cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 201 Documents
Code-Mixing in Agatha Chelsea’s Utterances on Raditya Dika’s YouTube Podcast Nababan, Sundari Daratista; Pasaribu, Arsen Nahum; Sembiring, Rony Arahta
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54197

Abstract

This study aims to analyze the types and contextual patterns of code-mixing in the utterances of Agatha Chelsea on Raditya Dika’s YouTube podcast using Muysken’s (2000) typology. This study employs a descriptive qualitative method. The data consist of 173 utterances containing Indonesian-English code-mixing, collected through documentation and transcription, while data analysis is conducted using coding based on Muysken’s structural classification and contextual observation. The results show that insertion is the dominant type (67.6%), followed by alternation (15.0%) and congruent lexicalization (17.4%). In terms of conversational contexts, insertion functions as a basic strategy across all settings. Alternation appears most frequently in interpersonal and relational contexts, where it marks shifts in perspective. Congruent lexicalization is prominent in academic and scientific discourse as well as in professional and creative practice, reflecting closer structural integration between the two languages. These findings indicate that code-mixing in Agatha Chelsea’s speech is systematic and varies according to conversational context. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dan pola kontekstual campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea pada podcast YouTube Raditya Dika menggunakan tipologi Muysken (2000). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data berupa 173 ujaran yang mengandung campur kode bahasa Indonesia-Inggris dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan transkripsi, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik pengkodean berdasarkan klasifikasi struktural Muysken dan observasi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insertion merupakan jenis yang paling dominan (67,6%), diikuti oleh alternation (15,0%) dan congruent lexicalization (17,4%). Dalam konteks percakapan, insertion berfungsi sebagai strategi dasar di seluruh situasi. Alternation paling banyak ditemukan dalam konteks interpersonal dan relasional, berfungsi menandai pergeseran perspektif. Congruent lexicalization muncul secara menonjol dalam wacana akademis dan ilmiah serta praktik profesional dan kreatif, mencerminkan integrasi struktural yang lebih erat antara kedua bahasa. Temuan ini menunjukkan bahwa campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea bersifat sistematis dan bervariasi sesuai konteks percakapan.
The Function of Language in Advertisements that Promote Fair Skin as a Beauty Standard Simbolon, Lilis Veronika; Manik, Sondang; Sihite, Jubil Ezer
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54332

Abstract

This study examines the role of language in beauty advertisements that promote fair skin as a beauty standard. It aims to identify the language functions used and to explain how these functions contribute to the construction of fair skin as an ideal of beauty. The problem of this study focuses on how language is used to influence and shape audience perceptions in advertising discourse. This research employs a descriptive qualitative method. The data consist of 20 beauty advertisements collected from TikTok and YouTube, focusing on verbal elements such as slogans and persuasive expressions. The analysis is based on Roman Jakobson’s theory of language functions. The findings show that the conative function is the most dominant, followed by poetic and emotive functions. Overall, the study reveals that language in beauty advertisements plays a significant role in constructing and reinforcing fair skin as a beauty standard. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran bahasa dalam iklan kecantikan yang mempromosikan kulit putih sebagai standar kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa yang digunakan serta menjelaskan bagaimana fungsi-fungsi tersebut berkontribusi dalam pembentukan kulit putih sebagai ideal kecantikan. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana bahasa digunakan untuk memengaruhi dan membentuk persepsi audiens dalam wacana periklanan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian terdiri dari 20 iklan kecantikan yang dikumpulkan dari TikTok dan YouTube, dengan fokus pada unsur verbal seperti slogan dan ungkapan persuasif. Analisis didasarkan pada teori fungsi bahasa Roman Jakobson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi konatif merupakan yang paling dominan, diikuti oleh fungsi puitik dan emotif. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa bahasa dalam iklan kecantikan memainkan peran penting dalam membangun dan memperkuat kulit putih sebagai standar kecantikan.
Tuturan Netizen Arab Saudi dan Yaman Pada Kolom Komentar Akun Media Sosial Youtube Alarabiya العربية Dengan Judul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَن Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad; Suri, Nursukma
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54811

Abstract

This study focuses on the illocutionary acts of Yemeni and Saudi Arabian netizens in the YouTube العربية comment section related to a video titled اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. The purpose of this study is to describe the form, type, and meaning of the utterances. This study uses a qualitative descriptive approach and technique. The results found in the utterances were 5 assertive, 4 directive, 2 commissive, and 4 expressive. Abstrak Studi ini berfokus pada tindakan ilokusi netizen Yaman dan Arab Saudi di bagian komentar YouTube العربية terkait dengan video berjudul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, jenis, dan makna ucapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan teknik deskriptif kualitatif. Hasil yang ditemukan dalam ucapan tersebut adalah 5 asertif, 4 direktif, 2 komisif, dan 4 ekspresif.
Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Dermawan, Fadli; Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55038

Abstract

Politeness in language is a crucial aspect of maintaining harmony in social interactions, yet in practice it is often violated, particularly in conflict situations. This study aims to describe the forms of violations of politeness principles in the film *Bekas* (2012) by Karzan Kader based on Geoffrey Leech’s theory. The method used is qualitative descriptive with documentation techniques through repeated viewings, dialogue recording, and discourse context analysis. The results show that the most dominant violations occur in the maxims of respect and sympathy, characterized by the use of insults, derogatory remarks, and threats. Violations were also found in the maxims of politeness, modesty, and agreement to a limited extent. These findings indicate that violations of politeness are influenced by social pressure, the psychological state of the characters, and conflict situations, thereby underscoring the importance of linguistic politeness in maintaining the quality of social interaction. Abstrak Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial, namun dalam praktiknya sering mengalami pelanggaran, khususnya dalam situasi konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas (2012) karya Karzan Kader berdasarkan teori Geoffrey Leech. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi melalui penayangan berulang, pencatatan dialog, dan analisis konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling dominan terjadi pada maksim penghargaan dan kesimpatian, yang ditandai oleh penggunaan ujaran berupa cacian, hinaan, dan ancaman. Pelanggaran juga ditemukan pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan dalam jumlah terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan dipengaruhi oleh tekanan sosial, kondisi psikologis tokoh, serta situasi konflik, sehingga menegaskan pentingnya kesantunan berbahasa dalam menjaga kualitas interaksi sosial.
Tindak Tutur Ilokusi dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho Faizah, Filla Aulia Nur; Muarifin, Moch; Lailiyah, Nur
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55254

Abstract

The illocutionary speaking performances in Muhadkly Acho's film Agak Laen are the focus of this research. This research intends to describe the film's illocutionary speech actions and the roles they play. The data was gathered using a qualitative descriptive technique, with characters' talks being systematically observed and transcribed. The analysis was conducted based on the theories put forward by Searle (1979) and Leech (2015), respectively, for the classification of illocutionary act forms and functions. The five types of data were as follows: assertive (56 points), directive (34 points), commissive (3), expressive (11 points), and declaration (1). Together, the four functions of competitiveness (14 points), pleasantry (17 points), collaboration (18 points), and conflictive (3) yielded 52 data points. Out of all the forms, the directive one was the most common, with 24 data points belonging to the commanding sub-type; the stating sub-type, with 15 points, represented the collaborative function. All of this points to the fact that there is a wide range of intended meanings conveyed via character speech in Agak Laen. Abstrak Riset ini berfokus pada tindak tutur ilokusi dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur ilokusi film dan peran yang dimainkannya. Data dikumpulkan memakai teknik deskriptif kualitatif, serta menggunakan teknik pengumpulan simak catat dengan percakapan karakter diamati dan ditranskripsikan secara sistematis. Analisis dilaksanakan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Searle (1979) dan Leech (2015), masing-masing, untuk klasifikasi bentuk dan fungsi aksi ilokusi. Lima jenis data tersebut adalah sebagai berikut: asertif (56 poin), direktif (34 poin), komisif (3), ekspresif (11 poin), dan deklarasi (1). Bersama-sama, empat fungsi yaitu daya saing (14 poin), keramahan (17 poin), kolaborasi (18 poin), dan konfliktif (3) menghasilkan 52 poin data. Dari semua bentuk tersebut, bentuk direktif adalah yang paling umum, dengan 24 poin data termasuk dalam subtipe memerintah; Subtipe pernyataan, dengan 15 poin, mewakili fungsi kolaboratif. Semua ini menunjukkan bahwa ada beragam makna yang dimaksudkan yang disampaikan melalui ucapan karakter di Agak Laen.
Bald on Record and Positive Impoliteness in Indonesian Speech Discourse: A Sociolinguistic Study of Prabowo’s Speech at the 2026 National Coordination Meeting on the Environmental Crisis in Bali Nangi, Sitrin Loda; Erfiani, Ni Made Diana; Awolon, Yohanes Octovianus Lesu; Dewi, Putu Chrisma
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.56333

Abstract

This study examines the use of bald on record and positive impoliteness strategies in President Prabowo Subianto's speech at the National Coordination Meeting (Rakornas) of the Central and Regional Governments held on February 2, 2026. In that forum, the President openly reprimanded the governors and regents of Bali in front of thousands of regional heads from all over Indonesia for their failure to handle the waste crisis, which was deemed to tarnish the national tourism image. This research uses a descriptive qualitative approach by applying Culpeper's (1996; 2011) impoliteness theory framework as the analytical instrument. The data are sourced from official transcripts and video recordings of the speech published by CNN Indonesia (2026) and cross referenced with the official transcript from the Cabinet Secretariat of the Republic of Indonesia.  The analysis results show that the bald on record impoliteness strategy dominates through direct criticism without mitigation and explicit commands, while positive impoliteness is present through utterances that publicly belittle the competence of regional officials. Abstrak Studi ini meneliti penggunaan strategi bald on record dan positive impoliteness dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang diadakan pada 2 Februari 2026. Dalam forum tersebut, Presiden secara terbuka menegur para gubernur dan bupati Bali di depan ribuan kepala daerah dari seluruh Indonesia atas kegagalan mereka menangani krisis sampah, yang dianggap mencemari citra pariwisata nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menerapkan kerangka teori ketidaksopanan Culpeper (1996; 2011) sebagai instrumen analisis. Data diambil dari transkrip resmi dan rekaman video pidato yang diterbitkan oleh CNN Indonesia (2026) dan dicross-referensikan dengan transkrip resmi dari Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi ketidaksopanan bald on record mendominasi melalui kritik langsung tanpa mitigasi dan perintah eksplisit, sementara ketidaksopanan positif hadir melalui ucapan yang secara publik merendahkan kompetensi pejabat daerah.
Analisis Tindak Tutur Direktif dalam Interaksi Mahasiswa Pada Grup Whatsapp Kegiatan Kemahasiswaan Maghfiroh, Nadia Ainul; Marisah, Marisah; Karima, Azmi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.56942

Abstract

This study examined directive speech acts within student organizational communication in the WhatsApp group “Humas Pelantikan.” In the digital era, communication occured not only face-to-face but also via social media platforms, with WhatsApp being widely used by students for coordination purposes. The research aimed to analyze and describe the forms and meanings of directive speech acts employed within the group. A descriptive qualitative methodology with a pragmatic approach was adopted. Data were collected through observational and note-taking techniques, focusing on interactions among group members. The analysis draws upon Searle’s classification of speech acts. Findings indicate that directive speech acts appear frequently in several forms, including suggestions, prohibitions, requests, questions, and commands, with commands being the most prevalent. The use of polite expressions such as tolong (please) and jangan lupa (don’t forget) suggests that students seek to maintain politeness when issuing instructions. In conclusion, directive speech acts play a significant role in facilitating effective communication and coordination within student organizations.  Abstrak Penelitian ini mengkaji tindak tutur direktif dalam komunikasi organisasi mahasiswa pada grup WhatsApp “Humas Pelantikan.” Di era digital, komunikasi tidak hanya terjadi secara tatap muka, tetapi juga berlangsung melalui platform media sosial, khususnya WhatsApp, yang banyak digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan koordinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bentuk serta makna tindak tutur direktif yang digunakan dalam grup tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan pencatatan dengan fokus pada interaksi antaranggota grup. Analisis didasarkan pada klasifikasi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif muncul dalam berbagai bentuk, seperti saran, larangan, permintaan, pertanyaan, dan perintah. Perintah merupakan jenis yang paling dominan ditemukan dalam data. Penggunaan ungkapan kesantunan seperti “Tolong,” dan “Jangan lupa,” menunjukkan bahwa mahasiswa tetap menjaga kesopanan saat memberikan instruksi. Kesimpulannya, tindak tutur direktif memiliki peran penting dalam mendukung komunikasi dan koordinasi yang efektif dalam organisasi mahasiswa.
Krisis Identitas Perempuan dalam Cerpen Ibu Karya Zulfah Nur Alimah Septiani, Nur Alifah
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.58373

Abstract

omen in patriarchal societies are always confronted with social constructs that place the domestic sphere as the primary space for fulfilling their identity. This condition gradually obscures women's personal identities because their existence is more often interpreted thru their roles as wives and mothers. This study uses a descriptive qualitative method to reveal the identity crisis of women found in the short story "Ibu" by Zulfah Nur Alimah from a liberal feminist perspective. The research results show that the identity crisis is formed thru choices that appear to be personal decisions, but are actually driven by patriarchal values that place women in a subordinate position. As a result, the autonomy of female characters is superficial because the choices made always occur within the boundaries of social values that have previously shaped and determined the ideal roles of women in society. Abstrak Perempuan dalam masyarakat patriakal selalu dihadapkan pada konstruksi sosial yang menempatkan ranah domestik sebagai ruang utama bagi pemenuhan identitasnya. Kondisi tersebut secara perlahan mengaburkan identitas personal perempuan karena keberadaannya lebih dimaknai melalui peran sebagai istri dan ibu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengungkap krisis identitas perempuan yang terdapat dalam cerpen Ibu karya Zulfah Nur Alimah dengan perspektif feminisme liberal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis identitas tersebut terbentuk melalui pilihan-pilihan yang tampak sebagai keputusan personal, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh nilai-nilai patriarkal yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Akibatnya, otonomi perempuan bersifat semu karena pilihan yang diambil senantiasa berlangsung dalam batas-batas nilai sosial yang telah lebih dahulu membentuk dan menentukan peran ideal perempuan di dalam masyarakat.
Form and Meaning of Tanah Lot Tourism Brochure from Indonesian to English : A Translation Study Djami, Kessy Anggreni; Erfiani, Ni Made Diana; Awololon, Yohanes Octovianus Lesu
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.58403

Abstract

This study aims to analyze the forms and meanings found in the translation of the Tanah Lot tourism brochure from Indonesian into English by applying Larson’s (1988) theory of form-based and meaning-based translation and Leech’s (1981) theory of the seven types of meaning. This study employed a descriptive qualitative method, using the bilingual Tanah Lot tourism brochure as the primary data source. The data were collected through document analysis and classified according to translation forms and meaning types. The findings reveal two translation forms in the brochure: form-based translation and meaning-based translation. Four data were identified as form-based translation, while seven data were categorized as meaning-based translation. Form-based translation was mainly used for proper names, locational descriptions, operational information, and institutional labels, whereas meaning-based translation was applied to culturally and spiritually significant expressions. The analysis also shows that conceptual meaning is the most dominant type of meaning, followed by connotative, social, affective, reflected, and collocative meanings. The study concludes that meaning-based translation is more effective in conveying cultural concepts and maintaining naturalness, while form-based translation is suitable for preserving factual information in tourism texts. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan makna yang terdapat dalam terjemahan brosur wisata Tanah Lot dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dengan menggunakan teori penerjemahan berbasis bentuk dan berbasis makna dari Larson (1988) serta teori tujuh jenis makna dari Leech (1981). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan brosur wisata bilingual Tanah Lot sebagai sumber data utama. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dan diklasifikasikan berdasarkan bentuk penerjemahan serta jenis makna. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua bentuk penerjemahan dalam brosur, yaitu penerjemahan berbasis bentuk dan penerjemahan berbasis makna. Sebanyak empat data termasuk dalam penerjemahan berbasis bentuk dan tujuh data termasuk dalam penerjemahan berbasis makna. Penerjemahan berbasis bentuk digunakan pada nama diri, deskripsi lokasi, informasi operasional, dan label institusional, sedangkan penerjemahan berbasis makna digunakan pada ungkapan yang mengandung unsur budaya dan spiritual. Analisis juga menunjukkan bahwa makna konseptual merupakan jenis makna yang paling dominan, diikuti oleh makna konotatif, sosial, afektif, reflektif, dan kolokatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerjemahan berbasis makna lebih efektif dalam menyampaikan konsep budaya dan menjaga kealamiahan bahasa sasaran, sedangkan penerjemahan berbasis bentuk lebih sesuai untuk mempertahankan informasi faktual dalam teks pariwisata.
Tindak Tutur Ilokusi dan Pesan Moralitas dalam Lirik Lagu Hindia pada Album Doves, ’25 on Blank Canvas Sahid, Rahmat; Istiqamah, Istiqamah; Nazharullah , Ridha
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.58560

Abstract

This study identifies illocutionary speech act types and describes moral messages in Hindia's lyrics on the album Doves, '25 On Blank Canvas, motivated by the urgency of pragmatic studies on Indonesian popular music as a medium for constructing moral values. A qualitative descriptive method was used; data were collected from 16 songs on Hindia's YouTube channel and analyzed via Miles and Huberman's interactive model. The framework combines Searle's illocutionary acts (assertive, directive, commissive, expressive, declarative) and Suseno's moral principles (justice, benevolence, self-respect). Findings show 279 illocutionary data dominated by assertive acts (55.9%), followed by expressive (22.9%), directive (14.0%), and commissive (7.2%); no declarative acts found, with 48 multi-illocutionary data identified. Justice appears through directive acts criticizing social injustice; benevolence through expressive and assertive acts of empathy and solidarity; self-respect through commissive and expressive acts affirming self-acceptance and psychological recovery. Dominant moral messages include social criticism, empathy, solidarity, and post-trauma self-acceptance.  Abstrak Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis tindak tutur ilokusi dan mendeskripsikan pesan moralitas dalam lirik lagu Hindia pada album Doves, '25 On Blank Canvas, dilatarbelakangi urgensi kajian pragmatik terhadap musik populer Indonesia sebagai medium konstruksi nilai moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif; data dikumpulkan dari 16 lagu bersumber kanal YouTube resmi Hindia dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Kerangka teori memadukan tindak tutur ilokusi Searle (asertif, direktif, komisif, ekspresif, deklaratif) dan prinsip moral Suseno (keadilan, sikap baik, hormat terhadap diri sendiri). Hasil menunjukkan 279 data tindak tutur ilokusi didominasi tindak tutur asertif (55,9%), diikuti ekspresif (22,9%), direktif (14,0%), dan komisif (7,2%); tindak tutur deklaratif tidak ditemukan, dengan 48 data multi-ilokusi teridentifikasi. Prinsip keadilan termanifestasi melalui tindak tutur direktif berupa kritik ketidakadilan sosial; sikap baik melalui tindak tutur ekspresif dan asertif berupa empati dan solidaritas; hormat terhadap diri sendiri melalui tindak tutur komisif dan ekspresif berupa penerimaan diri dan pemulihan pascatrauma.