Berita Kedokteran Masyarakat
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles
1,528 Documents
PPM-TKP Karang Taruna Desa Sambibulu Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur
Cholifah Cholifah;
Paramitha Amelia Kusumawardani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (265.792 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37479
Tujuan: Desa Sambibulu terletak di kecamatan Taman, kabupaten Sidoarjo, terdiri dari 7 RW dengan 38 RT dan terbagi menjadi 3 dusun yaitu Dusun Sambisari, Dusun Sambiroto dan Dusun Sambibulu. Desa Sambibulu mempunyai karang taruna yang memiliki visi dan misi dan pengurus serta anggota yang aktif mengadakan kegiatan setiap minggu dan rapat rutin wajib setiap satu bulan sekali. Karang taruna tersebut dipilih karena sebagian besar pengurus dan anggota merupakan usia remaja yang sangat terbatas pengetahuan dan pemeliharaan kesehatannya, hanya sedikit yang mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dari sekolah dalam mata pelajaran Biologi. Permasalahan yang terkait dengan karang taruna yang sedang dihadapi tidak tersedianya wadah untuk para remaja mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan pemeliharaan kesehatan reproduksinya, terlihat dari tingginya ketidaktahuan dan ketidakmampuan remaja dalam pemeliharaan kesehatan reproduksinya, antara 727 remaja dari 799 remaja (81%). Permasalahan lain terkait dengan kesehatan reproduksinya yang dihadapi kedua mitra adalah kegiatan remaja yang selama ini dilakukan jarang memperhatikan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sehingga banyak remaja yang percaya pada mitos-mitos reproduksi dan belum pernah mendapatkan informasi secara formal tentang kesehatan reproduksi, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang mereka peroleh dari teman sebaya dan dari sumber media informasi internet. Konten : Solusi untuk mengatasi permasalahan supaya remaja mendapatkan pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksinya dan wadah untuk remaja mendapatkan informasi serta pemeliharaan kesehatan reproduksinya maka dibentuklah Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu) Remaja. Target yang dicapai yaitu terbentuknya posyandu remaja di karang taruna desa Sambibulu dengan cara membentuk 10 kader kesehatan remaja di posyandu remaja. Pelaksanaan PKM melibatkan mahasiswa dari jurusan D3 Kebidanan sebanyak 4 orang. Setelah itu, akan dilakukan pendampingan ke mitra agar hasil PKM dapat terimplementasikan dengan baik di posyandu.Kata kunci : Karang Taruna; Kader Kesehatan Reproduksi Remaja; Posyandu Remaja
Hubungan pola konsumsi natrium dan kalium dengan kejadian hipertensi di puskesmas Paccerakkang Makassar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/bkm.37480
Hipertensi menjadi masalah kesehatan yang risikonya linear dengan pertambahan usia. Kenaikan tekanan pada dinding arteri hingga nilai ekstrim berpotensi memicu berbagai komplikasi kardiovaskular. Tingkat konsumsi natrium dan kalium menunjukkan asosiasi yang cukup berarti dengan kejadian hipertensi. Keduanya menunjukkan efek antagonis dalam menentukan kekuatan dinding arteri menahan laju aliran darah. Penelitian ini dikembangkan untuk mengobservasi korelasi antara konsumsi natrium dan kalium dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini merupakan individu berusia ≥ 30 tahun yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Paccerakkang. Sebanyak 78 responden diikutsertakan dalam penelitian ini dengan teknik penarikan secara accidental sampling. Tingkat konsumsi diobservasi menggunakan instrumen penelitian berupa food recall untuk menggambarkan asupan natrium dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menggambarkan asupan kalium. Analisis bivariat dilakukan untuk memahami hubungan konsumsi garam mineral dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan beban hipertensi pada populasi target mencapai 51,3%. Konversi hasil survei konsumsi mengindikasikan masih adanya responden sebanyak 39,7% yang mengonsumsi natrium melebihi batas aman yang direkomendasikan. Namun, tingkat konsumsi natrium yang tinggi masih dapat diimbangi dengan konsumsi kalium yang cukup dengan persentase mencapai 65,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya korelasi yang berarti antara pola konsumsi natrium dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Makassar (p-value=0,018), berbeda dengan konsumsi kalium yang tidak mencapai level signifikansi dengan kejadian hipertensi (p-value=0,133). Hanya konsumsi natrium yang berhubungan dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Paccerakkang Makassar. Sementara konsumsi kalium meskipun menunjukkan adanya perbedaan, namun tidak menemui kemaknaan yang berarti.
Analisis permasalahan penggunaan dana alokasi khusus (DAK) non fisik bidang kesehatan program jampersal di kota Depok tahun 2016
Ayu Kurniawati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (154.744 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37482
Angka kematian dan kesakitan ibu hamil, bersalin dan nifas merupakan masalah yang kompleks. Akses masyarakat terhadap persalinan merupakan salah satu faktor penting untuk menurunkan AKI dan AKB. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah melalui program Jaminan Persalinan (Jampersal). Jampersal merupakan perluasan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang bertujuan meningkatkan akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB (Kemenkes RI, 2012). Berdasarkan data Laporan e-Renggar yang dikumpulkan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2017), diketahui bahwa beberapa kabupaten/ kota tidak dapat melakukan penyerapan anggaran DAK nonfisik program jampersal, salah satunya adalah kota Depok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam potret penggunaan DAK non fisik bidang kesehatan program Jampersal di Kota Depok tahun 2016. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Informan yang diwawancarai adalah pembuat kebijakan di Pusat, penanggung jawab program di Dinas Kesehatan serta pelaksana program di Puskesmas. Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara mendalam dan dilengkapi dengan alat perekam suara. Hasil dan kesimpulan yang didapat adalah informasi kendala/masalah dalam pemanfaatan dana DAK Non Fisik program Jampersal di Kota Depok pada tahun 2016 yaitu proses penerbitan juknis cukup terlambat, kurang fleksibel dan kurang disosialisasikan, perencanaan dan penganggaran dilakukan secara Top Down tanpa melibatkan daerah, SDM pelaksana program Jampersal di kota Depok sudah cukup berkualitas namun jumlahnya masih kurang memadai, dan implementasi Juknis belum mampu mengakomodir kebutuhan di daerah akibatnya penyerapan dana DAK Non Fisik program Jampersal tidak dapat terserap dengan maksimal.
Peran filantropi dalam pendanaan program kesehatan ibu dan anak dalam mengatasi AKI dan AKB di Indonesia
Dedy Arisjulyanto;
Muhammad Syukran
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (979.969 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37483
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran filantropi dalam menggalang dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah dalam membiayai program dan kegiatan operasional program kesehatan ibu dan anak. Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil wawancara, studi literatur dan studi dokumentasi. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan deskripstif kualitatif. Filantropi memiliki peran dan kontribusi dalam penggalangan dana yang akan digunakan untuk pendanaan sektor kesehatan di Indonesia, khusunya program kesehatan ibu dan anak. Kegiatan filantropi yang diadakan bisa berbentuk kegiatan penggalangan dana melalui media maupun konser amal, penggalangan dana melalui media dan konser amal adalah salah satu cara yang efektif dalam menggalang dana dengan menggunakan sistem ritail dana kemanusiaan, melalui bank: ATM (transfer, phone dan internet banking), layanan donasi lewat sms contact person. Filantropi memiliki peran dan kontribusi yang baik dalam membantu pemerintah dalam mengatasi masalah AKI dan AKB di Indonesia melalui kegiatan filantropi seperti penggalangan dana melalui media dan konser amal.
Breastfeeding pattern based on nutritional status in 6-12 months old infants
Carissa Cerdasari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.481 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37484
Background: Malnutrition especially undernutrition is still concern for public health problems.Underweight in children will disrupt the learning process due to interference with the development of intelligence, more susceptible to infection and increase disease severity, to increase mortality. Objective: This study was conducted to asses the difference breastfeeding patterns include the breastmilk only duration and daily breastfeeding frequencies based on nutritional status in 6-12 months old infants. Methods: In this cross-sectional study, mothers (n=60) of infants aged 6-12 months old were recruited. The infant’s nutritional status was determined anthropometrically by 3 indexes ie body weight for age, length for age, and weight for length. Breastfeeding patterns include the breastmilk only duration and daily breastfeeding frequencies is obtained by interview and by 2x24 hour daily breastfeeding form. Kruskal-wallis test were used to evaluate the difference breastfeeding patterns based on nutritional status. Results: The average of brestmilk only duration was 3,21±2,41 months, and the average of daily breastfeeding frequencies was 12,46±3,8 times a day. Most of the respondents were in normal nutritional status (86,67% for W/A, 83,3% for L/A, and 85,0% for W/L). There were no difference in breastfeeding patterns either on breastmilk only durations or on daily breastfeeding frequencies based on nutritional status in 6-12 months old infants (p>0,05).Conclusion: Infant's nutritional status is determined more by the daily energy consumption of all infant foods, not only from breastmilk but also from complementary food.
Peran ibu foundation dalam pemberdayaan dan pendanaan program kesehatan ibu dan anak di Indonesia
Hafdhallah Hafdhallah;
Dedy Arisjulyanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (693.442 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37491
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI). Angka kematian ibu di Indonesia berada di angka 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 22,23 per 1.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015. Ketidak merataan fasilitas dan pelayanan kesehatan Ibu dan anak menjadi masalah utama di Indonesia, Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peran Ibu foundation dalam menggalang dana dan sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah dalam membiayai program dan kegiatan operasional program kesehatan ibu dan anak, Sumber data dalam penelitian ini adalah dari hasil studi literatur dan studi dokumentasi. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan deskripstif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibu foundation memiliki peran dan kontribusi dalam penggalangan dana yang akan digunakan untuk pendanaan dan pemberdayaan Ibu dan anak di Indonesia. Kegiatan Ibu Foundation yang diadakan berbentuk kegiatan penggalangan dana melalui media maupun konser amal dan bermitra dengan banyak yayasan-yayasan dan LSM kesehatan lainnya, penggalangan dana melalui media dan konser amal adalah salah satu cara yang efektif dalam menggalang dana dengan menggunakan sistem ritail dana kemanusiaan, Melalui bank: ATM (transfer, phone dan internet banking), layanan donasi lewat sms contac person. Kesimpulan dalam penelitaian ini bahwa Ibu Foundation memiliki peran dan kontribusi yang baik dalam membantu pemerintah dalam mengatasi meningkatkan kesejahteraan Ibu dan anak di Indonesia melalui kegiatan Filantropi seperti penggalangan dana melalui media dan konser amal.
Strategi baru untuk mengurangi defisit badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) kesehatan
Karl Frizts Pasaribu;
Try Purnamasari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (146.847 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37492
Program Jaminan Kesehatan Nasional berhasil meningkatkan akses bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Tingginya akses tersebut berbanding lurus dengan biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan sebagai purchaser. Defisit BPJS Kesehatan yang tahun ke tahun selalu naik, diproyeksikan besaran defisit pada tahun 2018 mencapai Rp. 9T. Disisi lain, tunggakan iuran peserta BPJS Kesehatan pun sudah mencapai Rp. 3,4 Triliun. Hal ini tentunya akan mengancam sustainability program JKN ini. Pendapatan negara terbatas sementara pengeluaran untuk JKN tidak terbatas. Maka dari itu perlu sumber baru untuk menopang pendanaan sistem pembiayaan kesehatan yang selama ini bersumber dari APBN dan iuran peserta BPJS Kesehatan. Konser Amal bisa menjadi salah satu sumber pendanaan tambahan bagi BPJS Kesehatan dalam menghadapi defisit dana. Konser Amal bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Di Indonesia, Konser Amal tidak hanya dilakukan oleh kalangan musisi, melainkan juga dilakukan lembaga keagamaan, lembaga sosial , akademisi hingga perkumpulan fans klub sepakbola. Hampir semua konser amal yang pernah dilakukan sukses atau berhasil mencapai target yang direncanakan. Setiap konser amal yang dilakukan, semua dana yang terkumpul akan disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan atau sedang dalam kesulitan melalui beberapa yayasan sosial seperti yayasan peduli kanker atau komunitas peduli kemanusiaan. Sama halnya dengan konsep gotong royong yang diterapkan dalam system BPJS kesehatan, penggalangan dana melalui konser amal akan menarik minat mereka yang memiliki dana berlebih dan jiwa solidaritas tinggi untuk berpartisipasi dan memberikan sumbangsih. Solidaritas yang terkandung dalam pengadaan konser amal inilah yang akan mengajak masyarakat untuk ikut serta mempertahankan keberadaan BPJS kesehatan.
PPMTKP pada guru TK di TK Melati kecamatan Buduran dan TK Tunas Bangsa kecamatan Candi kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur
Nurul Azizah;
Siti Cholifah;
Rafhani Rosydah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (174.555 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37498
Pendidikan pada anak dimulai sejak usia dini, pendidikan akan terlaksana dengan apabila anak dalam kondisi sehat secara fisik dan psikologis, salah satu indikator anak sehat adalah pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Peran mitra (guru TK) sangat penting dalam tumbuh kembang anak karena mitra dalam tugasnya memberikan stimulasi dalam bentuk kegiatan proses belajar mengajar. Mitra (guru TK Melati dan TK Tunas Bangsa) sangat sangat aktif dalam kegiatan disekolah dalam mendidik siswa, baik dalam segi pendidikan formal maupun non formal (pembentukan karakter). Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh tim pengusul pada mitra 1 didapatkan hasil bahwa terdapat siswa yang mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan, pada mitra 2 ditemukan masalah yakni mitra belum pernah mendapatkan pengetahuan tentang deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Padahal terdapat beberapa cara untuk menstimulasi siswa tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan usianya. Berdasarkan permasalahan tersebut tim pengusul menawarkan solusi untuk membantu mengatasi kurangnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam pemeriksaan dan cara deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Salah satu upaya yang ditawarkan oleh tim pengusul adalah memberikan informasi melalui sebuah seminar dan pelatihan/workshop beserta pendampingan pemeriksaan dan cara deteksi dini masalah tumbuh kembang pada anak. Pelaksanaan seminar dan pelatihan (workshop) tentang cara pemeriksaan dan deteksi dini adanya kelainan dan tumbuh kembang di TK Melati Buduran Sidoarjo dilaksanakan pada tanggal 18-19 Januari 2018 yang diikuti oleh kepala sekolah dan 8 guru yang terdiri dari guru PAUD dan guru TK A dan B dan pelaksanaan seminar dan pelatihan (workshop) tentang cara pemeriksaan dan deteksi dini adanya kelainan dan tumbuh kembang di TK Tunas Bangsa Durung Bedug Sidoarjo dilaksanakan pada tanggal 18-19 Februari 2018 yang diikuti oleh kepala sekolah dan 4 guru yang terdiri dari guru PAUD dan guru TK A dan B. Hasil seminar dan workshop didapatkan mitra dapat melaksanakan cara menilai deteksi dini dan kelainan tumbuh kembang pada balita secara mandiri, dan mitra dapat mengaplikasikan hal tersebut pada anak didik seterusnya selama proses belajar berlangsung.
Posbindu Disabilitas
Shinta Chyntia Agustina
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (890.688 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37499
Posbindu disabilitas merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat yang dilaksanakan dari dan oleh masyarakat disabilitas dan pendampingnya, baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Peserta Posbindu Disabilitas dimulai pada usia anak-anak sampai usia lansia, dilaksanakan setiap bulan pada saat pertemuan bulanan organisasi disabilitas. Posbindu Disabilitas di DIY berbeda dengan pelaksanaan Posbindu di daerah lain dikarenakan adanya pembiayaan tenaga medis (dokter) yang datang tiga bulan sekali dan rehabilitasi oleh Bapel Jamkesos DIY . Pobindu disabilitas mulai dilaksanakan di DIY pada bulan Agustus 2017. Sampai dengan sekarang ada 12 kelompok Posbindu disabilitas, dengan jumlah anggota sebanyak 559 disabilitas dan 723 pendamping disabilitas. Permasalahan dalam program Posbindu Disabilitas adalah 1) Keterbatasan fisik/mental sasaran/penyandang disabilitas menghambat mobilitas; 2) Organisasi penyandang disabilitas sangat banyak, bermacam-macam dan terfragmentasi; 3) Upaya promotif dan preventif belum menjadi sesuatu hal yang “ main setting “ apalagi mengenai disabilitas yang merupakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) pengembangan di Puskesmas; 4) Kepercayaan stakeholder lintas sektor terhadap program Posbindu disabilitas masih rendah; 5) Isu pemberdayaan masyarakat kalah dengan isu bantuan jaminan kesehatan maupun sosial. Strategi yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah 1) Menyatukan kebutuhan pelayanan disabilitas antar organisasi disabilitas yang berbeda-beda, sehingga Isu pemberdayaan masyarakat tidak kalah dengan isu bantuan jaminan kesehatan maupun sosial; 2) Melakukan koordinasi antara organisasi disabilitas, Puskesmas Dinas Kesehatan, Balai Jamkesos dan lintas sektor program terkait disabilitas bahwa upaya promotif dan preventif merupakan sesuatu hal yang “ main setting “ walaupun disabilitas merupakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) pengembangan di Puskesmas; 3) Perlunya dukungan, pembinaan dan pengawasan dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan, pada pelaksanaan Posbindu Disabilitas, pemberian pelayanan di Puskesmas sebagai rujukan kegiatan Posbindu Disabilitas dan home care sebagai tindak lanjut dari kegiatan Posbindu disabilitas; 5) Perlu dibuat road map dan pedoman evaluasi dari kegiatan Posbindu disabilitas yang melibatkan semua stakeholder terkait.
Peningkatan kapasitas kader dalam penerapan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu Padukuhan Sembung
Windri Lesmana Rubai
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (363.114 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37500
Permasalahan yang diteliti yaitu adakah perbedaan pengetahuan dan keterampilan kader terkait pelaksanaan posyandu balita sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu sebelum dan sesudah pelatihan di wilayah Padukuhan Sembung, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Penelitian ini menggunakan dua metode berupa eksperimen-semu dengan rancangan one group pre dan post test design dengan subjek berjumlah 11 kader dan semi-wawancara terstruktur pada 5 perwakilan kader. Variabel yang diteliti yaitu pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah intervensi serta pendapat kader tentang sikap dan lesson learn yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Skor pengetahuan diukur dua kali yaitu pre-test dan post-test. Dengan uji Wilcoxon didapatkan adanya perbedaan bermakna pada pengetahuan kader tentang pemberian makanan sehat bayi dan balita dengan nilai p=0,01 (p<0,05); perbedaan bermakna pada pengetahuan komunikasi dasar dan teknik penyuluhan dengan nilai p=0,01 (p<0,05); namun tidak ada perbedaan bermakna pada pengetahuan kader terkait prosedur umum posyandu. Untuk peniliaian praktik antropometri menggunakan lembar cheklistdidapatkan hasil bahwa kader menjadi lebih paham tentang prosedur penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan dan tinggi badan, pengukuran LiLA dan lingkar kepala pada bayi dan balita. Lima perwakilan kader yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka senang dengan adanya pelatihan yang diberikan karena membuat mereka lebih memahami prosedur posyandu yang baik dan tepat, serta berharap kegiatan semacam ini dapat berkesinambungan. Intervensi pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan pemantauan pertumbuhan balita.