cover
Contact Name
Winarno Budyatmojo
Contact Email
recidive@mail.uns.ac.id
Phone
6281804505866
Journal Mail Official
recidive@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Building Three-Department of Criminal Law, Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Ir. Sutami Road No.36A Kentingan,Surakarta 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan
Core Subject : Social,
This Journal aims primarily to facilitate undergraduate students paper over current developments on criminal law issues in Indonesia as well as to publish innovative legal construction of the money laudering law, corruption law,criminology, and financial crimes. It provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to public support a greater global exchange of knowledge.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 255 Documents
Pelaksanaan Restitusi Bagi Anak Korban Tindak Pidana Pencabulan Sinda Rahmawati
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 3 (2023): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i3.72828

Abstract

Children are individuals who are vulnerable to becoming victims of criminal acts that require protection. One form of protection for child victims as an effort to fulfill the rights of victims is the granting of restitution rights. The purpose of conducting this legal research is to find out the implementation and obstacles in granting restitution to District Court of Tanjungkarang case number 29/Pid.Sus-Anak/2022/PN Tjk. This research is normative legal research that is prescriptive and applied based on statue approach and case approach. This research employed the data collection technique of literature studies and interviews as research support. The result of the research showed that children who were victims in this case has not received protection in the form of fulfilling the right to restitution even though the defendant has been found guilty of committing the crime of obscenity by the judge. This is due to delays in submitting requests for restitution by the victim's child. So that the victim's child can only reapply for restitution after receiving a court decision that has permanent legal force through a civil lawsuit. However, considering that the filing procedure requires a lot of time, this has become an obstacle to fulfilling the right of restitution for child victims. As a result, can influence implementation of restitution for child victims of abuse in this case.
Perlindungan Korban Tidak Pidana Pemalsuan Identitas Artificial Intelligence pada KUHP 2023 Talitha Dzakiyah Azzahra; Diana Lukitasari
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 14, No 2 (2025): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v14i2.99191

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaturan tindak pidana pemalsuan identitas berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam KUHP 2023 serta untuk mengetahui bentuk optimalisasiperlindungan korban tindak pidana pemalsuan identitas berbasis Artificial Intelligence (AI) yang selaras paradigma baru hukum pidana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis hukum normative, yang menelaah ketentuan hukum yakni KUHP 2023 atau KUHP Nasional terkait perlindungan korban tindak pidana pemalsuan identitas dengan AI serta perbandingan ketentuan hukum dengan negara lain yang telah mencantumkan dan memberikan definisi jelas terkait AI termasuk di dalamnya definisi teknologi deepfake. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUHP 2023 belum secara tersurat mengatur mengenai tindak pidana pemalsuan identitas dengan AI sehingga implikasinya akan dianggap kurang optimal. Kejelasan unsur serta definisi AI diperlukan sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap korban. Selain itu, pembentukan Undang-Undang khusus AI sebagai bentuk optimal perlindungan korban karena di dalamnya akan mengatur pembatasan penggunaan AI, melihat ketentuan hukum negara lain telah dengan jelas mengatur mengenai tindak pidana pemalsuan identitas dengan AI. Paradigma baru hukum pidana keadilan restorative merujuk pada perbaikan sisi korban akan berjalan mudah selaras dengan spesifikasi dan transparanasi terkait ketentuan hukum pidana pemalsuan identitas dengan AI.Kata Kunci: Perlindungan Korban, Pemalsuan Identitas, Kecerdasan ArtifisialAbstract: This study aims to determine the regulation of criminal acts of identity forgery based on Artificial Intelligence (AI) in the Criminal Code 2023 and to determine the form of optimization of victim protection of criminal acts of identity forgery based on Artificial Intelligence (AI) in line with the new paradigm of criminal law. This research uses a qualitative approach with normative legal analysis, which examines the legal provisions, namely the Criminal Code 2023 or the National Criminal Code related to the protection of victims of criminal acts of identity forgery with AI as well as a comparison of legal provisions with other countries that have included and provided clear definitions related to AI including the definition of deepfaketechnology. The results show that the Criminal Code 2023 has not explicitly regulated the criminal offense of identity forgery with AI so that the implications will be considered less than optimal. Clarity of theelements and definition of AI is needed as a form of legal protection for victims. In addition, the establishment of a special law on AI is an optimal form of victim protection because it will regulate restrictions on the use of AI, seeing that the legal provisions of other countries have clearly regulated the criminal act of identity forgery with AI. The new paradigm of restorative justice criminal law refers to theimprovement of the victim's side will run easily in line with the specifications and transparency related to the criminal law provisions of identity forgery with AI.Keywords: Victim Protection, Identity Forgery, Artificial Intelligence 
Peranan Korban Perempuan dalam Non-Consensual Dissemination Intimate Images Violence (NCII) di Media Sosial Dilihat dari Perspektif Viktimologi Zhaudiva Azzahra Putri
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 13, No 2 (2024): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v13i2.86197

Abstract

Artikel ini menganalisis peranan korban perempuan dalam non-consensual dissemination intimate images violence di media sosial dikaji dari perspektif viktimologi. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui adanya peranan korban dalam kasus penyebaran konten intim non-konsensual yang memanfaatkan media sosial dikaji melalui perspektif viktimologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif yang bersifat desktiptif serta menggunakan pendekatan konseptual dan pendekatan kasus untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Artikel ini membuktikan bahwa berdasarkan teori presipitasi korban (victim precipitation theory) dalam viktimologi, korban perempuan pada dasarnya memiliki peranan yang melekat pada sikap dan tingkah laku korban yang memicu terjadinya tindak pidana penyebaran konten intim non-konsensual.
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE DI KEJAKSAAN NEGERI GROBOGAN Muhammad Adhistiya Wahidakbar Gunanto
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 3 (2023): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i3.72114

Abstract

This research was conducted with the aim of knowing the settlement of cases with the principle of justice regarding restorative approaches and the implementation of the resulting agreement at each level of examination. As long as the restorative justice process takes place and after restorative justice is carried out, social counselors are required to provide guidance and supervision. Restorative justice is not carried out within the time specified in the agreement. This involves a process in which all parties at risk of a particular crime jointly try to collectively resolve how to deal with the aftermath of a crime and its implications in the future. The restorative justice policy in cases that occur at the Grobogan district attorney's office which acts in accordance with the role of law enforcement officials, especially the prosecutor's office which is part of the criminal justice subsystem, is obliged to seek settlement by prosecutor who handle all cases. The perspective of restorative justice from the aspect of judicial administration is to reduce the accumulation of cases. However, it can be stated the urgency of the need to settle minor criminal cases when viewed from a restorative justice perspective, because society dominates the development of the legal system. based on the concept of restorative justice Restorative justice does not only discuss who wins and who loses which can trigger hostility/resistance (adversarial system), the restorative justice process emphasizes a dialogue facility between all parties affected by crime including victims, perpetrators, supporters, and society as a whole. 
Tindak Pidana Penipuan dalam Bisnis Skincare: Perlindungan Hukum dan Upaya Pencegahannya Afnandida Lintang Praditya
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 15, No 1 (2026): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v15i1.100540

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana bagi pelaku tindak pidana penipuan skincare yang tidak layak edar sesuai dengan ketentuan di dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Serta, untuk mengetahui bentuk pencegahan dan penindakan terhadap pelaku tindak pidana penipuan skincare tidak layak edar. Jenis penelitian ini adalah hukum normatif dengan pendekatan undang-undang (statute approach) yang bersumber dari data sekunder. Menggunakan teknik pengumpulan data studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data yang bersumber dari buku, jurnal, artikel hukum, peraturan perundang-undangan, dan literatur hukum lainnya yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Menerapkan teknik analisis deduksi silogisme dengan menghubungkan premis mayor dan premis minor, guna menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa berkembangnya industri kecantikan di Indonesia tidak hanya berdampak positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif. Salah satunya yaitu memberikan peluang bagi pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab untuk memproduksi dan menjual skincare yang tidak memenuhi standar edar yang ditetapkan. Berdasarkan Pasal 138 ayat (2) dan Pasal 435 UU Kesehatan, tindakan tersebut merupakan tindakan melawan hukum, dikarenakan dapat menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Maka dari itu, BPOM, industri terkait, produsen, pengelola pusat perbelanjaan kosmetik, pasar, e-commerce, serta para influencer perlu bekerja sama untuk melakukan pencegahan yang efektif.Abstract: This research aims to understand the criminal liability of perpetrators of skincare fraud involving products that are unfit for distribution, in accordance with the provisions of Law Number 17 of 2023 concerning Health. Additionally, it seeks to identify forms of prevention and enforcement against perpetrators of skincare fraud involving unfit products. This study is a normative legal research with a statutory approach, utilizing secondary data sources. Data collection was conducted through library research, gathering information from books, journals, legal articles, regulations, and other legal literature related to the issues being studied. The analysis applies deductive syllogism techniques by linking major and minor premises to draw conclusions. The results indicate that the growth of the beauty industry in Indonesia has not only positive impacts but also negative consequences. One such consequence is providing opportunities for irresponsible business actors to produce and sell skincare products that do not meet the established distribution standards. According to Article 138 paragraph (2) and Article 435 of the Health Law, such actions are unlawful as they can cause harm to many parties.Preventive measures can be taken by strengthening supervision and monitoring by BPOM. Additionally, the importance of a transparent attitude from business operators in registering their products with BPOM to obtain a distribution permit certificate. Keywords:Accountability, Fraud, Skincare, Unfit for Distribution
Tinjauan Kriminologi Pekerja Seks Pria dalam Prostitusi Online Yesica Berliana
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 13, No 3 (2024): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v13i3.90349

Abstract

Artikel ini menganalisis mengenai alasan dan faktor penyebab pria memilih menjadi pekerja seks komersial berdasarkan teori pilihan rasional. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian empiris yaitu dengan cara menganalisis data yang diperoleh langsung dari masyarakat sehingga hasil yang didapatkan faktual. Penelitan ini menggunakan pendekatan kualitatif dan disusun secara deskriptif. Artikel ini disusun guna mengetahui sebab akibat kejahatan sehingga diharapkan adanya pencegahan untuk meminimalisasi terjadi praktik prostitusi, terutama prostitusi online. Hasil yang ditemukan adalah prostitusi online oleh pekerja seks pria disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi, faktor lingkungan, faktor psiklogi, faktor pendidikan dan faktor perkembangan teknologi. Prostitusi dianggap sebagai suatu cara yang mudah untuk mendapatkan uang (easy money) selain itu permintaan pasar tekait pekerja seks dinilai cukup besar sehingga prostitusi dapat semakin merajalela.
Analisis Penetapan Unsur Kesalahan pada Rumah Sakit dalam Tindak Pidana pada Bidang Kesehatan Notonagoro, Muhammad Arya; Sulistyanta, Sulistyanta
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 12, No 1 (2023): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v12i1.65032

Abstract

Penelitian ini mengkaji batasan pertanggungjawaban pidana terhadap Rumah Sakit. Atas hal ini, penulis akan melakukan penelitian pada perangkat hukum yang ada, dan mengidentifikasi perbuatan pidana yang dapat dilakukan oleh Rumah Sakit. Selanjutnya, untuk menentukan unsur kesalahan terhadap Rumah Sakit, penulis akan merujuk pada Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi (Perma 13/16) sebagai peraturan penunjang dalam penjatuhan tindak pidana terhadap korporasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa, Penentuan unsur kesalahan pada Rumah Sakit dilakukan dengan mengacu kepada Pasal 4 ayat (2) Perma 13/16, maka diketahui bahwa Rumah Sakit dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana apabila, 1) terdapat tenaga Rumah Sakit yang melakukan tindak pidana saat menjalankan kewajibannya sebagai tenaga Rumah Sakit serta bertindak untuk dan atas nama Rumah Sakit, 2) Rumah Sakit tidak melakukan upaya represif yang proporsional pasca terjadinya tindak pidana tersebut, dan 3) Rumah Sakit gagal dalam menciptakan prosedur, sistem bekerja, serta kebijakan preventif guna menghindari suatu tindak pidana.
ANALISIS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG MELALUI JUDI ONLINE (STUDI PUTUSAN NOMOR 1018PID2023PT MDN) Nanda Rafi Himawan
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 14, No 1 (2025): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v14i1.86748

Abstract

Abstract:Konten podcast dalam Youtube dapat menghadirkan ketidakseragaman opini sehingga menyebabkan pihak tersebut merasa dicemarkan nama baiknya. Pengaturan tindak pencemaran nama baik telah ada ketika Indonesia menggunakan KUHP sebagai hukum pidana materiil, namun pada realitanya KUHP peninggalan Belanda tersebut belum mampu mencakup perkembangan zaman yang bentuk kejahatannya melalui sistem teknologi informasi. Selain itu terdapat regulasi khusus mengenai pencemaran nama baik melalui media sosial atau sistem elektronik ini sebagaimana diatur dalam Pasal 27A UU ITE, walaupun telah diatur secara khusus diluar KUHP tampaknya Pasal 27A UU ITE juga memiliki permasalahan mengenai unsur pencemaran nama baik yang tidak jelas. Oleh karena itu, perlu diketahui apakah penerapan unsur Pasal 27A UU ITE dalam beberapa perkara putusan pengadilan memiliki penafsiran yang berbeda sehingga akan ditemukan kesimpulan dari pembahasan pada penulisan ini. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk meninjau penerapan hukum pidana khususnya UU ITE dalam perkara pencemaran nama baik melalui media sosial. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan cara meneliti bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa penerapan Pasal 27A UU ITE tidak sejalan dengan putusan- putusan hakim yang lainnya mengenai penerapan unsur dalam tindak pidana pencemaran nama baik. Ketidakjelasan unsur dalam Pasal 27A UU ITE sangat rawan untuk digunakan sebagai alat kekuasaan dalam membungkam masyarakat. Oleh karena hal itu perlu terdapat penetapan unsur yang pasti serta penegakan hukum yang adil melalui aparat penegak hukum di Indonesia.Kata Kunci: Media Sosial; Pasal 27A UU ITE; Pencemaran Nama BaikAbstract: Podcast content on YouTube can present a lack of uniformity of opinion, causing the party to feel that their good name has been tarnished. The regulation of defamation has existed since Indonesia used the Criminal Code as material criminal law, but in reality, the Criminal Code left over from the Dutch has not been able to cover the development of the era whose form of crime is through the information technology system. In addition, there are special regulations regarding defamation through social media or electronic systems as regulated in Article 27A of the ITE Law, although it has been specifically regulated outside the Criminal Code, it seems that Article 27A of the ITE Law also has problems regarding unclear defamation elements. Therefore, it is necessary to know whether the application of the elements of Article 27A of the ITE Law in several court decision cases has a different interpretation so that conclusions will be found from the discussion in this writing. The purpose of writing this article is to review the application of criminal law, especially the ITE Law, in cases of defamation through social media. The type of research used is normative legal research by examining legal materials consisting of primary legal materials and secondary legal materials.. The ambiguity of the elements in Article 27A of the ITE Law is very vulnerable to being used as a tool of power to silence the public. Therefore, it is necessary to have a definite determination of the elements and fair law enforcement through law enforcement officers in Indonesia.Keywords: Social Media; Article 27A of the ITE Law; Defamation
Perbedaan Penentuan Sanksi Pidana Undang-Undang Cipta Kerja antara Sektor Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Sektor Perikanan Winanggar Aryagung Pangestu
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 13, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v13i1.82578

Abstract

Artikel ini menganalisis disparitas yang terdapat dalam rumusan sanksi pidana pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja antara Pasal 109 sektor Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dengan Pasal 93 sektor Perikanan karena dapat mengaburkan pandangan masyarakat tentang asas keadilan hukum di Indoneisa. Hal ini terjadi karena pada Pasal 109 Sektor Perikanan dan Pasal 109 Sektor PPLH memiliki unsur akibat yang serupa atas jenis tindak pidana yang sama, namun menerapkan rentang pemidanaan yang berbeda dimana seharusnya tidak terjadi demikian mengingat kedua pasal dari dua sektor tersebut telah digabungkan dalam satu undang-undang yang sama. Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis letak disparitas pidana pada pasal terkait dari kedua sektor tersebut serta memberikan solusi agar rumusan pemidanaan dalam Undang-Undang (UU) Cipta Kerja dapat mengalami keselarasan. Artikel ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif dengan sifat penelitian preskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan undang-undang, Jenis dan sumber bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah studi kepustakaan. Teknik analisis yang digunakan adalah metode silogisme deduksi. Hasil dari penulisan artikel menyatakan bahwa di dalam Undang-Undang Cipta Kerja pada Pasal 109 Sektor PPLH dengan Pasal 93 Ayat (1) dan (2) Sektor Perikanan dapat diperbandingkan atas jenis tindak pidana yang sama dan terdapat disparitas rumusan pemidanaan yang disebabkan karena belum adanya penyelarasan rentang ancaman pidana pada satu Undang-Undang, mengingat pada sektor PPLH dan Sektor Perikanan telah disatukan ke dalam satu Undang-Undang Omnibus, yakni UU Cipta Kerja. Solusinya adalah dengan melakukan penyelarasan rentang ancaman pemidanaan terlebih dahulu, sementara Undang-Undang Cipta Kerja yang berlaku saat ini ditunda pemberlakuannya dengan penerbitan Perppu untuk menunda pemberlakuannya.
Problematika Pengembalian Kerugian Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia Aristri Rahma Magistra
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v14i3.99731

Abstract

Rapor merah pada kasus pemberantasan korupsi di Indonesia selalu menjadi perbincangan publik. Korupsi merupakan tindakan melanggar hukum berupa penyelewengan uang negara untuk kepentingan pribadi. Di Indonesia pelaku tindak pidana korupsi dapat dijatuhi pidana pokok berupa pidana penjara dan denda. Selain itu, juga terdapat pidana tambahan. Namun, dalam realitanya penjatuhan pidana tersebut seringkali menimbulkan kendala dalam pemulihan kerugian negara. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana penjatuhan pidana pada kasus korupsi menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan apakah penyebab dari kendala yang menghambat pemulihan kerugian negara akibat korupsi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian yang berbasis hukum normatif yang berfokus pada penelitian law in books. Sehingga, dalam penelitian ini menjelaskan bahwa kendala pemulihan kerugian negara didasari oleh denda pidana korupsi yang terlalu kecil yaitu maksimal Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah), disparitas dalam besaran putusan pidana denda, penerapan pidana tambahan uang pengganti yang bersifat fakultatif, overcapacity lembaga pemasyarakatan. Mengingat kendala tersebut maka pemerintah sebaiknya melakukan kajian lebih lanjut pada Undang-undang Tindak Pidana Korupsi agar negara tidak mengalami kerugian yang lebih besar.Abstract:The red report card for eradicating corruption in Indonesia has always been a topic of public discussion. Corruption is an unlawful act in the form of misappropriating state money for personal interests. In Indonesia, perpetrators of criminal acts of corruption can be sentenced to basic penalties in the form of imprisonment and fines, apart from that there are also additional penalties. This criminal imposition often creates obstacles in recovering state losses. This research will discuss criminal sanctions for corruptors based on Law Number 31 of 1999 in conjunction with Law Number 20 of 2001 concerning the Eradication of Corruption Crimes and what are the causes of delays in recovering state losses due to corruption in Indonesia. This research uses normative law-based research that focuses on law in books research. From the research conducted, it can be stated that the obstacles to recovering state losses are caused by corruption criminal fines that are too small, namely a maximum of IDR 1,000,000,000.00 (one billion rupiah), disparities in the amount of criminal fine decisions, the application of additional facultative compensation money, overcapacity of correctional institutions. Revision of the Law on Eradicating Corruption is one solution so that the country does not experience greater losses.Keywords:Anti-Corruption; Corruption; Criminal Fines; Economic Crime