cover
Contact Name
Dwi Nurwulan Pravitasari
Contact Email
saintika_medika@umm.ac.id
Phone
+628123086679
Journal Mail Official
saintika_medika@umm.ac.id
Editorial Address
Editorial Office: Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Malang Jl. Bendungan Sutami No 188A Malang, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga.
ISSN : 0216759X     EISSN : 2614476     DOI : https://doi.org/10.22219/
Core Subject : Health,
Journal of Saintika Medika is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles 564 Documents
SEL PUNCA Thontowi Djauhari
Saintika Medika Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i2.1064

Abstract

Abstrak Penggunaan dan pengembangan sel punca dalam bidang penelitian dan aplikasinya diklinik dalam rangka mengobati penyakit tidak terlepas dari masalah etik yang mungkin membayanginya, khususnya penggunaan dan pemanfaatan sel punca yang berasal dari embrio (embryonic stem cells). Dasar pengetahuan sel punca merupakan hal yang penting untuk diketahui karena dari sana bisa dikembangkan sel punca tersebut akan berubah menjadi sel permanen. Penggunaan sel punca dalam bidang penelitian dan pengobatan penyakit tidak terlepas dari etika yang dianut untuk menghormati sel punca tersebut, karena masih banyak kontroversi terhadap pengadaan sel punca. Kata kunci : sel punca
EFEK SAMPING KOSMETIK DAN PENANGANANYA Dwi Nurwulan Pravitasari
Saintika Medika Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v6i2.1065

Abstract

Abstrak Kosmetika merupakan sediaan kimiawi yang sangat di perlukan untuk penampilan. Sediaan yang pada awalnya hanya di pakai untuk membersihkan kemudian berkembang menjadi sediaan yang di tujukan untuk mengganti penampilan Sehingga efek samping kosmetik sekarang menjadi meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu perlu penanganan khusus dokter spesialis kulit kelamin dengan menghentikan semua kosmetik dan di lakukan terapi sesuai jenis ESK (Efek Samping Kosmetik) yang terjadi., karena ESK bisa muncul melalui kulit bahkan sampai sistemik. Kata Kunci : Kosmetik
THE ROLE OF BIOTECHNOLOGY IN DENGUE VIRAL INFECTION : Effort for The Development of A Dengue Vaccine Djoni Djunaedi
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1080

Abstract

Introduction: Dengue fever and Dengue Haemorrhagic Fever (DF/DHF) are caused by dengue viruses (DENV). There are four antigenically related but distinct DENV serotypes (DENV-1 through DENV-4). Humans are the amplifying vertebrate host and Aedes mosquitos are the primarily mosquito vector as well as the reservoir of infection. DENV infection causes a spectrum of diseases, ranging from asymptomatic infections to infections complicated by haemorrhagic shock and death (Yoksan, 2008). Epidemiology: WHO (2008) estimates that about 2.5 billion people or 40% of the world’s population live in areas where there is a risk of dengue transmission. About 500,000 cases of dengue’s severest form (DHF/DSS) occur annually, resulting in about 24,000 deaths, mostly among children. Tropical and subtropical areas of South East Asia and Latin America are the hardest hit by dengue infection. Although dengue rarely occurs in the continental United States, it is endemic in Puerto Rico and Hawaii, a U.S. territory. Mosquitos capable of transmitting the virus have been found in the U.S. (in Florida, Georgia, Louisiana, Alabama, Mississippi, and Texas) over the last 10 years (Cano and Bannister, 2001; CDC, 2009; Science News, 2010). Facing this problem, vaccination is the answer. Vaccine Development: Dengue is an expanding public health problem, and an effective vaccine remains elusive. Significant influence of sequential infections with different dengue virus serotypes on the severity of disease can be viewed in terms of beneficial and detrimental effects of the heterologous immunity. A more complete understanding of these effects is likely to be critical for predicting optimal vaccine – induced immune responses, with the aim of protecting the global population from emerging infectious disease threats (Rothman, 2004). In 1980, Mahidol University committed to develop a live-attenuated tetravalent DENV vaccine. They were subjected to general safety test and monkey neurovirulence tests in accordance with the U.S. FDA requirements. (Yoksan 2008) Results: All vaccine recipients developed either a mild or no adverse reaction to the vaccine, the immunogenicity data were discussed. The current strategy of creating tetravalent DENV vaccine formulation can lead to an unbalanced immune response. This is attributed to viral interference that apparently comes into play when three monovirulent vaccine viruses DENV-1, DENV-2, DENV-4 are mixed with DENV-3 to create a tetravalent formulation (Yoksan, 2008). Summary: More research is needed on a priority basis to work out the viral interference factor in order to make the production of a tetravalent vaccine out of the attenuated DENV-3 candidate vaccine strain a success. Key words: Dengue Haemorrhagic Fever, Shock and death, tetravalent dengue vaccine, viral interference factor.
KONSEP BARU DALAM PENANGANAN SEPSIS PADA PASIEN BEDAH: APLIKASI KLINIS BERDASARKAN ILMU PENGETAHUAN DASAR Mochamad Aleq Sander
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1081

Abstract

Angka morbiditas dan mortalitas peritonitis umum sekunder yang merupakan sepsis intraabdominal masih tetap tinggi bila dilihat pada laporan-laporan baik dimancanegara ataupun di Indonesia sejak dua dekade terakhir ini. Angka kematian peritonitis yang disertai syok septik rata-rata di dunia sampai saat inipun lebih dari 60%, bila telah disertai dengan lebih dari empat gagal fungsi organ, angka kematiannya mendekati 100%. Tindakan pencegahan atau terapi suportif awal terhadap gagal fungsi organ, ternyata mampu menurunkan angka kematian. Upaya perbaikan keadaan umum dan pencegahan agar jangan terjadi septik syok dan terjadinya gagal multi-fungsi organ melalui tindakan resusitasi perioperatif yang optimal, merupakan faktor yang sangat menentukan dalam upaya memperbaiki prognosis. Kata kunci: sepsis, gagal multi-fungsi organ, resusitasi perioperatif.
STUDI KASUS PEMENUHAN HAK REPRODUKSI PEREMPUAN MUSLIM MENIKAH TAHUN 2010 Nurfadhilah .
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1082

Abstract

Hak reproduksi merupakan bagian dari hak asasi setiap manusia. Bagi pasangan menikah, hak reproduksi harus dipenuhi dalam kondisi dasar consent (bebas, tidak ada paksaan), equality (tidak ada dominasi), respect (saling menghormati), trust (saling percaya/jujur), and safety (aman). Penelitian ini dilakukan dalam bentuk studi kasus untuk mendapatkan gambaran tentang pemenuhan hak reproduksi perempuan muslim menikah pada berbagai tahapan usia perkawinan. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metoda pengumpulan data wawancara mendalam. Informan penelitian melibatkan 13 pasangan serta beberapa kerabat dan tetangga informan. Penelitian ini dilakukan sejak Februari hingga Agustus 2010. Dengan menggunakan Theory of Reasoned Action, hasil temuan dari penelitian ini dapat menjelaskan bahwa, tidak satupun informan benar-benar terpenuhi hak reproduksinya dalam kondisi CERTS. Niat untuk memenuhi hak reproduksi sangat dipengaruhi oleh sikap sebagai faktor internal dan norma subjektif, yaitu persepsi terhadap orang lain sebagai faktor eksternal. Banyaknya orang yang mempengaruhi norma subjektif informan kemudian diseleksi, sehingga hanya orang tertentu yang dipatuhi. Ancaman terjadinya pernikahan tanpa/kurang hubungan seks dapat terjadi setelah lahirnya anak pertama. Temuan lain adalah, kedudukan dan keputusan suami selalu mendominasi dalam berbagai hal pemenuhan hak reproduksi. Sedangkan teman dan petugas kesehatan dapat memperbesar pengaruhnya terhadap norma subjektif istri dan harus aktif serta kritis mencari informasi dan mengupayakan tercapainya kondisi kesehatan reproduksi. Dalam hal penggunaan alat kontrasepsi pada pasangan yang belum/tidak lagi menginginkan anak dalam waktu dekat, hanya dilakukan oleh pihak istri. Suami umumnya pernah mencoba menggunakan kondom, tetapi merasa tidak nyaman. Pihak istri menggunakan alkon (pil, spiral, atau implan) dengan risiko mengalami efek samping tidak menyenangkan. Untuk mengantisipasi masalah yang terjadi dalam pemenuhan hak reproduksi pasangan menikah, pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran tentang hak reproduksi sangat diperlukan. Suami dan istri memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga, sehingga tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak untuk menyelesaikan masalah keluarga. Keluarga harus menyadari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah pemenuhan hak reproduksi sejak dini. Hak reproduksi penting bagi setiap individu demi terwujudnya kesehatan individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani sesuai dengan norma-norma hidup sehat. Kata kunci: Hak reproduksi, kesehatan reproduksi, perempuan muslim
PERAN HEPARIN DALAM ANGIOGENESIS, EPITELIALISASI DAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR Ruby Riana Asparini
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1083

Abstract

Heparin was initially used in small doses as an anticoagulant in the treatment of burns. It turned out that in addition to the anticoagulant, heparin in larger doses can be used as an anti-inflammatory, accelerate angiogenesis (Polykratis, et al., 2004), cell growth and development (Sasisekharan and Venkataraman, 2000) so as to accelerate wound healing (Saliba, 2001; Galvan , 1996). In some countries heparin has been used as a standard therapy treatment of burns (Saliba, 2001). Heparin is one of highest endogenous glycosaminoglycans (GAGs) besides heparan sulfate (HS), keratin sulfate, dermatan sulfate, chondroitin 4-sulfate, chondroitinHS-6-sulfate and hyaluronic acid. heparin are the most acid and are highly sulfated, is the most GAGs widely used in burns as anti-inflammatory, to reduce edema, enhance angiogenesis and accelerate epitelialization (Saliba, 2001). Several studies have revealed the role of heparin in the treatment of burns. Keywords : Heparin, angiogenesis, epitelialization, treatment of burns
DIET ROTASI MAKANAN DAN MANIFESTASI KLINIS PENYANDANG SPEKTRUM AUTISME Irma Suswati; Fathiyah Safithri
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1084

Abstract

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Autisme disertai alergi makanan sering mengalami gangguan sistem imun. Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autisme. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji implementasi diet rotasi makanan dan manifestaasi klinis yang timbul selama mengimplementasikan diet rotasi makanan pada penderita penyandang spektrum autisme dengan menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif, melalui kuesioner dan food diary. Berdasarkan jenis kelamin penyandang spektrum autisme laki-laki sejumlah 7 orang (64%) dan perempuan 4 orang (36%). Hasil food diary yang dicatat oleh orangtua menunjukkan bahwa sebagian besar telah mengimplementasikan diet sehat dengan memperhatikan jenis-jenis makanan yang diberikan kepada anak dan menerapkan diet rotasi 5 harian . Manifestasi klinis berupa demam, kembung, konstipasi (kotoran keras, berak ngeden), nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), flatus, gatal di tungkai dan sela jari kaki dan lipatan kulit ketiak, berkeringat berlebih, pusing/memukul kepala, gangguan tidur, kejang, gangguan perilaku ; teriak, gangguan belajar; tidak bisa konsentrasi, sering melamun, allergic shiner (kulit di bawah mata tampak ke hitaman). Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang masuk kesaluran pencernaan merupakan reaksi simpang makanan yang dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan dan jenis makanan yang memicu reaksi simpang merupakan makanan yang banyak mengandung kasein, gluten, fenol, asam salisilat, bahan ragi, potassium, gas tinggi, penyedap rasa, protein dan trans-fat yang dapat menyebabkan pertumbuhan jamur di usus dan menimbulkan reaksi alergi yang mempengaruhi semua organ. Kata kunci Autis, diet, manifestasi klinis, alergi
PENERAPAN ERGONOMI DALAM KONSEP KESEHATAN Febri Endra Budi Setyawan
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1085

Abstract

Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Tujuan penerapan ergonomi adalah (a) meningkatkan kesejahtetaan fisik dan mental; (b) meningkatkan kesejahteraan sosial; (c) keseimbangan rasional antara sistem manusia atau mesin-manusia dengan aspek teknis, ekonomi, antropologi, budaya. Manfaat penerapan Ergonomi antara lain pekerjaan lebih cepat selesai, risiko penyakit akibat kerja menjadi kecil, kelelahan berkurang, rasa sakit berkurang atau tidak ada.Penerapan konsep ergonomi dan K3 di perusahaan telah terbukti dapat meningkatkan derajat kesehatan, produktivitas kerja karyawan dan keselamatan, tetapi pada kenyataannya penerapan ergonomi dan K3 di perusahaan terutama menengah dan kecil jauh dari yang diharapkan. Program ergonomi dan K3 sering menempati prioritas rendah dan terakhir pada proses manajemen. Ergonomi partisipatif adalah salah satu jawaban untuk penerapan ergonomi, karena dengan pendekatan ini akan ada keterlibatan kontribusi pengguna dalam hal ini semua karyawan, sehingga diharapkan nantinya ada tanggung jawab intervensi atau pelaksanaan ergonomi. Kata Kunci : Ergonomi,
RESPONS IMUN DAN PEMERIKSAAN SEROLOGI PADA TUBERKULOSIS Diah Hermayanti
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1086

Abstract

Tuberculosis merupakan penyakit yang biasanya menyerang paru-paru. Inhalasi droplet yang mengandung sedikit bakteri Mycobacterium tuberculosis ditelan oleh makrofag alveolar. Makrofag merupakan sel target utama, namun kemudian setelah teraktifasi, akan membunuh bakteri ini dan berpartisipasi dalam respons protektif sel tipe-1 T helper dan respons Th2 untuk bakteria target ekstraseluler yang disebut imunitas humoral. Pemeriksaan serologi diperlukan pada kasus dimana pemeriksaan penunjang rutin sulit untuk menegakkan diagnose tuberculosis. Pemeriksaan tersebut antara lain menggunakan reagen dari antigen seperti antigen 5 (antigen 38 Kd), antigen kompleks 85, Early secreted antigen target (ESAT-6), antigen culture filtrate protein (CFP)-10, antigen Malate Synthase (MS) dan MPT-51. Namun demikian tidak ada pemeriksaan imunologi tunggal yang mempunyai sensisitivitas 100%, diperlukan kombinasi beberapa pemeriksaan untuk meningkatkan sensitivitasnya. Kata kunci : tuberkulosis, respons protektif, pemeriksaan serologi
PRE-DIABETES DAN PERAN HBA1C DALAM SKRINING DAN DIAGNOSIS AWAL DIABETES MELITUS Meddy Setiawan
Saintika Medika Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1087

Abstract

Diabetes Mellitus (DM), khususnya DM tipe 2 (DMT2) kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilaporkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2008, menunjukkan prevalensi DM di Indonesia saat ini sebesar 5,7%. Menurut WHO pasien diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 dan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif prevalensi tersebut akan terus meningkat. Glukosa darah merupakan rentang yang berkelanjutan (continuous spectrum). Batas kadar glukosa darah normal, prediabetes dan diabetes ditetapkan berdasar kesepakatan (arbitrary). Saat ini, diagnosis DM ditetapkan bila kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl atau 2 jam paska beban glukosa > 200 mg/dl. Prediabetes adalah kadar glukosa darah di atas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diabetes. Diagnosis prediabetes ditegakkan bila didapatkan kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl (Glukosa Puasa Terganggu = GPT), atau 2 jam paska beban glukosa 140-199 mg/dl (Toleransi Glukosa Terganggu = TGT), atau keduanya (Homeostasis Glukosa Terganggu = HGT). Mekanisme patofisiologi TGT dan GPT berbeda, meskipun TGT dan GPT didasari oleh resistensi insulin, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan tempat dimana resistensi insulin terjadi. Resistensi insulin pada penderita GPT terutama pada jaringan hati, sedangkan sensitifitas insulin pada jaringan otot masih tetap normal. Pada TGT, sensitifitas insulin di jaringan hati tetap normal atau sedikit menurun sedangkan pada jaringan otot telah terjadi resistensi insulin. Prediabetes meningkatkan resiko absolut menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Berbagai keadaan tersebut lebih meyakinkan bahwa Tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi pasien prediabetes dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya. Diabetes merupakan salah satu penyakit underdiagnosed. Saat diagnosis ditegakkan sekitar 25% sudah terjadi komplikasi mikrovaskular. Manfaat HbA1c selama ini lebih banyak dikenal dalam menilai kualitas pengendalian glikemik jangka panjang dan menilai efektivitas suatu terapi, namun beberapa studi terbaru mendukung manfaat HbA1c yang semakin luas, bukan hanya untuk pemantauan, tetapi juga bermanfaat dalam mendiagnosis ataupun skrining Diabetes Mellitus tipe-2. Pasien DM berpotensi menderita berbagai komplikasi, meliputi penyakit makrovaskular (penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi) dan penyakit mikrovaskular (retinopati, neuropati dan nefropati). Komplikasi DM sudah dimulai sejak dini sebelum diagnosis DM ditegakkan. Kata kunci : prediabetes, HbA1c, DM tipe 2

Filter by Year

2009 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2024): December 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): June 2024 Vol. 19 No. 2 (2023): December 2023 Vol. 19 No. 1 (2023): June 2023 Vol. 18 No. 2 (2022): December 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): June 2022 Vol. 17 No. 2 (2021): December 2021 Vol. 17 No. 1 (2021): June 2021 Vol. 16 No. 2 (2020): December 2020 Vol. 16 No. 1 (2020): June 2020 Vol 16, No 1 (2020): June 2020 (on progress) Vol 16, No 1 (2020): June 2020 Vol. 15 No. 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019 Vol. 15 No. 1 (2019): JUNI 2019 Vol. 14 No. 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol 14, No 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol. 14 No. 1 (2018): JUNI 2018 Vol 14, No 1 (2018): JUNI 2018 Vol 13, No 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol. 13 No. 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol. 13 No. 1 (2017): JUNI 2017 Vol 13, No 1 (2017): JUNI 2017 Vol. 12 No. 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol 12, No 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol. 12 No. 1 (2016): JUNI 2016 Vol 12, No 1 (2016): JUNI 2016 Vol. 11 No. 2 (2015): Desember 2015 Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015 Vol. 11 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014 Vol. 10 No. 2 (2014): Desember 2014 Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 10 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol. 9 No. 2 (2013): Desember 2013 Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 9 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol. 8 No. 2 (2012): Desember 2012 Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012 Vol. 8 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 5 No. 2 (2009): Juli 2009 Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011 Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011 Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011 Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011 Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010 Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 6, No 1 (2010): Januari 2010 Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010 Vol 5, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 5, No 1 (2009): Januari 2009 Vol. 5 No. 1 (2009): Januari 2009 More Issue