demikian prinsip al-Qur’an yang shalih li kulli zaman wa makan dapat terbukti. Islamic revival movement is a religious movement which is discussed by many lately. The idea of the revival movement is to restore the text to the ideological character of the static, ahistorical, very exclusive, textualist and patriarchal bias. This article seeks to reveal the thoughts of the Islamic revival movement in Indonesia. The method used in this study is both descriptive-critical analysis by collecting existing data, and then describes and analyzes the critical-analytical approach. This study sought to prove that any product of religious thought is influenced by the background surrounding the birth of a religious movement. Therefore, the product should always be open to ideas and have not to criticize scared, considering he was a relative and construction human nature alterntative. In addition, research is also intended to do a 'criticism' and then look for creative synthesis of the methodologies and typologies that exist on the thinking of the religious movement of Islamic revivalism studied. Synthesis results are expected to be contribution to knowledge in religious thought in the contemporary era, especially in Indonesia. Based on the theoretical framework of a typology of religious thought, through critical approaches-analysis concluded that there are at least four typologies of religious thought in the contemporary era, namely: quasi-objectivist typologies traditionalist, revivalist quasi-objectivist, subjectivist and typology typhology quasi-modernist objectivist. This revival movements embracing quasi-objectivist revivalist typology is a genuine understanding of the religion. In the sense of a genuine understanding of the religion they are referring to is an understanding of the return of religion to the ideological character of the static, ahistorical, very exclusive, tektualis and patriarchal bias. According to their religion in the present era must be understood according to the age where religion is lowered regardless of the context in the present era. So the weakness that emerges is the product exegetical interpretation of a text which tends to linear- atomistic in interpreting the text of the Qur'an and ignore contextualization text. Though the text (al-Qur'an) must be understood within their context so that text can be explained. Thus the principle of al-Quran compatibility in all times and contexts can be proven.
PEMIKIRAN POLITIK SAYYID QUTB: MELACAK GENEOLOGI “KEKERASAN” Juandi, Juandi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sayyid Qutb, intelektual dan pejuang Muslim, berpandangan bahwa kelompok yang menentang islamisasi masyarakat dan Negara, terutama mereka yang dianggap pemimpin muslim, harus diperlakukan layaknya kaum jahiliyyah (pagan, kafir, murtad), sehingga dibolehkan untuk melakukan kekerasan demi melawan rezim semacam ini. Pemerintahan islam sesungguhnya harus mendasarkan pada tiga asas politik yaitu keadilan penguasa, ketaatan rakyat dan permusyawaratan antara penguasa dan rakyat yang keseluruhannya dibingkai dalam manhaj islamiyah. Untuk menegakan manhaj islamiyah dan menghilangkan kejahilan di muka bumi ini, umat Islam perlu melakukan jihad sekalipun dengan tindakan represif. Sayyid Qutb, an intellectual and Muslim fighter, argued that those who oppose Islamization of society and the State, especially those considered to be the leader of Muslims, should be treated like the jahiliyyah (pagans, infidels, apostates), so it is allowed to do violence to counter this kind of regime. Islamic governance should be based on three real political principles of justice ruling, compliance people and deliberation between the rulers and the people of which are framed in manhaj Islamiyah. To uphold the manhaj Islamiyah and eliminate ignorance in the face of this earth, Muslims need to do jihad even with repressive measures.