cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 185 Documents
Representing Generations Through Slang: A Comparative Study of MTV and Tiktok in Indonesian Pop Culture Ramadhan, Refan Gusti; Begum, Syahkira; Rosalinah, Yanti
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50201

Abstract

This article examines how slang shapes generational linguistic identity in Indonesia by comparing two media environments: MTV in the early 2000s and TikTok in the current digital era. Using sociolinguistic perspectives on media and youth identity, the study analyzes how each platform influences the creation, spread, and social meaning of slang. MTV, as a one-way broadcast medium, produced relatively stable slang tied to localized adaptations of global youth culture. In contrast, TikTok operates as a participatory, algorithm-driven space where slang changes quickly through abbreviation, blending, code-mixing, and sound alteration. These forms circulate virally and gain meaning through collective user practices. Despite differences in structure and pace, both eras show that slang functions as a marker of group belonging, humor, and generational distinction. The study demonstrates how shifting media infrastructures shape linguistic innovation and the ongoing negotiation of youth identity in Indonesian popular culture. Abstrak Artikel ini membahas bagaimana slang membentuk identitas linguistik generasi di Indonesia dengan membandingkan dua lingkungan media: MTV pada awal 2000-an dan TikTok pada era digital saat ini. Dengan menggunakan perspektif sosiolinguistik tentang media dan identitas anak muda, studi ini menganalisis bagaimana setiap platform memengaruhi penciptaan, penyebaran, dan makna sosial dari slang. MTV, sebagai media siaran satu arah, menghasilkan bentuk slang yang relatif stabil dan terkait dengan adaptasi lokal dari budaya anak muda global. Sebaliknya, TikTok berfungsi sebagai ruang partisipatif yang digerakkan algoritma, di mana slang berubah cepat melalui pemendekan, pencampuran, alih kode, dan perubahan bunyi. Bentuk-bentuk ini menyebar secara viral dan memperoleh makna lewat praktik pengguna. Meski berbeda dalam struktur dan kecepatan, kedua era menunjukkan bahwa slang berfungsi sebagai penanda kebersamaan kelompok, humor, dan pembeda antar generasi. Studi ini menunjukkan bagaimana perubahan infrastruktur media membentuk inovasi bahasa dan negosiasi identitas anak muda dalam budaya populer Indonesia.
Inflectional Morphemes and Their Grammatical Functions in Owl City`s Album Ocean Eyes (2009) Hidayat, Muhammad Raihan; Rosalinah, Yanti
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50244

Abstract

This study investigates the grammatical functions and stylistic implications of inflectional morphemes in Owl City’s Ocean Eyes album (2009). Employing a qualitative descriptive design, the research analyzes how these morphological markers contribute to the lyrical structure based on the framework of Fromkin, Rodman, and Hyams (2018). Data were collected from official song lyrics, resulting in 151 identified words containing inflectional affixes. The findings reveal a significantly uneven distribution: noun plural markers are the most dominant category (63.8%), followed by verb inflections (32.5%) and adjective inflections (approximately 4%). The high frequency of plural nouns creates the vast, concrete imagery characteristic of the "dream pop" genre. Additionally, the predominance of third-person singular -s and present participle -ing establishes a narrative tone of immediacy and continuous action. The study concludes that inflectional morphemes in Ocean Eyes function not only to maintain grammatical accuracy but also to construct the album's distinct vivid and surreal aesthetic.  Abstrak Penelitian ini mengkaji fungsi gramatikal dan implikasi stilistika dari morfem infleksional dalam lirik album Ocean Eyes (2009) karya Owl City. Dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif, studi ini menganalisis bagaimana penanda morfologis tersebut berkontribusi pada struktur lirik berdasarkan kerangka teori Fromkin, Rodman, dan Hyams (2018). Data dikumpulkan dari lirik lagu resmi, menghasilkan 151 kata yang mengandung afiks infleksional. Temuan menunjukkan distribusi yang sangat tidak merata: penanda jamak nomina adalah kategori paling dominan (63,8%), diikuti oleh infleksi verba (32,5%) dan infleksi adjektiva (sekitar 4%). Tingginya frekuensi nomina jamak menciptakan citraan konkret dan luas yang menjadi ciri khas genre "dream pop". Selain itu, dominasi orang ketiga tunggal -s dan partisipel kini -ing membangun nada naratif yang terasa langsung dan berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa morfem infleksional dalam Ocean Eyes berfungsi tidak hanya untuk menjaga akurasi tata bahasa, tetapi juga untuk membangun estetika visual dan surealis yang khas dalam album tersebut.
Makna Asosiatif dalam Lagu Lihat Kebunku (Taman Bunga) Karya Aku Jeje: Kajian Semantik Gracella, Arinda; Suseno, Asterina Akbariani; Rahmania, Firli Azkiya; Juansah, Dase Erwin; Firmansyah, Dodi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50302

Abstract

This study aims to describe the types and functions of associative meanings in the lyrics of the song "lihat Kebunku (Flower Garden)" by Aku Jeje based on Leech's classification, and to explain how natural symbols are used to represent human emotions in the lyrics. The background of the study stems from the need for semantic analysis of song lyrics that are reinterpreted with new emotional nuances, but have not been widely studied academically. The method used is descriptive qualitative with data sources in the form of song lyrics that are analyzed through repeated reading techniques, recording elements of meaning, grouping categories, and interpreting connotative, affective, stylistic, social, and combined meanings. The results of the study show that there are 22 data containing associative meanings, consisting of 9 connotative meanings, 9 affective meanings, 1 stylistic meaning, 1 combined stylistic-connotative meaning, 1 combined connotative-affective meaning and 1 social meaning. These meanings are built through natural metaphors such as garden, flower, jasmine, gray, lay, bloom, and garden of the heart that represent love, loss, emotional vulnerability, and sincerity. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis dan fungsi makna asosiatif dalam lirik lagu Lihat Kebunku (Taman Bunga) versi Aku Jeje berdasarkan klasifikasi Leech, serta menjelaskan bagaimana simbol-simbol alam digunakan untuk merepresentasikan emosi manusia dalam lirik tersebut. Latar belakang penelitian berangkat dari kebutuhan analisis semantik terhadap lirik lagu yang direinterpretasi dengan nuansa emosional baru, namun belum banyak menjadi objek kajian akademik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa lirik lagu yang dianalisis melalui teknik membaca berulang, pencatatan unsur makna, pengelompokan kategori, serta penafsiran makna konotatif, afektif, stilistika, sosial, dan gabungan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 data yang mengandung makna asosiatif, terdiri atas 9 makna konotatif, 9 makna afektif, 1 makna stilistika, 1 makna gabungan stilistika-konotatif, 1 makna gabungan konotatif-afektif serta 1 makna sosial. Makna-makna tersebut dibangun melalui metafora alam seperti kebun, bunga, melati, kelabu, layu, mekar, dan taman hati yang merepresentasikan cinta, kehilangan, kerentanan emosional, hingga keikhlasan.
NO Way! BIRGing and CORFing by Football Fans in Their Reaction Videos toward Last Minute Goals Tamim, Faiz Fathurrahman; Abimanyu, Kevin; Nurbadriani, Zahra; Zahrah Zakiyah Hasna
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50534

Abstract

Football fandom has evolved into a digital space where emotions and identity are openly displayed. This study aims to examine how football fans express and manage emotions through expression and impression when reacting to last-minute goals. The problem addressed is how fans’ emotional behaviors reflect Basking in Reflected Glory (BIRGing) and Cutting Off Reflected Failure (CORFing) within social identity theory. Using a descriptive qualitative method, data were collected from fan reaction videos on social media, analyzed through verbal and non-verbal cues. The findings reveal that victory triggers expressions of pride and unity (BIRGing), while defeat leads to disappointment and emotional distancing (CORFing). These emotional reactions not only reveal spontaneous feelings but also reflect deeper psychological connections between fans and their supported teams. They demonstrate how football fans perform their social identity and collective emotion in digital spaces, making emotional expression part of online cultural participation. Overall, the study argues that reaction videos are not merely sources of entertainment but serve as performative acts of identity negotiation and emotional expression, reflecting how digital culture shapes modern fandom and social belonging. Abstrak Budaya penggemar sepak bola kini berkembang dalam ruang digital, tempat emosi dan identitas ditampilkan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penggemar sepak bola mengekspresikan dan mengelola emosi melalui expression dan impression saat menanggapi gol di menit-menit terakhir. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana perilaku emosional penggemar mencerminkan konsep Basking in Reflected Glory (BIRGing) dan Cutting Off Reflected Failure (CORFing) dalam kerangka teori identitas sosial. Dengan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dari video reaksi penggemar di media sosial dan dianalisis berdasarkan isyarat verbal dan nonverbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenangan memunculkan ekspresi kebanggaan dan kebersamaan (BIRGing), sedangkan kekalahan menimbulkan kekecewaan dan jarak emosional (CORFing). Reaksi emosional ini tidak hanya menunjukkan perasaan spontan, tetapi juga mencerminkan keterikatan psikologis yang lebih dalam antara penggemar dan tim yang mereka dukung. Hal ini memperlihatkan bagaimana penggemar sepak bola menampilkan identitas sosial dan emosi kolektifnya di ruang digital, menjadikan ekspresi emosi sebagai bagian dari partisipasi budaya daring. Secara keseluruhan, penelitian ini berpendapat bahwa video reaksi bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan tindakan performatif dalam negosiasi identitas dan ekspresi emosi yang mencerminkan bagaimana budaya digital membentuk fandom modern dan rasa kebersamaan sosial.
Morpheme of Heartbreak in Taylor Swift’s The Tortured Poest Department Album Ulfiyanti, Fika; Eryon, Eryon; Samanik, Samanik
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50683

Abstract

This study aims to analyze morphemic changes through the process of derivation in the lyrics of songs on Taylor Swift's The Tortured Poets Department, as well as explain the emotional and artistic functions that arise from these changes. The focus of the research includes three songs, namely But Daddy I Love Him, Fortnight, and Guilty as Sin?. The method used is qualitative descriptive with a morphological approach to identify forms of derivation, as well as an analysis of emotional and aesthetic meaning based on the stylistic theory of Leech (1981) and the conceptual metaphor of Lakoff and Johnson (1980). The results show that the use of prefixes (un-, dis-, a-) and suffixes (-y, -ful, -ous, -ing, -al, -ly, -ity, -er, -ic, -less, -ify, -ry) Not only does it change the class of words, but it also enriches the emotional meaning and artistic imagery in the lyrics. Derivation is used as a poetic strategy to describe inner conflicts, emotional vulnerability, and the dynamics of personal relationships in musical works. Thus, derivation serves not only grammatically but also as a means of creative expression that connects the structure of language with emotional experience in popular music.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfem melalui proses derivasi dalam lirik lagu pada album The Tortured Poets Department karya Taylor Swift, serta menjelaskan fungsi emosional dan artistik yang muncul dari perubahan tersebut. Fokus penelitian meliputi tiga lagu, yaitu But Daddy I Love Him, Fortnight, dan Guilty as Sin?. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan morfologi untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk derivasi, serta analisis makna emosional dan estetik berdasarkan teori stilistika Leech (1981) dan metafora konseptual Lakoff dan Johnson (1980). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan prefiks (un-, dis-, a-) dan sufiks (-y, -ful, -ous, -ing, -al, -ly, -ity, -er, -ic, -less, -ify, -ry) tidak hanya mengubah kelas kata, tetapi juga memperkaya makna emosional dan citraan artistik dalam lirik. Derivasi digunakan sebagai strategi puitis untuk menggambarkan konflik batin, kerentanan emosional, serta dinamika hubungan personal dalam karya musik. Dengan demikian, derivasi berfungsi tidak hanya secara gramatikal, tetapi juga sebagai sarana ekspresi kreatif yang menghubungkan struktur bahasa dengan pengalaman emosional dalam musik populer.
Analisis Gramatikal Ambiguitas dalam Program Legislasi Nasional Tahun 2026 Syaharani, Aurelia; Milatina, Sayidatim; Oktafiani, Sekar; Reranta, Redika Cindra
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50819

Abstract

This study aims to analyze grammatical ambiguities found in the 2026 Draft State Budget Law (Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, RUU APBN), which is part of the 2026 National Legislation Programme (Prolegnas). The clarity of legal language plays a crucial role in public policy formulation, as syntactic inaccuracies may lead to semantic confusion and open the possibility for multiple interpretations of policy intent. Using a descriptive qualitative approach and grammatical analysis methods, this study examines sentences within the 2026 Draft State Budget Law that demonstrate potential ambiguity. The analysis focuses on decomposing syntactic structures and classifying types of ambiguity according to their grammatical characteristics. The results indicate that grammatical ambiguities in the 2026 Draft State Budget Law fall into two major categories: referential ambiguity and structural ambiguity. Referential ambiguity arises from unclear referents or indeterminate meanings of sentence elements, whereas structural ambiguity results from imprecise syntactic arrangements that allow for more than one possible interpretation. These ambiguities may lead to differing understandings of policy content and the intended legal norms of the legislators. Therefore, this study highlights the importance of accuracy and consistency in the drafting of governmental legal language, especially in fiscal policy documents, to ensure that policy meanings are communicated explicitly, avoid multiple interpretations, and support both legal certainty and effective policy implementation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ambiguitas gramatikal yang terdapat dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun 2026 yang menjadi bagian dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026. Kejelasan bahasa hukum memegang peranan penting dalam perumusan kebijakan publik, sebab ketidaktepatan struktur sintaksis dapat menimbulkan kerancuan makna dan membuka peluang penafsiran ganda terhadap maksud kebijakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis gramatikal. Data yang dianalisis berupa kalimat-kalimat dalam naskah RUU APBN 2026 yang menunjukkan potensi ambiguitas. Analisis difokuskan pada penguraian unsur sintaksis serta pengelompokan jenis ambiguitas berdasarkan karakteristik gramatikalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambiguitas gramatikal dalam naskah RUU APBN 2026 terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu ambiguitas referensial dan ambiguitas struktural. Ambiguitas referensial muncul akibat ketidakjelasan acuan atau penentuan makna unsur kalimat, sedangkan ambiguitas struktural timbul karena penyusunan unsur kalimat yang tidak tegas sehingga memungkinkan lebih dari satu interpretasi. Ambiguitas tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan pemahaman terhadap isi kebijakan dan arah norma hukum yang dimaksudkan pembuat undang-undang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam penyusunan bahasa hukum pemerintah di masa yang akan datang, khususnya dalam dokumen kebijakan fiskal, agar makna kebijakan dapat disampaikan secara eksplisit, tidak menimbulkan multitafsir, serta mendukung kepastian hukum dan efektivitas implementasi kebijakan pemerintah.
Sarcasm Analysis Meme 'Adit, tolongin dit' Using Pragmatic Studies Agustinah, Agustinah; Eryon, Eryon
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.50972

Abstract

his study analyzes the forms and functions of sarcasm in viral memes and audio parodies on social media using a pragmatic approach. The results show that sarcasm does not merely function as a form of ridicule but becomes a mechanism of humor that emerges through the discrepancy between literal utterances and actual intentions. Based on Attardo's classification, the dominant forms of sarcasm in the data include aggressive sarcasm, mock politeness, ironic encouragement, and hyperbolic sarcasm, which function to criticize characters' behavior, express annoyance, and create comic effects through exaggerated emotional responses. All the data indicate that humor is formed through violations of Grice's maxims, particularly the maxims of quality, quantity, relevance, and manner. These violations do not signify a failure of communication but rather a deliberate linguistic strategy used to create digital humor. Additionally, memes work through a pragmatic construction based on emotional contrast—for example, when a request for help is met with a sarcastic response that enhances the comedic effect while making it easier for the audience to recognize the sarcasm. Overall, this study confirms that understanding sarcasm in digital culture depends on the pragmatic context and shared knowledge among users. Abstrak Studi ini menganalisis bentuk dan fungsi sarkasme dalam meme viral dan parodi audio di media sosial menggunakan pendekatan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ejekan, tetapi menjadi mekanisme humor yang muncul melalui ketidaksesuaian antara ucapan literal dan niat sebenarnya. Berdasarkan klasifikasi Attardo, bentuk sarkasme yang dominan dalam data meliputi sarkasme agresif, sopan santun palsu, dorongan ironis, dan sarkasme hiperbolik, yang berfungsi untuk mengkritik perilaku karakter, mengekspresikan ketidaknyamanan, dan menciptakan efek komik melalui respons emosional yang berlebihan. Semua data menunjukkan bahwa humor terbentuk melalui pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice, khususnya maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara. Pelanggaran ini tidak menandakan kegagalan komunikasi, melainkan strategi linguistik yang disengaja untuk menciptakan humor digital. Selain itu, meme bekerja melalui konstruksi pragmatik berdasarkan kontras emosional—misalnya, ketika permintaan bantuan dibalas dengan respons sarkastis yang memperkuat efek komedi sambil memudahkan audiens mengenali sarkasme. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pemahaman sarkasme dalam budaya digital bergantung pada konteks pragmatik dan pengetahuan bersama di antara pengguna.
Konstruksi Laki-Laki Ideal dalam Iklan Skincare Pemutih: Kajian Bahasa, Visual, dan Narasi di Media Sosial Djokowidodo, Agustinus; Bintoro, Putri
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51282

Abstract

The increasing phenomenon of men using skincare in the digital era indicates a shift in masculinity values, previously associated with physical toughness, toward aesthetics, self-care, and visual performativity. Whitening skincare advertisements on social media, particularly TikTok, play a significant role in constructing the ideal male: a man with bright, clean, athletic, and professional skin. This study aims to uncover how the language, visuals, and narratives of advertisements construct representations of modern masculinity through Fairclough's critical discourse analysis. The research method uses a qualitative approach, collecting data in the form of six whitening skincare advertisements for men, which are then analyzed across three dimensions: text, discursive practices, and socio-cultural practices. The results show that at the textual level, advertisements employ motivational and heroic lexicons, such as  dare to win it, fresh & clean, and "total masculine manhood," to reposition skincare as a masculine and competitive activity. Visual representations emphasize bright, glowing skin, an athletic body, a clean face, and a minimalist aesthetic as symbols of modernity and self-control. At the level of social practice, advertisements are proven to reproduce the ideology of colorism and whiteness by positioning light skin as a standard of success, hygiene, and social status in modern masculinity. The research conclusion confirms that whitening skincare advertisements not only offer beauty products but also become an arena for identity production that normalizes new standards of masculinity on social media. Abstrak Penelitian ini menganalisis bagaimana iklan skincare pemutih di media sosial membentuk konstruksi laki-laki ideal melalui perpaduan bahasa, visual, dan narasi yang menormalisasi perawatan kulit sebagai bagian dari maskulinitas modern. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, penelitian ini mengkaji tiga dimensi wacana, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level teks, iklan menggunakan leksikon motivasional (berani memenangkannya, fresh, brightens instantly) dan struktur tuturan heroik-kompetitif yang mereposisi skincare sebagai aktivitas maskulin, dinamis, dan terkait performativitas. Representasi visual memperkuat wacana ini melalui penampilan tubuh atletis, kulit cerah, close-up wajah glowing, serta estetika minimalis, sehingga menampilkan figur laki-laki modern yang bersih, kuat, dan profesional. Pada level praktik diskursif, industri skincare dan influencer marketing berperan sebagai produsen wacana yang menormalisasi penggunaan skincare melalui narasi autentisitas dan aspirasi diri. Sementara itu, laki-laki muda sebagai konsumen aktif menginternalisasi standar estetika baru tersebut melalui interpretative repertoires. Pada dimensi praktik sosial-budaya, iklan terbukti mereproduksi ideologi colorism dan whiteness dengan memposisikan kulit cerah sebagai simbol status, higienitas, dan kesuksesan. Temuan ini menegaskan bahwa iklan skincare pemutih merupakan arena penting dalam produksi identitas maskulin di era digital.
Kolokasi dan Prosodi Semantik pada Kata Capek, Lelah dan Penat Berbasis Linguistik Korpus Hasbiallah, Zahra Hapriani
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51419

Abstract

Sinonyny is an important component of a language’s lexical system, as words with similar meanings cannot always be used interchangeably in real-life contexts. Language learners often understand differences between synonyms only in terms of their lexical meanings, without considering usage contexts and subtle semantic nuances, which can lead to difficulties in language comprehension. The development of corpus linguistics provides an empirical approach that enables the analysis of word usage based on authentic language data. This study examines the different meanings and usage patterns of the Indonesian words capek, lelah and penat by employing the LCC Indonesia 2023 corpus and a qualitative corpus-based approach. The findings indicate that capek tends to be used subjectively and informally, lelah is used in a neutral and descriptive manner, and penat is used in an emotional and reflective context. These results demonstrate that the synonymy among the three words is contextual in nature and has important implications for lexical semantic studies and vocabulary learning in Indonesian. Abstrak Sinonim merupakan komponen penting dalam sistem kosakata bahasa, karena pilihan kata yang serupa tidak selalu dapat menggantikan satu sama lain dalam kehidupan nyata. Seringkali, orang yang mempelajari bahasa hanya memahami perbedaan sinonim berdasarkan makna leksikalnya, tanpa mempertimbangkan konteks penggunaan dan nuansa makna. Ini menyebabkan masalah dalam memahami bahasa. Perkembangan linguistik korpus memberikan pendekatan empiris yang memungkinkan analisis penggunaan kata yang didasarkan pada data nyata. Kajian ini meneliti penggunaan makna yang berbeda dari kata capek, lelah dan penat dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan LCC Indonesia 2023 dan pendekatan kualitatif berbasis korpus. Hasil analisis menunjukkan bahwa capek cenderung digunakan secara subjektif dan informal, lelah digunakan secara netral dan deskriptif, dan penat digunakan secara emosional dan reflektif. Hasil menunjukkan bahwa sinonimi ketiga kata tersebut bersifat kontekstual dan penting untuk studi semantik leksikal dan pembelajaran kosakata dalam bahasa Indonesia.
Pelanggaran Maksim Kuantitas Mahasiswa Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran Fathnindhia, Khansa Azmilika; Sunarni, Nani; Sutami, Hermina
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51774

Abstract

The Chinese Language and Culture study program is one of the study programs at the Faculty of Cultural Sciences, Padjadjaran University. Students in this study program come from various regions in Indonesia, and they are studying a foreign language, namely Chinese. Therefore, this study aims to analyze violations of the cooperative principle in students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. This study uses a descriptive-qualitative method. The researcher applies one major theory in analyzing this study, namely the Cooperative Principle theory proposed by Grice (1975). The subjects of this study were first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University who acted as respondents and became data sources, while the objects of this study were the utterances produced by first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. The method used in data collection was the Discourse Completion Tasks (DCT) method, and the data analysis method used pragmatic and referential equivalent methods according to Sudaryanto's view (2015). Based on the results of the analysis, it shows that the violations of the cooperative principle that were often found were violations of the cooperative principle of the maxim of quantity. Abstrak Program studi Bahasa dan Budaya Tiongkok merupakan salah satu program studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, mahasiswa pada program studi tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka mengemban pendidikan untuk mempelajari bahasa asing, yaitu bahasa Tiongkok. Oleh karena itu, penelitian ini ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran prinsip kerja sama pada mahasiswa jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Peneliti menerapkan satu teori besar dalam menganalisis penelitian ini, yaitu teori Prinsip Kerja Sama yang dikemukakan oleh Grice (1975). Subjek penelitian ini menggunakan mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran yang berperan sebagai responden dan menjadi sumber data, sedangkan objek penelitian ini adalah tuturan yang diproduksi oleh mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode Discourse Completion Tasks (DCT), serta metode analisis data dengan menggunakan metode padan pragmatis dan referensial menurut pandangan Sudaryanto (2015). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama yang sering ditemukan adalah pelanggaran prinsip kerja sama maksim kuantitas yang paling sering ditemukan.