cover
Contact Name
Dwi Nurwulan Pravitasari
Contact Email
saintika_medika@umm.ac.id
Phone
+628123086679
Journal Mail Official
saintika_medika@umm.ac.id
Editorial Address
Editorial Office: Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Malang Jl. Bendungan Sutami No 188A Malang, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga.
ISSN : 0216759X     EISSN : 2614476     DOI : https://doi.org/10.22219/
Core Subject : Health,
Journal of Saintika Medika is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles 564 Documents
DISTRIBUSI KASUS KEMATIAN AKIBAT ASFIKSIA DI MALANG RAYA YANG DIPERIKSA DI INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK RSSA TAHUN 2006-2007 H Tasmono
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1008

Abstract

Kematian akibat Asfiksia dapat disebabkan oleh kejadian ke celakaan, bunuh diri atau pemb unuhan. Yang sering menimbulkan permasalahan adalah kejadian gantung diri apakah akibat bunuh diri atau pembunuhan. Dari beberapa data di beberapa pusat pendidikan kedokteran didapatkan bahwa kejadian as fiksia terbanyak akibat gantung diri kar ena bunuh diri. Pada penelitian Retrospektif ini dilakukan pendataan dan anal isa selama tahun 2006-2007 tentang ju mlah kejadian gantung diri insiden tentang jenis kelamin, umur serta lokasi kejadian. Dari pendataan tersebut didapat kan jumlah kejadian tahun 2006 sebanyak 14 kasus, tahun 2007 seban yak 16 kasus dengan kematian terbanyak akibat gantung diri ( hanging ) dibandingkan dengan burking suffocation maupun penyakit. Pada hanging ( 56% ) korban jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada wanita ( 59% : 41% ) dengan usia terbanyak 31 - 40 tahun yang kedua usia 11 – 20 tahun, sedangkan lokasi kejadian terbanyak di Kabupaten Malang. Kata kunci : Asfiksia, gantung diri ( hanging ).
HUBUNGAN ANTARA BERATNYA MANIFESTASI DERMATITIS ATOPIK DENGAN TINGGINYA SKALA KEPRIBAD IAN CEMAS PADA TES MMPI PADA PENDERITA DERMATITIS ATOPIK WANITA DI RSUD DR. SOETOMO Iwan Sis Indrawanto
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1009

Abstract

Dermatitis Atopic, a kind of chronic skin disease that happens a lot in the world, tend to be increased in number and relatively difficult to treat. Most of them appear along with another atop ic condition such as Hay and asthma. The cause is not clearly un derstood yet. It’s thought to be the combination of genetics and environment. Many says that ther e’s emotional factor involved. It’s not the cause of the disease but it worsen or triggers the relaps. People of Dermatitis Atopic with anxious kind of personality have prone to relaps e easier than those who are not. This study figured out whether the degree of Dermatitits Atopic manifestation is correlated with the score o f anxious scale on MMPI of the Dermatitis Atopic female patien ts in Dr. Soetomo Public Hospital Surabaya. The method was analytical study with cr oss sectional approach, started from Juli 2009 until Desember 2009. The datas was taken from policlinics of Skin and Venereal Desease Department of Dr. Sutomo Pu blic Hospital Surabaya. Fivety three samples were taken, while 7 of them were failed due to high invalid MMPI score. The result showed that there was significant correlation between the degree of Dermatitits Atopic manifestation with the score of anxious scale on MMPI of the Dermatitis Atopic female pati ents. The correlation was medium to high. Keywords: Dermatitis Atopic, Anxious Personality, MMPI
PENGARUH PEMBERIAN COGNITIVE SUPPORT TERHADAP KOPING PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE DI RSU Dr SOETOMO SURABAYA Kushariadi .
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1010

Abstract

Fakta yang ada pada pasien congestive heart failure menunjukkan koping maladaptive seperti kesulitan memperta hankan oksigenasi adekuat, sehingga cenderung gelisah dan cemas karena sulit bernapas. Harapannya setelah pemberian cognitive support (informasi) pasien congestive heart failure menunjukka n koping yang adaptif sehingga mempercepat proses penyembuhan. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi koping, dan menganalisa pengaruh pemberian cognitive support (informasi) terhadap koping pada pasien congestive heart failure. Desain penelitian yang digunakan adalah pr a-experiment (one group pre test &ndash; post test desaign) dengan sampel pasien congestive heart failure di ruang SMF Penyakit Jantung & Pembuluh Darah RSU Dr Soetomo Surabaya sebanyak 23 responden. Tehnik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan meng gunakan uji statistik wilcoxon signed ranks test dengan tingkat signifikan p < 0.05 . Hasil penelitian diperoleh mean untuk pre test 19.96 dan post test 55.74. Artinya pada pre test koping yang dihasilkan maladapt if (dengan penilaian 1- 30), sedangkan pada post test koping yang dihasilk an adaptif (dengan penilaian 31 &ndash; 60). Pada uji wilcoxon signed ranks test diperoleh p = 0.000 (p < 0.05) dan z = -4210a, maka Ho ditolak. Artinya ada perbedaan koping secara statistik sebelum dan sesudah diberikan informasi. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian informasi terhadap koping pasien congestive heart fail ure. Dan sebagai saran bahwa pemberian informasi yang adekuat akan terbentuk koping yang adaptif sehingga dapat mempercepat penyembuhan. Kata kunci: congestive heart failure, cognitive support (informasi), koping.
PENGARUH VITAMIN C TERHADAP EFEK PAPARAN ASAP ROKOK PADA KONDROSIT TULANG RAWAN TRAKEA TIKUS PUTIH Bambang Sumantri
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1011

Abstract

Setiap hisapan asap rokok mengandung 1015 radikal bebas dan bahan yang dapat memicu terbentuknya radikal bebas di dalam jaringan paru-paru.. Tulang rawan trakea adalah bagian dari sistim respirasi. Kerusakan tulang rawan trakea dapat di deteksi da ri unsur selnya yaitu kondrosit. Vitamin C sebagai anti oksidan telah terbukti mampu menetralisir efek radikal bebas pada alveoli dan ep itel trakea. Tujuan penelitian ini untuk melihat apakah terdapat peru bahan kondrosit tulang rawan trakea akibat radikal bebas dan ap akah perubahan tersebut dapat diperkecil dengan pemberian vitamin C. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan post test only control group design. Hewan coba dibagi dalam enam kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga ekor tikus putih Wistar jantan, dewasa dengan berat badan 200 &ndash; 300 gram. Perlaku an dilaksanakan selama 6 bulan dan hewan coba dibagi mejadi enam kelompok. Kelompok 1 tidak dipapr asap rokok, dan tidak diberi vitamin C, kelompok 2-6 dipapar asap rokok 1 batang setiap hari selama enam bulan sedangkan kelompok 3-6 selain dipapar asap ro kok juga diberi vitamin C dengan dosis yang berbeda yaitu 0,05, 0,10, 0,20 dan 0,40 mg/g BB/hari. Pemaparan asap rokok dengan menggunakan smoking pump sedangkan pemberian vitamin C menggunakan sonde sampai kelambung tikus. Trakea tikus diambil sepertiga bagian tengah, untuk pembuatan pr eparat HE. Pada preparat HE diamati kualitas kondrosit yaitu sifat pengecatan sitoplasma dan bentuk inti, diam eter kondrosit (DSK) dan rasio sel : inti (RSI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pe ningkatan DSK dan penurunan RSI secara statistic tidak bermakna (p > 0,05). Kata kunci: radikal bebas, antioksidan, kondrosit
PARADIGMA SEHAT Febri Endra Budi Setyawan
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1012

Abstract

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang be rsifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah y ang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit. Untuk itu diterapkan konsep hidup sehat H.L Blum. Yakni dera jat kesehatan masyarakat dipengaruhi faktor lingkungan, gaya hidup, pelayanan kesehatan dan faktor genetik. Dengan tujuan menc apai derajat sehat yang optimal, sehingga perlu adanya suatu indikator untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, yang telah dirumuskan dalam keputusan menteri kesehatan Nom or 1202/ MENKES/SK/VIII/2003. Kata kunci : konsep HL Blum, kuratif dan rehabilitatif, paradigma sehat; pembangunan kesehatan 2010, preventif, upaya promotif.
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DAN NS1 ANTIGEN UNTUK DETEKSI DINI INFEKSI AKUT VIRUS DENGUE Meddy Setiawan
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1013

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) disebabkan oleh infeksi virus dengue. Virus dengue merupakan virus RNA yang termasuk ke dalam famili flaviviridae , genus flavivirus dan ada 4 serotipe yang berbeda yaitu DEN1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Keempat serotipe terdapat di Indonesi a dengan dominasi DEN 3 dan DEN 2. Dengue ini merupakan penyakit arbovirus endemik yang saat ini telah menjangkiti lebih dari 100 negara, baik yang terletak di dae rah tropik maupun su btropik. WHO memperkirakan sekitar 50-100 juta ka sus infeksi virus dengue terjadi setiap tahun, menghasilkan 250.000-500.000 kasus demam berdarah dengue dan 24.000 kematian setiap tah unnya. Virus dengue ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegyp ti dan Aedes albopictus sebagai vektornya dengan masa inkubasi ra ta-rata 4-6 hari. Infeksi virus dangue dapat menyebabkan manifestasi kilinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik sampai manifestasi klinis yang berat yang mengakibatka n kematian. Demam dengue atau dengue fever merupakan manifestasi klinis yang ringan, sedangkan DBD/DHF dan Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan manifestasi klinis yang berat. Berbagai teori yang menjelaskan patogenesis DBD dan DSS banyak bermunculan dan saling kontroversi. Pada saat ini teori yang banyak dianut adalah teori Antibody Dependent Enhancement (ADE). Menurut teori ini, infeksi sekunder yang disebabkan oleh virus dengue dengan serotipe yang berbeda dengan infeksi primer akan menimbul kan antibodi heterologous yang dibentuk pada infeksi pertama namun tidak bisa mengeliminasi virus dengue pada infeksi sekunder (bersifat subnetralisasi) bahkan antibodi tersebut bersifat opsonis asi sehingga sel target menjadi lebih mudah di infeksi oleh virus dan menyebabkan manifestasi klinis yang lebih berat. Saat ini telah tersedia berbagai teknik pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi virus dengue yaitu pemeriksaan kultur dan isolasi virus, RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction), serologi (anti dengue lgG dan lgM) dan juga pemeriksaan hematologi rutin. Kultur virus atau PCR saat ini dianggap sebagai gold standard untuk mendeteksi virus dengue, namun memiliki keterbatasan dalam hal biaya dan teknis pengerjaannya. Pemeriksaan serologi anti dengue lgG dan lgM yang dike rjakan secara rutin di laboratorium juga memiliki ketrbatasan yaitu tidak dapat mendeteksi infeksi dengan lebih aw al. Saat ini telah dikembangkan suatu pemeriksaan baru terhadap antigen non struktural-1 dengue (NS1) yang dapat mendeteksi infeksi virus dengue dengan lebih awal bahkan pada hari pertama ons et demam.
ABSES OTAK DAN PENATALAKSANAANNYA Rahayu .
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1014

Abstract

Pada era &ldquo;Preantibiotik&rdquo; angka kema tian abses otak sangat tinggi, tetapi akhir-akhir ini angka kematian tersebut bisa ditekan. Hal ini berkat penggunaan antibiotik yang tepa t dan adanya diagnosa dini ab ses otak dengan alat penunjang CT Scan alms MRI (Magnetic Resonance Imaging). Abses otak terdiri atas stadium serebritis dan stadium abses. Penang anannya terdiri atas konservatif atan o peratif tergantung stadium abses itu sendiri dan pert imbangan lain. Penanganan konservatif meliputi perawatan umum (5B), terapi kausal, anti odema otak dan eliminasi fokus infeksi merupakan tindakan penting. Keberhasilan penatalaksanaan abses serebri perlu kerja sama spesialis saraf, spesialis bedah saraf, dan spesialisasi lain yang terkait. Kata kunci : Abses otak, konservatif, operatif.
ETIOLOGIC RESEARCH Gita Sekar Prihantini
Saintika Medika Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i1.1015

Abstract

Seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi khususnya dalam bidang epidemiologi klinik. Oleh karena itu dunia penelitian semakin dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut. Salah satu jenis penelitian yang popular adalah penelitian etiologi atau penelitian kausal. Dalam penelitian ini faktor confounding merupakan isu yang penting karena dapat mempengaruhi hasil penelitian. Faktor confounding berhubungan dengan determinan dan outcome membentuk sebuah segitiga. Faktor confounding harus dibedakan dengan faktor intermediet dan modifier. Diperlukan pengetahuan yang cukup untuk menentukan faktor confounding yang terlibat dan mungkin akan potensial muncul dalam penelitian serta untuk menganalisanya. Walau dapat dicegah, namun lebih baik faktor confounding diatasi melalui proses analisis agar dapat menambah wawasan penelitian dan menghindari bias penelitian.
PENGARUH PEMBERIAN QUERCETIN TERHADAP KADAR LEPTIN SERUM TIKUS WISTAR YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK Sudiarto .; Sri Hidayati Suprihatin
Saintika Medika Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i2.1019

Abstract

Obesity, one of the degenerative diseases, is a risk factor for chronical disease and an ultimate cause of metabolic syndrome which ismarked by the raising level of leptin on blood (hyperleptinemia). Metabolic syndrome is marked by the size of the waist is more than 40 inchfor man or 35 inch for woman, hypertension, hyperglycemia, high level of triglyceride, and the level of HDL (high-density lipoprotein) is low.This research is aimed to know the giving of quercetin (which has high anti oxide activities) on the declining level of leptin to the giving of DIO(Diet Induced Obesity). An experimental study using Post Test Control Group was done to the experimental wistar rats. Samples werechosen by using randomized complete block design. Rats were treated for 8 weeks. The dose of given quercetin were 2 mg/kgBB/day, 10mg/kgBB/day, and 50 mg/kgBB/day during the last 8 weeks of research. The variable measured in this research is the level of leptin onblood. Based on the experiment, quercetin is proven that gives influence to the level of leptin on obesity wistar rats&rsquo; serum compare to the givenlevel of leptin on controlled rats. There is different average on the level of leptin on wistar rats&rsquo; serum which being obesity on each grouptreatment. The giving of quercetin have significant correlation (p<0.05) with the level of leptin on wistar rats&rsquo; serum which being obesity (r = -0.704, p = 0.001). The conclusion from this research is the giving of quercetin to obesity rats for 8 weeks can decline the level of leptin onblood.Keywords: quercetin, leptin, high fat diet
EFEK ISOFLAVON FITOESTROGEN DARI EKSTRAK Pueraria lobata TERHADAP MEMORI DAN AKTIVITAS KOLINERGIK DI HIPPOKAMPUS CA1 PADA TIKUS HIPOESTROGEN Fathiyah Safithri; Mulyohadi Ali
Saintika Medika Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i2.1020

Abstract

Data from retrospective and case-conttrole showed that estrogen replacement therapy (ERT) could prevent ang delayed againstAlzheimer Disease (AD). The using of ERT is still controversial because of their long-term side effect. Isoflavon as a part of phytoestrogenhas potential effect as an alternative substitute for ERT. The aim of this study is to examine the effect of phytoestrogen from Pueraria lobataextract in increasing memory&rsquo;s function and whether it occur by the increased of cholinergic activity in CA1 hippocampus. Exploration studyperformed by three step. First, determined genistein and daidzein concentration in Pueraria lobata extract, as basic of dose determining.Second, oophorectomy performed to made a hypoestrogenic rat&rsquo;s model; and third, determined method memory&rsquo;s function in rats. This studyused twenty five female Rattus novergicus strain Wistar, 10 -11 weeks of age, five rats were normal rats (N) as first group and twenty ratswere hypoestrogenic rats for 2nd, 3rd, 4th, and 5th groups. All of the hypoestrogenic rat were devided into 4 groups, each 5 rats. Hypoestrogenicrats group without Isoflavon Genistein Daidzein supplement (OVX), hypoestrogenic rats group with Isoflavon Genistein Daidzeinsupplement (OVX+IGD) dosage of 15, 30, and 60 mg/kgweight/day each. The IGD was given for 21 days. The Morris Water Morris(MWM) test was performed in 17th, 18th, 19th, 20th, and 21st day. On 22nd day rats were killed. Frozen section of the brain was performedimmediately. Cholinergic activities on CA1 hippocampus were examined with AChE staining. A significant difference was found onmemory&rsquo;s function and cholinergic activities on CA1 hippocampus between OVX and OVX+IGD groups at all doses (p value = 0,000 ofeach). No significant difference on IGD effect toward brain weight (p=0,936) and pyramidal cell number on CA1 hippocampus (p=0,961).It was suggest that increased memory&rsquo;s function on OVX+IGD groups were caused by the increased of cholinergic activities on CA1hippocampus.Key word : Isoflavones; phytoestrogen; Genistein; Daidzein; Pueraria lobata; Memory; cholinergic.

Filter by Year

2009 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2024): December 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): June 2024 Vol. 19 No. 2 (2023): December 2023 Vol. 19 No. 1 (2023): June 2023 Vol. 18 No. 2 (2022): December 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): June 2022 Vol. 17 No. 2 (2021): December 2021 Vol. 17 No. 1 (2021): June 2021 Vol. 16 No. 2 (2020): December 2020 Vol 16, No 1 (2020): June 2020 Vol. 16 No. 1 (2020): June 2020 Vol 16, No 1 (2020): June 2020 (on progress) Vol. 15 No. 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019 Vol. 15 No. 1 (2019): JUNI 2019 Vol. 14 No. 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol 14, No 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol 14, No 1 (2018): JUNI 2018 Vol. 14 No. 1 (2018): JUNI 2018 Vol. 13 No. 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol 13, No 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol. 13 No. 1 (2017): JUNI 2017 Vol 13, No 1 (2017): JUNI 2017 Vol 12, No 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol. 12 No. 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol 12, No 1 (2016): JUNI 2016 Vol. 12 No. 1 (2016): JUNI 2016 Vol. 11 No. 2 (2015): Desember 2015 Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015 Vol. 11 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014 Vol. 10 No. 2 (2014): Desember 2014 Vol. 10 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 9 No. 2 (2013): Desember 2013 Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 9 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol. 8 No. 2 (2012): Desember 2012 Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 8 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol. 5 No. 2 (2009): Juli 2009 Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011 Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011 Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011 Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010 Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010 Vol 6, No 1 (2010): Januari 2010 Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010 Vol 5, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 5, No 1 (2009): Januari 2009 Vol. 5 No. 1 (2009): Januari 2009 More Issue