cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 289 Documents
PENGARUH EKSTRAK BAHAN NABATI SEBAGAI PELINDUNG INFEKTIVITAS Spodoptera litura NUCLEAR POLYHEDROSIS VIRUS JTM 97 C TERHADAP RADIASI SINAR ULTRAVIOLET UNTUK MENGENDALIKAN Helicoverpa armigera Hubner (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Sinta Asa Karsalina; Tutung Hadiastono; Mintarto Martosudiro; Bedjo Bedjo
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bahan nabati sebagai pelindung infektivitas SlNPV JTM 97C terhadap radiasi sinar ultraviolet untuk mengendalikan Helicoverpa armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Toksikologi Pestisida, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang dan Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang mulai bulan Januari hingga Juni 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu: 1) kontrol tanpa SlNPV JTM 97C, 2) SlNPV JTM 97C tanpa bahan pelindung, 3) SlNPV JTM 97C + kaolin sebagai pembanding, 4) SlNPV JTM 97C + ekstrak tongkol jagung, 5) SlNPV JTM 97C + ekstrak kulit singkong, dan 6) SlNPV JTM 97C + ekstrak kulit nanas. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bahan nabati yang mempunyai kemampuan untuk melindungi infektivitas SlNPV JTM 97C terhadap radiasi sinar ultraviolet dalam mengendalikan H. armigera adalah ekstrak kulit nanas dan ekstrak tongkol jagung.
EKSPLORASI JAMUR ENDOFIT PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) SERTA POTENSI ANTAGONISMENYA TERHADAP Phytophthora palmivora Butler. PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH SECARA IN VITRO Pandu Indra Pratama; Liliek Sulistyowati; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phytophthora palmivora merupakan penyakit penting kakao baik di Indonesia maupun negara produsen lain. Terdapat teknologi yang digunakan dalam pengendalian penyakit, yaitu dengan fungisida dan agen hayati Trichoderma sp. Penggunaan agen hayati merupakan salah satu cara  untuk pengendalian yang ramah lingkungan dan relatif lebih murah dibandingkan fungisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur endofit yang terdapat di dalam jaringan tanaman kakao serta potensi antagonismenya terhadap P. palmivora secara in vitro pada media PDA. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Isolat P. palmivora diisolasi dari tanaman kakao yang terinfeksi dari lapang. Eksplorasi jamur endofit didapatkan dari daun, batang, buah dan akar tanaman kakao yang diambil di Desa Babadan, Kabupaten Kediri. Jamur endofit yang diperoleh sebanyak 26 isolat, 16 isolat telah teridentifikasi terdiri dari 3 isolat dari genus Cephalosporium,  2 isolat dari genus Colletotrichum,1 isolat dari genus Curvularia, 4 isolat dari genus Fusarium, 1 isolat dari genus Gloesporium, 1 isolat dari genus Pestalotia, 4 isolat dari genus Trichoderma, dan 10 isolat tidak teridentifikasi. Isolat Trichoderma sp.1 menunjukkan kemampuan tertinggi mampu menghambat pertumbuhan P. palmivora sebesar 98%, dan diikuti isolat EK1 dengan persentase penghambatan sebesar 73,33%.
POTENSI BAKTERI ANTAGONIS DARI MIKROORGANISME LOKAL (MOL) BONGGOL PISANG DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT DARAH PADA TANAMAN PISANG Ichsan Firmansyah; Abdul Latief Abadi; Luqman Qurata Aini
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikroorganisme Lokal (MOL) merupakan produk cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami, sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi bakteri dari MOL bonggol pisang sebagai antagonis terhadap Blood Disease Bacterium (BDB = Ralstonia syzygii subsp. syzygii) penyebab penyakit darah pada tanaman pisang. Isolasi bakteri dari MOL bonggol pisang dilakukan dengan metode spread plate. Pengujian penghambatan terhadap BDB menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 10 perlakuan pada cawan Petri dan 11 perlakuan pada percobaan menggunakam buah pisang. Sebanyak 43 isolat bakteri berhasil didapatkan dari MOL, tetapi hanya 8 isolat yang mampu menekan pertumbuhan BDB, yaitu isolat BMOL 1, BMOL 8, BMOL 14, BMOL 21, BMOL 22, BMOL 24, BMOL 27, dan BMOL 29. Isolat BMOL1 dan BMOL 24 menunjukkan kemampuan lebih tinggi dalam menghambat pertumbuhan BDB dibanding isolat yang lain.
PENGARUH TANAMAN PENDAMPING AROMATIK UNTUK MENEKAN POPULASI Plutella xylostella L. (LEPIDOPTERA: PLUTELLIDAE) PADA PERTANAMAN KUBIS BUNGA Brikaryana Brikaryana; Gatot Mudjiono; Sri Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanaman tanaman pendamping adalah strategi dalam peningkatan biodiversitas agroekosistem. Tanaman pendamping secara biokimia mampu menekan/menolak hama datang pada tanaman utama, salah satu jenisnya adalah tanaman aromatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh tumpang sari dengan tanaman aromatik terhadap perkembangan P. xylostella yang dilaksanakan di Pandanrejo, Bumiaji, Batu. Perlakuan yang digunakan adalah tanaman pendamping selasih, tanaman pendamping kemangi dan tanpa tanaman pendamping. Penerapan tanaman pendamping aromatik tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat populasi telur dan imago P. xylostella. Perlakuan kubis bunga dengan tanaman pendamping aromatik kemangi mampu menurunkan populasi larva pada pengamatan 45 HST dengan intensitas kerusakan terendah. Tingkat serangan P. xylostella paling tinggi pada 38 HST diikuti dengan peningkatan populasi larva dikarenakan tanaman kubis bunga sudah tumbuh maksimal.
PENGARUH BEBERAPA JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP INFEKSI TURNIP MOSAIC VIRUS (TuMV) PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) Haniatur Rochifah; Mintarto Martosudiro; Tutung Hadiastono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh dari beberapa jenis pupuk kandang pada infeksi TuMV, pertumbuhan dan produksi sawi hijau dilakukan  di rumah kasa (screenhouse) Laboratorium Penyakit Tanaman, Departemen Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Pupuk kandang kotoran sapi, kotoran kambing, dan kotoran ayam (20 ton/ha) ditambahkan ke dalam tanah steril untuk menentukan pengaruh pupuk organik terhadap infeksi TuMV. Pupuk NPK (180 kg/ha) digunakan sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, dan pupuk kandang ayam (20 ton/ha) secara signifikan mampu menurunkan intensitas penyakit mosaik dan menunda inkubasi penyakit pada tanaman sawi hijau. Perlakuan pupuk kandang sapi, kambing, dan ayam juga meningkatkan luas daun, panjang tanaman, dan berat tanaman segar lebih baik dari pupuk NPK.
EFEKTIVITAS KOMBINASI JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. DAN PENGATUR PERTUMBUHAN SERANGGA (PPS) UNTUK PENGENDALIAN LALAT BUAH Bactrocera carambolae Drew and Hancock (DIPTERA: TEPHRITIDAE) Aris Lelono Putro Pratomo; Aminudin Afandhi; Rina Rachmawati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengurangi kehilangan hasil produksi umumnya pengendalian lalat buah Bactrocera carambolae (Drew and Hancock) dilakukan dengan meningkatkan dosis dan frekuensi aplikasi pestisida kimia sintetis yang dapat memicu resistensi hama. Strategi alternatif untuk mengurangi resistensi hama lalat buah dapat dilakukan dengan kombinasi jamur entomopatogen B. bassiana dan Pengatur Pertumbuhan Serangga (PPS) berbahan aktif buprofezin telah dievaluasi pada penelitian ini. Pengujian laboratorium ini dilakukan dengan mencampurkan secara langsung (1:1) suspensi jamur entomopatogen B. bassiana dengan konsentrasi 1010 spora/mℓ dengan larutan buprofezin dengan konsentrasi 60µg/mℓ yang konsentrasi masing-masing didapatkan dari hasil perhitungan LC50 pada pengujian sebelumnya . Aplikasi kombinasi antara jamur entomopatogen B. bassiana (1010 spora/ mℓ) dan PPS berbahan aktif buprofezin (60µg b.a/mℓ) menurunkan persentase mortalitas lalat buah sebesar 4,73% dibandingkan dengan aplikasi tunggal B. bassiana. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi jamur entomopatogen B. bassiana dan PPS berbahan aktif buprofezin tidak efektif untuk pengendalian lalat buah.
EKSPLORASI RIZOBAKTERI PADA GULMA FAMILI SOLANACEAE UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN TOMAT Auliya Zendhabad; Luqman Qurata Aini; Abdul Latief Abadi
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ralstonia solanacearum merupakan bakteri penyebab penyakit layu yang dapat menurunkan produksi tanaman tomat. Bakteri penghuni akar (rizobakteri) diketahui dapat berperan sebagai antagonis terhadap patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk medapatkan rizobakteri dari gulma dari famili solanaceae yaitu leunca dan ciplukan yang berpotensi sebagai antagonis terhadap R. solanacearum. Telah diperoleh delapan isolat rizobakteri yang berpotensi menekan pertumbuhan R. solanacearum. Semua isolat rizobakteri yang diuji memiliki potensi yang sama dengan kontrol (bakterisida Streptomisin sulfat) dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri. Berdasarkan karakterisasi fisiologi dan biokimia diketahui bahwa masing-masing isolat rizobakteri memiliki karakter yang berbeda.
PENGARUH ACARISIDA PIRIDABEN TERHADAP FISIOLOGI JAMUR ENTOMO-ACARIPATOGEN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin DALAM MEMATIKAN TUNGAU Polyphagotarsonemus latus Banks Desti Mega Pratiwi; Retno Dyah Puspitarini; Aminudin Afandhi
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengendalian hama terpadu tungau Polyphagotarsonemus latus bisa menggunakan jamur serangga B. bassiana yang dikombinasikan dengan acarisida. Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan yaitu mengkaji toksisitas acarisida piridaben konsentrasi 0,0625 dan 0,125 dari konsentrasi anjuran pada B. bassiana kerapatan 108 spora/ml yang dibiakkan pada media EKG dan mengkaji pengaruh piridaben dan B. bassiana terhadap mortalitas P. latus. Pada percobaan pertama, setiap konsentrasi piridaben dikombinasikan dengan B. bassiana sehingga didapatkan 2 kombinasi perlakuan dan 1 perlakuan kontrol yaitu B. bassiana. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi-kombinasi perlakuan tersebut menyebabkan persentase daya kecambah B. bassiana lebih rendah secara nyata (berturut-turut 54,45dan 53,80%) dibandingkan kontrol (67,31%). Demikian juga, persentase pertumbuhan koloni dan jumlah konidia B. bassiana lebih rendah secara nyata (berturut-turut 2,47 dan 84,25%) dibandingkan dengan kontrol (berturut-turut 4,05 dan 108,00%). Dari nilai kompatibilitas (T), kedua konsentrasi piridaben tidak kompatibel (T<60) dengan B. bassiana (berturut-turut 32,48 dan 30,20). Oleh karena itu, untuk mengkaji pengaruh piridaben dan B. bassiana terhadap tingkat mortalitas P. latus, keduanya tidak dikombinasikan. Percobaan kedua ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari piridaben 2 konsentrasi serta 2 perlakuan kontrol yaitu B. bassiana dan akuades, diulang 4x. Pada pengujian ini, setiap perlakuan diaplikasikan pada 10 imago P. latus dengan metode semprot di arena percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan piridaben menyebabkan mortalitas P. latus 100% pada hari ke-3 dan hari ke-5 pada perlakuan B. bassiana. Acarisida piridaben bersifat toksik terhadap B. bassiana dan piridaben lebih cepat menyebabkan kematian P. latus dibandingkan B. bassiana.
PENGARUH PERBEDAAN UMUR TANAMAN SAAT INOKULASI Tobacco Mosaic Virus (TMV) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) Hesty Maranticha; Tutung Hadiastono; Mintarto Martosudiro
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pengaruh perbedaan umur tanaman saat inokulasi TMV terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat telah dilakukan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan HPT, FP, UB dan di rumah kasa (screenhouse) milik Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Kampus 2, Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah pengaruh perbedaan umur tanaman pada saat inokulasi TMV yaitu saat tanaman berumur 14, 21, 28, 35, dan 42 hari setelah tanam (HST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan umur tanaman tomat saat inokulasi TMV tidak memberikan pengaruh terhadap masa inkubasi dan intensitas serangan TMV. Kisaran masa inkubasi TMV pada tanaman tomat adalah 40-45 hari setelah inokulasi (HSI). Tanaman yang diinokulasi pada 14 HST memiliki rerata tinggi tanaman dan jumlah daun yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman yang diinokulasi pada 42 HST. Tanaman yang diinokulasi pada 14 HST juga menghasilkan bobot buah yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang diinokulasi pada umur yang lebih tua, namun jumlah buah tidak menunjukkan adanya penurunan.
PENGARUH SISTEM TUMPANG SARI PADA PERTANAMAN BAWANG MERAH Allium ascolanium L. DENGAN MINT DAN SELEDRI TERHADAP POPULASI Spodoptera exigua H. (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Kamella Endras Purnamaratih; Sri Karindah; Gatot Mudjiono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spodoptera exigua merupakan salah satu hama yang sering menyebabkan gagal panen pada tanaman bawang merah di dataran rendah Pulau Jawa. Salah satu cara pengendalian yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan dengan penanaman tanaman yang mempunyai sifat repellent (penolak) secara tumpangsari. Oleh karena itu penelitian mengenai pengaruh tumpang sari bawang merah dengan mint dan seledri terhadap S. exigua telah dilakukan di lahan pertanian Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Penelitian ini mengamati dan menghitung populasi S. exigua dan intensitas serangan di pertanaman bawang merah. Perlakuan tumpang sari bawang merah dan mint, perlakuan tumpangsari bawang merah dan seledri, perlakuan tumpang sari bawang, mint dan seledri, dan perlakuan monokultur tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap populasi telur, larva dan imago S. exigua. Rerata populasi telur yaitu sebanyak 6,08 butir/tanaman pada pertanaman monokultur; 4,29 butir/tanaman pada tumpang sari bawang merah dan mint; 3,92 butir/tanaman pada tumpangsari bawang merah dan seledri dan 3,67 butir/tanaman pada tumpangsari bawang merah, mint dan seledri. Serangan dengan intensitas paling tinggi terjadi pada pertanaman  monokultur. Tingkat serangan S. exigua pada 28 HST adalah yang tertinggi, karena pada saat tersebut rerata populasi larva mencapai puncaknya.