cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Daniel Boyarin, The Jewish Gospels: The Story of the Jewish Christ, Forwarded by Jack Miles, New York: The New Press, 2012, xxiii + 200 hlm. Antonius Sudiarja
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.974 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i2.148

Abstract

Sudah sejak awal abad pertama Kristianisme memisahkan diri dari tradisi Yudaisme dan menjadi agama baru sama sekali, meskipun Yesus yang menjadi pokok iman mereka adalah seorang Yahudi. Agama Kristen diajarkan oleh Yesus dengan melepaskan diri dari tradisi Yahudi yang ortodoks, demikianlah anggapan umum hingga sekarang. Maka baik bagi orang Kristen maupun orang Yahudi, seluruh ajaran Kristiani tidak bisa dikembalikan pada akar tradisi Yahudi. Keduanya saling membedakan diri satu sama lain. Yesus mengajarkan “cinta kasih” dan para murid-Nya mempertentangkan ajaran ini dengan ajaran Taurat yang sangat menekankan hukum. Sementara itu jemaat Yahudi menuduh orang Kristen (Yahudi) murtad dari tradisi mereka. Kesan mengenai pertentangan yang sangat keras antara Kristianisme dan Yudaisme di masa lalu ini antara lain juga yang menjadi sebab dari dan memicu—atau setidaknya diduga demikian—munculnya gerakan antisemitisme di Eropa hingga abad keduapuluh. Akan tetapi apakah Kristianisme dan Yudaisme patut dipertentangkan satu sama lain? Dalam buku kecil ini, Daniel Boyarin—seorang rabi Yahudi yang ortodoks serta Profesor Retorika dan Budaya Talmud, Universitas California, Berkeley—mengajukan pandangan bahwa Yesus adalah seorang yang setia pada tradisi Yahudi. Ini berarti ajaran-ajaran yang disampaikan-Nya, setidaknya yang asli, tidaklah menyimpang dari Taurat dan Kitab para Nabi. Jikalau dalam Kristianisme terdapat ajaran yang menyimpang dari sumber Yahudi, maka kiranya karena hal itu ditambahkan atau ditafsirkan secara lain oleh para murid Yesus di kemudian hari, tetapi bukan dari Yesus sendiri. Dari lain pihak, menurut Boyarin, apa yang diajarkan oleh Yesus dapat dilacak kembali dari sumber aslinya dalam Kitab Suci Yahudi. Ajaran Yesus sungguh merupakan bagian dari Yudaisme sendiri. Boyarin mencoba merunut ajaran Yesus yang asli dari sumber-sumber Yudaisme dan mempertemukan tradisi Kristen yang paling awal ini dengan tradisi asli Yahudi. ........... Dalam bab 4 Boyarin membicarakan penderitaan Kristus. Pokok ini sering dikaitkan dengan Yesaya 53 tentang hamba yang setia. Tetapi sekali lagi di sini, kontroversi yang terjadi adalah bahwa sebagian penafsir menempatkan bangsa Yahudi sebagai hamba itu, dan bukan individu, sebagaimana tafsir Kristiani yang menempatkan Yesus dalam posisi tersebut. Alasannya, menurut kebanyakan tafsir Yahudi, “Mesias” tidak menderita. Penderitaan dianggap sebagai aib. Mengutip Joseph Klausner (“The Jewish and Christian Messiah,” dalam The Messianic Idea in Israel, from Its Beginning to the Completion of the Mishnah, trans. W.F. Stinespring, New York: Macmillan, 1955) topik penderitaan Messias dalam Kristianisme diangkat setelah Yesus mengalaminya, jadi semacam apologi (hlm. 130). Kalau demikian, mengapa Allah membiarkan “hamba pilihan”-Nya menderita? Klausner menjawab, demi atau untuk penebusan manusia, sebagaimana diramalkan Yesaya 53. Di sini Klausner mengubah pan-dangan Yahudi, penderitaan itu bukan ramalan tentang pengejaran bangsa Yahudi, melainkan tentang penderitaan Yesus (hlm. 131-132). Menurut Boyarin, tampaknya Midrash dan tradisi ortodoks rabi Yahudi memberi ruang juga pada penderitaan Mesias, karena kedekatan teks Markus 8:38 (“… barangsiapa malu karena Aku dan perkataan-Ku…”), yang menggunakan gaya Middrash untuk mengembangkan gagasan itu untuk Yesus menyangkut penderitaan-Nya, sementara penderitaan dan kematian Mesias juga merupakan bagian dari ajaran umum ortodoksi rabinik (hlm. 134). Tidak semua tafsir Boyarin dapat diangkat dalam resensi pendek ini, tetapi secara umum jalan pikirannya mudah dipahami, juga oleh mereka yang tidak ahli dalam Kitab Suci. Secara ringkas, dalam buku ini Profesor Boyarin mendalami akar Yudaisme dalam Kristianisme awal dan menemukan bahwa ajaran Yesus sama sekali tidak menyimpang dari tradisi Yahudi dan bahwa konsep inkarnasi dan Trinitas pun sudah ada benihnya dalam sumber Yahudi. Maka sebenarnya, tidak ada pemutusan (break) antara ajaran Yesus yang awal dengan Yudaisme sebab kedatangan Messias yang diajarkan Yesus merupakan bagian utuh dari kepercayaan Yahudi, sebagaimana terdapat dalam sumber mereka. (A. Sudiarja, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)
Maureen Sullivan, Responses to 101 Questions on Vatican II, Bandra, Mumbai: St. Paul Press 2004, 135 hlm. Ignatius L Madya Utama
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.982 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i2.150

Abstract

Pada 11 Oktober 2012 Gereja Katolik merayakan 50 tahun dibukanya Konsili Vatikan II. Namun demikian, 16 dokumen yang dihasilkan selama Konsili itu berlangsung (11 Oktober 1962-7 Desember 1965) belum dikenal oleh semua umat Katolik. Bahkan ada tidak sedikit umat Katolik yang belum pernah melihat dokumen-dokumen tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa kendati sudah membacanya, namun merasakan sangat sulit untuk memahaminya. Ada pula yang ketika melihat buku tebal yang memuat dokumen-dokumen tersebut langsung merasa terintimidasi dan ketakutan (intimadated), lalu tidak berani membukanya. Sudah ada berbagai macam upaya untuk menyampaikan isi dan semangat dari Konsili Vatikan II kepada seluruh anggota Gereja Katolik. Salah satu cara adalah menerbitkan buku untuk mengulas isi dokumen-dokumen tersebut. Salah satu dari sekian banyak buku yang pantas dibaca adalah karya Maureen Sulivan, seorang assistant professor ilmu Teologi di Saint Anselm College, Manchester, New Hapshire, Amerika Serikat. Buku yang ditulis dalam bentuk tanya jawab ini dibagi menjadi 9 bab. Bab 1 berbicara mengenai “Pengumuman” diadakannya Konsili yang menggemparkan para pemimpin Gereja, khususnya anggota Dewan Kardinal dan Kuria di Vatikan, yang merasa bahwa Konsili tidak diperlukan. Dalam bab ini dibicarakan tentang arti dari Konsili yang disebut sebagai ekumenis dan pastoral, alasan perlu diadakannya Konsili, persiapan yang dibutuhkan, serta tujuan yang ingin dicapai dengan diadakannya Konsili Vatikan II. Secara khusus disebutkan peran almarhum Paus Johanes XXIII, yang ketika mengumumkan untuk mengadakan Konsili, beliau baru tiga bulan diangkat menjadi Paus. Lewat Konsili ini beliau menginginkan agar Gereja mampu menemukan cara agar iman Kristiani dapat disampaikan kepada dunia dan dimengerti oleh dunia. Demi tujuan itu Gereja perlu “membuka jendela” agar “angin segar memasuki dirinya (hlm. 29).” Gereja perlu melakukan aggiornemento, pembaruan diri. Bab 2 mengulas mengenai orang-orang yang berperan dalam KonsiliVatikan II, ketegangan-ketegangan yang muncul antara mereka yang ingin mengadakan pembaruan dengan mereka yang ingin mempertahankan status quo Gereja, serta peran media massa. Selain sekitar 2200 peserta (Kardinal, Uskup, dan Abas), juga terdapat ratusan teolog yang berperan sebagai penasihat bagi para peserta Konsili (periti), antara lain dengan memberikan seminar-seminar mengenai topik-topik teologis kepada para peserta Konsili (hlm. 35-36). Selain itu juga terdapat para pengamat dari Gereja Ortodoks, Gereja-gereja Protestan main streams (Lutheran, Episkopalian, Anglikan, Metodis, Presbyteran, dan Quakers), dan Yudaisme. Hadirnya para pengamat dari kalangan khusus ini merupakan sesuatu yang baru dan revolusioner dalam Konsili. Secara khusus ditampilkan seorang tokoh pembaru: Kardinal Bea, ketua Sekretariat untuk Kesatuan Umat Kristiani. Ia begitu dikenal dengan ucapannya yang sangat menggemparkan di depan para wartawan: “Members of the other Christian Churches who are living today never ’left’ the Church. So they cannot ‘return,’ can they? We are talking about going together, hand in hand, toward a new future” (hlm. 33). Tokoh pembaru lain adalah Kardinal Achile Liénart, seorang Kardinal senior dari Prancis, yang pada hari ketiga Konsili menolak untuk memilih dari daftar nama yang sudah disiapkan (kebanyakan adalah anggota Kuria) untuk menjadi ketua dari 10 komisi yang akan mengendalikan agenda Konsili. Ia mengusulkan supaya para peserta Konsili memilih orang-orangnya sendiri. Usulan ini didukung oleh Kardinal Josef Fring dari Jerman, dan kemudian diterima oleh semua perserta Konsili. Tokoh pembaru lain adalah Kardinal Jan Alfrink dari Belanda, dan Kardinal Leo Josef Suenens dari Belgia (hlm. 38-38). Di pihak lain, ada tokoh sangat konservatif yang mencoba menghambat jalannya Konsili: Kardinal Alfredo Ottaviani, seorang anggota Kuria dan ketua The Holy Office (sekarang dikenal sebagi Kogregasi untuk Ajaran Iman), yang terkenal dengan ucapannya “Semper idem” (Selalu sama). Ia antara lain melawan hadirnya para pengamat dalam Konsili (hlm. 33), mencoba melarang kuliah-kuliah yang diberikan kepada para peserta Konsili oleh para Yesuit dari Institut Biblis di Roma, bahkan meminta Paus Yohanes XXIII untuk mengusir teolog Yesuit, Karl Rahner dari Roma, yang tentu saja ditolak oleh Paus (hlm. 35). Ia menolak penggunaan bahasa-bahasa lokal untuk Misa, yang intinya adalah pemindahan kekuasaan dari hierarki kepada Umat (hlm. 43), menghambat disahkannya kolegialitas para Uskup dan menandaskan bahwa Komisi Teologi yang ia pimpin memiliki otoritas di atas Konsili (hlm. 55). Dalam bab ini juga disebutkan hal yang baru dalam Konsili ini adalah hadirnya para wartawan dari pelbagai media massa dari seluruh dunia. .......................................... Sebagai penutup, dalam bab 9, Sullivan menegaskan bahwa ada dua hal yang benar-benar perlu diperhatikan untuk zaman ini sebagai agenda yang belum selesai dari Konsili Vatikan II: kolegialitas (relasi atara Paus dan Uskup) dan peran kaum perempuan dalam Gereja. Akhirnya, pada awal abad ke-21 ini Sullivan mengajak kita semua untuk bertanya: Apakah Gereja kita sungguh-sungguh dapat menjawab tantangan-tantangan pada zaman ini?; Apakah Gereja kita dapat membuat pesan Injil relevan untuk zaman ini?; Apakah Gereja kita dapat membangkitkan entusisme baru yang dapat membangun sebuah generasi baru?; Apakah Gereja dapat meredakan berbagai macam ketegangan yang akhir-akhir ini menggoncang “bahtera Petrus?” Dengan bijak Sullivan mengatakan bahwa kita perlu terus berharap, dan harapan itu akan menjadi semakin produktif kalau kita selalu berpegang pada nasihat almarhum Yohanes XXIII: “Untuk hal-hal yang mendasar, kesatuan; untuk hal-hal yang meragukan, kebebasan; dan untuk segala sesuatu, cinta kasih” (hlm. 124). Buku ini sangat komprehensif mengulas Konsili Vatikan II dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Buku ini sangat membantu para pembaca karena dilengkapi dengan daftar isi yang mendetil, daftar semua dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II beserta dengan waktu promulgasinya, daftar istilah-istilah yang penting berkaitan dengan Konsili Vatikan II, serta indeks subjek. Semoga dengan membaca buku ini para pembaca terdorong untuk membuka dan menemukan pesan-pesan penting dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. (Ignatius Madya Utama, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
The Question Of Identity In Amartya Sen’s Capability Approach Benny Hari Juliawan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.479 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.153

Abstract

Abstract: Amartya Sen introduces the concept of capabilities, i.e. what people are able to do and to be, as a non-economic measure in the development evaluation. This essay seeks to explore how this concept deals with the issues of values and politics, which in many cases determines people’s identity. The main argument is that the concept of capabilities is built around a certain individualistic view of human beings, whereas identity suggests a more complex picture. As such, Sen’s capability approach cannot properly address the issue of identity and risks losing important insights which may contribute to people’s well being. Keywords: Amartya Sen, capability approach, identity, development, justice. Abstrak: Amartya Sen memperkenalkan konsep kapabilitas, yakni apa yang dapat dilakukan oleh seseorang dan bagaimana ia dapat menjadi dirinya, sebagai tolok ukur non-ekonomik dalam evaluasi pembangunan. Artikel ini berupaya mengkaji bagaimana konsep ini dapat diselaraskan dengan nilai-nilai identitas dan politik, yang dalam banyak hal menentukan apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai nilai. Argumen yang dikemukakan dalam artikel ini adalah bahwa konsep mengenai kapabilitas dibangun atas sebuah pandangan individualistik mengenai manusia, sementara identitas menyiratkan sebuah gambaran yang lebih kompleks. Dipahami secara demikian, pendekatan kapabilitas Sen tidak dapat menanggapi permasalahan identitas secara memadai dan beresiko kehilangan insight penting yang justru dapat memberi sumbangan bagi kesejahteraan manusia. Kata-kata kunci: Amartya Sen, pendekatan kapabilitas, identitas, perkembangan, keadilan.
Ernst Mach Dan Ekonomi Pikiran Karlina Supelli
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.223 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.154

Abstract

Abstract: Ernst Mach stands as a representative figure of the positivist philosophy of science at the turn of the twentieth century, yet he is by far the most misunderstood scientist-philosopher. The misunderstanding is largely caused by his epistemological rejection of the use of hypothetical entities that are ordinarily posited by scientists. He also argued against the mechanistic worldview which dominated scientific investigations in the nineteenth century. This essay will demonstrate that Mach’s positivism differs from the earlier positivism of August Comte. His anti metaphysical stance is deeply-rooted in his physical phenomenology, guided by the economy of thought in pursuit of the unity of science. In Mach’s view, scientific theories are merely biological tools for organizing experience by means of the fewest possible concepts, and all metaphysical elements are to be eliminated from science as methodologically and epistemologically superfluous. But Mach’s thesis of the unification of science does not share the common concern of the logical positivists to reduce various scientific statements to physical language. While Mach’s philosophy of science clearly exhibits a miscalculation of the strength of scientific conceptual tools, his physical phenomenology serves as a bridge between theory and experiment which has proved to be fruitful. Keywords: The economy of thought, evolution, element, physical phenomenology, the unity of science, instrumentalism, emphirical realism. Abstrak: Ernst Mach tampil sebagai tokoh representatif dari Filsafat Ilmu Pengetahuan positivis pada peralihan menuju abad ke-20, sekaligus sebagai ilmuwan-filsuf yang paling disalahpahami. Kesalahpahaman tersebut sebagian besar disebabkan oleh penolakan epitemologisnya terhadap penggunaan wujud-wujud hipotetis yang kerap diajukan oleh para ilmuwan. Ia juga melawan cara pandang mekanistis yang mendominasi penyelidikan ilmiah pada abad ke-19. Artikel ini memperlihatkan bahwa positivisme Mach berbeda dengan positivisme August Comte yang mendahuluinya. Pandangan anti-metafisis Mach berakar sangat dalam pada fisika fenomenologi yang dipandu oleh ekonomi pikiran untuk mencapai sains terpadu. Dalam pandangan Mach, teori-teori ilmiah semata-mata sarana biologis untuk menata pengalaman dengan memanfaatkan sesedikit mungkin konsep, dan semua elemen metafisika perlu disingkirkan dari sains karena secara metodologis dan epistemologis tidak bermanfaat. Namun, tesis Mach tentang sains terpadu tidak sejalan dengan gagasan para positivis logis yang mereduksi berbagai macam pernyataan ilmiah ke dalam bahasa fisika. Sementara Filsafat Ilmu Pengetahuan Mach jelas-jelas keliru dalam memperhitungkan kekuatan piranti-piranti konseptual sains, fisika fenomenologi yang menjembatani teori dan eksperimen telah terbukti sangat bermanfaat. Kata-kata kunci: Ekonomi pikiran, evolusi, elemen, fisika fenomenologi, sains terpadu, instrumentalisme, realisme empiris.
Hukum Sebagai Interpretasi Petrus CKL Bello
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.102 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.155

Abstract

Abstract: The issue of interpretation is one of the major themes in the study of law and legal practices. Nonetheless, while legal interpretation plays a crucial role in the study of law, scholars have yet to reach an agreement about its nature and status in the discipline. One of the most prolific legal philosophers who is deeply engaged in the discourse of this issue is Ronald Dworkin. This article will examine his views on law as an interpretation. The constructive interpretation model that Dworkin develops has posed a serious challenge for analytical jurisprudence in general, and especially, for legal positivism. The challenge is substantive and methodological; substantive, in the sense that it seeks to radically criticize a sharp separation between law and morality as prevalent in legal positivism, and methodological in the sense that it seeks to put together the analysis of legal concepts with the interpretation of law as it is regarded from the perspective of particular legal cases. Through the concept of law as interpretation, Dworkin wishes to formulate his own understanding of law as a coherent system of legal principles. Keywords: Ronald Dworkin, constructive interpretation model, external and internal skepticism, theory of law, rights thesis, difficult cases. Abstrak: Persoalan interpretasi merupakan salah satu tema besar dalam studi hukum dan praktik hukum. Kendati demikian, sementara interpretasi hukum memainkan peran krusial dalam studi hukum, para pakar masih belum sepakat mengenai hakikat dan kedudukannya dalam disiplin ilmu tersebut. Salah seorang ahli filsafat hukum yang sangat produktif dan sangat serius menggeluti persoalan ini adalah Ronald Dworkin. Artikel ini akan mengkaji pandangan Dworkin tentang hukum sabagai sebuah interpretasi. Model interpretasi konstruktif yang dikembangkan oleh Dworkin merupakan tantangan yang sangat serius bagi yurisprudensi analitis pada umumnya, dan khususnya bagi positivisme hukum. Tantangan ini bersifat substantif dan metodologis. Bersifat substantif dalam arti bahwa Dworkin mengkritik secara radikal pemisahan yang begitu tajam antara hukum dan moralitas seperti lazim terjadi dalam positivisme hukum. Tantangan ini juga bersifat metodologis dalam arti bahwa tantangan tersebut berkehendak menyatukan analisis atas konsep hukum dengan interpretasi terhadapnya, dipandang dari perspektif kasus-kasus hukum partikular. Melalui konsep hukum sebagai interpretasi, Dworkin ingin memformulasikan pemahamannya tentang hukum sebagai sebuah sistem prinsip-prinsip hukum yang koheren. Kata-kata kunci: Ronald Dworkin, model interpretasi konstruktif, skeptisisme eksternal dan internal, teori hukum, tesis hak, kasus-kasus sulit.
Solidaritas Sebagai Norma Dasar Dalam Etika Paulus Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.948 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.159

Abstract

Abstract: Solidarity, a modern word and concept, has old roots in the concept of koinonia (fellowship) as it is understood in the New Testament. David G. Horrell even maintains that what we now call solidarity, functions as a meta norm in Paul’s ethics, since phenomena of solidarity are clearly present in the central elements of Paul’s community building. Reference is made to the two basic rituals, Baptism and the Lord’s Supper, which build unity in diversity; to the most frequently used form of address, adelphoi/brothers, which asks for familial treatment of one another; also to the special way in which Paul often tries to restore unity in the middle of conflicts; and especially to his metaphor of the Church as the one body of Christ with many different parts that need and support one another. When speaking about the collections as a sign of the Greek community’s solidarity with the poor community in Jerusalem, Paul refers to Christ’s solidarity as the source of solidarity within and among communities. Keywords: Solidarity, fellowship, David Horrell, Paul, Ethics, baptism, the Lord’s Supper, brothers, Body of Christ, Christ’s solidarity. Abstrak: Solidaritas, sebuah kata dan paham modern, memiliki akar yang lama, antara lain dalam paham koinonia (persekutuan), sebagaimana digunakan dalam Alkitab Perjanjian Baru. David G. Horrell mempertahankan bahwa apa yang sekarang kita sebut solidaritas, merupakan norma dasar (meta norm) dalam etika Paulus, sebab fenomen-fenomen solidaritas tampak dalam unsur-unsur sentral pembinaan jemaatnya, antara lain dalam kedua ritual paling dasar, baptisan dan perjamuan Tuhan, yang membina kesatuan dalam perbedaan. Solidaritas juga muncul dalam sebutan paling frekuen, saudara-saudara (adelphoi), yang menuntut suatu etos kekeluargaan. Solidaritas juga tampak dalam banyak seruan Paulus untuk memulihkan kesatuan apabila ia berhadapan dengan perpecahan, dan teristimewa dalam menggambarkan jemaat sebagai satu tubuh Kristus dengan banyak anggota yang berbeda dan saling membutuhkan serta memberi. Dalam konteks kolekte-kolekte sebagai tanda solidaritas antarjemaat, Paulus secara eksplisit menunjuk kepada solidaritas Kristus dengan kita sebagai dasar terdalam dari solidaritas antarumat. Kata-kata kunci: Solidaritas, persekutuan, David Horrell, Paulus, etika, baptisan, Perjamuan Tuhan, saudara-saudara, Tubuh Kristus, solidaritas Kristus.
Tinjauan Pastoral Liturgis Atas Hidup Dari Misteri Ekaristi E. Pranawa Dhatu Martasudjita
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.738 KB)

Abstract

Abstract: The Magisterium of the Church has repeatedly affirmed the centrality of Eucharistic celebration in the life of the Church. The Second Vatican Council speaks of the Eucharist as “the source and summit of the Christian life” (Lumen Gentium 11). However, to live authentically what we believe is another thing. How do we live deeply the mystery of the Eucharist? This article will make use of a pastoral-liturgical approach to discover and explain the major reasons behind the difficulty in living this mystery more deeply. Two of the latest important documents on the Eucharist will be examined. They are Ecclesia de Eucharistia and Sacramentum Caritatis. The three determining factors in Eucharistic celebration are the Eucharistic text (Sacramentary), the liturgical servers, and one’s internal disposition enriched by a sense of awe which is developed in the context of prayer and devotion. In the relation to thesense of awe, the liturgical servers, including the presider, and all the faithful, need to understand the ars celebrandi. Keywords: Eucharistic mystery, living the eucharist, sense of awe, ars celebrandi, eucharistic devotian, devotion and prayer. Abstrak: Sentralitas perayaan Ekaristi dalam hidup umat beriman Katolik ditegaskan berulangkali dalam Magisterium Gereja. Misalnya saja Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup seluruh umat kristiani (LG 11). Akan tetapi dalam praksis, tidaklah mudah menghayati keyakinan Gereja ini. Masalah pokok umat ialah bagaimana menghidupi keagungan misteri Ekaristi itu. Melalui pendekatan pastoral liturgis, karya tulis ini mencari faktor penyebab kesulitan umat Katolik dewasa ini dalam menghayati misteri Ekaristi itu. Selanjutnya, ditunjukkan keagungan misteri Ekaristi sebagaimana dinyatakan dalam ajaran Magisterium Gereja. Dalam tulisan ini dipilih dua dokumen Gereja mutakhir mengenai Ekaristi, yaitu Ecclesia de Eucharistia dan Sacramentum Caritatis. Penulis berpendapat bahwa untuk menghayati keagungan misteri Ekaristi itu perlu diperhatikan adanya tiga faktor dalam rangka pastoral liturgi Gereja, yaitu teks atau tata perayaannya, para petugas liturgi, dan disposisi batin umat. Untuk membangun disposisi batin umat yang baik diperlukan pengalaman keterpesonaan (sense of awe) melalui praktik hidup doa dan devosi yang teratur. Dalam rangka pengalaman keterpesonaan pula penulis mengusulkan dikembangkannya ars celebrandi bagi semua petugas liturgi dan seluruh umat beriman. Kata-kata kunci: Misteri Ekaristi, penghayatan Ekaristi, pengalaman keterpesonaan, ars celebrandi, devosi Ekaristi, devosi dan doa.
F. Budi Hardiman, Hak-hak asasi manusia: Polemik dengan Agama dan Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 2011, 157 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.161

Abstract

Buku relatif kecil F. Budi Hardiman, dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkarta, di Jakarta, ini merupakan sumbangan penting bagi pustaka berbahasa Indonesia tentang hak-hak asasi manusia. Bahkan, setahu peninjau buku ini, cara penulis mendekati hal hak-hak asasi manusia dalam pustaka berbahasa Jerman dan Inggris pun masih dicari. Kekhasan buku ini adalah bahwa Budi Hardiman membahas hak-hak asasi manusia dengan mendiskusikan enam kontroversi paling utama di sekitarnya, yaitu (1) kritik Hannah Arendt terhadap klaim universalitas hak-hak asasi manusia dari sudut republikanisme; (2) polemik dari sudut teologi Islam; (3) tantangan dari sudut multikulturalisme; (4) hak-hak asasi manusia berhadapan dengan nilai-nilai Asia; (5) tuntutan agar deklarasi hak-hak asasi manusia dilengkapi oleh daftar kewajiban-kewajiban asasi; dan (6) pertanyaan mengapa dalam budaya-budaya Indonesia “peradaban hak-hak asasi manusia sulit terwujud.” Diskursus ini bukan hanya memiliki relevansi teoretis tinggi, tetapi juga langsung relevan di Indonesia. Budi Hardiman bertolak dari tesis “bahwa ide, motif atau pun intensi dasar yg mendorong praksis hak-hak asasi manusia adalah ’tuntutan universal’ untuk melindungi manusia dari pengalaman-pengalaman negatif dalam modernitas” (hlm. 18). Tesis ini langsung mengoreksi sebuah salah paham serius yang juga merancukan debat dalam BPUPKI pada Juli 1945: Bahwa hak-hak asasi manusia merupakan produk khas liberalisme untuk mengamankan kebebasan maksimal individu terhadap komunitas; jadi bahwa hak-hak asasi manusia merupakan wahana individualisme dan ekspresi sikap egois di mana individu seakan-akan hanya mau menjamin hak-haknya sendiri. Tetapi bukan itulah maksud inti hak-hak asasi manusia. Hak-hak asasi manusia merupakan jawaban terhadap kondisi terancam dan terhina manusia berhadapan dengan kekuatan-kekuatan raksasa modernitas. Hak-hak asasi manusia mau menjamin keutuhan mereka yang tidak berdaya untuk membela diri sendiri. Karena itu, pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia menjadi bukti dan tolok ukur tanggung jawab sosial dalam suatu masyarakat. ................ Faktor kelima adalah agama. Agama sebenarnya memiliki “intuisi kemanusian yang melampaui suku-suku dan bangsa” (hlm. 141), akan tetapi agama bisa juga membatasi intuisi itu pada warganya sendiri. Maka unsur kunci dalam tantangan hak-hak asasi manusia bagi teologi Islam yang dibahas dalam bab 2 adalah perluasan dari perspektif yang terbatas pada umatnya sendiri ke perspektif “manusia qua manusia” (hlm. 54). Makin wawasan dibatasi pada syariah, loncatan itu kelihatan sulit. Tetapi loncatan itu harus berani dilakukan agar kesulitan Islami dengan beberapa hak asasi manusia, misalnya hak pergantian agama atau larangan terhadap hukuman kejam, dapat diatasi. Tantangan multikulturalisme: menjadi pertanyaan bagaimana kalau terjadi pertentangan antara kekhasan suatu budaya, biasanya budaya minoritas, dengan tuntutan hak asasi manusia dibahas dalam bab 3. Buku Budi Hardiman ini perlu dibaca oleh semua yang prihatin dengan diskursus hak-hak asasi manusia di negara kita yang tetap masih klise dan sering kurang bermutu. Penegasan inti penulis, bahwa tujuan dan fungsi jaminan hak asasi manusia adalah perlindungan bagi mereka yang menderita, miskin dan tereksploitasi harus terus-menerus diangkat. Alih-alih jalan ke egoisme dan individualisme hak-hak asasi manusia merupakan bukti solidaritas suatu masyarakat dengan warga-warganya yang paling lemah. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Izzeldin Abuelaish, I Shall Not Hate: Kisah Seorang Dokter Palestina Memperjuangkan Perdamaian Tanpa Dendam dan Kebencian, Bandung: Qanita/Mizan, 2011, 370 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.469 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.164

Abstract

Tragedi perang Palestina–Israel tampak sebagai jalan penderitaan dan kekejian yang tanpa ujung dan tanpa solusi. Di tengah kesuraman seperti itu kisah kehidupan yang diceritakan oleh dokter Abuelaish mengharukan dan membawa harapan. Lahir dalam kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza pada 1955, tujuh tahun setelah perang 1948 melahirkan negara Israel di tengah tanah Palestina, Abuelaish mengalami kemelaratan sangat ekstrem bersama ayahnya yang kehilangan tanahnya dan ibunya yang berwatak kuat tetapi juga keras serta delapan saudaranya. Sebelas orang ini hidup bertahun-tahun dalam ruang pengungsian sesak dan pengap. Rumah lebih baik yang mereka temukan kemudian, dihancurkan buldoser Israel. Adiknya, Noor, ditangkap dan hilang. Di tengah keadaan gelap seperti itu, sambil terpaksa sebagai anak untuk bekerja keras ikut mencari nafkah, Abuelaish tetap seorang anak yang mau maju dan haus belajar. Semangat itu akhirnya membuka jalan baginya untuk mengambil kuliah kedokteran di Kairo, Mesir. Dengan pengalaman kerja bertahun-tahun di pelbagai rumah sakit di Gaza dan negara timur tengah lainnya dan belajar di London serta Harvard, juga lewat kerja sama dengan spesialis-spesialis Ginekologi Yahudi di Beersheba dan Tel-Aviv, ia berkembang menjadi seorang ginekolog dan spesialis fertilitas perempuan yang disegani. Namun bukan itu saja yang merupakan keistimewaan kisahnya. Dokter ini meyakini dan menemukan jalan bagaimana di tengah permusuhan antara bangsa Israel dan Palestina karya medis dapat membangun jembatan hidup bersama; juga bagaimana para perempuan yang ia layani sebagai ginekolog, merupakan kekuatan damai tatkala laki-laki suka berperang. Karena itu, ia berjuang bagi perempuan dan pemberdayaan mereka lewat pendidikan, termasuk putri-putrinya sendiri. Ia mau repot membawa pasien-pasiennya yang tak bisa ia tolong di rumah sakit serba terbatas di Jalur Gaza, ke pusat-pusat medis di Israel yang dapat dan mau membantu, kendati segala kesusahan untuk mendapat visa dan segala macam penghinaan yang harus ditelan seorang Palestina di setiap penyeberangan perbatasan. ................................... Terima kasih kepada Penerbit Qanita (PT Mizan Pustaka) yang begitu cepat menyediakan kesaksian kemanusiaan, iman, serta moral tinggi ini (aslinya dari tahun 2010) dalam terjemahan Indonesia yang enak dibaca. Semoga menjadi best-reader. Tak dapat tidak, kisah istimewa ini telah dan akan terus menggetarkan hati banyak orang, bahkan dari mereka yang mengambil posisi bertolak belakang dengan Izzeldin Abuelaish dalam konflik Israel-Palestina dan cara untuk menyelesaikannya. (Martin Harun, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta)
Norman Tanner, New Short History of the Catholic Church, London: Burn & Oates 2011, 260 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.299 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.166

Abstract

Dengan umur hampir dua ribu tahun Gereja Katolik merupakan lembaga paling tua yang mempertahankan diri melalui sejarah. Bagi Gereja Katolik sejarah itu penuh makna. Karena dalam perjalanannya melalui 20 abad eksisten-sinya Gereja Katolik mendapat bentuk serta pengertian diri yang sekarang. Maka sudah tepatlah kalau Norman Tanner, seorang imam Yesuit dan guru besar sejarah Gereja pada Universitas Gregoriana di Roma, dengan mendasarkan diri pada hasil penelitian sejarah Gereja yang berlimpah dalam 40 tahun terakhir, menulis sebuah “Sejarah Pendek Baru Gereja Katolik.” Hanya dengan 260 halaman pembaca diantar secara kompeten menapaki 2000 tahun perjalanan Gereja Katolik. Gereja Katolik selalu menegaskan bahwa Kitab Suci hanya dapat dimengerti dalam ketertanaman dalam sebuah tradisi. Sebagaimana ditegaskan Tanner, “tradisi memegang peran normatif.” Pengertian tentang hakikat Kekristenan berkembang melalui sejarah. Gereja Katolik yakin “bahwa Kitab Suci harus disertai oleh suatu kesadaran tentang bagaimana pesannya dihayati dan dimengerti melalui berabad-abad lamanya, oleh suatu rasa bagaimana isi Kitab Suci dijernihkan oleh ajaran pihak-pihak berwenang dalam Gereja maupun melalui hidup, sembahyang, studi dan perjuangan umat Kristiani.” Karena itu, Gereja Katolik sekarang tidak dapat dimengerti kalau sejarahnya tidak dimengerti. Tanner membagi sejarah Gereja ke dalam lima tahap. Tahap pertama mencakup 300 tahun pertama di mana Gereja keluar dari dua setengah abad usaha penindasan dan penganiayaan oleh pemerintah kekaisaran Romawi, dan akhirnya menjadi agama resmi. Tahap kedua mulai dengan berakhirnya kekaisaran Romawi bagian Barat pada abad ke-5 dan sampai pada 1054 di mana perpecahan tragis antara Gereja Timur, Gereja-gereja Ortodoks, dan Gereja Barat—Gereja Katolik-Roma—menjadi resmi dan definitif. Perpecahan tersebut masih berlangsung sampai hari ini. ........................................ Yang khas dari buku Tanner adalah bahwa uraian tidak dibatasi pada kejadian-kejadian sekitar Gereja resmi: Konsili-konsili, Paus-paus yang penting, peristiwa-peristiwa dengan dampak historis seperti perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur atau Reformasi Protestan. Dalam buku ini juga dibicarakan ordo-ordo dan gerakan-gerakan religius, teolog-teolog penting, keagamaan rakyat, perkembangan-perkembangan intelektual, perkembangan dalam liturgi, doa dan mistik. Juga dibahas mengenai senirupa, arsitektur dan musik, bahkan sikap Thomas Aquinas terhadap liburan, olah raga dan entertainment. Kehidupan Katolik di basis pun ikut diceriterakan. Buku ini memberikan suatu tinjauan yang kaya dan berbobot tentang 2000 tahun kehidupan Gereja Katolik; bisa juga dikatakan, tentang perkembangan dari Kristianitas ke Gereja Katolik sekarang, dalam bahasa yang mudah diikuti dan dengan gaya naratif yang enak dibaca. Sebuah buku yang dapat sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin mendapat pengertian ringkas, tetapi cukup mendalam, tentang bagaimana Gereja Katolik menjadi Gereja Katolik. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).

Page 9 of 19 | Total Record : 182


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue