cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
KH. AHMAD DAHLAN DAN GERAKAN PELURUSAN ARAH KIBLAT DI INDONESIA Sakirman, Sakirman
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini mengungkap bagaimana konstruksi metodologi KH Ahmad Dahlan dalam meluruskan arah kiblat di Indonesia. Cikal bakal problematika pelurusan arah kiblat terjadi di masjid Kauman Yogyakarta. Rekonstruksi yang dilakukan KH Ahmad Dahlan cukup lentur yang dikemas melalui metode ilmiah yakni menggunakan pendekatan astronomi modern, meskipun pada saat itu masyarakat setempat belum menerima sepenuhnya pembaharuan tersebut. KH Ahmad Dahlan berusaha dengan elegan memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa masjid Kauman Yogyakarta tidak tepat mengarah ke posisi kakbah. Pesan singkat yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan dalam pelurusan arah kiblat adalah suatu hal yang sakral tapi lentur sifatnya. KH Ahmad Dahlan memberikan contoh bahwa Islam itu sebetulnya tidak kaku melainkan lentur. Dengan syarat, tetap memegang teguh nilai yang berlaku. Karena jauh lebih penting adalah urusan ibadah dengan sang pencipta. pelaksanaan prinsip, nilai, anjuran agama yang telah digariskan arah kiblat tetap menjadi penting. Atas dasar itu, KH Ahmad Dahlan melakukan gerakan pemurnian, yang salah satunya berupa upaya meluruskan arah kiblat umat Islam Indonesia. Kala itu umat Islam Indonesia merasa cukup menghadap ke barat saja, tanpa mempertimbangkan sesuai tidaknya dengan arah kiblat. This study reveals how construction methodology of KH Ahmad Dahlan in straightening Qiblah direction in Indonesia. The forerunner to its streamlining Qiblah direction occurred in the mosque Kauman Yogyakarta. Reconstruction KH Ahmad Dahlan was quite pliable packaged through scientific methods i.e. using modern astronomical approach, although at that time the local people have not received the renewal entirely. KH Ahmad Dahlan tried elegantly giving enlightenment to the people that no proper mosque Kauman leads to the position of the Kaaba. Short messages that are delivered by KH Ahmad Dahlan in the straightening of the Qibla direction is a sacred thing but supple nature. KH Ahmad Dahlan gave an example that Islam is actually not stiff but pliable. The condition, keep holding fast to values that apply. Because it is much more important is the matter of worship with the creator. the implementation of the principles, values, religious advice outlined Qiblah direction remains important. On that basis, KH Ahmad Dahlan purification movements, one of which is an attempt to straighten the Qibla direction Islam Indonesia. At that time Indonesia Muslims feel quite overlooking the West alone, without considering whether compliance with the direction of the Qibla.
MENCIPTAKAN PRINSIP MORAL MENUJU MASYARAKAT MADANI Safri, Arif Nuh
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap agama selalu identik dengan ritualnya masing-masing. Namun, secara keseluruhan ritual tersebut bertujuan untuk menghayati kehadiran Tuhan, serta menangani kehidupan sosial. Dalam Islam, semua jenis ritual yang dikenal sebagai lima rukun Islam, seperti dalam hadist dari nabi, mulai dari syahadat, sholat, puasa, zakat dan Haji. Namun, rukun Islam hanya dimaksudkan sebagai media bagi terciptanya hubungan antara individu dengan Tuhan, sehingga keluar dari aspek sosial yang dikenal dengan perbuatan baik. Dengan kata lain, semua jenis ritual keagamaan menjadi masuk akal dan tidak nyata. Di dalam AlQur'an sendiri, iman kepada Allah harus diwujudkan dalam bentuk ritual yang bertalian langsung dengan aspek kesalehan sosial. Melalui artikel ini, penulis mencoba menjelaskan konsep ritual, dalam hal ini rukun Islam yang lebih sosial, sehingga dengan penghargaan terhadap semua ritual, mungkin membuat pribadi menjadi humanis, dan pada gilirannya pribadi humanis akan menciptakan masyarakat humanis. Every religion is always identical to its respective rituals. But, the overall aim to live up to God's presence, as well as handle the social life. In Islam, all forms of ritual known as the five pillars of Islam, as in the hadith of the Prophet. Starting from the creed, pray, fasting, zakat and hajj. However, the pillars of Islam are only meant as the medium in individual relationships with God, so that escape from the social aspect known by the good deeds. In other words, all forms of religious ritual becomes absurd and unreal. In the Qur‟an itself, faith in God should be manifested in the form of ritual is directly proportional to social righteousness or piety. Through this article, the author will try to explain the concept of ritual, in this case the pillars of Islam are more social, so with appreciation towards all rituals, it is possible create humanist personal, and the humanist personal createng humanist society towards civil society.
HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA PASCA-ORDE BARU: PERTARUNGAN ISLAMISM VERSUS CIVIL ISLAM Sholeh, Moh
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai kondisi HAM di Indonesia pasca orde baru sekaligus memetakan titik singgung dan titik pisah diskursus HAM di antara golongan anti-barat (Islamism) dan pro-barat (civil- Islam). Dua golongan Islam Indonesia ini akan dijelaskan secara rigid berdasarkan teori-teori hasil temuan penelitian pemerhati Islam Indonesia. Kajian ini menemukan bahwa diskursus HAM Pasca-Orba mengalami pergeseran dari HAM ala militerisme ke HAM yang berkaitan dengan masalah agama. Melalui pendekatan historis rangkaian temuan tulisan ini membawa pada kesimpulan teoretik, bahwa, untuk kasus Islam Indonesia, breeding ground utama Islamism adalah negara yang lemah. Kaum Islamism tumbuh kuat manakala kontrol negara terhadap keamanan, sosial, keagamaan, kemasyarakatan, ekonomi dan politik, melemah. Sebaliknya, lahan subur bagi Civil Islam yaitu, negara otoriter. pada saat negara dengan sangat tangguhnyamengontrol ekonomi, social, budaya, sipil dan politik. This paper tries to give an overview about the condition of human rights in Indonesia after the new order and map the tangent point and the point of separating human rights discourse between the anti-Western (Islamism) and pro-Western (civil-Islam). The two Islamic groups in Indonesia will be described rigidly in line with the existing theories as the results of the research findings on Islam within Indonesia contexts. This study found that the discourse of human rights after the new order regime underwent a shift from human rights which are connected to militarism to human rights with regard to religion issue. Through the historical approach of this paper's findings led to the conclusion that the theory, in the case of Islam Indonesia, the main breeding ground of Islamism is a weak country. The Islamism grows stronger when the state control of security, social, religious, societal, political, and economic are weak. In contrast, fertile ground for an Islamic civil an authoritarian country. It is a strong country which has powerful control the economic, social, cultural, civil and political rights.
KONSEP MASYARAKAT MADANI DALAM ISLAM Dacholfany, M Ihsan
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam melahirkan konsep sempurna dengan menampilkan lima jaminan dasar yang diberikan agama kepada warga masyarakat, baik secara perorangan ataupun kelompok. Pertama, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan fisik di luar ketentuan hukum. Kedua, keselamatan keya-kinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama. Ketiga, keselamatan keluarga dan keturunan. Keempat, keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum. Kelima, keselamatan profesi (intelektual). Kelima jaminan dasar tersebut menampilkan universalitas pandangan hidup atau visi transformatis sosial keagamaan yang utuh. Pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat yang berdasarkan hukum, persamaan derajat dan sikap toleransi adalah unsur-unsur utama kemanusiaan. Namun, hal itu sekedar menyajikan kerangka teoritik. Sehingga, harus diikuti dengan upaya pengorganisasian dan penerapannya di lingkungan sosial secara empiris. Islam bears perfect concept presented five elementary guarantee which given by religion to society citizen, either through individual or group. First, safety of society citizen physical of physical action out off law. Both, safety of belief of each religion, without constraint to move the other religion. Third, safety of family and descent. Fourth, safety of goods and chattel ownership outside law procedure. Fifth, safety of profession (intellectual). The fifth elementary guarantee present universal view of life or vision of transformation intact religious social. Goverment and society life which pursuant to law, equation of tolerance attitude and degree is human especial elements. But, that thing is merely presenting framework of theory. So that, it should be followed by the effort of organization applying in social environment by empiric.
PLURALISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM Zuhdi, Muhammad Harfin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bentuk dan warna agama dalam realitas kehidupan manusia memang sering memperlihatkan corak yang beragam. Keragaman corak keberagamaan ini pertama-tama disebabkan karena doktrin agama yang bersifat universal dan bersumber dari wahyu Tuhan, yang ketika membumi dalam wacana kehidupan manusia tidaklah hadir dalam suatu lingkungan yang hampa budaya. Agama sesungguhnya hadir sebagai petunjuk bagi penciptaan kehidupan yang penuh keteraturan dan keharmonisan. Namun, kehadiran agama di muka bumi ini tidak tampil dalam wajah yang seragam seperti ketidakseragaman manusia itu sendiri. Hal ini, sebenarnya memiliki blessing teologis-sosiologis terutama bagi upaya menciptakan keteraturan kosmik, sebagaimana Allah SWT. menghendaki keragaman (pluralitas) itu sebagai sunnatullah. Secara umum, pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan “mengakui” kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya. Munculnya pluralisme akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-masing kelompok (agama) terhadap pemikirannya sendiri. Persoalan klaim kebenaran inilah yang dianggap sebagai pemicu lahirnya radikalisasi agama, perang dan penindasan atas nama agama. Konflik horisantal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing- masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan pluralisme untuk menghilangkan keyakinan akan klaim kebenaran agama. Berkaitan dengan pluralisme, sejatinya Islam sejak awal telah memperkenalkan prinsip-prinsip pluralisme, atau lebih tepatnya pengakuan terhadap pluralitas dalam kehidupan manusia. Pengakuan Islam terhadap adanya pluralitas itu dapat dielaborasi ke dalam dua perspektif; pertama teologis dan yang kedua sosiologis. Model pluralisme yang bersyaratkan komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing telah dicontohkan oleh Rasullah SAW, baik dalam kata maupun tindakan, sebagaimana teraktualisasi dalam mitsaq al-Madinah dan tata pengelolaan kepemimpinan masyarakat (negara) Madinah yang mengayomi heterogenitas suku, etnis dan pluralitas agama. The religion practices in human life varies considerably in form and color.Firstly it is caused by the universal doctrine of religion and messages came from God, that earth in the human life is not present in a cultureless environment.The religion actually comes as the guide for creating a full regularity and harmonic life.Nevertheless, the presence of religion in the earth is not appearing in the same form such as variety of human itself. Those actually has blessing theologies- sociologies especially for efforts creating regularity cosmic, as Allah SWT gives those pluralities as sunnatullah.Commonly, pluralism can be understood as the concept that tolerance any variety of thought, civilization, religion, and culture.Not only tolerance with it, but also even “admitted” the truth of each comprehension.The emerges of plurality as a result of reaction from growing claim of truth by each group (religion) toward their selves thought. The problem of truth claim is considered as the trigger of religion radicalization, war and oppression in the name of religion. The horizontal conflict inter-believer will be finish if only each religion is not assumed that their religion precept is the true one. That was the last aim of pluralism movement to leave out believes of claim the truth religion.Related to the pluralism, the beginning of the truth Islam has introduced the principles of pluralism, or more precise the confession towards plurality in human life.Islam confession toward the existence plurality it can be elaborated into two perspectives; firstly is theology and secondly is sociological.The strong commitment which be requested by model of pluralism towards each religion has given example by Rasulullah SAW, within in word or action, as actualized in mitsaq al-Madinah and the society leadership management structure (nation) Madinah becomes the protector of heterogeneities tribal, ethnic and religion plurality.
REGULASI MASYARAKAT MADANI DALAM BINGKAI PLURASLISME Buto, Zulfikar Ali
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan masyarakat yang terus mengalami kemajuan dalam berbagai hal, membuat masyarakat kehilangan kendali untuk menetralisir fenomena-fenomena dari dalam dan luar mereka sendiri. Efeknya masyarakat keluar dari norma, ketentuan, dan adat istiadat yang telah menjadi kebiasaan selama ini. Munculnya peristiwa anarkis, perpecahan, dan perang antar sesama menjadi kemelut masyarakat yang hingga kini sulit dicari jalan keluarnya. Untuk itu tulisan ini mencoba memberikan regulasi kehidupan masyarakat madani era modern. Masyarakat Madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta masyarakat yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Regulasi ini walau dalam konteks modern namun tetap berlandaskan norma-noma agama yang kental dengan masyarakat pribumi. The society development which continues to progress in a variety of ways, has lead the society lost control in neutralizing phenomena from inside and outside of their own. This has brought about the effect in which the society is out of the rooted norms, conditions, and customs. The rise of the anarchist event, splits, and a war between the societies makes the way out hard to reach. To that end this paper tries to provide regulation of the life of civil society. Civil society is a civilized society, upholding human values, as well as the society forward in the mastery of science and technology. This regulation even in the context of modern but still based on the norms of the religion norms existing within the indigenous societies.
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN MELAYU-ISLAM DI TENGAH ARUS GLOBAL Sudin, Mokhtaridi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era globalisasi telah membawa dampak negative terhadap suatu budaya lokal tertentu. Kecenderungan budaya global telah mengikis banyak kebijaksanaan lokal yang dipertahankan pada setiap tahun. Tulisan ini fokus terhadap pentingnya pendidikan multicultural sebagai upaya untuk mempertahankan budaya nusantara Melayu hidup. Budaya Melayu itu sendiri sangat penting dalam pengertian yang mana memuat banyak nilai-nilai Islami didalamnya. Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang mana faktanya telah dianalisa secara kualitatif. Hasil penemuan dari penelitian menunjukkan bahwasanya budaya Melayu seharusnya dipertahankan dengan memperkuat dasarnya dengan demikian akan bisa bersaing dengan budaya global.Seperti upaya yang seharusnya diperoleh melalui pemasukan konsep percaya diri dan penciptaan kebanggaan terhadap budaya lokal. Untuk hal ini, pendidikan multicultural untuk masyarakat melayu dibutuhkan pendidikan formal dan informal. Dan juga, upaya ini seharusnya didukung dengan peneliti-peneliti kebudayaan dan dengan adat istiadat lembaga. Hal ini akan lebih efektif ketika teknologi informasi modern dimanfaatkan secara baik. The globalization has brought about a negative impact toward a certain local culture. The global culture trends have eroded much yearly preserved local wisdom. This writing focuses on the importance of multicultural education as an effort to keep the Malay Archipelago cultures alive. The Malay Archipelago culture itself is very important in the sense that it contains many Islamic values within. This writing is a library research in which the data is analyzed qualitatively. The findings of the research show that the Malay Archipelago culture should be preserved by strengthening its foundation so that it can compete with the global culture. Such effort could be gained through inserting the self-confident concept and creating pride toward the local culture. For this, a multicultural education for the Malay society is needed both in formal and informal education. Also, this effort should be supported by the cultural observers and by the custom institution. It would be much more effective when the modern information technology is utilized as well.
VISI ZAKAT PADA PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN ANAK Maulidia, Rahmah
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas optimalisasi visi dan peran zakat sebagai penggerak pembangunan bangsa. Serta agen perubahan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, terutama dalam pemenuhan hak atas pendidikan bagi anak-anak. Di tengah-tengah masalah yang dialami anak-anak di Indonesia, dalam bentuk kekerasan fisik dan psikologis, putus sekolah, dan pelacuran anak, upaya serius telah dilakukan lembaga zakat di negara dengan serangkaian program pendidikan seperti beasiswa dan pembentukan sebuah sekolah gratis bagi anak- anak miskin. Langkah-langkah konkret selaras dengan pemikiran Gabriela Mistral, pemenang Nobel dan diplomat pendidik dari Chili, yang mengatakan bahwa besok sudah terlambat, hal yang paling penting bagi anak-anak saat ini. Hari tulang anak terbentuk, darahnya sedang dibuat, dan perasaannya sedang dibangun). This article discusses the optimization of the vision and the role of zakat as a driving the development of the nation. As well as agents of change in the social, economic, educational, especially in the fulfillment of the right to education for children. In the midst of the problems that plagued children in Indonesia, in the form of physical and psychological violence, dropout, and child prostitution, serious attempts have been made by zakat institutions in the country with a series of education programs such as scholarships and the establishment of a free school for poor children. The concrete steps in tune with the thinking of Gabriela Mistral, Nobel laureate and diplomat educators from Chile, who said that tomorrow was too late, the most important thing for children is today. Today the child bone being formed, his blood is being made, and his feelings are being built.
MODEL INTEGRASI SAINS DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF J.F HAUGHT DAN M.GOLSHANI: LANDASAN FILOSOFIS BAGI PENGUATAN PTAI DI INDONESIA Thoyib, Muhammad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menengahkan pemikiran dua tokoh kontemporer yang begitu intens mengkaji model integrasi sains dan agama, yaitu J.F Haught dan M. Golshani. Hal ini penting dibahas dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran untuk membuat tatan hubungan konstruktif antara sains dan agama. Tulisan ini berdasarkan penelitian pustaka. Dari pembahasan diketahui bahwa ketika meninjau model integrasi teologi evolusi (evolution theology) dan sains Islam (Islamic science) terlihat perbedaan yang sangat jelas dimana Haught menerapkan integrasi pada teori evolusi (hanya salah satu jenis sains) sedangkan Golshani mengambil ruang besar Islam sebagai fokus integrasi. Teologi di tangan Haught bersifat sangat adaptif, karena ia berpandangan bahwa teologi adalah bagian dari olah manusiawi yang selalu bergerak. Sehingga ketika teologi bertemu dengan evolusi sains lain maka dimungkinkan adanya perubahan. Akan tetapi perubahan yang ditawarkan Haught dan Golshani tidak bergeser dari ajaran substantif nilai-nilai agama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan persoalan integrasi sains dan agama tersebut, pemikiran kedua tokoh tersebut dapat dijadikan sebagai landasan filosofis dan akademis dalam upaya penguatan eksistensi perguruan tinggi Islam (PTAI) di Indonesia, melalui: upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan agama secara integrative-subtantif di PTAI Indonesia yang seyogyanya sejak awal sudah dilandasi oleh nilai-nilai agama, sehingga agama akan menjadi ruh bagi konstruksi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan digali maupun dikembangkan oleh PTAI di Indonesia.To understand integration model of science and religion in detail, the research will be done by taking a part of John F. Haught and Mehdi Golshani view about: religion responds towards science, the basis of integration, and the model of integration. Haugth and Golshani respectively have given an enlightenment to make the integration of science and religion possible. On the integration model offered, Haught focuses more on the particular dimension of integration (related to certain scientific theory (theory of evolution) and certain religious dimensions (theology), where Golshani focuses more on the wider dimension of integration (related to science and religion in a wider meaning). Thus, the integration is an embodiment of the union between religion and science based on the perspective and inspired by the religious dimension. Based on the model offered, we can take values how to implement its balancely for empowering the existence of Islamic Higher Education (PTAI) in Indonesia for facing technology development in this globalization era, without forgetting its role as Islamic institution that has commitment to develop Islamic values in the civilization of the world.
ILMU FALAK: RELASI HARMONIS AGAMA DAN SAINS Maskufa, Maskufa
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu Falak merupakan relasi harmonis agama dan sains. Dikotomi agama dan sains adalah hasil dari imperialisme Barat dan kuatnya paradigma positifistik. Dikotomi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena di dalamnya memuat ajaran tentang ibadah yang sangat berkaitan dengan fenomena alam terutama yang menyangkut waktu-waktu ibadah seperti waktu salat, puasa Ramadan, salat 'idain dan ibadah haji. Beribadah tepat waktu yang ditandai dengan fenomena alam dan menjadi konsens dari ilmu Falak sebenarnya menunjukkan adanya relasi yang harmonis antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat kauniyah atau antara agama dengan sains, sehingga tidak perlu lagi mempertentangkan antara agama dan sains karena keduanya merupakan satu kesatuan yang berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT. Falaq study is harmonies relationship between religion and science. Nevertheless, this is not in line with an Islamic perspective. It contains such the worship times such as prayer time, fasting month, 'idain and pilgrimage. Performingworship in the right time or predetermine time (kitaban mauqutan), which is science by the nature phenomenon and has become a consensus within Falaq study, actually shows harmonies relationship between kauliyah verses and kauniyah verses or between religion and science.Thereforeit is not necessary to contras the religion and science as (because) both of them are one in the same entity coming from Allah SWT.