cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 195 Documents
Code-Mixing in Agatha Chelsea’s Utterances on Raditya Dika’s YouTube Podcast Nababan, Sundari Daratista; Pasaribu, Arsen Nahum; Sembiring, Rony Arahta
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54197

Abstract

This study aims to analyze the types and contextual patterns of code-mixing in the utterances of Agatha Chelsea on Raditya Dika’s YouTube podcast using Muysken’s (2000) typology. This study employs a descriptive qualitative method. The data consist of 173 utterances containing Indonesian-English code-mixing, collected through documentation and transcription, while data analysis is conducted using coding based on Muysken’s structural classification and contextual observation. The results show that insertion is the dominant type (67.6%), followed by alternation (15.0%) and congruent lexicalization (17.4%). In terms of conversational contexts, insertion functions as a basic strategy across all settings. Alternation appears most frequently in interpersonal and relational contexts, where it marks shifts in perspective. Congruent lexicalization is prominent in academic and scientific discourse as well as in professional and creative practice, reflecting closer structural integration between the two languages. These findings indicate that code-mixing in Agatha Chelsea’s speech is systematic and varies according to conversational context. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dan pola kontekstual campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea pada podcast YouTube Raditya Dika menggunakan tipologi Muysken (2000). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data berupa 173 ujaran yang mengandung campur kode bahasa Indonesia-Inggris dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan transkripsi, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik pengkodean berdasarkan klasifikasi struktural Muysken dan observasi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insertion merupakan jenis yang paling dominan (67,6%), diikuti oleh alternation (15,0%) dan congruent lexicalization (17,4%). Dalam konteks percakapan, insertion berfungsi sebagai strategi dasar di seluruh situasi. Alternation paling banyak ditemukan dalam konteks interpersonal dan relasional, berfungsi menandai pergeseran perspektif. Congruent lexicalization muncul secara menonjol dalam wacana akademis dan ilmiah serta praktik profesional dan kreatif, mencerminkan integrasi struktural yang lebih erat antara kedua bahasa. Temuan ini menunjukkan bahwa campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea bersifat sistematis dan bervariasi sesuai konteks percakapan.
The Function of Language in Advertisements that Promote Fair Skin as a Beauty Standard Simbolon, Lilis Veronika; Manik, Sondang; Sihite, Jubil Ezer
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54332

Abstract

This study examines the role of language in beauty advertisements that promote fair skin as a beauty standard. It aims to identify the language functions used and to explain how these functions contribute to the construction of fair skin as an ideal of beauty. The problem of this study focuses on how language is used to influence and shape audience perceptions in advertising discourse. This research employs a descriptive qualitative method. The data consist of 20 beauty advertisements collected from TikTok and YouTube, focusing on verbal elements such as slogans and persuasive expressions. The analysis is based on Roman Jakobson’s theory of language functions. The findings show that the conative function is the most dominant, followed by poetic and emotive functions. Overall, the study reveals that language in beauty advertisements plays a significant role in constructing and reinforcing fair skin as a beauty standard. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran bahasa dalam iklan kecantikan yang mempromosikan kulit putih sebagai standar kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa yang digunakan serta menjelaskan bagaimana fungsi-fungsi tersebut berkontribusi dalam pembentukan kulit putih sebagai ideal kecantikan. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana bahasa digunakan untuk memengaruhi dan membentuk persepsi audiens dalam wacana periklanan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian terdiri dari 20 iklan kecantikan yang dikumpulkan dari TikTok dan YouTube, dengan fokus pada unsur verbal seperti slogan dan ungkapan persuasif. Analisis didasarkan pada teori fungsi bahasa Roman Jakobson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi konatif merupakan yang paling dominan, diikuti oleh fungsi puitik dan emotif. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa bahasa dalam iklan kecantikan memainkan peran penting dalam membangun dan memperkuat kulit putih sebagai standar kecantikan.
Tuturan Netizen Arab Saudi dan Yaman Pada Kolom Komentar Akun Media Sosial Youtube Alarabiya العربية Dengan Judul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَن Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad; Suri, Nursukma
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54811

Abstract

This study focuses on the illocutionary acts of Yemeni and Saudi Arabian netizens in the YouTube العربية comment section related to a video titled اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. The purpose of this study is to describe the form, type, and meaning of the utterances. This study uses a qualitative descriptive approach and technique. The results found in the utterances were 5 assertive, 4 directive, 2 commissive, and 4 expressive. Abstrak Studi ini berfokus pada tindakan ilokusi netizen Yaman dan Arab Saudi di bagian komentar YouTube العربية terkait dengan video berjudul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, jenis, dan makna ucapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan teknik deskriptif kualitatif. Hasil yang ditemukan dalam ucapan tersebut adalah 5 asertif, 4 direktif, 2 komisif, dan 4 ekspresif.
Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Dermawan, Fadli; Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55038

Abstract

Politeness in language is a crucial aspect of maintaining harmony in social interactions, yet in practice it is often violated, particularly in conflict situations. This study aims to describe the forms of violations of politeness principles in the film *Bekas* (2012) by Karzan Kader based on Geoffrey Leech’s theory. The method used is qualitative descriptive with documentation techniques through repeated viewings, dialogue recording, and discourse context analysis. The results show that the most dominant violations occur in the maxims of respect and sympathy, characterized by the use of insults, derogatory remarks, and threats. Violations were also found in the maxims of politeness, modesty, and agreement to a limited extent. These findings indicate that violations of politeness are influenced by social pressure, the psychological state of the characters, and conflict situations, thereby underscoring the importance of linguistic politeness in maintaining the quality of social interaction. Abstrak Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial, namun dalam praktiknya sering mengalami pelanggaran, khususnya dalam situasi konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas (2012) karya Karzan Kader berdasarkan teori Geoffrey Leech. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi melalui penayangan berulang, pencatatan dialog, dan analisis konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling dominan terjadi pada maksim penghargaan dan kesimpatian, yang ditandai oleh penggunaan ujaran berupa cacian, hinaan, dan ancaman. Pelanggaran juga ditemukan pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan dalam jumlah terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan dipengaruhi oleh tekanan sosial, kondisi psikologis tokoh, serta situasi konflik, sehingga menegaskan pentingnya kesantunan berbahasa dalam menjaga kualitas interaksi sosial.
Tindak Tutur Ilokusi dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho Faizah, Filla Aulia Nur; Muarifin, Moch; Lailiyah, Nur
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55254

Abstract

The illocutionary speaking performances in Muhadkly Acho's film Agak Laen are the focus of this research. This research intends to describe the film's illocutionary speech actions and the roles they play. The data was gathered using a qualitative descriptive technique, with characters' talks being systematically observed and transcribed. The analysis was conducted based on the theories put forward by Searle (1979) and Leech (2015), respectively, for the classification of illocutionary act forms and functions. The five types of data were as follows: assertive (56 points), directive (34 points), commissive (3), expressive (11 points), and declaration (1). Together, the four functions of competitiveness (14 points), pleasantry (17 points), collaboration (18 points), and conflictive (3) yielded 52 data points. Out of all the forms, the directive one was the most common, with 24 data points belonging to the commanding sub-type; the stating sub-type, with 15 points, represented the collaborative function. All of this points to the fact that there is a wide range of intended meanings conveyed via character speech in Agak Laen. Abstrak Riset ini berfokus pada tindak tutur ilokusi dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur ilokusi film dan peran yang dimainkannya. Data dikumpulkan memakai teknik deskriptif kualitatif, serta menggunakan teknik pengumpulan simak catat dengan percakapan karakter diamati dan ditranskripsikan secara sistematis. Analisis dilaksanakan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Searle (1979) dan Leech (2015), masing-masing, untuk klasifikasi bentuk dan fungsi aksi ilokusi. Lima jenis data tersebut adalah sebagai berikut: asertif (56 poin), direktif (34 poin), komisif (3), ekspresif (11 poin), dan deklarasi (1). Bersama-sama, empat fungsi yaitu daya saing (14 poin), keramahan (17 poin), kolaborasi (18 poin), dan konfliktif (3) menghasilkan 52 poin data. Dari semua bentuk tersebut, bentuk direktif adalah yang paling umum, dengan 24 poin data termasuk dalam subtipe memerintah; Subtipe pernyataan, dengan 15 poin, mewakili fungsi kolaboratif. Semua ini menunjukkan bahwa ada beragam makna yang dimaksudkan yang disampaikan melalui ucapan karakter di Agak Laen.