cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 289 Documents
PENGARUH APLIKASI FUNGISIDA MAJEMUK (b.a : Benalaksil 8% dan Mankozeb 65%) TERHADAP KEANEKARAGAMAN JAMUR ENDOFIT TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DAN TERHADAP JAMUR Fusarium oxysporum IN VITRO Hanis Alifatuz Zakiyah; Liliek Sulistyowati; Abdul Cholil
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan fungisida dengan berbagai bahan aktif dapat meningkatkan produksi namun aplikasi fungisida dihawatirkan dapat menimbulkan penurunan keanekaragaman jamur endofit yang dapat memberikan ketahanan terhadap patogen bagi inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungisida majemuk (b.a : benalaksil 8% dan mankozeb 65%) terhadap keanekaragaman jamur endofit pada tanaman bawang merah, dan fungisida dengan THR tertinggi untuk menghambat pertumbuhan jamur F. oxysporum in vitro. Variabel yang diamati pada saat eksplorasi adalah nilai keanekaragaman jamur endofit di setiap perlakuan fungisida. Sedangkan variabel pada penelitian in vitro antara lain pertumbuhan diameter koloni F. oxysporum dan tingkat hambatan relatif fungisida. hasil penelitian menunjukkan  nilai keanekaragaman jamur endofit sebelum perlakuan fungisida majemuk sebesar 12,35, nilai keanekaragaman pada pertengahan perlakuan fungisida sebesar 15,13 dan pada 1 minggu setelah aplikasi fungisida terakhir sebesar 12,11. Dari hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa aplikasi fungisida majemuk mampu menurunkan keanekaragaman jamur endofit bawang merah. Hasil penelitian in vitro menunjukkan semua perlakuan fungisida dapat menekan pertumbuhan koloni F. oxysporum pada media PDA. Tingkat hambatan relatif (THR) media PDA paling tinggi adalah pada mankozeb 65% sebesar 80,72% diikuti oleh fungisida majemuk sebesar 76,93%, dan benalaksil 8%  sebesar 10,59%.
APLIKASI METODE CAWAN NUTRISI MENGGUNAKAN KOMBINASI JARAK PAGAR DAN LAMTORO GUNG UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN KEDELAI DALAM KONDISI ENDEMIS Sclerotium rolfsii Sacc. DAN STRESS MANGAN (Mn) Nisa Kartika Sari; Anton Muhibuddin; Muhammad Akhid Syib’li
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit dan Screen House Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: 1) Jumlah mikoriza per 100 gram tanah; 2) Persentase serangan patogen Sclerotium rolfsii; 3) Persentase gejala keracunan Mangan (Mn); dan 6) Pertumbuhan tanaman kedelai. Jenis mikoriza yang ditemukan yaitu Glomus sp. Perlakuan tumpangsari jarak pagar dan lamtoro gung menunjukkan hasil  penambahan jumlah mikoriza yang signifikan dibandingkan dengan tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung. Aplikasi mikoriza mampu menekan serangan patogen S. rolfsii dengan persentase kematian yang sangat rendah. Kombinasi jarak pagar, lamtoro gung,dan mikoriza mampu menurunkan gejala keracunan akibat pencemaran unsur logam Mangan (Mn). Gejala keracunan terendah terdapat pada perlakuan P6 (J3L2) yaitu 3 tanaman jarak pagar dan 2 tanaman lamtoro gung, dan perlakuan P9 (J3L3) yaitu 3 tanaman jarak pagar dan 3 tanaman lamtoro gung dengan persentase gejala keracunan sebesar 4,76%. Perlakuan P0 (J0L0) yaitu tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung menunjukkan hasil gejala keracunan paling tinggi dengan persentase keracunan Mn sebesar 89,68%. Pertumbuhan tanaman kedelai paling rendah ditunjukkan pada perlakuan P0 (J0L0) yaitu tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang ditanam bersama dengan jarakpagar dan lamtoro gung.
PENGARUH ANGIN TERHADAP PENYEBARAN SPORA Phakopsora pachyrhizi SYDOW SECARA HORIZONTAL Satrio Dirgantara Prakoso; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Anton Muhibuddin
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phakopsora pachyrhizi menyebar dari sumber inokulum karena angin yang memungkinkan tersebarnya penyakit dan menyebabkan penurunan produksi kedelai. Percobaan dilaksanakan di Landungsari, Dau, Kabupaten Malang dan Laboratorium Mikologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2014 sampai Januari 2015. Percobaan dilaksanakan dengan dua macam percobaan. Percobaan pertama untuk mengetahui jumlah spora yang tertangkap pada jarak 20, 40, 60, 80, dan 100 cm dari sumber inokulum. Percobaan kedua untuk mengetahui intensitas penyakit karat daun dari beberapa jarak dari sumber inokulum. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan acak lengkap membandingkan lima macam jarak dari sumber inokulum dan diulang sebanyak tiga kali. Data dianalisis dengan uji F pada taraf 5 % apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Pengamatan terdiri dari identifikasi jamur karat daun, menghitung spora yang tertangkap, dan intensitas serangan. Hasil Identifikasi menunjukkan urediospora berukuran 18,45-28 μm  x 16,9-20,5 μm. Jumlah spora yang tertangkap tertinggi pada jarak 20 cm dari sumber inokulum sebanyak 43 spora. Presentase intensitas serangan karat daun pada jarak 20 cm dari sumber inokulum memliki nilai tertinggi dibanding dengan perlakuan jarak lainnya.
IDENTIFIKASI PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS PADA TANAMAN PEPAYA (Carica papaya L.) DI MALANG, JAWA TIMUR Miladiyatul Fauziyah; Tutung Hadiastono; Fery Abdul Choliq
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papaya ringspot merupakan penyakit baru pada tanaman pepaya di Indonesia yang disebabkan  oleh patogen Papaya ringspot virus (PRSV). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui virus penyebab penyakit pada tanaman pepaya di Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Virologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya dan Screenhouse Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif  untuk mengetahui jenis virus pada tanaman pepaya. Hasil penelitian menunjukkan gejala pada tanaman pepaya di lapang yaitu mosaik dan klorosis pada lamina daun serta adanya bercak cincin atau ringspot pada permukaan buah. Hasil penularan pada tanaman indikator C. amaranticolor dan C. quinoa menghasilkan gejala lesio lokal nekrosis. Berdasarkan hasil identifikasi menggunakan TEM morfologi partikel virus tergolong kelompok Potyvirus, berbentuk filament flexuous dengan ukuran sekitar 800-900 nm x 12 nm. Virus yang diuji mempunyai kisaran inang tanaman dari famili Caricaceae dan dua jenis tanaman dari famili Cucurbitaceae yaitu C. sativus dan C. melo L. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisik virus diketahui nilai DEP, TIP, dan LIV virus yang diuji yaitu 10-5-10-6, 65oC, dan 24-48 jam pada suhu ruang. Berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan virus yang menginfeksi tanaman pepaya di Malang termasuk dalam famili Potyvirus yaitu Papaya ringspot virus (PRSV).
ISOLASI DAN UJI ANTAGONIS JAMUR FILOPLEN TERHADAP ANTRAKNOSA (Colletotrichum sp.) PADA TANAMAN ANTHURIUM BUNGA (Anthurium andraeanum) Indah Nur Khulillah; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Antok Wahyu Sektiono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anthurium bunga (Anthurium andraeanum) disukai konsumen karena keindahan warna, variasi bunga dan daun yang beragam. Toleransi terhadap kerusakan yang ditimbulkan OPT sangat rendah sehingga dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida. Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat membunuh mikroorganisme bukan target seperti jamur antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan identifikasi jamur filoplen pada daun anthurium serta potensinya sebagai pengendali hayati penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. pada tanaman anthurium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 5 kali ulangan. Metode yang digunakan adalah kultur ganda. Eksplorasi jamur filoplen pada daun anthurium didapatkan sembilan jenis jamur yaitu Aspergillus sp. isolat 1, Aspergillus sp. isolat 2, Aspergillus sp. isolat 3, Aspergillus sp. isolat 4, Curvularia sp., Fusarium sp., Mucor sp., Rhizoctonia sp., dan Trichoderma sp. Setelah dilakukan uji antagonis antara jamur patogen dengan jamur filoplen didapatkan hasil tertinggi pada jamur Trichoderma sp dengan persentase sebesar 91,83%. Kemudian diikuti oleh Aspergillus sp. isolat 1, Aspergillus sp. isolat 2, Mucor sp., Aspergillus sp. isolat 3, Rhizoctonia sp., Curvularia sp., Fusarium sp., dan Aspergillus sp. isolat 4, dengan daya hambat berturut-turut sebesar 72,21%; 67,27%; 41,12%; 38,89%; 38,65%; 18,06%; 13,54%; dan 8,80%. Hasil mekanisme antagonisme antara jamur Colletotrichum sp. dengan keempat isolat Aspergillus sp., Mucor sp., dan Rhizoctonia sp. adalah kompetisi, pada Curvularia sp. dan Fusarium sp. adalah antibiosis, serta pada Trichoderma sp. adalah kompetisi dan parasitisme.
INVENTARISASI HAMA PADA TANAMAN SALAK MADURA Salacca zalacca (Gaertn.) Voss Ayu Kurnia Puspasari; Retno Dyah Puspitarini; Sri Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah salak Madura yang berasal dari Kabupaten Bangkalan memiliki pemasaran agrowisata yang sukses. Sayangnya, serangan hama menurunkan produksi salak di Bangkalan, Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui OPT, gejala kerusakan, dan keparahan penyakit salak Madura. Penelitian dilakukan di tiga petak lahan dengan melakukan observasi dan identifikasi hama umum pada salak. Enam tanaman sampel pada setiap plot ditentukan secara sistematis mengikuti pola garis tanaman. Organ buah salak yang diamati meliputi pelepah daun, daun, bunga, dan buah. Hasil penelitian ditemukan beberapa jenis hama di empat organ tumbuhan salak. Delapan belas kutu putih Pseudococcid (Homoptera), empat ulat penggerek daun salak noctuid (Lepidoptera), dan 31 kutu perisai Diaspidid (Homoptera) ditemukan pada daun. Sementara itu, tiga puluh dua kumbang penggerek bunga salak Curculionid (Coleoptera) terlihat pada bunganya. Enam belas kumbang pemakan buah Nitidulid (Coleoptera), delapan lalat buah Drosophilid (Diptera), dan lima puluh enam rayap isopteran ditemukan pada bagian buah. Selanjutnya, sembilan puluh delapan isopteran rayap juga ditemukan pada pelepah daun. Intensitas kerusakan absolut pada bunga yang disebabkan famili Curculionidae termasuk dalam kategori kecil. Kerusakan absolut pada buah akibat rayap termasuk dalam kategori sedang, sedangkan famili Nitidulidae dan famili Drosophilidae termasuk dalam kategori kecil. Kerusakan tidak mutlak pada pelepah daun akibat rayap termasuk dalam kategori tinggi dan kerusakan tidak absolut pada daun akibat famili Pseudococcidae termasuk dalam kategori kecil. Serangga lain yang ditemukan pada buah salak adalah lalat buah Tephritid (Diptera), pirate bugs anthocorid (Hemiptera), Pseudoscorpio arachnidan, tungau Erythrqeid (Acari), dan tungau Oribatid (Acari).
EFEKTIVITAS EKSTRAK AKAR TAGETES (Tagetes sp.) UNTUK PENGENDALIAN NEMATODA PURU AKAR (Meloidogyne spp.) Isna Kartika Wati; Bambang Tri Rahardjo; Hagus Tarno
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak akar tagetes dalam daya hambat tetas telur dan mortalitas juvenil II Meloidogyne spp. serta memperoleh nilai Median Lethal Concentration (LC50) dan Median Lethal Time (LT50) ekstrak akar tagetes. Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai dengan Juni 2015 di laboratorium Virologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pengujian Ekstrak Akar Tagetes pada Meloidogyne spp. menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yang terdiri dari konsentrasi 0 (kontrol), 5 %, 10 %, 15 % dan 20 % dengan pengujian pada telur dan Juvenil II Meloidogyne spp. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data dianalisis menggunakan analisis ragam. Apabila terdapat perbedaan nyata pada setiap perlakuan maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tagetes konsentrasi 20% mampu mempengaruhi daya tetas telur Meloidogyne spp. dengan persentase 83,07% dalam waktu 11 hari setelah aplikasi serta mortalitas juvenil II dengan persentase mortalitas sebesar 98,81% dalam waktu 24 jam. Nilai LC50 pada telur sebesar 1,396% dalam waktu 11 hari dan LC50 pada juvenil II Meloidogyne spp. sebesar 8,474% dalam waktu 3 jam. Sedangkan nilai LT50 pada juvenil II Meloidogyne spp. adalah 4,453 jam.
EKSPLORASI DAN UJI ANTAGONISME JAMUR FILOPLANE TERHADAP JAMUR Fusarium sp. PENYEBAB PENYAKIT BUSUK KERING PADA DAUN SRI REJEKI (Aglaonema sp.) Asri Ismahmudi; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.1.2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur filoplane pada daun Aglaonema dan mengidentifikasi antagonisme penyakit busuk kering pada daun Aglaonema yang disebabkan oleh Fusarium sp. Penelitian yang dilakukan meliputi identifikasi jamur patogen, eksplorasi jamur filoplane, dan uji antagonisme. Penelitian ini dilaksanakan di Sub Laboratorium Mikologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Uji antagonisme dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 12 perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan ada tujuh jenis jamur filoplane yaitu genus Acromonium, Trichoderma, Cephalosporium, Mucor, Rhizopus, Fusarium, dan Aspergillus. Dari tujuh jenis jamur filoplane yang ditemukan, Trichoderma sp. memiliki daya hambat tertinggi (71,5%) terhadap pertumbuhan patogen Fusarium sp.Aplikasi suspensi dengan kerapatan 106 konidia/ml air Trichoderma sp. pada daun Aglaonema terbukti dapat menghambat penyakit busuk kering.
KERAGAMAN ARTHROPODA PADA PERTANAMAN PADI DENGAN PEMANFAATAN GULMA SEBAGAI TANAMAN BORDER Isniatul Lailiyah; Nanang Tri Haryadi
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.1.4

Abstract

Gulma berbunga di sekitar lahan pertanian memiliki potensi sebagai refugia yang menyediakan pakan dan tempat berlindung untuk mendukung kehidupan musuh alami, yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pengendalian hama. Tanaman refugia merupakan bentuk konservasi karena mampu meningkatkan kehadiran arthropoda bermanfaat, sehingga dapat menekan serangan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gulma dalam menarik musuh alami. Gulma yang digunakan pada penelitian yaitu Ageratum conyzoides, Bidens pola, Althernanthera sessilis, Cyanthillium cinereum, dan Eclipta prostrata. Pengamatan dilakukan dalam interval 7 hari (pada pukul 08.00 WIB dan 16.00 WIB) hingga panen dengan menggunakan sweep net dan yellow pan trap, dilanjutkan dengan identifikasi arthropoda. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa keragaman arthropoda terdiri dari herbivora 57 %, predator 40 %, polinator 3 %, dan parasitoid 0 %. Keberadaan arthropoda bermanfaat pada refugia lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Jumlah predator paling banyak yaitu pada Cyanthillium cinereum, sedangkan polinator mendominasi pada tanaman Althernanthera sessilis dan Cyanthillium cinereum. Sementara itu, kelimpahan herbivora paling tinggi ditemukan pada kontrol.
BIOLOGI KUMBANG TOMCAT ( Paederus fuscipes Curtis) (COLEOPTERA: STAPHYLINIDAE) SEBAGAI PREDATOR Ikhtiyar Rizqi Ritanti; Nanang Tri Haryadi
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.2.1

Abstract

Kumbang tomcat merupakan salah satu predator yang memangsa hama utama tanaman padi. Disisi lain, keberadaannya dianggap dapat membahayakan manusia karena memiliki senyawa beracun yang dapat menyebabkan dermatitis, sehingga para petani masih mengganggap remeh keberadaan kumbang ini sebagai agen pengendali. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terkait biologi kumbang tomcat untuk mengetahui potensinya. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember dengan memperbanyak kumbang tomcat yang diambil dari areal pertanaman padi. Penelitian dilakukan menggunakan botol plastik 1500 ml yang di dalamnya terdapat tanah dan tanaman padi yang diulang 30 kali dengan lima parameter pengamatan yaitu fekunditas, fertilitas, longivitas, morfometri dan sex ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa betina tomcat meletakkan 0-1 telur per hari dan menghasilkan rata-rata 21,13 telur dengan daya tetas 53-86 % selama hidupnya. Waktu yang diperlukan setiap fase kumbang berturut-turut yaitu 6,7 hari, 4,7 hari, 7,9 hari, 3,4 hari, 4,5 hari, 20,4 hari, dan 27,2 hari untuk telur, larva instar 1, larva instar 2, pre-pupa, pupa, dewasa jantan, dan dewasa betina. Sementara itu, sex ratio P. fuscipes yaitu 10:7 betina:jantan.