cover
Contact Name
Winarno Budyatmojo
Contact Email
recidive@mail.uns.ac.id
Phone
6281804505866
Journal Mail Official
recidive@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Building Three-Department of Criminal Law, Faculty of Law Universitas Sebelas Maret Ir. Sutami Road No.36A Kentingan,Surakarta 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan
Core Subject : Social,
This Journal aims primarily to facilitate undergraduate students paper over current developments on criminal law issues in Indonesia as well as to publish innovative legal construction of the money laudering law, corruption law,criminology, and financial crimes. It provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to public support a greater global exchange of knowledge.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 271 Documents
PENERAPAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA MUTILASI DISERTAI PENJUALAN BAGIAN TUBUH KORBAN DALAM PUTUSAN HAKIM PENGADILAN TINGGI PEKANBARU NOMOR 34/PID.B/2015/PT.PBR Hilary Surya Megasakti
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 7, No 1 (2018): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v7i1.40578

Abstract

AbstrakPenulisan hukum ini bertujuan untuk mengetahui penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pembunuhan mutilasi disertai penjualan bagian tubuh korban dalam Putusan Hakim Nomor 34/ Pid.B/2015/PT.PBR. Penelitian hukum ini menggunakan metode penulisan hukum normatif. Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu-isu hukum yang dihadapi dengan menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Penulis membahas menggunakan pendekatan kasus (Case Approach) dan pendekatan undang-undang (Statute Approach). Pada penelitian hukum ini penulis mendapati bahwa penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pembunuhan mutilasi disertai penjualan bagian tubuh korban dalam sistem concurcus realis belum dapat terpenuhi dikarenakan terdapat unsur kejahatan yang tidak diperhatikan dengan baik dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum berupa tidak memperhatikan pasal 181 KUHP, unsur dimana jasad para korban dipotong dan dijual kepada pemilik kedai sebagai daging kambing untuk dikonsumsi. Sehingga penerapan pasal KUHP dalam tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa Muhammad Delfi menjadi kurang tepat karena tidak menerapkan Pasal 181 KUHP terhadap tindak pidana yang jelas telah dipenuhi unsur-unsurnya.Kata kunci: Penegakan Hukum, Mutilasi, Concurcus Realis.AbstractThis journal was designed to analyze the law enforcement on the premeditated murder with mutilation issue in the Appeal Court of Pekanbaru  Verdict of Number 34/PID.B/2015/PT.PBR. The journal was conducted by employing the normative legal research. Legal research is a process to discover the penal provisions, legal principles and the doctrines of law to answer the legal issues which encountered by collecting secondary data as the source of legal primary and secondary data. The researcher used case approach and statute approach. Through this research, the researcher concluded that the law enforcement of the issue has not been fulfilled as the criminal elements are not being well noticed to strengthen the penal provisions because of criminal act that the defendant do which cut the victim body into a pieces and sale them to the butcher, actually violating criminal law on article 181. So that the application of article in criminal acts committed in cafes by the defendant muhammad delphi be inappropriate because not to apply article 181 Indonesian penal code to crimes which obviously had been fulfilled its elements.Keywords: Law Enforcement, Mutilation, Conjunction of More Act
IMPLEMENTASI PENILAIAN RISIKO DAN PENILAIAN KEBUTUHAN NARAPIDANA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Astrika Puspita Rani
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 7, No 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v7i2.40597

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Assessment Risiko dan Assessment Kebutuhan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta dalam kaitannya dengan pemenuhan hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan dan kendala-kendala yang terjadi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum empiris. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer yang didukung dengan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yaitu data primer diperoleh dengan teknik wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Dalam menganalisis data yang diperoleh tersebut dipergunakan teknik analisis data kualitatif dengan model analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan. Pertama, implementasi Assessment Risiko dan Assessment Kebutuhan Narapidana dapat membantu pelaksanaan pemenuhan hak-hak narapidana khususnya dalam pemberian pembinaan oleh Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Kedua, dalam pelaksanaan Assessment Risiko dan Assessment Kebutuhan Narapidana terdapat kendala yang berpengaruh dalam pelaksanaan pemenuhan hak-hak narapidana, yaitu pengangkatan assessor yang belum sesuai dengan prosedur, terdapat rangkap jabatan assessor yang mengakibatkan tidak optimalnya pelaksanaan assessment, dan tidak ada anggaran Lapas untuk mengajukan petugasnya mengikuti pelatihan assessment secara berkelanjutan.Kata kunci: lembaga pemasyarakatan, hak narapidana, pembinaan, Assessment Risiko dan Assessment KebutuhanAbstractThis study aims to find out the implementation of Risk Assessment and Assessment of Prisoners Needs in Class IIA Prison Wirogunan Yogyakarta in relation to the fulfillment of the prisoner rights in Class IIA prison Wirogunan and what are the obstacles that occur. This study is empirical law research. The data source used in this study is primary data source supported by secondary data source. Data collection technique is primary data obtained by interview and observation, while secondary data obtained from literature study. In analyzing the data it is used qualitative data analysis technique with interactive analysis model. Based on the result and discussion the conclusions are; first, the implementation of Risk Assessment and Assessment of Prisoner Needs can help the fulfillment of the prisoner rights especially in the giving of guidance by Class IIA Prison Wirogunan. Secondly, in the implementation of Risk Assessment and Assessment of Prisoners’ Needs there are several obstacles that influence the implementation of right fulfillment of the prisoner. Secondly, in the implementation of risk assessment and assessment of prisoners needs, there are several obstacles that influence the implementation of right fulfillment of the prisoners, there are the appointment of assessors which in not accordance with the precedures, double positions that make an ineffective implementation of the assessment, and there is no budget for applying officers to follow continuous assessment training.Keywords: prison, prisoner rights, Risk Assessment and Needs Assessment
KAJIAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN TERENCANA DISERTAI PEMERKOSAAN SEBAGAI CONCURSUS REALIS (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surabaya No. 1379/Pid.B/2005/Pn.Sby) Purwanto Purba; Oki Budi Santoso
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 2, No 1 (2013): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v2i1.31996

Abstract

AbstractThat this research aims to determine the application of the concursus setting in rape and murder crime in Case Decision No. 1379/Pid.B/2005/PN.Sby and consideration of the judges in criminal of murder that preceded the crime of rape in Case Decision No.1379/Pid.B/2005/PN.Sby.The research method used in the writing of this law are as follows: type of normative research, the nature of prescriptive research, case study approach, qualitative research methods, data analysis techniques to the deduction method, the collection of legal materials to the library and the secondary legal materials (text books written by legal experts, law journals, opinions of scholars, scientific works, papers, and magazines), tertiary legal materials (dictionaries and the Internet), and legal research sources of primary legal materials consist of legislation, record- official records or minutes in the making of legislation and the decisions of judges and secondary legal materials in the form of all the publicity about the law that are not official documents. Publication of the law include text books, law dictionaries, law journals, and the comments of the decision by the court.Based on this research can be concluded, the crime of rape with homicide is an act of deed unison. Rape as a criminal offense under Article 285 of the Criminal Code is: “ Whoever by force or by threat of force a woman not his wife have intercourse with him, because of rape, shall be punished with imprisonment for twelve years”. Element behavior “taking the life” of others, show that the crime of murder is a substantive criminal offense, which is a criminal offense that prohibits certain consequences (as a result of prohibited or due to constitutive / constitutief gevolg). Judge’s decision is in conformity with the act of deed unison (Concursus Realist or Meerdaadse Samenloop). Because the deed is done by unison with continuing act the decision imposition was already in accordance with the concepts and theories of criminal law and in accordance with concursus that is the basis for consideration. The judge in the decision of justice in Case Decision No. 1379/Pid.B/2005/PN.Sby he decided by a panel of judges with a second charge then it is true that the Public Prosecutor to use Article 340 of the Criminal Code article 338 of the Criminal Code subsidiary; Article 285 of the Criminal Code; Article 2 paragraph (1) of Law No. 12 of 1951.Keywords: Rape, Murder, Deeds Unison.
UPAYA PERLINDUNGAN JUSTICE COLLABORATOR DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI OLEH KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DALAM UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI PUTUSAN NOMOR: 32/Pid.Sus/TPK/2016/PN.JktPst) Wini Kusumawardhani; ' Subekti
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 5, No 3 (2016): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v5i3.47786

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk upaya perlindungan dan hambatan yang dialami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya melindungi Justice Collaborator dalam tindak pidana korupsi. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris bersifat deskriptif, pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah melalui wawancara dan studi pustaka. Analisis bahan hukum menggunakan metode kualitatif. Kasus tindak pidana korupsi di Indonesia saat ini semakin meningkat baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian keuangan negara maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan yang semakin sistematis oleh pejabat negara. Tindak pidana korupsi tidak lagi dianggap sebagai suatu kejahatan biasa, dalam perkembangannya tindak pidana korupsi terjadi secara sistematis dan terorganisir dengan beragam modus operandi serta dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaaan dan jabatan yang tinggi, sehingga tindak pidana korupsi saat ini dikatakan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Salah satu upaya pemberantasan tindak pidana korupsi sebagai extra ordinary crime yaitu dengan adanya Justice Collaborator yang diyakini mampu membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengungkap suatu tindak pidana korupsi, namun dalam pelaksanannya masih ditemui permasalahan terkait keberadaan Justice Collaborator dalam tindak pidana korupsi. Kata Kunci: Justice Collaborator, Perlindungan hukum, Tindak pidana korupsi AbstractThis study aims to determine the forms of protection and obstacles faced by the Corruption Eradication Commission (KPK) in an effort to protect the Justice Collaborator in the criminal act of corruption. This research is a descriptive empirical law research, research approach using qualitative approach. The type of data used is primary data and secondary data. The technique of collecting legal materials used is through interviews and literature study. Analysis of legal materials using qualitative methods. Cases of corruption in Indonesia are increasingly increasing both from the number of cases and the amount of financial losses of the state and in terms of the quality of crimes committed by the more systematic by state officials. The criminal act of corruption is no longer considered an ordinary crime, in its development corruption occurs systematically and organized with various ways and done by people who have high power and high position, so that corruption crime is now said as extraordinary crime. One of the efforts to eradicate corruption as extra ordinary crime is with Justice Collaborator believed to be able to assist the Corruption Eradication Commission (KPK) in uncovering a criminal act of corruption, but in its implementation still encountered problems related to the existence of Justice Collaborator in corruption.Keywords: Justice Collaborator, Legal protection, Criminal act of corruption
PERBANDINGAN PENGATURAN TINDAK PIDANA TERORISME DI INDONESIA DAN MALAYSIA Aditya Putra; Diana Lukitasari
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 8, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v8i1.40611

Abstract

AbstrakPenulisan hukum ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaturan tindak pidana terorisme dan ancaman sanksi pidananya berdasarkan perundang-undangan Indonesia dan Malaysia. Perbandingan tersebut meliputi persamaan, perbedaan, kelebihan, dan kelemahan dari masing-masing peraturan perundang-undangan. Penulisan hukum ini merupakan penulisan hukum normatif yang bersifat preskriptif, dengan pendekatan perbandingan hukum pidana. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder. Teknik pengumpulan datanya dengan studi kepustakaan dan analisis data yang digunakan adalah metode silogisme dengan pendekatan deduktif. Perbandingan pengaturan tindak pidana terorisme dan ancaman sanksi pidana berdasarkan perundang-undangan Indonesia dan perundang-undangan Malaysia memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Melalui persamaan dan perbedaan tersebut, dapat diketahui kelebihan dan kelemahan masing-masing peraturan di Indonesia dan Malaysia, dan dapat menjadi masukan untuk pembaharuan pengaturan tentang ancaman sanksi tindak pidana terorisme di Indonesia sehingga pengaturan tentang ancaman sanksi tindak pidana terorisme di Indonesia menjadi lebih baik.Kata Kunci: Perbandingan Hukum, Sanksi Pidana, TerorismeAbstractThis study is to know about comparison criminal acts of terrorism and the threat of criminal sanctions in the criminal offence of terrorism based on the legislation of Indonesia and Malaysia. This includes the equations, differences, pros and cons of each legislation. This study is a normative legal research prescriptive, with a comparative approach. Sources of legal materials used are primary and secondary legal materials. Data collection techniques with literature study and data analysis used is the syllogism with deductive approach. Comparison criminal acts of terrorism and the threat of sanctions based on the statutory of Indonesia and Malaysia has some equations and differences. Of the equations and the differences, will be known the pros and cons of each of the laws and regulations in Indonesia and Malaysia. So from the comparison can be found some of the advantages of the legislation about the criminal acts of terrorism in Malaysia, and can be used for an input to the renewal of legislation about the threat of sanctions a criminal offence of terrorism in Indonesia. So the settings about the threat of sanctions a criminal offence of terrorism in Indonesia will be better.Keywords: Comparative Law, Criminal Sanctions, Terrorism
IMPLIKASI HAK-HAK NARAPIDANA DALAM UPAYA PEMBINAAN NARAPIDANA DALAM SISTEM PEMASYARAKATAN Febriana Putri Kusuma
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 2, No 2 (2013): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v2i2.32028

Abstract

AbstrakNarapidana adalah orang yang sedang menjalani masa hukuman atau pidana dalam Lembaga Pemasyarakatan, namun HAM terhadap narapidana juga harus dilindungi. Sebagai landasan tugas dan fungsi dari petugas pemasyarakatan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, yang didalamnya juga mengatur tentang hak-hak narapidana yaitu yang terdapat pada Pasal 14 ayat (1) huruf a sampai m yang harus dipenuhi. Syarat dan tata cara pemberian hak tersebut pun diatur dengan peraturan pemerintah, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Pemenuhan hak-hak narapidana ini sangat penting dikarenakan merupakan upaya dalam proses pembinaan dalam sistem pemasyarakatan guna mencapai tujuan. Sehingga Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan hak narapidana sebagai upaya pembinaan narapidana.Kata kunci: hak narapidana, pembinaan narapidana, sistem pemasyarakatan.
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS PENGUNGKAPAN IDENTITAS ANAK OLEH APARAT PENEGAK HUKUM M. Hufron Fakih; ' Subekti
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 10, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v10i2.58873

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan membahas pengungkapan identitas Anak yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dan perlindungan secara hukum terhadap tindakan yang dilakukan. Metode penelitian yang digunakan normatif dengan sifat preskriptif. Pendekatan penelitian ini yaitu pedekatan perundangundangan dan konsepsual. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini  yaitu  bahan hukum primer dan sekunder. Teknik analisis data menggunakan logika deduktif. Hasil dari penelitian ini menunjukan dari bentuk pengungkapan identitas Anak yang dilakukan oleh aparat penegak hukum baik di sosial media atau di website aparat penegak hukum serta penegakan hukum atas pengungkapan identitas Anak oleh aparat penegak hukum yang belum dilakukan dalam praktik hukumnya, sehingga Anak tidak mendapat perlindungan.Kata Kunci:  Anak,Pengungkapan Identitas Anak, Aparat Penegak Hukum.AbstractThis research aimed to discuss the disclosure of children’s identity by law enforcement officials and law enforcement against the actions taken. The research method used is normative with prescriptive properties. This research approach is a statutory and conceptual approach. The legal materials used in this research are primary and secondary legal materials. The data analysis technique uses deductive logic. The results of this study indicate the form of disclosure of children’s identities carried out by law enforcement officials both on social media or on websites of law enforcement officials as well as law enforcement on disclosure of children’s identities by law enforcement officials that have not been carried out in legal practice, so that children are not protected.Keywords: Children, Identity Disclosure Children, Law Enforcement Official.
KAJIAN KRIMINOLOGI PERDAGANGAN ILEGAL SATWA LIAR Wildanu S Guntur; Sabar Slamet
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 8, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v8i2.40628

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji isu hukum untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perdagangan ilegal satwa liar dan upaya penanggulangan terhadap perdagangan ilegal satwa liar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris bersifat kualitatif dan deskriptif. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, dengan cara wawancara dengan narasumber serta studi pustaka/dokumen. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kulitatif dengan menggunakan, mengelompokan, dan menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan, kemudian dihubungkan dengan teori – teori, asas – asas, dan kaidah – kaidah hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan. Perdagangan ilegal satwa liar terjadi dengan berbagai macam faktor. Penyebab terjadinya perdagangan ilegal satwa liar seperti faktor ekonomi, lingkungan, satwa sebagai hiburan, bahan narkoba dan konversi hutan menjadi perkebunan sawit. Perdagangan ilegal satwa liar memiliki kendala serta hambatan dalam penegakan nya oleh pemerintah. Kesenjangan dan tantangan utama penegakan hukum dalam perdagangan ilegal satwa liar meliputi cakupan hukum, deteksi dan pelaporan, penangkapan dan penahanan pelaku, pendaftaran kasus dan tuntutan yang diberikan kepada pelaku serta implementasi dan penegakan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hasil penelitian ini, telah diketahui Pemerintah berupaya menanggulangi perdagangan ilegal satwa liar dengan berbagai cara seperti advokasi peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan satwa, peningkatan sarana dan prasana bagi penegak hukum dalam mengatasi perdagangan ilegal satwa liar serta melibatkan masyarakat dan pihak-pihak lain seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) secara aktif.Kata kunci : Kriminologi, Tindak Pidana, Satwa Liar.AbstractThis research aims to examine legal issues to determine the factors that lead to illegal trade in wildlife and the prevention of illegal trade in wildlife. The research method used is empirical legal research is qualitative and descriptive. Sources of legal materials used are primary legal materials and secondary legal materials, by way of interviews with resource persons and literature / document studies. This research uses leather data analysis techniques by using, categorizing, and selecting data obtained from field research, then connected with the theories, principles, and legal rules derived from literature study. Illegal wildlife trade takes place with a variety of factors. Causes of illegal trade in wildlife such as economic, environmental, wildlife as entertainment, drug substances and forest conversion into palm plantations. Illegal wildlife trade has obstacles and obstacles in its enforcement by the government. The major gaps and challenges of law enforcement in illegal wildlife trade include legal coverage, detection and reporting, arrest and detention of perpetrators, registration of cases and demands granted to perpetrators and the implementation and enforcement of Law No. 7 of 1999 on the Preservation of Plant and Animal Species. The results of this study, it is known that the Government seeks to tackle the illegal trade in wildlife in various ways such as advocating animal-related regulations and legislation, improving facilities and infrastructure for law enforcement in overcoming illegal wildlife trade and involving communities and other parties such as non-governmental organizations (NGOs)..Keywords:  Criminology, Crime, Wildlife.
KAMPANYE HITAM DI JEJARING SOSIAL DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2014 SEBAGAI SEBUAH KEJAHATAN MAYANTARA DAN PENCEMARAN NAMA BAIK DALAM KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK (ITE) Linda Ismaya; Rizca Sugiyantica
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 2, No 3 (2013): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v2i3.32706

Abstract

AbstractThis article purposed to describing the black campaign through social networks as a cybercrime and defamation as ruled in the Penal Code and Law of Information and Electronic Transaction. As the technology going bloom, the black campaign on president-vice president election by using social network practically done nowadays. How this black campaign by using social network seen as a cybercrime and defamation on The Penal Code and Law of Information and Electronic Transaction. This research used normative method with statutes approach. The black campaign is one of the cybercrime which using illegal contents. The black campaign as a defamation delict is a crime that insulting victim’s pride and feeling by using Ethnicity, Religion, Race and Social Groups issues to other candidates and mean it to be publicy. Keywords: Black Campaign, Cybercrime, Defamation, President-Vice president ElectionAbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kampanye hitam di jejaring sosial sebagai sebuah kejahatan mayantara dan pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam KUHP dan UU ITE. Seiring perkembangan teknologi, kampanye pilpres memunculkan praktik kampanye hitam di jejaring sosial. Bagaimanakah kampanye hitam dalam pilpres di jejaring sosial dilihat sebagai suatu kejahatan mayantara dan pencemaran nama baik dalam KUHP dan UU ITE. Metode yang digunakan adalah normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Kampanye hitam merupakan salah satu kejahatan mayantara yang menggunakan illegal contents sebagai modus operandinya. Kampanye hitam sebagai sebuah tindak pidana pencemaran nama baik adalah tindak pidana yang menghina kehormatan, harga diri dan perasaan dengan menggunakan isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) terhadap kandidat lain dan memaksudkan penghinaan ini untuk diketahui umum.Kata Kunci: Kampanye Hitam, Kejahatan Mayantara, Pencemaran Nama Baik, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
KAJIAN TINDAK PIDANA PELANGGARAN MEREK “K-24” (STUDI PERKARA TINDAK PIDANA TENTANG MEREK PUTUSAN NOMOR : 4/PID.SUS/2015/ PN.BLA dan PUTUSAN NOMOR : 1461/PID.SUS/2012/PN.TNG) David Ramadany
Recidive : Jurnal Hukum Pidana dan Penanggulangan Kejahatan Vol 4, No 3 (2015): DESEMBER
Publisher : Criminal Law Section Faculty of Law Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/recidive.v4i3.40744

Abstract

AbstrakPenulisan Hukum ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kriteria hakim dalam memutuskan putusan nomor 4/Pid.Sus/2015/PN.Bla dan putusan nomor 1461/Pid.Sus/2012/PN.Tng. Tujuan yang lain untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutuskan putusan nomor 4/Pid.Sus/2015/PN.Bla dan putusan nomor 1461/Pid.Sus/2012/PN.Tng. Penulisan hukum ini termasuk penelitian hukum normatif, bersifat preskriptif dengan menggunakan sumber bahan-bahan hukum, baik yang berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini adalah dengan cara studi kepustakaan. Dalam penulisan hukum ini, penulis menggunakan analisis dengan teknik deduksi berdasarkan metode penalaran deduktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan, bahwa yang pertama Perlindungan pemilik lisensi merek dalam aspek pidana dirasa sudah maksimal. Mulai dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, hingga TRIP’s Aggrement telah memuat perlindungan secara maskimal. Namun dalam penerapan pada putusan nomor 4/Pid.Sus/2015/PN.Bla masih tidak maksimal karena kurang tepat dalam penerapan pasalnya dan hakim masih kurang juga dalam menjatuhkan sanksi pada putusan nomor 1461/Pid.Sus/2012/PN.Tng. Kedua, majelis hakim dalam menagani putusan nomor 4/Pid.Sus/2015/ PN/BLA seharunya dapat memberikan putusan maksimal. Sedangkan pada putusan nomor 1461/Pid. Sus/2012/PN.TNG majelis hakim seharusnya dapat memberikan sanksi maksimal dalam tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa.Kata Kunci: Tindak Pidana Merek, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Lisensi.AbstractWriting this law including legal research normative, prescriptive by using a source of legal materials, either in the form of primary legal materials and secondary law. Mechanical collection of legal materials in this research is to study literature. In legal writing, the author uses analysis techniques deduction based on the method of deductive reasoning. Based on the results of research and discussion can be concluded, that the former owner of the brand licensing Protection in criminal aspect thats maximum. Starting from the Book of the Law of Criminal Law, Law No. 15 of 2001 on Trademarks, until TRIP’s Aggrement already contained safeguards. However, in the application of the decision number 4 / Pid.Sus / 2015 / PN.Bla still not optimal because it is less precise in the application of the article and the judge still lacking also in imposing sanctions on the decision number 1461 / Pid.Sus / 2012 / PN.TNG. Second, judges in menagani decision number 4 / Pid.Sus / 2015 / PN / BLA it shall be able to provide the maximum verdict. While the decision number 1461 / Pid.Sus / 2012 / PN.TNG judges should have a maximum penalty of a criminal offense committed by the accused.Keywords: Criminal Act, Law Number 15 of 2001 on Trademark, License.