cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 195 Documents
An Analysis of Idiom Types in English Film Dialogue and Their Translation Strategies in Indonesian Subtitles of the Kingsman Trilogy Utami, Putri; Adrefiza, Adrefiza; Handayani, Reli
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i3.51777

Abstract

Idiomatic expressions are an important element in film dialogue because they convey figurative meaning, cultural values, and pragmatic functions. However, translating idioms into Indonesian subtitles often presents problems due to cultural differences and audiovisual technical constraints such as limited space and time. This study aims to analyze the types of idiomatic expressions found in the English film dialogue of the Kingsman trilogy and the translation strategies used in the Indonesian subtitles. This research employs a qualitative descriptive method with content analysis. The data consist of idioms identified from the English dialogue and their translations in Indonesian subtitles. Idiom types are classified based on McCarthy and O’Dell’s typology, while translation strategies are analyzed using Baker’s framework. The findings show that semi-idioms are the most dominant type and that paraphrasing is the most frequently used translation strategy. Abstrak Ekspresi idiomatik merupakan unsur penting dalam dialog film karena menyampaikan makna figuratif, nilai budaya, dan fungsi pragmatik. Namun, penerjemahan idiom dalam subtitle bahasa Indonesia sering menghadapi permasalahan akibat perbedaan budaya serta keterbatasan teknis audiovisual seperti ruang dan waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis idiom yang terdapat dalam dialog film berbahasa Inggris pada Kingsman trilogy dan strategi penerjemahan yang digunakan dalam subtitle bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis isi. Data berupa idiom yang diidentifikasi dari dialog film berbahasa Inggris dan terjemahannya dalam subtitle bahasa Indonesia. Klasifikasi idiom didasarkan pada tipologi McCarthy dan O’Dell, sedangkan strategi penerjemahan dianalisis menggunakan kerangka Baker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semi-idiom paling dominan dan parafrasa menjadi strategi yang paling sering digunakan.
Dampak Adaptasi Kesantunan pada Pola Interaksi Asertif-Direktif Diskusi Percakapan Kelompok Siswa di SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara Khadijah, Desy Sitti; Listiyowardany, Yunia Hardiani; Mulawarman, Widyatmike Gede; Suhatmady, Bibit
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51780

Abstract

Group discussions in class require tasks to be completed quickly, so that interactions between students are often dominated by speech that directs action and has the potential to create tension. This study aims to describe (1) the realization of directive and assertive speech acts in group discussions among students in class IX-A of SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) the politeness strategies accompanying these utterances, and (3) their impact on interaction patterns. This study uses a descriptive qualitative approach. The data, in the form of group discussion transcripts (8 episodes) with a total of 42 utterances, were collected through observation and transcribed, then classified based on the type of speech act and analyzed using the speech act framework and Brown and Levinson's politeness theory (face and face-threatening act). The results show that directive speech acts tend to be dominant, especially the subcategory of requesting (9 utterances), followed by ordering (5), directing sequence (4), prohibiting (2), and silencing (2). Assertive speech acts appeared in the form of judging (5), accusing (4), denying (1), stating (1), explaining/giving examples (1), classifying (1), expressive reactions (1), and affirming references (1). Politeness strategies were evident through the use of question forms for clarification/confirmation, positive politeness (e.g., reinforcement/solidarity), and lexical mitigation; however, under certain conditions, direct utterances without mitigation appeared, which increased face threat. As a result, mitigated directive utterances reinforce cooperative-coordinative interaction patterns, while a combination of assertive attacks (e.g., accusations/labels) and coercive directives encourages conflict escalation with patterns of attack-defense-silencing. These findings emphasize the importance of teacher facilitation in discussion learning so that coordinative assertiveness remains in line with linguistic politeness. Abstrak Diskusi kelompok di kelas menuntut penyelesaian tugas secara cepat sehingga interaksi antarsiswa kerap didominasi tuturan yang bersifat mengarahkan tindakan sekaligus berpotensi memunculkan ketegangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) realisasi tindak tutur direktif dan asertif dalam diskusi kelompok siswa kelas IX-A SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) strategi kesantunan yang menyertai tuturan tersebut, serta (3) dampaknya terhadap pola interaksi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data berupa transkrip diskusi kelompok (8 episode) dengan total 42 tuturan, dikumpulkan melalui teknik simak dan ditranskripsikan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis tindak tutur dan dianalisis menggunakan kerangka tindak tutur serta teori kesantunan Brown dan Levinson (face dan face-threatening act). Hasil menunjukkan bahwa tindak tutur direktif cenderung dominan, terutama subkategori meminta (9 tuturan), diikuti menyuruh (5), mengarahkan urutan (4), melarang (2), dan membungkam (2). Tindak tutur asertif muncul dalam bentuk menilai (5), menuduh (4), menyangkal (1), menyatakan (1), menjelaskan/mencontohkan (1), mengklasifikasikan (1), ekspresif reaksi (1), dan menegaskan rujukan (1). Strategi kesantunan tampak melalui penggunaan bentuk tanya untuk klarifikasi/konfirmasi, kesantunan positif (misalnya penguatan/solidaritas), dan mitigasi leksikal; namun pada kondisi tertentu muncul tuturan langsung tanpa mitigasi yang meningkatkan ancaman muka. Dampaknya, tuturan direktif yang termitigasi memperkuat pola interaksi kooperatif–koordinatif, sedangkan kombinasi asertif menyerang (mis. tuduhan/label) dan direktif koersif mendorong eskalasi konflik dengan pola penyerangan–pertahanan–pembungkaman. Temuan ini menegaskan pentingnya fasilitasi guru dalam pembelajaran diskusi agar ketegasan koordinatif tetap sejalan dengan kesantunan berbahasa.
Kajian Semiotik Terhadap Ux Aplikasi Shopee Dengan Pendekatan Quality Assurance Krisnawan, Gusti Ngurah Aditya; Swari, Dw Ayu Agung Indra; Agustino, Dedy Panji
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51781

Abstract

The rapid growth of e-commerce requires digital platforms to deliver user experiences (UX) that are not only functional but also visually communicative. Shopee, as one of the most popular e-commerce platforms in Indonesia, utilizes interface design elements rich in signs and symbols. This study aims to examine the UX of the Shopee application through a semiotic approach and to evaluate its quality using a Quality Assurance (QA) perspective. The research focuses on how users interpret Shopee’s visual interface elements and the level of application usability. A qualitative method was employed through semiotic analysis based on Charles Sanders Peirce’s model, combined with a quantitative descriptive approach using the USE Questionnaire distributed to 100 respondents. The results show that Shopee achieved an overall usability score of 83.28%, categorized as very feasible, with usefulness (81.31%), ease of use (83.35%), ease of learning (89.75%), and satisfaction (82.20%), indicating that Shopee provides an effective, intuitive, and satisfying user experience. Abstrak Perkembangan e-commerce yang pesat menuntut platform digital untuk menghadirkan pengalaman pengguna (User Experience/UX) yang tidak hanya fungsional, tetapi juga komunikatif secara visual. Shopee sebagai salah satu platform e-commerce terpopuler di Indonesia memanfaatkan elemen desain antarmuka yang kaya akan tanda dan simbol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji UX aplikasi Shopee melalui pendekatan semiotik serta mengukur tingkat kualitasnya menggunakan Quality Assurance (QA). Permasalahan penelitian difokuskan pada pemaknaan elemen visual antarmuka Shopee oleh pengguna serta tingkat usability aplikasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis semiotik model Charles Sanders Peirce dan pendekatan kuantitatif menggunakan USE Questionnaire terhadap 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan tingkat usability Shopee sebesar 83,28% dengan kategori sangat layak, meliputi aspek usefulness (81,31%), ease of use (83,35%), ease of learning (89,75%), dan satisfaction (82,2%), yang menandakan UX Shopee efektif, mudah dipahami, dan memuaskan pengguna.
Morphological Error in Students’ Recount Text Liani, Ghustiva
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i3.52059

Abstract

The objective of this research was to know, describe and interpret the morphological error in recount text made by students of a Private Junior High School in North Jakarta. The population in this research is the students of grade VIII at the school. The method used in this study is descriptive analysis method to describe students’ errors consisting of 28 erroneous sentences and analyze the data taken from written test. The classification of errors in this research is divided into four categories; they are omission, addition, misformation, and disordering. The findings showed that the number of errors in morphological level, committed by the students are in inflectional morphology as much as 22 (79%) and derivational morphology is 6 (21%). It happened because students’ lack of understanding in applying the parts of speech in the sentences, such as verb, to be, preposition, pronoun, noun, conjunction, adverb, adjective and others. Thus, students find it difficult to arrange or form one word along with its meaning. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menginterpretasikan kesalahan morfologis dalam “recount text” yang dibuat oleh para siswa di salah satu sekolah SMP swasta di Jakarta Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di sekolah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif untuk menggambarkan kesalahan siswa yang terdiri dari 28 kalimat yang mengandung kesalahan, serta menganalisis data yang diambil dari tes tertulis. Klasifikasi kesalahan dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kategori, yaitu penghilangan, penambahan, pembentukan yang salah, dan penyusunan yang salah. Temuan menunjukkan bahwa jumlah kesalahan pada tingkat morfologis yang dilakukan oleh para siswa di sekolah tersebut terdapat pada morfologi infleksional sebanyak 22 kesalahan (79%) dan morfologi derivasional sebanyak 6 kesalahan (21%). Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman siswa dalam menerapkan kelas kata (parts of speech) dalam kalimat, seperti kata kerja, kata kerja bantu (to be), preposisi, pronomina, kata benda, konjungsi, kata keterangan, kata sifat, dan lainnya. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan dalam menyusun atau membentuk suatu kata beserta maknanya.
Strategi Diksi dan Gaya Bahasa pada Media Publik Visual di Tembilahan Mahsusi, Juni
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i3.52130

Abstract

Visual public media in the form of banners in Tembilahan City are strategic communication media used by the government, business actors, and social organisations to target a diverse community. This study aims to conduct a qualitative analysis of the integrative strategy of diction and style in public visual banners in Tembilahan City to reveal the correlation between linguistic choices and the communicator's identity and discourse objectives. Based on an analysis of 20 purposively selected visual banner data, this study found three dominant strategy patterns, namely a formal instructional strategy with technical diction and an imperative style of language in government agencies. Furthermore, there is a commercial persuasive strategy with emotionally charged diction and a hyperbolic style of language in business actors. In addition, a collective emotional strategy was found, with inclusive diction and an exhortative style of language in social messages. In conclusion, the study found that the effectiveness of public visual communication is highly dependent on the strategic alignment between the accuracy of diction and the creativity of the style of language, which is adapted to the social position of the communicator and the context of the reader. Abstrak Media publik visual berupa spanduk di Kota Tembilahan merupakan media komunikasi strategis yang disampaikan pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi sosial untuk menyasar masyarakat yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kualitatif strategi integratif diksi dan gaya bahasa pada spanduk visual publik di Kota Tembilahan untuk mengungkapkan korelasi pilihan linguistik dengan identitas komunikator dan tujuan wacana. Berdasarkan analisis terhadap 20 data spanduk visual yang dipilih secara purposif, penelitian ini menemukan tiga pola strategi yang dominan, yaitu strategi formal instruktif dengan diksi teknis dan gaya bahasa imperatif pada instansi pemerintah. Selanjutnya strategi persuasif komersial dengan diksi bernilai emosional dan gaya bahasa hiperbola pada pelaku usaha. Di samping itu, ditemukan strategi emosional kolektif diksi inklusif dengan gaya bahasa ekhsortasi pada pesan sosial. Kesimpulannya, penelitian menemukan bahwa efektivitas komunikasi visual publik sangat bergantung pada keselarasan strategis antara ketepatan diksi dan kreativitas gaya bahasa yang disesuaikan dengan posisi sosial komunikator dan konteks pembaca.
The Abbreviations and Acronyms in Tiktok Social Media Among Z Generation Anggraini, Rosa; Afria, Rengki
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.49624

Abstract

The development of social media today, especially in the TikTok application, has given rise to new ways of communicating among Z Generation. One of them is the use of abbreviations and acronyms to facilitate communication and describe the characteristics of Z's identity generation. This study aims to analyse abbreviations and acronyms in communicating on the TikTok application by Z generation. The method used is descriptive qualitative by analysing comments and writings on TikTok. The results of this study show that Z generation uses abbreviations and acronyms to simplify and shorten communication on social media. The abbreviations and acronyms used are creative, flexible, and combined with foreign languages. This shows that without realizing it, communication patterns in social media have an impact on the formation of new words/terms. Abstrak Perkembangan media sosial saat ini terutama di aplikasi TikTok, memunculkan cara baru untuk berkomunikasi di kalangan generasi Z. Salah satu yang muncul adalah penggunaan singkatan dan akronim dalam mempermudah komunikasi serta menggambarkan karakteristik identitas generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis singkatan dan akronim dalam berkomunikasi di aplikasi TikTok oleh generasi Z. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis komentar dan tulisan yang ada di TikTok. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa generasi Z menggunakan singkatan dan akronim untuk mempermudah dan mempersingkat berkomunikasi di media sosial. Singkatan dan akronim yang digunakan kreatif, fleksibel, dan dikombinasikan dengan Bahasa asing. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa disadari pola komunikasi dalam media sosial berdampak dalam pembentukan kata/istilah baru.
Epistimologi Balaghah Menurut Sakkaki: Kajian Relasi Makna dan Gaya Bahasa Pakaya, Azizah; Pakaya, Maryam; Asmaniah, Neli; Usman, Abdul Rafli
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.52020

Abstract

This study is motivated by the need to understand balāghah not merely as an art of rhetoric but as a scientific discipline possessing a coherent epistemological system. This study employs a qualitative-descriptive approach, drawing on library research and using Miftāḥ al-ʿUlūm as the primary source, supported by relevant journals and modern studies as secondary data. Analytical procedures include Content Analysis, Comparative Textual Analysis, Hermeneutical Interpretation, and Descriptive-Qualitative Analysis to interpret concepts, theoretical structures, and the meaning–style relationship. The findings indicate that Sakkākī’s epistemology of balāghah is grounded in the harmony between meaning, context, and stylistic expression. Maʿānī regulates structural precision, Bayān facilitates semantic expansion through majāz and istiʿārah, and Badīʿ enhances aesthetic effects without obscuring meaning. It concludes that Sakkākī’s framework remains highly relevant for contemporary analyses of exegesis, literature, and rhetoric, as it offers a systematic applicable methodological foundation for understanding the dynamics between meaning and linguistic style. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan untuk memahami balaghah tidak hanya sebagai seni retorika, tetapi sebagai disiplin ilmu yang memiliki sistem pengetahuan (epistemologi). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka, memanfaatkan Miftāḥ al-‘Ulūm sebagai data primer serta jurnal dan penelitian modern sebagai data sekunder. Analisis dilakukan melalui Analisis Isi, Analisis Komparatif, Hermeneutika Tekstual, dan Deskriptif-Kualitatif untuk menafsirkan konsep, struktur teori, dan hubungan makna–gaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi balaghah Sakkākī didasarkan pada keselarasan antara makna, konteks, dan gaya. Ma‘āni mengatur ketepatan struktur kalimat, Bayān memfasilitasi perluasan makna melalui majāz dan isti‘ārah, sedangkan Badī‘ memperkuat efek estetis tanpa mengaburkan pesan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerangka Sakkākī tetap relevan untuk analisis tafsir, sastra, dan retorika modern karena menyediakan perangkat metodologis yang sistematis dan aplikatif dalam memahami dinamika makna dan gaya bahasa.
Language Politeness in the Digital Era: Analysis of TikTok Comments on Fuji's Posts Daulay, Sholihatul Hamidah; Handriani, Puput; Dinata, Annisa Putri
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.52074

Abstract

This research focuses on analyzing the politeness strategies employed by internet users in their comments on celebrity Fuji’s TikTok posts. The freedom of expression on social media fosters a variety of verbal interactions, ranging from courteous to discourteous. Utilizing a qualitative approach with pragmatic discourse analysis based on Brown and Levinson’s politeness theory, data were collected from ten screenshots of TikTok comments and analyzed in depth. The findings reveal that users implement several politeness strategies: positive politeness, negative politeness, off record, and bald on record. The bald on record strategy predominates, indicating a tendency among social media users to express opinions directly and sometimes harshly. This trend signifies a shift in traditional norms of politeness within digital communication. The study highlights the necessity of digital literacy to maintain ethical language use and foster social harmony in online environments. Abstrak Penelitian ini berfokus pada analisis strategi kesantunan yang digunakan oleh pengguna internet dalam komentar mereka pada unggahan TikTok selebriti Fuji. Kebebasan berekspresi di media sosial memicu berbagai interaksi verbal, mulai dari yang santun hingga yang tidak santun. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana pragmatik berdasarkan teori kesantunan Brown dan Levinson, data dikumpulkan dari sepuluh tangkapan layar komentar TikTok dan dianalisis secara mendalam. Temuan menunjukkan bahwa pengguna menerapkan beberapa strategi kesantunan: kesantunan positif, kesantunan negatif, off record (tidak langsung), dan bald on record (tanpa basa-basi). Strategi bald on record mendominasi, yang menunjukkan kecenderungan pengguna media sosial untuk mengekspresikan pendapat secara langsung dan terkadang kasar. Tren ini menandakan adanya pergeseran norma kesantunan tradisional dalam komunikasi digital. Studi ini menekankan pentingnya literasi digital untuk menjaga penggunaan bahasa yang etis dan memupuk harmoni sosial di lingkungan daring.
Analisis Sosiolinguistik Bentuk Sapaan dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho Aryalita, Made Karla
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.53577

Abstract

This study analyzes the forms of address from a sociolinguistic perspective in the film Agak Laen by Muhadkly Acho. This study uses the theories of Kridalaksana and Ervin-Tripp to analyze the data obtained by descriptive qualitative methods with the listening-noting technique. The results of the study are presented through formal and informal methods. The results of the study show that the forms of address in this film are influenced by several elements, such as personal pronouns, proper names, kinship terms, titles and ranks, N (Nominal)+ku, situations, ranks, identity devices, and generation levels which are the relationship between Kridalaksana's theory of address forms in Indonesian and Ervin-Tripp's theory of address forms in American English. The use of address forms is also influenced by the situation, gender, and age which are the background factors for the use of address forms in society. From a sociolinguistic perspective, the results of the study show that the greatest influence on the use of address forms in Indonesia is social and linguistic variation in society. Abstrak Penelitian ini menganalisis bentuk-bentuk sapaan dari segi sosiolinguistik yang terdapat dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Penelitian ini menggunakan teori Kridalaksana dan Ervin-Tripp untuk menganalisis data yang diperoleh dengan metode kualitatif deskriptif dengan teknik simak-catat. Hasil penelitian disajikan melalui metode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sapaan dalam film ini dipengaruhi oleh beberapa unsur, seperti kata ganti orang, nama diri, istilah kekerabatan, gelar dan pangkat, N (Nominal)+ku, situasi, pangkat, perangkat identitas, dan tingkat generasi yang merupakan keterkaitan teori bentuk sapaan Kridalaksana bahasa Indonesia dan teori bentuk sapaan Ervin-Tripp bahasa Inggris-Amerika. Penggunaan bentuk sapaan juga dipengaruhi oleh situasi, jenis kelamin, dan usia yang menjadi faktor latar belakang penggunaan bentuk sapaan dalam masyarakat. Dari segi sosiolinguistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terbesar penggunaan bentuk sapaan di Indonesia adalah variasi sosial dan bahasa dalam masyarakat.
Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Trisnamayuni, A.A.I. Mas
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54013

Abstract

This study examines speech action verbs in the Balinese language, which exhibit various forms and semantic meanings. The research is motivated by the uniqueness of Balinese, influenced by social stratification and dialectal variation affecting lexical usage. The objectives are to identify the groups and types of verbs meaning “to speak” and to describe their semantic structures. A qualitative method was applied using Balinese folktales as data sources, analyzed descriptively through verb classification theory and the Natural Semantic Metalanguage approach. The findings reveal five speech action verbs—mapangarah, mabesen, ngandika, matur, and ngerengkeng—which are categorized into two groups based on the presence or absence of a speech target. Semantically, these verbs generally follow a pattern where X performs an action toward Y, with differences in context, purpose, and social relations of the speakers. Abstrak Penelitian ini mengkaji verba aksi ‘bicara’ dalam bahasa Bali yang memiliki variasi bentuk dan makna semantis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada keunikan bahasa Bali yang dipengaruhi oleh sistem sosial serta variasi dialek yang memengaruhi penggunaan leksikon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok dan tipe verba bermakna ‘bicara’ serta mendeskripsikan struktur semantisnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data berupa cerita rakyat Bali, yang dianalisis secara deskriptif menggunakan teori klasifikasi verba dan pendekatan Metabahasa Semantik Alami. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima verba aksi ‘bicara’, yaitu mapangarah, mabesen, ngandika, matur, dan ngerengkeng, yang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan keberadaan sasaran bicara. Secara semantis, verba-verba tersebut memiliki pola umum tindakan dari X kepada Y dengan perbedaan pada konteks, tujuan, dan relasi sosial penutur.