Berita Kedokteran Masyarakat
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles
112 Documents
Search results for
, issue
"Vol 34, No 11 (2018)"
:
112 Documents
clear
Karakteristik Penderita TB Resistan Obat (RO) dan Persepsi Lingkungan Sekitar terhadap Penderita, di Kota Medan
Syarifah Syarifah;
Erna Mutiara;
Sri Novita
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (672.13 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40622
Kasus TB RO saat ini semakin meningkat baik di tingkat global maupun Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan urutan ke delapan terbesar kasus TB RO di dunia, di Sumatera Utara Kota Medan merupakan penderita TB RO tertinggi. Telah dilakukan berbagai upaya untuk menangani kasus TB RO namun kasus TB RO di Kota Medan masih tetap tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik penderita TB RO dan persepsi lingkungan sekitar terhadap penderita.Desain penelitian crossectional study, populasi penelitian adalah penderita TB RO tahun 2017 sampai April 2018. Sampel ditentukan secara purposive yaitu pasien yang memulai menjalani pengobatan bulan Juli 2017 sampai April 2018 dan bersedia dikunjungi ke rumah dan mendapat sms reminder untuk meningkatkan kepatuhan berobatnya, diperoleh sampel 24 orang dari 60 pasien yang menjalani pengobatan dari tahun 2017 sampai April 2018. Data dikumpulkan dengan wawancara kepada responden dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ; laki-laki lebih banyak dari perempuan, umur pada usia produktif, tingkat pendidikan dominan SLTA, suku terbanyak suku Batak dan status perkawinan menikah. Umumnya responden mengalami efek samping obat dari yang ringan sampai berat. Setengah dari responden mengalami gangguan penyerta lebih dari satu jenis seperti asam urat, hipertensi, DM maupun HIV. Persepsi lingkungan terhadap penderita hanya sebagian kecil 1 orang (4,2%) mengalami perubahan status perkawinan, sebanyak 12 orang (50%) mengalami perubahan pekerjaan, perubahan status ekonomi 10 orang (41,7%), perubahan sikap keluarga 5 orang (20,8%), perubahan sikap masyarakat 1 orang (4,2%) dan mendapatkan bantuan 12 orang (50%).Disarankan agar penderita patuh minum obat sampai sembuh, berkomunikasi dengan petugas kesehatan jika mengalami efek samping obat yang berat agar dapat berkonsultasi dengan Tim Ahli Klinis, dapat mencegah penularannya pada keluarga dan lingkungan. Diharapkan dukungan psikologis, sosial dan ekonomi dari keluarga dan lingkungan sekitar agar penderita dapat menjalani pengobatannya sampai sembuh.
Perilaku Masyarakat dalam Penemuan Kasus dan Pemutusan Rantai Penularan TB Paru setelah mendapat Penyuluhan oleh Kader di Kampung KB Kota Medan
Sorimuda Sarumpaet;
Syarifah Syarifah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (707.681 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40624
Kampung KB merupakan salah satu program dalam Agenda Prioritas Pembangunan (Nawacita) Pemerintahan periode 2015-2019 pada Agenda Prioritas kelima yaitu “Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia”, salah satunya melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat salah satunya adalah dengan menurunkan prevalensi penderita TB Paru di masyarakat. Penelitian ini dilatar belakangi karena Case Detection Rate (CDR) TB di Sumatera Utara khususnya kota Medan belum optimal. Dalam upaya meningkatkan CDR diperlukan partisipasi masyarakat melalui penemuan kasus TB Paru dan pemutusanrantai penularan TB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam penemuan kasus dan pemutusan rantai penularan TB Paru sebelum dan setelah mendapat pelatihan oleh kader di Kampung KB Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor dan Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru. Desain penelitian crossectional study. Populasi penelitian seluruh KK di dua lingkungan Kampung KB Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor dan Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru. Jumlah kader yang menjadi sampel 9 orang, kader telah dilatih sebelumnya oleh peneliti dan selanjutnya melakukan pelatihan kepada masyarakat di kampung KB. Sampel masyarakat diambil secara acak sebanyak 116 responden, pengumpulan data wawancara dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan proporsi karakteristik masyarakat tertinggi perempuan (94,0%), umur ≤50 tahun (68,1%), pendidikan rendah (58,6%), tidak bekerja (73,3%) dan jumlah penghuni rumah kurang padat (67,2%). Terdapat pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan (p=0,000). Berdasarkan hasil penelitian disarankan perlu dilakukan pelatihan kader dalam penyegaran agar terdapat peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakannya dalam upaya penemuan kasus dan pemutusan rantai penularan TB Paru serta mampu memberikan penyuluhan yang mudah dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat di Kampung KB. Perlu dilakukan penyuluhan secara intensif dan berkesinambungan oleh kader kepada masyarakat di Kampung KB.
Modifikasi Kantong SOSA dalam Pemutusan Penularan TB Paru di Kota Medan Tahun 2018
Sorimuda Sarumpaet;
Evawany Aritonang;
Lina Tarigan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (668.624 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40625
Prevales rate TB Paru di Sumatera Utara 794/100.000 penduduk dan Insidens Rate 501/100.000 penduduk dengan kematian akibat TB 41/100.000 penduduk. Insidens rate TB di Kota Medan diperkirakan 129 per 100.000 penduduk. Kantong SOSA (Sori Syarifah) wadah yang diisi dengan lisol 5-20 % dapat membunuh kuman TB dalam dahak, kantong ini juga disertai pesan promosi kesehatan. Kantong SOSA pernah diuji coba dalam upaya pemutusan rantai penularan TBC Paru dengan penilaian masa penularan yang masih singkat sehingga belum didapatkan hasil yang signifikan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi kantong SOSA dan botol SOSA menganalisa efektivitas kantong SOSA dan botol SOSA. Disain penelitian crossectional, variabel independen karakteristik penderita (umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan) dan variabel dependen risiko penularan TBC Paru berdasarkan peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak, perilaku mencegah penularan melalui lingkungan dan efektivitas penggunaan botol dan kantong. Populasi seluruh penderita TBC Paru BTA+ yang berobat ke Puskesmas kota Medan dari bulan Maret sampai Juli 2018 berjumlah 125 penderita dan analisa menggunakan uji Kruskal-Wallis da Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran PMO, kepatuhan minum obat, kebiasaan menggunakan masker, kebiasaan membuang dahak dan perilaku mencegah penularan melalui lingkungan ternyata penggunaan kantong dan botol SOSA lebih efektif dibandingkan dengan kelompok non intervensi (p<0,05). Demikian juga botol SOSA lebih efektif dan lebih dapat diterima oleh penderita TBC Paru dalam menurunkan risiko penularan TB Paru dibandingkan dengan kantong SOSA (p=0,039). Direkomendasikan kepada petugas TB puskesmas agar lebih memotivasi dan mengedukasi penderita TBC Paru untuk menggunakan botol SOSA sebagai wadah tempat membuang dahak, masker dan tisu habis pakai. Penderita TBC Paru dianjurkan patuh minum obat sesuai dengan anjuran petugas TB Puskesmas, selalu memakai masker ketika batuk dan membuang dahak pada botol SOSA. Penderita TBC Paru dan orang sekitarnya dianjurkan untuk selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
[PHS4] PROGRAM “KERATIN” (KERAMAS RUTIN) : PENERAPAN KONSEP EKONOMI TOKEN DALAM PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (CUCI RAMBUT/KERAMAS) PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PESISIR
Nurhijrianti Akib
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1869.564 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40629
Pedikulosis Kapitis (PK) merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit Pediculus humanus capitis yang tumbuh dan berkembang di lapisan kulit kepala manusia. PK dapat menyebabkan Salah satu kelompok usia yang paling sering terinfeksi PK adalah anak sekolah. Prevalensi PK pada anak usia sekolah di negara maju seperti Belgia adalah sebesar 8,9 %. Sedangkan di negara berkembang seperti India adalah sebesar 16,59%. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di salah satu sekolah dasar di wilayah pesisir Indonesia yaitu di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, didapatkan hasil bahwa 85,7% siswa positif terinfeksi penyakit tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya karena frekuensi keramas yang jarang. Karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan penyakit PK, salah satunya dengan pengembangan program perubahan perilaku. Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir dengan melatih kebiasaan cuci rambut/keramas secara rutin 3x semiggu melalui pendekatan ekonomi token. Pengembangan program ini dilakukan dengan assessment berupa pengumpulan data sekunder, observasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan kajian hasil penelitian. Adapun rancangan intervensi program yaitu sosialisasi kepada guru dan orangtua terkait program yang akan dilakukan, sosialisasi kepada siswa, pelaksanaan pengumpulan token, penukaran hadiah, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Sehingga diharapkan Program Keratin ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka PK pada siswa sekolah dasar di wilayah pesisir.
Peranan Kader dalam Menemukan Kasus TB di Kabupaten Deli Serdang
Tukiman Tukiman;
Surya Utama;
Abdul Jalil
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (683.247 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40631
Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TB terbesar di dunia dengan insiden dan prevalensi, angka kematian serta TB dan co/infeksinya cukup mengkhawatirkan. Meskipun sudah banyak program yang dijalankan namun kasus tetap tinggi karena permasalahannya TB sangat kompleks. Penelitian pada negara-negara berkembang menunjukkan bahwa peer support merupakan faktor penopang keberlanjutan program berbasis masyarakat. Untuk itu penelitian ini : 1). Diperoleh pengetahuan kader tentang TBC paru 2). Diperolehnya sikap kader mengenai TB Paru 3) Penemuan kasus TBC Paru dan 4) Peranan kader dalam penanggulangan TB Paru. Rancangan penelitian ini cross sectional studi dengan pendekatan kuantitatif di 3 lokasi kabupaten Deli Serdang yakni kecamatan Percut Sei Tuan, kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Pancur Batu dipilih secara Purpossive yang mewakili kasus TB Paru tertinggi, sedang dan rendah.Jumlah sampel sebanyak 45 kader TBC Paru. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader tentang TBC paru sudah cukup baik (84,4%). Kader masih banyak belum tahu tugas PMOyang berkaitan dengan mendampingi, periksa dahak dan memberikan penyuluhan tentang TB kepada keluarganya. Pada umumnya sikap kader kategori baik (86,7%). Kader tidak setuju kalau penyakit TBC paru penyakit keturunan (95,6%),tidak setuju pencegahan TBC paru hanya tanggung jawab puskesmas (84,4%). Untuk penemuan kasus dalam kategori kurang (64,4%), belum menemukan dan merujuk ke fasilitas kesehatan (93,3%).Peran kader dalam penanggulangan TBC paru kategori kurang (71,1%) kader belum aktif memberikan penyuluhan tentang TBC paru(73,3%). Kader menganjurkan ke pelayanan kesehatan jika sudah batuk lebih 2 minggu (84,4%) , menganjurkan penderita dicurigai TBC paru berobat ke puskesmas sampai sembuh (82,2%). Diperlukan upaya edukasi kader tentang tugas PMO, mendorong kader memberikan penyuluhan tentang TBC paru, mencari orang yang dicurigai sakit TBC paru.
Understanding the community interest of breast cancer in Indonesia: a digital epidemiology study using Google trends
Atina Husnayain;
Anis Fuad
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1653.714 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40635
Introduction. Breast cancer was count for 30.5% of all cancers diagnosed in Indonesia. Although preventable, breast cancer is mostly diagnosed in advanced stages and caused leading dead among females. Given the increasing growth of online information seeking behavior, adequate cancer health promotion through virtual setting is needed to tackle the massive increasing burden of breast cancer. Therefore this study aims to explore the community interest in breast cancer using Google Trends. Method. 5 years (from September 2013 to August 2018) information searches for breast cancer from Google were retrieved in Indonesian language. Data were downloaded at national and sub-region level to examine the pattern and distribution of queries. Results. Sporadic traces of information searches related to breast cancer from Google Trends presented the pattern and distribution of queries. Massive search happened in July 2015 and June 2017 following the died of Indonesian celebrity who suffered from breast cancer. However, the cancer awareness month every October does not impact the number of information searches. Considering the high influence of celebrities, many studies reveal the positive impact of celebrities involvement in health promotion. Celebrity can attract the public attention to health messages and increase the agreement of vaccination and screening for cancer. Thereby, celebrities involvement and availability of qualified breast cancer online information should be increased to win the breast cancer health promotion program in the digital era. Online information related to breast cancer could be disseminated through targetted risk population using Mobile JKN that has been downloaded by 1.5 million members. Conclusion. Google Trends could be potentially used as a novel tool to measure the dynamics of community interest in breast cancer in Indonesia. Therefore, adequate cancer health promotion through a virtual setting is the key to tackling the massive increasing burden of breast cancer in the digital era.
Kesuksesan Program Vaksin Rubella Di Sekolah Menurut Perspektif Stakeholder (Studi Kasus Implementasi Program Rubella di Kabupaten Nias) _PHS4
Firman Firman;
Hermansyah Hermansyah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1210.537 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.40636
Latar belakang: Pemerintah merilis sekitar 60 ribuan kasus pada kelompok usia dibawah 15 tahun. Sehingga, salah satu fokus sasaran pemerintah dalam pelaksanaan program introduksi vaksin rubella adalah sekolah (PAUD, TK, SD hingga SMP/sederajat). Dalam program ini, sekolah merupakan pos pelayanan imunisasi yang dilaksanakan Puskesmas. Khusus di Kabupaten Nias, program vaksin di Sekolah masih berlangsung hingga saat ini dan telah ditetapkan sebagai daerah yang melebihi target cakupan imunisasi 95%. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor kesuksesan program nasional ini berdasarkan pandangan dari stakeholder atau pelaku dilapangan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpukan melalui wawancara mendalam kepada beberapa informan seperti petugas kesehatan puskesmas, pihak sekolah. Pada kasus ini, informan kunci adalah konsultan program yang bertuga melakukan pendampingan dan monitoring program selama 6 bulan. Analisis data menggunakan content analysis untuk mengeksplorasi pikiran dan perspektif informan terhadap masalah. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang memiliki peran penting terhadap keberhasilan program imunisasi di sekolah. Faktor institusi, sekolah dan puskesmas memiliki koordinasi yang baik selama pelaksanaan program. Sebagai contoh, pada waktu introduksi vaksin di salah satu sekolah dasar bulan agustus hanya 5 yang berhasil dari 133 siswa, kemudian setelah petugas puskesmas melakukan kunjungan ulang, diproleh 127 siswa melakukan imunisasi. Kejadian seperti ini juga ditemukan di beberapa sekolah di Kabupaten Nias. Adapun faktor lain adalah figur seperti tenaga konsultan dan tenaga kesehatan yang memiliki wawasan/keahlian terkait program ini. Kehadiran figur sangat efektif memberikan pemahaman terhadap sekolah yang awalnya menolak melaksanakan program. Petugas puskesmas juga mengakui kehadiran konsultan saat di lapangan mendorong kepercayaan diri mereka ketika mengalami hambatan dengan pihak sekolah, karena kecenderungan sekolah dan masyarakat lebih percaya jika ada figur luar yang dilibatkan. Kesimpulan: Hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan dan kelanjutan program imunisasi rubella adalah koordinasi antara puskesmas dan sekolah, mulai dari sosialisasi hingga pelibatan sekolah, pelatihan guru dalam program ini.
Community participations and health care in rural areas – the differences between Swedish and Indonesian system
Jenny Samuelsson
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/bkm.40637
The Swedish and Indonesian health care systems are both decentralised, and every day health care is based on activities performed in district hospitals and primary health care centres. The main difference between the Swedish and Indonesian health system is the existence of posyandus, not found in Sweden. Meanwhile the Swedish system only allows health professionals, the Indonesian posyandus are run voluntarily by health cadres and are more based on community participation. However, as the major health problem faced by the Swedish health care is an overloaded system and a growing number of elderlies, an approach developed in rural parts of northern Sweden are the virtual health rooms. The virtual health room, a self-serviced room for basic health monitoring, is based on community participation, and may be called the Swedish version of posyandu. Future models for increased community participation in Sweden are thought to be further developed through such virtual health rooms, and with the movement from country side to the Swedish cities. Although the differences of the health systems in the two countries are many, we also share one very important similarity: the lack of health care professionals.
Will climate change become the worst nightmare in public health?
Malida Magista
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/bkm.40644
Is it too early for Indonesia to worry about the threats of climate change to the health quality of its people? It is a common knowledge that climate change is the culprit of melting icebergs, dying polar bears, and worsened summer. However, almost no one has any concern about how climate change will increase the prevalence of mental illness, heart attacks, or even stunting. Nowadays, the earth climate has changed so much. The surface temperature and the sea level have increased steadily. the extreme weathers and disasters have occurred more intense and frequent. Then, how do these occurrences affect Indonesians’ health and wellbeing? Two diagrams were drawn to observe the connections of climate change-mental illness and climate change-the incidence of heart attacks. Mental illness and the incidence of heart attack were chosen as representatives of public health challenges in Indonesia. The variables of these diagrams were obtained from evidence-based research and reports. It is assumed that the extracted variables are heavily related to the socioeconomic and health conditions of Indonesians. Based on those diagrams, we cannot deny that climate change causes both direct and indirect damage to Indonesians’ health. Unfortunately, limited data and information about climate change and public health in Indonesia prohibit us to build a stronger argument about this problem. In the future, it is highly recommended that every public health professionals start to consider the effect of climate change into their interventions. A transdisciplinary approach between the Ministry of Health, the Ministry of Environment and Forestry, the Ministry of Social is urgently needed to start a comprehensive and progressive approach for Indonesians health and wellness.