cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Teologi Ingatan Sebagai Dasar Rekonsiliasi Dalam Konflik Binsar Jonathan Pakpahan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.753 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i2.107

Abstract

Abstrak: Dengan semakin majunya teknologi “memori,” sekarang dunia menghadapi cara baru untuk menyelesaikan ingatan-ingatan traumatis- nya. Kecenderungan (trend) baru menunjukkan bahwa mengingat, dan bukan melupakan, adalah langkah penting untuk menyelesaikan konflik menuju rekonsiliasi sejati. Teologi Kristen menawarkan kesempatan untuk mengalami kesembuhan dari ingatan yang menyakitkan dalam anamnesis dalam perayaan Ekaristi. Tiga orang teolog dari latar belakang berbeda membantu merumuskan bagaimana mengingat dapat terjadi dalam proses rekonsiliasi. Johann Baptist Metz meminta kita untuk meng- ingat mereka yang menderita. Alexander Schmemann mengatakan bahwa letak ingatan ada dalam Ekaristi. Miroslav Volf meminta ingatan yang jujur dalam proses mengingat. Penyembuhan dapat terjadi ketika meng- ingat dilakukan dengan jujur dan ingatan tersebut dibawa menjadi milik komunal, yang akhirnya membebaskan individu dari ingatan pahitnya. Kata-kata Kunci: Mengingat, ingatan, rekonsiliasi, konflik, memori, lupa, memaafkan, Ekaristi, komunal, Perjamuan Kudus. Abstract: Innovations in technology of “memory” has brought the world to find new ways to resolve its traumatic experiences. A new trend shows that remembering, and not forgetting, is an important step towards con- flict resolution and true reconciliation. Christian theology offers a chance for healing painful memories in the Eucharist’s anamnesis. Three theolo- gians from different backgrounds have helped construct how remem- brance can be used in a reconciliation process. Johann Baptist Metz asks us to remember those who suffer. Alexander Schmemann tells us that the place of memory is in the Eucharist. Miroslav Volf asks for a process of remembering truthfully. Healing happens when we remember truthfully, and remembrance becomes a communal memory, which in turn, will release individuals from his/her bitter memory. Keywords: To remember, remembrance, reconciliation, conflict, memory, to forget, to forgive, Eucharist, communal, Eucharistic Celebration.
Hubungan Ekaristi Dengan Hidup Sehari-Hari Dalam Teologi Sakramental Karl Rahner E. Pranawa Dhatu Martasudjita
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.369 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i2.108

Abstract

Abstrak: Diskusi mengenai hubungan Ekaristi dengan hidup sehari- hari masih terus berlangsung hingga hari ini, baik di kalangan para teolog maupun umat beriman pada umumnya. Kiasan yang sering di gunakan di Indonesia untuk melukiskan hubungan tersebut adalah al tar dan pasar. Yang menjadi bahan diskusi ialah masih adanya pan- dangan dikotomis yang memisahkan keduanya. Tulisan ini ingin mem- beri sumbangan kepada diskusi tentang tema tersebut dari pemikiran teologis Karl Rahner (1904–1984). Rahner menunjukkan bahwa pemahaman tentang rahmat sebagai pemberian diri Allah yang senantiasa di- berikan dan dianugerahkan kepada umat manusia dan sejarahnya tidak memperkenankan pemisahan dikotomis semacam itu. Penulis mendekati permasalahan tersebut dengan pertama-tama menggali pemikiran sakramental Rahner, kemudian memperdalamnya dalam teologi Ekaristi. Dari alur pemikiran ini dibahas teologi Rahner yang senantiasa berciri pastoral, yaitu menghubungkan makna Ekaristi dengan kehidupan sehari- hari. Bagi Rahner, Ekaristi adalah sakramen sehari-hari. Dalam pengertian ini, kehidupan sehari-hari orang Kristiani mestinya merupakan perpanjangan dari hidup sehari-hari Kristus sendiri yang dirayakan dan diterima dalam Ekaristi. Kata-kata Kunci: Ekaristi, hidup sehari-hari, teologi sakramental, altar dan pasar, sakramen sehari-hari. Abstract: Theologians, as well as Christians in general continue dis- cussing more deeply correlation between Eucharistic celebration and one’s daily life. Yet, many are still employing a dichotomous approach between altar and marketplace. This article is intended to contribute to the discussion, especially by presenting important theological insights of Karl Rahner (1904-1984) who would not allow such a dichotomy. Rahner presents a creative theology of grace primarily as God’s Self-gift, continuously offered to every single human being throughout our his- tory. We will begin with the presentation of Rahner’s sacramental theology, followed by the theology of the Eucharist. Rahner’s theological thought, it is argued, remains pastoral in character, that relates meaning of the Eucharist to day-to-day Christian living and practices. For Rahner, the Eucharist is a sacrament of the everyday. In this sense, the Christian’s daily life should be the extension of the daily life of Christ celebrated and received in the Eucharist. Keywords: Eucharist,dailylife,sacramentaltheology,altarandmarketplace, sacrament of the everyday.
Jens Zimmermann, Incarnational Humanism: A Philosophy of Culture for the Church in the World, Downers Grove, IL.: InterVarsity Press, 2012, 356 hlm. (kami singkat I) dan: Jens Zimmermann, Humanism and Religion: A Call for the Renewal of Westerm Culture, Oxford: Oxford University Press, 2012, 379 hlm. (kami singkat II). M. Sastrapratedja
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.796 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i2.110

Abstract

Dalam kedua buku ini Jens Zimmermann mengamati bahwa Eropa telah dan sedang mengalami krisis identitas serta krisis kebudayaan. Hal ini disebabkan karena masyarakat Eropa melupakan akar identitas dan kebudayaannya, yaitu humanisme Kristiani. Zimmermann menawarkan suatu jalan keluar dari krisis, yaitu kembali ke akar identitas dan budaya Eropa, yaitu filsafat Kristiani tradisional yang berpusat pada inkarnasi. Hal ini akan menjadi pemecahan bagi berbagai krisis dan per- masalahan yang dihadapi Eropa dewasa ini. “Humanisme inkarnasional” menyatakan bahwa Allah menjadi manusia sehingga manusia dapat mencapai realisasi dari imago Dei atau gambaran Allah. Hal ini menjadi dasar utama kebudayaan Barat. Menurut Zimmerman, pengertian kita tentang persona, yang menyeimbangkan antara diri individual dan diri sosial, keluhuran martabat manusia dan hak-haknya, kebebasan dan tanggung jawabnya, dibangun atas dasar ajaran mengenai inkarnasi. Demikian pula dengan tradisi yang menekankan nilai bahasa, kesusasteraan dan seni untuk pemahaman diri manusia, hubungan iman dan akal budi, serta pentingnya pendidikan watak terbentuk oleh humanisme, khususnya humanisme pada masa Renaissance. Berbeda dari para pakar Renaissance lainnya, yang menafsirkan kebudayaan Renaissance sebagai pintu masuk ke dalam kebudayaan sekular dan masa Pencerahan, Zimmermann berpandangan bahwa Renaissance didahului oleh dan merupakan kelanjutan dari gagasan Bapa-Bapa Gereja Abad Tengah yang menempatkan inkarnasi sebagai pusat dari humanisme. Pendidikan di masa Renaissance merupakan pembentuk kebudayaan Kristiani. Istilah Jerman Bildung mengungkapkan kesatuan antara pendidikan dan kebudayaan. Inilah kunci dari kesinambungan budaya Kristiani. “Tujuan saya ialah menunjukkan kesinambungan tema dalam humanisme dan pendidikan watak di mana estetika dan bahasa memainkan peran penting. Saya telah menunjukkan bahwa humanisme Renaissance terutama merupakan humanisme Kristiani, yang sangat tergantung pada pemikir Patristik, Kekristenan Platonik” (I, hlm. 159). Zimmermann tidak membahas bahwa dalam masa Pencerahan telah terjadi suatu “keterputusan” dengan tradisi Kristiani sebelumnya. .................. Jens Zimmermann telah berhasil merunut perkembangan huma- nisme Kristiani dan menjelaskan bagaimana identitas masyarakat Eropa serta kebudayaannya berakar pada humanisme Kristiani. Maka apabila masyarakat Eropa akan mengatasi krisis identitasnya dan kebudayaannya mereka harus kembali kepada akar-akarnya tersebut, yaitu humanisme Kristiani. Humanisme itu didasarkan pada inkarnasi Allah. Pandangan Zimmermann bergerak dalam kawasan abu-abu, antara teologi dan filsafat. Satu aspek yang dilalaikan oleh Zimmerman ialah pembahasan mengenai terjadinya berbagai tragedi kemanusiaan di Eropa, seperti holocaustum dan imperialisme. Zimmermann hanya menyebut sepintas mengenai Hitler. Peristiwa-peristiwa tragedi itu merupa- kan disrupsi dalam sejarah Eropa, yang memutus kesinambungan akar- akar Kristiani. Pembangunan identitas membutuhkan kesinambungan historis serta reinterpretasi terus-menerus. Apakah relevan untuk me- ngatasi krisis jaman sekarang dengan menghidupkan kembali akar-akar humanisme Kristiani tanpa menafsirkannya kembali dalam konteks ma- syarakat Eropa yang semakin menjadi plural? Pandangan Zimmermann mirip dengan pandangan Paus Benediktus XVI, yang mengingatkan kem-bali akar Kristiani budaya Eropa. (M. Sastrapratedja, Program Pasca- sarjana, sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Veven Sp. Wardhana, Budaya Massa, Agama, dan Wanita, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2013, 228 hlm. Yap Fu Lan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.236 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i2.112

Abstract

Budaya massa, dalam pengertian sederhana adalah “karya kreatif yang dimassalkan, yang diproduksi secara masif, yang ditunjang teknologi dan industri tinggi [...] termasuk model pakaian, fashion, film, televisi, musik pop, lifestyle atau gaya hidup” (hlm. xiii-xiv). Agama, atau lebih tepatnya “tafsir atas agama, atau tafsir atas ajaran agama” (hlm. xiv) dapat menjadi tema karya kreatif itu. Contohnya, terutama, sinetron-sinetron religi bernuansa Islami yang sekarang ini semakin banyak tampil pada layar televisi, tanpa menunggu bulan istimewa Ramadhan. Selain itu, agama juga dapat menjadi sensor untuk menentukan karya kreatif yang pantas dimassalkan lewat media elektronik maupun media cetak. sense yang digunakan oleh para penyensor adalah moral dan ajaran agama, yang dalam keyakinan mereka harus dijaga. Para penyensor ini bukan hanya lembaga sensor, melainkan juga kelompok- kelompok yang menyebut diri pembela agama tertentu. Lembaga sensor menyampaikan larangan; kelompok-kelompok ini menyerukan protes. Mengemban misi menjaga moral dan ajaran agama, para penyensor dan pemrotes lebih sering mengajukan argumen sensor yang tidak masuk akal (doesn’t make sense) alias “ajaib” (hlm. 163) dan konyol. Lebih ajaib dan konyol, mereka, yang mengaku menjunjung agama dan moral, tidak punya sense mengenai ketidakadilan, khususnya yang dialami wanita. Produk budaya massa yang menciptakan image negatif wanita dibiarkan menjejali benak masyarakat. Wanita harus dikendalikan sebab ia binal, nakal—dengan cara diambil hak atas tubuhnya, dibung- kam suaranya, dipermalukan di hadapan publik, dan kalau perlu dira- jam oleh massa, yang adalah laki-laki dan (sama-sama) wanita. Ketidakadilan terhadap wanita, yang dipublikasikan oleh budaya massa dan ajaran agama menjadi sorotan utama Veven Sp. Wardhana di dalam buku ini. Dipublikasikan di sini berarti ditampilkan di ruang publik supaya diterima sebagai sesuatu yang wajar dan sewajarnya oleh masyarakat. Perempuan: seksualitas, sunat, syahwat; Puanografi: Yang Bukan Perempuan (Tak) Ambil Bagian; Televisi dan Fashionista atawa Perempuan Nista; Perempuan di Layar Televisi: Dari Losmen sampai sinema Relijius; dan Catatan sipil, Media Hiburan, dan Fatwa Haram adalah lima judul yang paling sarat dengan gugatan Wardhana atas perlakuan tidak adil terhadap wanita di negeri ini. ................. Pembaca perlu mengingat bahwa buku ini merupakan kumpulan delapan belas tulisan Wardhana dari berbagai waktu dan ruang publi- kasi. Oleh sebab itu, ada beberapa pembahasan dan contoh kasus yang muncul berulang-ulang, antara lain, mengenai sensor film Yang Muda Yang Bercinta (1977) karya Sjuman Djaya dan isu perkawinan Bambang- Halimah. Dengan demikian, kedelapan belas judul pada buku tidak merepresentasikan sebuah rangkaian pemikiran yang sistematik. Na- mun, hal ini tidak mengurangi nilai karya Wardhana, tidak pula menum- pulkan kritiknya terhadap keempat penguasa ruang publik: budaya massa, agama, kapitalisme, dan politik. Akhirnya, menyajikan karyanya kepada masyarakat, Wardhana mengajak setiap warga negara ini untuk bersikap kritis terhadap karya- karya kreatif yang dipublikasikan lewat media cetak dan media elek- tronik. Masyarakat tidak perlu menunggu pemerintah dan para kreator budaya massa mengubah haluan dari pembodohan ke pencerdasan. Masyarakat sendiri harus mampu menghentikan proses pembodohan dengan menyeleksi bacaan dan tontonan yang mereka sajikan, dan me- milih hanya yang mencerdaskan dirinya. (Yap Fu Lan, Program studi Ilmu Pendidikan Teologi, FKIP, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta).
Disposisi Dan Keniscayaan Sebagai Modalitas Hukum Alam Martin Suryajaya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.016 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.115

Abstract

Abstract: A debate is growing today about the ontological status of disposition in relation to the modality of natural law. This debate arose after the failure of Humean actualism to explain the basis of causality. Categoricalism tries to overcome the weaknesses of actualism by restoring the concept of disposition that is reduced to a set of categorical properties. Through such a move, categoricalism hopes to explain the basis of the disposition and yet fails to guarantee the necessity of natural law. Another alternative is to formulate a variant of dispositionalism in which dispositions are regarded as fundamental properties that are irreducible to categorical properties. Dispositionalists attempt to set up a concept of disposition which acknowledges the existence of unactualized disposition and guarantees the necessity of natural law. This essay, however, will demonstrate that dispositionalists’ solution is not free from the similar dilemma which haunts categoricalism. Keywords: Actuality, categorical property, dispositional property, supervenience, causality, finkish disposition, antidote, necessity. Abstrak: Dewasa ini berkembang perdebatan tentang status ontologis disposisi dalam kaitannya dengan modalitas hukum alam. Perdebatan ini mengemuka selepas kegagalan aktualisme Humean dalam menjelaskan landasan kausalitas. Kategorialisme mencoba mengatasi kelemahan aktualisme dengan mengembalikan konsep disposisi yang direduksi pada sekumpulan sifat kategoris. Melalui langkah ini, kategorialisme berharap dapat menerangkan landasan dari disposisi, tetapi sesungguhnya gagal mengajukan suatu konsepsi tentang hukum alam yang niscaya. Alternatifnya adalah merumuskan suatu varian dari disposisionalisme di mana disposisi adalah sifat fundamental benda yang tidak tereduksikan pada sifat kategoris. Kaum disposisionalis berupaya membangun konsepsi tentang disposisi yang, di satu sisi, mengakui adanya disposisi yang tidak teraktualisasi dan, di sisi lain, menjamin keniscayaan hukum alam. Akan tetapi, melalui artikel ini akan ditunjukkan juga bahwa solusi disposisionalis tersebut tidak lepas dari dilema serupa yang menghantui kategorialisme. Kata-kata Kunci: Aktualitas, sifat kategoris, sifat disposisional, kebertopangan, kausalitas, disposisi-pelenyapan, penawar, keniscayaan.
Mengulik Pemikiran Alfred N. Whitehead Tentang Kebudayaan Justin Sudarminta
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.796 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.117

Abstract

Abstract: This article attempts to formulate Alfred N. Whitehead’s thoughts on culture. Even though he never specifically wrote on culture, his thoughts on it can be gleaned and constructed from his major books. The article will be divided into three parts. First, by borrowing some ideas from David L. Hall’s book The Civilization of Experience: A Whiteheadian Theory of Culture, I shall try to formulate what Whitehead means by culture. Second, I shall describe what Hall termes “cultural aims” and “cultural interests” in the perspective of Whitehead’s thought. Third, I shall address some important points in Whitehead’s critique of modern culture and the alternative he proposed. Finally, I shall point out some major conclusions that can be derived from our study of Whitehead’s thoughts on culture. Keywords: Culture, cultural aims, cultural interests, modern culture, civilized society, art, adventure, beauty, truth, peace. Abstrak: Tulisan ini berupaya merumuskan pemikiran Whitehead tentang kebudayaan. Kendati ia tidak pernah secara khusus menulis tentang kebudayaan, namun pemikirannya dapat diulik dan coba dirumuskan dari berbagai karya pokoknya. Tulisan akan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, dengan memanfaatkan kajian yang pernah dibuat oleh David L. Hall dalam bukunya The Civilization of Experience. A Whiteheadian Theory of Culture, penulis akan merumuskan pengertian kebudayaan menurut Whitehead. Kedua, penulis akan memaparkan apa yang oleh Hall disebut “cita-cita budaya” dan “kepentingan budaya” dalam perpektif pemikiran Whitehead. Ketiga, penulis akan membahas beberapa butir penting dari kritik Whitehead terhadap budaya modern berikut alternatif yang ia tawarkan. Tulisan ini akan ditutup dengan beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari kajian mengenai pemikiran Whitehead tentang kebudayaan. Kata-kata Kunci: Kebudayaan, cita-cita budaya, kepentingan budaya, budaya modern, masyarakat berkeadaban, seni, petualangan , keindahan, kebenaran, kedamaian.
Fritjof Capra Tentang Melek Ekologi Menuju Masyarakat Berkelanjutan A. Sonny Keraf
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.586 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.118

Abstract

Abstract: The global environmental crisis and resulting disasters today have threatened life in general, especially human life. According to Fritjof Capra, one feasible solution to this global environmental crisis is to build sustainable human communities based on what he calls ecological literacy. Ecological literacy itself stands for our ability to understand the principles of organization common to all living systems and is used as a guideline for creating sustainable human communities. Capra underlines the need to redesign our communities, including our educational communities, business communities, political communities and all aspects of our daily life, so that the principles of ecology become principles of all our human communities. For Capra, the implementation of such a sustainable society is possible to achieve through the so-called eco-design, which is both scientifically and technically feasible. Nonetheless, the success of the major project to develop a sustainable eco-literate society does not simply depend on the individual awareness of eco-literacy. It also depends on the political will of the government to issue public policies—including legislation—to force all stakeholders to act in accordance with, and based on, ecoliteracy. Keywords: Ecological literacy, ecological principles, sustainable human community, eco-design, sautopoesis dissipative systems, natural capital. Abstrak: Krisis dan bencana lingkungan hidup global telah mengancam kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan manusia. Menurut Fritjof Capra, salah satu solusi untuk mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup global itu adalah dengan membangun masyarakat manusia yang berkelanjutan berdasarkan apa yang disebutnya sebagai melek ekologi, yaitu kemampuan kita untuk memahami prinsip-prinsip pengorganisasi yang berlaku pada semua sistem kehidupan dan menggunakannya sebagai pedoman dalam menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Capra sangat menekankan perlunya merancang ulang komunitas-komunitas kita, termasuk komunitas pendidikan, komunitas bisnis, komunitas politik, dan seluruh kehidupan kita sehari-hari, agar prinsip-prinsip ekologis tersebut diwujudkan sebagai prinsip dari komunitas-komunitas tersebut. Bagi Capra, implementasi dari masyarakat berkelanjutan seperti itu dapat dicapai melalui apa yang disebutnya sebagai rancang bangun ekologis (eco-design) yang secara ilmiah dan teknis sangat layak diterapkan. Hanya saja, keberhasilan proyek besar membangun masyarakat berkelanjutan berdasarkan melek ekologi ini tidak hanya bergantung pada kesadaran moral individu akan melek ekologi di atas. Keberhasilan proyek besar itu juga sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan publik—termasuk undang-undang—guna memaksa semua pemangku kepentingan untuk bertindak sesuai dengan dan berdasarkan kesadaran ekologis tadi. Kata-kata Kunci: Melek ekologi, prinsip-prinsip ekologi , masyarakat berkelanjutan, rancang bangun ekologis, sistem autopoesis disipatif, modal alam.
Pandangan Johann Baptist Metz Tentang Politik Perdamaian Berbasis Compassio Paul Budi Kleden
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.083 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.119

Abstract

Abstract: The plurality of cultures and religions is one of the most difficult challenges our world has to face at present. Tensions in various forms have become daily news, which puts into question our ability and willingness to share this planet earth as our common place to live together. There is not only a need to develop the best strategy to live together, but also to find fundamental arguments for conviviality. This article presents the ideas of Johann Baptist Metz, a German theologian, on a politic based on compassion. Memoria passionis, remembering the suffering, especially that of others, is the basis for constructing a new politics of peace. Keywords: Politics, compassion, plurality, victim, suffering, memory. Abstrak: Salah satu dari tantangan terbesar yang sedang dihadapi masyarakat dunia dewasa ini adalah ketidaksanggupan berbagai kelompok untuk menanggapi pluralitas kebudayaan dan agama. Kemajemukan bukanlah realitas baru. Yang baru adalah intensitas pengalaman kemajemukan itu. Berbagai ketegangan hingga konflik berdarah menjadi berita harian yang mempertanyakan kemampuan dan kesediaan kita untuk berbagi hidup di atas bumi ini dengan orang-orang yang berbeda budaya dan agama. Menghadapi masalah ini, kita tidak hanya perlu mengembangkan strategi yang paling baik untuk dapat hidup bersama secara damai dan adil, tetapi juga membutuhkan pengembangan argumen-argumen yang memberikan pendasaran bagi strategi tersebut. Artikel ini hendak memperkenalkan pandangan Johann Baptist Metz, seorang teolog berkebangsaan Jerman, tentang politik yang berbasiskan compassio. Memoria passionis, mengenang penderitaan, khususnya penderitaan orang lain, merupakan dasar untuk membangun sebuah politik perdamaian bagi dunia. Kata-kata Kunci: Politik, compassio, pluralitas, korban, penderitaan, kenangan.
In Search Of A Christian Public Theology In The Indonesian Context Today Joas Adiprasetya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.142 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.121

Abstract

Abstract: This article deals with the contemporary task of Christian public theology in constructing a contextual model that is able to maintain the dialectic of commonality and particularity. Such a model must pay attention to the search for common ground among many cultural-religious identities, while at the same time it must respect those identities in their own paticularities. The sensitivity to and solidarity with the victims of the New Order’s’ regime must also be fundamental elements of such a model. To do so, this article discusses two competing theories in social philosophy (liberalism and communitarianism), and their parallel theories in theology (revisionism and post-liberalism). The necessity to construct a more balanced third way between those theories is needed, if Indonesian Christians want to be open to their social and political call and faithful to their Christian distinctiveness. Keywords: Public theology, liberalism, communitarianism, revisionism, post-liberalism, commonality, particularity. Abstrak: Artikel ini membahas tugas kontemporer teologi publik Kristen dalam mengkonstruksi sebuah model kontekstual yang mampu mempertahankan dialektika kesamaan dan kekhususan. Model semacam ini haruslah memperhatikan usaha menemukan dasar bersama di antara banyak identitas kultural-religius, sekaligus pada saat bersamaan menghargai identitas-identitas tersebut di dalam keunikan mereka masing-masing. Kepekaan dan solidaritas pada para korban di bawah rejim Order Baru di masa silam harus menjadi unsur-unsur mendasar bagi model semacam itu. Artikel ini mendiskusikan dua teori yang saling bersaing di dalam filsafat sosial (liberalisme dan komunitarianisme), dan teori-teori sejajar di dalam teologi (revisionisme dan pascaliberalisme). Tuntutan untuk mengkonstruksi sebuah jalan ketiga yang lebih seimbang antara teori-teori tersebut sungguh dibutuhkan, jika orang-orang Kristen Indonesia ingin berbuka pada panggilan sosial dan politis mereka sembari tetap setia pada keunikan Kristiani mereka. Kata-kata Kunci: Teologi publik, liberalisme, komunitarianisme, revisionisme, pascaliberalisme, komunalitas, partikularitas.
Charles Taylor, A Secular Age, Cambridge, Mass./London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2007, 874 hlm. Franz Magnis-Susesno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.933 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.124

Abstract

Charles Taylor—yang lahir pada 1931 di Kanada—adalah salah seorang filosof kontemporer berbahasa Inggris paling terkenal. Ia menjadi guru besar di Montreal dan mengajar juga di Oxford. Hampir 20 tahun sesudah dua jilid bukunya, Sources of the Self: The Making of Modern Identity (1989), memperoleh perhatian besar, Taylor menerbitkan buku A Secular Age, sebuah karya lebih raksasa lagi, yang oleh Robert N. Bellah disebut “salah satu buku terpenting semasa hidup saya.” Buku ini menceritakan sejarah sekularisasi di Barat dan dengan demikian juga sejarah per- kembangan spiritualitas intelektual Barat dalam 500 tahun terakhir. Yang langsung mengesankan adalah luasnya pengetahuan Taylor. Taylor akrab dengan seluruh filsafat dan pemikiran yang mengungkapkan intelektualitas Barat. Uraiannya, di satu pihak, menarik garis-garis besar, di lain pihak, memperlihatkan garis-garis itu dengan penelurusan rinci terhadap apa yang ditulis oleh tokoh-tokoh intelektual, para filosof, teolog, sastrawan dan penyair. Yang juga menarik, Taylor memperlihatkan bagaimana “apa yang semula dipikirkan hanya oleh para elit, menjadi milik umum masyarakat-masyarakat seluruhnya” (hlm. 299). Perkembangan yang ditelusuri Taylor betul-betul mengherankan. Dalam pertanyaan Taylor: “Apa yang berubah antara tahun 1500 di mana hampir tidak mungkin orang tidak percaya (pada Allah), dan tahun 2000 di mana tidak hanya terdapat banyak orang ateis yang bahagia, melainkan sebaliknya di lingkungan-lingkungan tertentu iman menantang lagi sebagai aliran amat kuat?” Bagaimana Eropa Kekristenan Latin— kekristenan yang pernah memakai bahasa Latin di Eropa Tengah dan Barat, dunia yang sejak abad ke-16 terbagi dalam Katolik dan Protestan— menjadi Barat di mana “iman, bahkan bagi mereka yang yakin, hanya merupakan salah satu kemungkinan bagi manusia di antara banyak kemungkinan lain?” (hlm. 3). ............................. Kesimpulan dari uraian Taylor yang dapat ditarik adalah bahwa sekularisasi merupakan sebuah proses yang kompleks, yang menggagalkan segala penjelasan sederhana dan linear. Alam sosial tersekularisasi sendiri adalah kompleks. Di satu pihak, alam itu merupakan puncak humanisme eksklusif warisan Pencerahan, tetapi, di lain pihak, eksklusivisme itu ditantang oleh suatu “kelaparan spiritual” (hlm. 680) yang tetap terarah ke sesuatu di “seberang.” “Cerita dominan sekularisasi yang cenderung mempersalahkan agama-agama atas banyaknya kesusahan dunia kita lama-kelamaan akan semakin tidak dipercayai lagi” (hlm. 770). Namun, kalau agama mau mempertahankan diri maka wakil-wakilnya harus belajar menjadi rendah hati. Perlu ditambah bahwa Taylor sedikit pun tidak memasuki pertanyaan yang banyak dikemukakan di Indonesia dan dijawab secara berbeda-beda, yaitu, apakah perkembangan 500 tahun di dunia Kristianitas Latin (Katolik dan Protestan), jadi di “Barat,” dari dunia yang penuh dengan roh-roh dan di mana ateisme sepertinya mustahil menjadi sebuah dunia humanisme eksklusif di mana untuk sebagian makin besar warga kontemporer realitas Ilahi, realitas di “seberang,” dianggap tidak ada, atau sekurang-kurangnya tidak mempunyai fungsi atau hak normatif. Buku Charles Taylor ini amat pantas dibaca dan betul-betul menantang. Kalau kita membacanya—yang tidak perlu secara tergesa-gesa—kita akan merasa mendapat wawasan yang luas, kita menjadi mengerti apa yang memotori modernitas. Buku ini betul-betul sebuah master piece. (Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Emeritus, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).

Page 7 of 19 | Total Record : 182


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue