cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
COMPARISON STUDY ON TEACHER MOTIVATION AT TAMAN PEMBACAAN ALQURAN (TPQ) Reza Fahmi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.635 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.210

Abstract

The research was based on the fact that the TPQ teachers should receive incentives differently depend on their motivation. When the teachers receive high incentives, they also should have high motivation to work compared to those who receive lower incentives. TPQ teachers can raise the motivation in teaching and encouraging the action towards a certain goal after getting encouragement in the form of incentive or certification. The purpose of this study is to describe the work motivation on TPQ teacher, TPQ teacher’s certification, then to test whether any discrepancy of motivation between those who receive incentives with B and C certificate in the Village Kuranji, Kuranji District of Padang. This study uses a quantitative method with data analysis techniques by using two-independent-samples test which was processed with SPSS version 24.0 for Windows. Variables use in this research is the work motivation. The population in this study is TPQ teachers who are located in the Village Kuranji, Kuranji District of the city of Padang who is 93 people and sample around 38 people. The sampling study uses simple random sampling. The data obtained by using psychological scale, which is based on the Likert scale model; this study uses a scale as a measurement that is work motivation, and has a reliability of 0.740. Based on the results of data analysis, it shows that the Independent Sample T-Test with tcount> t table (0.688> 0.05) then the hypothesis Ho accepted, which is meant there is no discrepancy in work motivation among teachers who receive B certification with those who receive C certification in Kuranji District Padang. Penelitian ini didasarkan fakta bahwa seharusnya guru TPQ yang menerima insentif dengan jumlah yang berbeda memiliki motivasi kerja yang berbeda. Ketika guru yang menerima insentif dengan jumlah yang lebih banyak seharusnya memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi dibandingkan guru yang menerima insentif yang lebih rendah. Dimana guru TPQ dapat meningkatkan motivasi kerja dalam mengajar dan mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu setelah mendapat dorongan berupa insentif atau sertifikasi guru TPQ yang diterima. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang motivasi kerja pada guru TPQ, sertifikasi guru TPQ, kemudian untuk menguji apakah ada atau tidaknya perbedaan motivasi kerja guru TPQ antara yang menerima insentif dengan sertifikasi B dan C di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data yaitu analisis uji dua sampel independen (Two-Independent-Samples Test) yang diolah dengan program SPSS versi 24.0 for windows. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah motivasi kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah guru TPQ yang berada di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang yang berjumlah 93 orang dan sampel penelitian berjumlah 38 orang. Penarikan sampel penelitian dengan menggunakansimple random sampling. Data diperoleh dengan menggunakan skala psikologi, yang berpedoman pada skala model Likert, penelitian ini menggunakan satu buah skala sebagai alat ukur yaitu skala motivasi kerja, dan memiliki reliabilitas 0,740. Bedasarkan hasil analisis data penelitian menunjukan Independent Sample T-Test denganthitung> ttabel (0,688>0,05) maka hipotesis Ho diterima artinya tidak ada perbedaan motivasi kerja antara guru yang menerima sertifikasi B denga guru yang menerima sertfikasi C di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
FEMALE ULAMA: MEDIATING RELIGIOUS AUTHORITY IN A LIMITED ‘ISLAMIC’ PUBLIC SPHERE IN CONTEMPORARY INDONESIA Muhammad Irfan Hasanuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.215 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.787

Abstract

Religious authority and the viable role played by female ulama in a limited Islamic public sphere have always been a matter of concern. Unlike previous studies focused much on gender sensitive, this research will analyze crucial position of Islamic public sphere in which female santri of Ma’had ‘Ali As’adiyah South Sulawesi can build and transform their authority. The research argues the decrease level of female authority is due to their lack of involvement in limited Islamic public sphere within and outside pesantren. Drawing on female santris’ daily activities, particular attention will be given to how female As’adiyah achieve, harness, build and transform religious authority through mosque and classroom environment. This reveals that authority of female ulama has not exclusively to do with the mastering of classical Islamic knowledge, but also with the maximizing the use of a limited ‘religious’ public sphere which is represented in halaqah of mosque, preaching stage, and the production of hybrid knowledge within classroom environment.
The Contribution of KH. Said Agil Siradj’s Leadership in Fighting Radicalism: A Language Communication Strategy Bambang Hariyanto
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.719 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3766

Abstract

This article aimed to describe Said Agil Siradj's (SAS’s) communication strategy at the anniversary of Fatayat NU in 2019. Radicalism and terrorism have become a real threat to world peace and human values. In Indonesia, it has been categorised as an extraordinary crime, particularly since the Bali bombings in 2002. The act of anticipation has been issued by forming anti-terrorism regulation to prevent and crackdown of its action. Nevertheless, this effort is not sufficient to eradicate terrorism action. Collaboration with religious institutions is needed to deal with the questions of the religious doctrines. Therefore, the participation of religious leaders from the Islamic organisations such as Nahdlatul Ulama (NU) is essential.. The study employs a descriptive qualitative approach of critical discourse analysis, focusing on the illocutionary acts of speech acts theory. The data of the research was transcribed from the video of SAS’s speech on YouTube channel. The result shows that the speaker used types of illocutionary acts; representatives, directives, commisives, expressives, and declarations. These expressions are used to command, persuade, and warn the listeners. Meanwhile, the Islamic terms were used as a discursive practice to maintain a good relationship between a leader and the followers.     Tulisan ini menjelaskan tentang bagaiamana Said Agil Siradj (SAS) mempengaruhi pendengarnya pada acara ulang tahun Fatayat NU ke-73 tahun 2019. Radikalisme dan terorisme telah menjadi ancaman bagi perdamaian dan nilai-nilai kemanusian. Di Indonesia, tindak terorisme telah menjadi bentuk kejahatan yang luar biasa sejak kejadian bom Bali 2002. Bentuk antisipasi telah dilakukan yakni dengan menerbitkan undang-undang anti-terorisme untuk menangkal dan mengatasi aksi terorisme. Penegakan hukum dan kebijakan regulasi telah dikeluarkan dalam rangka menangkalnya. Namun demikian, tindakan ini belum cukup memadai dalam pemberantasan terorisme. Kolaborasi dengan Lembaga-lembaga keagamaan diperlukan guna menjawab terkait doktrin-doktirn keagamaan. Oleh karena itu partisipasi para pemimpin agama dan organisasi keislaman seperti NU adalah penting. Namun demikian pelibatan organisasi keagamaan dalam kontek ini telah memicu munculnya perdebatan terutama Ketika organisasi tersebut mendominasi peran dalam ranah public.  Studi ini didesain berdasarkan deskripsi kualitatif pada pendekatan analisis wacana kritis yang berfokus pada tindak illokusi berdasarkan teori tindak tutur. Data penelitian ini diambil dari transkripsi Video SAS yang diambil dari YouTube. Selanjutnya data dianalisis menggunakan teori tindal ilokusi dan analsis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembicara menggunakan tipe-tipe tindak tutur pada bentuk representasi, direktif, komisif, ekspresi dan deklarasi. Ekpresi-ekpresi tersebut digunakan untuk memerintah, membujuk dan melarang para pendengarnya.Adapun istilah-istilah keislaman digunakan sebagai praktik diskursif guna membangun hubungan social antara pemimpin dan pengikutnya. 
THE EMERGENCE OF YOUTH VIOLENCE IN INDONESIA: A SOCIO-HISTORICAL ANALYSIS Irfan Rifai
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.19 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.115

Abstract

This qualitative exploratory study investigates the socio-historical context which impacts on the emergence of youth violence in an urban area, Jakarta, Indonesia. Research findings reveal how social and historical contexts impact youth’s propensity to conduct in youth violence. These social and historical contexts span from the local to the hybrid context; from the Indonesian traditional practices to the global trends of the youth’ social practices. This study illuminates the understanding that youth violence, particularly occurs in the urban area, is complex in nature and the study of youth violence should be placed in wider context. The result study It is widely known that this due to family-based tradition, that is, if one of the family has ever studied at this school, the other family members will follow studying at the same school as their ancestor did. This indicates that in fact parents and students are aware of what happens within the school including various practices of school culture. Studi eksplorasi kualitatif ini menyelidiki konteks sosio-historis yang berdampak pada munculnya kekerasan remaja di daerah perkotaan, Jakarta, Indonesia. Temuan penelitian mengungkapkan bagaimana sosial dan kecenderungan konteks sejarah dampak muda untuk melakukan kekerasan remaja. Ini konteks sosial dan historis span dari lokal ke konteks hybrid; dari praktek-praktek tradisional Indonesia dengan tren global praktek-praktek sosial pemuda’. Studi ini menerangi pemahaman bahwa kekerasan pemuda, terutama terjadi di daerah perkotaan, adalah kompleks di alam dan studi kekerasan remaja harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Hasil penelitian ini secara luas diketahui bahwa ini karena tradisi berbasis keluarga, yaitu, jika salah satu keluarga yang pernah belajar di sekolah ini, anggota keluarga yang lain akan mengikuti belajar di sekolah yang sama seperti nenek moyang mereka lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya orang tua dan siswa menyadari apa yang terjadi di dalam sekolah termasuk berbagai praktik budaya sekolah.
REVITALISASI PERAN SOSIAL SURAU DAGANG DALAM PEMBENTUKKAN KARAKTER MASYARAKAT PASAR TRADISIONAL DI PADANG PARIAMAN Yusrizal Effendi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.974 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i1.508

Abstract

Term surau sangat identik dengan masyarakat Minang dan usianya hampir sama dengan terjadinya Islamisasi di Sumatera Barat. Surau masih eksis hingga saat ini karena kegunaannya yang multi fungsi. Menurut Elizabeth E. Graves, setelah anak muda mengalami pubertas, pemuda tidak dapat lagi tidur di rumah orangtuanya, tetapi tidur di surau bersama teman sebaya yang lain. Pelajar yang pergi meninggalkan nagari, guru-guru agama serta para pedagang yang datang dari daerah yang jauh menjadikan surau sebagai tempat peristirahatan. Belakangan fungsi surau, terutama surau dagang tidak berbanding lurus dengan niat pendiri sebelumnya. Surau dagang banyak ditinggalkan karena paradigmanya hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan bagi saudagar yang datang dari jauh. Dalam penelitian ini, penulis mengemukakan perlunya revitalisasi surau dagang secara fungsional sebagai khazanah pembentukan karakter pemuda Minang dalam menempa kehidupan. Temuan yang penulis dapatkan dari penelitian ini adalah beberapa surau di Pasar Tradisional seperti Balai Pauh Kambar, Sungai Sariak, dan sebagainya ternyata masih aktif melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang
Harakatul Jannah Mosque: Minang Identity and Islamic Mission in Diaspora (Rantau) Abdul Wahid Hasyim; Yulia Kartika
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.152 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3234

Abstract

This article discusses the efforts to strengthen cultural and ethnic identity the Minang people in diaspora (rantau), specifically in the context of the Harakatul Jannah mosque in Gadog, Ciawi, Bogor, West Java. In addition to being a symbol of the acculturation Minangkabau culture in the local community, this mosque preserves the social and religious institutions of Minangkabau custom in diasporic lands. This study uses a qualitative method. Data collection is done not only through literature review but also through direct observation. Analysis of collected data is based on heuristic, verification, interpretation, and historiographical techniques. This study finds that through the Harakatul Jannah mosque, the diasporic community from Minangkabau is able to relive the Minang tradition in social activities, education, as well as architecture. Combining European and Middle Eastern styles with traditional styles, this mosque was constructed without losing Minangkabau cultural characteristics, which are reflected in several elements, such as the Bundo Kanduang Gate, the Hajjah Tower, and the Majlis of Shaykh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. These are manifestations of archipelago culture in architecture. In the field of education, the activities of the students and the community of the mosque shows many similarities with the Islamic intellectual tradition of 19th century Minangkabau. All educational and religious activities in the mosque aim at preserving and strengthening the Minang cultural identity in diasporic lands.Artikel ini membahas tentang penguatan identitas budaya dan kesukuan orang Minang di tanah rantau melalui Masjid Harakatul Jannah di Gadog, Ciawi, Bogor. Selain menjadi simbol akulturasi budaya Minangkabau, masjid ini menjadi jejak pranata sosial keagamaan pamangku adat Minangkabau di ranah rantau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan selain melalui kajian kepustakaan juga observasi langsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa melalui masjid Masjid Harakatul Jannah, para perantau dari Minangkabau menghidupkan tradisi Minang baik dalam aktivitas sosial, pendidikan, dan keagaman maupun arsitektur bangunan. Manifestasi arsitektur itu di antaranya menggabungkan gaya Eropa dan Timur Tengah dengan gaya tradisional pada bangunan mesjid. Hal ini  tercermin dalam beberapa elemen masjid, seperti pintu Bundo Kanduang,  Tower haji, dan  Majlis Shaykh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sementara itu dalam bidang pendidikan, aktivitas model surau yang dimodifikasi menunjukkan kemiripan dengan tradisi intelektual Islam di Minangkabau abad ke-19. Dengan demikian, arsitek bangunan dan aktivitas keagamaan di masjid tersebut merupakan bentuk penguatan identitas budaya Minang di tanah rantau.  
Islamophobia, Indian Media, and Covid-19 Pandemic: A Critical Discourse Analysis Andi Farid Baharuddin; A Zamakhsyari Baharuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 8, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.779 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5352

Abstract

This research is designed to demonstrate (1) how the Indian media attempts to construct the Islamophobia issue during the Covid-19 pandemic (particularly in the earlier March-April, 2020) and (2) how the Indian news media use social media, such as Instagram and Twitter, to claim that Muslims were the disseminators of the virus to the majority of Indian population. In collecting and analyzing data, the researchers use the descriptive qualitative methodology as the scientific research procedure. There are three collected data classified in this research i.e., the primary data, the secondary data, and the supporting data. Furthermore, in analyzing the data, the researchers appled the critical discourse analysis (CDA) as the linguistics theory to study the Islamophobia discourse on the news media. Finally, the research result shows that (1) most of the Indian mainstream media not only spread Islamophobia but also justify and hegemonize Muslims as Corona virus disseminators , and (2) these news media eventually influenced hate speech memes and racial statements posted by Indian netizens/Buzzers on social media that accuse Muslim minority as the disseminator of the Corona virus. Penelitian ini dirancang untuk menunjukkan (1) bagaimana upaya media India dalam mengkonstruksi wacana Islamofobia kepada warga sipil selama pandemi Covid 19 (khususnya pada awal Maret-April 2020) dan (2) bagaimana berita media India memiliki berimplikasi pada penggunaan media sosial seperti Instagram dan Twitter, yang mengklaim minoritas Muslim sebagai penyebar virus Corona terhadap mayoritas penduduk India. Untuk mengumpulkan dan menganalisis data penelitian, peneliti menggunakan metodologi deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian ilmiah. Data yang terkumpul diklasifikasikan menjadi tiga data yaitu data primer, data sekunder, dan data pendukung. Selanjutnya, dalam menganalisis data, peneliti menerapkan analisis wacana kritis (CDA) sebagai teori linguistik untuk memahami dan mempelajari wacana Islamofobia berdasarkan berita media. Akhirnya, hasil penelitian menunjukkan fakta yang sebenarnya bahwa (1) sebagian besar media utama India tidak hanya mengkonstruksi wacana Islamofobia namun juga membenarkan dan menghegemoni bahwa masyarakat muslim merupakan penyebar virus Corona (2) berita media ini pada akhirnya berimplikasi pada meme ujaran kebencian dan pernyataan rasial yang diposting oleh netizen/Buzzers India di media sosial yang menuduh minoritas Muslim sebagai penyebar virus Corona. 
MENATA REGULASI PEGADAIAN SYARIAH (UPAYA MENERAPKAN AL-MAQASID DAN MEMINIMALKAN KESENJANGAN SOSIAL) Iiz Izmuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.639 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.187

Abstract

This study aims to prove that legislation or government regulation (No. 103 of 2000) relating to pawnshops still have not touched the side of shari'a, thus because its existence is intended for business purposes and does not touch the social side. Whereas the original purpose of al-Rahn contract is for social purposes. Changes in the transaction purpose of social objectives into the business transaction will result in social problems. The research method with a theoretical framework Maqasid al-Shariah that seen from the legal perspective (Islam), ethics, and the unity will be linked with the Fatwa No. 25 / DSN-MUI / III / 2002 concerning Rahn, DSN-MUI No. 26 / DSN-MUI / III / 2002 concerning Gold Rahn and DSN No. 68 / DSN-MUI / III / 2008 concerning Rahn tasjily as a reference of the technical implementation in implementing the Islamic pawnshop Organization products. The study concluded that the presence of the Islamic pawnshop just touches the side of the law, but the ethics and the unity is still neglected, for example, the issue of justice and social inequality and this paper describes how should the rules applied by social institutions so that the application of al-Rahn can be applied in its tracks, to reduce social- economic inequalities. Penelitian ini betujuan ingin membuktikan bahwa Undang-undang atau Peraturan Pemerintah (Nomor 103 tahun 2000) yang berkaitan dengan pegadaian masih belum menyentuh sisi syariah, hal demikian dikarenakan keberadaanya diperuntukan untuk tujuan bisnis belaka dan tidak menyentuh sisi sosialnya. Padahal tujuan awal disyariatkannya akad al-rahn adalah untuk tujuan sosial. Perubahan tujuan transaksi dari tujuan sosial merubah dengan transaksi bisnis akan berakibat pada masalah sosial. Metode penelitian dengan kerangka teori Maqasid al-Shariah yang dilihat sisi hukum (Islam), etika, dan tauhid akan dihubungkan dengan Fatwa No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn, DSN-MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas dan Fatwa DSN No. 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily sebagai rujukan dari pelaksanaan teknis dalam melaksanakan produk Lembaga Pegadaian Syariah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan Pegadaian Syariah hanya menyentuh sisi hukum saja, namun sisi etika dan tauhid masih terabaikan, misalnya masalah keadilan dan kesenjangan sosial dan tulisan ini menjelaskan bagaimana seharusnya peraturan-pertauran yang diterapkan lembaga sosial sehingga penerapan al-rahn dapat diterapkan di jalurnya yaitu untuk mengurangi kesenjangan sosial-eonomi
Islamic Colleges in Central Sumatra in The 1930s-1950s: The Beginning Efforts of Bringing between The Islamic Science and The Western Science at Local Level Dedi Arsa
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.872 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i2.1611

Abstract

This article discusses the discourse of Islamic Colleges in Indonesia and its realization at the local level with the establishment of Islamic Colleges in Central Sumatra, throughout the late 1930s to the 1950s.During that period, the initial discourse on Islamic Colleges in the national level went on sardonically, especially over bridging the Islamic sciences and general sciences (Western); the lingua francareferred to (Malay, Arabic, Dutch, or English); who should engender the Islamic Colleges; and who should manage them. This discourse at the national level involved prominent scholars like Satiman and Natsir, then Hatta in the following period. Their ideas were then realized in the form of the establishment of Colleges at the local level (regional), one of which was in Central Sumatra, during that period, there had been two Islamic Colleges: Sekolah Islam Tinggi (SIT) P.G.A.I in Padang in the late of colonial period and Darul Hikmah University (UDH) in Bukittinggi at the beginning of independence. Even though both of them were short-lived, they had become a prototype for Islamic Colleges in the following period as an effort to reconcile Islamic sciences and Western sciences, which is now popular as a science integration movement.Artikel ini membahas diskursus sekolah tinggi Islam di Indonesia dan realisasinya di tingkal lokal dengan didirikannya sekolah-sekolah tinggi Islam di Sumatra Tengah sepanjang 1930an akhir hingga 1950an. Selama kurun itu, diskursus awal tentang pendidikan tinggi Islam di nasional berlangsung sengit, terutama bersoal menjembatani ilmu-ilmu keislaman dan umum (kebaratan); bahasa pengantar yang diacu (Melayu, Arab, Belanda, atau Inggris); siapa yang harus melahirkan sekolah tinggi Islam; dan siapa pula yang harus mengelolanya. Diskursus ini di tingkat nasional melibatkan para cendikiawan terkemuka serupa Satiman dan Natsir, lalu Hatta dan lain-lain di masa setelahnya. Gagasan-gagasan mereka kemudian direalisasikan dalam bentuk pendirian-pendirian perguruan tinggi di tingkat lokal (daerah), salah satunya di Sumatra Tengah, di mana selama kurun itu telah berdiri berturut-turut dua sekolah tinggi Islam:  Sekolah Islam Tinggi (SIT) P.G.A.I di Padang pada masa akhir kolonial dan Universitas Darul Hikmah (UDH) di Bukittinggi pada awal kemerdekaan. Sekalipun keduanya berumur singkat, tetapi telah menjadi role models bagi sekolah tinggi Islam yang ada di periode setelahnya sebagai upaya yang sama untuk mendamaikan antara ilmu-ilmu keislaman dan kebaratan, yang sekarang populer sebagai gerakan integrasi ilmu.
The New Da’wah Strategy among Millennial Generations through Tiktok During Pandemic Fany Nur Rahmadiana Hakim; Ihsan Kamaludin; Shifa Nisrina Sujana
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.245 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i2.4756

Abstract

This research focuses on the strategy of public figures who develop religious content in order to spread religious values among the millennial generation, especially during the pandemic.  The rampant use of the TikTok platform during the COVID-19 pandemic was not only deployed as an entertainment medium but was also used by many people to be able to spread propaganda and missions to disseminate religious values among the millennial generation. This is due to the popularity of that platform has skyrocketed, making some content creators and public figures develop the marketing of their ideological values on social media. By using the theory of social change and the concept of the development of communication, the authors try to analyze the phenomena that in question. This study uses a qualitative descriptive method with the TikTok application observation technique and seeks to explore various information in depth to find various facts that can explain this phenomenon. We also found that millennials who use the TikTok platform often start to look at various religious content and some are even active in filling the content because they are inspired by public figures who spread similar content. Moreover, some lecturers often provide religious information using music or duet features so as to encourage application users to spread religious teachings and share religious knowledge.Penelitian ini berfokus pada strategi tokoh masyarakat yang mengembangkan konten religi dalam rangka menyebarkan nilai-nilai agama di kalangan generasi milenial, terutama di masa pandemi. Maraknya penggunaan platform TikTok di masa pandemi COVID-19 tidak hanya dijadikan sebagai media hiburan tetapi juga dimanfaatkan oleh banyak orang untuk bisa menyebarkan dakwah dan misi penyebarluasan nilai-nilai agama di kalangan generasi milenial. Hal ini dikarenakan popularitas platform tersebut yang meroket, membuat beberapa content creator dan public figure mengembangkan pemasaran nilai-nilai ideologisnya di media sosial. Dengan menggunakan teori perubahan sosial dan konsep perkembangan komunikasi, peneliti mencoba menganalisis fenomena yang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi aplikasi TikTok dan berupaya menggali berbagai informasi secara mendalam sehingga mampu menemukan berbagai fakta yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Kami juga menemukan bahwa generasi milenial yang menggunakan platform TikTok sering mulai melihat berbagai konten religi dan bahkan ada yang aktif mengisi konten tersebut karena terinspirasi oleh tokoh masyarakat yang menyebarkan konten serupa. Apalagi beberapa dosen sering memberikan informasi agama dengan menggunakan fitur musik atau duet sehingga mendorong pengguna aplikasi untuk dapat menjalankan ajaran agama dan membagikan ilmu agama

Page 10 of 22 | Total Record : 216