cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINDAKAN KRIOTERAPI PADA INDIVIDU IVA POSITIF DI KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2018
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.36262

Abstract

Budaya merokok pada wanita di Suku Tengger Luqman Afifudin; Fatwa Sari Tetra Dewi; Retna Siwi Padmawati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.444 KB) | DOI: 10.22146/bkm.36505

Abstract

Smoking behavior culture of Tenggerese women Purpose: Number of female smokers continues to increase. Most of Tenggerese women who lived in Lumajang district have smoking habit. This study aims to describe the cultural smoking behavior of Tenggerese women.Methods: This was a qualitative research with ethnography approach. The informant was obtained through snowball method based on information from local leader and health cadre, then the informant was chosen used purposive method based on predetermined inclusion criteria. The main informant was 9 Tenggerese women who smoke. Additional informants consist of 13 people consisting of 8 informant’s husband and 5 local leader, shaman, local public figure, midwife, and agricultural officer. Data collection was done by in-depth interview and observation.Results: Cigarettes become one of the material offerings Gedang Ayu or Pitrah. Argosari village is the village of Kalapatra which means having a difference in place, time, and habits have implications on the culture or habits of Tenggerese in terms of smoking so that smoking is a common thing in women and seems not found on other district. The gender perspective in meet with economic needs of the family is a factor supporting women to have smoking habits. The socio-cultural aspects prevailing in society encourage the Tenggerese women’s smoking behavior. Informants know the cigarette and its impact from health warning pictures on cigarette pack. Health promotion efforts in tobacco control are undertaken by health workers through the activities of the Birth Planning Program and prevention of complications (P4K) and school health (UKS).Conclusions: Cigarettes became part of the Tenggerese culture in Argosari Village. Behavior of smoking into Tengger women’s culture and smoking is common place because Argosari Village is Kalapatra Village. But nowadays, many teenage women do not smoke anymore include all pregnant women in young age. People who are respected in the community such as village leader, traditional healers , and community leaders also do not smoke. Perspectives of gender and socio-cultural aspects prevailing in Tengger society are contributing factors to the Tenggerese women’s smoking behavior.
Gambaran Personal Hygiene Anak Usia Sekolah Dasar yang Tinggal di Sekitar TPA Ngronggo Salatiga Dhanang Puspita; Sanfia T. Messakh; Christintya Nuarika
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.36920

Abstract

Personal hygiene behavior is one effort to prevent the occurrence of various diseases due to about personal hygiene. Factors of knowledge, environment, and family support become the determinants of personal hygiene practices by children. Children living in landfill have a greater risk of health disruption due to an environment that does not support personal hygiene. The purpose of this study was to look the personal hygiene of primary school age children living in the TPA Ngronggo, Salatiga. This research is descriptive qualitative. Collecting data by interviewing respondents aged 6 - 11 years and living in landfill. The results obtained, most children do not fully understand and practice personal hygiene in their daily lives. concluded if the children living in the landfill do not have the knowledge and practice of personal hygiene is good.microorganism from the waste. Children aged 6 - 11 years are still vulnerable awareness 
Pengalaman dan Need Assessment Training Manajemen pada Dokter yang Bertugas di Daerah Tertinggal di Indonesia Fury Maulina
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.36936

Abstract

Latar belakang: Dokter yang bertugas di daerah tertinggal harus mampu bekerja dengan berbagai kondisi dan keterbatasan. Kondisi ini menuntut dokter memiliki kompetensi manajemen. Kompetensi manajemen dapat diperoleh melalui training. Tujuan: Penelitian ini mengidentifikasi pengalaman dan need assessment terkait training manajemen pada dokter di daerah tertinggal. Metode: mixed method dengan strategi eksploratoris sekuensial. Metode kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam pada 12 orang dokter umum pada 4 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sementara metode kuantitatif dilakukan menggunakan kuesioner pada 167 dokter umum di Provinsi Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat dan Papua. Hasil: Dokter di daerah tertinggal umumnya menjalankan tugas secara learning by doing. Adanya training manajemen menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan manajemen. Pengalaman training manajemen bermanfaat karena dapat meningkatkan kompetensi manajemen sehingga berdampak pada pencapaian kinerja, keputusan dan kebijakan yang diambil di tempat kerja. Sebanyak 74/167 responden (44.3%) belum pernah mengikuti training manajemen, namun sebanyak 140/167 responden (83.8%) tertarik mengikuti training manajemen meskipun bukan kewajiban dari institusi. Leadership, effective communication, dan survival skills merupakan keterampilan manajemen yang paling dibutuhkan selama bertugas di daerah tertinggal, metode training yang diinginkan yaitu workshop, seminar dan diskusi kasus. Waktu pelaksanaan training yang diinginkan adalah sebelum penempatan, selama penempatan dan saat studi pendidikan dokter. Kesimpulan: Kompetensi manajemen dapat berkembang dengan adanya training manajemen. Rekomendasinya adalah training manajemen dapat diberikan saat studi pendidikan dokter dengan memasukkan pendidikan manajemen dalam kurikulum undergraduate serta menciptakan program intensif berupa rural clerkship program sebagai media pembelajaran.
Neglected tropical diseases: less known subjects amongst health care professionals Wilson Karoke
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.397 KB) | DOI: 10.22146/bkm.36969

Abstract

Wilson Karoke expressed concern about the low priority the governments in developing countries paid to common tropical diseases. They have limited funding for research and for programs to address the problem. Even more sadly, health workers get less exposure to information on research and discussion  on diseases considered as which can further make the problem neglected.
Gerakan Organisasi Filantropi pada Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak saat Banjir Bandung Selatan Tahun 2014-2016 Nurlienda Hasanah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.254 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37000

Abstract

Pendahuluan: Kematian bayi akibat diare merupakan kasus tertinggi pada situasi bencana. Pemberian makan bayi dan anak (PMBA) berperan dalam mengatasi hal tersebut.Tujuan: Untuk menggambarkan gerakan organisasi filantropi dalam pemberian makan bayi dan anak, penyintas Banjir Bandung Selatan.Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif dan desain studi kasus. Penelitian ini mengulas partisipasi organisasi filantropi pada pemberian makan bayi dan anak pasca bencana banjir di Bandung Selatan Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitin ini disajikan dalam bentuk naratif.Hasil: Terdapat tiga organisasi filantropi yang berpartisipasi pada pemberian makan bayi dan anak pasca bencana banjir di Bandung Selatan yaitu Kidzsmile Foundation, Dompet Dhuafa dan Healthy Homemade Baby Food (HHBF). Organisasi tersebut berperan membantu penyintas berupa meningkatkan kesadaran masyarakat, menyediakan makanan lokal yang sesuai untuk makanan bayi dan anak, konseling menyusui dan pendidikan gizi. Salah satu organisasi (Kidzsmile Foundation) juga  mengembangkan jaringan dan melakukan advokasi pada Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Barat (FPRB) terkait pemberian makan bayi dan anak saat banjir guna menghasilkan kebijakan PMBA bagi organisasi-organisasi filantropi. FPRB Jabar berperan penting dalam koordinasi dan distribusi pengganti ASI (breast-milk subtitutes) bagi penyintas saat terjadi bencana. Organisasi filantropi menjadi wadah masyarakat untuk menjembatani adanya gap dalam penanganan penyintas pasca bencana. Pedoman kegiatan gizi dalam penanggulangan bencana belum optimal. Sehingga keterlibatan sektor pemerintah terkait PMBA perlu mendapatkan perhatian serius.Kesimpulan: Koordinasi organisasi filantropi dan sektor pemerintah berperan penting dalam mempromosikan praktik pemberian makan bayi dan anak pada situasi bencana.
PERAN POLUSI SUARA TERHADAP KESEHATAN MENTAL WARGA IBUKOTA DI PROVINSI DKI JAKARTA Irma Alya Safira
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.37023

Abstract

Latar belakangOrganisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) mendefinisikan sehat sebagai keadaan yang utuh dari keadaan fisik, mental, dan sosial yang baik dari seorang individu, tidak hanya dari ada atau tidaknya penyakit. Kota sehat adalah suatu kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat bagi pekerja dan masyarakat. Masyarakat perkotaan rentan terhadap paparan polusi suara, maka perlu diperhatikan beberapa kebijakan untuk kota yang sehat.. Provinsi DKI Jakarta dengan tingkat arus lalu lintas yang padat menimbulkan dampak polusi suara berupa kebisingan. Pemukiman penduduk yang cukup padat serta bangunan yang ada di DKI Jakarta juga sangat rentan dengan paparan kebisingan.Polusi suara dapat berupa kebisingan atau suara yang tidak diinginkan merupakan suatu paparan yang dapat mencemari lingkungan. Kebisingan diberi perlakuan yang berbeda dalam penanganan polutan lainnya seperti pencemaran bahan kimia dan pencemaran udara. Suara dapat menjadi pencemaran ketika melebihi ambang batas yang dapat didengar secara normal sehingga menimbulkan gangguan pada manusia dan makhluk hidup lainnya. Nilai ambang batas kebisingan untuk bekerja secara nyaman selama 8 jam dalam satu hari yaitu 85 dB. Polusi suara disebabkan oleh suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Polusi suara secara langsung dapat menyebabkan ketulian secara fisik dan tekanan psikologis. TujuanTujuan penelitian ini adalah mengkaji efek dari tingkat kebisingan yang disebabkan polusi suara yang dapat disebabkan oleh padatnya arus lalu lintas di DKI Jakarta. MetodePolicy analysis paper melalui studi literatur dengan penelusuran pustaka berbasis jaringan internet dengan menggunakan kata kunci pencarian “Polusi suara”, “Kesehatan Mental”, dan “Kepadatan Lalu Lintas” HasilSuara yang cenderung bising dapat mengganggu ritme kehidupan harian. Polusi suara dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang mengganggu kesehatan seperti gangguan tidur, gangguan pendengaran, penyakit kardiovaskular, gangguan hormon, dan meningkatkan insidensi diabetes. Polusi suara dapat mempengaruhi status kesehatan mental seseorang akibat paparan kebisingan dan tingkat stress yang tinggi. Anak-anak lebih mendapat resiko dari paparan kebisingan dibandingkan orang dewasa karena manajemen stres yang lebih rendah.Pihak pengambil kebijakan terkait yaitu Gubernur DKI Jakarta, Dinas Tata Kota, dan Dinas Perhubungan. Pihak yang berperan mengambil kebijakan terkadang memiliki informasi yang kurang mengenai dampak polusi suara yang berkaitan dengan status kesehatan. Kebisingan dapat diatasi dengan material tertentu yang dapat mengisolasi suara yang tidak diinginkan. Melaui sisi pengguna jalan juga harus ditegakkan peraturan mengenai penggunaan klakson seperti pada UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ). Kebijakan pemerintah DKI Jakarta terkait  reduksi polusi suara adalah sistem 3 in 1 sehingga keributan yang terjadi akibat kemacetan, asap dan desing suara mesin tidak terlalu memadati jalan raya.
Implementasi Buku Harian Anak Terhebat (BHAT) Sebagai Upaya Meningkatkan Strata Tatanan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sekolah Dasar di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Indonesia Riesa Daeyani; Yuditha Nindya Rizqi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.904 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37043

Abstract

Latar Belakang:Masalah kesehatan pada anak sekolah banyak disebabkan kurangnya kebiasaan PHBS oleh anak usia sekolah. Strata tatanan PHBS sekolah dasar di Kabupaten Lumajang belum mencapai target. Permasalahan tersebut menginisiasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang mengimplementasikan program inovasi Buku Harian Anak Terhebat (Terbiasa Hidup Bersih dan Sehat) pada anak sekolah dasar sebagai proses pembiasaan PHBS.  Tujuan:Mendeskripsikan implementasi BHAT di beberapa sekolah dasar/sederajat sebagai upaya meningkatkan strata tatanan PHBS sekolah dasar di Kabupaten Lumajang. Metode:Penelitian ini merupakan case report dari implementasi BHAT di Kabupaten Lumajang, menggunakan data sekunder dari laporan pelaksanaan program BHAT dan PHBS sekolah dasar. Hasil: BHAT adalah modifikasi penerapan indikator PHBS di sekolah dan rumah oleh anak sekolah dasar. Penerapan tersebut harus dipantau oleh guru dan orang tua, melalui pengisian BHAT secara harian dan mingguan. Monitoring I terhadap hasil pemantauan pelaksanaan BHAT dilakukan oleh guru, sedangkan monitoring II dan evaluasi dilakukan oleh Puskesmas.Pengembangan BHAT diawali pada bulan Februari 2016, melibatkan beberapa lintas sektor di Kabupaten Lumajang, yaitu Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Badan Perencana Pembangunan Daerah, Tim Penggerak PKK dan Dewan Pendidikan. Implementasi BHAT dimulai bulan Agustus 2016 pada 125 sekolah dasar/sederajat di Kabupaten Lumajang, dengan sasaran siswa kelas 4 dan 5. Rekapitulasi pemantauan pelaksanaan BHAT pada bulan September dan November 2016 serta Januari dan Maret 2017, menunjukkan peningkatan capaian indikator sehat pada PHBS anak di rumah (harian dan mingguan) serta di sekolah. Capaian tersebut berkontribusi pada peningkatan strata IV (sehat)  tatanan PHBS sekolah dasar, dari 25.26% pada tahun 2015 menjadi 28.24% pada tahun 2016. Kesimpulan: Implementasi BHAT pada beberapa sekolah dasar/sederajat terbukti mampu meningkatkan strata tatanan PHBS sekolah dasar, sehingga sasarannya perlu diperluas. Strategi pengembangan BHAT untuk sustainabilitas program, yaitu adanya regulasi daerah yang memperkuat implementasi BHAT di seluruh sekolah dasar di wilayah Kabupaten Lumajang.  Kata kunci: Buku Harian Anak Terhebat, Strata Tatanan PHBS sekolah dasar, indikator PHBS
Adolescents' reproductive health in north coastal line West Java: perceptions of adults Juariah Juariah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.066 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37288

Abstract

PurposeThe aims of this study were to explore adults’ perceptions of issues related to adolescents reproductive health in North Coastal line of West Java, difficulty experiences of adults to help adolescents in dealing with their reproductive health problems and also perceptions of adults about solutions for adolescents reproductive health problems.MethodThis qualitative study was be done in Pusakajaya, Subang District, West Java Province. Number of informants were 45 adults people. They were teachers, parents and community leaders. Focus Group Discussion and Indepth Interview provided data for the content analysis. ResultsThis study showed that the mayor problems of adolescents reproductive health in this community were unintended pregnancy for the girls and smoking and substance misuse for the boys. The adults had some difficulties in interaction with adolescents. The teens preferred to make peers as their role models was an impediment. Troubles in adult-adolescent communication also accured. Teachers had diversity providing information on reproductive health due to the limitations of reference in the curriculum, materials and teaching aids. Poverty, residential environment of the adolescents, less attention from the local government were some barriers and challenges impacting adolescent reproductive health. Strengthening the family, increasing the schools capacity to give reproductive health information, continuous sensitization that supported by government regulation were identified by the informants as solutions in facing adolescent reproductive health problems. ConclusionInvolving adults to find the issues of adolescent reproductive health provide an overview of adolescent reproductive health, difficulty in dealing with adolescents and solutions that can be done to solve the problem of adolescent reproductive health
Evaluasi Sistem Surveilans PTM di FKTP Kabupaten Sleman Ade Kartikasari Sebba
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.75 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37323

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan Permenkes No 92 tahun 2014 bahwa untukmengoptimalkan aliran data dengan informasi yang akurat, tepat dan cepatdikembangkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi melalui komunikasidata berbasis web. Pada tahun 2015, telah dilakukan pelatihan tentang surveilansPenyakit Tidak Menular (PTM) berbasis portal web di Fasilitas KesehatanTingkat Pertama (FKTP) namun sampai sekarang masih belum berjalan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab belum berjalannya sistemsurveilans PTM berbasis portal web PPTM di FKTPMetode: Evaluasi dilakukan secara deskriptif pada Bulan Januari-Februari 2017.Subjek penelitian adalah pengelola program PTM di puskesmas. Teknikpengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampelsebanyak 17 responden. Evaluasi surveilans menggunakan kriteria WHO (struktursistem surveilans, fungsi inti, dan fungsi dukungan). Instrumen menggunakankuesioner terstruktur dan lembar checklist.Hasil: Berdasarkan struktur sistem surveilans: 82,4% mengetahui adanya aspeklegal surveilans PTM, dan 58,8% memegang > 4 program. Fungsi inti: hanya35,3% yang melakukan pencatatan kasus dan yang melaporkan pada web hanya29,4%, semua responden tidak pernah melakukan analisis dan interpretasi datadari portal web. Fungsi dukungan: 70,6% mengatakan mengetahui prosedursistem surveilans tetapi satupun responden tidak mampu menjawab denganlengkap dan sistematis, dan 100% mengatakan tidak pernah dilakukan monitoringdan evaluasi sistem surveilans portal web di FKTP. Intervensi dengan refreshpengetahuan tentang surveilans PTM berbasis web dilaksanakan pada tanggal 31Mei 2017 dan diikuti oleh 17 pemegang program PTM. Hasil evaluasi pre danpost test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 19% danmenununjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudahdilakukannya intervensi dengan p<0,0000 (95%CI=14,14-23,87).Kesimpulan: Penyebab belum berjalan surveilans portal web adalah kurangnyapengetahuan tentang sistem surveilans yang seharusnya, cara penggunaansoftware portal yang masih belum dipahami sehingga pemberian pemahamankembali tentang pelaksanaan sistem surveilans yang seharusnya serta pelatihankembali penggunaan surveilans PTM berbasis portal web di FKTP perludilakukan.

Page 56 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue