cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 308 Documents
ISOLASI, IDENTIFIKASI MORFOMETRIK, DAN POTENSI NEMATODA ENTOMOPATOGEN Heterorhabditis americana DARI LAHAN TEBU DI KEDIRI, INDONESIA SEBAGAI KANDIDAT BIOPESTISIDA RAMAH LINGKUNGAN: ISOLATION, MORPHOMETRIC IDENTIFICATION, AND POTENTIAL OF THE ENTOMOPATHOGENIC NEMATODE Heterorhabditis americana FROM SUGARCANE FIELDS IN KEDIRI, INDONESIA AS AN ENVIRONMENTALLY FRIENDLY BIOPESTICIDE CANDIDATE Simanjuntak, William Fernando; Kusuma, Ramadhani Mahendra; Wiyatiningsih, Sri
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.1.4

Abstract

Nematoda entomopatogen (NEP) adalah organisme mikroskopis berbentuk mirip cacing yang memiliki potensi besar sebagai agens pengendali hayati. Kediri merupakan salah satu daerah penghasil tebu utama di Indonesia. Nematoda Heterorhabditis mampu membunuh uret (Lepidiota stigma) sebagai hama utama tebu, sehingga menunjukkan potensi yang besar bagi Heterorhabditis sp. sebagai musuh alami hama tanaman tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan Heterorhabditis sp. di lahan tebu Kediri melalui pengambilan sampel tanah dan identifikasi morfometrik. Eksplorasi Heterorhabditis diawali dengan pengambilan sampel tanah pada tanaman tebu sehat kemudian dilakukan baiting NEP. Nematoda entomopatogen yang diperoleh diisolasi menggunakan metode white trap dan difiksasi sebelum diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tanah lahan tebu di Kediri terdapat nematoda Heterorhabditis sp. Nematoda Heterorhabditis sp. yang ditemukan memiliki panjang tubuh 467,6 µm, Lebar tubuh 26,9 µm, panjang bulbus basal 13,7 µm, dan panjang ekor 36,2 µm. Nematoda entomopatogen yang diperoleh berasal dari genus Heterorhabditis dengan dugaan spesies Heterorhabditis americana. Spesies ini berpotensi untuk dikembangkan dalam berbagai formulasi biopestisida guna mendukung pengembangan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) di Indonesia.
STUDI KOMPARATIF KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (RHOPALOCERA) PADA TIGA KAWASAN HIJAU DI MALANG RAYA: COMPARATIVE STUDY OF BUTTERFLY (RHOPALOCERA) DIVERSITY IN THREE TYPES OF GREEN AREAS IN MALANG Prambudi, Ryo; Fikrinda, Wahyu; Wibowo, Dennis; Pramana, Bintang Arya
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.1.5

Abstract

Keanekaragaman kupu-kupu (Rhopalocera) sangat dipengaruhi oleh struktur habitat serta ketersediaan vegetasi sebagai sumber pakan dan tanaman inang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keanekaragaman, kelimpahan, dan struktur komunitas kupu-kupu pada tiga kawasan hijau di Malang Raya yang mewakili hutan sekunder alami, kawasan semi-alami, dan kawasan dengan aktivitas antropogenik tinggi. Penelitian dilakukan pada bulan Juni–Juli 2025 menggunakan metode survei dan observasi langsung dengan purposive sampling pada tiga plot di setiap lokasi. Pengamatan kupu-kupu dilakukan pada waktu aktif diurnal, sedangkan data vegetasi dan parameter lingkungan dicatat sebagai pendukung analisis. Analisis data meliputi indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), kemerataan (E), dominasi Simpson (D), uji similaritas Bray-Curtis, uji ANOVA yang dilanjutkan uji Tukey jika terdapat perbedaan yang signifikan (α=0,05), dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menemukan 30 spesies kupu-kupu dari empat famili dengan total 336 individu. Nilai keanekaragaman tertinggi ditemukan di Coban Rondo (H’=2,86), sedangkan dominasi tertinggi terdapat di Kawasan Hijau Dieng (D=0,23) yang didominasi spesies generalis seperti Leptosia nina dan Eurema hecabe. Keanekaragaman vegetasi menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat dengan keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu (r=0,88). Disimpulkan bahwa perbedaan struktur habitat dan keanekaragaman vegetasi berpengaruh signifikan terhadap struktur komunitas kupu-kupu, sehingga pemeliharaan keanekaragaman vegetasi menjadi faktor kunci dalam pengelolaan kawasan hijau berkelanjutan.
OPTIMASI MEDIA TUMBUH Metarhizium anisopliae DENGAN TEPUNG ULAT HONGKONG (Tenebrio molitor) SEBAGAI SUMBER KITIN DAN PATOGENISITASNYA TERHADAP Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae): OPTIMIZATION OF THE GROWTH MEDIUM FOR Metarhizium anisopliae USING MEALWORM (Tenebrio molitor) FLOUR AS A CHITIN SOURCE AND ITS PATHOGENICITY AGAINST Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) Nuraysiah, Salis; Mochammad Syamsulhadi
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.5

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera litura) (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan salah satu hama utama yang menyerang berbagai tanaman hortikultura dan dapat menurunkan hasil panen hingga 85%. Pengendalian mekanis dengan memotong atau membuang bagian tanaman yang terserang belum memberikan hasil optimal, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung ulat hongkong (Tenebrio molitor) sebagai sumber kitin pada media tumbuh Metarhizium anisopliae terhadap kerapatan konidia, viabilitas konidia dan patogenisitasnya terhadap S. litura. Penelitian dilaksanakan dari Desember 2024 hingga Maret 2025 menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan, yaitu kontrol, M. Anisopliae tanpa penambahan tepung ulat hongkong, serta M. anisopliae dengan penambahan tepung ulat hongkong pada konsentrasi 0,5%, 1%, 1,25%, dan 1,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ulat hongkong secara signikan meningkatkan kerapatan konidia, viabilitas konidia serta patogenisitasnya terhadap S. litura. Konsentrasi 1,25% menghasilkan kerapatan dan viabilitas konidia tertinggi serta mortalitas S. litura tertinggi, yang disertai peningkatan malformasi pupa dan perubahan durasi stadia perkembangan. Oleh karena itu, penambahan tepung ulat hongkong pada konsentrasi 1,25% disimpulkan mampu meningkatkan patogenisitas M. anisopliae terhadap S. litura. Temuan ini menunjukkan potensi pemanfaatan tepung ulat hongkong sebagai sumber kitin dalam meningkatkan efektivitas agens pengendalian hayati terhadap hama pertanian.
INTENSITAS SERANGAN DAN POLA SEBARAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella) DI KABUPATEN ACEH UTARA: ATTACK INTENSITY AND DISPERSION PATTERN OF THE COCOA POD BORER (Conopomorpha cramerella) IN NORTH ACEH DISTRICT Dhean, Tengku; Hendrival, Hendrival
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.6

Abstract

Hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) merupakan salah satu hama utama yang dapat menyebabkan kehilangan hasil kakao hingga 80% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji intensitas serangan dan pola sebaran hama penggerek buah kakao pada perkebunan kakao di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tiga kecamatan, yaitu Nisam Antara, Matangkuli, dan Tanah Luas, menggunakan metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 10% dari total populasi tanaman per petak, dengan 20 buah kakao sebagai sampel per pohon setiap minggu selama empat minggu. Intensitas serangan dihitung berdasarkan skor kategori kerusakan (0–3), sedangkan pola sebaran ditentukan menggunakan nisbah ragam terhadap rata-rata (S²/m), indeks pengerombolan Lloyd (m̅/x̅), serta koefisien Green (Cx). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan berkisar 10,50–19,50% di Nisam Antara (kategori ringan), 34,75–44,25% di Matangkuli (kategori sedang), dan 50,50–63,50% di Tanah Luas (kategori berat). Intensitas serangan masing-masing berkisar 4,58–9,42%, 19,25–28,02%, dan 29,58–39,67%. Berdasarkan ketiga parameter pola sebaran, hama penggerek buah kakao menunjukkan pola sebaran mengelompok (aggregated) di seluruh lokasi pengamatan. Tingginya intensitas serangan dan pola pengerombolan hama diduga berkaitan erat dengan kondisi kebun yang tidak terawat, kurangnya pemangkasan, serta terbatasnya penerapan pengendalian hayati. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pengendalian hama terpadu untuk menekan serangan hama dan meningkatkan produktivitas tanaman kakao.
PENGARUH VARIABILITAS UNSUR IKLIM TERHADAP SERANGAN WERENG BATANG COKLAT (Nilaparvata lugens) DI KABUPATEN PESISIR SELATAN: THE EFFECT OF CLIMATE VARIABILITY ON BROWN PLANTHOPPER (Nilaparvata lugens) ATTACKS IN PESISIR SELATAN REGENCY Suryanto, Fitri Adi; Ernita, Milda; Sunadi, Sunadi; Azhar, Noerlena
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.1

Abstract

Meningkatnya populasi wereng batang coklat (WBC) pada tanaman padi dapat dipengaruhi oleh faktor iklim. Perubahan iklim dapat memicu peningkatan populasi serangga hama sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabilitas unsur iklim, antar lain intensitas radiasi matahari, kecepatan angin, suhu udara, curah hujan, hari hujan dan kelembaban udara terhadap luas serangan WBC di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Metode analisis yang digunakan untuk mengkaji pengaruh variabel iklim terhadap luas serangan WBC adalah analisis korelasi dan regresi linier berganda. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa kecepatan angin dan kelembapan udara berpengaruh signifikan secara parsial terhadap luas serangan WBC. Variabel intensitas radiasi matahari, kecepatan angin, suhu udara, curah hujan, hari hujan, dan kelembapan udara secara simultan memengaruhi luas serangan WBC di Kabupaten Pesisir Selatan selama periode 2015–2024 (F = 2,378; p = 0,034).
EVALUASI BERBAGAI MEDIA FERMENTASI SUBSTRAT PADAT UNTUK KUANTITAS DAN KUALITAS Trichoderma asperellum SECARA IN VITRO: EVALUATION OF VARIOUS SOLID-STATE FERMENTATION MEDIA FOR THE QUANTITY AND QUALITY OF Trichoderma asperellum IN VITRO Wafa, Ali; Pramudita, Aulia Putri; Tanzil, Ahmad Ilham; Sucipto, Irwanto; Pusparani, Syafina; Muhtadi, Much. Misbah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.4

Abstract

Trichoderma asperellum merupakan jamur yang bersifat antagonis terhadap jamur patogen tanaman dan telah banyak dimanfaatkan dalam industri biopestisida dan biofertilizer. Pada skala industri, pengembangan T. asperellum umumnya dilakukan melalui fermentasi substrat padat menggunakan media yang sesuai. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk menentukan jenis media padat yang tepat dalam mendukung produksi konidia T. asperellum, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kuantitas dan kualitas T. asperellum pada berbagai media substrat padat. Media fermentasi yang digunakan terdiri atas beras jagung, gandum, millet, serta kombinasi beras jagung–millet, gandum–millet, dan gandum–beras jagung. T. asperellum diinkubasi selama 7 hari dalam labu Erlenmeyer dan kantong plastik tahan panas. Parameter yang diamati meliputi biomassa, kerapatan konidia, dan persentase perkecambahan konidia setelah 24 jam inkubasi. Biomassa tertinggi diperoleh pada media  beras jagung dalam labu Erlenmeyer dengan rerata 8,06 g. Kerapatan konidia tertinggi diperoleh pada media millet, dengan rerata 17,64 spora/mL, sedangkan persentase perkecambahan konidia tertinggi diperoleh pada media beras jagung, dengan rerata 91,58%. Berdasarkan keseluruhan hasil tersebut, beras jagung merupakan media yang paling sesuai untuk produksi T. asperellum.
APLIKASI BERBAGAI DOSIS BIOKOMPOS MAGGOT-BACILLUS BERBASIS SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DALAM MENGENDALIKAN Fusarium oxysporum PADA PERSEMAIAN BAWANG MERAH: APPLICATION OF SEVERAL DOSES OF HOUSEHOLD ORGANIC WASTE-BASED MAGGOT–BACILLUS BIOCOMPOST FOR CONTROLLING Fusarium oxysporum IN SHALLOT SEEDLINGS Hakiki, Arif Fashli; Elfina, Yetti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.2

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Produktivitas bawang merah di Provinsi Riau masih rendah karena kurangnya kesuburan tanah dan tingginya kerugian panen akibat penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh F. oxysporum. Alternatif pengendalian penyakit rebah kecambah yang lebih ramah lingkungan adalah menggunakan biokompos sampah organik rumah tangga yang diperkaya larva/maggot lalat tentara hitam (Hermetia illucens) sebagai dekomposer dan agens hayati B. velezensis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh aplikasi biokompos maggot bacillus (maba) berbasis sampah organik rumah tangga (SORT) dan menentukan dosis yang efektif dalam mengendalikan F. oxysporum pada bibit bawang merah. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga diperoleh 28 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biokompos maggot–Bacillus berbasis SORT mampu mengendalikan F. oxysporum penyebab rebah kecambah pada persemaian bawang merah. Dosis biokompos maggot–Bacillus berbasis SORT sebesar 12 ton/ha merupakan dosis yang paling efektif dalam mengendalikan F. oxysporum karena mampu meperlambat munculnya gejala pertama, menurunkan persentase bibit terinfeksi sebelum muncul di atas permukaan tanah, serta meningkatkan bobot segar dan bobot kering bibit tanaman.
DETEKSI MOLEKULER JAMUR ASCOMYCOTA YANG BERASOSIASI DENGAN Treptoplatypus solidus PADA TANAMAN ALPUKAT YANG MENUNJUKKAN GEJALA DIEBACK MENGGUNAKAN PCR DAN VISUALISASI DNA BERBASIS MultiNA: MOLECULAR DETECTION OF ASCOMYCOTA FUNGI ASSOCIATED WITH Treptoplatypus solidus IN DIEBACK SYMPTOMATIC AVOCADO PLANTS USING PCR AND MultiNA-BASED DNA VISUALIZATION Khoirudin, Muhammad Nur; Hidayah, Nurul; Tarno, Hagus; Syib'li, Muhammad Akhid
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2026.014.2.3

Abstract

Fenomena dieback pada tanaman alpukat (Persea americana) sering berasosiasi dengan serangan kumbang ambrosia Treptoplatypus solidus, yang dapat membawa jamur asosiasi ke dalam jaringan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur patogen yang berasosiasi dengan kumbang ambrosia dan menilai efektivitas metode diagnosis molekuler berbasis PCR serta visualisasi DNA menggunakan MultiNA dalam deteksi dini penyakit. Sampel yang digunakan meliputi galeri yang terinfestasi jamur, kumbang ambrosia betina, dan frass yang diambil dari Kebun Arjuna 608, Malang. Ekstraksi DNA dilakukan menggunakan metode standar, kemudian dilanjutkan dengan amplifikasi menggunakan primer spesifik untuk jamur Ascomycota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amplifikasi DNA dari sampel menghasilkan fragmen yang konsisten, dengan konsentrasi DNA tertinggi ditemukan pada sampel kumbang ambrosia. Visualisasi DNA menggunakan MultiNA juga mengonfirmasi profil amplifikasi yang jelas dan konsisten. Gejala dieback pada tanaman alpukat meliputi kelayuan daun, perubahan warna pucuk, dan kematian cabang. Hasil ini mendukung peran kumbang ambrosia dalam penyebaran jamur patogen yang berpotensi memperparah kerusakan tanaman. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa kedua set primer memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengamplifikasi fragmen DNA target. Pengetahuan ini dapat mendukung deteksi dini DNA jamur patogen dan dapat digunakan dalam analisis lanjutan untuk memperkuat pengelolaan penyakit tanaman secara terpadu.