cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 289 Documents
EFEKTIVITAS SEED COATING DENGAN Trichoderma sp. UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT REBAH KECAMBAH (Sclerotium rolfsii) PADA BENIH CABAI RAWIT (Capsicum futescens L.): EFFECTIVENESS OF SEED COATING WITH Trichoderma sp. TO CONTROL DAMPING OFF DISEASE (Sclerotium rolfsii) IN CHILI PEPPER SEEDS (Capsicum frutescens L.) Mahmudi, Zaid; Rachmawati, Rina
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.2.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Trichoderma sp. dengan metode seed coating dan penambahan bahan perekat natrium alginat untuk mengendalikan penyakit rebah kecambah (Sclerotium rolfsii) pada benih cabai rawit. Pengujian dilakukan secara in vitro dilakukan di Laboratorium Wilker Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultra, Pasuruan dan pengujian secara in vivo dilakukan di rumah sayur organik, komunitas pertanian organik Brenjonk. Pengamatan yang dilakukan meliputi mekanisme antagonis, daya berkecambah, persentase pre emergence dan post emergence damping off, efektivitas pengendalian, serta uji kemunculan Trichoderma sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. mampu menekan pertumbuhan Sclerotium rolfsii secara in vitro melalui mekanisme kompetisi, antibiosis, dan mikoparasit. Seed coating tidak memengaruhi daya berkecambah benih cabai rawit. Aplikasi Trichoderma sp. mampu mengendalikan penyakit rebah kecambah secara in vivo. Aplikasi dengan metode perendaman memiliki nilai efektivitas pengendalian 76,40%. Sedangkan aplikasi dengan metode seed coating dengan penambahan natrium alginat sebagai bahan perekat memiliki nilai efektivitas pengendalian 81,30%. Penggunaan natrium alginat sebagai bahan perekat meningkatkan efektivitas pengendalian Trichoderma sp. terhadap penyakit rebah kecambah dengan nilai 6,44%.
PERSISTENSI ISOLAT JAMUR PATOGEN SERANGGA ASAL FILOPLAN TANAMAN TEH DARI PERKEBUNAN DATARAN TINGGI PANGALENGAN DENGAN LAMA PAPARAN SINAR MATAHARI BERBEDA: PERSISTENCE OF ENTOMOPATHOGENIC FUNGI ISOLATES FROM PHYLLOPLANE OF PANGALENGAN HIGHLANDS TEA PLANT WITH DIFFERENT DURATION OF SUNLIGHT EXPOSURE Purba, Rio Euagelion; Fauziah, Fani; Afandhi, Aminudin
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.2.3

Abstract

Jamur Patogen Serangga (JPS) berfungsi sebagai agens hayati yang efektif untuk pengendalian hama. Akan tetapi, paparan sinar matahari secara langsung dapat mempengaruhi persistensi JPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi berbagai jenis JPS yang terdapat pada filoplan tanaman teh dataran tinggi Pangalengan serta untuk mengetahui pengaruh lama paparan sinar matahari terhadap persistensi JPS di filoplan tanaman teh. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024 sampai Januari 2025 di Laboratorium Proteksi Tanaman Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Jawa Barat. Uji persistensi dilakukan dengan perlakuan lama paparan sinar matahari terhadap konidia JPS di filoplan tanaman teh selama 0, 3, 6, 9, 12, 24, 48, 72, dan 96 jam dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh isolat JPS yang diisolasi dari filoplan teh dataran tinggi Pangalengan, antara lain Aspergillus sp., Beauveria sp., Penicillium sp., Fusarium sp., dan Paecilomyces sp. Isolat Beauveria sp. merupakan isolat JPS yang terpilih untuk dilakukan uji persistensi karena memiliki kerapatan, viabilitas, dan mortalitas tertinggi. Paparan sinar matahari selama 96 jam mampu menurunkan kerapatan dan viabilitas konidia Beauveria sp. masing-masing sebesar 89,01%, dan 81,71%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kerapatan dan viabilitas konidia Beauveria sp. menurun seiring dengan bertambahnya lama paparan sinar matahari.
PENGARUH PENAMBAHAN BAHAN ORGANIK SERASAH DAN AMPAS TEBU TERHADAP KELIMPAHAN COLLEMBOLA PADA LAHAN TEBU (Saccharum officinarum L.): THE EFFECT OF ADDITION OF ORGANIC MATTER LITTER AND BAGASSE TO THE ABUNDANCE OF COLLEMBOLA IN SUGAR CANE (Saccharum officinarum L.) FIELDS Laraswati, Nur Adinda; Rahardjo, Bambang Tri
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.2.4

Abstract

Bahan organik merupakan salah satu upaya pengelolaan lahan akibat kegiatan pembakaran sisa pascapanen tebu. Bagian tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai bahan organik dapat berasal dari serasah daun dan ampas tebu. Salah satu manfaat pemberian bahan organik ialah sebagai sumber energi terhadap fauna tanah, khususnya Collembola. Collembola merupakan organisme yang memiliki habitat di tanah dan berperan penting sebagai perombak bahan organik. Keberadaannya dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik yang ada di suatu lahan, sehingga populasinya akan berbeda-beda. Penelitian ini menguji pengaruh pemberian bahan organik serasah daun tebu dan ampas tebu terhadap kelimpahan Collembola yang ada di lahan. Kegiatan penelitian berlokasi di Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Tanaman Pemanis dan Serat (BSIP TAS) yang berada di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yang terdiri dari masing-masing lahan kontrol (P0), lahan serasah (P1), dan lahan serasah + ampas tebu (P2) dengan 6 ulangan pada setiap perlakuan.  Collembola yang ditemukan pada lahan tebu berjumlah 2.247 individu yang terdiri dari 2 ordo (Poduromorpha dan Entomobryiomorpha), 4 famili (Neanuridae, Entomobryidae, Isotomidae, dan Paronellidae), dan 13 morfospesies. Perbedaan jenis serasah dan bobot memberikan pengaruh terhadap kelimpahan Collembola yang didapatkan di lahan tebu.
IDENTIFIKASI PENYAKIT BERCAK DAUN NANAS DI KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT: IDENTIFICATION OF PINEAPPLE LEAF SPOT DISEASE IN KUBU RAYA, WEST BORNEO Apindiati, Rita Kurnia; Hendarti, Indri; Rizal, Muhammad; Tarigasa, Odilo
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.2.5

Abstract

Permintaan akan buah nanas di dalam negeri terus meningkat, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat vitamin yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, keberadaan patogen menjadi kendala karena dapat menurunkan produksi tanaman nanas. Berbagai gejala bercak pada daun tampak di lapangan, yang mengindikasikan adanya serangan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gejala dan patogen penyebab penyakit bercak daun pada tanaman nanas serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyebarannya, guna memberikan dasar informasi bagi pengendalian penyakit yang lebih efektif. Penelitian dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, seperti survei, evaluasi hasil survei, pengamatan gejala di lapangan, dan pengujian laboratorium terhadap patogen penyebab bercak daun. Sampel diambil secara purposive sampling dari tanaman nanas yang menunjukkan gejala bercak daun di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman nanas di wilayah tersebut terserang penyakit bercak daun dengan gejala berupa bercak berbentuk bulat dan teratur. Berdasarkan gejala tersebut, ditemukan keberadaan tiga jenis patogen, yaitu Curvularia sp.,  Fusarium sp., dan Discosia sp., yang diduga menjadi penyebab utama penyakit bercak daun pada tanaman nanas.
KEANEKARAGAMAN LALAT BUAH (DIPTERA: TEPHRITIDAE) MENGGUNAKAN ATRAKTAN PADA KOMODITAS BELIMBING (Averrhoa carambola L.) DI KABUPATEN DEMAK: DIVERSITY OF FRUIT FLIES (DIPTERA: TEPHRITIDAE) USING ATTRACTANTS ON STARFRUIT (Averrhoa carambola L.) IN DEMAK REGENCY Pamasa, Dayintasya Ratih; Syamsulhadi, Mochammad
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.3.5

Abstract

Produksi buah belimbing di Kabupaten Demak menurun karena serangan hama lalat buah. Beberapa spesies lalat buah merupakan Organisme Penganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) berdasarkan Permentan nomor 25 Tahun 2020. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan atraktan metil eugenol (ME) dan cue lure (CUE). Penelitian ini memberikan informasi jenis spesies lalat buah, atraktan yang lebih efektif serta persebaran OPTK lalat buah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan pada September hingga November 2024. Terdapat lima plot 30 x 30 m yang dipasang 4 perangkap atraktan dan host rearing dilakukan dengan metode purposive random sampling. Lalat buah di identifikasi di Laboratorium Entomologi BKHIT Jawa Tengah. Data analisis dengan uji ANOVA taraf 5% dan uji lanjut DMRT (α = 0,05%) menggunakan perangkat lunak statistik R versi 4.3.3. Metode keanekaragaman alfa dihitung menggunakan rumus indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, indeks dominasi, indeks kesamaan. Berdasarkan hasil pemasangan perangkap diperoleh 3 ragam spesies Bactrocera dorsalis, B. carambolae, dan B. albistrigata. Total lalat buah jantan terperangkap 6734 individu dengan 6707 individu dari atraktan metil eugenol (ME), dan 27 individu dari atraktan cue lure (CUE). Keanekaragaman spesies diperoleh hasil kategori keanekaragaman rendah dan atraktan metil eugenol (ME) menunjukkan lebih efektif dalam menarik lalat buah di lahan belimbing.
PERSISTENSI JAMUR PATOGEN SERANGGA DARI RIZOSFER PERKEBUNAN TEH DATARAN TINGGI PANGALENGAN DENGAN PAPARAN SINAR ULTRAVIOLET BERBEDA: PERSISTENCE OF ENTOMOPATHOGENIC FUNGI FROM THE RHIZOSPHERE OF PANGALENGAN HIGHLANDS TEA PLANTATIONS WITH DIFFERENT DURATIONS OF ULTRAVIOLET LIGHT EXPOSURE Rizqulloh, Dimas Ilfan; Fauziah, Fani; Fernando, Ito; Afandhi, Aminudin
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.3.1

Abstract

Perkebunan teh Pangalengan, Kabupaten Bandung, memiliki kondisi lingkungan yang mendukung jamur patogen serangga (JPS) sebagai agens pengendali hayati (APH). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi JPS dari rizosfer perkebunan teh dataran tinggi serta mengetahui persistensinya setelah dipaparkan sinar UV. Isolasi JPS dilakukan dengan metode umpan serangga menggunakan Tenebrio molitor dan dilanjutkan dengan seleksi berdasarkan kerapatan dan viabilitas konidia. Uji persistensi dilakukan terhadap konidia yang dipaparkan sinar UV pada 254 nm selama 0, 15, 30, 45, dan 60 menit dengan lima kali ulangan. Kerapatan dan viabilitas konidia digunakan untuk menghitung kelangsungan hidup. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 7 isolat jamur yang diperoleh dari rizosfer perkebunan teh dataran tinggi Pangalengan yang terdiri dari 3 genus, yaitu genus Fusarium sebanyak 5 isolat, genus Penicillium sebanyak 1 isolat, dan genus Beauveria sebanyak 1 isolat. Pemaparan sinar UV selama 60 menit pada isolat Penicillium sp. Pg-P1 mampu menurunkan kerapatan konidia sebesar 73,43% dan viabilitas konidia sebesar 60,71%. Hal tersebut menunjukkan bahwa persistensi Penicillium sp. Pg-P1 menurun seiring dengan meningkatnya durasi paparan sinar UV.
KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN ANALISIS LITERATUR PERAN VEKTOR KUTU PUTIH (PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN HIAS DI LINGKUNGAN KAMPUS UNIVERSITAS MULAWARMAN: MORPHOLOGICAL CHARACTERISATION AND LITERATURE ANALYSIS OF THE ROLE OF WHITEFLY VECTORS (PSEUDOCOCCIDAE) ON ORNAMENTAL PLANTS IN THE CAMPUS ENVIRONMENT OF MULAWARMAN UNIVERSITY Hasibuan, Febry Rahmadhani; Khotizah, Laraz Nur; Butar, Marentina Kirana Butar; Hariyanti, Mutina; Putri, Rania Sakanti Arindra; Veraresa, Ray Herry; Widya Syahfitri; Ilmi, Annisa Nurul; Pujiyanti, Aloysia Sri
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.3.2

Abstract

Kutu putih (Pseudococcidae) merupakan hama penting yang menyebabkan kerusakan fisiologis dengan mengisap getah dari floem dan juga bertindak sebagai vektor patogen tumbuhan, termasuk virus, bakteri, dan jamur. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi spesies kutu putih pada tanaman hias dan mengevaluasi potensi mereka dalam menularkan patogen di lingkungan tropis. Sampel dikumpulkan dari tiga spesies tanaman hias, yaitu Agave americana, Heptapleurum arboricola, dan Colocasia esculenta L, di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-eksploratif untuk mengidentifikasi spesies kutu putih dan menganalisis potensinya sebagai vektor patogen pada tanaman hias.  Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan kriteria inklusi sebagai berikut: (1) tanaman hias yang menunjukkan gejala infestasi kutu putih (misalnya koloni berwarna putih, daun menguning, atau nekrosis), (2) tanaman yang termasuk dalam tiga spesies target (Agave americana, Heptapleurum arboricola, dan Colocasia esculenta L.), dan (3) lokasi tumbuh yang terpapar kondisi lingkungan alami (tidak dalam rumah kaca atau perlakuan pestisida). Identifikasi morfologis menunjukkan dua spesies kutu putih dominan, Paracoccus marginatus dan Pseudococcus cryptus, yang ditemukan pada fase nimfa betina dan dewasa. Fase instar II dan III melibatkan aktivitas makan dan pengeluaran madu, yang memfasilitasi penularan patogen melalui mekanisme mekanis dan biologis. Pengeluaran ini juga menciptakan kondisi ideal untuk kolonisasi patogen sekunder, seperti spesies Fusarium dan Capnodium. Kondisi iklim tropis yang hangat dan lembap memperkuat vektorisasi patogen oleh kutu putih. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kutu putih memainkan peran epidemiologis yang signifikan dalam penyebaran penyakit tanaman hias, memberikan dasar penting untuk strategi pengendalian biologis dan pemantauan penyakit di lingkungan tropis.
INSIDENSI DAN SEVERITAS PENYAKIT PADA PERKEBUNAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) DESA DURIAN TINGGI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA, SUMATERA BARAT: INCIDENCE AND SEVERITY OF PLANT DISEASE OF GAMBIER (Uncaria gambir Roxb) CROPS DURIAN TINGGI VILLAGE, LIMA PULUH KOTA REGENCY, WEST SUMATERA Waruwu, Arifda Ayu Swastini; Putri, Diana
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.3.4

Abstract

Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu daerah penghasil gambir utama di Sumatera Barat. Berbagai tanaman, termasuk Uncaria gambir, rentan terserang penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis insidensi dan severitas penyakit yang menyerang U. gambir. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2025 dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling (PRS) dan survei lapangan di tiga lokasi di Nagari Durian Tinggi. Wawancara dengan petani yang bekerja di perkebunan gambir juga dilakukan untuk melengkapi data hasil pengamatan mengenai gejala penyakit. Berbagai jenis penyakit bercak daun berhasil didokumentasikan, antara lain bercak ungu, bercak hitam, dan bercak coklat. Dari ketiga jenis tersebut, bercak ungu merupakan penyakit yang paling dominan. Insidensi penyakit tertinggi mencapai 100% di semua lahan. Tingkat severitas bercak ungu tertinggi terjadi di Lahan 1 sebesar 74%, sedangkan severitas terendah ditemukan di Lahan 2 dan 3 sebesar 51% .
RESPONS POPULASI Sitophilus oryzae TERHADAP VARIASI SUHU PADA MEDIA BERAS: STUDI AWAL UNTUK PERLINDUNGAN HASIL PERTANIAN: POPULATION RESPONSES OF Sitophilus oryzae TO TEMPERATURE VARIATIONS IN RICE MEDIA: A PRELIMINARY STUDY FOR THE PROTECTION OF AGRICULTURAL PRODUCTS Simanjuntak, Rich Gemilang; Farida, Naimatul
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.3.3

Abstract

Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama pascapanen utama yang merusak komoditas serealia, terutama beras. Infestasi S. oryzae menyebabkan kerusakan fisik dan kontaminasi, yang berdampak serius pada ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu terhadap aspek biologi dan dinamika populasi S. oryzae pada media beras, meliputi siklus hidup, kelangsungan hidup, ukuran tubuh, dan nisbah kelamin. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan dua perlakuan suhu, yaitu 26,2 ± 0,3 °C dan 30,6 ± 0,3 °C. Tiga puluh butir telur pada setiap perlakuan yang diamati secara berkala hingga menjadi imago. Data dianalisis menggunakan tabel kehidupan dan uji two-sample T-Test tidak berpasangan dua arah  (two-tailed). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi mempercepat perkembangan siklus hidup dan menghasilkan individu dengan panjang tubuh lebih besar. Mortalitas tertinggi pada semua perlakuan terjadi pada fase larva, dengan pola kelangsungan hidup tipe III. Nilai harapan hidup (ex) pada semua tahap lebih tinggi daripada proporsi mortalitas (qx), yang menunjukkan potensi pertumbuhan populasi yang positif. Rasio jenis kelamin mendukung dominasi betina, yang berkontribusi pada peningkatan populasi. Temuan ini menunjukkan bahwa suhu merupakan faktor abiotik penting yang menentukan dinamika populasi S. oryzae, sehingga informasi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi pengendalian hama pascapanen yang lebih efektif dan ramah lingkungan.