cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Tingkat pendidikan ibu dengan kepatuhan antenatal care pada perdesaan dan perkotaan di Indonesia Elvaria Mantao; Monica Dara Delia Suja
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.506 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37405

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam melakukan Antenatal Care (ANC) pada perdesaan dan perkotaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan desain studi  cross sectional, menggunakan data Indonesian Family Life Survey 5. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang melakukan Antenatal Care dan melahirkan anak terakhir pada tahun 2013 sampai dengan survei dilakukan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 1.869 responden. Responden yang tinggal di desa sebanyak 746 dan di kota sebanyak 1.123. Kepatuhan ibu dalam melakukan ANC dibagi menjadi patuh dan tidak patuh sesuai standar pelayanan minimal tahun 2016. Pendidikan ibu dibagi menjadi 4 yaitu tidak sekolah, SD, SMP-SMA, dan Universitas. Analisis menggunakan uji Chi-square dan logistic regression dengan tingkat kemaknaan p-value <0,05. Kepatuhan ibu dalam melakukan antenatal care lebih rendah di perdesaan (83,38%) dibandingkan perkotaan (89,40%). Ibu di perkotaan sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMP-SMA (64,92%) dan Universitas (21,28%) sedangkan ibu yang tinggal di desa sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SD (27,48%) dan SMP-SMA (59,23%). Tingkat pendidikan ibu memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan kepatuhan ANC di perkotaan sedangkan di perdesaan tingkat pendidikan ibu tidak berhubungan dengan kepatuhan ANC (p>0,05). Di perkotaan, kemungkinan untuk patuh ANC pada ibu yang  menempuh pendidikan hingga universitas 2,9 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak sekolah. Paritas memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan ANC pada ibu yang tinggal di perkotaan (p<0,05). Di perkotaan, kemungkinan untuk patuh ANC pada ibu primipara 1,8 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu multipara. Pendidikan dan paritas ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ANC di perkotaan, namun tidak pada ibu yang tinggal di perdesaan karena adanya faktor lain yang bisa berhubungan dengan kepatuhan ANC di pedesaan seperti faktor budaya dan status ekonomi keluarga. Untuk meningkatkan kepatuhan ANC diperlukan program perbaikan akses ke pelayanan kesehatan dan pemerataan tenaga kesehatan. Selain itu bagi ibu yang tinggal di perkotaan dan berpendidikan rendah diperlukan pemberian edukasi/informasi.
PEMBERIAN ASI PADA IBU PEKERJA DI KOTA: IMPLIKASI TERHADAP PENYEDIAAN RUANG LAKTASI DAN TAMAN PENITIPAN ANAK Monica Dara Delia Suja; Mubasysyir Hasanbasri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.897 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37422

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara status pekerjaan ibu dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada ibu bekerja yang tinggal di wilayah perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional menggunakan data Indonesia Family Life Survey 5. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu berusia 15-49 yang bekerja, memiliki anak berusia 2 tahun dan tinggal di perkotaan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 340 responden. Status pekerjaan dibagi menjadi wirausaha, pegawai pemerintah, pegawai swasta dan pekerja bebas, sedangkan pemberian ASI dibagi menjadi kurang dari 2 tahun dan selama 2 tahun. Analisis menggunakan chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Pada ibu bekerja yang tinggal di perkotaan, persentase ibu yang memberikan ASI kurang dari 2 tahun sebesar 68,82% sedangkan ibu yang memberikan ASI selama 2 tahun sebesar 31,18%. Status pekerjaan ibu yang tinggal di perkotaan paling banyak yaitu sebagai pegawai swasta (42,06%) dan wirausaha (34,41%). Status pekerjaan yang memiliki persentase pemberian ASI kurang dari 2 tahun adalah pegawai pemerintah (77,78%) dan pegawai swasta (75,52%). Terdapat hubungan antara status pekerjaan ibu dan pemberian ASI pada ibu bekerja yang tinggal di wilayah perkotaan. Ibu yang memiliki status pekerjaan sebagai wirausaha memiliki kemungkinan lebih besar 1,85 kali untuk memberikan ASI selama 2 tahun dibandingkan dengan ibu bekerja sebagai pegawai swasta. Kesimpulan: Ibu pegawai swasta memiliki kemungkinan untuk memberikan ASI selama 2 tahun yang rendah. Hak menyusui bagi pekerja wanita harus dilindungi dengan menyediakan ruang laktasi atau tempat penitipan anak.
Evaluasi Program Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai Upaya Preventif dan Kuratif Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Kraton Kota Yogyakarta Karina Muthia Shanti; Anis Kurnia Maitri; Josefa Rosselo; Destriyani Destriyani; Lastdes Cristiany Friday; Riska Novriana
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.37448

Abstract

Pendahuluan: Anemia ibu hamil menyebabkan dampak fatal bagi ibu dan janin. Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) ibu hamil telah terlaksana sejak lama sebagai upaya preventif dan kuratif masalah tersebut. Evaluasi program pemberian TTD di Puskesmas Kraton, kota Yogyakarta diperlukan untuk mengetahui efektivitasnya dalam menangani anemia ibu hamil.Metode: Data diperoleh dari data sekunder dan in-depth interview kepada kepala puskesmas, staf KIA, staf gizi, tenaga farmasi, kader pendamping ibu hamil, dan ibu hamil, serta wawancara dengan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil.Hasil: Cakupan distribusi TTD di Puskesmas Kraton tahun 2016 sebesar 82% didukung dengan kuantitas dan kualitas TTD yang sesuai kebutuhan. Namun, terpusatnya distribusi oleh puskesmas menyebabkan cakupan distribusi belum mencapai target nasional. Tingkat kepatuhan konsumsi TTD baik, dengan adanya edukasi terkait TTD dari bidan, tingkat pengetahuan yang baik, motivasi diri, dukungan keluarga, dan tidak adanya efek samping dalam konsumsi TTD. Tingginya prevalensi anemia ibu hamil tahun 2016 yaitu 33% disebabkan oleh kurangnya ketercapaian distribusi TTD, konsumsi merk TTD yang beragam di pasaran dengan kandungan besi-folat yang tidak memenuhi standar, pemberian TTD tidak dimulai sejak awal kehamilan, dan pola konsumsi ibu hamil yang kurang tepat.Kesimpulan: Program pemberian TTD ibu hamil di Puskesmas Kraton didukung dengan berbagai input pelayanan yang baik. Namun peningkatan efektivitas program perlu memperhatikan optimalisasi distribusi TTD kepada ibu hamil sejak awal kehamilan, optimalisasi peran kader dalam pemantauan dan pencatatan distribusi serta konsumsi, dan penarikan TTD yang tidak sesuai standar oleh pemerintah. 
Analysis of Puskesmas Jetis Role in National Strategy TB New Case Prevention Bianca Gaea Ginting; Happy R Pangaribuan; RE. Judika Tampubolon
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.37459

Abstract

Abstract Background: Control of Tuberculosis relies on Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) strategy. This control treatment setting are case management, whereas every year new cases increase signifantly. DOTS strategy is mandatory in every Primary Health Care (Puskesmas) in Indonesia.  Educational Objectives: This paper describes the role and achievement of Puskesmas Jetis in prevention and currative management of TB cases.  Method: Descriptive study with secondary data  Results: It is descriptive analysis with total, 83 cases were assessed from year 2013 to 2016 with 78 patients in TB category I and 5 patients in category II. 27 new cases in 2013, 22 new cases in 2014, 28 new cases in 2015, 25 new cases in 2016. In total 7 patients are children, 69 patients were recovered, 4 patients were in treatment failed status, 4 patients died, and 4 patients were dropped out with cure rate 85,71% in 2015 and 94,11% in 2016.  Conclusions: In DOTS strategy, Puskesmas Jetis has done an effective currative way. It shows in data that from all cases in year 2013 to 2016, more than 70% were recovered. But every year new cases were came out, means Puskesmas Jetis was not succeed in Tuberculosis prevention. Need an improvement on Tuberculosis promotion to prevent overload of new cases every year.  Keywords: Primary Health Care, DOTS strategy, Prevention
Hubungan rasio lingkar pinggang-pinggul (RLPP), IMT dan kontribusi asupan garam dari makanan jajanan dengan tekanan darah pada remaja Nanang Prayitno; Sugeng Wiyono; Meilinasari Meilinasari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.689 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37472

Abstract

Salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi adalah obesitas. Obesitas dapat ditentukan melalui pengukuran antropometri seperti indeks massa tubuh (IMT), dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP). Di Indonesia, penelitian yang mempelajari indikator obesitas dan hubungannya dengan hipertensi masih terbatas. Hipertensi tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada kelompok remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan (RLPP), (IMT) dengan tekanan darah. Sampel adalah siswa/siswi SMU N 6 Jakarta Selatan yang diambil secara random berjumlah 129 orang. Tekanan darah diukur dengan alat “Sphygmomanometer”. Data antropometri meliputi (IMT),(RLPP), Lingkar Lengan Atas (LLA). Asupan garam diukur dengan metode “Food Frequency Questionnaire” (FFQ) dan Food Recall 1 x 24 jam. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Korelasi atau Rank Spearman. Prevalensi hipertensi sebesar 19 %. Nilai rata-rata RLPP pada sampel pria 0,88 dan pada wanita 0,80. Nilai rata-rata IMT 21,5 . Nilai rata-rata tekanan darah sistolik 106,83 mmHg dan tekanan darah diastolik 73,18 mmHg. Hasil uji statistiK menunjukan ada hubungan antara IMT dengan tekanan darah p=0.00. Untuk asupan natrium yang berhubungan dengan tekanan darah Diastolik p=0.022. Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan kemudian hari maka perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya mencapai berat badan normal.
Pengaruh jaminan kesehatan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan primer di perkotaan Indonesia: adilkah bagi masyarakat miskin? Achmad Djunawan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.902 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37474

Abstract

Tujuan: Studi ini memberikan gambaran pengaruh jaminan kesehatan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan primer perkotaan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menganalisis data (IFLS 5) dengan rancangan penelitian cross sectional menggunakan uji regresi logistik. Sampel penelitian adalah penduduk kota di 13 provinsi Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas. Hasil: Total responden yang didapat sebesar 2.563 responden, 35% responden menggunakan pelayanan kesehatan pemerintah. 39,72% responden belum memiliki jaminan kesehatan. Jaminan kesehtatan mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan (p<0,05). Simpulan: Perlu adanya kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan milik pemerintah sebagai fasilitas kesehatan propoor dan meningkatkan cakupan jaminan kesehatan yang berkeadilan ke seluruh masyarakat khususnya masyarakat miskin.
The trend of consumption pattern among college students in Malang city Rany Adelina
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.907 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37475

Abstract

This study was conducted to know the trend of consumption pattern of the college student in Malang city. This case-case study with 397 participants was recruited voluntarily. Participants were given the FFQ (Food Frequency Questionnaire) questionnaire containing 10 categories including staple foods, vegetables, fruits, meat, fast food, fish, beans, dairy products, drinks, and supplements. There were six frequencies assessed in this study such as' more than 1 times a day ',' 1 times a day ',' 4-6 times a week ',' 1-3 times a week ',' 1-3 times a month ',' never '. Statistical analysis was used in the form of descriptive frequency. This study found that the staple food category showed the highest consumption of white rice more than 1 times a day (80.4%). Fast food category showed the most consumption in instant noodles 1-3 times a week (35.9%). The meat category showed s the highest consumption in chickens 4-6 times a week (27.2%). Category of fish showed the most consumption in fresh fish 1-3 times a week (28%). Nuts category showed the highest consumption of 4-6 times a week in Tempe (34.3%) and tofu (33%). Vegetable category showed the most consumption for 1-3 times a week in spinach and watercress respectively by 35%. The category of fruits showed the highest consumption of oranges (34.8%) 1-3 times a month. Dairy product category showed the highest consumption for 1-3 times a month on ice cream (40.1%). Drink category showed the most consumption of fruit juice 1-3 times a week (32.2%). Finally, as many as 78.3% never consume supplements, but the most consumption of honey (19.9%) for 1-3 times a month. This study concludes that instant noodle consumption is relatively high while vegetables and fruits are not consumed daily. Then, chicken is more often consumed than fresh fish by college students in Malang city.
Ketuk pintu lansia dan home visit untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan Posyandu lansia Bernike Sofia Zega
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.063 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37476

Abstract

Tujuan: Hipertensi menjadi masalah kesehatan utama yang ditemukan di Padukuhan Nglaban, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman dan umumnya terjadi pada kelompok lanjut usia. Upaya pencegahan dan deteksi dini PTM melalui kegiatan posyandu lansia belum efektif dan baru dimulai pada Desember 2016. Peningkatan kapasitas kader diperlukan agar mampu mengembangkan kegiatan posyandu lansia. Namun, upaya lain yang langsung menyasar peserta posyandu lansia dibutuhkan agar posyandu lansia dapat menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu KPL. KPL dilakukan untuk mensosialisasikan kembali posyandu lansia sekaligus pendataan ulang lansia. Hasil pendataan akan menunjukkan jumlah seluruh lansia dan  lansia yang harus dikunjungi karena tidak dapat langsung datang ke lokasi posyandu, dimana program ini disebut home visit. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan pre-experimental dan semi-kualitatif. Intervensi yang dilakukan berupa Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit.  Evaluasi program dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Hasil: Program Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit efektif dalam meningkatkan partisipasi lansia dalam kegiatan posyandu lansia. Jumlah lansia yang berpartisipasi pada kegiatan posyandu lansia sebanyak 54 orang, dimana 4 diantaranya dilakukan home visit.Terjadi peningkatan yang signifikan dimana jumlah partisipan pada bulan sebelumnya adalah 20 orang dari total 70 lansia. Simpulan: Program Ketuk Pintu Lansia (KPL) dan home visit dapat meningkatkan kesadaran akan kebutuhan dan kepemilikan posyandu lansia.Kata Kunci: ketuk pintu lansia; home visit; posyandu lansia.
Hubungan antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan status gizi dengan tingkat morbiditas lansia buruh gendong di pasar induk tradisional Yogyakarta Ribia Tutstsintaiyn
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.092 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37477

Abstract

Persentase penduduk lansia tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (13,04%). Perubahan struktur dan fungsi tubuh mengakibatkan penyerapan zat gizi tergangggu dan berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh seingga mudah terserang infeksi. Morbiditas penduduk lansia akibat infeksi cenderung meningkat. Berdasarkan prasurvei pada lansia buruh gendong, 96,8%  memiliki morbiditas tinggi. Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara konsumsi energi, konsumsi protein, dan status gizi dengan morbiditas lansia buruh gendong Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan Januari hingga april 2014, menggunakan jenis  penelitian observasional analitik dengan desain Cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini sejumlah  60 responden lansia yang berprofesi sebagai buruh gendong dan termasuk dalam paguyuban Yasanti. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dalam penelitian ini meliputi tingkat konsumsi energi, protein, dan status gizi. Kemudian menganalisis distribusi dari masing-masing variabel, dan hubungan antar variabel menggunakan uji statistik Chisquare dan melihat besarnya risiko dengan Ratio Prevalens (RP). Dari 60 responden, 45 responden (75%) tingkat morbiditas tinggi  dan 15 responden (25%) tingkat morbiditasnya rendah. Secara statistik, seluruh variabel memiliki p> α,tingkat konsumsi energi (p = 0,668 RP 0,854 (95% CI : 0,609-1,209) tingkat konsumsi protein (p = 1,000 RP 1,000 95% CI: 0,557-1,796), status gizi (p = 0,881 RP=1,069 95% CI:0,800-1,430). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan status gizi dengan tingkat morbiditas lansia buruh gendong.
Strategic purchasing dalam menjaga sustainabilitas JKN Aisyah Zuhrotul Lailiya Ainul; Ika Widyastuti Arumsari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.299 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37478

Abstract

Masalah yang dihadapi BPJSK saat ini adalah kepesertaan yang belum maksimal, kepuasan pasien terhadap pelayanan yang tidak sesuai harapan, dana kurang, dan potential fraud yang semakin meningkat. KPK menyebutkan 30% dari dana JKN (Rp 67 T) yaitu Rp 20 T berpotensi fraud yang mana dana tersebut dapat menutupi defisit dana JKN sebesar Rp 9 T. Oleh karena itu, peran BPJSK sebagai purchaser perlu didorong agar dapat berfungsi dengan baik untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi. Dalam konsep strategic purchasing yang harus dipertimbangkan purchaser adalah pelayanan apa yang akan dibeli (benefit); terjadinya conflict of interest dikarenakan adanya regulasi yang menyatakan bahwa semua fasilitas kesehatan pemerintah harus bekerjasama dengan BPJSK sedangkan regulasi lain menyebutkan bahwa faskes yang bekerjasama dengan BPJSK harus memenuhi standar dan terakreditasi sementara hanya ±70% yang memenuhi credentialing dan sebagian besar berada di Pulau Jawa; serta penentuan bagaimana pelayanan akan dibeli baik benefit, provider, dan cara belinya. Evaluasi mengenai apakah benefit JKN yang unlimited sudah sesuai dengan kondisi  Indonesia sangat diperlukan. Puskesmas harus setara dalam menjalankan fungsinya sebagai UKM dan UKP, jika puskesmas hanya memprioritaskan kuratif, maka akan mempengaruhi sustainabilitas JKN. Sekitar 80-83% dana JKN yang digunakan untuk kuratif di RS, sehingga perlu dilihat lagi fungsi gate-keeper. Perlu ada peraturan yang memberi kewenangan dinas kesehatan untuk melakukan monev misalnya 1% saja dari dana JKN yang digunakan untuk monev, oleh karena itu perlu ada kontrol dari pihak ketiga yang dapat menilai kinerja purchaser. Dalam pelaksanaan JKN penting adanya equity terhadap akses dan utility sehingga dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk membangun infrastruktur. Diperlukan juga peningkatan  akuntabilitas dan transparansi purchaser dengan membuat data yang dapat diakses oleh masyarakat dan pemangku kepentingan, penguatan pengendalian mutu pelayanan kesehatan dan pencegahan kecurangan untuk sistem pemantauan JKN  dan BPJS.

Page 57 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue